PENGEMBARA

 
Aku hanya sebagai seorang pengembara…. Yang mencari suatu makna
Akan arti kehidupan….. Yang penuh dengan derita …. dan bahagia
Dari waktu… ke waktu….. terus berlalu… sehingga menjadi masa lalu …. berbagai macam kerja keraspun kita alami… mandi peluh….. kehidupan sagat keras dan kejam…. namun ku harus tetap tegar bagaikan batu karang …. yang tak mudah terkikis oleh hantaman ombak yang keras…..Tetapi… Aku seorang pengembara sejati….. Akan masa akhir penantianku nanti….. Yang selalu kuimpikan
Sebagai cita-cita yang selalu kuinginkan….. Di dalam tidur dan mimpiku
Cerahkan setiap langkah yang mulai tak tentu……. Tuk Menuju kembali pada- Mu

Ya Allah jadi ingat leluhur dan Kejayaan ……
Dalam tradisi Jawa dipahami bahwa di satu sisi leluhur dapat njangkung dan njampangi (membimbing dan mengarahkan) anak turunnya agar memperoleh kemuliaan hidup….lalu apa tindakan kita untuk berterimakasih pada beliau leluhur kita…


    • Putrie Ragiel Trisno Selamat malam Bunda sayang

      31 Maret jam 18:53 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Pangeran Joyo Kusumo Sugeng dalu… Laku utomo… Ojo tolah toleh… Amargo margining karahayon tentremeng ati wungkuleng roso sejati… Rahayu… Rahayu… Rahayu…

      31 Maret jam 18:56 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Attim Halit Attim malem bunda!

      31 Maret jam 18:56 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Eddy Wirabhumi Se7

      31 Maret jam 18:57 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Jr Arief sugeng dalu Bunda…kulo kq tergetar melihat foto ini…

      31 Maret jam 18:58 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      KEJAYAAN NUSANTARA….DENGAN PARA LELUHUR BANGSA
      Kematian bukanlah the ending atau “riwayat” yang telah tamat. Kematian merupakan proses manusia lahir kembali ke dimensi lain yang lebih tinggi derajatnya ketimbang hidup di dimensi bumi. Bila perbuatannya baik berarti mendapatkan “kehidupan sejati” yang penuh kemuliaan, sebaliknya akan mengalami “kehidupan baru” yang penuh kesengsaraan. Jasad sebagai kulit pembungkus sudah tak terpakai lagi dalam kehidupan yang sejati. Yang hidup adalah esensinya berupa badan halus esensi cahaya yang menyelimuti sukma. Bagi orang Jawa yang belum kajawan khususnya, hubungan dengan leluhur atau orang-orang yang telah menurunkannya selalu dijaga agar jangan sampai terputus sampai kapanpun. Bahkan masih bisa terjadi interaksi antara leluhur dengan anak turunnya. Interaksi tidak dapat dirasakan kecuali oleh orang-orang yang terbiasa mengolah rahsa sejati. Dalam tradisi Jawa dipahami bahwa di satu sisi leluhur dapat njangkung dan njampangi (membimbing dan mengarahkan) anak turunnya agar memperoleh kemuliaan hidup. Di sisi lain, anak-turunnya melakukan berbagai cara untuk mewujudkan rasa berbakti sebagai wujud balas budinya kepada orang-orang yang telah menyebabkan kelahirannya di muka bumi. Sadar atau tidak warisan para leluhur kita & leluhur nusantara berupa tanah perdikan (kemerdekaan), ilmu, ketentraman, kebahagiaan bahkan harta benda masih bisa kita rasakan hingga kini.
      Ada Apa di Balik NUSANTARA akan saya tulis malam hari ini hingga tuntas…..
      Lihat Selengkapnya

      31 Maret jam 19:04 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Natalie Irine Selamat mlm bunda….

      31 Maret jam 19:05 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Jeng Putrie sayang selamat malam say…. kemana seharian say… kangen…

      31 Maret jam 19:05 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kang mas Pangeran Joyo sugeng dalu…Rahayu3x.

      31 Maret jam 19:06 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Selamat malam mas Attim apa kabar kok baru muncul. salam kasih.

      31 Maret jam 19:06 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Awan Baraya Galuh Putra kerendahan hati menuntun pd kekuatan,bukn kelemahn mengakui kesalahn& melakukan perubahn atas kesalahn adalh bentuk tertinggi dari penghormatan pd diri sendiri

      31 Maret jam 19:07 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bang Jampang Ketika kita lelah dlm pengembaraan..Demi amanah suci leluhur..Ada kalimat bijak leluhur yg dpt menjadi penyenyuk jiwa..Kalimat tsb adlh..”tidak ada org tua yg menginginkan anak cucunya hidup dlm kesengsaraan&kehinaan..”

      31 Maret jam 19:09 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Attim Halit Attim sibuk bunda,nyuwun duka sakmenika!dospundi bunda?rahayu tho bunda.

      31 Maret jam 19:10 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kang mas Eddy Wirabumi sugeng dalu…. sugeng rawuh dateng warung penuh kasih… mugi tansah pinaringan teguh rahayu slamet. Nyuwun agunging pangapun awit asring damel regetipun Status kang mas Eddy Wirabumi…..nyuwun dukho…. Rahayu3x.

      31 Maret jam 19:10 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Aring Sukaton Asalamualaikum wrwb, aq juga ingin tau seperti yg Bunda tanyakan. Qta hrs berbuat apa dan bagemana menurut ajaran islam trhd leluhur qta

      sugeng dalu, mbok menawi wonten engkan ngertos nyuwun nasehatipun
      salam santun

      31 Maret jam 19:11 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Jr…kenapa ??? Selamat malam…

      31 Maret jam 19:11 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mbak Nayalie mat malam….

      31 Maret jam 19:11 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Awan makasih mas… salam kasih… jangan berhenti untuk mendoakanku ya mas… biar semakin tabah dan perkasa he he he.

      31 Maret jam 19:13 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Hemmm mas Jampang mohon dilanjut…

      31 Maret jam 19:14 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Attim kami baik2 saja mas ini persiapan naik Lawu lagi mas… mau ikut po…????

      31 Maret jam 19:15 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Wulandari Muis Sugeng ndalu mb lia….mengirim doa dan ber beramal dan pahala di tujukan untuk mereka….ngoten mboten mb lia

      31 Maret jam 19:15 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Arie Irfan Selamat malam Bunda…. Salam Kasih.

      31 Maret jam 19:24 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Murai Batu Selamat malam Bundaku yg cantik…..Murai percaya Bunda bs tegar setegar batu cadas walau keras namun tetap memikat….,seperti karang walau keras namun begitu kuat menahan kerasnya gelombang karena tlah bersahabat dg gelombang itu….,dan apa yg tersirat dlm tulisan Bunda….,membuat Murai jd instropeksi pada diri sndri…., terima kasih Bunda….,Murai senang bisa kenal ma Bunda….

      31 Maret jam 19:24 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Wa’alaikum salam…. Mas Aring selamat malam pertanyaan yang bagus tapi akan saya jawab dengan singkat…. “SEMUA TERGANTUNG DARI MANUSIANYA MAU INGAT LELUHUR/ ORANG TUA KITA YANG TELAH MELAHIRKAN KITA HINGGA MENDIDIK KITA yg sudah almarhum/almarhumah MAU INGAT TERSERAH TIDAK JUGA TERSERAH” namun kita harus sadar adanya kita dari mana… kejayaan dan kita begini dari mana ??? Apakah kita ingat akan jasa2 leluhur kita atau tidak sama sekali ( Apa rasa terimakasih kita itu sudah mati dan tidak punya budi sehingga tidak mau mengingatnya ) semua tergantung… masing2 manusianya… dan apakah nanti kalau kita mati tidak mau dikirim doa sama anak cucu kita misalnya…???? Bukankah kemarin sudah kita kupas masalah ini… dan mengapa ditanyakan lagi mas Aring….Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia Mbak Wulan selamat malam mbak….

      31 Maret jam 19:27 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Ageng Mulyana Sugeng ndalu Bunda….. ttg pengembara msh menyisakan pertanyaan di benak sy Bunda,…. klo Leluhur… ok dg adanya kromosom…. inipun msh bth ulasan lbh mendalam lg…. mhn petunjuk….

      31 Maret jam 19:27 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Arie Irfan mat malam salam kasih…

      31 Maret jam 19:29 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mbak Murai makasih mbak selamat malam…..

      31 Maret jam 19:29 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Ageng dengan senang hati akan kita kupas bersama asal sabar menanti… oya selamat datang njih….

      31 Maret jam 19:30 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Sugeng ndalu poro lenggah sedoyo….rahayu rahayu rahayu

      31 Maret jam 19:33 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Murai Batu sama2 Bunda…..,Murai yg banyak terima kasih sama Bunda….,Murai jd banyak belajar….,dan maaf bila Murai sering mengganggu ketenangan Bunda….,tapi Murai percaya dn yakin Bunda Lia orang yang bijaksana….love u Bunda…

      31 Maret jam 19:34 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Bangsa Indonesia sungguh berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang ada di muka bumi. Perbedaan paling mencolok adalah jerih payahnya saat membangun dan merintis berdirinya bangsa sebesar nusantara ini. Kita semua paham bila berdirinya bangsa dan negara Indonesia berkat perjuangan heroik para leluhur kita. Dengan mengorbankan harta-benda, waktu, tenaga, pikiran, darah, bahkan pengorbanan nyawa. Demi siapakah ? Bukan demi kepentingan diri mereka sendiri, lebih utama demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak turunnya, para generasi penerus bangsa termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini. Penderitaan para leluhur bangsa bukanlah sembarang keprihatinan hidup. Jika dihitung sejak masa kolonialisme bangsa Baratdi bumi nusantara, para leluhur perintis bangsa melakukan perjuangan kemerdekaan selama kurang-lebih dari 350 tahun lamanya. Belum lagi jika dihitung dari era jatuhannya Kerajaan Majapahit yang begitu menyakitkan hati. Perjuangan bukan saja menguras tenaga dan harta benda, bahkan telah menggilas kesempatan hidup, menyirnakan kebahagiaan, memberangus ketentraman lahir dan batin, hati yang tersakiti, ketertindasan, harga diri yang diinjak dan terhina. Segala perjuangan, penderitaan dan keprihatinan menjadi hal yang tak terpisahkan karena, perjuangan dilakukan dalam suasana yang penuh kekurangan. Kurang sandang pangan, kurang materi, dan kekurangan dana. Itulah puncak penderitaan hidup yang lengkap mencakup multi dimensi. Penderitaan berada pada titik nadzir dalam kondisi sedih, nelangsa, perut lapar, kekurangan senjata, tak cukup beaya namun kaki harus tetap tegap berdiri melakukan perlawanan mengusir imperialism dan kolonialism tanpa kenal lelah dan pantang mengeluh.Lihat Selengkapnya

      31 Maret jam 19:35 · Tidak SukaSuka · 11 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Mas Aring pesanku tolong di ikuti masalah catatan yg tak berharga ini… dan tolong dipakai kalau perlu kalau tidak perlu monggo…. karena kita nasionalis bukan terlalu fanatik dan kita tetap punya budaya dan tradisi… kalau saya pribadi tidak bisa melupakan leluhur karena kita punya rasa… hati… balas budi… tanpa almarhum… tanpa moyang kita… tanpa leluhur kita pa kita hadir disini… apa kita ada dimuka bumi ini apa kita bisa menikmati perjuangan mereka yang tanpa jasa….. maaf mas Aring saya tidak akan bisa meninggalkan budaya dan leluhur saya. Terimakasih.Lihat Selengkapnya

      31 Maret jam 19:40 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Kalau kita ingat bahwa kakek kita yang tua renta masih giat menanam kelapa,tentu saja kita akan menjadi terlalu kurang ajar bila sampai tak menghormati kakek kita apalagi sampai melupakannya…coba kita pikir umur berapa puluh tahun kelapa membutuhkan waktu dari cikal bakal sampai bisa berbuah…tentu umur sikakekpun telah habis…

      31 Maret jam 19:43 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Galih Kusuma met malem bunda..salam kasih damai selalu..

      31 Maret jam 19:51 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Arie Irfan Selamat malam Kang Dullah, Mba Murai… Salam Kasih & Hormatku Selalu.

      31 Maret jam 19:51 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Aring Sukaton Maturnuwun, mohon maaf kemarin sy tdk mengikuti lengkap, tapi hr ini Bunda tulis diatas jd maaf jika saya mengulang

      qta sama2 punya leluhur untuk itu sy bertanya dan sudah pula dpt jawaban dr Bunda sekali lagi maturnuwun

      31 Maret jam 19:52 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Ndaru Luckys nuwunsewu Hadir..,……sugeng dhalu bunda lia, Damai dalam kasih sesama,Rahayu…kulo duduk derek nyimak kemawon bunda…..sumonggo Bunda dipun lanjut…..

      31 Maret jam 19:55 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Siwi Marthin Selamat malam bunda Lia. Bunda Lia adalah srikandi pilihan yg diberi amanat untuk mengemban tugas leluhur. Tegap dan tegaplah terus dalam melangkah menuju harapan dan cita2 luhur.

      31 Maret jam 19:55 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Murai Batu Buat semua sdr yg dirmah Bunda yg nyaman ini selamat malam salam hormat Murai buat semuanya….

      31 Maret jam 19:55 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Jika kita resapi, para leluhur perintis bangsa zaman dahulu telah melakukan beberapa laku prihatin yang teramat berat dan sulit dicari tandingannya sbb.
      -Tapa Ngrame; ramai dalam berjuang sepi dalam pamrih mengejar kepentingan pribadi.

      – Tapa Brata; menjalani perjuangan dengan penuh kekurangan materiil. Perjuangan melawan kolonialism tidak hanya dilakukan dengan berperang melawan musuh, namun lebih berat melawan nafsu pribadi dan nafsu jasad (biologis dan psikis).

      – Lara Wirang; harga diri dipermalukan, dihina, ditindas, diinjak, tak dihormati, dan nenek moyang bangsa kita pernah diperlakukan sebagai budak di rumahnya sendiri.

      – Lara Lapa; segala macam penderitaan berat pernah dialami para leluhur perintis bangsa.

      – Tapa Mendhem; para leluhur banyak yang telah gugur sebelum merdeka, tidak menikmati buah yang manis atas segala jerih payahnya. Berjuang secara tulus, dan segala kebaikannya dikubur sendiri dalam-dalam tak pernah diungkit dan dibangkit-bangkit lagi.

      – Tapa Ngeli; para leluhur bangsa dalam melakukan perjuangan kepahlawanannya dilakukan siang malam tak kenal menyerah. Penyerahan diri hanya dilakukan kepada Hyang Mahawisesa (Tuhan Yang Mahakuasa).

      Itulah kelebihan leluhur perintis bumi nusantara, suatu jasa baik yang mustahil kita mampu membalasnya. Kita sebagai generasi penerus bangsa telah berhutang jasa (kepotangan budhi) tak terhingga besarnya kepada para perintis nusantara. Tak ada yang dapat kita lakukan, selain tindakan berikut ini :

      1. Memelihara dan melestarikan pusaka atau warisan leluhur paling berharga yakni meliputi tanah perdikan (kemerdekaan), hutan, sungai, sawah-ladang, laut, udara, ajaran, sistem sosial, sistem kepercayaan dan religi, budaya, tradisi, kesenian, kesastraan, keberagaman suku dan budaya sebagaimana dalam ajaran Bhinneka Tunggal Ikka. Kita harus menjaganya jangan sampai terjadi kerusakan dan kehancuran karena salah mengelola, keteledoran dan kecerobohan kita. Apalagi kerusakan dengan unsur kesengajaan demi mengejar kepentingan pribadi.
      2. Melaksanakan semua amanat para leluhur yang terangkum dalam sastra dan kitab-kitab karya tulis pujangga masa lalu. Yang terekam dalam ajaran, kearifan lokal (local wisdom), suri tauladan, nilai budaya, falsafah hidup tersebar dalam berbagai hikayat, cerita rakyat, legenda, hingga sejarah. Nilai kearifan lokal sebagaimana tergelar dalam berbagai sastra adiluhung dalam setiap kebudayaan dan tradisi suku bangsa yang ada di bumi pertiwi. Ajaran dan filsafat hidupnya tidak kalah dengan ajaran-ajaran impor dari bangsa asing. Justru kelebihan kearifan lokal karena sumber nilainya merupakan hasil karya cipta, rasa, dan karsa melalui interaksi dengan karakter alam sekitarnya. Dapat dikatakan kearifan lokal memproyeksikan karakter orisinil suatu masyarakat, sehingga dapat melebur (manjing, ajur, ajer) dengan karakter masyarakatnya pula.Lihat Selengkapnya

      31 Maret jam 19:59 · Tidak SukaSuka · 13 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Menghormati leluhur secara islam…di islam tradisional ( menurut istilah Gus Dus ) ada tahlilan,ziarah kubur dan haul….tapi di islam modern ada tahlilan seingatku semenjak pak Harto menganjurkan tahlilan ketika bu Tin meninggal dunia…

      31 Maret jam 20:00 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Petruk Tralala Trm ksh bunda atas kirimanya..

      Slmt mlm sahabat2 yg memiliki jiwa Tegar, bagai cadas keras yg berdiri tegak..

      31 Maret jam 20:06 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Aring saya juga minta maaf karena ucapanku yang kasar… Sebab aku yang menjunjung tinggi Budaya dan Leluhur saya… dan tolong di perhatikan semua komentar saya… sebenarnya masalah pertanyaan anda sudah saya kupas saat saya kupas tentang Budaya Spiritual dan Agama….

      31 Maret jam 20:23 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Aring Sukaton Mas Abdullah Ali terimakasih tambahan petunjuk nya.

      Hormat buat kawan2 yg dah simpati atas komen sy, maturnuwun

      31 Maret jam 20:29 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Arie Irfan

      Kita memang harus menghormati leluhur, melestarikan budaya leluhur… Tidak bisa kita meninggalkan budaya leluhur. Manusia belajar keindahan melalui budaya masyarakatnya. Kebenaran dan kebajikan diperoleh dari seseorang dari budaya tempat tinggalnya. Jika budaya itu bersinggungan dgn budaya asing kita gak bisa mencaplok mentah_mentah budaya asing, kita harus menyaringnya demi kesejahteraan lahir dan batin masyarakat… Selamat Malam Semua… Salam Hormat & Jabat Erat.Lihat Selengkapnya

    • Abdullah Ali Aring,islam datang sebenarnya menyempurnakan budaya leluhur yang ada disetiap daerah…tapi ada banyak orang mempelajari agama islam hanya sebatas terjemahan maka hasilnya justru menggiring umat islam memusuhi kebudayaan leluhur…padahal islam sebenarnya tingkah laku yang ternyata sudah dilakukan orang orang jawa dahulu sebelum islam datang…

      31 Maret jam 20:36 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      APAKAH KITA MAU MENJADI GENERASI YANG DURHAKA???
      Kesadaran kita bahwa bangsa ini dulunya adalah bangsa yang besar dalam arti kejayaannya, kemakmurannya, kesuburan alamnya, kekayaan dan keberagaman akan seni dan budayanya, ketinggian akan filsafat kehidupannya, menumbuhkan sikap bangga kita hidup di negeri ini. Namun bila mencermati dengan seksama apa yang di lakukan para generasi penerus bangsa saat ini terutama yang sedang memegang tampuk kekuasaan kadang membuat perasaan kita terpuruk bahkan sampai merasa tidak lagi mencintai negara Indonesia berikut produk-produknya. Di sisi lain beberapa kelompok masyarakat seolah-olah menginginkan perubahan mendasar (asas) kenegaraan dengan memandaang pesimis dasar negara, falsafah dan pandangan hidup bangsa yang telah ada dan diretas melalui proses yang teramat berat dan berabad-abad lamanya. Golongan mayoritas terkesan kurang menghargai golongan minoritas. Keadilan dilihat dari kacamata subyektif, menurut penafsiran pribadi, sesuai kepentingan kelompok dan golongannya sendiri. Kepentingan yang kuat meniadakan kepentingan yang lemah. Kepentingan pribadi atau kelompok diklaim atas nama kepentingan rakyat. Untuk mencari menangnya sendiri orang sudah berani lancang mengklaim tindakannya atas dasar dalil agama (kehendak Tuhan). Ayat dan simbol-simbol agama dimanipulasi untuk mendongkrak dukungan politik. Watak inilah yang mendominasi potret generasi yang durhaka pada para leluhur perintis bangsa di samping pula menghianati amanat penderitaan rakyat. Celakanya banyak pecundang negeri justru mendapat dukungan mayoritas. Nah, siapa yang sudah keblinger, apakah pemimpinnya, ataukah rakyatnya, atau mungkin pemikiran saya pribadi ini yang tak paham realitas obyektif. Kenyataan betapa sulit menilai suatu ralitas obyektif, apalagi di negeri ini banyak sekali terjadi manipulasi data-data sejarah dan gemar mempoles kosmetik sebagai pemanis kulit sebagai penutup kebusukan.

      DOSA Anak Kepada Ibu (Pertiwi)
      Leluhur bumi nusantara bagaikan seorang ibu yang telah berjasa terlampau besar kepada anak-anaknya. Sekalipun dikalkulasi secara materi tetap terasa kita tak akan mampu melunasi “hutang” budi-baik orang tua kita dengan cara apapun. Orang tua kita telah mengandung, melahirkan, merawat, membesarkan kita hari demi hari hingga dewasa. Sedangkan kita tak pernah bisa melakukan hal yang sama kepada orang tua kita. Demikian halnya dengan para leluhur perintis bangsa. Bahkan kita tak pernah bisa melakukan sebagaimana para leluhur lakukan untuk kita. Apalagi beliau-beliau telah lebih dulu pergi meninggalkan kita menghadap Hyang Widhi (Tuhan YME). Diakui atau tidak, banyak sekali kita berhutang jasa kepada beliau-beliau para leluhur perintis bangsa. Sebagai konsekuensinya atas tindakan pengingkaran dan penghianatan kepada leluhur, sama halnya perilaku durhaka kepada ibu (pertiwi) kita sendiri yang dijamin akan mendatangkan malapetaka atau bebendu dahsyat. Itulah pentingnya kita tetap nguri-uri atau memelihara dan melestarikan hubungan yang baik kepada leluhur yang telah menurunkan kita khususnya, dan leluhur perintis bangsa pada umumnya. Penghianatan generasi penerus terhadap leluhur bangsa, sama halnya kita menabur perbuatan durhaka yang akan berakibat menuai malapetaka untuk diri kita sendiri.

      Sudah menjadi kodrat alam sikap generasi penerus bangsa yang telah mendurhakai para leluhur perintis bumi pertiwi dapat mendatangkan azab, malapetaka besar yang menimpa seantero negeri. Sikap yang “melacurkan” bangsa, menjual aset negara secara ilegal, merusak lingkungan alam, lingkungan hidup, hutan, sungai, pantai. Tidak sedikit para penanggung jawab negeri melakukan penyalahgunaan wewenangnya dengan cara “ing ngarsa mumpung kuasa, ing madya agawe rekasa, tut wuri nyilakani”. Tatkala berkuasa menggunakan aji mumpung, sebagai kelas menengah selalu menyulitkan orang, jika menjadi rakyat gemar mencelakai. Seharusnya ing ngarsa asung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Walaupun tidak semua orang melakukan perbuatan durhaka namun implikasinya dirasakan oleh semua orang. Sekilas tampak tidak adil, namun ada satu peringatan penting yang perlu diketahui bahwa, hanya orang-orang yang selalu eling dan waspada yang akan selamat dari malapetaka negeri ini.Coba kita renungkan bersama bener tidak perkataan diaatas… dan kita sadar tidak selama ini …..Lihat Selengkapnya

      31 Maret jam 20:37 · Tidak SukaSuka · 12 orangMemuat…
    • Christine Ab Christine

      apa yg diwariskan dari leluhur, entah itu adalah keburukan, kebaikan, masalah ataupun kejayaan, intinya cuma satu, yaitu pembelajaran.

      pembelajaran itulah yg menjadi pembimbing kita dan pengarah langkah di masa depan. Aku orang yg percaya bahwa cerita hidup itu seperti bulatnya lingkaran bumi. Tak pernah berubah, intinya berputar dari itu ke itu saja, namun kemajuan peradaban merubah kemasannya menjadi bermacam-macam membuat kita bingung. tapi seandainya kita mengerti/paham akan pokok masalah sesungguhnya, maka sbnrnya bisa diibaratkan kita hanya perlul membuka bag bab dari sebuah buku saja ….Lihat Selengkapnya

      31 Maret jam 20:49 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kang Dullah nyuwun sewu Islam masuk ke Jawa tidak membawa Budaya/adat tapi yang mereka bawa adalah ajaran…. bukan menyempurnakan justru saat itu…. Orang jawa di Islamkan …nah sak iki Islam di Jawaake…. Ben Jowo ora waton… ben Agama Islam bener Islam…. tidak asal2an membuat aturan…..

      31 Maret jam 20:50 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Arie Irfan

      Agama pun lahir dari suatu budaya. Memang betul kitab suci itu diakui oleh pemeluk agamanya sebagai wahyu Ilahi. Namun, wahyu itu untuk pertama kalinya justru ditepkan pada budaya tertentu. Bila seseorang berbudaya asing yg tidak cocok bagi lingkungan hidupnya, sudah pasti dia akan mengalami keterasingan. Atau, tersisih. Dan jika dia merupakan orang yg berpengaruh kuat, maka rusaklah nilai_nilai yg ada di budaya asalnya… Salam Kasih Penuh Damai. Lihat Selengkapnya

      31 Maret jam 20:50 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Ndaru Luckys

      Islam ==isine alam,ning menungsane dgn angkuh’e ngelek2 mbah’e sing nglahirno kene2…lan senengeane ngujo budoyo asing,budoyo dewe ditinggal…nek iso dipateni…..terus piye jawane anak putune Ibu pertiwi….anggel tenan…jan..mbah’e dewe disio sio….ning mbah’e wong luar diujo…ning yo ora popo kabeh kuwi…seng gelem mbalik yo bersyukur…yen ora gelem yo bersyukur….donyo muter podo seiring menungso ngirup udara….ono puteran sing kudu diputer….kabeh kuwi ono titi wancine…….
      Sugeng dhalu sedhantenne sedhulur dumateng riki,salam katresnan sesami….Rahayu…3x
      menawi comment kulo ndadosaken penggalih sedherek sedhantenne>>>jih kulo mung matur..

      Ono kupat nyemplung santen
      menowo lepat nyuwun pangapuntenLihat Selengkapnya

      31 Maret jam 20:53 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Christine Ab Christine hwayuuuh … lupa ngasih salam ….. hello everybody … how are you …

      hehehe mbak ayu, apa kabar …

      31 Maret jam 20:56 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Hasanudin Hasan Tindakan berterima kasih terhadap leluhur kita adalah mendoakannya dengan tulus bun dan prilaku kita yg baik bun…Insya Allah……

      31 Maret jam 21:02 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Iyo bener Den Ayu,islam memang membawa ajaran yang setelah aku kaji ternyata jarang yang mendukung atau menghormati setiap budaya leluhur yang ada….

      31 Maret jam 21:02 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Ralat…bukan jarang tapi ajaran,maaf salah ketik.

      31 Maret jam 21:04 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Christine sayang kemana saja…. kok baru muncul makin ok… ya itulah say ….. Mas Arief mantapppp… makin pintar saja …. baik saya teruskan….. Saya tergerak untuk membuat tulisan ini setelah beberapa kali mendapatkan pertanyaan sbb; apakah kembalinya kejayaan nusantara tergantung dengan peran leluhur ? jawabnya, TIDAK ! melainkan tergantung pada diri kita sendiri sebagai generasi penerus bangsa. Meskipun demikian bukan berarti menganulir peran leluhur terhadap nasib bangsa saat ini. Peran leluhur tetap besar hanya saja tidak secara langsung. Keprihatinan luar biasa leluhur nusantara di masa lampau dalam membangun bumi nusantara, telah menghasilkan sebuah “rumus” besar yang boleh dikatakan sebagai hukum atau kodrat alam. Setelah keprihatinan dan perjuangan usai secara tuntas, “rumus” baru segera tergelar sedemikian rupa. Rumus berlaku bagi seluruh generasi penerus bangsa yang hidup sebagai warga negara Indonesia dan siapapun yang mengais rejeki di tanah perdikan nusantara. Kendatipun demikian generasi penerus memiliki dua pilihan yakni, apakah akan menjalani roda kehidupan yang sesuai dalam koridor “rumus” besar atau sebaliknya, berada di luar “rumus” tersebut. Kedua pilihan itu masing-masing memiliki konsekuensi logis. Filsafat hidup Kejawen selalu wanti-wanti ; aja duwe watak kere, “jangan gemar menengadahkan tangan”. Sebisanya jangan sampai berwatak ingin selalu berharap jasa (budi) baik atau pertolongan dan bantuan dari orang lain, sebab yang seperti itu abot sanggane, berat konsekuensi dan tanggungjawab kita di kemudian hari. Bila kita sampai lupa diri apalagi menyia-nyiakan orang yang pernah memberi jasa (budi) baik kepada kita, akan menjadikan sukerta dan sengkala. Artinya membuat kita sendiri celaka akibat ulah kita sendiri. Leluhur melanjutkan wanti-wantinya pada generasi penerus, agar supaya ; tansah eling sangkan paraning dumadi. Mengingat jasa baik orang-orang yang telah menghantarkan kita hingga meraih kesuksesan pada saat ini. Mengingat dari siapa kita dilahirkan, bagaimana jalan kisah, siapa saja yang terlibat mendukung, menjadi perantara, yang memberi nasehat dan saran, hingga kita merasakan kemerdekaan dan ketenangan lahir batin di saat sekarang. Sementara itu, generasi durhaka adalah generasi yang sudah tidak eling sangkan paraning dumadi.Lihat Selengkapnya

      31 Maret jam 21:05 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Arie Irfan Kita harus hidup beragama tanpa menghancurkan budaya yg ada. Justru agama harus bisa melahirkan kekuatan baru untuk membangun kesejahteraan masyarakat. Agama bisa berkembang di suatu masyarakat bila agama itu diajarkan berdasarkan budaya yg ada… Salam Kasih.

      31 Maret jam 21:09 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Arie,ya memang begitu kok salam….rohmatalil’alamin..menyempurnakan dan menghormati budaya yang ada…asal mempelajarinya bukan sebatas kulit atau terjemahan…di kaji di kupas sampai ke isi maka ajaran islam ternyata sudah dilakukan orang jawa sebelum islam masuk dijawa tapi nek wong islam sing tekstual yo wis malah memusuhi…

      31 Maret jam 21:15 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Putrie Ragiel Trisno Lagi meriang 3 hari malah sekarang kena cakit gigi Bunda…Emaaach sugeng istirahat Nuwun

      31 Maret jam 21:17 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Misterr Jeans Sang Kinasih Sugeng ndalu Ibunda.. Ananda ngaturaken sembah pangabekti, Generasi kita sdh bnyk yg slah kprah Bunda.. Toto kromo sdh tdk di Budayakan lg, wong jowo ra ngerti jowone..

      31 Maret jam 21:17 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Walah nulis islam wae kok salam….tapi yo memang islam iku salam utowo slamet…

      31 Maret jam 21:19 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      SAUDARA…SAUDARIKU SALAM JIWA BUDAYA !!! Sebagai generasi penerus bangsa yang telah menanggung banyak sekali hutang jasa dan budi baik para leluhur masa lalu, tak ada pilihan yang lebih tepat selain harus mengikuti rumus-rumus yang telah tergelar. Sebagaimana ditegaskan dalam serat Jangka Jaya Baya serta berbagai pralampita, kelak negeri ini akan mengalami masa kejayaan kembali yang adil makmur, gemah ripah loh jinawi, bilamana semua suku bangsa kembali nguri-uri kebudayaan, menghayati nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kearifan lokal (local wisdom), masing-masing suku kembali melestarikan tradisi peninggalan para leluhur nusantara. Khususnya bagi orang Jawa yang sudah hilang kejawaannya (kajawan) dan berlagak sok asing, bersedia kembali menghayati nilai luhur kearifan lokal. Demikian pula suku Melayu, Dayak, Papua, Minang, Makasar, Sunda, Betawi, Madura, Tana Toraja, Dayak dst, kembali menghayati tradisi dan budaya lokal yang kaya akan nilai-nilai luhur. Bagaimanapun kearifan lokal memiliki kunggulan yakni lebih menyatu dan menjiwai (manjing ajur ajer) serta lebih mengenal secara cermat karakter alam dan masyarakat setempat. Desa mawa cara, negara mawa tata. Masing-masing wilayah atau daerah memiliki aturan hidup dengan menyesuaikan situasi dan kondisi alamnya. Tradisi dan budaya setempat adalah “bahasa” tak tertulis sebagai buah karya karsa, cipta, dan karsa manusia dalam berinteraksi dengan alam semesta. Orang yang hidup di wilayah subur makmur akan memiliki karakter yang lembut, santun, toleran, cinta damai namun agak pemalas. Sebaliknya orang terbiasa hidup di daerah gersang, sangat panas, sulit pangan, akan memiliki karakter watak yang keras, temperamental, terbiasa konflik dan tidak mudah toleran. Indonesia secara keseluruhan dinilai oleh manca sebagai masyarakat yang berkarakter toleran, penyabar, ramah, bersikap terbuka. Namun apa jadinya jika serbuan budaya asing bertubi-tubi menyerbu nusantara dengan penuh keangkuhan (tinggi hati) merasa paling baik dan benar sedunia. Apalagi budaya yang dikemas dalam moralitas agama, atau sebaliknya moralitas agama yang mengkristal menjadi kebiasaan dan tradisi. Akibat terjadinya imperialisme budaya asing, generasi bangsa ini sering keliru dalam mengenali siapa jati dirinya. Menjadi bangsa yang kehilangan arah, dengan “falsafah hidup” yang tumpang-tindih dan simpang-siur menjadikan doktrin agama berbenturan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang lebih membumi. Ditambah berbagai pelecehan konstitusi oleh pemegang tampuk kekuasaan semakin membuat keadaan carut-marut dan membingungkan. Tidak sekedar mengalami kehancuran ekonomi, lebih dari itu bangsa sedang menuju di ambang kehancuran moral, identitas budaya, dan spiritual. Kini, saatnya generasi penerus bangsa kembali mencari identitas jati dirinya, sebelum malapetaka datang semakin besar. Mulai sekarang juga, mari kita semua berhenti menjadi generasi durhaka kepada “orang tua” (leluhur perintis bangsa). Kembali ke pangkuan ibu pertiwi, niscaya anugrah kemuliaan dan kejayaan bumi nusantara akan segera datang kembali.Lihat Selengkapnya

      31 Maret jam 21:19 · Tidak SukaSuka · 13 orangMemuat…
    • Putrie Ragiel Trisno Amien Jayalah nuswantara Ku Merdeka Rahayu

      31 Maret jam 21:21 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Petruk Tralala nderek mbeber kloso nggih bun..?

      31 Maret jam 21:23 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Putrie Ragiel Trisno Nderek lenggah neng andinge kang petruk karo nyisil kwaci iixixxixixix

      31 Maret jam 21:24 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Petruk Tralala ssssttt…(bisik2) mbak putrie, jo seru2 yo, mumpung limbuk wis ngorok alias turu hihihi

      31 Maret jam 21:28 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Arie Irfan Hehehe… Terima kasih ea Kang Dullah.. Kita memang harus betul_betul menghargai budaya. Karena budaya merupakan rahim dari suatu masyarakat. Tanpa adat dan budaya suatu bangsa niscaya akan punah.. Salam Hormat & Jabat Erat.

      31 Maret jam 21:28 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Petruk Tralala Limbuk nek turu ngorok, suarane koyo Dosomuko wkikikikik..

      31 Maret jam 21:29 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Arie Irfan Selamat malam Mas Petruk, Mba Putrie… Salam Kasih Penuh Damai.

      31 Maret jam 21:31 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Putrie Ragiel Trisno Kick kick kick kick….karo mbeweh tur ngiler kang…piss

      31 Maret jam 21:31 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Arie Irfan Mas Petruk kopinya belum diminum lo… Hahahaha…

      31 Maret jam 21:32 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Murai Batu Sgeng dalu sdoyo..,Bunda kwulo nderek silo nggih.., spados kwulo mangertos bab meniko..,sakdreng lan saksampunipun kwulo matur gung panwun..,mugi katampi.. Mtur gung pangaksami..

      31 Maret jam 21:32 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      COBA KITA BUKA LEMBARAN TRAH MAJAPAHIT.
      Dalam pola hubungan kekerabatan atau silsilah di dalam Kraton di Jawa di kenal istilah trah. Menurut arti harfiahnya trah adalah garis keturunan atau diistilahkan tepas darah dalem atau kusuma trahing narendra, yakni orang yang masih memiliki hubungan kekerabatan atau keluarga besar secara genealogis dalam hubungan tali darah (tedhaking andana warih). Banyak sekali orang merasa bangga menjadi anggota suatu trah tertentu namun kebingungan saat menceritakan runtutan silsilah atau trah leluhur yang mana yang menurunkannya. Seyogyanya kita masih bisa menyebut dari mana asal-usul mata rantai leluhur yang menurunkan agar supaya dapat memberikan pengabdian kepada leluhur secara tepat. Dengan demikian rasa memiliki dan menghormati leluhurnya tidak dilakukan dengan asal-asalan tanpa mengetahui siapa persisnya nenek-moyang yang telah menurunkan kita, dan kepada leluhur yang mana harus menghaturkan sembah bakti. Jika kita terputus mengetahui mata rantai tersebut sama halnya dengan mengakui atau meyakini saja sebagai keturunan Adam, namun alur mata rantainya tidak mungkin diuraikan lagi. Mengetahui tedhaking andana warih membuat kita lebih tepat munjuk sembah pangabekti atau menghaturkan rasa berbakti dan memuliakan leluhur kita sendiri. Jangan sampai seperti generasi durhaka yakni orang-orang kajawan rib-iriban yang tidak memahami hakekat, kekenyangan “makan kulit”, menjunjung setinggi langit leluhur bangsa asing sekalipun harus mengeluarkan biaya puluhan bahkan ratusan juta rupiah tapi tidak mengerti makna sesungguhnya. Sungguh ironis, sementara leluhurnya sendiri terlupakan dan MAKAMNYA dibiarkan merana hanya karena takut dituduh MUSRIK atau KHURAFAT. Cerita ironis dan menyedihkan itu seketika raib tatkala sadar telah mendapatkan label sebagai “orang suci” dan saleh hanya karena sudah meluhurkan leluhur bangsa asing. Ya, itulah kebiasaan sebagian masyarakat yang suka menilai simbol-simbolnya saja, bukan memahami esensinya. Apakah seperti itu cara kita berterimakasih kepada leluhur yang menurunkan kita sendiri, dan kepada leluhur perintis bangsa? Rupanya mata hati telah tertutup rapat, tiada lagi menyadari bahwa teramat besar jasa para leluhur bangsa kita. Tanpa beliau-beliau pendahulu kita semua yang telah menumpahkan segala perjuangannya demi kehidupan dan kemuliaan anak turun yang mengisi generasi penerus bangsa rasanya kita tak kan pernah hidup saat ini.
      Tolok ukur kejayaan nusantara masa lalu adalah kejayaan kerajaan Pajajaran, Sriwijaya dan Majapahit, terutama yang terakhir. Trah atau garis keturunan kerajaan Majapahit yang masih eksis hingga sekarang, yakni kerajaan Mataram Panembahan Senopati di Kotagede Yogyakarta, Kerajaan Kasunanan dan Mangkunegaran di kota Solo, generasi Mangkubumen yakni Kasultanan dan Pakualaman di Yogyakarta. Semuanya adalah generasi penerus Majapahit terutama raja terakhir Prabu Brawijaya V.
      Lihat Selengkapnya

      31 Maret jam 21:34 · Tidak SukaSuka · 16 orangMemuat…
    • Ariyo Hadi Hadiwijoyo rahayu bun…rahayu sdoyo sderek …salam damai …smoga sjahtera utk bangsa dn tanah air kita…sugeng ndalu skedap nyimak …mugi migunani kagem kito sdoyo …khususipun kawulo piyambak …salam sayang amin.

      31 Maret jam 21:48 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Berikut ini silsilah yang saya ambil secara garis besarnya saja ;
      Prabu Brawijaya V mempunyai 3 putra di antaranya adalah :
      1. Ratu Pembayun (Lajer Putri)
      2. Raden Bondhan Kejawan / Lembupeteng Tarub (Lajer Putra)
      3. Raden Patah / Jin Bun / Sultan Buntoro Demak I (Lajer Putra; tetapi ibu kandung dari bangsa asing yakni; Putri Cempo dari Kamboja ; beragama Islam)
      Trah Ratu Pembayun menurunkan 2 Putra :
      1. Ki Ageng Kebo Kanigoro
      2. Ki Ageng Kebo Kenongo/Ki Ageng Pengging
      Ki Ageng Kebo Kenongo menurunkan 1 Putra: (Lajer Putri)
      1. Mas Karebet / Joko Tingkir / Sultan Hadiwijoyo/ Sultan Pajang I (Lajer Putri)
      Sementara itu Raden Patah / Jin Bun / Sultan Buntoro Demak I, menurunkan 2 Putera yakni :
      (1) Pangeran Hadipati Pati Unus / Sultan Demak II
      (2) Pangeran Hadipati Trenggono / Sultan Demak III
      Keduanya penerus Demak – tetapi akhirnya putus alias demak runtuh karena pemimpinnya tidak kuat.
      Kerajaan Demak hanya berlangsung selama 3 periode. Entah ada kaitannya atau tidak namun kejadiannya sebagaimana dahulu pernah diisaratkan oleh Prabu Brawijaya V saat menjelang puput yuswa. Prabu Brawijaya V merasa putranda Raden Patah menjadi anak yang berani melawan orang tua sendiri, Sang Prabu Brawijaya V (Kertabhumi), apapun alasannya. Maka Prabu Brawijaya V bersumpah bila pemerintahan Kerajaan Demak hanya akan berlangsung selama 3 dinasti saja (Raden Patah, Adipati Unus, Sultan Trenggono). Setelah itu kekuasaa Kerajaan Demak Bintoro akan redup dengan sendirinya. Hal senada disampaikan pula oleh Nyai Ampel Gading kepada cucunda Raden Patah, setiap anak yang durhaka kepada orang tuanya pasti akan mendapat bebendu dari Hyang Mahawisesa. Dikatakan oleh Nyai Ampel Gading, bahwa Baginda Brawijaya V telah memberikan 3 macam anugrah kepada Raden Patah yakni; 1) daerah kekuasaan yang luas, 2) diberikan Tahta Kerajaan, 3) dan dipersilahkan menyebarkan agama baru yakni agama sang ibundanya (Putri Cempa) dengan leluasa. Namun Raden Patah tetap menginginkan tahta Majapahit, sehingga berani melawan orang tuanya sendiri. Sementara ayahandanya merasa serba salah, bila dilawan ia juga putera sendiri dan pasti kalah, jika tidak dilawan akan menghancurkan Majapahit dan membunuh orang-orang yang tidak mau mengikuti kehendak Raden Patah. Akhirnya Brawijaya V memilih mengirimkan sekitar 3000 pasukan saja agar tidak mencelakai putranda Raden Patah. Sementara pemberontakan Raden Patah ke Kerajaan Majapahit membawa bala tentara sekitar 30 ribu orang, dihadang pasukan Brawijaya V yang hanya mengirimkan 3000 orang. Akibat jumlah prajurit tidak seimbang maka terjadi banjir darah dan korban berjatuhan di pihak Majapahit. Sejak itulah pustaka-pustaka Jawa dibumihanguskan, sementara itu orang-orang yang membangkang dibunuh dan rumahnya dibakar. Sebaliknya yang memilih mengikuti kehendak Raden Patah dibebaskan dari upeti atau pajak. Senada dengan Syeh Siti Jenar yang enggan mendukung pemberontakan Raden Patah ke Majapahit, adalah Kanjeng Sunan Kalijaga yang sempat memberikan nasehat kepada Raden Patah, agar tidak melakukan pemberontakan karena dengan memohon saja kepada ayahandanya untuk menyerahkan tahta, pasti permintaan Raden Patah akan dikabulkannya. Hingga akhirnya nasehat tak dihiraukan Raden patah, dan terjadilah perang besar yang membawa banyak korban. Hal ini sangat disesali oleh Kanjeng Sunan Kalijaga, hingga akhirnya memutuskan untuk berpakaian serba berwarna wulung atau hitam sebagai pertanda kesedihan dan penyesalan atas peristiwa tersebut.
      Lihat Selengkapnya

      31 Maret jam 21:50 · Tidak SukaSuka · 14 orangMemuat…
    • Pakpuh Tegoeh mohon maaf bunda, gus ali, den putri, mas petruk, mas jeans, mas arie, mas ariyo dan semuanya … malam ini saya absen, ada tugas yg harus diselesaikan, walaupun hati ingin tetap disini … salam sejahtera … semoha Allah ridho …amin

      31 Maret jam 21:54 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Arie Irfan Peneririmaan ajaran Islam bagi orang jawa tidaklah terlalu perlu untuk menghafal ayat_ayat Alquran dan hadis. Yg paling penting adalah pengamalannya. Penerapannya! Istilah tidak perlu yg terasa asing ditelinga orang jawa. Yg penting dengan istilah_istilah itu, orang jawa bisa memahami Islam. Salam Kasih.

      31 Maret jam 21:59 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Ariyo Hadi Hadiwijoyo ‎@Pakpuh T…sumonggo nderekaken salam !

      31 Maret jam 22:01 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Arie Irfan Hmmm… Mantaf Bunda… Emang itulah sejarah yg sebenarnya pemberontakan raden patah yg menelan banyak korban… Sekarang buku_buku sejarah isinya sudah banyak yg gak asli bukti_bukti sejarah banyak yg dimusnahkan, dibakar, dihancurkan.. Salam Kasihku.

      31 Maret jam 22:13 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      PENERUS MAJAPAHIT….Lain halnya nasib Raden Bondan Kejawan yang dahulu sebelum Sri Narpati Prabu Brawijaya V meninggal ia masih kecil dititipkan kepada putranda Betara Katong, dikatakan jika Betara katong harus menjaga keselamatan Raden Bondan Kejawan karena ialah yang akan menjadi penerus kerajaan Majapahit di kelak kemudian hari. Berikut ini alur silsilah Raden Bondan Kejawan hingga regenerasinya di masa Kerajaan Mataram.
      Raden Bondhan Kejawan/Lembu Peteng Tarub-Dewi Nawang Sih (Dewi Nawang Sih adalah seorang putri dari Dewi Nawang Wulan-Jaka Tarub) (Lajer Putra)

      menurunkan Putera :
      1. Raden Depok / Ki Ageng Getas Pandowo (Lajer Putra)
      2. Dewi Nawang Sari (Kelak adl calon ibu Ratu Adil/SP/Herucakra)
      Raden Depok / Ki Ageng Getas Pandowo mempunyai 1 Putera:
      Bagus Sunggam / Ki Ageng Selo (Lajer Putra)
      Bagus Sunggam / Ki Ageng Selo mempunyai 1 Putera bernama:
      Ki Ageng Anis (Ngenis) (Lajer Putra)
      Ki Ageng Anis (Ngenis) mempunyai 2 Putera :
      1. Ki Ageng Pemanahan / Ki Ageng Mataram
      2. Ki Ageng Karotangan / Pagergunung I

      Ki Ageng Pemanahan / Mataram mempunyai 1 Putera:
      Raden Danang Sutowijoyo / Panembahan Senopati/ Sultan Mataram I
      Panembahan Senopati akhirnya menjadi generasi Mataram Islam (kasultanan) pertama yang meneruskan kekuasaan Majapahit hingga kini. Pada masa itu spiritualitas diwarnai nilai sinkretisme antara filsafat hidup Kejawen, Hindu, Budha dan nilai-nilai Islam hakekat sebagaimana terkandung dalam ajaran Syeh Siti Jenar, terutama mazabnya Ibnu Al Hallaj. Pada saat itu, hubungan kedua jalur spiritual masih terasa begitu romantis saling melengkapi dan belum diwarnai intrik-intrik politik yang membuyarkan sebagaimana terjadi sekarang ini.
      Begitulah silsilah lajer putra dari Brawijaya V. Menurut tradisi Jawa wahyu keprabon akan turun kepada anak laki-laki atau lajer putra. Sedangkan Raden patah walaupun lajer putra tetapi dari Putri bangsa asing. Dan Raden Patah dianggap anak durhaka oleh ayahandanya Prabu Brawijaya Kertabhumi dan neneknya Nyai Ampel Gading. Namun demikian, bagi penasehat spiritualnya yakni Ki Sabdapalon dan Nayagenggong yang begitu legendaris kisahnya, pun Prabu Brawijaya walaupun secara terpaksa atau tidak sengaja telah menghianati para pendahulunya pula.

      Dari pemaparan kisah di atas ada suatu pelajaran berharga untuk generasi penerus agar tidak mengulang kesalahan yang sama. Artinya jangan sampai kita berani melawan orang tua, apalagi sampai terjadi pertumpahan darah. Karena dapat tergelincir pada perbuatan durhaka kepada orang tua kita terutama pada seorang ibu, yakni ibu pertiwi. Dengan kata lain durhaka kepada para leluhur yang telah merintis bangsa dengan susah payah. Karena Tuhan pasti akan memberikan hukuman yang setimpal, dan siapapun tak ada yang bisa luput dari bebendu Tuhan.Lihat Selengkapnya

      31 Maret jam 22:16 · Tidak SukaSuka · 13 orangMemuat…
    • Misterr Jeans Sang Kinasih ALLAH.. Tlah menciptakan Agama pd umatnya ntuk jd pnuntun hdup, agar hdup kita tdk trjerumus dlm knistaan dan kgelapan.

      31 Maret jam 22:22 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Pralampita Leluhur Bangsa….Saya ingin mengambil beberapa bait dari serat Darmogandul dan ingat dengan seseorang sahabat/saudara/temanku seperjuangan mengenai Budaya beliau adalah Kph DARUDRIYO SUMODININGRAT karena serat Darmogandul yang unik dan menarik untuk dianalisa, sekalipun kontroversial namun paling tidak ada beberapa nasehat dan warning yang mungkin dapat menjadi pepeling bagi kita semua, khususnya bagi yang percaya. Bagi yang tidak mempercayai, hal itu tidak menjadi masalah karena masing-masing memiliki hak untuk menentukan sikap dan mencari jalan hidup secara cermat, tepat dan sesuai dengan pribadi masing-masing.

      Paduka yektos, manawi sampun santun gami selam,
      nilar gamabudi, turun paduka tamtu apes,
      Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, remen nunut bangsa sanes.
      Benjing tamtu dipun prentah dening tiyang Jawi ingkang mangreti.
      Paduka pahami, bila sudah memeluk gama selam, meninggalkan gamabudi,
      Keturunan Paduka pasti mendapatkan sial, Jawa tinggal seolah-olah jawa,nilai ke-Jawa-annya telah hilang, gemar nebeng bangsa lain
      Besok tentu diperintah oleh orang Jawa yang memahami (Kejawa-an)
      Cobi paduka-yektosi, benjing: sasi murub boten tanggal,
      wiji bungker boten thukul, dipun tampik dening Dewa,
      tinanema thukul mriyi, namung kangge tedha peksi,
      mriyi punika pantun kados ketos,
      amargi Paduka ingkang lepat, remen nembah sela
      Cobalah Paduka pahami, besok; sasi murub boten tanggal
      Biji-bijian tidak tumbuh, ditolak oleh Tuhan
      Walaupun ditanam yang tumbuh berupa padi jelek
      Hanya jadi makanan burung
      Karena Paduka lah yang bersalah, suka menyembah batu
      Paduka-yektosi, benjing tanah Jawa ewah hawanipun,
      wewah benter awis jawah, suda asilipun siti,
      kathah tiyang remen dora,
      kendel tindak nistha tuwin remen supata,
      jawah salah mangsa, damel bingungipun kanca tani.
      Paduka pahami, kelak tanah Jawa berubah hawanya,
      Berubah menjadi panas dan jarang hujan, berkurang hasil bumi
      Banyak orang suka berbuat angkara
      Berani berbuat nista dan gemar bertengkar,
      Hujan salah musim, membuat bingung para petani
      Wiwit dinten punika jawahipun sampun suda,
      amargi kukuminipun manusa anggenipun sami gantos agami.
      Benjing yen sampun mretobat, sami enget dhateng gamabudi malih,
      lan sami purun nedha woh kawruh, Dewa lajeng paring pangapura,
      saged wangsul kados jaman Budhi jawahipun”.
      Mulai hari ini hujan sudah mulai berkurang,
      Sebagai hukumannya manusia karena telah berganti agama
      Besok bila sudah bertobat, orang-orang baru ingat kepada gamabudi lagi
      Dan bersedia makan buahnya ilmu, maka Tuhan akan memberi ampunan
      Kesuburan tanah dapat kembali seperti zaman gamabudi.Lihat Selengkapnya

      31 Maret jam 22:38 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Bunda Lia Waduh kang Dullah ayo kang mudun wis jam 23.00 Yasinan maneh kang … la kang Dullah arep mudun jam piro??? Aku mau esok wae tak awiti jam 23.30 rampunge jam 03.00 opo dibacutke jam 00.00 wae piye penakke kang…???

      31 Maret jam 23:00 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia Jam 00.00 wae yo kang…. pisan nganti subuh 41x dan Ikhlas 333 loh. Wis kang sak kuatmu… tugasku 7 Dino.

      31 Maret jam 23:03 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit Selamat malam mama,,,,,maafkan mama bru bsa menyapa,,soalnya sibuk nyatat,,,,

      31 Maret jam 23:06 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Yoh…aku tak ngaturake shalawat wae Den Ayu…..mugo tansah rahayu…

      31 Maret jam 23:08 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Misterr Jeans Sang Kinasih Ananda jg akan bantu Bunda.. Ng jg lg persiapan..

      31 Maret jam 23:10 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      WAlahu A’lamu Bis Showab…….
      Mbakyu…… Bersikaplah seperti air sumur…… Semakin banyak orang menimbah…….. Air tidak akan semakin berkurang atau (apalagi) keruh….. Tetapi air akan semakin jernih…..
      Jika air semakin jernih……. niscaya akan lebih memberikan nilai manfaat bagi orang banyak……

      01 April jam 22:52 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Datuak Sukma Jati sangat tersentuh…… datuak sukma jati like this…

      02 April jam 18:01 · SukaTidak Suka · 1 orang

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on April 22, 2011, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: