KEN DEDES – KEN AROK

Nenek Moyang pendiri kejayaan NUSANTARA..marilah di kenang .. dimulyakan , dan selalu didoakan.Pemimpin 2 Kerajaan dan kasultanan nusantara yang ada saat ini jika diurut telusuri hampir semua ada talian secara genetis secara turun temurun dari Beliau 2. Banyak empu dan pujangga pujangga keraton yang karyanya baik sastra atau piwulang piwulang kawruh berupa ajaran unggah ungguhing basa,kasar alusing rasa dan jugar genturing tapa sehingga tetap menjadi sumber suba sita, tata susila, solah bawa dan budi pekerti luhur Bagaimanapun keraton sebagai punjering “budaya lokal”telah berkiprah mewarnai kehidupan dalam upayanya untuk “MEMAYU HAYUNING BUWANA”
Banyak filosofi 2 & ajaran yang telah digunakan sebagai pedoman alternatif untuk hidup dan menjadi semboyan serta azaz di NKRI ini 

    • Bunda Lia Nanti akn saya coba menceritakan perjalanan sejarhnya…

      05 April jam 5:09 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat Bunda Lia:WLJ Enjang Jeng wahhhh apikkk kuwi… tenan ya jeng di tunggu lo.

      05 April jam 5:22 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Sendiko dawuh kang mas…..

      05 April jam 5:43 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Akhirat Selo begitulah adanya raja2ini berasal dari rakyat biasa setelah berangkat dari biasa puncaknya menjadi luar biasa dan beliau2 ini sama sekali tdk menginginkan bentuk penghormatan yg berlebihan, tunjukkan bahwa kalian mampu meneruskan perjuanganku

      05 April jam 6:20 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      @Sendiko Dhawoh, Kanjengmas ……. Ken Arok (Singosari) bukan saja sebagai nenek moyang Nusantara ….. melainkan lebih khusus adalah nenek moyang (leluhur) pribadi saya, hehehehe……
      Karena kakek ketiga saya berasal dar

      05 April jam 7:17 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Akhirat Selo dan mas Lathif selamat pagi doakan aku mampu untuk menceritakan sejarah Ken Dedes-Ken Arok… Nuwun.

      05 April jam 7:21 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Kanjeng Haris Bunda.. Penuturan sejarah panjenengan dalem nantikan.. Semoga dapat brmanfaat untuk penerus sebagai referensi olah rasa, olah cipta dan olah karsa..

      05 April jam 7:33 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      Mbakyu ….. saya yakin pada kemampuan panjenengan…….
      Materi itulah yang akan saya nanti-nanti,……
      @Kanjengmas Koko, Duspundi meniko…….. hehehehe, kok mendhel mawon….

      05 April jam 7:34 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit Terimakasih Romo,,selamat pagi,,salam santunku,,,Romo

      05 April jam 8:28 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bekti Harry Sip!

      05 April jam 9:54 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Endro Joyo Diningrat belajr sejarah sanagt lah berharga dan bermanfaat apalgi buat ank muda yg sperti saya, yg mana bnyak pemuda yg sudah mngglakn dan jauh lagi tak mngingat lag asal usulnya, dan warisan budaya yg luhur dan agung…..

      05 April jam 11:42 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Sejarah Romantis dan peristiwa Tragis semua sudah menjadi kenyataan historis, kisah ken Arok dan Ken Dedes memberi rupa sejarah Politik Jawa.Kekuasaan itu pasti ada unsur ambisi, dendam, cinta, kasih, saudara, harta,rasa gengsi, dan prestasi yang tertutup oleh kekuasaan yang bergemerlap.Ken Arok anak seorang janda di Jiput sifat dan watak Ken Arok tidak baik melanggar norma kesusilaan dan menjadikan gangguan Hyang yang bersifat Ghoib. Dan ada beberapa versi sejarah tentang Ken Arok dan Ken Dedes…..Lihat Selengkapnya

    • Koko Puspo Handokoningrat ‎Kgph Soeryo Soedibyo Mangkoehadiningrat:Abdul Lathif:Kanjeng Haris:Akhirat SeloGadis Exsprit: nyuwun gunging pangaksami menika nembe wangsul makarya .”Wilujeng Siang”sadayanipun

      05 April jam 13:25 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Di desa Bulalak ada seorang empu yang dimuliakan bernama Empu Tapawangkeng, yang sedang membuat pintu pondok , roh pintu tersebut meminta pada Empu Tapawangkeng “kambing jantan berwarna merah” sehingga Empu Tapawangkeng berkata “ walaupun aku membunuh manusia tak bakal mendapatkan permintaan korban kambing merah tersebut dan hanya menyebabkan jatuh kedalam dosa” tetapi datanglah seseorang yang dulunya banyak berbuat dosa sanggup menjadi tumbal pintu Empu Tapawangkeng. Orang tersebut memberi alasan bahwa dia siap bersedia menjadi korban agar menjadi lantaran kembalinya ke Surga Dewa Wisnu dan kelak akan menjelma lagi dalam kelahiran yang mulia, dan akan hidup lagi ke alam tengah, demikian permintaan orang tersebut. Empu Tapawangkeng menyetujui kematian orang tersebut agar dengan demikian ia dapat menjelma dan dapat menikmati tujuh turunan. Sesudah mati Roh itu terbang ke Surga Wisnu dan meminta dijelmakan desebelah timur Gunung Kawi.Lihat Selengkapnya

      05 April jam 13:28 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat Bunda Lia: ya jeng gimana kelanjutannya kisah sejarah romantika ,retorika dan dinamika …menarik

      05 April jam 13:32 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat Bekti Harry: Kanjeng Bekti matur nuwun njih.

      05 April jam 13:34 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Dewa Brahma melihat sepasang suami istri sebagai petani dan saling mencinta saling mengasihi, pasangan itu bernama Ki Ageng Gajah Para dan Ken Endhog dari desa Pangkur. Disaat sang istri mengantar makanan kesawah untuk suaminya di Ayuga, Dewa Brahma turun menemui Ken Endhog di desa Pangkur. Saat Dewa Brahma dan Ken Endhog bertemu mereka mengadakan perjanjian yang isinya “ jangan kau tidur dengan suamimu, kalau kamu tidur dengan suamimu ia akan mati,dan anak yang kutitipkan dalam kandunganmu akan tercampur olehnya, kelak beri nama anakku itu Ken Arok. Kelak ia akan memerintah tanah Jawa” setelah berpesan Dewa Brahma menghilang. Ken Endhog lalu pergi kesawah mengantar makanan dan dijumpai suaminya Ki Gajah Para. Berkatalah Ken Endhog pada suaminya “ Kakang tadi aku ditemui oleh Hyang yang tidak tampak di ladang Lalateng, Beliau berpesan padaku agar engkau tidak boleh tidur bersamaku lagi, kalau memaksa engkau akan mati dan anaknya akan tercampur olehmu” lalu mereka pulang tetapi setelah sampai rumah Ki Ageng Gajahpara mengajak tidur, Ken Endhog merasa segan dan berkata “ Wahai kakang putuslah perkawinan kita karena aku takut perkataan Sang Hyang karena Beliau tidak mengijinkan kumpul denganmu” karena sang istri tidak mengijinkan akhirnya Ki Ageng Gajahpara berkata “Adinda bagaimana ini aku tidak keberatan kalau bercerai denganmu soal harta kia bagi rata”Lihat Selengkapnya

      05 April jam 13:38 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Sesudah itu Ken Endhog pulang ke Pangkur di seberang utara. Sedang Ki Ageng Gajahpara tetap tinggal di Campara sebelah Selatan. Belum genap sepekan Ki Ageng Gajahpara meninggal. Banyak orang membicarakanya tentang kandungan Ken Endhog “ Sungguh panas kandungan Ken Endhog belum lama berpisah orang tuanya lelaki meninggal” setelah genap bulanya Ken Endhog melahirkan bayi laki-laki dan dibuangnya bayi itu di Kuburan. Setelah bayi itu dibuang ditemukan bayi itu oleh seorang berandal bernama Durjana Lembong saat ia tersesat di kuburan dan ia melihat sebuah benda yang menyala, didekatinya benda tersebut ternyata seorang bayi yang sedang menangis, dibawanya pulang dan mengakuinya sebagai anaknya. Ken Endhog mendengar Durjana Lembong memungut anak didatangilah anak itu dan Ken Endhog menceritakan kisah anak itu yang sebenarnya adalah anak Ken Endhog yang dapat diumpamakan anak itu beribu dua ber ayah satu begitulah perupamaanya.Lihat Selengkapnya

      05 April jam 13:55 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Sambungannya nanti njih kang mas…..

      05 April jam 13:55 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      @Mbakyu……: Waduh,…… empun kadung silo kulo, hehehehehe.

      05 April jam 14:00 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Lathif adakah dirimu??? Selamat siang mas ati2 jempolmu kriting he he he

      05 April jam 14:00 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Durjana Lembong bersama keluarganya semakin sayang pada anak tersebut. Lambat laun bertumbuh menjadi besar dan Durjana Lembong mengajak Ken Arok mencuri. Sesudah Ken Arok mencapai usia cah angon, Ken Arok tinggal di Pangkur. Dan seluruh harta Ken Endhog dan Durjana Lembong habis untuk bertaruh Ken Arok. Lalu Ken Arok menjadi Cah Angon di tempat yang dihormati di Lebak. Ken Arok mengembala sepasang kerbau tetapi kerbaunya hilang lalu yang dihormati meminta ganti seharga delapan ribu. Ken Endhog dan Durjana Lembong memarahi Ken Arok, dan Ken Arok mau pergi meninggalkan orang tuanya, namun dicegah dengan janji kedua orang tuanya mau menjadi budak yang dihormati di Lebak.Lihat Selengkapnya

      05 April jam 14:01 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      @Mbakyu, …….. hehehehehehe…… Selalu setia menemani panjenengan berdua hahahahahaha………

      05 April jam 14:03 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kok panjenengan berdua… adanya hanya kita berdua mas Lathif… jangan sembrono….

      05 April jam 14:05 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      Ngapunten…..ngapunten……. Salah ketik ….. hehehehehe……
      @Mbakyu…… Saya tadi di sekolah sambil ngepring semua risalah njenengan….. ada 73 halaman setelah saya edit.

      05 April jam 14:07 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat walah bapa Abdul Lathif wilujeng siang … sampun pikantuk pinten halaman print prinannpun?

      05 April jam 14:10 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat di jilid njih mangke coveripun gambaripun inkang medhar lo njih..

      05 April jam 14:12 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      @Kanjengmas Kokok : Hahaha…… Mumpung saya kesempatan masuk perpustakaan agung…. hehehe

      05 April jam 14:12 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat MIdhangetaken njih ,amargi menika pancer eyang kita sadaya ..

      05 April jam 14:13 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      @Kanjengmas Koko : Nuwun injih….. midangetake……
      Perkawes COveripun, kulo mangke konsultasi maleh kalyan Mbak Lia……

      05 April jam 14:14 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Lohhh kokk saya sendiri…. kang mas Koko tadi sempat mau tak marahi karena tuan rumah pergi tanpa pamit… he he he Ora sidho ngamuk mas Lathif…

      05 April jam 14:14 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat bapaAbdul Lathif :Lah menika ta jeng Lia … terus gimana jeng ken dedesnya itu

      05 April jam 14:18 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      @Kanjengmas Koko : Saya juga suda penasaran seru , Kanjeng….. hehehehe.

      05 April jam 14:23 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat ya bagaimanapun tadi di ceritakan Ken arok adalah titisan atau bahkan turun dari dewa brahmana walau terlahir dari keluarga petani .

      05 April jam 14:28 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat Ya Jeng Rumah saya di Malang bertempat di wilayah Karuman , di dinoyo

      05 April jam 14:31 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Tiga

      Ken Arok tidak menghiraukan dia tetap pergi orang tuanya ditinggalkanya di Campara dan Pangkur. Ken Arok mencari perlindungan di Kapundungan. Orang yang dijadikan tempat mengungsi dan tempat berlindung tidak menaruh belas kasihan. Ken Arok meneruskan perjalanannya. Ada seorang penjudi permainan saji bersal dari Gabang Karuman, bernama Bladar Samparan dia kalah berjudi dengan seorang bandar judi di Gabang Karuman, Bladar Samparan ditagih, tapi tidak dapat membayarnya. Bladar Samparan akhirnya pergi dari Gebang Karuman dan berjiarah ke tempat keramat Rabut Jalu. Disitu Bladar Samparan mendengan bisikan agar segera pulang ke Gebang Karuman, “ Aku punya anak bernama Ken Arok dia akan menolongmu”. Ditengah malam Bladar Samparan pergi berjalan kaki dari Rabut Jalu mencari Ken Arok setelah ketemu mereka berdua datang menemui bandar judi dan menantang dan akan memenangkanya. Kemenangan Blandar Samparan sesuai petunjuk Hyang itu. Setelah menang Bladar Samparan dan Ken Arok pulang. Bladar Samparan mempunyai dua orang istri yang pertama bernama Genuk Buntu yang kedua Tirtadaya. Anak-anak Bladar dari istri muda bernama, Panji Bawuk, Panji Kuncang, Panji Kunal, Panji Kenungkung, dan yang ragil bernama Cucu Puranti. Sedang Ken Arok diambil anak oleh Genuk Buntu. Mesti sudak lama tinggal di Gebang Karuman Ken Arok tidak cocok dengan anak-anak Bladar Samparan dari istri mudanya..Lihat Selengkapnya

      05 April jam 14:45 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Ken Arok pergi meninggalkan Gebang Karuman dan menuju Kapundangan. Ken Arok bertemu Bocah Angon bernama Bapak Tita. Ia anak dari bapak Sakijo,seorang kepala Desa tertua di Sagenggeng. Bapak Tita bersahabat karib dengan Ken Arok dan Ken Arok tinggal di bapak Sakijo. Ken Arok tidak pernah pisah dengan bapak Sakijo. Mereka ingin belajar bentuk huruf maka merekapun menemui seorang guru di Sagenggeng, mereka mau belajar sastra dan kanuragan. Merekapun belajar, Sengkalan, perincian hari tengah bulan, bulan, tahun Caka, hari enam, hari lima, hari tujuh, hari tiga, hari dua, hari sembilan, nama minggu.
      Dihalaman Sang Guru ada pohon jambu buahnya padat dan lebat, pohon itu dipelihara guru dengan baik dan tidak seorangpun berani mengambil buah jambu itu. Kata sang Guru bila buah itu masak petiklah.
      Lihat Selengkapnya

      05 April jam 14:46 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mau dilanjutin tidak… aku kalau cerita sendiri yo ogahhhh…

      05 April jam 14:48 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat Bapa Abdul Lathif: dateng pundi panjenengan to

      05 April jam 14:55 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Kang mas Koko kayak cerita buat anakku Ella tiap tidur minta cerita kalau ndak diceritakan salah satu cerita anak tdk bisa tdur… jangan2 mas Lathif sama…. Ok tak teruskan kang mas….sambungannya nanti ya….dan tolong jangan bikin status baru njih agar aku tuntaskan ceritaku ini…. Ken Arok ingin melihat pohon jambu itu namun tidak berani dan hanya membayangkan, setelah malam tiba semua tidur pulas Ken arok pun juga tertidu tetapi terjadi keanehan dari ubun-ubun Ken Arok keluar kelelawar berbondong-bondong menyerbu pohon jambu guru.esok paginya sang guru melihat jambu itu rusak dan wajah sang gurupun tampak sedih. Sehingga Guru memanggil semua muridnya apa sebab jambu itu rusak? Karena bekas gigitan kelelawar. Sehingga sang guru mengambil duri rotan yang akan digunakan untuk mengurung pohon jambu itu semalaman. Malampun tiba Ken Arok tidur di balai-balai sebelah selatan, dekat daun ilalang kering degat sang Guru biasa menganyam atap. Sang Guru melihan kelelawar keluar dari ubun-ubun Ken Arok. Kelelawarpun menyerbu jambu Sang Guru, ia tak berdaya mengusir kelelawar yang jumlahnya ribuan. Sang Gurupun marah dan membangunkan Ken Arok dan mengusirnya ditengah malam itu juga, Ken Arok terperanjat kaget, Ken Arok pergi ke padang ilalang sebelah luar dan tidur. Ketika Sang Guru melihat keluar melihat benda menyala ditengah ilalang. Sang Guru mengira kebakaran tetapi setelah diselidiki ternyata yang menyala Ken Arok. Sang Guru menyuruk Ken Arok bangun dan menyuruh pulang. Ken Arok mematuhi perintah Guru dan kembali tidur diruang tengah, keesokan harinya Ken Arok dipanggil Sang Guru dan menyuruh Ken Arok mengambil jambu, dan membuat Ken Arok senang “ Semoga aku berhasil sehingga aku dapat membalas budi Sang Guru” Ken Arok tumbuh dewasa dan ia mengembala bersama bapak Tita dan membuat pondok di sebelah timur Sagenggeng, diladang Sanja dan dijadikan tempat tempat untuk menghadang orang yang melintas jalan. Di hutan Kapundungan ada seorang penyadap enau dan memiliki searang anak gadis cantik jelita, gadis itu sering ikut kehutan dan bertemu dengan Ken Arok hutan itu bernama Ajijuga. Perilaku Ken Arok makin kotor dan rusuh ia merampok setiap orang yang melintas jalan. Berita kerusuhan perbuatan Ken Arok sampai di Negara Daha Pura Raya. Ken Arok ditindak untuk dilenyapkan oleh Tunggul Ametung seorang kepala Daerah yang bergelar Akuwu.Lihat Selengkapnya

      05 April jam 15:01 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat ya diajeng

      05 April jam 15:10 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Ken Arok lalu pergi dari Sagenggeng dan mengunsi ke tempat Rabut Gorontol “ Semoga orang yang melenyapkan aku tenggelam dalam air dan Semoga tidak ada air keluar, dan akan menjadi penuh kesulitan di Jawa” kutuk Ken Arok. Ia pergi dari Rabut Gorontol dan mengungsi ke Wajang, disuatu ladang di Sukamanggala, ia melihat seorang pemikat burung pipit dan Ken Arok merampok orang itu. Kemudian Ken Arok pergi ke tempat Keramat Rabut Katu, Ken Arok heran melihat pohon katu sebesar pohon beringin, ia berajak dari tempat itu, lari dan mengungsi ke Jun Watu. Daerah oarang sempurna. Dari tempat itu ia meneruskan perjalananya ke Lulukambang dan tinggal dirumah seorang penduduk bernama Gagak Inget, seorang keturunan Prajurit. Disitu Ken Arok menetap cukup lama dan memperkosa. Ia pergi ke Kapundungan dan mencuri di Pamalayatenan. Tetapi ia ketauan dan dikejar dan dikepung, dia naik dipohon Tal meskipun hari siang diapun tetap diatas pohon sehingga oleh orang-orang akan ditebang. Ken Arok menangis dan menyebut Sang Pencipta, akhirnya ia mendapat bisikan agar mematahkan dua batang pohon tal untuk dijadikan sayap. Lalu ia memotong dua helai daun tal untuk dijadikan sayap. Ia terbang melayang keseberang timur dan lari ke Nagamasa. Karena terus dikejar Ken Arok mengungsi ke Oran dan ke Kapundungan.Lihat Selengkapnya

      05 April jam 15:54 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Endro Joyo Diningrat Bunda Lia:Makasih banyak atas paparanya yang begitu luas…..dan sangat berharga…

      05 April jam 16:44 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      Kulo Taksih nyemak, Kanjengmas….. mpun kuatos……

      05 April jam 16:59 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Yang dihormati dikapundungan sedang bercocok tanam, dan mengaku bahwa Ken Arok adalah anaknya, anak yang dihormati berjumlah enam orang. Salah seorang sedang mengeringkan empang. Karena tinggal lima orang. Ken Arok menggantikan yang pergi itu. Kemudian datanglah pengejar Ken Arok mereka bertanya pada Kepala Daerah dan dijawab oleh yang dihormati, bahwa anakku enam yang sedang bertanam enam jadi tidak ada yang kesini setelah pengejar mohon diri. Akhirnya yang terhormat memanggil Ken Arok dan menyuruh segera pergi ke hutan dan sembunyi di hutan Patang Tangan. Setelah itu ia meneruskan perjalananya ke Karanganom, dihutan Terwaga. Perilaku Ken Arok semakin rusuh. Ada seorang Kepala Lingkungan daerah Luki berniat membajak sawah iapun membawa nasi untuk bekal mengembala lembunya. Nasi itu ditaruh ditabung bambu dan diletakkan diatas onggokan. Saking asiknya sang kepala lingkungan hanya membajak saja dan hampir setiap hari nasi itu hilang. Suatu saat kepala lingkungan bersembunyi ingin tau kenapa nasinya selalu hilang dan yang membajak anak-anaknya, tak lama kemudian Ken Arok keluar dari hutan dan bermaksut mengambil nasi, kepala lingkungan menegur sambil keluar dari persembunyianya, Nak ternyata kamu yang mengambil nasi cah angon-ku” Ken Arok menjawab “ Benar Pak aku mengambil nasi cah angon – mu setiap hari karena tidak ada yang aku makan” akhirnya kepala linkungan mengajak Ken Arok pulang dan menjamu Ken Arok, kepala lingkungan berpsan pada istrinya gar sewaktu-waktu dia datang berilah ia makan anggaplah sebagai saudara sendiri. Ken Arok pun setiap hari datang hanya meminta makan. Setelah beberapa lama Ken Arok meneruskan perjalanannya menuju Lulu Kambang, di Banjar Kecopet. Ada orang bernama Empu Palot beliau adalah kepala lingkungan daerah Turyantapada. Empu Palot adalah seorang tukang Emas dan berguru pada kepala Desa tertua Karang Bolong. Empu Palot sangat pandai membuat barang-barang emas yang sangat sempurna. Saat pulang dari Karang Bolong sambil membawa bahan emas seberat lima tahil dan berhenti di Lulu Kambang.Lihat Selengkapnya

      05 April jam 18:00 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Empu Palot takut pulang sendiri ke Tuyantapada karena mendengar kabar ada perampok yang bernama Ken Arok yang suka merampok dijalan. Empu Palot tidak melihat yang lain dan berjumpa Ken Arok di tempat peristirahatan. Kata Ken Arok pada Empu Palot “ tuan mau pergi kemana?” Empu Palot menceritakan rasa takutnya, Ken Arok tersenyum dan siap mengantarkan Empu Palot sampai rumahnya. Empu Palot merasa berhutang budi pada Ken Arok akhirnya Ken Arok diajari membuat barang-barang dari emas. Sampai Empu Palot kalah kesaktianya membuat kerajinan emas dengan Ken Arok, asrama Empu Palot dinamakan daerah Bapa dan Ken Arok menganggap Empu Palot sebagai Bapaknya. Karena Ken arok disuruh menyempurnakan ilmunya membuat barang-barang dari emas pada orang tertua di Karang Bolong sekaligus agar dapat menyelesaikan bahan yang ditinggalkan Bapak Kepala Lingkungan, Ken Arok berangkat ke Karang Bolong tetapi ditolak dan penduduk Karang Bolong tidak mempercayainya dan Ken Arok jadi marah “ semoga ada lubang ditempat orang menepi ini” Ken Arok ngamuk karena tidak dipercaya, penduduk berlarian mendatangi Kepala Desa terua di Krang Bolong. Ia memanggil semua pertapa, para guru Hyang, para punta. Semua keluar dan membawa pukul dari perunggu mereka memukuli Ken Arok. Para Brahmana memperlihatkankan keinginanya untuk membunuh Ken Arok tetapi tiba-tiba ada dari angkasa terdengar suara “ wahai para Brahmana, jangan bunuh dia adalah anakku, masih banyak tugas yang harus diselesaikan dan dilakukan dialam tengah itu” akhirnya Ken Arok ditolong tetapi Ken Arok bersumpah “ Semoga tak akan ada pertapa disebelah timur Gunung Kawi yang Sempurna Ilmunya” Ken Arok dari Karang Bolong menuju Turyantana di lingkungan Bapa, didesa Tungaran kepala desanya tidak menaruh belas kasihan, kemudian Ken Arok mengganggu orang Tungaran , Arca penjaga pintu gerbang diambil dan diletakkan di lingkungan daerah Bapa selanjutnya Ken Arok menemui anak perempuan kepala tertua di Tungaran yang sedang menanam kacang disawah dan membantunya,lama kelamaan tanaman kacang menghasilkan berkampit-kampit. Inilah penyebab benih kacang Tingaran mengkilap, besar, dan gurih. Akhirnya Ken Arok pulang kedaerah Bapa. Kata Ken Arok “ Bapak kalau aku berhasil kelak, aku akan memberi perak kepada yang dihormati didaerah Bapa ini” setelah pamit dengan Empu Palot Ken Arok meneruskan perjalananya.Lihat Selengkapnya

      05 April jam 18:39 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat nama nama daerah di atas beberapa masih ada dan ada yg berubah bunyinya diajeng.

      05 April jam 18:44 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Akhirat Selo lanjut monggo

      05 April jam 19:11 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Rubahnya nama Desa aku ndak tau kang mas Koko karena aku tidak diundang kenduri saat ganti nama…he he he….
      Di kota Daha Pura Raya telah tersebar kabar tentang Ken Arok yang melakukan kerusuhan dan bersembunyi di Turyantapada. Dari Daha Pura Raya diadakan operasi untuk melenyapkanya. Karena dicari-cari oleh orang-orang Daha Pura Raya, Ken Arok pergi dari daerah Bapa menuju Gunung Pustaka. Dari tempat itu ia pergi ke Libehan. Kepala tertua Limbehan merasa kasihan setelah Ken Arok meminta perlindungan. Ken Arok berjiarah ke tempat keramat Rabut Gunung Panitikan. Disinilah Ken Arok mendapat petunjuk agar pergi ke Gunung Ledjar pada hari Rebo Wage, Minggu Wariga pertama. Para Dewapun bermusyawarah. Seorang nenek kebayan di Panitikan berkata “ ngger, aku akan membantumu bersembunyi agar tak seorangpun tau, aku akan menyapu di Gunung Ledjar pada semua Dewa bermusyawarah” Ken Arok kemudian pergi ke Gunung Ledjar, pada saat yang ditentukan Rabo Wage minggu wariga pertama, Ken Arok pergi menemui para Dewa bermusyawarah. Ia sembunyi ditempat sampah yang ditimbuni sampah nenek Kebayan Panitikan. Kemudian terdengarlah tujuh nada, guntur, petir, guruh kilat, topan angin, hujan yang bukan musimnya, tak ada selatnya sinar dan cahaya, Ken Arok mendengan suara-suara itu tiada hentinya, berdengung dan bergemuruh.
      Musyawarah para Dewa menyatakan “ dimanakah tempatnya daerah yang diperkokoh nusa Jawa” para Dewa – pun saling mengemukakan pendapat “ siapa yang akan menjadi Raja dipulau Jawa?” demikian pertanyaan para Dewa. Terdengar Dewa Guru berkata “ Ketauilah para Dewa, seorang manusia lahir dari Pangkur, dialah anakku yang akan memperkokoh tanah Jawa”mendengar itu Ken Arok keluar dari tempat sampah. Para Dewa melihat Ken Arok dan menyetujuinya. Demikianlah pujian para Dewa dan Bathara Guru pun juga menyetujui dan merestui. Ken Arok akhirnya diberi petunjuk para Dewa agar mengaku Bapak kepada seorang Brahmana bernama Dhanghyang Lohgawe. Beliau baru datang dari Jambudwipa dan Ken Arok disuruh menemui di Taloka. Itulah asal mula Brahmana disebelah timur Gunung Kawi.
      Lihat Selengkapnya

      05 April jam 19:15 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Dhanghyang Lohgawe naik rumput kakatang tiga potong. Beliau menuju daerah Taloka untuk mencari Ken Arok yang punya ciri tanganya panjang melebihi lutut. Ditangan kananya ada tulisan berbentuk cakra ditangan kiri berbentuk sangka. Ken Arok penjelmaan Dewa Wisnu, sewaktu Lohgawe memuja Arca Wisnu beliau mendapat petunjuk “ aku tidak ada disini namaku Ken Arok aku sudah menjelma pada orang Jawa hendaknya kau ikuti aku cari aku ditempat perjudian” bertemulah Lohgawe dengan Ken Arok ditempat perjudian dan setelah mereka bertemu dan Lohgawe mengangkat Ken Arok anak mereka berdua pergi ke Taloka dan ke Tumapel Hadiningrat, Danghyang Lohgawe menginginkan mengsaya pada seorang Akuwu yang bernama Tunggul Ametung, Kepada Daerah Tumapel Hadiningrat, beliau sedang berkumpul dengan Rakyatnya. Melihat kedatangan Lohgawe dan Ken Arok Tunggul Ametung berkata “ Selamat datang tuanku Brahmana” dan Lohgawe menjawab “ Tuan Akuwu aku baru datang dari sebrang dan aku dan anakku ini ingin sekali mengsaya pada Akuwu” permintaan Lohgawe disambut dengan senang hati oleh Tunggul Ametung. Ken Arok – pun mengsaya pada Tunggul Ametung sebagai Akuwu di Tumapel Hadiningrat dalam waktu yang lama. Ditempat inilah Ken Arok secara pelan dan pasti menyusun kekuatan.Lihat Selengkapnya

      05 April jam 19:18 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Maaf lemot sekali…. aku lanjut nanti saja….

      05 April jam 19:53 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Baik saya teruskan…. Ada seorang Pujangga Agung pemeluk agama Budha dari aliran Mahayana beliau sedang bertapa diladang milik orang Panawijen bernama Empu Purwo Widagda. Ia mempunyai seorang anak putri tunggal pada waktu sebelum menjadi pendeta Mahayana. Putri itu dikenal sebagai putri yang elok, cantik, ayu, elok rupawan, paras wajahnya bersinar, Ken Dedes namanya. Ken Dedes mempunyai rahim Agung dan luhur yang nantinya kan melahirkan tokoh-tokoh besar. Kecantikan Ken Dedes tidak ada yang dapat menyamai kecantikannya karena kamasyuran kecantikan Ken Dedes dari sebelah timur Gunung Kawi sampai Tumapel Hadiningrat, Tunggul Ametung mendengar dan Tunggul Ametung berkunjung di Panawijen. Tunggul Ametung langsung ke desa Empu Purwo Widagda dan bertemu dengan Ken Dedes saat itu Empu Purwo Widagda tidak berada ditempat. Tunggul Ametung terpesona dengan kecantikan Ken Dedes sehingga mendadak ia membawa pergi Ken Dedes dengan paksa. Saat Empu Purwo Widagda pulang tidak mendapatkan Ken Dedes setiap orang ditanya tidak berani mengatakan, sehingga Empu Purwo Widagda bersumpah “ siapapun yang melarikan anakku tidak akn lama mengenyam kenikmatan dan akan tertusuk keris dan diambil istrinya begitu juga dengan orang-orang Panawijen sini semoga kolam tempat untuk mengambil air tidak akan keluar airnya karena mereka tidak mau memberi tau anakku dilarikan secara paksa, sedang anakku yang menyebabkan gairah dan bercahaya terang akan mendapat keselamatan dan kebahagiaan yang besar” walah kok aku sendirian… kang mas Koko….Lihat Selengkapnya

      05 April jam 20:05 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat ya diajeng saya menyimak kok .. sembari terbang membayangkan daerah daerah yang namanya ada dalam cerita … beberapa ada yng berubah bunyi.dan memang itu adalah jalur napak tilas Ken Arok.

      05 April jam 20:55 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat Sejak ketika duduk di bangku SD saya sering di ajak almarhum eyang Kakung .. mengunjungi dan berziarah ke petilasan petilasan yg ada di Malang .Hampir semua tlatah yg pernah di diam Orang tua . adalah tempat petlasan .jaman Kediri dan Singasari Bahkan jaman kerajaan yg jauh lebih tuah lagi “Mataram Hndu “

      05 April jam 20:59 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Kok …podho mendel njih …. Tidak berapa lama Ken Dedes berada di Tumapel Hadiningrat Tunggul Ametung merasa senang karena Ken Dedes menunjukan gejala mengandung, kemudian Tunggul Ametung bersenang-senang di taman Bobodi. Saat Ken Dedes turun dari kereta Kencana dan tanpa sengaja kain penutup betis tersingkap sehingga terbukalah rahasianya. Ken Arok melihatnya betis yang bernyala itu. Ken Arok terpesona kecantikan Ken Dedes memang sempurna. Sekembalinya Tunggul Ametung dari bercengkrama. Ken Arok memberi tau Lohgawe “ Bapak ada seorang wanita memperlihatkan rahasianya. Apa arti tanda seperti itu? Baik atau buruk? Lohgawe menjawab “ siapa itu orangnya ngger? Ngger jika ada orang seperti itu namanya ardana nariswari ia wanita paling utama, ngger mesti berdosa. Jika diperistri yang memperistrinya akan menjadi Maha Raja” Ken Arok terdiam dan berkata “ Bapa wanita yang meperlihatkan rahasianya itu adalah istri Akuwu Tunggul Ametung jika Bapa mengijinkan aku akan membunuh Tunggul Ametung dan akan mengambil istrinya” Lohgawe menjawab “ ngger, sudah pasti Tunggul Ametung akan mati olehmu. Hanya saja aku tidak pantas memberimu ijin, itu bukan tidakan serang perdeta, semua terserah pada kehendakmu anakku” “ jika demikian Bapa aku mohon diri hendak ke Gebang Karuman menemui Bladar Samparan bekas penjudi karena dia bapak angkatku dan aku hendak kesana minta pendapatnya”

      Ken Arok berangkat menemui Blandar Samparan, setelah bertemu Ken Arok menceritakan maksut tujuanya kesini, Blandar Samparan menjawab “ baiklah kuijinkan engkau membunuh tunggul ametung dengan keris tetapi ketauilah ngger Tunggul ametung tidak akan mati karena dia sakti, aku punya teman namanya Empu Gandring kering buatanya sangat ampuh dan bertuah yang tinggal di desa Lulukambang, pesanlah keris padanya. Pergilah Ken arok ke tempat Empu Gandring dan berpesan agar dibuatkan keris dalam waktu lima bulan harus selesai, namun Empu Gandring menolak dan meminta waktu satu tahun”…..Lihat Selengkapnya

      05 April jam 21:04 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Waduh kang mas Koko… untung tadi siang saya cicil nulis kalau tidak waduh berantakan aku… didinding status juga medar roso sejati meneh… awal dari tatanan untuk masuk keawalan olah roso tataran tinggi…. baiklah saya teruskan.

      Setelah berpesan keris Ken Arok –pun kembali ke Tumapel, diceritakanya perjalananya pada Lohgawe, tanpa terasa waktupun terus berjalan sudah lima bulan berlalu, lalu Ken Arok berngkat ke Lulukambang menemui Empu Gandring ternyata keris itu belum jadi. Ken Arok marah dan menusuk Empu Gandring dengan keris yang dipesanya, Empu Gandringpun berkata “ Angger Arok, kelak kau dan anak cucumu serta tujuh orang raja mati karena keris itu” sesudah mengatakan itu Empu Gandrng meninggal. Ken Arok menyesal melihat Empu Gandring meninggal.dan berkata “ Kalau aku berhasil kemuliaanku akan melimpah pada pande keris di Lulukambang ini”. Lalu Ken Arok pergi membawa keris yang belum jadi itu. Kebo Ijo dalah kepercayaan Tunggul Ametung yang menjadi sahabat Ken Arok, waktu Kebo Ijo melihat keris baru itu, berhulu kayu cangkring berduri, dan belum diberi perekat dan masih kasar tampak senang ia melihatnya. Keris itu dipinjam Kebo Ijo dan diberikannya. Semua orang Tumapel heran selama ini Kebo Ijo tidak pernag memakai keris dipinggangnya. Tidak berapa lama keris itu dicurinya oleh Ken Arok. Pada suatu malam Ken Arok menghampiri peraduan Tunggul Ametung dan menusuk Tunggul Ametung didadanya hingga tembus mengenai jantung. Keesokan harinya Tumapel Hadiningrat geger melihat Tunggul Ametung wafat dan keris yang menancap didada Tunggul Ametung adalah sebuah keris yang dikenali banyak orang yaitu keris milik Kebo Ijo dan keluarga Tunggul Ametung – pun menusuk Kebo Ijo hingga mati. Anak Kebo Ijo bernama Mahisa Rindi dan selalu dekat dengan Ken Arok. Kemanapun Ken Arok Mahisa Rindi selalu dibawanya. ……Lihat Selengkapnya

      05 April jam 21:33 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdul Lathif

      ‎.
      Assalaamu’alaikum…….
      Dan dari jauh, saya terus menapaki kesaksian sejarah yang sedang Tuan-tuan berbincangkan, dengan penuh penghayatan.
      Sungguh tidak pernah menyangka, begitu kaya budaya bangsa ini.
      Saya sanngat bersyukur karena terlahir di tengah-tengahnya.

      Sugeng Ndhalu, Kangmas Koko…….. Mbakyu Lia……
      Ngapunten, kulo sambi mengerjakan PR untuk disetorkan ke UPTD besok………Lihat Selengkapnya

      05 April jam 21:36 · Tidak SukaSuka · 3 orangAnda, Gadis Exsprit, dan Abdul Lathif menyukai ini
    • Abdul Lathif

      ‎.
      Assalaamu’alaikum…….
      Dan dari jauh, saya terus menapaki kesaksian sejarah yang sedang Tuan-tuan berbincangkan, dengan penuh penghayatan.
      Sungguh tidak pernah menyangka, begitu kaya budaya bangsa ini.
      Saya sanngat bersyukur karena terlahir di tengah-tengahnya.

      Sugeng Ndhalu, Kangmas Koko…….. Mbakyu Lia……
      Ngapunten, kulo sambi mengerjakan PR untuk disetorkan ke UPTD besok………Lihat Selengkapnya

      05 April jam 21:36 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Abdul Lathif

      ‎.
      Assalaamu’alaikum…….
      Dan dari jauh, saya terus menapaki kesaksian sejarah yang sedang Tuan-tuan berbincangkan, dengan penuh penghayatan.
      Sungguh tidak pernah menyangka, begitu kaya budaya bangsa ini.
      Saya sanngat bersyukur karena terlahir di tengah-tengahnya.

      Sugeng Ndhalu, Kangmas Koko…….. Mbakyu Lia……
      Ngapunten, kulo sambi mengerjakan PR untuk disetorkan ke UPTD besok………Lihat Selengkapnya

      05 April jam 21:37 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit Assalamualiakum,,,,,selamat mlam mama,,Romo,,om abdulah,,om lathif,,,,salam kasihku selalu ,,

      05 April jam 21:39 · Tidak SukaSuka · 3 orangAnda, Abdullah Ali, dan Abdul Lathif menyukai ini
    • Abdul Lathif ‎.
      Selamat malam pula, Gadis…….

      05 April jam 21:44 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎>

      05 April jam 21:48 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Walahhhh kacau balau… lemot harusnya dah selesai… mala kacau….

      Sudah menjadi kehendak Dewa bahwa Ken Arok pada akhirnya menjadi jodoh Ken Dedes. Orang-orang Tumapel tidak ada yang berani membicarakan perilaku Ken Arok yang sebenarnya. Ken Arok akhirnya menikahi Ken Dedes yang saat itu Ken Dedes sedang mengandung anak Tunggul Ametung. Namun demikian Ken Arok tetap menidurinya, karena Ken Arok dan Ken Dedes saling mencintai. Lahirlah anak Tunggul Ametung dan diberi nama Sang Anusapati. Perkawinan Ken Arok dan Ken Dedes berlangsung lama dan Ken Dedes melahirkan anak-anak dari Ken Arok yang bernama, Mahiso Wong Teleng, Panji Saprang, Agnibaya, dan yang terakhir Dewi Rimbun. Ken Arok mempunyai istri muda bernama Ken Umang. Ken Umang dengan Ken Arok mempunyai anak bernama Panji Tohjoyo, Panji Sudatu, Twan Wregolo, yang terakhir Dewi Rambi. Jumlah anak Ken Arok 9 orang. 7 lelaki dan 2 perempuan.
      Ken Arok ditakuti seluruh masyarakat sebelah timur Gunung Kawi, sejak itu timbulah niat Ken Arok ingin menjadi Raja. Semua orang Tumapel Hadiningrat sudah merasa senang bila Ken Arok menjadi Raja. Sudah menjadi takdir, Raja Daha Pura Raya bernama Dhandhang Gendhis berkata berkata pada wiku seluruh Daha “ wahai para bapa begawan Budha dan Hindu mengapa tidak menyembahku?” dijawablah oleh para Wiku “ tuanku sejak dahulu kala tidak ada seorang Wiku menyembah Raja” Raja marah pada semua Wiku karena tidak ada yang mau menyembah Raja bahkan ada yang menentang dan minta perlindungan ke Tumapel Hadiningrat, sekaligus Mengsaya pada Ken Arok. Begitulah asal mula Tumapel tidak mau tau dengan Daha Pura Raya.
      Tidak lama kemudian Ken Arok disahkan menjadi Raja disaksikan para Wiku pemeluk agama Syiwa dan Budha yang berasal dari Daha Pura Raya. Ken Arok direstui menjadi raja di Tumapel Hadiningrat dengan gelar SRI RAJASA BATHARA SANG AMURWABUMI. Negaranya bernama SINGOSARI HADININGRAT. Yang Mulia Dhanghyang Lohgawe diangkat menjadi Pendeta Istana, termasuk orang-orang yang dulunya menaruh kasihan pada Ken Arok dan semua yang dijanjikan pada orang-orangpun dipenuhi. Singosari Hadiningrat berhasil tanpa halangan……
      Lihat Selengkapnya

      05 April jam 22:15 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Wa’alaikum salam Gadisku… mas Lathif….

      Raja Daha Pura Raya Dhandhang Gendhis tahu Ken Arok bermaksud menyerang Daha Pura Raya, Dhandhang Gendhis berkata dengan sombong dan takabur “ Siapa yang mampu mengalahkan aku ? Mungkin aku akan Kalah bila Bathara Guru yang turun dari angkasa.”
      Ken Arok tau sesubar Dhandhang Gendhis. Sang Amuwabumi berkata “ Wahai para Wiku Pemeluk Agama Syiwa dan Budha, ijinkan aku mengambil gelar Bathara Guru” dengan mendapat ijin dari para pijangga Brahmana dan resi, Ken Arok menyerang Daha Pura Raya. Saat diberitau Sang Amurwabumi dari Tumapel Hadiningrat. Terjadilah perang prajurit Tumapel bertempur melawan Daha Pura Raya sebelah utara Genter, prajurit Daha Pura Raya terdesak, Mahisa Walungan adik Dandhang Gendhis gugur bersama Gubar Baleman perwira mentrinya, Daha Pura Raya kalah Dandhang Gendhis pun mundur dan mengunsi ke alam dewa. Mereka semua naik ke Angkasa beserta kuda, pengiring kuda, pembawa payung, dan pembawa tempat sirih, tempat air minum dan tikar, adik-adik Dandhang Gendhis Dewi Amisani, Dewi Hasin dan Dewi Paja diberi tau bahwa Dandhang Gendhis kalah dan nain keangsasa ke tiga Dewipun menghilang.
      Setelah Ken Arok menang pulanglah ke Tumapel Hadiningrat, tanah Jawa telah ia kuasai. Sebagai Raja ia telah mengalahkan Daha Pura Raya pada tahun Caka 1144.

      Anak Tunggul Ametung telah dewasa dan mencari tau kenapa sikap bapaknya beda padanya tidak seperti pada saudara-saudaranya, akhirnya Ken Dedes menceritakan cerita yang sesungguhnya, akhirnya Anusapati meminta keris yang dipakai Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung. Anusapati memanggil seorang Sayanya berpangkat pengalasan di Batil, Anusapati menyuruh orang Batil itu membunuh Ken Arok dengan keris Empu Gandring, berangkatlah orang Batil itu masuk Istana peristiwa itu pada hari Kamis Pon, Minggu Landep, saat matahari terbenam. Setelah membunuh Ken Arok larilah orang Batil itu minta perlindungan Anusapati tetapi orang Batil itu dibunuh oleh Anusopati. Ken Arok Sang Amurwabumi wafat pada Thn 1168. Sumpah Empu Gandring terbukti keris hasil karyanya telah membunuh dan menjadi alat balas dendam, empu Gandring , Tunggul Ametung, Kebo Ijo, Ken Arok. Dan korbanpun akan terus berjatuhan……Lihat Selengkapnya

      05 April jam 22:16 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat Senang menyimak alur ceritanya …sebuah perstasi yang spektakuler..namun mungkin yg jelas sudah ginaris seperti demikian

      05 April jam 22:20 · SukaTidak Suka · 2 orangAbdul Lathif dan Gadis Exsprit menyukai ini.
    • Koko Puspo Handokoningrat Nanti jika sudah masuk babak Raden Wijaya kan diajeng ?

      05 April jam 22:22 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit met malam jg om lathif

      05 April jam 22:22 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit terima kasih mama

      05 April jam 22:23 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat Sepak terjang strategi Ken Arok dalam mencapai prestasi rupanya menjadi inspirasi sbagian pemimpin bangsa ini

      05 April jam 22:25 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      Sejak tadi, saya hanya “intip-intip” di luar baik di Kediaman Kanjengmas….. maupun di Kediaman Mbakyu……
      Saya usrek sendiri (sambil) menyiapkan Laptop sama printer-nya sekalian…….
      Sebab Tema hari ini sangat menggelitik rasa ingin tahu saya untuk mempelajarinya lebih jauh…. hehehehehehe……. Rahayu… Rahayu… Rahayu…

      05 April jam 22:30 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Kang mas Koko pun to….. niki tasih panjang… Anusapati akhirnya menjadi Raja di Singosari pada thn Caka 1170 lama kelamaan ,anak-anak Ken Arok tau siapa dalang pembunuhan ayahandanya, tetapi Anusopati sangat hati-hati tempat tidurnya dikelilingi kolam dan pintu kamarnya dijaga ketat, tak lama kemudian Panji Tohjoyo datang menghadap Bathara Anusapati dengan membawa ayam jantan. Kata Panji Tohjoyo, “ Kakangmas aku mau meminjam keris ayahanda buatan Empu Gandring” sang Bathara Anusapati memberikan pada Panji Tohjoyo yang disisipkan dipinggangnya. Kemudian keris itu diserahkanya pada sayanya. Kata Panji Tohjoyo, “ baiklah kakang mari kita persiapkan ayam jantan untuksegera kita ajukan digelanggang” karena saking asiknya Anusapati lupa sampai Panji Tohjoyo menusuk Anusapati dengan keris Empu Gandring, Sang Anusapati Wafat thn Caka 1171. dia dimakamkan di dalam bentuk Candi di Kidal.

      Panji Tohjoyo menjadi Raja di Tumapel Hadiningrat, Anusapati mempunyai anak laki-laki bernama Ranggawuni, keponakan panji Tohjoyo.
      Mahisa Wonga Teleng, saudara laki-laki Mihisa Cempaka adalah juga keponakan Panji Tohjoyo. Pada waktu Panji Tohjoyo naok tahta dihadapan para mentri terutama Pranaraja dan disaksikan banyak orang Ranggawuni dan Kebo Cempoko ikut menghadap. Panji Tohjoyo berkata “ Lihatlah keponakanku ini betapa bagus dan kuat badanya. Bagaimana keadaan musuhku diluar sini kalau dibanding dengan kedua keponakanku ini ? Bagaimana Pranaraja” sambil menyembah Pranaraja menjawab “ betul Tuanku, seperti titah paduka, tetapi saja mereka itu ubarat bisul diperut, tak urung bisa menyebabkan kematian” sembah Pranaraja semakin terasa, timbul amarah Panji Tohjoyo, lalu ia memanggil Lembu Ampal untuk membunuh dua bangsawan itu kalau tidak berhasil Lembu Ampal sendiri sebagai gantinya. Saat itu Brahmana dan para Pendeta Istana sedang mengadakan upacara keagamaan, Sang Dhanghyang mendengar kedua bangsawan itu mau dibunuh, ia menyuruh kedua bangsawan itu agar segera sembunyi. Keduanya ragu dan pergi ke Panji Patipati. Dan kedua bangsawan itu mengtakan akn bersembunyi di rumahnya. Karena kedua bangsawan itu tidak ketemu Lembu Ampal mau dilenyapkan dan Lembu Ampal melarikan diri dirumah tetangga Panji Patipati. Lembu Ampal tau kedua bangsawan ada dirumah Panji Patipati. Akhirnya Lembu Ampal menemui kedua bangsawan itu dan merasa bersalah telah mau menerima titah Panji Tohjoyo dan berjanji akan Mengsaya pada kedua bangsawan itu. Dan timbulah sebuah siasat Lembu Ampal menusuk orang sinelir dan Lembu Ampalpun dikejar dan lari menghampiri orang Rajasa. Kata orang Sinelir orang Rajasa menusuk orang Sinelir. Dan siasatnya masuk akhirnya antara Senelir dan Rejasa berkelai dan saling membunuh. Mereka dipisah oleh utusan dari Istana tetapi mereka tidak mau peduli. Panji Tohjoyo marah dan menghukum mati beberapa orang dari dua belah pihak. Lembu Ampel mendengar berita lenyapnya dua belah pihak, akhirnya Lembu Ampel menemui orang-orang Rajasa, dan memerintahkan untuk bertemu dengan dua bangsawan, akhirnya pimpinan Rajasa menemui kedua Bangsawan itu untuk memberi perlindungan dan berjanji akan mengsaya pada kedua bangsawan itu, begitu juga orang Sinelir menyatakan kesanggupanya seperti yang dilakukan oleh orang Rajasa, akhirnya mereka damai. Mereka akhirnya dipesan agar nanti sore datng membawa orang – orang dan akan berontak dan harus melukai orang-orang istana. Sore harinya mereka datang menghadap dua bangsawan lalu mereka berangkat menuju Istana dan menyerbu. Panji Tohjoyo sangat terkejut, dan akhirnya ia lari terpisah, namun Tohjoyo terkena tombak, setelah reda Panji Tohjoyo dicari rakyatnya dan dibawa mengungsi ke Ketanglumbang tetapi sesampai di Katanglumbang Panji Tohjoyo wafat pada Thn Caka 1172…..Lihat Selengkapnya

      05 April jam 22:32 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat BapaAbdul Lathif: njih sae prayogi nipun makaten . sampun mbayar uang gedung dereng ..menika kuliyahe sampun gratis lohh ?he he

      05 April jam 22:35 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      hehehe……. Sampun, Kanjengmas……
      Malah, kulo tambahi setunggal gantang beras ketan kalyan sekedap ragi, dhamel praktek, kulo lan sedhaya kadhang sak Padepokan Lomba membuat BREM hehehe…….

      05 April jam 22:40 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Ha ha ha ha ha kacau… brem kan membuat halus wajah xixixixixxiii
      Akhirnya Ranggawuni menjadi Raja, bersama Mahisa Campaka, ia dapat diumpamakan seperti dua ekor naga dalam satu lubang, Ranggawuni bergelar sebagai Wisnuwardana sedang Mahisa Cempaka menjadi Ratu Angabaya, bergelar Nara Singa. Mereka sangat rukun dan tidak pernah berpisah. Bathara Wisnuwardana mendirikan sebuah benteng di Canggu pada Thn Caka 1193. ia menyerang Mahibit untuk melenyapkan Lingganipati. Mahibit kalah karena ada orang bernama Mahisa Bungalan. Sri Ranggawuni bertahta selama 14 Thn. Beliau wafat pada Thn 1194 dan dicandikan di Jajaghu. Sementara Mahisa Cempaka wafat dan dicandikan di Kumeper. Sebagian abunya dicandikan di Wudi Kuncir.

      Sri Ranggawuni meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Kertanegara. Sedang Mahisa Campaka meninggalkan anak bernama Raden Wijaya. Kertanegara menjadi Raja dan bergelar Siwabudha. Adalah seorang sayanya keturunan tetua di Nangka bernama Banyak Widhe dengan sebutan Arya Wiraraja. Ia tidak dipercaya telah dijauhkan dan disuruh menjadi adipati di Sumenep Madura, pada waktu ia naik tahta, patih kerajaan bernama Empu Raganata selalu memberi nasehat tetapi tidak dihiraukan. Sehingga Empu Raganata meletakkan jabatanya dan digantikan Kebo Tengah Sang Panji Aragani. Empu Raganata menjadi Adiyoso di Tumapel Hadiningrat, semasa pemeritahan Sri Kertanegara melenyapkan seorang kelana bernama Baya. Sesudah Kelana mati ia memeritahkan Rakyatnya menyerang Melayu. Panji Aragani mengatar hingga di Tuban. Setibanya di Tumapel Hadiningrat setiap hari ia menyediakan makanan untuk Raja Kertanegara agar bersenang-senang.
      Raja Kertanegara berselisih dengan Raja Katong dari Daha Pura Raya dan menjadi musuhnya karena ia lengah terhadap usaha musuh yang mencari kesempatan dan waktu yang tepat. Banyak Widhe berumur empat puluh tahun saat terjadi penyerangan ke Melayu. Ia berteman dengan Raja Jayakatwang. Banyak Widhe yang bergelar Arya Wiraraja mengirim utusan untuk menyampaikan surat pada Raja Jayakatwang untuk menyerang Tumapel Hadiningrat. Berangkatlah Raja Jayakatwang dan rusaklah utara Tumapel. Raja Kertanegara bermabuk mabukan disaat Tumapel diserang sehingga ia utusan Raja Wijaya berangkat menghadang musuh dari Daha Pura Raya Raja Wijaya disertai ksatria termuka seperti – Banyak Kapuk, Ranggalawe, Pedang, Sora, Dangdi, Ki Ageng Gajah Pangon, Nambi anak Wiraraja, Peteng, dan Wirot.
      Prajurit Daha Pura Raya kewalahan saat kelompok Raja Wijaya mengamuk, sehingga pasukan dari Daha Pura Raya melarikan diri melalui daerah utara, namun mereka tetap dikejar. Kemudian para prajurit Daha Pura Raya yang datang dari sungai Aksa, berdatangan menuju daerah Lawor. Setibanya di Sidobawono mereka langsung menuju Singosari Hadiningrat, yang menjadi prajuri Daha wakatu itu adalah Patih Daha Pura Raya Kebo Mundarang, Pudot, dan Bawong. Ketika itu Raja Kertanegara sedang minum-minuman keras bersama patihnya, mereka diserang dan dikalahkan. Semua gugur, Kebo Tengah yang melakukan pembalasan meninggal di Manguntur…….Lihat Selengkapnya

      05 April jam 23:01 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎>
      Mbakyu …… kulo tingali sajake kok repot…… ngetan – ngilen….. hehehe….. (Kanjengmas Koko) yang punya rumah sendiri malah yang menjadi pendengarnya, hehehehehe……..

      05 April jam 23:02 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      He he he…..Leres mas Lathif……. untunge to… masalah Ken Dedes dan Ken Aron sudah tak cicil tadi siang…. nek ora aku iso mendem gadung tenan… padahal didinding saya sendiri cukup wedaran yang sangat amat berat karena itu sama halnya MEMBUKA KUNCI pada diri sendiri.
      Demikianlah kisah tragis pembunuhan dan pembalasan silih berganti, dendan turun menurun. Korban berjatuhan, nilai-nilai kemanusiaan ditinggalkan. Pelajaran berharganya adalah agar manusia selalu ingat akan arti Perdamaian.

      Pergolakan dan dendam memang tidak baik dan tidak perlu dicontoh. Beruntung sekali kesadaran untuk kedamaian muncul dari keturunan Ken Arok dan Ken Dedes yang gagah, cakap. Cerdas. Luhur, dan Agung. Contohnya adalah Raden Wijaya yang berbudi luhur menghantar mendirikan kerajaan baru yaitu Majapahit. Raden Wijaya tau Raja Kertanegara wafat karena diserang pasukan Daha Pura Raya dari selatan. Demikian pula patihnya yang sudah tua gugur. Bersama Rakyatnya Raden Wijaya kembali ke Tumapel Hadiningrat. Raden Wijaya melakukan pembalasan tetapi tidak berhasil sehingga timbul siasat saat Kebo Mundarang mengejar Raden Wijaya, ia naik keatas dan mengungsi disawah miring, saat Kebo Mundarang akan menusukan tombak Raden Wijaya menyepak tanah bekas tenggala. Muka dan dada Kebo Mundarang dipenuhi lumpur, hingga Kebo Mundarang mundur. Raden Wijaya membagi-bagikan ikat kepala berwarna merah, diberikan kepada Sora, Ranggalawe, Pedang, Dangdi, Gajah Sora, setelah usai membagi merekapun berangkat menyerang prajurit Daha Pura Raya dan banyak prajuri Daha yang mati, mereka mundur dan berkubu karena malam telah tiba. Saat musuh sedang tidur Raden Wijaya menyerang dan ngamuk dan Daha Pura Raya kalah.

      Raja Kertanegara mempunyai dua orang putri, yang akan dijodohkan dengan Raden Wijaya namun kedua putri itu ditawan oleh Daha Pura Raya, tetapi Raden Wijaya berhasil merebut putri sulung Raja Kertanegara, saat Raden Wijaya mau mengamuk mencari putri Bungsu Raja Kertanegara, dicegah oleh Sora, merekapun mundur dan berjalan kearah utara, tetapi prajurit Daha Pura Raya mengejar terjadilah perang, Ki Ageng Gajah Pangon terkena tombak tetapi masih bisa berjalan, Raden Wijaya tampak resah keluar masuk hutan akhirnya mereka bermusywarah untuk minta bantuan pada Wiraraja di Madura, dan mereka keluar dari hutan dan mendatangi Macankuping orang tertua di Pandakan, Raden Wijaya meminta sebuah kelapa muda, sesudah diberi diminumnya kemudian dibelah dan anehnya setelah kelapa dibelah isinya nasi putih. Raden Wijaya melihat Gajah pangon tidak mampu berjalan akhirnya dititipkan pada Macankuping dan disembunyikan didalam hutan. Raden Wijaya naik perahu. Prajurit Daha Pura Rayapun pulang membawa putri bungsu.

      Raden Wijaya sampai di perbatasan Sumenep singgah di sawah paginya melanjutkan perjalananya ke Sumenep. Mereka beristirahat di balai panjang. Sayanya disuruh berjaga apabila Wiraraja datang. Setelah Wiraraja datang menghadap dan Raden Wijaya menceritakan masalah yang dihadapinya juga niat Raden Wijaya minta dukungan telah disetujui Wiraraja akhirnya Wiraraja menyerahkan kain Sabuk dan Kain Bawah, Bapa Wiraraja sangat besar hutangku padamu kelak aku berhasil separoh tanah Jawa aku serahkan kepadamu janji Raden Wijaya. Lama Raden Wijaya tinggal di Sumenep dan suatu hari Wiraraja mengutarakan pendapat agar Raden Wijaya mengsaya pada Raja Jayakatwang apabila Raja Jayakatwang percaya hendaknya Raden Wijaya meminta hutan Terik. Di hutan itu dapat didirikan sebuah desa, adapun maksud Wiraraja menyarankan Raden Wijaya Mengsaya Raja Jayakatwang adalah agar dapat memperhatikan siapa saja yang setia dan yang tidak, juga dapat mengamati Kebo Mundarang, setelah semua teramati Raden Wijaya minta hutan terik yang sudah diubah oleh orang Madura, satu hal lagi apabila ada orang Tumapel yang masih setia hendaknya diterima dan orang Daha yang ingin mengsaya hendaknya diterima. Jika semua sudah dilakukan, prajurit Daha sudah tentu telah Raden Wijaya kuasai. Sekarang Wiraraja akan menulis surat untuk Raja Jayakatwang agar menerima Raden Wijaya yang bermaksud Mengsaya pada Raja Jayakatwang. Setelah surat dibaca dan mendapat sambutan baik. Keesokan harinya Raden Wijaya berikut rombongan dan dihantar oleh orang madura juga Wiraraja sendiri menuju Daha Pura Raya, dan setelah menghantar Raden Wijaya ke Daha , Wirarajapun mohon diri kembali ke Terung. Saat mereka sampai bertepatan peringatan Galungan para rakyat disuruh ambil bagian dalam perayaan. Para mentri Daha merasa heran terhadap pengikut Raden Wijaya karena mereka bersifat baik, ramah dan sopan, terutama Sora, Ranggalawe, Dangdi, Nambi, Pedang merekapun ikut merayakan permainan anggar, pengikut Raden Wijaya lawan pengikut Raja Jayakatwang. Dan Raden Wijayapun mengetaui bahwa para menteri Daha dapat dikalahkan oleh orang-orangnya… Lanjut ndak ???Lihat Selengkapnya

      05 April jam 23:24 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      Matur sembah nuwun Mbakyu……. Saya merasa semakin banyak mempunyai refrensi untuk anak-anak saya. Sekali lagi terima kasih……

      05 April jam 23:26 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Koko Puspo Handokoningrat Patut bersyukur BapaAbdul Lathif.amargi menika kawruh ingkang sae dipun tularaken putra wayah ing tembe mbenjang amrih mboten pupus sejarahipun.

      05 April jam 23:30 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      Lanjut toh Mbak…… Demi saya…… hehehe…….

      05 April jam 23:32 · SukaTidak Suka
    • Abdul Lathif ‎.
      Lha njih to, Kanjeng…….. untung saja saya tidak kebagian MP Sejarah……..
      Kalau saya pengang pelajaran itu, tentu kalau ada yang kurang, pasti tinggal ‘nyuwun pirsa’ sama Mbak Lia……
      Hehehehe…….

      05 April jam 23:33 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      Waduh…….. Di mana ini kelanjutannya, Kangmas KOko……
      Kuliahnya kok belum juga dimulai, ya…… Mahasiswanya sudah sejak tadi menunggu….. hehehe……

      06 April jam 12:44 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Nunggu ya mas Lathif… he he he sing kagungan Istana ra tanggung jawab ya mas Lathif….
      Selama tinggal di Daha Raden Wijaya sering mengirim surat pada Wiraraja dan Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya meminta hutan Terik. Raja Katong mengabulkan permintaan Raden Wijaya. Saat orang-orang mendirikan desa dan menebang pohon ada orang kelaparan karena kehabisan bekal, lalu memetik buah maja, ternyata maja itu pahit sehingga tempat itu dinamakan Majapahit. Raden Wijaya sudah dapat memperhitungkan keadaan Daha Pura Raya. Majapahitpun sudah berubah orang-orang yang menjalin hubungan dengan Daha Pura Raya beristirahat di Majapahit. Wiraraja berpesan agar Raden Wijaya pindah ke Majapahit dan segera menghadap Raja Katong. Permohonan Raden Wijaya dikabulkan. Raja Jayakatwang lengah karena sayangnya pada Raden Wijaya karena menilai Raden Wijaya Mengsaya kelihatan bersungguh-sungguh. Sesudah pindah ke Mojopahit Raden Wijaya memberi taukan Wiraraja bahwa menteri dan rakyat Daha Pura Raya tunduk padanya dan Raden Wijaya mengajak Wiraraja menyerang Daha Pura Raya, tetapi oleh Wiraraja permintaan Raden Wijaya ditolak karena Wiraraja masih mempunyai satu siasat dan punya perjanjian perdagangan dengan Raja Tartar yaitu putri-putri bangsawan taruhanya. Siasat Wiraraja pada Raja Tartar agar Raja Tartar ikut menyerang Daha Pura Raya bila Daha kalah putri-putri Bangsawan diserahkan Raja Tartar permintaan Wiraraja desetujui Raja Tartar. Wiraraja pindah kemajapahit beserta pengikutnya orang-orang Madura.

      Setelah tentara Tartar tiba terjadilah perang hebat di Daha Pura Raya, prajurit Tartar masuk dari arah Utara, sedang Prajurit Majapahit dan Madura masuk dari sebelah Timur. Raja Jayakatwang merasa bingung yang mana yang harus dijaga. Kebo Mundarang, Penglet dan Mahisa Rubuh menjaga prajurit sebelah timur. Penglet mati oleh Sora dan Kebo Rubuh mati oleh Nambi, Kebo Mundarang menghadapi Ronggolawe terpaksa lari di lembah Trinipati dan akhirny mati oleh Ronggolawe, sebelum mati Kebo Mundaring berpesan agar Sora menikahi putrinya. Raja Joko Katong yang dikeroyok orang Tartar akhirnya tertangkap dan ditahan orang Tartar. Kemenangan Majapahit atas bantuan orang Tartar melawan Daha Pura Raya menang dan sesampai Majapahit orang Tartar menagih janji untuk memboyong putri bangsawan. Maka bingunglah para menteri, Wiraraja dan Raden Wijaya. Akhirnya melalui suatu siasat dan terjadilah perang antara Majapahit dan orang Tartar. Semua orang Tartar mati. Selang sepuluh hari kemudian datanglah mereka yang perang dari Melayu. Mereka mendapatkan dua orang Putri, salah satunya dinikahi Raden Wijaya yang bernama Dewi Dara Petak. Sedang yang satu dinikahi oleh salah satu dewa yang bernama Dewi Dara Jingga dan melahirkan seorang anak Janaka bergelar Sri Marmadewa alias Raja Matrolot. Peristiwa Melayu dan Tumapel Hadiningrat bersamaan waktunya yaitu pada Thn Caka Pendeta Sembilan bBersemedhi 1197. Raja Katong naik Tahta pada Thn Caka Ular Muka Dara Tunggal 1198. setibanya Raja Katong di Junggaluh, ia mengarang Wukir Polaman. Setelah mengarang kidung beliau wafat…Lihat Selengkapnya

      06 April jam 13:47 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      ‎…. Raden Wijaya menjadi Raja pada Thn Caka Rasa Rupa Dua Bulan 1216, beliau memiliki anak lelaki dari Dara Petak bernama Raden Kalagemet. Sedangkan dua putri Bathara Syiwa Budha ( Raja Kertanegara) yang akan diberikan orang Tartar juga telah dinikahi oleh Raden Wijaya. Yang Sulung menjadi Ratu di Kahuripan dan yang bungsu menjadi Ratu di Daha Pura Raya. Raden Wijaya bergelar Sri Kertarajasa. Semasa pemerintahan beliau menderita bisul yang membengkak. Pada Thn 1257 beliau wafat di Candikan di Antapura….Lihat Selengkapnya

      06 April jam 13:47 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      ‎….. Raden Kalagemet menggantikan kedudukan Raden Wijaya menjadi dan bergelar Bathara Jayanegara Sri Syiwa Budha. Ia dibuatkan candi di Tumapel hadiningrat dengan nama Candi Purwo Patapan. Candi itu dibuat selang 17 Thn setelah peristiwa Ronggolawe. Peristiwa Ranggolawe akan dijadikan patih gagal. Ini menjadikan Ronggolawe berontak bersama kawan-kawanya, orang Tuban sebelah utara. Mereka semua setia pada Ronggolawe, diantaranya Panji Marajaya, Ra Jaran Waha, Ra Arya Sidi, Ra Lintang Tosan, Ra Galatik, Ra Tati. Ronggilawe meninggalkan Mojopahit karena Mahapati merebut kedudukanya dengan jalan fitnah dan Mahapati memberitaukan Raja Jayanegara bahwa Ronggolawe akan memberontak, sehingga Raja Jayanegara marah dan menumpas semua pengikut Ronggolawe. Yang tersisa adalah Ra Galatik karena ia membelot. Peristiwa itu terjadi pada Thn Caka Kuda Bumi Sayap Orang 1217.
      Wiraraja mohon diri untuk tinggal di Lumajang karena pemberian Raden Wijaya sesuai janjinya. Nambi menjadi Patih, Sora menjadi Demung dan Tipar menjadi Tumenggung. Wiraraja tidak mau kembali ke Mojopahit dan tidak mau mengsaya. Selang tiga tahun setelah peristiwa Ronggolawe terjadilah peristiwaSora difitnah oleh Mahapati dan memberi perntah Kebo Mundarang untuk membunuhnya peristiwa Sora Thn Caka Baba Tangan Orang 1222. nambi pun tidak luput dari fitnah Mahapati jasa-jasa perangya tidak diperhatikan. Tetapi nambi mendapat kesempatan karena Wiraraja menderita sakit, Nambi mohon ijin menengok Wiraraja, Sri Jayanegara memberi ijin tetapi tidak diijinkan lama. Namun Nambi tidak kembali ke Mojopahit malah membuat benteng di Lembah dan menyiapkan Prajurit. Wiraraja akhirnya meninggal.

      Masa pemerintahan Sri Jayanegara hanya berselang dua tahun karena Gunung Lungge meletus pada Thn Caka Apiapi Tangan Satu 1233.
      Dan pada Thn Caka Keinginan Sifat Sayap Orang 1235 Juru Demung tewas.
      Pada Thn Caka Rasa Sifat Sayap Orang 1236 terjadilah peristiwa Gajah Biru, terus peristiwa Mandana. Raden Jayanegara sendiri yang melenyapkan orang-orang Mandana. Sesudah itu ia pergi ke arah timur untuk melenyapkan Nambi. Dan saat itu Nambi diberi tau bahwa Juru Demung sudah tewas, demikian pula patih pengasuh Tumenggung Jaran Lejong semua menteri pemberani gugur dalam perang. Mojopahit datang Nambi mulai mengdakan penyerangan Derpana, Samara, Wirot, Made Windan, Jangkung pun mulai bertindak, Jabung Terewes, Lembu Peteng, dan Ikak-ikalan Bang secara bersamaan menyerang Nambi. Sehingga Nambi dan para sahabatnya gugur semua,. Perlawanan di Rabut (Buhayabang) dapat dikalahkan. Orang-orang dari sebelah timur mencabut payung kebesaran Lumajang pada Thn caka Ular Menggigit Bulan 1238.

      Peristiwa Wagal dan Mandana terjadi secara bersamaan waktunya. Selang dua Thn terjadilah peristiwa Lasem. Semi dibunuh dan mati dibawah pohon kapuk pada Thn Caka Bukan Kitab Suci Sayap Orang 1240. setelah itu terjadilah peristiwa Ra Kuti. Ada tujuh orang Darmaputra Raja, yang dahulu mereka mendapat anugrah Raja, mereka adalah Ra Kuti, Ra Pangsa, Ra Wedeng, Ra Yuyu, Ra Tanca dan banyak lagi. Ra Kuti dan Ra Semi dibunuh karena fitnah Mahapati. Karena ketauan selalu melakukan fitnah Mahapati ditangkap dan dibunuh seperti membunuh babi hutan. Semasa Ra Kuti masih hidup, Raja Jayanegara bermaksud pergi sendiri ke Bedander di waktu malam hari agar tidak ada yang tau. Yang mengawal hanya bayangkara saja dan berjumlah 15 orang dipimpin Gajah Mada. Setelah lima hari Gajah Mada mohon pamit kembali ke Mojopahit dan Raja Jayanegara dititipkan pada seorang kepala desa Bedander.
      Sesampai di Mojopahit gajah Mada mengadakan kesepakatan bersama untuk membunuh Ra Kuti berikut pengikutnya. Akhirnya setelah Ra Kuti dibunuh Raja Jayanegara kembali ke Mojopahit, sekembalinya Raja, Gajah Mada tidak lagi menjadi kepala Bayangkara tetapi dinobatkan menjadi Patih. Dan sat patih Daha Pura Raya Sang Arya Tilam meninggal Patih Gajah Mada menggantikannya sebagai patih di Daha Pura Raya dengan persetujuan Patih Mangku Bumi Sang Arya Tadah.

      Raja Jayanegara mempunyai dua adik perempuan dan lain ibu tidak boleh menikah dengan yang lain kecuali denganya. Banyak ksatria Mojopahit menyembunyikan diri karena takut dibunuh oleh Raja Jayanegara dikarenakan tuduhan Raja Jayanegara yang mengiginkan dua orang adiknya. Saat itu Raja Jayanegara menderita sakit bengkak. Gajah Mada menuntut Ra Tanca untuk membedah penyakit Raja Jayanegara. Kesempatan Ra Tanca membalas sakit hati atas perilaku Raja Jayanegara atas keluarganya. Kesempatan itu digunakan ditusuknya sang Raja hingga tewas setelah jimat Raja dilepas. Tetapi Ra Tanca mati dibunuh Gajah Mada. Peristiwa Ra Kuti dan peristiwa Ra Tanca berselang 9 Thn. Pada Thn Caka Abu Unsur Memukul Raja 1250. Ra Tanca dimakamkan dan dibuatkan Candi di Kapompongan. Nama Candi itu Srenggapura yang artinya di Antawulan. Setelah Raja Jayanegara meninggal para ksatria berani menginjakkan kaki di Mojopahit lagi. Dalam sebuah sayenbara Raden Cakradara dipilih menjadi suami Sri Ratu di Kahuripan. Raden Merta menikah dengan Sri Ratu di Daha Pura Raya. Raden Kuda Merta menjadi Raja di Wengker. Sementara Sri Paduka Prameswara menjadi Raja di Pamotan, bergelar Sri Wijaya Rajasa. Putra Raden Cakradara menjadi Raja di Tumapel Hadiningrat dengan gelar Sri Kertawardana. …Lihat Selengkapnya

      06 April jam 13:48 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      ‎…. Sri Ratu di Kahuripan menjadi Raja pada Thn Caka Sunyi Keinginan Sayap Bumi 1250. Sri Ratu di Kahuripan mempunyai 3 orang anak bernama, Bethara Prabu yang di panggil Sri Hayam Wuruk, Raden Tetep saat bermain kedok dalang Tritaraju berperan sebagai wanita, lalu Pager Antimun saat bermain wayang dan melawak Gagak Ketawang. Di kalangan Syiwa Empu Janeswaranama yang bergelar Sri Rajasanegara bertindak sebagai Prabu. Sri Baginda Sang Hyang Wekasing menyukainya. Adik perempuanya menikah dengan Raden Larang yang desebut Baginda Metahun. Ia tidak mempunyai seorang anak. Adiknya yang bungsu Sri Ratu Kahuripan, istri Baginda di Gundal dicandikan di Sajabung nama resmi Candi itu Braja Jinaparitapura. Kemudian terjadilah peristiwa Sadeng. Tadah yang menjadi Patih Mangkubumi menderita sakit. Mendadak tidak bisa menghadap dan mohon mengundurkan diri, permintaan itu tidak dikabulkan oleh sri Ratu Kahuripan. Sang Arya Tadah kembali pulang dan memanggil Gajah Mada untuk menjadi patih di Majapahit, mesti tidak berpangkat Mangku Bumi. Banyak nasehat Sang Arya Tadah yang diberikan Gajah Mada, akhirnya berangkatlah Gajag Mada menuju Sadeng, para menteri araraman dibohongi dan Patih Mangkubumi Kena tipu perihal Kembar telah mengepung Sadeng. Para menteri menyampaikan pesan dari Patih Mangkubumi kepada Kembar dan Kembar berkata “dalam peperangan ini aku tidak akan mengindahkan siapapun, termasuk paduka kalian” orang yang menyampaikan pesan lalu pergi dan menyampaikan semua yang dikatakan Kembar. Gajah Mada merasa diperolok, orang Sadeng kemudian dikepung. Tuan Waruju adalah seorang Dewa putra Pamelekan. Saat cambuk dibunyikan terdengar diluar angkasa. Oarng Majapahit terperanjat. Sang Sinuhun segera datang untuk mengalahkan orang Sadeng. Peristiwa Sadeng terjadi tiga tahun setelah peristiwa Ra Tanca yaitu pada Thn Caka Tindakan Unsur Lihat Daging 1256. sekembalinya Kembar dari Sadeng, ia menjadi Bekel Menteri Arman. Gajah Mada menjadi Anghabehi, Jaran Baya, jalu, demang Buyang, Gagak Minge, Jenar dan Arya Rahu mendapat pangkat, Lembu Peteng menjadi Tumenggung.

      Gajah Mada menjadi Patih Mangkubumi ia tidak mau beristirahat sebelum mengalahkan Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik. Gajah Mada di olok Kembar mendengar sesumbar Gajah Mada, dan Kembar dilaporkan Raja Kahuripan. Raja marah, kemarahan ini disampaikan pada Arya Tadah. Dosa Kembar sudah banyak. Warakpun dilenyapkan. Mereka semua mati. Peristiwa orang Sunda di Bubat, Sri Baginda menginginkan seorang putri Sunda. Patih Madu diperintah, orang Sunda tidak keberatan mengadakan pertalian perkawinan. Raja Sunda berangkat ke Majapahit, maksud Raja Sunda tidak mempersembahkan putrinya tetapi bertekat untuk berperang. Orang sunda akan mempersembahkan putri raja tetapi para Bangsawan melarang, lebih baik gugur dimedan perang Bubat dari pada menyerahkan Putri Sunda. Para kesatria Sunda yang semangat, Larang Agung, Tuhan Sohan, Tuhan Gampong, Panji Melong, orang-orang daro Tobong Barang, Rangga Cahot,Tuhan Usus, Orang Pangulu, orang Saya, Rangga Kaweni oarang siring, Satrajali, dan Jagatsaya. Semua rakyat sunda bersorak diiringi dengan bunyi bende. Sang Prabu Maharaja gugur bersama Tuhan Usus.

      Sri Baginda Parameswara berangkat ke Bubat beliau tidak tau kalau masih banyak orang sunda yang belum gugur. Para bangsawan terkemuka menyerang orang Majapahit sampai kocar-kacir. Orang Sunda yang yang melakukan perlawanan adalah, Arya Sentong, Patih Gowi, Patih Margalewih, Patih Teteg dan Jaran Baya semua berperang dengan naik kuda, semua orang Sunda menyerang tempat Gajah Mada dan terjadilah perang yang mengerikan semua orang Sunda gugur tidak ada yang tersisa, peristiwa itu terjadi pada Thn Caka Sembilan Kuda Sayap Bumi 1279 terjadinya peristiwa Sunda itu bersamaan waktunya dengan peristiwa Dompo. Gajah Mada kemudian menikmati masa istirahat, Ia menjadi Mangkubumi selama sebelas Thn.

      Karena putri Subda telah tewas, Bathara Prabu menikahi Paduka Sori- putri Baginda Parameswara dalam perkawinanya mempunyai anak satu perempuan bernama Sri Ratu di Lasem Sang Ayu. Sedang perkawinanya dengan yang lain menghasilkan anak bernama Baginda Wirabumi yang diangkat Sri Ratu di Daha Pura Raya. Sri Ratu di Pajang mempunyai 3 orang anak, Sri Baginda Hyang Wisesa (Gagaksali) dan Ia menjadi Raja dengan nama Aji Wikrama dan kawin dengan Sri Ratu di Lasem (Sang Ayu) ia punya anak bernama Sri Baginda Wekasing Suko, Sri Ratu di Lasem Sang Alemu ia dikawin dengan Baginda Wirabumi, sedang yang ke 3 juga perempuan dan menjadi Sri Ratu di Kahuripan,sedang anak Baginda yang lain ada di Tumapel Hadiningrat adalah Raden Sotor, yang menjadi Hino di Koripan, namun pindah di Daha Pura Raya. Seterusnya ia menjadi Hino di Majapahit, ia mempunyai anak laki-laki bernama Raden Sumirat yang kawin dengan Sri Ratu di Kahuripan. Ia menjadi Raja dengan sebutan Baginda da Pandan Salas.

      Kemudian terjadilah peristiwa selamatan roh nenek moyang yang dinamakan Srada Agung pada Thn Caka Empatular Dua Tunggal Atu 1284. Sang Patih Gajah Mada wafat pada Thn Caka Langit Muka Matabulan 1290. Gajah Engon sudah 3 Thn bertekat menjadi Patih dan pada Thn Caka Sifat Sembilan Sayap Orang 1293 ia menjadi Patih. Sri Ratu di Daha Pura Raya wafat dan di Candikan di Adilangu dengan nama Candi Gunung Purwowiseso. Sri Ratu di Kahuripan wafat di candikan di Panggih dengan nama Candi Gunung Pantarapura….Lihat Selengkapnya

      06 April jam 13:50 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      ‎….Terjadilah Gunung Baru pada Tahun Caka Ulat Liar Telinga Orang 1298 peristiwa Gunung Meletus terjadi pada Minggu Madasio Thn Caka Pendeta Sunyi Sifat Tunggal 1307.
      Baginda di Tumapel Hadiningrat wafat di Sunyijalaja pada Thn Caka gajah Sunyi Tindakan Ekor 1308 beliau dicandikan di Japan dengan nama Candi Sarwajapurwo.
      Baginda Hyang Wiseso mempunyai anak:
      1. Sri Baginda Tumapel Hadiningrat
      2. Sri Ratu Prabu Stri yang kemidian bernama Dewi Suhito
      3. Sri Kertawijaya
      Baginda Pandan Salas mempunyai anak:
      1. Baginda Koripan atau Hyang Parameswara (Aji Ratna Pangkaja)
      2. Sri Ratu Lasem
      3. Seorang wanita yang diambil Baginda dari tumapel Hadiningrat
      Baginda Wirabumi mempunyai anak:
      1. Baginda Pakembangan
      2. Sang Ratu Mataram, kawin dengan Baginda Hyang Wiseso
      3. Sang Ratu Lasem
      4. Sang ratu Matahu
      Baginda di Tumapel Hadiningrat mempunyai anak laki-laki yang menjadi Raja Wengker. Ia kawin dengan Sri Ratu matahun. Anak yang kedua menjadi Raja di Paguhan. Sedang anak yang ketiga lahir dari istri mudanya bernama Sri Ratu Jagaraga ia kawin dengan Baginda Parameswara, namun tidak mempunyai anak. Sementara anak yang keempat adalah Sang Ratu Tanjungpura kawin dengan Baginda di Paguhan, ia juga tidak mempunyai anak dan yang kelima Sang Ratu di Pajang juga kawin dengan Baginda Paguhan juga tidak mempunyai anak.

      Baginda di Keling kawin dengan Sri Ratu di Kembang Jenar. Sedang anak laki-laki Baginda di Wengker adalah Baginda Kabalan. Baginda Paguhan mempunyai seorang anak dari golongan ksatria ia adalah Sri Ratu di Singapura dan kawin dengan Baginda Pandan Salas. Baginda Parameswara di Pamotan wafat pada Thn Caka Langit Pamenggigit Bulan 1310 Beliau dicandikan di Manjar dengan nama Candi Wisnu Bawanapura. Sri Ratu Matahun wafat dicadikan di Tigawangi nama Candi Kusumapura. Paduka Sori wafat Sang Ratu di Pajang wafat dicandikan di Embul dengan nama Candi Giridrapura. Baginda Pagua wafat dicadikan di Lobencal dengan nama Candi Parwatigapura. Baginda Hyang Wikasing Suko wafat pada Thn Caka Bumirupo Bapak itu 1311. baginda Hyang Wiseso dinobatkan menjadi Raja kemudian terjadi Gunung Meletus dalam minggu Prangbakat pada Thn Caka Muka Orang Tindakan Ular 1317. selanjutnya Gajah Enggn meninggal dunia pada Thn Caka Sunyi Sayap Tidakan Orang 1320. Gajah Enggon menjadi Patih 27 Thn. Baginda Hyang Wekasing Suko mengankat Gajah Manguri menjadi Patih. Baginda Hyang Wekasing Suko wafat di Indra Bawana pada Thn Caka Orang mata Api Bulan 1321 dicandikan di Tanjung dengan nama Candi Parama Sukapura….Lihat Selengkapnya

      06 April jam 13:50 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      ‎…. Baginda Hyang Wisesa menjadi Pendeta pada Thn Caka MataSayap Api Bulan 1322. Sri Ratu Bathara dinobatkan menjadi Raja. Sang RAtu Lasem wafat di Kawisyadaren dan dicandikan di Pabangan dengan nama Candi Laksmipura. Sang Ratu di Kahuripan wafat, Sang Ratu Gemuk yang adalah Sang Ratu di Lasem wafat. Baginda di Pandan Salas wafat dicandikan di Jinggan dengan nama Candi Sri Wisnupura. Baginda Hyang Wisesa berselisih dengan Baginda Wirabumi. Mereka tidak pernah tegur sapa sampai mereka wafat peristiwa ini terjadi Thn Caka 1323. tiga tahun kemudian terjadilah huru-hara keduanya mengumpulkan orang-orangnya. Baginda di Tumapel Hadiningrat dan Baginda Hyang Paramerwara diminta datang, “siapa yang mesti diikuti” maka terjadilah perang , Kedatuan Barat kalah. Baginda Hyang Wisesa menderita masygul dan bertekat akan pergi. Baginda Parameswara dan Baginda Tumapel berkata kepadanya “ jangan tergesa-gesa pergi saya akan melawan” Baginda Hyang Wisesa menurut dan mengumpulkan orang-orangnya lagi dengan dipimpin oleh Baginda di Tumapel dan Baginda Parameswara. Kedatuan timur kalah.

      Baginda di Daha Pura Raya ditangkap oleh Baginda Hyang Wisesa, dan dibawa kebarat, Baginda Wirabumi pergi pada malam hari naik perahu dan dikejar oleh Raden Gajah atau Ratu Angabaya, Baginda Narapri. Baginda Wirabumi terkejar lalu dibunuh, dipenggal kepalanya dan dibawa ke Majapahit untuk dicandikan di Lung (Gorisapura) pada Thn Caka Ular Menggigit Bulan 1328. pada tahun ini terjadi huru-hara.
      Empat tahun kemudian terjadi Gunung Meletus di Minggu Julung Pujut, pada Thn Caka Tindakan Kitab Suci Sifat Orang 1343. gajah Lembono meninggal pada Thn Caka Apiapi Tindakan Bumi 1335. Kanaka menjadi Patih selama 3 Thn. Sri Ratu di Daha Pura Raya wafat. Sri Ratu di Matthun wafat. Sri Ratu di Matram wafat.
      Seterusnya terjadi peristiwa selamatan pelantaran besar pada Thn Caka Gajah Tindakan Mengunjak Tanah 1338. lalu terjadi larang pangan kekurangan pangan yang sangat lama pada Thn Caka Ular Jaman Menggigit Orang 1348. baginda di Tumapel wafat pada Thn Caka Sembilan Jaman Tindakan Orang 1349 dicandikan di Lokerep dengan nama Candi Amarasab. Baginda yang di Wengker wafat dicandikan di Sumengka, Baginda Hyang Wisesa wafat di candikan di Lalangon dengan nama Candi Parama Wisesapura. Sang Ratu Prabu istri wafat pada Thn Caka Rupa Angin Api Bulan 1351. Tuhan Kanaka meninggal pada Thn Caka Sayap Luka Sikap Orang 1363. Tujuh belas Thn lamanya menjadi patih. Sri Ratu Lasem wafat di Jinggan, Baginda di Pandan Salas wafat, Raden Jagulu. Raden Gajah dilenyapkan karean memenggal kepala Baginda Wirabumi, pada Thn Caka Unsur Memnah Telur Tunggal 1355.
      Sri Ratu Daha Pura Raya menjadi Raja pada Thn Caka Sembilan Lima Api Bulan 1359. Baginda Parameswara wafat di Wisnubawono pada Thn Caka Ular Golongan Api Bulan 1368 dicandikan di Singajaya. Baginda Keling wafat dicandikan di Apa-apa.
      Sri Ratu Prabu Istri wafat pada Thn Caka Sembilan Rasa Api Bulan 1369 dan dicandikan di Singajaya.

      Baginda Tumapel Hadiningrat mengantikan menjadi Raja. Baginda di Paguhan melenyapkan orang-oarang di Tidung Galating, dan ini dilaporkan di Majapahit terjadilah peristiwa gempa bumi pada Thn Caka Sayap Golongan Menggigit Bulan 1372. Baginda di Paguhan wafat di Janggu dicandikan di Subyantara. Baginda Hyang wafat dicandikan di Puri. Baginda di Jagaraga wafat. Sri Ratu di Kabalan wafat dicandikan menjadi satu di Sumengka. Sri Ratu di Pajng wafat dicandikan di Sabyantara. Lalu terjadi Gunung Meletus di Minggu Kuningan pada Thn Caka Belut Pendeta Menggigit Bulan 1373. baginda Prabu wafat pada Thn Caka Api Gunung Tindakan Ekor 1373 nama Candi Kertawijayapura. Baginda di Pamotan menjadi Raja di Keling Kahuripan bergelar Sri Rajasawardana. Sang Si Naga wafat dicandikan di Sepang pada Thn Caka Keinginan Kuda Menggigit Orang 1375. selama tiga Thn tidak ada Raja, lalu Baginda Wengker menjadi Raja bergelar Baginda Hyang Purwo Wiseso pada Thn Caka Pendeta Tujuh Api Menggigit Bulan 1378. lalu terjadi peristiwa Gunung Meletus di Minggu Landep pada Thn Caka Empat Ular Tiga Pohon 1384. baginda di Daha Pura Raya wafat pada Thn Caka Golongan Pendeta Api Tunggal 1386. baginda Hyang Purwo Wiseso wafat dicandikan di Puri pada Thn Caka Pendeta Ular Api Bulan 1388. lalu Baginda Jagaraga wafat. Baginda di Pandan Salas menjadi Raja di Tumapel lalu menjadi Baginda Prabu pada Thn Caka Pendeta Ular Tindakan Tunggal 1388. beliau menjadi Prabu selama 2 Thn. Seterusnya ia pergi dari Istana. Anak-anak Sinaraga menjadi Baginda di Kahuripan, Mataram, di Pamotan dan yang bungsu di Kertabumi. Ini adalah paman Baginda yang wafat di dalam kedaulatan pada Thn Caka Sunyi Tidaka Jaman Orang 1400. lalu terjadi lagi peristiwa Gunung Meletus….Lihat Selengkapnya

      06 April jam 13:51 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia T A M A T……………………...

      06 April jam 13:52 · SukaTidak Suka · 5 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎.
      Alhamdulillah……… Matur sembah nuwun Mbakyu, semoga menjadi amal sholehah…… Amin…..\

      06 April jam 14:40 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • Abdul Lathif ‎>
      Kanjengmas Koko…….
      kulo sampun kabul mata kuliah 4 semester , panjenengan malah sareh …… hehehe……

      06 April jam 14:56 · SukaTidak Suka · 1 orangKoko Puspo Handokoningrat menyukai ini.
    • Koko Puspo Handokoningrat waduh sampun lega raos ing ati saget pikantuk carios bab sejarah Singasari ngantos Majapahit.. matur nuwun banget ya diajeng ..aku atur agunging pamuji marang selirane .

      06 April jam 17:05 · SukaTidak Suka · 1 orang

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on April 26, 2011, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: