GAJAH MADA

                                                     GAJAH MADA

Gajah Mada
Untuk mewujudkan keinginanku
atas Majapahit yang besar, aku bersumpah akan menjauhi hamukti wiwaha sebelum
cita-citaku dan cita-cita kita bersama itu terwujud. Aku tidak akan
bersenang-senang dahulu. Aku akan tetap berprihatin dalam puasa tanpa ujung semata-mata
demi kebesaran Majapahit. Aku bersumpah untuk tidak beristirahat. Lamun huwus
kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram,
Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang,
Tumasek, sama ingsun amukti palapa.

08 Juni 2010 · Tidak SukaSuka ·

    • Bunda Lia

      Mengerikan betul sumpah yang diucapkan Gajah Mada di depan Bale Manguntur ketika dilakukan pelantikannya menjadi Sang Mahapatih Majapahit mendampingi Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani dan Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa. Sumpah ini kemudian terkenal dengan Sumpah Palapa. Bagaimana tidak, negarawan sejati ini bersumpah tidak akan bersenang-senang dalam puasa tanpa ujung sebelum seluruh Nusantara berada di bawah kebesaran MajapahitLihat Selengkapnya

      08 Juni 2010 jam 20:48 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Arie Irfan Salam Nusantara bunda

      08 Juni 2010 jam 20:50 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Salam Nusantara!!! Apa khabar mas Arie….

      08 Juni 2010 jam 20:52 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Mas Arie Ingat perjuangan Gajah Mada jadi sedih ya melihat keadaan Nusantara kita…..
      Dibalik Nusantara
      Bangsa Indonesia sungguh berbeda dengan bangsa-bangsa lain yang ada di muka bumi. Perbedaan paling mencolok adalah jerih payahnya saat membangun dan merintis berdirinya bangsa sebesar nusantara ini. Kita semua paham bila berdirinya bangsa dan negara Indonesia berkat perjuangan heroik para leluhur kita. Dengan mengorbankan harta-benda, waktu, tenaga, pikiran, darah, bahkan pengorbanan nyawa. Demi siapakah ? Bukan demi kepentingan diri mereka sendiri, lebih utama demi kebahagiaan dan kesejahteraan anak turunnya, para generasi penerus bangsa termasuk kita semua yang sedang membaca tulisan ini. Penderitaan para leluhur bangsa bukanlah sembarang keprihatinan hidup. Jika dihitung sejak masa kolonialisme bangsa Baratdi bumi nusantara, para leluhur perintis bangsa melakukan perjuangan kemerdekaan selama kurang-lebih dari 350 tahun lamanya. Belum lagi jika dihitung dari era jatuhannya Kerajaan Majapahit yang begitu menyakitkan hati. Perjuangan bukan saja menguras tenaga dan harta benda, bahkan telah menggilas kesempatan hidup, menyirnakan kebahagiaan, memberangus ketentraman lahir dan batin, hati yang tersakiti, ketertindasan, harga diri yang diinjak dan terhina. Segala perjuangan, penderitaan dan keprihatinan menjadi hal yang tak terpisahkan karena, perjuangan dilakukan dalam suasana yang penuh kekurangan. Kurang sandang pangan, kurang materi, dan kekurangan dana. Itulah puncak penderitaan hidup yang lengkap mencakup multi dimensi. Penderitaan berada pada titik nadzir dalam kondisi sedih, nelangsa, perut lapar, kekurangan senjata, tak cukup beaya namun kaki harus tetap tegap berdiri melakukan perlawanan mengusir imperialism dan kolonialism tanpa kenal lelah dan pantang mengeluh. Jika kita resapi, para leluhur perintis bangsa zaman dahulu telah melakukan beberapa laku prihatin yang teramat berat dan sulit dicari tandingannya sbb ;
      1. Tapa Ngrame; ramai dalam berjuang sepi dalam pamrih mengejar kepentingan pribadi.
      2. Tapa Brata; menjalani perjuangan dengan penuh kekurangan materiil. Perjuangan melawan kolonialism tidak hanya dilakukan dengan berperang melawan musuh, namun lebih berat melawan nafsu pribadi dan nafsu jasad (biologis dan psikis).
      3. Lara Wirang; harga diri dipermalukan, dihina, ditindas, diinjak, tak dihormati, dan nenek moyang bangsa kita pernah diperlakukan sebagai budak di rumahnya sendiri.
      4. Lara Lapa; segala macam penderitaan berat pernah dialami para leluhur perintis bangsa.
      5. Tapa Mendhem; para leluhur banyak yang telah gugur sebelum merdeka, tidak menikmati buah yang manis atas segala jerih payahnya. Berjuang secara tulus, dan segala kebaikannya dikubur sendiri dalam-dalam tak pernah diungkit dan dibangkit-bangkit lagi.
      6. Tapa Ngeli; para leluhur bangsa dalam melakukan perjuangan kepahlawanannya dilakukan siang malam tak kenal menyerah. Penyerahan diri hanya dilakukan kepada Hyang Mahawisesa (Tuhan Yang Mahakuasa).
      Lihat Selengkapnya

      08 Juni 2010 jam 20:57 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Mahesa Jenar itulah kemauan kami… mas Mahesa salah satu para pemikir yang kita cari…..

      08 Juni 2010 jam 21:00 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Arie Irfan Kabar baik bunda…..aku suka sekali bunda mengupas/memahami sejarah dulu….teruskan bunda. Salam Kasih.

      08 Juni 2010 jam 21:02 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Injih mas Arie…matur nuwun sanget….
      Itulah kelebihan leluhur perintis bumi nusantara, suatu jasa baik yang mustahil kita balas. Kita sebagai generasi penerus bangsa telah berhutang jasa (kepotangan budhi) tak terhingga besarnya kepada para perintis nusantara. Tak ada yang dapat kita lakukan, selain tindakan berikut ini :
      1. Memelihara dan melestarikan pusaka atau warisan leluhur paling berharga yakni meliputi tanah perdikan (kemerdekaan), hutan, sungai, sawah-ladang, laut, udara, ajaran, sistem sosial, sistem kepercayaan dan religi, budaya, tradisi, kesenian, kesastraan, keberagaman suku dan budaya sebagaimana dalam ajaran Bhinneka Tunggal Ikka. Kita harus menjaganya jangan sampai terjadi kerusakan dan kehancuran karena salah mengelola, keteledoran dan kecerobohan kita. Apalagi kerusakan dengan unsur kesengajaan demi mengejar kepentingan pribadi.
      2. Melaksanakan semua amanat para leluhur yang terangkum dalam sastra dan kitab-kitab karya tulis pujangga masa lalu. Yang terekam dalam ajaran, kearifan lokal (local wisdom), suri tauladan, nilai budaya, falsafah hidup tersebar dalam berbagai hikayat, cerita rakyat, legenda, hingga sejarah. Nilai kearifan lokal sebagaimana tergelar dalam berbagai sastra adiluhung dalam setiap kebudayaan dan tradisi suku bangsa yang ada di bumi pertiwi. Ajaran dan filsafat hidupnya tidak kalah dengan ajaran-ajaran impor dari bangsa asing. Justru kelebihan kearifan lokal karena sumber nilainya merupakan hasil karya cipta, rasa, dan karsa melalui interaksi dengan karakter alam sekitarnya. Dapat dikatakan kearifan lokal memproyeksikan karakter orisinil suatu masyarakat, sehingga dapat melebur (manjing, ajur, ajer) dengan karakter masyarakatnya pula.
      3. Mencermati dan menghayati semua peringatan (wewaler) yang diwasiatkan para leluhur, menghindari pantangan- pantangan yang tak boleh dilakukan generasi penerus bangsa. Selanjutnya mentaati dan menghayati himbauan-himbauan dan peringatan dari masa lalu akan berbagai kecenderungan dan segala peristiwa yang kemungkinan dapat terjadi di masa yang akan datang (masa kini). Mematuhi dan mencermati secara seksama akan bermanfaat meningkatkan kewaspadaan dan membangun sikap eling.
      4. Tidak melakukan tindakan lacur, menjual pulau, menjual murah tambang dan hasil bumi ke negara lain. Sebaliknya harus menjaga dan melestarikan semua harta pusaka warisan leluhur. Jangan menyalahgunakan wewenang dan kekuasaan. Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan, “menggunting dalam lipatan”.
      5. Merawat dan memelihara situs dan benda-benda bersejarah, tempat yang dipundi-pundi atau pepunden (makam) para leluhur. Kepedulian kita untuk sekedar merawat dan memelihara makam leluhur orang-orang yang telah menurunkan kita dan leluhur perintis bangsa, termasuk dalam mendoakannya agar mendapat tempat kamulyan sejati dan kasampurnan sejati di alam kelanggengan merupakan kebaikan yang akan kembali kepada diri kita sendiri. Tak ada buruknya kita meluhurkan leluhur bangsa asing dengan dalih apapun; agama, ajaran, budaya, ataupun sebagai ikon perjuangan kemanusiaan. Namun demikian hendaknya leluhur sendiri tetap dinomorsatukan dan jangan sampai dilupakan bagaimanapun juga beliau adalah generasi pendahulu yang membuat kita semua ada saat ini. Belum lagi peran dan jasa beliau-beliau memerdekakan bumi pertiwi menjadikan negeri ini menjadi tempat berkembangnya berbagai agama impor yang saat ini eksis. Dalam falsafah hidup Kejawen ditegaskan untuk selalu ingat akan sangkan paraning dumadi. Mengerti asal muasalnya hingga terjadi di saat ini. Dengan kata lain ; kacang hendaknya tidak melupakan kulitnya.
      6. Hilangkan sikap picik atau dangkal pikir (cethek akal) yang hanya mementingkan kelompok, gender atau jenis kelamin, golongan, suku, budaya, ajaran dan agama sendiri dengan sikap primordial, etnosentris dan rasis. Kita harus mencontoh sikap kesatria para pejuang dan pahlawan bumi pertiwi masa lalu. Kemerdekaan bukanlah milik satu kelompok, suku, ras, bahkan agama sekalipun. Perjuangan dilakukan oleh semua suku dan agama, kaum laki-laki dan perempuan, menjadikan kemerdekaan sebagai anugrah milik bersama seluruh warga negara Indonesia.
      Lihat Selengkapnya

      08 Juni 2010 jam 21:07 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Raden HartonoDiningrat Salam Jiwa Budaya Nusantara. .bunda Lia, sayapun berharap dan berdo’a agar apa yang diniatkan dan ditujukan bunda mendapat ridho-Nya, diberi jalan kemudahan dan kekuatan oleh Allah SWT. amien. .ya rabbul ‘alamien.

      08 Juni 2010 jam 21:08 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Aminnnn….Salam Jiwa Budaya mas Raden HartonoDiningrat….Prihatin rasanya mas Raden….karena…
      Kesadaran kita bahwa bangsa ini dulunya adalah bangsa yang besar dalam arti kejayaannya, kemakmurannya, kesuburan alamnya, kekayaan dan keberagaman akan seni dan budayanya, ketinggian akan filsafat kehidupannya, menumbuhkan sikap bangga kita hidup di negeri ini. Namun bila mencermati dengan seksama apa yang di lakukan para generasi penerus bangsa saat ini terutama yang sedang memegang tampuk kekuasaan kadang membuat perasaan kita terpuruk bahkan sampai merasa tidak lagi mencintai negara Indonesia berikut produk-produknya. Di sisi lain beberapa kelompok masyarakat seolah-olah menginginkan perubahan mendasar (asas) kenegaraan dengan memandaang pesimis dasar negara, falsafah dan pandangan hidup bangsa yang telah ada dan diretas melalui proses yang teramat berat dan berabad-abad lamanya. Golongan mayoritas terkesan kurang menghargai golongan minoritas. Keadilan dilihat dari kacamata subyektif, menurut penafsiran pribadi, sesuai kepentingan kelompok dan golongannya sendiri. Kepentingan yang kuat meniadakan kepentingan yang lemah. Kepentingan pribadi atau kelompok diklaim atas nama kepentingan rakyat. Untuk mencari menangnya sendiri orang sudah berani lancang mengklaim tindakannya atas dasar dalil agama (kehendak Tuhan). Ayat dan simbol-simbol agama dimanipulasi untuk mendongkrak dukungan politik. Watak inilah yang mendominasi potret generasi yang durhaka pada para leluhur perintis bangsa di samping pula menghianati amanat penderitaan rakyat. Celakanya banyak pecundang negeri justru mendapat dukungan mayoritas. Nah, siapa yang sudah keblinger, apakah pemimpinnya, ataukah rakyatnya, atau mungkin pemikiran saya pribadi ini yang tak paham realitas obyektif. Kenyataan betapa sulit menilai suatu ralitas obyektif, apalagi di negeri ini banyak sekali terjadi manipulasi data-data sejarah dan gemar mempoles kosmetik sebagai pemanis kulit sebagai penutup kebusukan. Sehingga banyak sejarah asli tak lagi tampak…aneh njih mas Raden HartonoDiningrat….Sehingga kita yg cinta Budaya dan Sejarah asal jadi repot mengumpulkan keaslian sejarah….Lihat Selengkapnya

      08 Juni 2010 jam 21:14 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Agus Langit di tempat lain ada yang dak beragama tapi baik…………..

      08 Juni 2010 jam 21:16 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo berarti bukan agama biang masalahnya..

      08 Juni 2010 jam 21:17 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Betul mas Mahesa…hemmmmmm
      Para Pemimpin telah Durhaka pada Leluhur dan Dosa pada Bumi Pertiwi ini…..
      Leluhur bumi nusantara bagaikan seorang ibu yang telah berjasa terlampau besar kepada anak-anaknya. Sekalipun dikalkulasi secara materi tetap terasa kita tak akan mampu melunasi “hutang” budi-baik orang tua kita dengan cara apapun. Orang tua kita telah mengandung, melahirkan, merawat, membesarkan kita hari demi hari hingga dewasa. Sedangkan kita tak pernah bisa melakukan hal yang sama kepada orang tua kita. Demikian halnya dengan para leluhur perintis bangsa. Bahkan kita tak pernah bisa melakukan sebagaimana para leluhur lakukan untuk kita. Apalagi beliau-beliau telah lebih dulu pergi meninggalkan kita menghadap Hyang Widhi (Tuhan YME). Diakui atau tidak, banyak sekali kita berhutang jasa kepada beliau-beliau para leluhur perintis bangsa. Sebagai konsekuensinya atas tindakan pengingkaran dan penghianatan kepada leluhur, sama halnya perilakudurhaka kepada ibu (pertiwi) kita sendiri yang dijamin akan mendatangkan malapetaka atau bebendu dahsyat. Itulah pentingnya kita tetap nguri-uri atau memelihara dan melestarikan hubungan yang baik kepada leluhur yang telah menurunkan kita khususnya, dan leluhur perintis bangsa pada umumnya. Penghianatan generasi penerus terhadap leluhur bangsa, sama halnya kita menabur perbuatan durhaka yang akan berakibat menuai malapetaka untuk diri kita sendiri.
      Sudah menjadi kodrat alam sikap generasi penerus bangsa yang telah mendurhakai para leluhur perintis bumi pertiwi dapat mendatangkan azab, malapetaka besar yang menimpa seantero negeri. Sikap yang “melacurkan” bangsa, menjual aset negara secara ilegal, merusak lingkungan alam, lingkungan hidup, hutan, sungai, pantai. Tidak sedikit para penanggungjawab negeri melakukan penyalahgunaan wewenangnya dengan cara “ing ngarsa mumpung kuasa, ing madya agawe rekasa, tut wuri nyilakani”.Tatkala berkuasa menggunakan aji mumpung, sebagai kelas menengah selalu menyulitkan orang, jika menjadi rakyat gemar mencelakai. Seharusnya ing ngarsa asung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Walaupun tidak semua orang melakukan perbuatan durhaka namun implikasinya dirasakan oleh semua orang. Sekilas tampak tidak adil, namun ada satu peringatan penting yang perlu diketahui bahwa, hanya orang-orang yang selalu eling dan waspada yang akan selamat dari malapetaka negeri ini.
      Lihat Selengkapnya

      08 Juni 2010 jam 21:20 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Arie Irfan Aku suka banget bunda…..emang zaman udah menggila mengalami zaman gila yg dibutuhkan hanyalah eling lan waspada. Manusia harus bisa memahami hukum sebab akibat agar bisa terhindar dari rasa takut. Salam Peningkatan Kesadaran.

      08 Juni 2010 jam 21:22 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Agus Langit saya setuju bunda…………………………………..

      08 Juni 2010 jam 21:25 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Mas Arie….Dik Margo dan mas Agus semua pendapat dan pertanyaan semua baik jadi ya kita kupas bersama dan harus sabar tangan ini hanya 2 untung dulu sekolah kalau tidak aku ndak bisa dehhhh….apakah kembalinya kejayaan nusantara tergantung dengan peran leluhur ? jawabnya, TIDAK ! melainkan tergantung pada diri kita sendiri sebagai generasi penerus bangsa.Meskipun demikian bukan berarti menganulir peran leluhur terhadap nasib bangsa saat ini. Peran leluhur tetap besar hanya saja tidak secara langsung. Keprihatinan luar biasa leluhur nusantara di masa lampau dalam membangun bumi nusantara, telah menghasilkan sebuah “rumus” besar yang boleh dikatakan sebagai hukum atau kodrat alam. Setelah keprihatinan dan perjuangan usai secara tuntas, “rumus” baru segera tergelar sedemikian rupa. Rumus berlaku bagi seluruh generasi penerus bangsa yang hidup sebagai warga negara Indonesia dan siapapun yang mengais rejeki di tanah perdikan nusantara. Kendatipun demikian generasi penerus memiliki dua pilihan yakni, apakah akan menjalani roda kehidupan yang sesuai dalam koridor “rumus” besar atau sebaliknya, berada di luar “rumus” tersebut. Kedua pilihan itu masing-masing memiliki konsekuensi logis. Filsafat hidup Kejawen selalu wanti-wanti ; aja duwe watak kere, “jangan gemar menengadahkan tangan”. Sebisanya jangan sampai berwatak ingin selalu berharap jasa (budi) baik atau pertolongan dan bantuan dari orang lain, sebab yang seperti itu abot sanggane, berat konsekuensi dan tanggungjawab kita di kemudian hari. Bila kita sampai lupa diri apalagi menyia-nyiakan orang yang pernah memberi jasa (budi) baik kepada kita, akan menjadikan sukerta dan sengkala. Artinya membuat kita sendiri celaka akibat ulah kita sendiri. Leluhur melanjutkan wanti-wantinya pada generasi penerus, agar supaya ; tansah eling sangkan paraning dumadi.Mengingat jasa baik orang-orang yang telah menghantarkan kita hingga meraih kesuksesan pada saat ini. Mengingat dari siapa kita dilahirkan, bagaimana jalan kisah, siapa saja yang terlibat mendukung, menjadi perantara, yang memberi nasehat dan saran, hingga kita merasakan kemerdekaan dan ketenangan lahir batin di saat sekarang. Sementara itu, generasi durhaka adalah generasi yang sudah tidak eling sangkan paraning dumadi.

      Tugas dan Tanggungjawab Generasi Bangsa
      Sebagai generasi penerus bangsa yang telah menanggung banyak sekali hutang jasa dan budi baik para leluhur masa lalu, tak ada pilihan yang lebih tepat selain harus mengikuti rumus-rumus yang telah tergelar. Sebagaimana ditegaskan dalam serat Jangka Jaya Bayaserta berbagai pralampita, kelak negeri ini akan mengalami masa kejayaan kembali yang adil makmur, gemah ripah loh jinawi, bilamana semua suku bangsa kembali nguri-uri kebudayaan, menghayati nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kearifan lokal (local wisdom), masing-masing suku kembali melestarikan tradisi peninggalan para leluhur nusantara. Khususnya bagi orang Jawa yang sudah hilang kejawaannya (kajawan) dan berlagak sok asing, bersedia kembali menghayati nilai luhur kearifan lokal. Demikian pula suku Melayu, Dayak, Papua, Minang, Makasar, Sunda, Betawi, Madura, Tana Toraja, Dayak dst, kembali menghayati tradisi dan budaya lokal yang kaya akan nilai-nilai luhur. Bagaimanapun kearifan lokal memiliki kunggulan yakni lebih menyatu dan menjiwai (manjing ajur ajer) serta lebih mengenal secara cermat karakter alam dan masyarakat setempat.Desa mawa cara, negara mawa tata. Masing-masing wilayah atau daerah memiliki aturan hidup dengan menyesuaikan situasi dan kondisi alamnya. Tradisi dan budaya setempat adalah “bahasa” tak tertulis sebagai buah karya karsa, cipta, dan karsa manusia dalam berinteraksi dengan alam semesta. Orang yang hidup di wilayah subur makmur akan memiliki karakter yang lembut, santun, toleran, cinta damai namun agak pemalas. Sebaliknya orang terbiasa hidup di daerah gersang, sangat panas, sulit pangan, akan memiliki karakter watak yang keras, temperamental, terbiasa konflik dan tidak mudah toleran. Indonesia secara keseluruhan dinilai oleh manca sebagai masyarakat yang berkarakter toleran, penyabar, ramah, bersikap terbuka. Namun apa jadinya jika serbuan budaya asing bertubi-tubi menyerbu nusantaradengan penuh keangkuhan (tinggi hati) merasa paling baik dan benar sedunia. Apalagi budaya yang dikemas dalam moralitas agama, atau sebaliknya moralitas agama yang mengkristal menjadi kebiasaan dan tradisi. Akibat terjadinya imperialisme budaya asing, generasi bangsa ini sering keliru dalam mengenali siapa jati dirinya. Menjadi bangsa yang kehilangan arah, dengan “falsafah hidup” yang tumpang-tindih dan simpang-siur menjadikan doktrin agama berbenturan dengan nilai-nilai kearifan lokal yang lebih membumi. Ditambah berbagaipelecehan konstitusi oleh pemegang tampuk kekuasaan semakin membuat keadaan carut-marut dan membingungkan. Tidak sekedar mengalami kehancuran ekonomi, lebih dari itu bangsa sedang menuju di ambang kehancuran moral, identitas budaya, dan spiritual. Kini, saatnya generasi penerus bangsa kembali mencari identitas jati dirinya, sebelum malapetaka datang semakin besar. Mulai sekarang juga, mari kita semua berhenti menjadi generasi durhaka kepada “orang tua” (leluhur perintis bangsa). Kembali ke pangkuan ibu pertiwi, niscaya anugrah kemuliaan dan kejayaan bumi nusantara akan segera datang kembali.Lihat Selengkapnya

      08 Juni 2010 jam 21:35 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Agus Langit yupiiiii…………………………… kembali ke pangkuan bhumi prtiwi………………..……………………... tanah nusantara tanah yang suci………………….……………..

      08 Juni 2010 jam 21:51 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Agus Langit hormatilah orangtuamu agar dapat surga dan usia yang panjang……………….……………………..…….

      demikian hukm tuhan yang ke-5

      08 Juni 2010 jam 21:53 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Butuuuullllll sekali mas Agus Langit…..

      08 Juni 2010 jam 21:53 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Kini yang ada dan terbayang di benak saya figur seorang Gajah Mada yang baginya kepentingan negara ditempatkan diatas kepentingan pribadi dan kelompok. Ia rela membunuh bibit-bibit yang bisa mengacaukan langgengnya pemerintahan kelak. Bahkan kalau perlu, ia bisa mencabut nyawanya sendiri demi kepentingan negara. Saya menduga, kasus Perang Bubat diujung kejayaan Majapahit yang merenggangkan hubungannya dengan Prabu Brawijaya juga didasari oleh kepentingan negara tersebut.
      Satu pertanyaan penting di benak saya ketika menyusuri figur Gajah Mada. Apa yang menyebabkan Gajah Mada mampu mengemban sumpahnya? Konsep dan prinsip hidup seperti apa yang mendasari Gajah Mada bersumpah seperti itu? Mungkin salah satu sebabnya bisa dipetik dari konsep anehnya mengenai Wanita. Berikut kutipan dialog antara Gajah Mada dengan Mahapatih Arya Tadah tentang isteri. Meskipun ini hanya rekaan fiksi, tetapi tentunya ……sehingga konsep Gajah Mada tentang wanita sangat masuk akal dengan sumpah palapa-nya. Begitu besarnyakah Cinta itu sehingga Maha Patih Jaman Majapahitpun juga merasakan jebakan cinta….cinta memang tak bermata…he he he
      Lihat Selengkapnya

      08 Juni 2010 jam 22:01 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Gus Bowo Kapan ya Indonesia memiliki negarawan seperti Sang GAJAHMADA ? apa harusnya kita2 ini daripada menuntut orang lain menjadi Gajahmada ? …Iya tuh, sepertinya hrs kita yg memulai……

      09 Juni 2010 jam 8:09 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Agus Langit

      tapi menurut irawan joko nugroho, doktor dari ugm, ahli sejarah, penulis buku “meluruskan sejarah majapahit”, menyatakan bahwa perang bubat dak benar-2 terjadi……………….………. dia mengaku udah mencari ke prasasti-2, rontal-2 sejarah, kitap-2 sejarah yg sahih, katanya dak ditemukan catatan paling tidak yang menyatakan bhw terjadi perang bubat………………………………………..….

      bahkan hingga kini belom ada yang bisa menunjukkan sumber sejarah terjadinya perang bubat darimana???????????????????????????????????????

      semuanya hanya katanya-2 doank!

      begitu bunda……………………………………….Lihat Selengkapnya

      09 Juni 2010 jam 8:19 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Gus Bowo benar kita mulai dari diri kita saja karena kita benar2 boleh dikata krisis kepemimpinan betul nggak Gus…..

      09 Juni 2010 jam 9:25 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Langit benar …karena Perang Bubat adalah taktik dan politik jaman dulu saja…boleh juga siasat saja….

      09 Juni 2010 jam 9:26 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Tubagus Muhammad Khairullah ibu, dlm Islam, sumpah yg dibenarkan itu hanya “demi Allah” selain itu bukan dianggap sumpah, sdg Allah bersumpah demi ciptaanNya krn mmg Allah Maha Pencipta & Maha Agung

      09 Juni 2010 jam 9:38 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Tanya saja mas Tubagus sama Gajah Mada atau sama Allah sah apa tidak…..

      09 Juni 2010 jam 9:39 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Gus Bowo Betul Bunda, Jangan kita bertanya ” apa yg sdh diberikan negara kepada kita, tapi berfikirlah : ” apa yg sudah kuperbuat utk negara.” Sebaik-baik anak bangsa adalah ia yg mau berkiprah buat kemajuan bangsanya…..BEGITU KAN BUNDA….?

      09 Juni 2010 jam 9:40 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Tubagus Muhammad Khairullah yah…….mmg ternyata kita ada perbedaan keyakinan & pemikiran ……. saya hrs menghormati apa yg ibu miliki …… salam silaturahim

      09 Juni 2010 jam 9:42 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Rahman Kendalisodo negara ini kalau mau baik sumpah jabatan nya juga musti diganti bunda …. dengan sumpah budaya bunyinya ” kalau aku jadi pejabat dan korupsi , maka tujuh keturunan saya akan sengsara ” pejabat disumpah , makin tebal kitab yang untuk nyumpah makin huuuuuuuuuuueeeebat juga korupsinya , sumpah ini gak mengikat biar aja yang korup emang dia mau dirinya sendiri , gak mikir keturunannya

      09 Juni 2010 jam 10:07 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Ya mas Tubagus….jaman Gajah Mada belum ada DEMI ALLAH mas….

      09 Juni 2010 jam 10:10 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Wah mas Rahmad Kendalisodo….ha ha ha kalau sumpah dari Songgo Buwono lebih sadis mas….he he he

      09 Juni 2010 jam 10:11 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Selamat pagi mas Raden Panji….

      09 Juni 2010 jam 10:12 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Tubagus Muhammad Khairullah betul bu …… skr kita hidup sdh tidak dizaman Majapahit & Gajah Mada ………tapi …….. diakhir zaman

      09 Juni 2010 jam 10:12 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Rahman Kendalisodo itu ……….. belum kami dengar dari lembah saya bunda … dimana ………. saya bisa baca bunda………

      09 Juni 2010 jam 10:14 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kalau sudah tau begitu kenapa sumpah Gajah Mada mbok persoalkan disini mas Tubagus….mau pakai jaman gajah mada atau bukan hak mereka tapi yg buat cermin bagi kita adalah perjuangannya bukan apa2nya….

      09 Juni 2010 jam 10:14 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mau baca apa mas Rahman??? Orang kotbah…..

      09 Juni 2010 jam 10:19 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Furong Bla Wong Deso yg hrus dicermati tuh nilai2nya kang….bukn mslh sumpah ato agam,..yg dimbil nilai2 yg ad pd gajah mada…

      09 Juni 2010 jam 10:24 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Den raden nyapo kotbah barang apa hubunganya…dengan permasalahan ini ra pas blas….

      09 Juni 2010 jam 10:24 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo manusia ga punya apa2 ga usah pada ngaku2..

      09 Juni 2010 jam 10:26 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Furong Bla Wong Deso hihihih,,lgi promosi bun…slm knl kang raden….

      09 Juni 2010 jam 10:27 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo bla.. namanya usha , hehe heheh bebas2 aja.. kan biasanya pemilik ga banyak promosi ^_^

      09 Juni 2010 jam 10:31 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Rahman Kendalisodo HAHAHAHAHAHA BIAR RAMAI BUNDA ….. AKU UDAH LIHA BANYAK PROFIL BUNDA ………… BIAR SAJA BUNDA …. KITA INI …. PEWARIS BUDAYA ADHI LUHUNG …KOK ..DUNIA MENGAKUI … SEBAGAIMANA YANG TELAH BUNDA LAKUKAN …………… AKU KETURUNAN JAWA BUNDA BUKAN KETURUNAN ARAB …. LUMRAH AJA KALAU BANGGA DENGAN HASIL KARYA TERDAHULU BANGSA KITA ….

      09 Juni 2010 jam 10:33 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Furong Bla Wong Deso iya,,kang,,jngn tingglkan budaya yg udah melekekat di darah kita….hehehhe

      09 Juni 2010 jam 10:35 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Rahman Kendalisodo INSTITUT PENCERAHAN GLOBAL , SUDAH AKAN MASUK BABAK KE DUA BUNDA ….. INSYA ALLOH PADA AWAL JULI NANTI ….. SEKALIPUN PENJENEGAN SIBUK , MOHON SEMPATKAN BACA BUNDA

      09 Juni 2010 jam 10:36 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Saya akan hadir babak kedua dengan Prof.DamarJati….tenang wae mas Rahman tak kupas tuntase sampai orang dapat paham OK.

      09 Juni 2010 jam 10:39 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo aku hadir juga ahhhh…

      09 Juni 2010 jam 10:40 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Furong Bla Wong Deso ikuttttttttt…

      09 Juni 2010 jam 10:41 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo syaratnya bawa nanas ya

      09 Juni 2010 jam 10:43 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Furong Bla Wong Deso siap ndan…

      09 Juni 2010 jam 10:44 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Rahman Kendalisodo

      sebelum sampai ke kendalisodo bunda ….waktu aku hadir .. di padepokan ilir ilir Ki Roehadi … kuangkat di Fb … kucantumkan lagu ilir ilir ma menthok menthok ……….selanjutnya banyak yang pertanyakan …. syair ini minta dikupas … aku gak isa bunda …. aku kan pada pergerakanya ………. untuk syair .. ilir ilir ini mohon bunda lia yang mengupas , aku siap mengembangkanya ….. pekerjaan baru bunda …… untuk kepentingan budaya … aku percaya …. sangat sangat siap …. monggooooooooo … bunda …aku gak iso….Lihat Selengkapnya

      09 Juni 2010 jam 10:47 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo

      Lir ilir lir ilir tandure wong sumilir
      Tak ijo royo royo
      Tak sengguh panganten anyar
      Cah angon cah angon penekna blimbing kuwi
      Lunyu lunyu penekna kanggo mbasuh dodotira
      Dodotira dodotira kumintir bedah ing pinggir
      Dondomana jrumatana kanggo seba mengko sore
      Mumpung padang rembulane
      Mumpung jembar kalangane
      Sun suraka surak hiyo
      bukannya nih lagu tentang kehidupan dan rumah tangga. mohon pencerahannya juga kakak lia..
      Lihat Selengkapnya

      09 Juni 2010 jam 10:50 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Ha ha ha kang Rahman ilir2 dan mentok2 adalah filsafat yang tinggi kang….he he he …akan aku kupas setelah permasalahan didinding ini selesai aku akan buatkan khusus untuk kendalisodo tenang saja…..

      09 Juni 2010 jam 10:52 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Itu ada arti dan makna dik Margo…bukan lagunya….tapi makna dan arti yg terkandung didalamnya…

      09 Juni 2010 jam 10:54 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Rahman Kendalisodo siap ….. ini … baru … menjawab tantangan jaman bunda … jangan lupa bunda …….. 700 th yg lalu kalijogo pesan lewat cah angon …….. makasih bunda …. begitu sampai kan kusambung sampai ujung …… tak terbatas …..heeee

      09 Juni 2010 jam 10:55 · Tidak SukaSuka · 1 orangAnda menyukai ini.
    • Muhammad Margo Mulyo ohhh.. kajian lagi nihhh..
      phon belimbing kan klo kena ujan licin.malah di suruh naikin ^_^ tapi biarlah mumpung masih dikasih langkah akan aku panjat pohon blimbing itu.

      09 Juni 2010 jam 10:56 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Ya kang Rahman …hemmmmm

      09 Juni 2010 jam 10:57 · Tidak SukaSuka · 2 orangAnda dan Abdul Lathif menyukai ini.
    • Bunda Lia Dik Margo…tak jewer tenan loh bocah kok bandel amat to yo….

      09 Juni 2010 jam 10:58 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo hihihihihhi.. jangan dong.. namanya juga cah angon bunda. ^_^

      09 Juni 2010 jam 10:59 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Rahman Kendalisodo bener to bunda …………… arti cah angon … jadi gak karuan ……..aku aja gak paham bunda …. apalagi …. gak apa kupasan ini berarti hukumnya jadi wajib bunda … hahahahaha

      09 Juni 2010 jam 11:02 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo mau jelasin artinya sungkan.. ^_^

      09 Juni 2010 jam 11:03 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Ha ha ha ha sik ada yang pesan Catering tak tolaknya dulu…modale wis entek….25 menit Ok.

      09 Juni 2010 jam 11:05 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Rahman Kendalisodo oce

      09 Juni 2010 jam 11:07 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Hebat dong ya…jadi bangga nih yang jadi Wong Jowo dan Berjiwa Budaya…USA…Suriname…luar biasa….makasih mas Toto….

      09 Juni 2010 jam 11:07 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Ilir-Ilir
      Tak banyak yang menyadari bahwa sesungguhnya tembang ini bukan sekedar tembang dolanan biasa. Ada makna mendalam terkandung dalam tembang sederhana ini. Sekalipun demikian tidak ada yang tahu pasti siapa yang menciptakan tembang ini. Karena tembang ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu.
      Ada yang berpendapat penciptanya adalah salah seorang dari Wali Sanga atau Sembilan Wali yang terkenal sebagai para penyebar Islam di tanah Jawa. Dari kesembilan waliyullah itu ada dua orang yang disebut-sebut sebagai penciptanya yaitu Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga.
      Pendapat itu bisa dimengerti, dilihat dari kedekatan Sunan Kalijaga dengan budaya Jawa dan fakta bahwa beliaulah pencipta beberapa kesenian Jawa yang digunakan sebagai alat syiar agama Islam, maka bisa dianggap bahwa Sunan Kalijagalah yang merupakan pencipta tembang ini.
      Berikut ini adalah penjabaran dari makna yang terkandung dari tembang Ilir-ilir itu, baik berupa makna harfiah atau terjemahan langsungnya dalam Bahasa Indonesia , maupun makna sesungguhnya yang tersirat di dalamnya.
      Lihat Selengkapnya

      09 Juni 2010 jam 11:25 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo pakarnya udah angkat bicara.. hihihihihhi

      mending cari ketring aja ahhhh .. met berjuang kakak ..

      09 Juni 2010 jam 11:56 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Lir-ilir, lir-ilir tandure wus sumilir
      Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar
      Cah angon-cah angon penekno blimbing kuwi
      Lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro
      Dodotiro-dodotiro kumitir bedhah ing pinggir
      Dondomono jrumatono kanggo sebo mengko sore
      Mumpung padhang rembulane mumpung jembar kalangane
      Yo surako… surak hiyo
      Ilir-ilir, Ilir-ilir, tandure (hu)wus sumilir
      Bhs Ind. Bangunlah, bangunlah, tanamannya telah bersemi
      Makna Artinya Kanjeng Sunan mengingatkan agar orang-orang Islam segera bangun dan bergerak. Karena saatnya telah tiba. Karena bagaikan tanaman yang telah siap dipanen, demikian pula rakyat di Jawa saat itu (setelah kejatuhan Majapahit) telah siap menerima petunjuk dan ajaran Islam dari para wali.

      Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
      Bhs Ind. Bagaikan warna hijau yang menyejukkan, bagaikan sepasang pengantin baru
      Makna artinya’ Hijau adalah warna kejayaan Islam, dan agama Islam disini digambarkan seperti pengantin baru yang menarik hati siapapun yang melihatnya dan membawa kebahagiaan bagi orang-orang sekitarnya.

      Cah angon, cah angon, penek(e)na blimbing kuwi
      Bhs Ind Anak gembala, anak gembala, tolong panjatkan pohon belimbing itu.
      Makna artinya Yang disebut anak gembala disini adalah para pemimpin. Dan belimbing adalah buah bersegi lima, yang merupakan simbol dari lima rukun islam dan sholat lima waktu. Jadi para pemimpin diperintahkan oleh Sunan Kalijaga untuk memberi contoh kepada rakyatnya dengan menjalankan ajaran Islam secara benar. Yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu.

      Lunyu-lunyu penek(e)na kanggo mbasuh dodot (s)ira
      Bhs Ind Biarpun licin, tetaplah memanjatnya, untuk mencuci kain dodot mu.
      Makna Artinya Dodot adalah sejenis kain kebesaran orang Jawa yang hanya digunakan pada upacara-upacara atau saat-saat penting. Dan buah belimbing pada jaman dahulu, karena kandungan asamnya sering digunakan sebagai pencuci kain, terutama untuk merawat kain batik supaya tetap awet.

      Dengan kalimat ini Sunan Kalijaga memerintahkan orang Islam untuk tetap berusaha menjalankan lima rukun Islam dan sholat lima waktu walaupun banyak rintangannya (licin jalannya). Semuanya itu diperlukan untuk menjaga kehidupan beragama mereka. Karena menurut orang Jawa, agama itu seperti pakaian bagi jiwanya. Walaupun bukan sembarang pakaian biasa.

      Dodot (s)ira, dodot (s)ira kumitir bedah ing pingggir
      Bhs Ind. Kain dodotmu, kain dodotmu, telah rusak dan robek
      Saat itu kemerosotan moral telah menyebabkan banyak orang meninggalkan ajaran agama mereka sehingga kehidupan beragama mereka digambarkan seperti pakaian yang telah rusak dan robek.

      Dondomana, jlumatana, kanggo seba mengko sore
      Bhs Ind. Jahitlah, tisiklah untuk menghadap (Gustimu) nanti sore
      Makna artinya Seba artinya menghadap orang yang berkuasa (raja/gusti), oleh karena itu disebut ‘paseban’ yaitu tempat menghadap raja. Di sini Sunan Kalijaga memerintahkan agar orang Jawa memperbaiki kehidupan beragamanya yang telah rusak tadi dengan cara menjalankan ajaran agama Islam secara benar, untuk bekal menghadap Allah SWT di hari nanti.

      Mumpung gedhe rembulane, mumpun jembar kalangane
      Bhs Ind. Selagi rembulan masih purnama, selagi tempat masih luas dan lapang
      Makna Artinya Selagi masih banyak waktu, selagi masih lapang kesempatan, perbaikilah kehidupan beragamamu.

      Ya suraka, surak hiya
      Bhs Ind.Ya, bersoraklah, berteriak-lah IYA
      Makna artinya Disaatnya nanti datang panggilan dari Yang Maha Kuasa nanti, sepatutnya bagi mereka yang telah menjaga kehidupan beragama-nya dengan baik untuk menjawabnya dengan gembira.

      Demikianlah petuah dari Sunan Kalijaga lima abad yang lalu, yang sampai saat ini pun masih tetap terasa relevansinya. Semoga petuah dari salah seorang waliyullah kenamaan ini membuat kita semakin bersemangat dalam menjalankan ibadah kita di bulan yang penuh rahmat ini. Amin, amin, amin.

      Terjemahan bahasa Indonesia dari syair diatas kira-kira pada umumnya yg diketaui adalah demikian:
      Ayo bangun (dari tidur), tanam-tanaman sudah mulai bersemi,
      demikian menghijau terlihat bagaikan pengantin baru
      Wahai gembala, ambillah buah blimbing itu,
      walaupun licin tetap panjatlah untuk mencuci pakaian
      Pakaian-pakaian yang telah koyak sisihkanlah
      Jahit dan benahilah untuk menghadap nanti sore
      Mumpung sedang terang bulan, mumpung sedang banyak waktu luang
      Mari bersorak-sorak ayo…..

      Heeeeemmmmmmm……
      Hijau adalah warna perlambang agama Islam yang saat itu kemunculannya bagaikan pengantin baru dan sangat menarik hati. Hijau juga berarti pertumbuhan dan kemudaan.
      Syair di atas tidak menuliskan: “Wahai Raja”, “Ulama, Ulama”, “Pak Jendral, Pak Jendral”, “Intelektual, Intelektual” atau apapun lainnya, melainkan “Bocah Angon, Bocah Angon…”. Ini menunjukkan bahwa syair ini ditujukan juga bagi wong cilik, orang kebanyakan. Karena sesungguhnya orang kebanyakan pun mempunyai tanggung jawab atau amanah sendiri-sendiri. Kullukum roin wa kullukum mas’ulum ‘an roiyatih. Ro’in sendiri dalam bahasa arab biasa diartikan sebagai gembala. Masa kecil Rasullah juga seorang gembala. Orang kecil yang mempunyai amanah yang membutuhkan ketekunan dan kesabaran.
      Harus dipanjat dengan hati-hati untuk memperoleh buahnya, bukan ditebang, dirobohkan dan diperebutkan. Ini menjaga kelangsungan dari berkah sang pohon blimbing agar tetap bisa memberikan buahnya di masa yang akan datang.
      Air perasan blimbing jaman dahulu biasa digunakan ibu-ibu untuk mencuci pakaian yang kotornya berlebihan. Karena mengandung sifat asam kuat maka baju yang dicuci dengan air blimbing dapat menjadi bersih kembali seperti baru.
      Dodot adalah jenis pakaian tradisional Jawa yang sering dipakai pembesar jaman dulu. Bagi masyarakat Jawa, agama adalah ibarat pakaian, maka dodot dipakai sebagai lambang agama atau kepercayaan. Pakaian juga berarti perhiasan. Dan sebaik-baik perhiasan jiwa adalah perhiasan takwa. (fa ta zawwaduu fa inna khoiro zaadi taqwa). Pakaian adalah akhlak, pegangan nilai, landasan moral dan sistem nilai. Pakaian adalah rasa malu, harga diri, kepribadian, tanggung jawab.
      Pakaianmu, (yaitu) agamamu atau akhlakmu sudah rusak maka jahitlah (perbaiki). Rusak di pinggir-pinggir artinya bukan rusak total tetapi kurang sempurna. Jadi syair ini menuntun kita untuk menyempurnakan agama dengan keimanan dan ketakwaan yang sempurna pula. Udkhuluu fi silmi kaaffah. Jika engkau melanggar atau mengkhianati amanat, tugas dan fungsimu, maka sesungguhnya engkau sedang menelanjangi dirimu sendiri. Menghinakan diri sendiri.

      Pakaian yang robek-robek ini perlu diperbaiki sebagai bekal menghadap Robbmu yang Maha sempurna. Maka dondomono, jlumatono, jahitlah robekan-robekan itu, utuhkan kembali, tegakkan harkat yang selama compang-camping oleh maksiat yang masih dilakukan. Selagi ada cahaya terang yang menuntunmu, selagi masih hidup dan masih ada kesempatan bertobat. Bersemangat dan optimislah. Selagi hidayah Allah masih bisa diraih. Bergembiralah, semoga kalian mendapat anugerah dari Alloh.Lihat Selengkapnya

      09 Juni 2010 jam 12:06 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Dik Margo…lanjutke yo…banyak tamu aku….Dik lihat tuh dik banyak yang ngintip tidak berani masuk kesini….pasang wajah cerah dik…mereka takut dengan mbak mu yg masih garang….

      09 Juni 2010 jam 12:13 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo hihihihihi ,, oaky kakak .. nanti aku yg sambut dengan senyuman. ^_^ …. lunyu-lunyu penekno kanggo mbasuh dodotiro… .. sukses kakak..

      09 Juni 2010 jam 12:17 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Ok…beres dik Margo….

      09 Juni 2010 jam 12:18 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ki Naga Wiru

      Huhahahahah Aki nongol Ada yang pasang Iklan,Aki mau tuh di Pasang susuk pake Golok hihihihi,Entong…Ujang…apa nyebute yah…Mas kali? Masalah Agama tidak bisa dipisah kan satu sama lain tetap hidup menuju Islam/bukan Agama.harus bisa menyatukan yg tiga perkara 1.Atas tengah bawah(Alam) 2.Yang Maha Kuasa,yang kuasa yang menjalani(kita) 3.berdiri ruku Sujud 4.Allah Rasul umat,5.Ibu bapak Anak 6.Keluarga warga Umum 7.tekad ucap prilaku 8.Iman Islam Ihsan 9.Sareat Hakekat Ma’ripat dan 10.Ati’ullaha Atiul Rasul waulil amri minkum kita harus bisa menjalani yang 3 perkara ini menjadi satu kesatuan.conto:Ada Allah ada Rasul ngga ada Umat??? Ada IBU ada anak tak berbapa anak haram,baik sama keluarga,baik sama umum ngga baik sama warga mati ngga ada yang ngubur,Teked bener Ucap benar prilaku ngga benar Penjara,menyatukan yang 3 jadi Persatuan adalah jalan munggah haji menuju Islam maap Agama ibarat partai berkiblat ke satu Imam Hambali,Maliki,Syafi’I Buhori malam Imam baru Samudra pembunuh.contoh lagi Orang Arab masuk agama islam hanya mengenal Budaya atau Tradisi Arab sendiri,orang jawa masuk Islam kaya dengan Budaya selain mengenal Kurma juga Kulang kaling,Allah bukan Orang Arab tetapi Robul alamin(penguasa Alam semesta,kita hidup menjalani yang ke 11.yaitu Sareat Hakekat dan Ma’ripatullau,conto lagi Apa ada orang jawa yang belum mengenal budaya Arab jual Isim dan Ajimah,maka di sini Aki orang yang ber’agama Islam tetap Pegang budaya leluhur,karena Aki Asli JOWO BOROT hihihihiwekwekwek.Lihat Selengkapnya

      09 Juni 2010 jam 13:17 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Kanjeng Mami nderek ngudi kawruh bunda..

      09 Juni 2010 jam 16:34 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo ki naga.. margo juga mau masang susuk kantil ,, eh malah di duluin. emang aki-aki klo masalah susuk cepet banget . ahhahahh
      lakum dinukum waliadin

      09 Juni 2010 jam 17:29 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Ha ha ha ha Ki…. Aki ada apa nih Ki…he he he.

      09 Juni 2010 jam 19:36 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo aki mau masang susuk sama yg promosi iklan. hhe. he..
      masang susuk golok katanya kakak.. emang ada ya. hahahha..
      klo mau nih aki ada golek kencana. hihihihihihi

      09 Juni 2010 jam 19:37 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia He he he asik dong kaya terus ndak miskin kayak aku ini dik….kalau golek kencana…tapi sayangnya aku lebih suka jadi petani padi Dik…ndak mau gitu2an …ngluruk tanpo bolo menang tanpo ngasorake…..pakai rasa lebih Ok.

      09 Juni 2010 jam 19:45 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo gmmm pakai rasa lebih .. paham kakak.

      09 Juni 2010 jam 19:48 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ki Naga Wiru

      Heuheuheu Neng Aki lagi di perjalanan nyetir sendiri mau ke Plabuan Ratu malam kemisan,ini juga di warung sate mampir laper, kalur Neng mau sama dulur2 jilat lidah aja, aki inget Neng nasi tambah sate nya juga tambah,Aki jadi gila kalau ada yang nyinggung2 Budaya
      Adat sama Tradisi,kata Aki juga jaman sekarang Burung garuda mata berlian patuk Mas sayap Perak kakinya nginjek sajadah yang di patukin kotoran manusia,dalil hadis di bikin modal Agama jadi kedok,keharaman di jalankan kikikiki,Ihdinas sirotol mustakim tiap waktu,tapi jalan hidupnya nga ihdinas sama aja ngebohongin Allah heheheh, aki jalan dulu nanti di sambung…jaman…jaman…Eddan…kikkikik.ya allah Ampunilah mereka…Aki lagi Edan heheheh.
      Lihat Selengkapnya

      09 Juni 2010 jam 20:00 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo sama ki.. nih lagi sensitif bontot juga..
      tuh para ahli kubur pada jago2 klo dalil..
      jatohnya pada gombal mungkio ..
      ki ikut apah . ahhahahahha

      09 Juni 2010 jam 20:03 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ki Naga Wiru Ikut jebur ke laut,karena puyeng lakum dinukum waliyadin heheheh Aki tea pikiraneun.

      09 Juni 2010 jam 20:12 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo hehehheh,, mancing lahh…
      mendem nyanyian2 iki otakku ki.. nyanyian2 sing gawe warek kuping.

      09 Juni 2010 jam 20:15 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Ki…Aki….udah sampai belum???

      09 Juni 2010 jam 20:32 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ki Naga Wiru Sudah ternyata Anggota komplit di bawa Pa Ganda siap Tempur heheheh.

      09 Juni 2010 jam 21:52 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ki Naga Wiru Baru nyampe Neng ternyata semua Anggota udah ada di Plabuan Ratu di bawa Pa Gahda, siap tempur heheheh.

      09 Juni 2010 jam 22:09 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Syukurlah Ki…salam kangen untuk semua ya Ki…..saya akan segera hadir di Pelabuhan Ratu Ki….

      09 Juni 2010 jam 22:58 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Wahyu Suryo KusumoDiponegoro Mantabs Budhe lia smga di kabulkan cita2 smuanya demi Kemakmuran bersama

      09 Juni 2010 jam 23:07 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia We lah kok nyusul mriki to pak de Wahyu…..

      09 Juni 2010 jam 23:09 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Aki kenapa senyum dan tertawa-tawa Ki…apa yg di tertawakan…gurauan Aki sampai disini loh Ki…sampai Gempa halus he he he

      09 Juni 2010 jam 23:11 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Wahyu Suryo KusumoDiponegoro Hehehehe mau liat ft Budhe malih jg bude ,aku jg ada ft nya bude hehehe sukses yaa Budhe hehehe

      09 Juni 2010 jam 23:17 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Matur Nuwun pak de Wahyu….

      09 Juni 2010 jam 23:18 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Wahyu Suryo KusumoDiponegoro Sami2 Budhe wahhh jan dados ketularan Pak Dhe Andi Niki Budhe hehehe mksh jihhh

      09 Juni 2010 jam 23:28 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Ha ha ha Nular mboten dados menopo kang mas Wahyu….

      09 Juni 2010 jam 23:38 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Agus Langit bunda dan mas rahman kendalisodo memang bijaksana……………..……………………..……

      09 Juni 2010 jam 23:50 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Ada apa mas Agus langit….kok tiba2…ada apa???

      09 Juni 2010 jam 23:55 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ki Naga Wiru Neng Aki memang lagi becanda di pinggir Pantai sama seorang tamu dari surakarta namanya Sandi Kala orang nya lucu,jadi Aki senyum terus heheheh.

      09 Juni 2010 jam 23:57 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Tuh kan bener…he he he ya udah Ki mangga di lanjut Ki…

      09 Juni 2010 jam 23:59 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Agus Langit dak ada papa………………….…………………….... saya hanya menyimak aja cara bunda menjawap pertanyaan yang nyelekit-2…………….……………………..……….

      10 Juni 2010 jam 0:10 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo emangnya apa yg nyelekit … mas agus

      10 Juni 2010 jam 1:58 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ki Naga Wiru Liat ngga Neng tuh Foto kita lagi di lautan tempo yang lalu heheheh.

      10 Juni 2010 jam 2:27 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Yang mana Ki…yg dibuat sampul buku sama aki apa yang mana???

      10 Juni 2010 jam 2:32 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ki Naga Wiru Itu yang kita lagi berdua berdiri dilaut menghadap Ibu ratu,Aki teringat kembali malam ini saat malam ini Aki ada di karang Mayat,ombak selatan mendadak sangat besar Neng,sampai Aki barusan Nembang Kidung Pamuka Alam.

      10 Juni 2010 jam 2:40 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Ya to Ki…jadi pingin balik ke Pelabuhan Ki…..

      10 Juni 2010 jam 2:42 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo Nembang Kidung Pamuka Alam. ??? hmm salutttttttttt ..
      wah aki lg kangen bunda yah.. sahabat memang seperti saudara.

      10 Juni 2010 jam 2:42 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Ya Ki yang penting hati2 ya Ki….pak Ganda CS masih pada nemani tidak????

      10 Juni 2010 jam 2:46 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ki Naga Wiru Engga tau lah Mas,hanya bunda yang merasakan,biasanya Aki ceria ko malam ini Aki ngeliat Laut begitu indah sampai Aki berdiri diatas di pantai padahal Ombak begitu besar,maka tadi poto saat Aki berdua di laut,Aki keluarin.

      10 Juni 2010 jam 2:50 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo ikatan batin terlalu kuat .. mudah2an bunda n aki di bebaskan dari penyakit .. amin.

      10 Juni 2010 jam 2:52 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ki Naga Wiru Pa Ganda ada di warung Kopi,Aneh Neng suara ombak malam ini suaranya kaya halilintar,udah liat fotonya?

      10 Juni 2010 jam 2:55 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ki Naga Wiru Penyakit apa Mas???

      10 Juni 2010 jam 2:59 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo masuk angin ki.

      10 Juni 2010 jam 3:00 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ki Naga Wiru Salah tuh tebakan,Aki kan tau tahan Bantingan.

      10 Juni 2010 jam 3:02 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo hihihihi,, bantingan tahan tapi klo angin ki.. ^_^ .. pakai jaket ya ki.

      10 Juni 2010 jam 3:03 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ki Naga Wiru Kalau Bunda teringat gambar ini mungkin Bunda lagi nangis Mas.

      10 Juni 2010 jam 3:07 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhammad Margo Mulyo iya mungkin ki.. aki pun lg teriris hatinya ki.. cuma aki sama bunda yg tau persisnya.. dibalik ketegaran masih ada kelemahan ki.

      10 Juni 2010 jam 3:09 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Rahman Kendalisodo bunda mohon tidak keberatan kiriman bunda baru saya sampaikan ke Prof Soetedjo , untuk mendapatkan koreksi … kebetulan dia teman aku Dosen Undip .. sastra jawa … mohon maaf ya bunda …… ketika terbit nanti udah ada nama peneliti …

      10 Juni 2010 jam 10:37 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia He he he silahkan saja mas Rahman…monggo. ada tambahan mas`Rahman…Sluku2 batok he he he….

      10 Juni 2010 jam 10:51 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Rahman Kendalisodo siap menerima bunda ………. berbagai pendapat kami bingkai dalam sebuah buku sementara judul bunga rampai perubahan berdasarkan musyawarah mufakat bunda .. sambil menunggu ………. siap aku terima sluku sluku bathoknya bunda …… trus menthoknya suruh pelihara siapa ?

      10 Juni 2010 jam 11:04 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Rahman Kendalisodo kalau menthoknya tidak bunda ungkap …… saya akan biarkan bunda yang pelihara…. hahahaha

      10 Juni 2010 jam 11:06 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Gus Nuril Arifin Tiga semoga klakon sing dadi panjjongkomu nduk.

      12 Juni 2010 jam 16:01 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Dawah sami Gus…jangan lupa kalau ke UGM pinarak dateng griyo njih Gus …mosok nyambangi adine ra gelem.

      12 Juni 2010 jam 22:31 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Gusti Ngurah NobiSuta Lukisan siapakah beliau diatas, bunda?

      08 April jam 0:38 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Pangeran Joyo Kusumo Lantangkanlah… Suarakanlah… Bangkitlah… Dari tidurmu yg panjang…negri ini butuh jiwa2 satria yg benar2 utuh demi bangkitnya bumi pertiwi… Salam jenggirat putra putri NUSWANTORO Rahayu… Rahayu… Rahayu…

      08 April jam 1:18 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Awan Baraya Galuh Putra selamat pagi

      08 April jam 1:44 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ariyo Hadi Hadiwijoyo slamat pagi nan damai rahaya…smoga palapa ttp mengudara dlm sumpah nan suci…rahayu.

      08 April jam 2:05 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      @Mbakyu

      اللهم بالغ مقاصدنا ………………………
      Ya Allah, Ya Tuhan Kami,……. Kabulkan semua harapan dan cita-cita Saudaraku ini……

      08 April jam 3:45 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Jr Arief selamat pagi Bunda…semangat juangmu menjadi inspirasi…salam perjuangan dr kota Manado!

      08 April jam 4:29 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Srikandi Tiens Patria Bundaaa sugeng enjang..

      08 April jam 7:20 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Ratu Sima….???

      08 April jam 14:19 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit Maju terus mama,,uluran dan perjuangan mama sangat di butuhkan sesama,,,,

      08 April jam 14:21 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Ali Azza Ma2h,maafkn anakMu ini_q meridukanMu__q masih ingat akan hadirMu_

      09 April jam 2:55 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
Iklan

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on April 26, 2011, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: