MAMPUKAH KITA BERJALAN SEPERTI AIR.

MAMPUKAH KITA BERJALAN SEPERTI 
AIR
Suara burung-burung kecil bernyanyi riang, menyambut pagi… Titik-titik embun berjatuhan menimpa dedaunan. Butiran-butiran air yang lembut itu terkumpul pada permukaan daun menjadi semakin banyak. Dan berubah menjadi butiran-butiran air. Setelah beban mereka mencukupi… butir-butir air itupun meluncur melalui pucuk-pucuk daun menuju ke tahah… dengan percepatan yang sangat dahsyat. Kecepatannya sebenarnya menyamai kecepatan bintang (meteor) yang jatuh ke bumi… dengan kecepatan dan percepatan mendekati 10 m/dt2 sangat memungkinkan untuk menimbulkan dentuman suara yang dahsyat. Hanya dengan volume butiran air yang sekecil itu pun kadang-kadang kita sudah merasa giris (takut) mendengarnya…..
Titik-titik dan butiran air kemudian berkumpul dengan butiran air lainnya, mereka berkumpul dan merencanakan untuk melanjutkan perjalan. Sebenarnya mereka tidak tahu mana jalan yang akan mereka tempuh. Tetapi air mempunyai sumpah dan kodrat, mereka ditakdirkan menempati tempat yang lebih rendah. Itulah takdir mereka… sehingga mereka dapat dengan mudah menemukan jalan untuk cita-cita yang ingin diraihnya… Lautan adalah sorganya. Tetapi apakah perjalanan air sudah selesai sampai disini? Ternyata tidak demikian, mereka masih mempunyai tugas berikutnya dengan siklus kehidupan berikutnya…..
Memang kenyataannya air dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai sumber kehidupan. Secara fisik tubuh kita juga didominasi oleh unsur cairan, bahkan bumi kita juga didominasi oleh unsur air.
Begitulah, banyak orang (bangsa) menggunakan air sebagai simbol-simbol kehidupan. Di kebudayaan barat (lama) orang berebut mencari elixir (air yang bisa menjadikan awet muda dan hidup abadi), inilah alasan yang memicu bangsa-bangsa eropa melakukan perjalanan ke Timur, mencari elixir. (meskipun dalam prakteknya adalah sebuah penjajahan dan menumpuk harta dan emas untuk kebutuhan kemewahan duniawi)……. Namun, nenek moyang kita menggunakan air sebagai simbol-simbol kehidupan yang abadi. Saya teringat cerita tentang Bima yang mencari Tirta Perwitasari, air kehidupan. (Sebuah ajaran sufi yang diajarkan oleh Syekh Siti Jenar : Manunggaling Kawula Gusti) Karena keteguhan dan kegigihan Bima, akhirnya mendapatkan apa yang dia harapkan, meskipun sebenarnya Bima tidak berhasil menemukan Tirta Perwitasari.
Begini …..
Cupkikan dari serat Dewaruci

Kaesthi ing dalu siyang, kathah denira miyarsi, para wiku pratingkahnya, kang luput anggepireki, kawruh pangijabneki, wus bener panarkanipun, wasana tanpa dadya, kawilet tatrapanneki, ana ingkang mati dadya manuk engkuk.
Mung malih kang pepencokan, kayu kang warnanira di, nagasari lan angsana, tanjung lan wreksa waringin, kang tuwuh aneng pinggiring pasar kang manuk engkuk, angungkuli wong pasar, pindha kamukten kang pinrih, pan kasasar iku anasar mbelasar.
Ana nitis para raja, asugih rajabrana di, lawan sugih wanodya endah, tuwin sugih putra putri, ingkang arsa mengkoni, siji-siji karemipun, samyantuk kaluwihan, ing panitisira nenggih, yen mungguha Dyan Wrekudara tan arsa.
Pan ana amung murih pribadya, iya sariraneki, sadaya iku ingaran, tibane tan pana yekti, pan durung nama jalmi, ingkang utama satuhu, kang mengkono anggepnya, pangrasanira ing nguni, nemu suka suka sugih singgih badanira.
Tan wruh yen nemu deduka, kabanjur mangkono ugi, manitis ing sato kewan, tanpa wekas dennya nitis, tangeh tan manggih asil, tan mbabar pisani iku, luput kacakrabawa, saking karemireng nguni, pati panitisan koneng tibanira.
Tan kuwat parenging pejah, keron kasamaran ugi, mangsah wowor sambu samya, pan saking abotireki, ulah kamuksan titis wus datan nolih ing pungkur, bapa biyang lan suta, jroning mrih wekasan nenggih, yen luputa patakaning bumi pala….
Dipikirkan siang dan malam, banyak yang didengarnya, tentang tingkah para pertapa yang berpikiran salah, akan ilmu ijab, mengira sudah benar, akhirnya tak berdaya, dililit oleh penerapannya, ada yang mati menjelma burung engkuk.
Hanya memilih tempat hinggap, kayu yang berwarna baik, kayu nagasari dan anhsana, tanjung dan pohon beringin yang tumbuh di tepi pasar sang burung engkuk, melebihi orang-orang pasar, seperti mengharap kemuliaan, yang akhirnya tersesat dan terjerumus.
Anak yang menitis (reinkarsani) menjadi raja, yang kaya harta benda, dan memiliki banyak wanita cantik, serta mempunyai banyak putra-putri yang akan menguasai, setiap kesukaannya, semua mendapatkan kelebihan, dalam proses penitisan, bagi sang Wrekudara tidak akan.
Yang ada hanya pribadi, terhadap diri sendiri, semuanya dikatakan, jatuhnya tidak tepat benar, belum dapat disebut makhluk, yang sangat utama, demikianlah pengakuannya, yang dirasakan dahulu, menemukan suka kaya lagi berpangkat tinggi dirinya itu.
Tidak tahu jika mendapat marah (dimarahi), terlanjur demikian, ia menitis pada hewan-hewan, tanpa bekas titisannya, tak mungkin akan berhasil, tidak sama sekali, salah dalam perkiraan, oleh kegemarannya di masa lalu, mati menitis jatuhnya.
Tidak kuat menuju matinya, bingung dan tertutup juga melawan secara menyamar bersatu dengan orang banyak, oleh terlalu beratnya, gerakan menuju matinya dan menitis tidak akan menoleh kebelakang, ayah, ibu dan anak, dalam mencapai akhir, jika salah menjadi petaka dunia.
Lebih baik jangan jadi manusia, hewan lebih mudah bertingkah, tanpa kata-kata sirna, bila secara pelan akan menuju kebenaran tyjuan, abad itu juga, tanpa sarana sebenarnya, seumpama diri adalah dunia, tak sperti batu diam, jernihnya pun tidak seperti air……
Merata tanpa petunjuk, selain pendeta menganggap, dlam kematian yang dipaksakan, mendukung kepertapaannya, mengira akan dapat dicapai, dengan cara bertapa tanpa petunjuk, tanpa pedoman berguru, kekosongan pikiran, belum mendapatkan petunjuk… yang
Tingkahnya seenaknya sendiri, bertapa dengan merusak tubuh, dalam mencapai kamuksan, tanpa kata ia hilang, gagallah bertapanya itu, sedangkan yang dikatakan lestari, bertapa digunakan sebagai, ragi bagi tubuhnya, ilmu itu merupakan lauknya.
Jika bertapa tanpa ilmu, tentu tidak akan berhasil, jika ilmu tanpa dijalankan, hambar tidak mungkin jadi, asal semua itu juga, tidak dililit oleh penerapannya, ditopang kesulitan, jadi banyak pendeta, setengah-tengah dalam memberikan ajaran kepada muridnya.
Muridanya pandai dengan sendirinya, ajaran yang disimpan dirasakan mulia, memberi tahu gurunya, ajarannya itu hannya dari pikiran, di masa lalu itu juga, belum pernah mendapatkan ajaran yang benar, jadi tidak enak dalam hatinya…..
Kemudian disampaikan kepada gurunya, gurunya heran mendengar hal itu, memegang teguh kata-katanya yang diperoleh dari, wiku yang punya kelebihan, tentu dianggap suatu kebenaran, itu wahyu anugrah, jatuh kepada dirimu, cantrik itu kemudian di akui sebagai anak.
Perkembangan budaya jawa yang mulai tergilas oleh perkembangan teknologi yang mempengaruhi pola pikir dan tindakan orang jawa dalam kehidupan. Maka orang mulai berfikir bagaimana bisa membuktikan hal gaib secara empiris tersebut dengan menggunakan berbagai macam metode tanpa mengindahkan unsur kesakralan. Bahkan terkadang kepercayaan itu kehilangan unsur kesakralannya karena dijadikan sebagai obyek exploitasi dan penelitian.
Kebiasaan orang Jawa yang percaya bahwa segala sesuatu adalah simbol dari hakikat kehidupan, seperti syarat sebuah rumah harus memiliki empat buah soko guru (tiang penyangga) yang melambangkan empat unsur alam yaitu tanah, air, api, dan udara, yang ke empatnya dipercaya akan memperkuat rumah baik secara fisik dan mental penghuni rumah tersebut. Namun dengan adanya teknologi konstruksi yang semakin maju, keberadaan soko guru itu tidak lagi menjadi syarat pembangunan rumah.Dengan analisa tersebut dapat diperkirakan bagaimana nantinya faham simbolisme akan bergeser dari budaya jawa. Tapi bahwa simbolisme tidak akan terpengaruh oleh kehidupan manusia tapi kehidupan manusialah yang tergantung pada simbolisme. Dan sampai kapanpun simbolisme akan terus berkembang mengikuti berputarnya cakra panggilingan.

Dasar pemikiran yang kemudian menjadi umpan untuk pertanyaan berikutnya:
1. Siapakah sebenarnya Sekh Siti Jenar (Sunan Lemah Abang?)
2. Dari mana asal beliau ? (benarkah beliau orang Jawa asli?)
3. Apa hubungan beliau dengan Bhagawan Ciwamurti dan Mpu Kanwa ( karena pokok ajaran yang hampir serupa, yaitu tentang kemoksaan, Manunggaling Kawula Gusti, ==Moksatam Jagadita Yaca Itidharma== kw.)
4. R. Ng. Ronggowarsito mengadopsi kisah ini dan ditulis ulang ke dalam Bahasa jawa yang lebih Modern, namun tidak merubah substansi isi ajaran. (apakah mungkin Beliau adalah Murid (pengikut) Kanjeng Sunan Lemah Abang?)

 

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on April 19, 2011, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: