Pohon Bambu dan Padi oleh Bunda Lia pada 20 Mei 2011 jam 18:08

Pohon Bambu dan Padi

oleh Bunda Lia pada 20 Mei 2011 jam 18:08
Pohon Bambu dan Padi
Di suatu pinggiran bukit terdapat rumpun pohon bambu dan sepetak sawah yang ditanami padi. Letak kedua tumbuhan itu berdekatan, hanya selemparan batu saja jaraknya. Suatu ketika sebatang pohon bambu menegur serumpun padi.

Wahai padi yang mungil dan loyo, semakin hari kulihat tubuhmu bukannya semakin tinggi dan kuat layaknya tubuhku. Melainkan semakin loyo dan bungkuk. Apa kamu tidak iri akan kekuatanku ini? Kamu pasti selalu mendengar suara kami tatkala kami melatih tubuh kami dengan saling mengadunya satu sama lain. Tapi bagaimana dengan dirimu? Jangankan mengadu tubuh, menahan tubuhmu agar tetap tegak saja tidak mampu,” ejek si Bambu.

Dengan tenang si Padi pun menjawab, “Aku tidak iri dengan semua kehebatan yang kamu miliki. Aku juga sadar akan keadaanku yang seperti ini. Tapi aku mencoba untuk mensyukuri anugerah yang sudah aku terima selama ini. Dan aku mencoba untuk bisa menjadi berguna bagi makhluk hidup lainnya. Itulah prinsip hidupku.”

Si Bambu berkomentar lagi, “Wah, kalau aku menjadi dirimu dengan keadaanmu yang seperti itu, pastilah aku akan protes. Aku tidak bisa terima sedikitpun.”

Beberapa masa kemudian, si Bambu tumbuh semakin menjulang tinggi. Badannya semakin kuat dan keras. Ketika beradu dengan bambu yang lain pun suaranya semakin keras memekakan telinga. Sedangkan si Padi bukannya menjadi tinggi, tapi malah semakin menunduk dan loyo. Bukan hanya itu saja, warna tubuhnya pun semakin memudar seperti makhluk yang dihinggapi aneka macam penyakit. Belum lagi beberapa bagian tubuhnya yang mulai ditumbuhi benjolan yang besar-besar.

Suatu hari ada seorang pemuda yang mendekati kedua tumbuhan tersebut. Pertama, ia mendekati rumpun-rumpun padi. Dia mengeluarkan sabitnya yang kecil dan mulai menebas rumpun padi itu satu per satu sampai akhirnya terkumpullah semua rumpun padi yang tumbuh di sawah itu. Kemudian dia mengumpulkannya dan menggilingnya untuk mengambil benjolan-benjolan yang ada pada tubuh si Padi. Ternyata benjolan-benjolan itu adalah bulir-bulir beras. Ia pun mengumpulkan beras beras tersebut dalam sebuah karung dan membawanya pulang untuk makanan pokok keluarganya.

Setelah itu barulah ia mengeluarkan sebilah parang yang cukup besar dan tajam. Berkali-kali diayunkan dan ditebaskannya ke tubuh si Bambu, sampai akhirnya pohon bambu tersebut tumbang. Kemudian dengan gergaji dia memotong-motong bambu tersebut menjadi beberapa bagian yang pendek-pendek. Setelah itu dia membelah lagi bambu tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih tipis, lalu mengikatnya menjadi satu dan membawanya pulang. Potongan bambu kecil-kecil itu kemudian diserutnya dan dibersihkannya untuk kemudian dijadikan kandang ayam di belakang rumah.

Saudaraku semua yang terkasih…. semua pasti pernah mendengar falsafah padi, semakin berisi semakin menunduk. Dan kalau boleh bisa juga ditambahkan semakin tua semakin menunduk. Dan pada saatnya tiba, maka ia akan dijadikan santapan sehari-hari manusia. Sebuah penghargaan yang sangat tinggi !
Filsafat padi menggambarkan suatu kerendahan hati yang seharusnya dimiliki setiap orang. Semakin tua dan semakin berilmu atau berpengalaman seseorang, hendaknya semakin dipenuhi dengan kerendahan hati. Dan pada saatnya nanti dia akan meraih suatu kesempurnaan yang jauh lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan.

Dan coba teman-teman bayangkan dengan nasib si Bambu. Di saat ia masih menjadi tanaman bambu, ia berdiri menjulang tinggi dan kokoh. Badannya kuat, bahkan untuk memotongnya saja diperlukan beberapa kali tebasan dengan menggunakan parang yang tajam dan besar. Tapi apa yang terjadi begitu ia sudah tumbang? Ia dipotong kecil-kecil dan tipis. Kemudian sekedar dijadikan pagar untuk kandang ayam. Kotor dan bau! Jauh dari kesempurnaan yang selama ini diagung-agungkannya semasa ia masih menjadi tanaman bambu.

Begitu pulalah kalau seseorang itu selalu memelihara sifat tinggi hati dan keras hati selama hidupnya. Pada waktunya nanti bukanlah kesempurnaan yang diraihnya, melainkan tempat hinalah yang akan ia diami.
Dunia ini panggung sandiwara penuh fatamorgana oleh sebab itu jangan tertipu oleh kilauannya. Kalau melihat seseorang yang lebih rendah jangan langsung dihina, siapa tahu Allah langsung mengangkat derajatnya karena kebersihan hatinya. Karena kita tidak tahu bagaiman hati seseorang. Begitu pula kalau ada seseorang yang terlihat mempunyai derajat mulia, jangan langsung dipuji, siapa tahu Cuma kosong tidak berisi, karena hatinya tidak pernah berdzikir.

Tidak SukaSuka · · Bagikan · Hapus

    • Bayu Pur wah luar biasa bunda……..semoga kita semua yg membaca ini bisa meniru ilmu padi semakin berisi semakin menunduk….jauh dari rasa sombong….amin
      20 Mei jam 18:17 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo sugeng ndalu bunda…wedaran yg sngt bagus…tp susah wong bnyk lupanya … klo keinjek kn sakit…katanya… salamku bunda
      20 Mei jam 18:17 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Christine Wae sesungguhnya segala sesuatu diciptakan untuk suatu maksud. Hanya karena kita tidak seperti orang lain, dan orang lain tidak seperti kita, maka kita dan org lain beranggapan saling berbeda…

      Maka … tanpa bilahan bambu itu pun ….. ayam2 akan bermalam di udara terbuka dan tak memiliki tempat nyaman untuk bertelur …

      Have a nice weekend, everbody …

    • Wisang Geni sugeng ndalu ugi salam damai sejahtera selalu…..
      bagus sekali tema dan isi dari wedaran Bunda Lia… akan saya jadikan catatan buat diri saya pribadi…… matur nuwun……
      20 Mei jam 18:32 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Kang Sabarikhlas semoga kita tak hanya cepat memahami tapi juga niat menjalani falsafah ‘padi’.
    • Awan Baraya Galuh Putra jadilah seperti pohon padi smakin berisi semakin menunduk..jangan seperti pohon bambu,semakin meninggi semakin membungkuk..pepatah kuno..
      20 Mei jam 18:35 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Tapi ternyata nikmat lo hidup dalam kandang ayam…..hehehehe….soalnya aku sudah membuktikan sejak lahir hingga tuwek kini hahahaha….hahahaha….rahayu rahayu rahayu
    • Bunda Lia
      Selamat malam … sugeng dalu poro kadang… saudaraku terkasih… kinasih…. Rahayu Wilujeng …. dimalam hari ini …. sungguh bahagia hari ini dapat bertemu lagi… salam kasihku nan tulus untuk semuanya…. sebelum kita mulai wedaran saya mohon maaf tak dapat menyebut satu persatu karena sudah banyak poro kadang yang hadir dan saya sangat bahagia sekali… matur nuwun sanget bisa mendengar komentar langsung dan melihat jempol2 untuk catatan saya…. sekali lagi terimakasih… selamat malam….Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 18:56 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Pangeran Joyo Kusumo benar adanya… Suatu contoh yg sederhana namun bermakna luar biasa… Damai slalu saudaraq smua… Rahayu…3x
    • Bunda Lia Pada dasarnya Padi dan bambu sangat sama2 berperannya bagi kita dan sangat kita butuhkan sekali…. jadi semua sama ….. tanpa ada yang kita pilah… pilih… salam kasih…..
      20 Mei jam 18:57 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Bayu selamat malam ….
      20 Mei jam 18:58 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Ariyo… hemmm malam mas salam kangen
      20 Mei jam 18:58 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia C histin say selamat malam salam kasih dan salam kangenku saya… salam buat keluarga… C2A2 ya say…
    • Bunda Lia Kang Petruk salam kangen penuh kasih….
    • Bunda Lia Kang SabarIkhlas… selamat malam mas bukan hanya padi saja tentunya bambupun mesti kita pelajari… matur nuwun… salam kasihku mas.
      20 Mei jam 19:01 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kang Dullah salam kangen yo kang salam kasih untuk keluarga semua…
    • Bunda Lia Mas Awan selamat malam mas salam say…
    • Bunda Lia Mas Wisang sugeng dalu salam kangen… salam kasih salam say….
      20 Mei jam 19:02 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Hehehehe….slamet to Den Ayu….hehehehe….
    • Cipto Turonggo Kawedar sugeng ndalu bunda lia,sugeng ndalu sdoyo kemawon…”bunda” namung absen lah kulo tumut sinau saking wingking mawon..”.
    • Putrie Ragiel Trisno Hadiiir..Good malam semuanya, Bunda Emaaaach…….~♥ஜ♥ ……
      20 Mei jam 19:07 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Cipto Sugeng dalu mas mugi tansah Rahayu Wilujeng … monggo kito sami2 sinau mas… kulo piyambak taksih betah sinau mas…. sareng2 njih…
      20 Mei jam 19:08 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia Jeng Putrie say… salam kangen… salam kasih salam sayangku untukmu dan keluarga say…
    • Bunda Lia Alhamdulillah kang… Senin bengi ngidulo yo kang….
    • Ariyo Hadiwijoyo salam kangen bunda…dikau tega diem tnpa pesan…bkin org skit…smoga rahayu bunda…i love you
      20 Mei jam 19:11 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Love U to… mas Ariyo… bikinlah PPmu dengan gambar pagi mas Aryo….
      20 Mei jam 19:12 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Terlukis oleh aku, sangat sedikit orang yang mau berurusan dengan pohon-pohon bambu, bagi sebagian besar orang bambu tidaklah menarik, mereka hanya tahu bambu adalah alat bantu untuk keperluan kerjaan kasar saja,dan murah mudah dibuat, bekas pakainya paling hanya untuk dibakar saja. Memang begitulah, pokok bambu siap membuat gatal-gatal orang yang coba-coba memegangnya, kumpulan pohon bambu bisa membuat orang tidak nyaman karena dirasa angker dan bau klenik, aura mistis. Namun bagiku pohon bambu adalah teman, bambu banyak memberi manfa’at, dari akar sampai pucuknya, dari rebung sampai bilahnya sungguh bermanfa’at, orang kampung sungguh banyak diuntungkan……Lihat Selengkapnya

    • Ariyo Hadiwijoyo iya bunda…mksih…ntr klo bs tk gantinya
    • Bunda Lia
      Pohon bambu tidak hanya bermanfaat dalam arti fisik saja, tapi bagiku banyak filosofi yang diajarkan oleh pohon bambu ini. Bambu adalah pohon yang sangat kuat, untuk menebang dan mengambilnya saja sulit bukan main, dia tumbuh menjulang tinggi. Namun begitu bambu tdak pernah menyombongkan diri, walau dia kuat kokoh dan mampu menjulang tinggi, dia selalu berusaha berkelompok dan saling menjalin kekuatannya supaya lebih kokoh lagi. Bambu selalu menjalin harmonisasi dengan kelompok tetangganya sehingga selau menciptakan keteduhan, keamanan dan kenyamanan bagi siapa saja yang disekelilingnya, baik manusia, hewan, atau tumbuhan sekalipun. Baik hewan terbang maupun yang merayap. Biarpun tumbuh menjulang namun bambu selalu rendah hati, merunduk kebawah hingga dapat menyapa siapa pun, baik rebung, pokok muda, maupun pokok tua semua mampu memberikan manfaat dan selalu merunduk walaupun masih muda.Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 19:17 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Wisang Geni terima kasih Bunda Lia….. salam rinduku dan sayangku selalu….. dan tdk lupa doa kami selalu…… semoga bunda diberi kesehatan serta kekuatan utk menjalankan aktifitas….amin….
      ______________ L..O..V..E.. U…_______________
      20 Mei jam 19:25 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Padi, hampir semua orang menyukainya baik orang desa maupun orang kota dan itu hanya disebabkan padi dapat membuat kenyang nantinya! Hanya bulir berasnya saja yang bisa dimanfaatkan 100%, lainnya tidak. Jeramihnya hanya bisa dimanfaatkan 30% saja kalau tidak ditelantarkan 100%, tidak banyak manfaat dari sekamnya paling untuk dibakar atau alas kandang ayam. Padi hanya bisa dimanfaatkan setelah tua saja, masa mudanya tidak banyak bermanfaat dan justru menyita banyak perhatian supaya bisa tumbuh dengan baik, kalau tidak maka dia dia akan mati layu. Namun padi membuat sumua orang memujanya dan itu hanya karena berasnya bisa membuat kenyang. Bandingkan dengan bambu, bahkan padi bagi sebagian masyarakat mempunyai dewi tersendiri yaitu Dewi Sri, tak ada Dewa Bambu, sungguh fenomenal. Namun padi adalah padi dimana semua orang membutuhkan keberadaanya, sehingga dia menjadi sangat berharga walau hanya sedikit manfaat yang diberikannya, yaitu membuat kenyang. Dan yang pasti semakin mampu mengisi diri, semakin dalam dia merunduk , walaupun tidak punya tubuh yang sangat kuat dan sangat tinggi namun senantiasa berusaha mengisi diri untuk memberikan manfaatnya kepada orang lain biarpun harus berat menahan beban.Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 19:25 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Inilah hukmah yang bisa aku tarik dari sensasi perjalanan aku, sebaiknyalah kalau aku membekali diri dengan berjuta kemampuan bahkan dengan bermilyar kemampuan terbaik supaya dapat banyak menghasilkan manfaat, namun bila berjuta kemampuan itu tidak dapat dimanfaatkan, biarlah satu kemampuan terbaik saja aku maksimalkan namun banyak orang dapat merasakan manfaatnya, dan aku tetap tawadhu’.Sungguh indah dunia, sungguh Maha Indah Robb..yang telah menciptakan makhluk dengan penuh manfaatnya dan jauh dari sia-sia……..Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 19:33 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Love U to mas Wisang… matur nuwun….
      20 Mei jam 19:36 · Tidak SukaSuka · 3 orangAnda, Arie Irfan, dan Abdullah Ali menyukai ini
    • Wisang Geni sami2……. Bunda Lia monggo kalajengaken anggenipun pangandikan…. kulo nderek nyimak………..
      20 Mei jam 19:37 · Tidak SukaSuka · 3 orangAnda, Arie Irfan, dan Abdullah Ali menyukai ini
    • Bunda Lia
      Baik kita mulai satu kisah dan cerita… he he he biarlah aku dianggap orang tua yang menina bobokkan anaknya menjelang tidur… he he he kuakui anak2ku memang sering aku ceritakan yang ada dilingkungan kita… bukan cerita anak2 atau 1001 malam tidak namun memang inilah cerita yang selalu aku ceritakan mereka menjelang tidur malam setelah anak2ku ber-doa…. Sebatang bambu yang indah tumbuh di halaman rumah seorang petani. Batang bambu ini tumbuh tinggi menjulang di antara batang-batang bambu lainnya.
      Suatu hari datanglah sang petani yang empunya pohon bambu itu.
      Dia berkata kepada batang bambu, “Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air, yang sangat berguna untuk mengairi sawahku?”
      Batang bambu itu menjawab, ”Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.”
      Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 19:40 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Abdullah Ali La biyen isih cilik aku seneng sayur bung….kremes kremes wuich enak tenan lungguh ning amben lincak di taburi cahaya matahari yang bintik bintik….la dindinge gedek,nikmat dan indah hehehehe….
      20 Mei jam 19:41 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Wisang Geni kang Abdullah Ali sugeng ndalu kang…… hehehehehehhe…. enak disayur LODEH …… sami kang…. kulo nggih seneng……
    • Abdullah Ali Ning yo kuwi….iso di injen seko njobo hahahaha….
      20 Mei jam 19:44 · Tidak SukaSuka · 3 orangAnda, Agung Pambudi, dan Wisang Geni menyukai ini
    • Bunda Lia
      Walahhhh… kang Dullah panganane jangan bung, gedhene dadi….. ha ha ha … yo tak teruske ceritaku….Sang petani menjawab, “pertama, aku akan menebangmu untuk memisahkan engkau dari rumpunmu yang indah itu. Lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untuk mengairi sawahku sehingga padi yang kutanam dapat tumbuh dengan subur.”
      Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam…., kemudian dia berkata kepada petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku, juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakit lagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini, dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuh ku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?”
      Petani menjawab, “Wahai bambu, engkau pasti kuat melalui semua itu, karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”
      Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 19:46 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Gus Wisang….sayur lodeh santene kenthel segane liwet isih kemebul jiiiiiiaaaaannnn hahahaha….dadi kelingan jaman cilik iki hahahaha….
      20 Mei jam 19:46 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Den Ayu hahahaha….gedene rai gedek to hahahaha….hahahaha….hahahaha….
      20 Mei jam 19:48 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Walah nek santen kental ora wae aku kang…. Opo kang ha ha ha ha ha awakmu loh kang sing omong dudhu aku loh…. ha ha ha ha
    • Wulandari Muis Subkhanalloh,,,,,,,,
    • Wisang Geni kang Abdullah Ali…. betul…… kancane sambel TRASI…. lombok abang…… hehehehehehe…….
      Waduh… kok ono rai gdehek…… ? ndase ndas Blek….
    • Bunda Lia Modar we kang Dullah ha ha ha … mbak Wulan kakangmu dewe loh sing ngomong dudhu aku loh…..
    • Abdullah Ali Hahahaha….la ning tenan kiye wong aku ora duwe isin hahahaha….
    • Bunda Lia
      Akhirnya bambu itu menyerah, “ Baiklah Tuan. Aku ingin sekali berguna bagimu. Ini aku, tebanglah aku, perbuatlah sesuai dengan yang engkau kehendaki.”
      Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawahnya sehingga padi dapat tumbuh dengan subur dan berbuah banyak.
      Temen2 pernahkah kita berpikir bahwa dengan masalah datang silih berganti tak habis-habisnya, mungkin Allah sedang memproses kita untuk menjadi lebih indah di hadapan-Nya?
      Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa, Robb.. sedang membuat kita kuat untuk menjadi hamba yang akan berbagi manfaat kepada yang lainnya. Dia sedang membuang kesombongan dan segala sifat kita yang tak berkenan bagi-Nya.
      Lihat Selengkapnya

    • Abdullah Ali Gus Wisang hahahaha….hahahaha…jiiiiiiaaaaannnn komplit yo aku hahahaha….hahahaha…..
      20 Mei jam 19:55 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Perhatikan akar bambu….persis rambutku hahahaha….hahahaha….serabut hahahaha….hahahaha….
    • Abdullah Ali La wong ireng dadi koyo bambu wulung….serem hahahaha….hahahaha….
      20 Mei jam 19:58 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kang PPmu sing luwih elek soko iki enek opo ora…. mbok sing dikucir to kang ben koyo wong bagus……
    • Wulandari Muis Hahaha iyo mb emang rai gedhek..hahaha
      20 Mei jam 20:00 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Wisang Geni kang Abdullah Ali…… mbok ampun ngoten niku ngendikane kang….. cerito sayur kok dadi tekan kados ngoten to yo…..
    • Bunda Lia
      Tapi jangan khawatir, kita pasti kuat karena Robb… tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Robb, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya?
      “Robb tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (mereka berdoa): “Ya Robb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Robb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Robb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. beri ma’aflah Kami; ampunilah Kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah penolong kami, Maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”
      Yakinlah! Kepedihan, ujian dan penderitaan yang kita alami tak akan menjadi sia-sia jika kita ridho menerimanya sebagai bentuk kepatuhan dan ketundukan kita pada-Nya.
      Seperti batang bambu itu, mari kita berkata, “Ya Robb ini aku, perbuatlah sesuai dengan yang Kau kehendaki.”
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia Kang Dullah ha ha ha ha wis ora ngono kita cerita wae kisah Nyi Pohaci, Dewi Sri…..
      20 Mei jam 20:05 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Gus Wisang,sepurane….aku mung ngisi titik titik nggone Den Ayu….la ning yo pancen aku ki ngono kuwi….la direwangi rai gedek wae yo ora pinter pinter malah tambah mawut jiiiiiiaaaaannnn hahahaha….hahahaha….
      20 Mei jam 20:05 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo Brbhgialah org yg tiada tahu,,, tiada mengrti… namun bs dn mmpu mmikul beban yg tramat berat…krn tdk tahu…iya kn bun…hehehee …ho’o
      20 Mei jam 20:10 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      SIAPA yang tidak mengenal mitologi Nyi Pohaci di Jawa Barat ini? Orang mungkin telah kenal ceritanya, kulitnya, tetapi apa yang ada di balik cerita itu sudahkah dikenalnya? Seperti halnya mitologi umat manusia di mana pun, mitologi Sunda mengandung pula filsafat atau struktur pemikiran di dalamnya. Mitologi ini menjawab pertanyaan sangkanparan, asal-usul atau genesis ekologi Sunda tempat nenek moyang- orang Sunda dahulu hidup. Tentu saja mitologi ini banyak versinya untuk setiap wilayah Sunda. Di sini hanya akan dipakai tiga sumber tertulis saja, yakni Pantun Sulanjana (transkripsi Ajip Rosidi), Wawacan Nyi Pohaci (versi Bandung), Wawacan Pohaci Terus Dangdayang (versi Bandung). Saya kira versi-versi lain akan mirip dengan ketiga sumber tersebut, meskipun tetap ada perbedaan- perbedaan, pola dasarnya akan tetap sama. Siapakah Nyi Pohaci yang termasyhur itu? Nyi Pohaci tidak dilahirkan oleh siapa pun. Ia berasal dari sebutir telur. Dan telur itu semula berasal dari tetesan air mata Dewa Naga Anta (dunia bawah). Pada awalnya Dewa Guru (dunia atas) mau membangun istananya.Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 20:11 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Nah untuk memikul beban hidup….kita belajar dari pikulan dari bambu….keras tapi tak patah….bahkan lentur….
    • Bunda Lia
      Semua dewa bergotong royong membangun Bale Mariuk – Gedong Sasaka Domas. Hanya Naga Anta tidak dapat ikut membangun, karena tidak punya tangan untuk bekerja. Batara Narada, wakil Dewa Guru, memarahi habis-habisan Naga Anta. Sang Naga menangis oleh keterbatasan kodratinya, mau tetapi tidak mampu. Dalam menangis itu Naga Anta meneteskan tiga air mata. Tetesan itu serta merta berubah menjadi tiga butir telur. Ketiga telur itu dibawa Naga Anta kepada Dewa Guru dengan cara digigit. Di tengah jalan ia ditegur Elang, tetapi tidak dijawab, karena mulutnya menggigit tiga telur. Elang marah dan menyambar Naga Anta, akibatnya dua telur jatuh di bumi dan menjadi Kakabuat dan Budug Basu (semacam babi hutan). Hanya sebutir telur sampai di depan Dewa Guru. Setelah Naga Anta disuruh mengeraminya, maka dari telur itu keluarlah seorang bayi perempuan yang cantik, dinamai Nyi Pohaci. Bayi disusui sendiri oleh istri Dewa Guru, Dewi Umah. Setelah Nyi Pohaci remaja, Dewa Guru bermaksud memperistrinya. Akan tetapi Nyi Pohaci jatuh sakit dan mati. Oleh Dewa Guru, mayat Nyi Pohaci diperintahkan untuk dikubur di dunia tengah (tempat tinggal manusia). Dari kuburan Nyi Pohaci muncullah macam tanaman yang amat berguna bagi manusia Sunda. Kepalanya menjadi pohon kelapa. Mata kanannya menjadi padi biasa (putih). Mata kirinya menjadi padi merah.Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 20:19 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo Kang Dullah @ saking lenture moyak mayig…he he hee
    • Bunda Lia
      Hatinya menjadi padi ketan. Paha kanan menjadi bambu aur. Paha kiri menjadi bambu tali. Betisnya menjadi pohon enau. Ususnya menjadi akar tunjang. Rambutnya menjadi rumputan. Pendek kata, semua tumbuhan yang amat dibutuhkan masyarakat Sunda berasal dari tubuh Nyi Pohaci. Tetapi segala tanaman tadi selalu dirusak oleh Kalabuat dan Budug Basu. Untunglah Yang Maha Wenang menciptakan Jaka Sadana (Sulanjana), Sri Sadana, dan Rambut Sadana, yang juga disebut Talimenar dan Talimenir, yang berasal dari tiga tetes air matanya. Ketiganya bertugas memelihara segala tanaman yang dibutuhkan masyarakat Sunda tersebut (pantun Sulanjana). Dewa Guru memerintahkan Batara Semar untuk mengembangbiakkan tanaman-tanaman itu di Kerajaan Pajajaran. Begitulah inti mitologi itu. Jadi Nyi Pohaci adalah berkah hidup masyarakat Pajajaran. Dari kematiannya tumbuh kehidupan. Tanpa Nyi Pohaci, masyarakat Sunda tidak memperoleh sumber kehidupannya. Itulah sebabnya masyarakat Sunda di zaman pertaniannya dulu amat menghormati Nyi Pohaci. Pola pikir Sunda Di mana letak segi rasionalitasnya?Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      Pikiran orang modern membutuhkan pola pikir Sunda di balik mitologi itu. Rasionalitas dari mitologi itu terletak pada pola tritangtu Sunda. Pola tiga ini banyak hadir dalam realitas kesadaran masyarakat Sunda untuk memaknai realitas faktual ruang Sunda. Pola hubungan tiga ini ada dalam pengaturan kampungnya, pengaturan rumah tinggalnya, pengaturan ekologinya (leuweung, lembur laut), pola tenunnya, pola peralatannya, dan banyak lagi. Dasar dari semuanya ini adalah pola kosmiknya yang holistik. Ada langit (dunia atas), ada bumi (dunia bawah) dan ada dunia manusia (dunia tengah). Ketiganya membentuk kesatuan tiga, yang kalau digambarkan secara modern akan berbentuk segitiga sama kaki. Di puncak segitiga adalah dunia atas (langit), dan di dasar segitiga ada dunia bawah (bumi) dan dunia tengah (manusia di atas bumi). Kampung Baduy rupanya dipasang dalam pola tiga kosmik ini. Kampung Cikeusik adalah dunia atas (langit, di puncak segi tiga) Cikertawana (dunia tengah) dan Cibeo (dunia bawah), keduanya didasar segi tiga. Begitu pula rumah Sunda buhun dibangun dalam pola ini. Atap (dunia atas, biasanya arah atap ke hulu dan hilir atau arah atas dan arah bawah), tempat tinggal keluarga (dunia tengah) dan kolong rumah (dunia bawah). Dalam mitologi Nyi Pohaci kita di atas, pola ini tetap dipakai. Dari mana asal segala tumbuhan keperluan hidup para petani Sunda di zaman dulu? Dari tubuh Nyi Pohaci.Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 20:34 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Dari mana asal Nyi Pohaci? Ternyata dari dunia bawah, dibawa ke dunia Atas, baru diturunkan di dunia tengah manusia Sunda (Buana Panca Tengah). Nyi Pohaci “lahir” dari sebutir telur bersamaan dengan dua butir telur yang lain. Dari tiga telur akibat penderitaan Naga Anta itu (menangis) hanya satu telur yang sampai di dunia atas (Dewa Guru). Dua telur yang lain jatuh di bumi manusia (dunia tengah). Nyi Pohaci merupakan satu- satunya telur yang menjadi “manusia” di dunia atas, sedang dua telur yang lain ada di dasar segi tiga kita. Nyi Pohaci yang tumbuh di dunia atas ini, mati di dunia atas pula. Kematiannya karena dicintai “pembesar” atau “penguasa” dunia atas, Dewa Guru. Maka ia dikirim ke dunia tengah dan menjadi segala jenis tanaman di sana. Dengan demikian, segala tanaman itu adalah wujud emanasi mahkluk dunia atas, karenanya sakral. Orang tidak boleh memperlakukan segala tanaman itu seenaknya sendiri, harus ada rasa hormat yang dalam untuk memanfaatkannya. Di sini terlihat bahwa Nyi Pohaci dimusuhi oleh dua asal kodratnya yang sama, Kalabuat dan Budugbasu. Tanaman dan hama itu sebenarnya merupakan dua pasangan antagonistik. Setiap kehidupan muncul, selalu ada pasangan kematiannya’Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 20:42 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Wooooohhhhhaaaalllllaaaaaaahhhh kok meneng kabehhhhh ra onok selingane… kepenakken yo…. wegah aku neruske nek kabeh podho meneng wae….
      Setiap ada tanaman, selalu ada hama perusaknya. Dua kenyataan berbalikan itu harus diterima manusia. Berkah dan malapetaka itu berasal dari sumber yang sama. Dalam saat yang demikian Yang Maha Wenang menganugerahkan pemecahanNya, yakni mengirimkan tiga pasangan pemusnah hama. Masing-masing Jaka Sadana, Sri Sadana dan Rambut Sadana, atau Sulanjana, Talimenar dan Talimenir. Dalam alam pikiran masyarakat Sunda- Islam, Kalabuat dan Budugbasu ada di bawah pimpinan Idajil.
      Mitologi Nyi Pohaci mengajarkan bahwa semua tanaman yang memberikan manfaat hidup kepada manusia berasal dari dunia atas. Segala ancaman hama dan kerusakan itu berasal dari dunia tengah. Dunia manusia itu tidak sempurna, meskipun telah dihadirkan “yang sempurna” dari dunia atas. Kesempurnaan atau kebaikan semacam itu sebenarnya lebih bersifat rohani-adikodrati. Pola tiga ini distruktur dengan jalan “harmoni” Bawah-Atas terlebih dahulu. Nyi Pohaci berasal dari setetes air mata Naga Anta yang bermakna rohani- adikodrati dunia bawah. Dari dunia bawah (bumi) dibawa ke dunia atas (langit), baru diturunkan ke dunia tengah manusia. Struktur hubungan bawah – atas – tengah ini terdapat di berbagai mitologi Sunda yang lain, misalnya pada wawacan Guru Gantangan. Nyi Pohaci adalah hasil harmonisasi dunia bawah dan dunia atas, sehingga lebih menekankan segi skralitasnya, atau kesempurnaan dan kebaikannya.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      Cara berpikir atas – bawah – tengah ini melambangkan bersatunya unsur bumi dan langit atau tanah dan air (hujan) dalam kehidupan orang peladang, yang akan menumbuhkan segala jenis tanaman yang dibutuhkan masyarakat Sunda. Di dunia tengah (manusia) berlaku hukum kausalitas, yakni segala tumbuhan akan subur kalau air hujan bertemu dengan tanah. Rusaknya tanaman juga terjadi karena hukum kausalitas, yakni dimakan hama. Tetapi terjadinya tiga butir telur dari tiga titik air mata di dunia bawah tidak berlaku hukum kausalitas, tetapi hukum spontanitas. Bagaimana bisa dimengerti oleh manusia bahwa tiga tetes air mata dapat menjadi tiga butir telur. Dan tiga butir telur tiba- tiba menjadi tiga mahluk hidup, Kalabuat, Budugbasu, dan Nyi Pohaci? Bagaimana pula dapat dipahami oleh hukum kausalitas dunia manusia, kalau tubuh Nyi Pohaci dapat menjadi berbagai jenis tumbuhan? Semua itu terjadi atas dasar hukum rohaniah spontanitas (jadi, maka jadilah). Alam rohani itu bekerja bukan berdasarkan hukum sebab- akibat manusia. Manusia itu lahir akibat hubungan seksual lelaki dan perempuan. Tetapi Nyi Pohaci bukan hasil kerja seksual siapa pun. Nyi Pohaci itu berasal dari setetes air mata Dewa Anta, jadi seksual atau nonseksual, itulah sebabnya ia keramat. Dan yang keramat itu akan membawa berkat bagi manusia. Jadi, mitos Nyi Pohaci mengandung hasil renungan pemikiran manusia Sunda lama tentang bagaimana asal-usul adanya segala macam tumbuhan yang amat bermanfaat bagi masyarakat Sunda.Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 20:56 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo lha nek meng kan enak bunda… Ben ngresep…sesok tangi turu lak cantelane mlh lugur…hehehe…lgi pd bkin kopi bun
    • Bunda Lia
      Mas Ariyo Hadiwijoyo makasih ya… sungguh setia menemaniku…. yo tak teruske mas Ariyo….. Bagaimana berbagai jenis padi itu ada. Bagaimana bambu itu ada. Bagaimana jenis tanaman merambat itu ada. Bagaimana pohon enau itu ada? Bahkan bagaimana rumput-rumput itu ada. Semua itu diperlukan orang Sunda setiap hari bagi kepentingan kelangsungan hidupnya. Padi untuk makanan pokok. Tanaman merambat untuk makanan tambahan. Rumput untuk ternak. Bambu untuk rumah. Dari pohon enau diperoleh ijuk untuk atap rumah. Enau juga menghasilkan tuak untuk kepentingan upacara religi. Dan masih banyak lagi rinciannya. Semua itu dari mana asalnya? Tentu bukan dari usaha manusia sendiri. Semua itu hadir secara eksistensial berkat hukum spontanitas dunia rohani tadi. Tentu saja pola pikir yang demikian itu bukan monopoli manusia Sunda. Semua mitologi umat manusia berpola demikian. Persoalannya bagaimana alam lingkungan yang tersedia bagi manusia Sunda diberi tanggapan lewat realitas kesadarannya (budaya). Alam lingkungan Sunda ditanggapi oleh manusia- manusianya dengan hidup berladang (huma). Pilihan hidup berhuma inilah yang kemudian menimbulkan pertanyaan eksistensial, dari mana tanaman padi yang ajaib itu (makanan pokok yang memungkinkan hidup terus berlangsung) berasal? Karena huma bergantung pada hujan, maka alamat langit sebagai “pemberi hujan” menjadi lebih penting dari bumi-tanah yang kering. dan “basah” (hujan) adalah asas “perempuan”. Maka semua tumbuhan itu asalnya dari tubuh perempuan dunia atas, Nyi Pohaci. Pemberi hidup itu adalah indung, ibu. Dan lelaki itu melengkapi…..Lihat Selengkapnya

    • Abdullah Ali Den Ayu hahahaha….emang enak di cuekin hahahaha….pirang pirang ndino do di cuekin la iki lagi meneng sedelo wis ngamuk jiiiiiiaaaaannnn hahahaha….hahahaha….hahahaha…..
    • Ariyo Hadiwijoyo iya bunda…mksih…dgn hukum alam kt bs hdp saling brbagi dn mngisi…sbgmn ksah2 yg ada utk mnuntun kita bunda…rahayu
      20 Mei jam 21:06 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Kampung Urug Masih Keturunan Prabu Siliwangi? Penemuan Hari jadi Bogor yang jatuh pada 3 Juni merupakan salah satu karya besar Sejarawan Bogor, Alm. Drs. Saleh Danasasmita yang sangat tekun mempelajari Sejarah Bogor.
      Dalam bukunya, Saleh mengatakan bahwa pada tanggal itu terjadi pemindahan pemerintahan dari Kawali, Ciamis ke Pakuan ( Bogor). Adanya penyatuan Kerajaan Sunda Galuh dan Pakuan menjadikan, Prabu Dewata bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Aji Pakuan Pajajaran atau yang lebih dikenal sebagai Prabu Siliwangi. Kebesaran Prabu Siliwangi tak pupus oleh waktu tak lekang oleh zaman, bahkan saat inipun banyak sekali kelompok masyarakat yang selalu mengkaitkannya dan mengklaim sebagai turunan dari Prabu Siliwangi (seuweu siwi Siliwangi).
      Selain itu ada juga kelompok masyarakat yang “biasa” berkomunikasi dengan Eyang Prabu yang digjaya ini, bahkan mereka secara rutin memberikan suguhan (sesajen) bagi mantan Raja Pakuan Pajajaran ini. Nama Prabu Siliwangi seakan masih hidup abadi sekalipun kerajaannnya hanya tinggal puing puingnya saja, salah satu diantaranya Prasasti Batutulis.
      Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 21:08 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo kisah2 alam…mnuntu kt agar mngerti alam…alampun akn syg pd kt …rahayu
    • Ariyo Hadiwijoyo kisah2 alam…mnuntun kt agar mngerti alam…alampun akn syg pd kt …rahayu
      20 Mei jam 21:14 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Dari berbagai kelompok masyarakat atau perorangan yang mengklaim dirinya turunan langsung dari Prabu Siliwangi adalah masyarakat Kampung Urug. Kampung yang terletak di sebuah lembah yang subur ini masuk dalam wilayah admisnistrasi Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor.
      Menurut Kokolot Kampung Urug Tonggoh Abah Rajasa atau sering dipanggil dengan Kolot Kayod, Sejarah Kampung Urug erat kaitannya dengan zaman Eyang Prabu ( Silwangi?) saat timbul tenggelam ( tilem) yang kurun waktunya 5 tahun. “Saat berada di Kadu Jangkung, Eyang Prabu berkata bahwa suatu saat nanti kampung tersebut akan menjadi daerah pertanian,” ujar Abah
      Kayod. Cerita atau Sejarah yang dipahami Kayod berasal dari kokolot sebelumnya. Saat belum menjadi orang yang dituakan, Rajasa sama sekali tidak mengetahui riwayat Kampung Urug, sekalipun kisah ini selalu diceritakan setiap tahun saat Perayaan Seren Pataunan.
      Kejadian serupa dialami Kokolot Urug Lebak, Abah Ukat yang baru setahun mengemban jabatan tersebut. Ukat sendiri sebelumnya seorang pedagang yang mencari nafkah di Pasar Leuwiliang.
      Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 21:16 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Wisang Geni nyuwun ngapunte Bunda Lia… niki wau kulo sek tumbas gulo pasir…. ngendikane Mas Ariyo Hadiwijoyo relas gulene pasir…. terus kang Abdullah Ali pesen rokok sisan…. hehehhehehehe….
      20 Mei jam 21:18 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo rahayu…mangkeh nek arep sare kopine di telasne rumiyen… hehehe …ben gelase tk kurahane…hehehe
      20 Mei jam 21:19 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo rahayu bunda…mangkeh nek arep sare kopine di telasne rumiyen… hehehe …ben gelase tk kurahane…hehehe
    • Kyara Dewi Sugeng dalu Mama sayang…wedaran yg agung Mama….Sungkem dalem kakunjuk…mugi mama tansah wonteng ing kanugrahan lan Ridanipun Gusti Allah..amien
      20 Mei jam 21:24 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Kyara Dewi sugeng dalu Abah Ali..lan sedoyo engkang sampun sowan…rahayu3x
      20 Mei jam 21:25 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Arie Irfan Hmmm…. Sungguh luar biasa… Selamat Malam… Salam Kasihku.
    • Bunda Lia
      Masamudanya dihabiskan di luar Kampung Urug. Namun karena pergantian kokolot disana berdasarkan wangsit, jadilah ia orang yang dituakan di kampung yang konon katanya pernah ditinggali mantan orang nomor satu di negeri ini, Presiden Soekarno.
      Tingkah laku masyarakat Urug dalam bertani, takkan pernah lepas dari kisah (jasa ?) Nyi. Sari Pohaci atau yang lebih dikenal dengan sebutan Dewi Sri. Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Urug yang diwakili kokolotnya, Dewi Sri adalah putri dari Eyang Prabu yang meninggal saat usianya masih muda dan belum sempat menikah. Saat mendapatkan menstruasi pertamakali, darahnya tidak pernah berhenti sampai akhirnya meninggal dunia.
      Menurut mereka, Dewi Sri mendapat haid pertama kali pada hari Senin, makanya pantang bagi masyarakat Urug untuk mengurus padi pada hari tersebut. Sedang pada hari Jumat, darah menstruasinya disiram dengan air dan jatuh ke bumi. Hari Jumat inilah merupakan pantangan bagi petani Urug untuk pergi ke ladang atau sawah. Di hari ini sebagian besar penduduk yang masih menjaga tradisi para karuhun tidak akan pergi ke sawah, khususnya para pemegang adat. Yang masih sangat kental dan terlihat jelas atau yang membedakan budaya Kampung Urug dengan yang lainnya ialah adanya leuit atau lumbung padi di hampir seluruh rumah.
      Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 21:27 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Arie Irfan Selamat Malam Kang Dullah, Mba Wulan, Mas Wisang, Mas Ariyo, Kyara, serta semua yg hadir disini… Salam Kasih Dan Hormatku.
      20 Mei jam 21:29 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Herry Tasman Selamat Malam Bunda….Kang Ali dan semua yg hadir maupun yg ngintip……Rahayu
    • Bunda Lia
      Mungkin inilah gambaran nyata dari sisa budaya Sunda baheula atau bisa jadi zaman Prabu Siliwangi masih jeneng. Namun hal ini juga sebenarnya masih menyisakan perdebatan, karena menurut Budayawan Sunda kahot, Anis Djatisunda yang tinggal di Sukabumi, budaya pertanian “urang Sunda” mah, ngahuma dan lebih cenderung berpindah pindah tempat. Sementara budaya nyawah berasal dari Mataram. Sedang mengenai keturunan langsung dari Prabu Siliwangi, Almarhum H. Komaruddin budayawan yang rajin menulis di salah satu harian local Bogor, sebelum meninggal pernah mengatakan kalau yang dimaksudkan oleh masyarakat Kampung Urug adalah Prabu Nilakendra. Menurut Ki Marko, dilihat dari kurun waktu dan kesamaan pribadi Nilakendra yang sering jalan jalan atau ngalalana, sangat dimungkinkan bukan Prabu Siliwangi atau Sri Baduga Maharaja. Lepas dari itu semua, Kampung Urug saat ini masih menjaga kelestarian budaya Sunda Buhun selain yang disebutkan diatas diantaranya masih adanya Rumah Panggung tempat karuhun ngareureuh, dan kebiasaan lain yang merupakan cerminan di masa lalu.Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 21:32 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Herry Tasman selamat malam Astungkara mas…. maaf mas ndak bisa ketemu…. hemmm nyesel mas ndak ketemu… mungkin Tuhan belum mengijinkan… nanti pasti kita bisa jumpa ya mas…. terimakasih mas…. maafkan aku… salam kasihku selalu… salam kasih untuk keluarga njih mas….
    • Bunda Lia
      Masuknya agama Islam ke Kampung Urug secara otomatis merubah pola hidup masyarakat setempat, meskipun masih ada sisa sisa “kebiasaan” karuhun yang dipertahankan. Gabungan dari kebiasaan yang sangat baik terlihat dalam upacara Seren Pataunan. Ada anggapan “haram” hukumnya menyatukan padi yang belum dikeluarkan zakatnya ke leuit dicampurkan dengan padi yang lama.
      Zakatnyapun cukup besar tidak kurang dari 10 persen dari hasil taninya. Inilah mungkin yang membuat Kampung Urug tidak pernah terkena krisis ekonomi, seperti yang diungkapkan isteri mantan kokolot Adang (sebelum Kolot Ukat) bahwa dengan satu kali panen cukup untuk hidup selama 2 tahun. Padahal jenis padi yang ditanam adalah pare gede yang umurnya 6 – 8 bulan dengan hasil panenan tidak lebih dari 3 ton permasa sekali tanamnya. Satu hal yang tidak mungkin bila dihitung dengan matematik dan kurang masuk akal bila dikalikan dengan biaya hidup saat ini.
      Lihat Selengkapnya

    • Jr Arief Selamat malam Bunda Lia…dan sahabat sejiwa yg di rahmati Alloh..Salam kasih slalu..kulo Nderek Nyimak Bunda…
      20 Mei jam 21:39 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Herry Tasman Tidak mengapa Bunda…..juga sdh disambut dan disuguhkan minuman serta roti bakar oleh Mas Wisang Geni……Terima kasih …..Selamat Malam Mas Wisang Geni….Salam kekeluargaan.
    • Arie Irfan
      Tahukah mengapa kita tidak mau menundukkan kepala? Karena eh karena kita sombong, karena kita egois, karena kita arogan. Tetapi tidak ada jalan lain, kita bisa menunda penundukkan kepala, tetapi tidak dapat menghindarinya. Pada suatu hari ketika kita sudah babak belur dan tidak melihat jalan keluar, kita pasti menundukkan kepala. Kenapa tidak belajar untuk menundukkannya tanpa harus melewati pengalaman yg tidak enak? Tegaknya kepala kita saat ini semata_mata karena ego kita. Untuk apa berpura_pura bersujud di tempat ibadah yg terbuat dari batu beton, semen, dan baja, bila kita tidak dapat menundukkan kepala kita di hadapan seorang Guru yg berdarah daging dan mencerminkan keilahian_Nya, kemuliaan_Nya. Bila kita masih juga tidak mau menundukkan kepala, bersiaplah_siaplah untuk lahir kembali dan mati kembali, dan lahir kembali dan mati lagi sampai pada suatu saat kita dapat menundukkan kepala. Salam Kasih Penuh Damai. Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 21:41 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Nah disinipun orang Jawa juga memiliki Mitos…. Filsafat makna dari bagian-bagian Ubo Rampe sebuah ritual Jawa….. kita coba mengenalnya….
    • Bunda Lia He he he mas Arie Irfan salam kangen mas….
    • Bunda Lia Mas Herry terimakasih.
      20 Mei jam 21:42 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Arie Irfan Aku juga kangen berat neh… Heheheee…
      20 Mei jam 21:44 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Aura semiotika (ilmu tanda) dari macam-macam syarat (ubo rampe) dalam sebuah konsep ritual peringatan dalam masyarakat Jawa merupakan sebuah pesan yang tersandikan.Berangkat dari sebuah local genius , nenek moyang telah memberikan pesan-pesan yang terselubung, tinggal bagaimana kita mampu memahami dan memaknai dari tiap pesan yang “sengaja” dikirimkan oleh para leluhur untuk kita agar lebih mencintai dan mengambil manfaat dari hasil sebuah warisan budaya. tentang apa saja dan bagaimana makna dari Ubo Rampe berikut ulasannya…. Ubo Rampe (konsep merujuk peralatan dan semua piranti juga syarat melakukan sebuah ritual/ kegiatan)
      Setiap acara peringatan ulang tahun, atau apapun dalam kelompok-kelompok sosial masyarakat jawa biasanya tumpeng selalu menjadi syarat ritual. Tidak hanya saat memperingati hari ulang tahun seseorang, tumpeng juga menyertai acara ulang tahun lembaga baik peresmian, kenaikan pangkat sampai acara wetonan. Dalam upacara itu, tumpeng dipotong (seharusnya dibelah) dan diberikan kepada generasi penerus. Biasanya tumpeng yang disajikan adalah tumpeng robyong. Lalu apakah ini sekadar gagah-gagahan atau mempunyai makna ?????????
      Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 21:45 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Wisang Geni mas Arie Irfan …. salemat malam dan terima kasih…. salam damai dan sejahtera selalu….
      20 Mei jam 21:45 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Jr Arie salam kasih mas… terimakasih…. selamat malam mas…. salam buat keluarga njih mas….
      20 Mei jam 21:46 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Makasih mas Arie Irfan sampaikan salam kasihku untuk keluarga njih mas….
    • Bunda Lia Kyara sayang mama kangen say… apa kabar…??? Doa mama selalu untukmu say….
      20 Mei jam 21:47 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Wisang Geni Koh Herry Tasman
      Om….swastiastsu…. Terima kasih atas kunjungannya di sanggar…. dan mohon maaf ”Koh” hanya seala kadarnya….. ada kurang lebihnya mohon maaf….. salam sejahtera….. selalu..
      semoga koh herry dan keluarga tetap dalam lindungan serta kasihNYA……. amin……..
    • Bunda Lia
      Tumpeng robyong merupakan lambang manusia yang taat beragama dan giat bekerja. Selain tumpeng robyong, ada sekitar 40-an benda yang selalu menyertai sebuah ritual upacara sebagai sesaji, terutama dalam acara ritual yang diadakan oleh keraton. Setiap barang ataupun benda mempunyai makna tersendiri. Agaknya semua ubo rampe tersebut memiliki aura konstruksial makna.
      Cengkir atau buah kelapa hijau dan kelapa gading yang masih muda, merupakan lambang keandalan pikiran dan kekuatan batin. Maksudnya, dalam bertindak, kita tidak boleh hanya mengandalkan pikiran dan fisik, tetapi juga hati dan akal budi.
      Kembang mayang melambangkan sepasang manusia yang mantap lahir batin dan siap menyemaikan bibit-bibit manusia unggul generasi berikutnya.
      Pusaka keris adalah lambang keberanian dan percaya diri. Berani dan percaya bahwa Tuhan akan menolong siapa pun yang menegakkan kebenaran.
      Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 21:49 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo mas Arie @ salam kasih dn hormatku…smoga damai buat kita smua
    • Arie Irfan Njih Bunda…..
    • Bunda Lia
      Bubur. Berbagai jenis bubur biasanya disediakan, seperti bubur Sura, bubur Sengkala, dan bubur Pancawarna, yang merupakan lambang cikal bakal manusia. Bubur ini dimaksudkan agar kita selalu ingat proses kelahiran bayi sehingga timbul rasa hormat pada ibu dan ayah serta Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu juga harapan agar kita bisa mengendalikan nafsu angkara.
      Sekapur sirih melambangkan segala persoalan yang dihadapi oleh manusia dalam hidupnya. Maksud dari penyajian sekapur sirih ini adalah agar kita selalu siap dan kuat dalam menghadapi segala cobaan dan benturan dalam hidup.
      Kembang setaman adalah lambang sosialisasi diri. Maksudnya agar kita selalu berusaha menjaga harumnya nama diri, kerabat, dan teman.
      Kembang pancawarna yang terdiri dari melati, mawar merah, (kantil) gading putih, gading kuning, dan bunga kenanga, melambangkan cinta kasih yang selalu berkembang dan harum mewangi.
      Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 21:51 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Wisang Geni ‎@ Jr Arief : selamat malam mas…. salam kenal dan persaudaraan….
    • Jr Arief Injih Bunda…Trima kasih doa dlm salam kami sampaikan…hehehe pas sy lg kangen kota bogor…Bunda membuka sebagian riwayat …Alhamdulillah jd obat kangen sy…matur nuwun sanget Bunda Lia…
    • Bunda Lia
      Santan kanil (kental) merupakan lambang sari-sari kehidupan dan juga susu ibu. Dimaksudkan agar kita selalu mengingat jasa dan pengorbanan ibu yang telah melahirkan kita.
      Damar kembang dibuat dari kelapa yang sudah dibuang serabut dan batoknya, lalu dilubangi bagian yang merupakan bakal tunas, diisi dengan minyak kelapa dan diberi sumbu dari sobekan kain dan dinyalakan. Ini merupakan lambang kehidupan, dimaksudkan agar kita selalu mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang diridloi oleh Tuhan Yang Maha Esa.
      Air putih lambang kesucian. Agar kita selalu bersih, baik lahir maupun batin.
      Lambang Kerukunan
      Selain tumpeng, biasanya juga muncul berbagai kue basah yang biasa disebut jajan pasar. Kue ini ditata dalam satu wadah yang melambangkan kerukunan dan persatuan dari berbagai suku dan manusia. Nasi yang disajikan pun terdiri dari empat macam, yaitu nasi kuning, nasi brok, nasi byar, dan nasi golong. Semua nasi-nasi tersebut melambangkan bibit manusia generasi mendatang. Maksudnya agar kita hati-hati dan penuh perhatian dalam “membuat” keturunan sehingga menghasilkan generasi yang unggul.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia Mas Jr Arief he he he makasih kembali… musim padi belum mas Menado he he he
    • Bunda Lia
      Panggang ayam dan ingkung (ayam goreng utuh) adalah lambang ayah- ibu dan pengorbanan selama hidup mereka dalam membesarkan kita. Sesaji ini dimaksudkan agar kita hormat pada orangtua dan mencintai sesama dengan ikhlas, seperti kedua orangtua mencintai kita.
      Pisang raja talun setandan merupakan lambang keberhasilan. Maksudnya agar kita mempunyai tujuan hidup atau cita-cita yang berguna bagi nusa, bangsa, dan sesama serta berusaha meraihnya sampai berhasil.
      Sekat padi melambangkan manusia yang berisi, baik lahir maupun batin.
      Buah-buahan, dari yang mentah sampai yang matang merupakan lambang dari proses pematangan diri manusia. Pematangan diri yang mengikuti proses alam dan tidak karbitan akan menghasilkan pribadi yang kuat. Berbagai macam daun, mulai daun kluwih, daun pohon beringin, daun andong dan puring, melambangkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, kita harus selalu ingat kepada-Nya dengan selalu melaksanakan segala perintah-Nya.
      Lihat Selengkapnya

    • Herry Tasman ‎@ Wisang Geni….Suatu kehormatan buat aku, telah dibukakan pintu dan disambut dgn senyum, serta hidangan yg disuguhkan….Rahajeng Rahayu utk Mas Wisang Geni sekeluarga…..Rahayu
      20 Mei jam 21:55 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Wisang Geni lengkap sanget keilmuwan dan kajian Bunda Lia…. wuis…… tambah semangat ini………. nderek nyimak njih bun……..
      20 Mei jam 21:55 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Tebu wulung melambangkan kekuatan dan kemantapan batin. Diharapkan, budi pekerti dan kepribadian kita kukuh dan tegak seperti tanaman tebu tersebut.
      Janur kuning merupakan lambang cahaya terang. Agar kita selalu mendapatkan jalan yang lurus dan diridloi Allah dalam menjalani hidup ini. Tajali nur.
      Taplak kain mori berwarna putih melambangkan kesucian. Dimaksudkan agar segala tindak tanduk kita didasarkan pada hati dan pikiran yang suci bersih, tidak dikotori oleh kecurigaan.
      Payung agung merupakan lambang perlindungan. Ditujukan kepada pamong atau pejabat agar selalu melindungi rakyatnya dari “hujan” dan “panas” kehidupan.
      Lihat Selengkapnya

    • Wulandari Muis Sugeng ndalu ugi msArie rahayu rahayu rahayu
    • Bunda Lia
      Tombak melambangkan kewaspadaan. Kita diharapkan untuk selalu waspada dalam menghadapi segala kemungkinan yang mengancam kelangsungan hidup kita.
      Dupa ratus dan wawangian merupakan lambang ketentraman. Dengan menjaga nama diri, keluarga, negara, dan bangsa, diharapkan hidup kita akan nyaman dan tentram.
      Umbul-umbul dari pohon bambu dihiasi janur kuning melambangkan kebesaran Tuhan Yang Maha Agung. Selain itu juga agar kita selalu ingat dan melestarikan budaya yang telah diturunkan oleh nenek moyang.
      Kiranya seperti itulah aura semiotika dari macam-macam syarat (ubo rampe) dalam sebuah konsep ritual peringatan dalam masyarakat Jawa.Berangkat dari sebuah local genius , nenek moyang telah memberikan pesan-pesan yang terselubung, tinggal bagaimana kita mampu memahami dan memaknai dari tiap pesan yang “sengaja” dikirimkan oleh para leluhur untuk kita agar lebih mencintai dan mengambil manfaat dari hasil sebuah warisan budaya. Saya teringat ketika masih duduk di bangku sekolah, apabila bosan mengikuti pelajaran yang
      disampaikan, saya terbiasa mencoret-coret buku catatan saya dengan berbagai coretan yang tidak jelas
      .Salah satu kesukaan saya adalah menggambar pohon bambu.Entah kenapa saya senang menggambar
      pohon bambu dibanding pohon kelapa atau pohon pisang, atau pohon lainnya.Saya hanya menyukai
      bentuknya, menyukai sifatnya sebagai tumbuhan rumpun.
      Bambu merupakan tumbuhan klasifikasi kelas Liliopsida, ordo Poales, familia Poaceae, subfamilia
      Bambusoideae, rumpun Bambusodae.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      Kita kembali ke permasalahan bambu lagi….Di Cina bambu
      melambangkan umur panjang, sementara di India melambangkan persahabatan.Budaya-budaya di negeri Jepang, Korea dan Tiongkok menjunjung keistimewaan, keindahan dan kegunaan pohon
      bambu.Dalam seni lukis, bambu adalah lambang estetika, sedangkan dalam filsafat, bambu adalah lambang ketahanan.Rongga kosong pada bambu, dalam agama Kung Fu Tse merupakan lambang
      pengosongan dan pemurnian batin. Di Vietnam, bambu dijadikan simbol kerja keras, kesatuan dan kemampuan adaptasi. Di Vietnam terdapat pepatah µ ketika bambu tua, maka tunas baru akan munculµ
      ini berarti bahwa bangsa Vietnam tak akan pernah binasa, ketika generasi tua mati, maka muncul generasi yang lebih muda untuk menggantikannya.
      Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 22:00 · Tidak SukaSuka · 11 orangMemuat…
    • Wisang Geni koh Herry Tasman…… ASTUNGKARA……..
      sami2…… ”koh”’ saya hanya mengemban amanah Bunda Lia dan melaksanakannya……. semoga jalinan persaudaraan kian REKAT…. berkah dalem GUSTI……. amin……..
      20 Mei jam 22:01 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Terlepas dari mitos yang seringkali saya dengar, bahwa tidak baik menanam pohon bambu di halaman rumah, karena ada penungguµ-nya, pohon bambu adalah pohon yang menggagumkan.Bukankah sangat jarang sekali kita mendengar bambu tumbang atau patah batangnya karena diterpa badai atau angin topan? Mengapa?Karena akar yang dalam?Rasanya tidak, akar pohon beringin lebih kuat selain menghujam kedalam tanah, akar serabutnya juga menjalar disekililingnya.Atau karena batang bambu
      lebih kuat? Bukan juga rasanya !Pohon jati jauh lebih kuat.
      Apa rahasia sang bambu ini? Coba kita perhatikan, apa yang terjadi saat bambu diterpa angin kencang. Rumpun bambu akan menunduk dan merunduk, mengikuti terpaan angin, membiarkan dirinya mengikuti arahan angin. Bahkan, sifat lenturnya sanggup membuatnya melengkung.Tidak seperti pohon-pohon lain yang berdiri kaku dan tegak, seperti menantang kekuatan angin, yang seringkali mengakibatkan ranting dan batangnya menjadi patah.Sifat lentur pula yang mengembalikan bambu pada sikap tegaknya setelah badai usai.
      Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 22:03 · Tidak SukaSuka · 12 orangMemuat…
    • Jr Arief ‎@Mas Wisanggeni.. Inggih mas salam kenal …salam persaudaraan dan kasih slalu..
    • Bunda Lia
      Sepanjang hidup kita, seringkali persoalan, kesulitan dan penderitaan datang menerpa.Terkadang datang bagaikan angin semilir, namun lebih sering datang sebagai angin kencang, sebagai badai. Ketika
      angin kencang itu datang, otomatis kita bertahan, bahkan seringkali kita bertahan dengan cara melawan dan menantangnya. Lama kelamaan, hanya kelelahan yang didapat dan yang lebih parah, kita
      patah atau tumbang. Lalu, apa yang sah dengan sikap bertahan? Apakah kita harus menyerah? Tidak ada yang salah dengan sikap bertahan, hanya cara dalam bertahan itu yang penting. Bambu tidak
      pernah menyerah pada angin, ia justru bertahan. Akarnya tetap berpijak, bahkan menjadi semakin dalam.Badai justru membuat bambu menjadi lebih kuat. Di Hiroshima dan Nagasaki, setelah luluh lantak oleh bom atom, bambulah yang tumbuh untuk pertama
      kalinya sebagai tumbuhan pioner. Kembali bambu mengajarkan kita bahwa dimanapun kita berada, sesulit apapun keadaan, tak ada kata menyerah untuk terus tumbuh, tak ada alasan untuk berlama-
      lama terpuruk dalam keterbatasan, karena bagaimanapun, pertumbuhan diawali dengan kemampuan untuk mempertahankan diri dalam kondisi yang paling sulit sekalipun. Sifat lentur yang sanggup melengkungkan diri adalah rahasia untuk bertahan.
      Lihat Selengkapnya

      20 Mei jam 22:06 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit Selamat Malam Mamanda Tercinta,,salam kangenku selalu,,,,,I LOVE U MAMA,,,
      20 Mei jam 22:07 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Herry Tasman Wisang Geni….Satu Jiwa didalam Bhineka Tunggal IKa, Di Bumi Pancasila……Salam Hormat aku utk Keluarga Besar Songgo Bhuwono.
    • Gadis Exsprit Sugeng ndalu para kadang kinasih,,,,,salam Sejahtera selalu ,,,,Rahayu,,
    • Bunda Lia Sepanjang jalan saya hanya sibuk dengan pikiran saya sendiri, memandang persawahan yang luas. Jalan yang berkelok-kelok tak sama sekali tak mampu mengganggu apa yang sedang saya pikirkan..
      20 Mei jam 22:10 · Tidak SukaSuka · 12 orangMemuat…
    • Bunda Lia Gadisku say….
      20 Mei jam 22:11 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo injih bunda…kopinipun dipun unjuk rumiyen too…kajenge terang bunda
      20 Mei jam 22:12 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit Iya Mamanda,,gadismu di sisimu ,,mamanda,,,
      20 Mei jam 22:13 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Wisang Geni Kang mas Arie Irfan
      kang Abdullah Ali
      ” Koh ” Herry Tasman
      mbak Wulandari Muis
      mbak Gadis Exsprit
      monggo silahkan dinikmati hidangan dan minuman seala kadarnya…
      20 Mei jam 22:15 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Wisang Geni ‎”koh” Herry Tasman… terima kasih…. nanti saya akan saya sampaikan ”koh”…….
      Bhineka Tunggal Ika Tanhana Mangroa…
      siap ”koh” ….!!!! selama hayat masih dikandung badan…. insyaalloh……
      20 Mei jam 22:17 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Arie Irfan Hmmm… Mantab dech….
      Sejak lahir, manusia sudah tahu bahwa sesungguhnya mereka tidak tahu apa_apa. Bahwa sesungguhnya hidup ini misterius. Bahwa sesungguhnya Keberadaan pun misterius. Dan perjalanan harus dijadikan sebuah petualangan untuk menembus misteri ~ agar menyatu dengan Yang Maha Misterius. Salam Kasih.
    • Jr Arief alhamdulillaah…sae sanget…Bunda Lia…dan sahabat semua yg hadir…sy mohon undur diri dulu…matur nuwun sanget…Salam kasih …
      20 Mei jam 22:19 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Arie Irfan Iya Mas Wisang siap, soale dari tadi aku belum ngopi neh… Hehehee…
    • Wisang Geni mas Arie Irfan…. monggo2…. lho mas….. disekecaken…mumpung tasih anget…….
      kan mas Ariyo Hadiwijoyo… monggo mas…. pun kedapi….
      20 Mei jam 22:21 · SukaTidak Suka · 6 orangMemuat…
    • Arie Irfan Hmmm… Mantab dech kopinya….
      20 Mei jam 22:25 · SukaTidak Suka · 6 orangMemuat…
    • Wulandari Muis Matur suwun ms Wisang
      20 Mei jam 22:31 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo injih kang mas Wisang …mniko smpun kaleh gelas telase
    • Abdullah Ali Do ning ndi iki yo….? Hehehehe….
    • Misterr Jeans Sang Kinasih Sugeng ndalu Ibunda, Abah Ali, Mas Wisang, Mas Arie, Mas Jr Arief, Mas Ariyo, Mas Wahyu, Mbak Wulan, Kakang Prabu lan sdoyo kdang knasih.. Mugi ksarasan kwilujengan tansah amberkahi kito sdoyo.
    • Abdullah Ali Sugeng ndalu Sang….iki konco konco koyone wis do kesel dolanan pring,do thenger thenger hahahaha….hahahaha….
    • Misterr Jeans Sang Kinasih Gwe kentongan yo Bah.. Wis do ksel nutuk,i.. Hahahaha..
      20 Mei jam 23:29 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Hahahaha….yo wis tutup wae warunge….sing duwe warung turu hahahaha….hahahaha….
    • Agung Pambudi salam sejahtera damai dihati ,poro kadhang kinasih kakung miwah putri..RAHAYU SAGUNG DUMADI…
      20 Mei jam 23:38 · SukaTidak Suka · 8 orangMemuat…
    • Ki Joko Bodho kok bambu dan padiapa jeng maksudnya,
    • Kyara Dewi Subhanallah Mama…dengan wedaran kali ini Yara semakin dapat menyerap intisarinya ..kelembutan hati yg disertakan semakin menambah energi tuk kembara dalam makna Hidup dalam mati ..mati dalam Hidup..subhanallah..salam ta’dziim yara yg terdalam ..mhn selalu bimbingan Mama….juga poro pinisepah sedoyo..amien
      21 Mei jam 5:52 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Pambalah Batung Subie
      Filosopi padi begitu dalam…..dan bambupun memberikan banyak manfaat…tetapi dalam tulisan bunda ini menunjukkan satu pembelajaran bahwa sifat yg ditunjukkan antara padi dan bambu melambagkan karakter kebanyakan manusia sekarang…yg mana semain berilmu semakin tinggi akuannya…dan palsapah badi cermin dari kebijakan sifat yg sempurna…jika banyak ilmuan yg memilki sifa padi maka niscaya bumi ini aman tentram….karna pada dsarnya yg banyak membutakan org adalah sikap serakah dan kesombongan…betapa lupa bahwa manusia hanyalah mahluk lemah yg tak mempunyai daya apa2…jadikan kehidupan yg sementara ini sebaik2 mungkin pera laku diri….belajarlah ilmu padi….semakin berisi semakin merunduk….berikan sebayak2nya manfaat diri bagi kehidupan pribadi maupun orng lain……salam kash bunda…..Lihat Selengkapnya

      21 Mei jam 8:54 · Tidak SukaSuka · 2 orangAnda dan Abdullah Ali menyukai ini.
    • Abdullah Ali Subie….rahayu….
      21 Mei jam 11:36 · Tidak SukaSuka · 2 orangAnda dan Pambalah Batung Subie menyukai ini.
    • Bayi Sehat selamat malam bunda,selamat malam semua,terima kasih atas tag dan pelajaran yang bunda berikan semoga menjadi kebaikan untuk kita semua,padi dan bambu tetap serumpun tidak pernah pisah saling berkaitan satu sama lain bersatu kita teguh bercerai kita runtuh heee
      21 Mei jam 19:23 · Tidak SukaSuka · 1 orang

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on Juni 13, 2011, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: