Lanjutan-Ilmu Sastra Jendra Wedaran hari ke 3

Lanjutan-Ilmu Sastra Jendra Wedaran hari ke 3 

oleh  

Bunda Lia pada 27 Mei 2011 jam 19:01

Lanjutan –  Ilmu Sastra Jendra
Ilmu Sastra Jendra mencakup beberapa pokok bahasan sebagai berikut ;
1. Ajaran tentang ketuhanan
2. Ajaran tentang alam semesta
3. Ajaran tentang manusia
4. Ajaran tentang kesempurnaan
Ilmu sastra jendra, menjadikan seseorang memiliki KESADARAN KOSMOS, sehingga mempunyai kemampuan yang titis, tetes, tatas, mampu  weruh sadurunge winarah, karena energi kesadarannya telah menerobos dimensi ruang dan waktu. Muara ngelmu sastra jendra adalah Hayuning Rat Pangruwating Diyu, Jagad gumelar jagad gumulung, yakni sebuah prinsip keseimbangan alam, dalam cerita wayang diperankan dalam cerita Panggung Songgo Buwana.
Ini adalah bagian dari Serat Centhini yang membahas tentang tahap-tahap perjalanan seseorang saat mengalami ekstase. Yaitu sebuah kondisi spiritual saat seseorang mengalamipenyatuandengan Dzat-NYA atau manunggaling kawulo kelawan Gusti. Serat Centhini, kita tahu, adalah babon serat-serat Jawa yang terdiri dari 12 jilid dan bila dikumpulkan mencapai 6000 halaman lebih. Semoga poro kadang mendapatkan secuil manfaat dari terjemahan ini. Rahayu.
Syekh Amongraga memberikan wejangan kepada istrinya yang bernama bernama Niken Tambangraras selama 40 hari/malam, baik yang berkenaan dengan makna hidup dan bagaimana cara manusia mendapatkan makrifat kepada Tuhan Dzat Yang Maha Besar, maupun yang berkenaan dengan kehidupan keluarga. Berikut bait-bait yang kamu dikutip dari Serat Centhini yang menggambarkan tentang kemanunggalan antara Tuhan dan manusia :
Yen nuli – winisik basa sempurna – sareng miarsa Ki Bayi – senggruk-senggruk anangis – tangis cumeplong ing kalbu – manah padang nerawang – ngraos tuwuk tanpa bukti – pangaraose wus ana sangisor aras. 
“Kemudia ia membisikkan kata-kata sempurna, ketika itu didengar oleh Ki Bayi dia mulai menangis tersedu-sedu, tetapi ia sekaligus ia merasakan suatu kepuasan batin yang besar. Batinnya menjadi terang-benderang, ia merasa kenyang tanpa menyantap sesuatu, ia merasa seolah-olah terangkat ke hadapan tahta Tuhan.”
 Ambalik sami sekala – kramane mring Amongragi – mehmeh kaya ngabekti -saking tan nyipa kakalih – mung mangsud guru yekti – Ki Bayi aris turipun – rayi dalem kalihnya – sumangga ing kersa sami – ingkang mugi wontenan sih wulang tuan.
“Pada saat yang sama sikapnya terhadap Amongraga berubah sama sekali, ia hampir berbakti kepadanya, karena sekarang ia hanya memikirkan satu-satunya ini, aku mendapatkan seorang guru sejati, kemudian dengan suara lembut Ki Bayi berkata, semoga anda berkenan, agar juga kedua adik anda menerima rahmat ajaran anda.”
Inggih kang basa punika – Mongraga umatur aris – gih putranta sekalihan – sampun kaula wejangi – ing ratri kala wingi – kalihewus sami suhud – matur alkamdu lilah – kaula dados wuragil – sakelangkung panrima kula satitah.
“Yakni kata-kata yang tadi anda sampaikan, Amongraga mejawab, kedua putra Bapak sudah saya berikan ajaran itu tadi malam, keduanya sudah maklum akan kebenaran. Syukur kepada Tuhan, kalau demikian akulah yang bungsu, kata Ki Bayi, saya puas sekalai dengan urutan ini.”
 Amongraga pan wus wikan – ing dalem papanceneki-Ki Bayi lan putranira -Jayengwest- beda ganjaraneki – Ki Bayi ganjaranipura -sih kamulyan ing donya- kang putra ganjaraneki – pan cacalon ganjaran mulyeng akerat.
“Amongraga tahu, apa yang ditujukan kepada Ki Bayi dan apa yang dituakan kepada kedua putranya, Jayengwesti dan Jayengraga. Ganjaran disediakan kemuliaan dunia ini, bagi kedua anaknya kemuliaan di akhirat.”
Kewawa ngelmi makripat – de Ki Bayi panurteki – kahidayat ngelmu sarak – Sarengat utameng urip – Mongraga matur aris – paduka ingkang akasud – tepakur maring Allah – lan tangat kala ning wengi – lawan ngagengena salat perlu kala.
“Kedua anak itu mampu menerima ngelmu makrifat, sedangkan kepada Ki Bayi Panurta diberi tuntunan ngelmu sarak (agama menurut hukum), sehingga ia hidup dengan utama. Kemudian Amongraga berkata dengan lirih, tekunlah dalam menjalankan dan lakukanlah olah bakti malam hari, junjunglah sholat yang diwajibkan pada saat-saat tertentu.”
Ywa pegat adarus mulang – ing kitan Kur’an amerdi – ing janma pekir kasihan – Ki Bayi nor raga ajrih – ing wulang Amongragi.
“Daraskanlah (membaca) ayat-ayat Al-Qur’an, rajinlah dalam mengajarkan Kitab Suci. Berilah sedekah kepada orang-orang miskin. Ki Bayi merendahkan diri ketika ia menerima ajaran Amongraga.”
Mongraga denya kasud – sunad wabin nem rekangatipun – tigang salam sawus ing bakda anuli – tangat kiparat tawajuh – kalih salam bakda manggon.
“Guna mencapai keadaan ekstasis Amongraga melakukan sholat sunat wabin dengan enam rekaat dan tiga salam (pujian), sesudah itu olah kifarat tawajuh (pemulihan dan terarah kepada Tuhan) dengan dua salam, sesudah itu duduk tidak bergerak.”
Amapanaken junun – pasang wirid isbandiahipun – satariah jalalah barjah amupid -pratingkahe timpuh wiung – tyas napas kenceng tan dompo.
“Sambil mempersiapkan diri untuk manunggal dengan Tuhan, ia melakukan wirid menurut (tarekat) Isbandiah, Satariah, Jalalah, dan Barjah, terserap olehnya, ia duduk bersimpuh (kakinya terlekuk ke belakang), hati sanubari dan pernapasan dalam keselarasan.”
 Nulya cul dikiripun – lapal la wujuda ilalahu – kang pinusti dat wajibulwujudi – winih napi isbatipun -pinatut tyas wusa anggatok.
“Kemudian ia mengawali dikirnya dengan kata-kata, la wujuda ilalahu (tak ada sesuatu selain Allah), Dat yang niscaya ada, itulah yang menjadi pusat perhatiaannya, dasar penyangkalan dan pengakuan dan dengan itulah hatinya diselaraskan.
Angguyer kepala nut – ubed ing napi lan isbatipun – derah ing lam kang akir wit puserneki – tinarik ngeri minduwur – lapal ilaha angengo.
“Kepalanya mulai bergerak memutar, silih berganti menyangkal dan mengakui, pada lingkaran lam terakhir kepalanya bergerak dari pusat ke kiri ke atas. Pada ucapan ilalah kepalanya bergerak.”
Nganan pundak kang luhut – angleresi lapal ila mengguh – penjajahe kang driya mring napi gaib – ilalah isbat gaibu – ing susu kiwa kang ngisor.
“Ke kanan ke atas ke arah bahunya, pada saat ia berkata ila inderanya memasuki penyangkalan tersembunyi, ilalah ialah pengakuan gaib di sebelah kiri dadanya.”
 Nakirahe wus brukut – lapal la ilaha ilalahu – winot seket kalimah senapas nenggih – senapas malih motipun – ilalah tri atus manggon.
“Demikianlah nakirah menjadi paripurna, kata-kata la ilalahu dirasakannya 50 kali dalam suatu pernapasan, kemudian 300 kali ilalah pada pernapasan berikut. Istirahat sebentar.”
Anulya lapal hu hu – senapas ladang winotan sewu – pemancade tyas lepas lantaran dikir – kewala mung wrananipun – muni wus tan ana raos.
“Lalu hu, hu, 1000 kali dalam satu pernapasan panjang, demikianlah hatinya naik lepas bebas tanpa rintangan, dengan perantara dikir yang fungsinya hanya sebagai sarana. Suara-suara yang dikeluarkannya tak ada arti lagi.”
Wus wenang sedayeku – nadyan a a e e i i u u – sepadane sadengah-dengan kang uni – unine puniku suwung – sami lawan orong-orong.
“Segalanya diperbolehkan, entah itu aa, ee, ii atau uu atau lain sebagainya, terserah apa saja. Kemudian suara-suara itu tiba-tiba lenyap seperti suara seekor orong-orong (yang tiba-tiba diam seketika).”
Ing sanalika ngriku – coplok ing satu lan rimbagipun – dewe-dewe badan budine tan tunggil – nis mikrad suhul panakul – badan lir gelodog.
“Pada saat yang sama bata-bata dan bentuk terlepas, artinya badan dan budi masing-masing berdiri sendiri-sendiri, ia lenyap dan mi’raj, terlebur dalam Dat Ilahi, badannya tertinggal bagaikan sebatang glodog.”
Tinilar lagya kalbu – yekti ning napi puniku suwung – komplang nyenyed jaman ing mutelak haib – wus tan ana darat laut – padang peteng wus kawios.
“Yang ditinggalkan oleh lebah-lebah, kosong. Kalbunya merupakan ketiadaan sejati, kosong sepi. Tiada ada lagi daratan maupun laut, terang dan gelap tiada lagi.”
Pan amung ingkang mojud – wahya jatmika jro ning gaibu – pan ing kono suhule dinera mupid – tan pae-pinae jumbuh – nora siji nora roro.
“Yang ada hanya indah itulah yang meliputi yang batiniah dan lahiriah di alam gaib. Di sanalah usaha Amongraga untuk mencapai kemanunggalan sampai pada titik penghabisan. Tak ada lagi perbedaan, hanya kesamaan yang sempurna, mereka bukan satu bukan dua lagi.”
Wus tarki tanajul – mudun sing wahya jatmika ngriku – aningali tan lawan netranireki – Dat ing Hyang Kang Maha Luhur – patang prekara ing kono.
“Sesudah tarakki menyusullah tanazzul, ia turun dari alam lahir dan atin (wahya jatmika), ia memandang lagi tetapi bukan dengan matanya, Dat Yang Maha Luhur, di sana terdapat empat hal.”
Sipat jalal gaibu – jamal kamal kahar gaibipun – wusna mijil saking gaib denyaa mupid – wiwit beda jinisipun – Gusti lan kawula reko.
“Sifat jalal yang gaib, keindahan, kesempurnaan dan kekuasaan (jamal, kamal dan kahar) yang gaib. Sesudah keluar dari keadaan gaib mulailah perbedaan dua jenis, yaitu Gusti dan kawula.”
Dat ing gusti puniku – jalal kamal jamal kahar nengguh – sipat ing kawula pan akadiati – wahdat wakidiatipun – alam arwah adsam mengko.
“Adapun hahekat Gusti itu ialah jalal, kamal, jamal adapun sifat-sifat kawula itu ialah ahadiyya, wahda, wahadiyya, alam arwah, alam ajsam.”
Misal insan kamilu – beda ning gusti lan kauleku – yekti beda ingriku lawan ingriki – kejaba kang wus linuhung – pramateng kawroh kang wus wroh.
“Alam misal dan insan kamil. Perbedaan antara Gusti dan kawula ialah perbedaan antara dua jenis sifat-sifat itu, kecuali bagi manusia yang istimewa (linuhung) yang sudah mengetahui ilmu sejati.”
Sawusira aluhut – lir antiga tumiba ing watu – pan kumeprah tyasira lagyat tan sipi – tumitah ing jamanipun – aral ing kula katonton.
“Sesudah ektasinya lewat, ia menyerupai sebutir telur yang jatuh di atas sebuah batu, demikian rasa terkejut di dalam hatinya ketika kembali dalam keadaan makhluk dan melihat kembali keterbatasannya selaku seorang hamba (kawula).”
Luaran denya suhul – angaringaken senapas landung – mot saklimah La ilaha ilalahi – mulya andodonga sukur.
“Sesudah kemanunggalannya dengan Tuhan larut, ia bernafas panjang sambil mengucapkan satu kali syahadat, la ilaha ilalah, kemudian memanjatkan doa syukur.”
Yen wus munggah budimulya – Sang Hyang Mahamulya lan mulya ning budi – abeda nora neda – pan wus jumbuh sembah lawan puji – puji amuji ing dawakira – iya dewe nora dewe – tanpa dewe pupus.
“Bila budi sudah naik ke tempat yang mulia, maka dalam keadaan mulia itu Yang Mahamulia dan budi berbeda dan tidak berbeda. Sembah dan pujian menjadi serupa. Pujian merupakan pujian terhadap dirinya. Manusia sendiri yang mengalami itu, tetapi juga bukan diri sendiri. Tiada lagi dirinya, hanya itulah yang dapat dikatakan.”
 Bakda dikir anuli – adonga sukur Hyang Agung – sawusira dodonga – asujud sumungkem siti – takrub asru tepekurira nelangsa.
“Sesudah dikir ia memanjatkan doa syukur kepada Yang Agung, sesudah itu ia bersujud, merebahkan diri ke tanah, dan mendekati Tuhan dengan merasakan kerendahannya.”
Rumasa kinarya titah – beda ning kawula gusti – lir lebu kelawan mega – bantala lawan wiati.
“Ia menyadari bahwa dia hanya buah ciptaan dan bahwa antara kawula dan Gusti ada perbedaan, seperti antara debu (di tanah) dan awan, atau seperti antara bumi dan ruang angkasa.”
Dari beberapa bait (pada dalam bhs Jawa) yang ada dalam Serat Centhini ini, dapat memberikan suatu gambaran bahwa Tuhan dan manusia tidak sama, karena manusia adalah ciptaan Tuhan. Namun manusia bisa mencontoh sifat-sifat Tuhan dan mengingatnya dengan memperbanyak dikir sehingga dapat mengalami kondisi ekstasis, yakni kemanunggalan dengan Dzat Mutlak Tuhan.

Tidak SukaSuka · · Bagikan · Hapus

    • Bayu Pur trims bunda …..dpt lg tambahan pengetahuan ……smoga kita mendpt berkah ….amin
      27 Mei jam 19:06 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Triasih Prasetianingtyas Selamat malam Bunda ..smg kau tetap brsemangat dlm melangkah …salam kasih silahkan d lanjut wedarannya ..
    • Bunda Lia Mas Bayu Pur sama2 ya mas… semoga bermanfaat bagi kita semua … kita sama2 membahas dan tukar kaweruh… selamat malam mas …salam kasih.
    • Bunda Lia Mbak yu Triasih say… adikmu tetap semangat kok tenang saja yang penting doa panjenengan yang saya minta …
    • Eko Sutrisno Sumonggo Dibuka Al-quran Surat Al-a’raf ayat 172-173…Sungguh Rohani kita pun sudah pernah berdialog dengan ALLAH SWT ….
      27 Mei jam 19:23 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Sugeng dalu mas Eko salam kasih….
      172.Dan ingat pulalah ketika Tuhanmu hendak mengembang-biakkan keturunan Adam dari tulang sulbi mereka, lalu diminta-Nya pengakuan mereka atas jiwanya masing-masing: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka menjawab: “Benar kami mengakui Engkau Tuhan kami”. Hal ini Kami lakukan agar nanti di hari kiamat, jangan kalian mengatakan: “Kami dahulu lupa tentang perjanjian ini” Dialog antara Tuhan dan manusia dalam ayat ini, melukiskan fithrah naluri setiap insan dalam kejadiannya. Dalam hal ini bahasa yang dipergunakan ialah bahasa peristiwa, bukan bahasa manusia.

      173.Atau agar kamu nanti jangan mengatakan pula: “Sesungguhnya nenek moyang kamilah yang musyrik lebih dahulu, kami hanya anak-cucunya yang datang kemudian. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan salah orang-orang dahulu kala itu?”Lihat Selengkapnya

    • Wulandari Muis Sugeng ndalu mbLia nderek ngangsu kawruh
      27 Mei jam 19:29 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Sugeng dalu mbak Wulan monggo sareng2 njih….
      27 Mei jam 19:33 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno ‎”…lalu diminta-Nya pengakuan mereka atas jiwanya masing-masing: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?”. Mereka men…jawab: “Benar kami mengakui Engkau Tuhan kami”….mari kita renungkan pada kalimat ini
      27 Mei jam 19:36 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Hady Yuss Terimakasih sobat atas segala keterangan yang Terang ini…
    • Eko Sutrisno siapa sejatinya kita….betapa muuuulia dan tinggginya kita..sedulur2…hayooo….kenapa kita begitu menistakannya..hanya karena melayani nafsu sesaat….
      27 Mei jam 19:38 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Hady Yuss selamat malam mas salam kasih….
      27 Mei jam 19:39 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Hady Yuss Itu adalah pilihan sekaligus Pembeda….
      27 Mei jam 19:39 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno Allah SWT penguasa Alam semesta mengajak kita berdialog..berarti kualitas yang diajak bicara luar biasa…nah ini berarti yang ngelink (nyambung) dan bisa berdialog dengan ALLAH SWT hanya rohani kita…karena dah sejatinya seperti..itu…hayoo kita renungkan sama2
      27 Mei jam 19:40 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Hady Yuss Selamat Malam Sugeng nDalu……Rahayu Sobat,,,
      27 Mei jam 19:40 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno Persoalannya : sampai sejauh mana kebersihana hati kita…ingat rumusnya Air- menyatudengan Air…..Air tidak menyatu dengan Minyak….Allah Maha Suci…tentu suka sama yang Bersih…Hati tempat bersemayamnya Singasana Allah SWT….
      27 Mei jam 19:43 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno Manusia ialah kesimpulan dari penciptaan Alam Semesta ini……dan sempurna tercipta adanya….namun ia bisa jatuh melorot deraajatnya menuju level lebih rendah dari binatang…..Ya Allah Ya Qodir Ya Mu’tadir Kami Mohon Bimbinglah kami selalu di Jalan MU Yang Lurus dan Jalan YAng Engkau Ridhoi..amiin
      27 Mei jam 19:46 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Hady Yuss Alhamdulillah………..amin.
      27 Mei jam 19:47 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno Jika hati kita tenang maka kan tenang seluruh anggota tubuh kita..jika hati kita bergejolak maka kan bergejolak semua….
      27 Mei jam 19:47 · Tidak SukaSuka · 2 orangAnda dan Agung Pambudi menyukai ini.
    • Subagyo Ucok mbakyu Lia milu isun,..marang ngaji jagat cilik karo makro cosmos,..
      27 Mei jam 19:48 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno Penyatuan Rohani dalam Wadag (Jasmani) kan selalu dalam rahmat Allah..bilamana Rohani mendominasi Jasmani dalam kehiudpan sehari-hari..sehingganya kita selalu ngelink terus dengan Gusti Allah SWT
      27 Mei jam 19:51 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Hady Yuss manungso jagad cilik……..Alam Jagad Raya Jagad Gede……ono Sang Pencipta…..sing Maha Rohman Rohim Rezpect
      27 Mei jam 19:52 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno Hati2- dengan Nafsu….karena ia kendaraannya Iblis, syaiton dkknya…ia tercipta dari Api…Iblis pun dari Api… Bahan yang sama bisa menyatu…ketika dia telah masuk melalui pintu ini,,,maka hati2 ia akan berjalan2 di aliran darah kita….nah jika nafsu dan iblis yang mendominasi diri kita…maka jangan harap ..bisa menyatu dengan ZAT YANG MAHA TINGGI..
      27 Mei jam 19:54 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Siwi Marthin Sugeng ndalu bunda Lia. Absen kalian nyimak.
      27 Mei jam 19:57 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno Tolok Ukur zikir ialah Hati menjadi Tenang….maka Ketika Sholat sebagai sarana latihan kita nyambung dengan Allah..dalam kondisi dikuasai oleh Rohani maka ia kan bisa Mi’raj ke hadirat Allah SWT..seperti kejadian pada Ayat diatas…
      27 Mei jam 19:57 · Tidak SukaSuka · 2 orangAnda dan Agung Pambudi menyukai ini.
    • Bunda Lia Mbak Siwi….kita dengar wedaran mas Eko Sutrisno dulu ya say….
      27 Mei jam 19:58 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno Namun jika Sholat dikuasai oleh Nafsu..yang terjadi ialah..Pikiran kita melayang-layang entah kemana..sholat inget Jemuran..sholat inget masakan..sholat inget yang lain…
      27 Mei jam 19:59 · Tidak SukaSuka · 2 orangAnda dan Agung Pambudi menyukai ini.
    • Eko Sutrisno begitu juga hidup kita jika dikuasai oleh nafsu maka..hidup ini ndak fokus…pikiran ndak teratur, pertimbangan menjadi sirna…hati menjadi butek…
      27 Mei jam 20:00 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno Nah bagaiamana membedakan Nafsu dan Rohani..mudah sekali: perhatikan orang yang makan dengan nafsunya….(begitu rakus dan cepatnya), ..perhatikan manusia yang makan dengan rohani dan keseimbangan pikirannya dia dengan TENANG ..dan PELAN makannya..Maka IA Menikmati hidangan itu dengan penuh syukur
      27 Mei jam 20:01 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Serat Wulang Reh Putri adalah teks Jawa yang berbahasa dan beraksara Jawa serta berbentuk tembang macapat yang terdiri atas, pupuh Mijil (10 pada atau bait), Asmaradana (17 pada atau bait), Dhandhanggula (19 pada atau bait), dan Kinanthi (31 pada atau bait). Serat Wulang Reh Putri berisi nasihat dari Paku Buana X kepada para putri-putrinya tentang bagaimana sikap seorang wanita dalam mendampingi suami. Isi nasihat itu antara lain bahwa seorang istri harus selalu taat pada suami. Disebutkan bahwa suami itu bagaikan seorang raja, bila istri membuat kesalahan, suami berhak memberi hukuman. Istri harus selalu setia, penuh pengertian, menurut kehendak suami, dan selalu ceria dalam menghadapi suami meski hatinya sedang sedih. Berikut ini adalah suntingan teks “SERAT WULANG REH PUTRI” beserta terjemahannya…Lihat Selengkapnya

    • Eko Sutrisno Kuncinya : Kerjakan Sholat ini dengan TENANG, terapkan Tu’maninah disetiap pergantian Gerakan dan Ucapan…dan lakukan dengan PELAN dengan Penuh RASA Hormat..dan RASA menghadap…
    • Hady Yuss Sholat dengan Sembah Yang….dengan Ilmu, jangan asal sholat, harus jelas siapa yang di sembah,,, Sembah Yang mana….? Tahu Jelas antara yang Menyembah dan Yang di Sembah…
      27 Mei jam 20:04 · SukaTidak Suka · 5 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno
      Sedulur…kok kenapa kita membahas ini didalam wedaran serat yang disampaikan bunda….esensi dan subtansinya dari serat tersebut bisa jadi apa yang kami sampaikan…sungguh begitu MAHA BAIKNYA ALLAH SWT mengirim para kekasihnya di tanah jawa ini,,, dengan baik para Pujangga kita yang nota benenya ialah para Aparat ALLAH..menuangkan suatu ajaran didalam bentuk Karya sastra yang adiluhung didalam khasanaha Peradaban Tanah Jawa dwipa ini…yang semoga bisa di cerna oleh semua orang di bumi jawa ini….Lihat Selengkapnya

    • Abdullah Ali Sugeng sonten Den Ayu….mugi tansah pinaringan rahayu,tansah pinaringan pitedah,tansah pinaringan welas asih mring Gusti kang moho wicaksono,amin amin amin.
      27 Mei jam 20:09 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno amiin ya Robbal alamiin
      27 Mei jam 20:10 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno sumonggo dilanjut bunda dan poro sedulu..mohon maaf atas kelancangan kami…wss
    • Hady Yuss napunten…..sami sami…
    • Misterr Jeans Sang Kinasih Sugeng ndalu Ibunda, Abah Ali, Mas Eko, Mas Hady, Mbak Siwi, Mbak Wulan lan sdoyo kdang knasih, mugi kwilujengan tansah amberkahi kito sdoyo.. Monggo Ibunda dilanjut wedaranipun..
      27 Mei jam 20:13 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Pupuh
      M I J I L
      1.Ingsun nulis ing layang puniki – atembang pamiyos – awawarah wuruk ing wijile – marang sagung putraningsun estri – tingkahing akrami – suwita ing kakung .

      Saya menulis karya ini, dalam bentuk tembang, memberikan petuah dalam bentuk (tembang) mijil, kepada seluruh anak perempuan saya, (tentang) tata krama dalam perkawinan, mengabdi kepada suami.

      2.Nora gampang babo wong alaki – luwih saking abot – kudu weruh ing tata titine – miwah cara-carane wong laki – lan wateke ugi – den awas den emut.

      Tidak mudah orang bersuami, sangat berat, harus tahu aturan, juga harus tahu cara-cara orang bersuami, dan juga watak (lelaki), waspadalah dan ingatlah.Lihat Selengkapnya

    • Wulandari Muis Sugeng ndalu ugi sang kinasih rahayu rahayu rahayu
      27 Mei jam 20:20 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎3. Yen pawestri tan kena mbawani – tumindak sapakon – nadyan sireku putri arane – nora kena ngandelken sireki – yen putreng narpati – temah dadi lu p ut

      Wanita jangan mendahului kehendak suami, berbuat semaunya (asal perintah) meskipun kamu itu putri, kamu jangan menonjolkan kalau putra raja, akhirnya tidak baik.

      4. Pituture raja Cina dhingin – iya luwih abot – pamuruke marang atmajane – Dewi Adaninggar duk ngunggahi – mring Sang Jayengmurti – angkate winuruk

      Nasihat ratu Cina ini, sangatlah berharga, nasehat yang diajarkan kepada anaknya, Dewi Adaninggar ketika melamar, Sang Jayengmurti, ketika berangkat (dinasihati).

      5. Pan wekase banget wanti-wanti – mring putrane wadon – nanging Adaninggar tan angangge – mulane patine nora becik – pituture yogi – Prabu Cina luhung

      Pesannya dengan bersungguh-sungguh, kepada putra perempuannya, namun Adaninggar tidak mengindahkannya, maka kematiannya tidak baik, ajaran kebaikan, Prabu Cina yang luhur.Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      ‎6. Babo nini sira sun tuturi – prakara kang abot – rong prakara gedhene panggawe – ingkang dhingin parentah narpati – kapindhone laki – padha abotipun
      Engkau anak perempuanku, saya menasihati, perkara yang berat, dua perkara yang besar, yaitu: yang pertama perintah raja, yang kedua suami, sama beratnya.
      7. Yen tiwasa wenang mbilaheni – panggawe kang roro – padha lawan angguguru lire – kang meruhken salameting pati – ratu lawan laki – padha tindakipun
      Kalau salah dapat berbahaya, dua perbuatan, artinya sama dengan berguru, yang menunjukkan keselamatan, kematian, raja sama dengan lelaki, (sama perbuatannya).
      8. Wadya bala pan kak ing narpati – wadon khak ing bojo – pan kawasa barang pratikele – asiyasat miwah anatrapi – Sapra- tingkahneki – luput wenang ngukum .
      Jika prajurit hak raja, perempuan hak suami, sangat kuat pengaruhnya, siasat maupun tindakannya, dan segala tindakannya, salah bisa dihukum.
      Lihat Selengkapnya

      27 Mei jam 20:36 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Kozink Saputra selamat malm…bunda..kang ali,kng mister.ms eko.mbk siwi .mbak wulan,,dan semua yg sdh hadir..selamat..mengikuti wedaran bunda lia…semoga bermanfa’at..utk kita semua…..
      27 Mei jam 20:38 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Cipto Turonggo Kawedar sugeng ndalu bunda ‘absen kalih tumut nyimak’….
      27 Mei jam 20:39 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Kozink Saputra khusus sederek kulo kang dullah ali..sepuntene kth..tiba putus..sekalinya cek lagi..eee abis deh pulsa..heheheh spuntene njeh kng..
    • Bunda Lia
      ‎9. Sapolahe yen wong amrih becik – den amrih karaos – pon-ponane kapoka ing tembe – nora kena anak lawan rabi – luput ngapureki – tan wande anempuh .

      Segala tingkah lakunya, jika orang itu menuju kebaikan, supaya dirasakan tujuannya, kalau suami tidak memberi maaf, kelak istri dan anak akan melakukan perbuatan yang tidak baik.

      10. Amung bala wenang ngapureki – polahe kang awon – beda lawan rabi ing lekase – pan mangkono nini wong ngakrami – apaitan eling – amrih asmareng kung

      Hanya prajurit yang, bertingkah laku salah, berbeda dengan istri yang tidak bisa dimaafkan, memberi maaf itu keliru,anak istri akan melakukan perbuatan tidak baik, jadi harus eling, dan cinta kasihLihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      Pupuh ASMARANDANA
      1. Pratikele wong akrami – dudu brana dudu rupa – amung ati paitane – luput pisan kena pisan – yen gampang luwih gampang – yen angel-angel kelangkung – tan kena tinambak arta .
      Bekal orang menikah, bukan harta bukan pula kecantikan, hanya berbekal hati (cinta), sekali gagal, gagallah, jika mudah terasakan amat mudah, jika sulit terasakan amat sulit, uang tidak menjadi andalannya.

      2. Tan kena tinambak warni – uger-ugere wong krama – kudu eling paitane – eling kawiseseng priya – ora kena sembrana – kurang titi kurang emut – iku luput ngambra-ambra
      Tidak bisa dibayar dengan rupa, syarat-syarat orang berumah tangga, harus diingat modalnya, ingat kekuasaan laki-laki, tidak boleh seenaknya, kurang berhati-hati dan kurang waspada, kesalahan yang berlebihan.

      3. Wong lali rehing akrami – wong kurang titi agesang – Wus wenang ingaran pedhot – titi iku katemenan – tumancep aneng manah – yen wis ilang temenipun – ilang namaning akrama
      Orang yang lupa aturan berumahtangga, orang yang kurang berhati-hati dalam hidupnya, dapat dikatakan sudah rusak, teliti itu artinya bersungguh-sungguh, meresap dalam hati, jika sudah hilang ketelitiannya, hilang nama baik berumah tangga.Lihat Selengkapnya

    • Abdullah Ali Kozink hahahaha….ora dadi ngopo….maturnuwun wis gelem telpon hehehehe….rahayu
      27 Mei jam 20:58 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Kozink Saputra sami2 kng..simpati lawan xl..wah yo remok kang,..hehhehehe..spuntene njeh sederek2 iklan duluh…
      27 Mei jam 21:02 · Tidak SukaSuka · 3 orangAnda, Agung Pambudi, dan Abdullah Ali menyukai ini
    • Bunda Lia
      ‎4. Iku wajib kang rinukti – apan jenenging wanita – kudu eling paitane – eling kareh ing wong lanang – dadi eling parentah – nastiti wus duwekipun – yen ilang titine liwar

      5. Pedhot liwaring pawestri tan ngamungken wong azina ya kang ilang nastitine wong pedhot dherodhot bedhot – datan mangan ing ngarah pratandhane nora emut yen laki paitan manah

      6. Dosa lahir dosa batin – ati ugering manungsa – yen tan pi nantheng ciptane – iku atine binubrah – tan wurung karusakan – owah ing ati tan emut – yen ati ratuning badan.

      7. Badan iki mapan darmi – nglakoni osiking manah – yen ati ilang elinge – ilang jenenging manungsa – yen manungsane ilang – amung rusak kang tinemu – tangeh manggiha raharja.Lihat Selengkapnya

      27 Mei jam 21:13 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Lanjut……
      27 Mei jam 21:19 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎8. Iku wong durjana batin uripe nora rumangsa – lamun ana nitahake – pagene nora kareksa – ugere wong ngagesang – teka kudu sasar susur wong lali kaisen setan

      9. Ora eling wong aurip – uger-uger aneng manah – wong mikir marang uripe – ora ngendhaleni manah – anjarag kudu rusak – kasusu kagedhen angkuh – kena ginodha ing setan

      10. Pan wus panggawening eblis yen ana wong lali bungah – setane njoged angleter – yen ana wong lengus lanas – iku den aku kadang – tan wruh dadalan rahayu – tinuntun panggawe setan

      11. Wong nora wruh maring sisip- iku sajinis lan setan – kasusu manah gumedhe – tan wruh yen padha tinitah – iku wong tanpa tekad – pan wus wateke wong lengus – ambuwang ugering tekadLihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      ‎12. Iku nini dipunelin – lamun sira tinampanan – marang Sang Jayengpalugon – ya garwane loro ika putri teka Karsinah iya siji putri Kanjun aja sira duwe cipta

      13. Maru nira loro nini nadyan padha anak raja uger gedhe namaning ngong lan asugih ratu cina parangakik Karsinah rangkepa karatonipun maksih sugih ratu Cina

      14. Budi kang mangkono nini buwangen aja kanggonan mung nganggowa andhap asor karya rahayuning badan den kapara memelas budi ingkang dhingin iku wong ladak anemu rusak

      15. Yen bisa sira susupi tan kena ginawe ala yen kalakon andhap asor yen marumu duwe cipta ala yekti tan teka andhap asorira iku kang rumeksa badanira

      16. Lamun sira lengus nini miwah yen anganggo lanas dadi nini sira dhewe angrusak mring badanira marumu loro ika sun watara Jayengsastru dadi tyase loro pisan

      17. Telas pituturireki mring putra Sang Prabu Cina prayoga tiniru mangke marang sakehing wanodya iki pituturira ing Tarnite Sang Aprabu Geniyara gula drawaLihat Selengkapnya

    • Kozink Saputra kng mas agung..sumonggo nderek ..andil..wedaranipun kng…ampun jemopl mawon..njeh kng..jempol ckp bagiane kulo2..kng..hehehehe…
      27 Mei jam 21:29 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎4. Itu kewajiban yang harus dipelihara, karena hanya wanita, harus bermodalkan eling, ingat akan wewenang laki-laki, jadi ingat perintah, berhati-hati sudah menjadi miliknya, apabila tidak berhati-hati maka rusaklah.

      5. Perempuan yang rusak, tidak hanya pada orang berzina, termasuk orang yang tidak berhati-hati (tidak teliti), dinamakan “bejat” moralnya, tidak mengenal arah, pertanda tidak ingat, bahwa berumah tangga bermodalkan hati.

      6. Dosa lahir dan batin, hati menjadi pedoman, jika tidak khusuk ciptanya, pertanda hatinya kacau, bisa menyebabkan kerusakan, berubahnya hati karena tidak ingat, kalau hati itu rajanya badan.

      7. Badan adalah hanya sekadar pelaksana geraknya hati, melaksanakan kemauan hati, jika hati hilang kesadarannya, hilang sifat kemanusiaannya, apabila sifat kemanusiaannya hilang, hanya kerusakan yang didapatkan, tidak mungkin mendapatkan kebahagiaan.Lihat Selengkapnya

      27 Mei jam 21:32 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎12. Itulah anakku ingatlah, apabila engkau diterima, oleh Sang Jayengpalugon, yang istrinya dua itu, putrinya Karsinah, yang satunya putri Kanjun, janganlah engkau punya pikiran.

      13. Madumu dua orang itu, walaupun sama-sama anak raja, asal besar namaku, dan raja Cina lebih kaya, Parangakik Karsinah, walaupun rangkap kerajaannya, masih lebih kaya ratu Cina.

      14. Budi yang demikian itu anakku, buanglah jangan sampai kau miliki, gunakanlah rasa rendah hati, untuk keselamatan diri, berbuatlah agar dikasihi, budi yang pertama tadi, orang pemarah (sombong) akan berakibat celaka.

      15. Jika bisa engkau mengerti, tidak dapat dibuat jelek, jika berbuat rendah hati, jika madumu mempunyai niat jelek, pasti tidak akan terlaksana, sebab sikapmu yang rendah hati, yang telah bersemayam dalam badanmu.

      16. Namun, jika engkau sombong anakku, lebih-lebih jika “galak”, menjadikan dirimu, merusak badanmu sendiri, kedua madumu itu, ibaratnya “jayeng satru”, keduanya jadi perhatian.

      17. Nasihatnya telah selesai, kepada putra Sang Prabu Cina, sebaiknya kelak menjadi teladan, untuk semua wanita, ini nasihatnya, Sang Prabu di Ternate, Geniyara beralih pada pupuh dhandhanggula.Lihat Selengkapnya

    • Agung Pambudi
      Sugeng sumunaring condro ing wayah ratri…ingkang tansah sumunar hamadhangi jagad gumelar sagung dumadi…hanyekseni poro titah kang tumitah..hamemuji mring gusti ingkang moho suci….salam ugi katur dumateng sedoyo kadhang kinasih poro wasis sidiq ing paningal..,poro sepuh ugi pini sepuh ,,kakung miwah putri..ingkang sami lenggah ing paseban agung…..RAHAYU SAGUNG DUMADI…Di ajeng ayu…pun kakang nderek lelenggahan njih..tumut nyemak wedaran sastro jendro….ingkang kawedar…Lihat Selengkapnya

      27 Mei jam 21:40 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Lanjut……
      27 Mei jam 21:41 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Pupuh DHANDHANGGULA
      1. Lenggah madyeng pandhapa Sang Aji lan kang garwa munggwing nging dhadhampar panganten estri kalihe munggwing ngarsa Sang Prabu duk wineling kang putra kalih winuruk ing masalah angladosi kakung Prabu Tarnite ngandika anak ingsun babo den angati-ati abagus lakinira

      2.Suteng nata prajurit sinekti tur kinondhang Sang Prabu Jenggala amumpuni sarjanane ing pramudita kasub wicaksana alus ing budi prawira mandraguna prakoseng dibya nung ratu abala kakadang amepeki musthikane wong sabumi taruna nateng Jawa

      3. Marma babo dibegjanireki sinaruwe mring prabu Jenggala pira-pira ing maripe ing Jawa nggoning semu wit sasmita wingiting janmi babo dipangupaya/wiweka weh sadu mungguhing paniti krama wong alaki tadhah sakarsaning laki padhanen lan jawata

      4. Nistha madya utama den eling utamane babo wong akrama jawata nekseni kabeh pan ana kang tiniru Putri Adi Manggada nguni wido dari kungkulan ing sawarnanipun lan sinung cahya murwendah Citrawati sinembah ing wido dari Putri AdimanggadaLihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      ‎5. Garwanira rajeng Mahespati Sri Mahaprabu Harjuna Sasra tinarimeng Batharane dennya ngugung mring kakung mila prabu ing Mahespati katekan garwa dhomas saking garwanipun putri Manggada kang ngajap sugih maru akeh putri ayu luwih yen ana kinasihan

      6. Mring kang raka Prabu Mahespati Putri Manggada sigra anyandhak kinadang-kadang yektine jinalukaken wuwuh ing sihira kang raka aji pan kinarya sor-soran kang raka anurut dadya sor-soran sakawan Citrawati saking panjunjungireki tinurut dening raka

      7. Lega ing tyas anrus ing wiyati murtining priya putri Manggada limpat grahitane sareh iku yogya tiniru Citrawati guruning estri nini iku utama suwita ing kakung tan ngarantes pasrah jiwa raga nadyan anetep den irih-irih ing raka tan lenggana

      8. Nora beda nini jaman mangkin ingkang dadituladan utama putri Manggada anggepe suraweyan Sang Prabu manthuk- manthuk atudhang- tudhing putra kalih gung nembah ing rama Sang Prabu poma nini dipun awas pan wano dyaden cadhang karsaning laki den bisa nuju karsaLihat Selengkapnya

      27 Mei jam 21:53 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎9. Aja rengu ing netra den aris angandika Prabu Geniyara tan kapirsan andikane mung solah kang kadulu heh ta nini madyaning krami sumangga ing sakarsa tan darbe pakewuh manut sakarsaning raka Citrawati waskitha solahing laki mila legawa tama

      10. Nisthaning krama sawaleng batin ing lahire nadyan lastari ya ing wuri sumpeg manahe ing pangarepan nyatur nora wani mangke ing wuri tyase agarundhelan mongkok-mongkok mungkuk ing batin ajape ala iya aja ana wadon kang den sihi ngamungna ingsun dhawak

      11. Tan kawetu mung ciptaneng batin nisthanira tan wus saking driya durjana iku ambege pasthi den bubuk mumuk bumi langit padha nekseni nalutuh ing sajagad dosane gendhukur wido dari akeh ewa ing delahan ing nraka den engis-engis ing widodari kathah

      12. Lamun nini nira den pasrahi raja brana ing priya den angkah branane wus den wehake sayekti duwekingsu iku anggep wong trahiyoli luwih nisthaning nistha pakematan agung dudu anggepe wong krama baberan duba ruwun setan kaeksi dudu si pating jalma.Lihat Selengkapnya

    • Arie Irfan Rahayu…. Selamat Malam… Salam Kasihku.
      27 Mei jam 22:03 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎13. Setan kere pan anggawa lading thethel–thethel balung wus binuwang jejenising jagad kabeh bebete wong anglindur tanpa niyat duwe pakarti buru karep kewala mring darbeking kakung sanadyan pepegatana duwek iku jer wus dadi duwek mami jer ingsun wus digarap

      14. Yeku budi satus trahiyoli papalanyahan murka anungsang nyilakani ing tanggane lakon pitung panguwuh ing tanggane kang denulari aja na sasandhingan wong mangkono iku yekti kasrengat cilaka bonggas gawe asandhing wong kena pidhir reregede sajagad

      15. Gawe kurang ambiyanireki lah usungen dunya ing Mekasar mung aja amurang bae aja toleh maring anggegawa regeding ati lamun sira anyipta yen atmajeng ratu dadi gungan ing tyasira wong akrama katon wong tuwanireki anggandelaken alaLihat Selengkapnya

      27 Mei jam 22:05 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Arie Irfan Selamat malam Mas Agung, Kang Dullah, Mas Kozink… Rahayu… Salam Hormatku.
      27 Mei jam 22:06 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Petruk Tralala klining..klining..kliing..!!

      petruk hadir, mbeber kloso amoh, trs mingkem…melu sinau

      27 Mei jam 22:10 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎16. Ing akrama estri dadi adi wus tinitah ing Suksma Kawekas /wus mangkana titikane karsaning bathara gung pangulahing hyang Hudipati yen ana kang anerak wong mopo ing tuduh Bathara Suksma Kawekas babendhu manungsa kang den upatani dadi warit sakala

      17. Saya lamun di suka ing Widhi dadi manggih apureng delahan kalamun den ingu bae di sukana ing besuk yeku ingkang ambab ayani tanpa dadi delahan yen mangkono kontang poma nini den suwita marang laki yen sira ginawa benjing mulih mring lakinira

      18. Sampun telas pitutur sang Aji ing Tarnite Prabu Geniyara sri atmaja kakalihe pan prakara satuhu yen tiruwa pasthi abecik aja dumeh wong Buda kang duwe pitutur kaya sang raja ing Cina aja dumeh-dumeh kalamun wong kapir tur majusi kapirnya

      19. Nanging pitutur apan prayogi mapan pirit pinet ing sarapat lan kadis Rosulullohe eklasna putraningsun didimena raharjeng krami nyuwargakken wong tuwa sira yen mituhu marang wuruke si bapa apan ana tatandhane ingkang becik anganthia kang raharjaLihat Selengkapnya

      27 Mei jam 22:12 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Rahayu,mas Arie….
      27 Mei jam 22:14 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Arie Irfan
      Hiburlah diri kita dengan Kasih Sejati. Lawan menjadi kawan dengan Kasih Sejati. Wajah Allah yang tak terwujud pun dapat kita lihat dengan Kasih Sejati. Kehadiran Allah dapat kita rasakan saat ini, sekarang juga, dan di dalam dunia ini, karena Kasih Sejati. Kegagalan_kegagalan hidup menjadi keberhasilan yg menakjubkan karena Kasih Sejati. Nikmati kesucian, kemuliaan, kejernihan, kelembutan, dan kebesaran Kasih Sejati dan berbagilah Kasih Sejati dengan siapa pun yang kita temui. Salam Kasih Dan Hormatku.Lihat Selengkapnya

      27 Mei jam 22:18 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@kakang mas Arie Irfan salam rahayu sugeng ndalu….kang mas..
    • Agung Pambudi ‎@kakang mas abdullah ali..sugeng ing madyaning ratri kang mas..rahayu ingkang sami pinanggih..
      27 Mei jam 22:21 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@kakang mas Petra..salam takzimku kakang mas…sugeng ndalu…
      27 Mei jam 22:21 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@kakang mas kozink..salam damai bahagia selalau ya kang mas…
    • Ariyo Hadiwijoyo sugeng ndalu bunda…wanci leres wedaran puniko…nyoto…kasunyatan …sampun nyata’aken piyambak …sagede2ne coba saged luar saking sumarahing diri pribadi…rahayu bunda
      27 Mei jam 22:26 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@kakang mas eko sutrisno..salam rahayu sejahtera selalu..
      27 Mei jam 22:27 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@salam sejahtera kakang mas..Ariyo..semoga bahagia senantiasa ya kakang mas..salam buat keluarga…
      27 Mei jam 22:28 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      PUPUH DHANDHANGGULA

      1. Sang raja duduk di tengah pendopo, dan sang istri berada di singgasana, kedua mempelai putri, berada di depan sang raja, kedua putrinya diberi pesan, diajarkan suatu hal, tentang melayani suami, Raja Ternate berkata, “anakku, berhatihatilah!, baik-baiklah pada suami”.

      2. Putra raja prajurit sakti, dan dikenal oleh Sang Prabu Jenggala, memiliki banyak kepandaian, akan kesenangan dan kemashuran, bijaksana dan berbudi halus, perwira yang agung (perkasa), kuat badannya, raja bertentara sanak saudara, mendekati keindahan orang sedunia, raja muda di Jawa.

      3. Bahwa keberuntungan itu, diperhatikan oleh Raja Jenggala, berapa banyak saudara ipar, di Jawa tempat tersamar, dan isyarat juga sampai di luar, berusaha memimpin, berhati-hati pada orang suci, bahwa di dalam ajaran tata krama, orang berumah tangga hendaknya menurut laki-laki, samakanlah dengan dewa.Lihat Selengkapnya

      27 Mei jam 22:35 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo kakang mas Agung @ salam sdamai sejahtera sllu kakang …matur suwun …smoga kselamatan sllu utk kita srt sluruh kluarga kakang mas …rahayu rahayu
      27 Mei jam 22:35 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo kakang mas Agung @ salam sdamai sejahtera sllu kakang …matur suwun …smoga kselamatan sllu utk kita srt sluruh kluarga kakang mas …rahayu rahayu
      27 Mei jam 22:37 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo mohon maaf saudaraku smu…salam taklim…smoga damai sjahtera utk kita smua.
      27 Mei jam 22:41 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎4. (orang) rendah, sedang, dan utama, ingatlah, terutama orang berumah tangga, semua dewa menyaksikan, bukankah ada yang ditiru, putri cantik dari Adimanggada, melebihi bidadari, dari segala warna, dan diberi sinar keutamaan yang indah, Citrawati disembah oleh bidadari, putri cantik Adimanggada.

      5. Istri raja Mahespati, Sri Mahaprabu Harjunasasra, diterima oleh dewa, karena menyanjung suaminya, karena itu raja Maespati, mendapat putri delapan ratus, dari istrinya, putri Magada menginginkan, memiliki madu yang banyak dan cantik-cantik, apabila ada yang dikasihi.

      6. Oleh suaminya raja Mahespati, putri Manggada segera mengambilnya, sebagai saudara kandungnya, dimintakan tambah, kasih sayang suaminya, dikerjakannya terus menerus, maka suami akan menurut, menjadi teman selamanya, usaha Dewi Citrawati, diturut oleh suaminya.

      7. Lega dan terangnya hati tak terhingga, pikiran yang dimiliki oleh putri Manggada, pandai dan berperasaan kepada orang lain, itu baik untuk ditiru, Citrawati sebagai guru wanita, anakku itu utama, mengabdi kepada suami, tidak merana menyerahkan jiwa, apabila raja dilindungi, dikasihi, yang tak terduga oleh suami.Lihat Selengkapnya

    • Abdullah Ali Rahayu mas Agung…..
      27 Mei jam 22:49 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Agung Pambudi nembah nuwun kang mas ariyo..@.kang mas ali nembah nuwun..monggo lo sinambi nyruput wedhang kopi njih…
      27 Mei jam 22:53 · Tidak SukaSuka · 11 orangMemuat…
    • Agung Pambudi hm mahespati kang mas dullah ..sepertinya kita pernah berkunjung kesana ya kang mas….
      27 Mei jam 22:56 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎8. Tidak berbeda dengan zaman yang akan datang, yang menjadi teladan, hanya putri Manggada yang dipercaya, sang raja asyik, mengangguk-angguk dan menunjuk, kedua putrinya menghaturkan sembah, kepada ayahnya. “Anakku, waspadalah, bukankah wanita itu menerima segala kehendak suami”, dapatlah mengerti kemauannya.

      9. Jangan ragu-ragu dalam memandang, sang raja Geniyara berkata, tidak terdengar kata-katanya, hanya gerak-gerik yang terlihat, bahwa di dalam berumah tangga, pasrah pada kehendak (suami), tidak memiliki rasa sungkan, menurut kehendak suami, Citrawati memahami gerak hatinya, maka berada dalam keutamaan.

      10. Hal yang nistha di dalam batin, walaupun akan lestari, pada akhirnya hatinya bingung, di depan berkata, di belakang tidak berani, di dalam hati mengeluh, di dalam hati berniat tidak baik, jangan sampai wanita yang dikasihi, hanya memikirkan diri sendiri saja.

      11. Hanya dipikirkan di dalam hati, kejelekan orang itu tidak selamanya melekat di hati, orang jahat itu menganggap pasti itu penyakit bodoh, bumi dan langit menyaksikan, kotoran di dunia, dosanya bertumpuk, semua bidadari tidak senang, kelak masuk neraka dan diperolok-olok, oleh bidadari-bidadari.Lihat Selengkapnya

    • Sri Kandi DIAJENG BACUTAKE DAK MIDANGETAKE ,ENDAH DIMAS ABDULLAH ALI WJANGANE DIAJENG.
    • Agung Pambudi sungkem kawulo pun rayi kakang mbok ayu..Sri Kandi..salam rahayu ..
      27 Mei jam 23:06 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Sri Kandi PIKIRAN KANG AYEM SERTO TENTREM WUS ORA MBEDAK AKE KEDADEYANING SAMUBARANG LELAKON. BACUTAKE DIAJENG.
    • Bunda Lia
      ‎12. Namun, anakku jika engkau diberi, harta benda oleh suamimu berhati-hatilah, hartanya sudah diserahkan, hakikatnya kepunyaanmu, itu dianggap orang jahanam, lebih daripada hina, tukang sihir besar, bukan dianggap orang berumah tangga, menabur dupa dan setan menari-nari, bukan sifat makhluk (manusia).

      13. Setan berkeliaran membawa pisau, mengambil tulang yang sudah dibuang, mengotori seluruh dunia, perbuatan orang mengigau, tidak berniat memiliki perbuatan, mengejar kenyang saja, akan harta milik suami, walaupun terjadi perceraian, milikmu sudah menjadi milikku, sebab (saya) sudah diperistri.

      14. Yaitu budinya seratus jahanam, orang yang acak-acakan, membuat celaka tetangga, kotoran berlipat tujuh, tetangga ditulari, jangan didekati, orang seperti itu, pasti akan terkena kejelekannya, tidak ada gunanya berdekatan dengan orang sesat, kotoran sedunia.

      15. Ambillah harta dari Makasar, hanya jangan melanggar kehormatan, jangan mengingat ayahmu, akan membawa kotor hati, apabila berpendapat, bahwa engkau putra raja, menjadi kebanggaan hatimu, orang berumah tangga terlihat oleh orang tua itu, mempertebal/memperbesar kejelekan.

      16. Dalam rumah tangga wanita menjadi terhormat, yang diciptakan oleh Suksma Kawekas, itu sudah pertanda, kehendak Bathara Yang Maha Tinggi, kehendak Hyang Hutipati, jika ada yang menerjang, orang yang tidak mengindahkan petunjuk, Bathara Suksma Kawekas, semoga dihukum disumpah, menjadi “cacing” seketika.Lihat Selengkapnya

      27 Mei jam 23:09 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Sri Kandi SUNTAMPI DIAMAS,RAHAYU DIMAS AGUNG PAMBUDI.
      27 Mei jam 23:11 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Mbak Ayu Sri….alhamdulillah,nuwun injih Mbak Ayu….salam ta’lim keng rayi mugi kerso nampi Mbak Ayu….
      27 Mei jam 23:13 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Mbak Ayu Sri….alhamdulillah,nuwun injih Mbak Ayu….salam ta’lim keng rayi mugi kerso nampi Mbak Ayu….
      27 Mei jam 23:14 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia Sungkem dalem sewu mbak yu… Rahayu njih mbak yu… pance leres atun panjenengan mbak yu awerat sanget….. awit kapribaden kang nyimpang ugi nyingkur …. panci awerat kagem sae… nopo malih mring sesami… nyuwun dongo pangestu mbak yu Sri Kandi mugi kawulo tansah eleng ugi waspodho. Rahayu3x.
      27 Mei jam 23:14 · Tidak SukaSuka · 12 orangMemuat…
    • Agung Pambudi sanget anggen kawulo mundhi kakang mbok ayu..mugi handadosaken kawuningan..ugi lereming penggalih….rahayu djojo ing bojo….
    • Abdullah Ali Mas Agung….iyo mas,tapi lebih tepatnya aku hanya nderekke lo hehehehe….
      27 Mei jam 23:15 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Sri Kandi SUN TOMPO DIMAS ABDULLAH ALI. DONGO PANGESTUKU TAMPANONO YO DIMAS, UGO DONGOKU KANGGO KELUARGO DIKO.
      27 Mei jam 23:15 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Agung Pambudi nuwun injih kakang mas abdullah..mugi sami pinaring karaharjan ing gesang kawulo lan panjenengan sami..
    • Bunda Lia
      ‎17. Semakin lama disukai Yang Maha Kuasa, kelak jadilah pemaaf, jika disimpan saja, kena marah nantinya, itu yang berbahaya, tidak akan berhasil nantinya, apabila demikian peruntungannya, maka dari itu anakku dapatlah mengabdi, kepada suami jika kamu dibawa nanti, kembali kepada suamimu.

      18. Sudah selesai nasihat sang raja, Raja Geniyara dari Ternate, kepada kedua putrinya, perkara yang sangat baik, jika ditiru baik manfaatnya, jangan merasa orang “buda”, yang memiliki ajaran, seperti Raja Cina, jangan merasa bahwa kafir itu segalanya, apabila kafirnya orang Mejusi.

      19. Tetapi ini ajaran (nasihat) yang baik, makna yang dikandungnya baik untuk diambil, dan hadis Rasulullah, ikhlaskan anakku, agar bahagia dalam berumah tangga, menjunjung nama orang tua, jika kamu turuti, ajaran (nasihat) ayahmu, berada dalam tanda/alamat yang baik, ajakan menuju kebahagiaan.Lihat Selengkapnya

    • Abdullah Ali Matursembahnuwun Mbak Ayu Sri….alhamdulillah….amin amin amin……
      27 Mei jam 23:22 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Sri Kandi DIAJENG KANG BANGET SUN TRISNANI, SIRO KANG WUS BISO NGUWALAKE ROSO PEPINGINAN ING SAK JERONING MANAHMU LAN UGO RUMANGSAKU WUS MAREM RAOSING ATIKU DIAJENG MIRSANI SLIRANE WUS TETEG MANAHMU, YO DIAJENG PENGGALIH MANEH OJO NGRESULO DIAJENG.
      27 Mei jam 23:22 · Tidak SukaSuka · 11 orangMemuat…
    • Agung Pambudi bungah raosing manah tan kenging ginambaraken bilih ing madyaning ratri meniko saget pinanggih kadhang sepuh kang kinasih…kraos adem ayem lan tentrem..asrep sak nalikane….duh gusti mugi ing dalu meniko panjenegan kers paring kucuran rohmat dumateng kita sami….amien
    • Abdullah Ali Mas Agung,insyaAllah….amin amin amin
      27 Mei jam 23:25 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kang aku medar wengi iki ora suwe kang aku awit esok mau mung pingin manekung arep mateni roso wae kang amung kanggo bojoku kang Dullah…. ora pingin gagas liyo2…
      27 Mei jam 23:25 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Bunda Lia golek wong jujur ki angel yo kang Dullah…
      27 Mei jam 23:26 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Sri Kandi DIAJENG SAREH WONG AYU SAREH .
      27 Mei jam 23:27 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Agung Pambudi amien..kakang mas abdullah…
      27 Mei jam 23:27 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Nyuwun pangapunten mbak yu Sri….
    • Agung Pambudi mugi katampi sedoyo panuwunan panjengan njih diajeng ayu…andum dongo maring pasuwitaning..pun rayi..
      27 Mei jam 23:29 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Den Ayu….dongaku tansah nderekke lakumu Den Ayu…..Gusti moho wicaksono….
      27 Mei jam 23:29 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Sri Kandi DIAJENG OJOK NGANTI KAGODHO ING RAOS BUNGAH LAN SUSAH DIAJENG, AMARGO LORO-LORONE KUWE LAK YO PODHO DIAJENGA, OPO MANEH SLIRAMU AREP MATENI ROSO JUR AREP DIGOWO NENG NGENDI JAGATMU DIAJENG.
      27 Mei jam 23:30 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Pangeran Joyo Kusumo Rahayu… Luar biasa segala sesuatu telah tergelar… Smua membuka… Smoga akan slalu diiringi wahyu nugroho jati… Baik yg menulis maupun yg membaca,menyimak… Tanpa terkecuali… Sehingga menjadi jalan bagi saudara2 smua lebih terang… Seterang mentari pagi… Seindah n damai bulan purnama… Salamku terkasih n tuk smua hatur sukma sagung dumadi… Rahayu…3x
      27 Mei jam 23:33 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mbak yu menungso meniko menawi sampun dipun asihi kalian penyakit kang dipun arani egois… cidro… njih rusak lampahipun…..
    • Agung Pambudi kakang mas Pangeran Joyo Kusumo..salam rahayu kakang mas…sugeng sumunaring condro…
      27 Mei jam 23:34 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Den Ayu hm…….
      Duh Gusti…..pripun niki….wealaaaah….

      Mbak Ayu Sri,menawi Den Ayu ngoten niku….jan peteng jagad kulo hm…….

      27 Mei jam 23:36 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Sri Kandi DIMAS AGUNG PAMBUDI PAWELUNGKU YO DIMAS, MENOWO ATURKU LUPUT SEPURANE YO DIMAS.
    • Agung Pambudi kakang mbok ayu Sri kandi..nuwun duko panjenengan njih kakang mbok..bilih mobah mosik ‘ing agesang kawulo tansah ginanjar lepat lan luput..ing pinanggih..awit sedoyo lelampahan ing agesang njih amung sakdermo manut ingkang sampun ginaris…nyuwun duko ingkang langkung kakang mbok…nyuwun pitedahipun..
      27 Mei jam 23:37 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Sri Kandi DIMAS ABDULLAH ALI WONG SAK IKI NINDAK AKE PAKARYAN KANG PERLUNE MUNG AREP NAMPANI GANJARAN UTOWO PANGALEMBONO.
      27 Mei jam 23:40 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Mbak Ayu,nuwun injih kados sampun dados limrah ingkang kados mekaten….kawulo ugi ajrih menawi kalebet tiyang ingkang makaten,nyuwun nasehatipun Mbak Ayu…..
      27 Mei jam 23:43 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Sri Kandi DIMAS AGUNG PAMBUDI NGUMBAR ROSO KADUK TRISNO LAN GETHING MARANG MARANG KADONYAN IKU NJALARI WONG IKU ORA BISO NGAMBAH DALANING BEBENER.
      27 Mei jam 23:46 · Tidak SukaSuka · 11 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mbak yu kawulo telp sak meniko.
      27 Mei jam 23:47 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Sri Kandi AYO DIAJENG .
      27 Mei jam 23:48 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Agung Pambudi nuwun injih kakang mbok..kawulo rumaos sedoyo kalepatan ingkang sampun linampahan..mugi ing pagajeng tansaho pinaring margi ingkang padhang anggen kawulo anindak- aken darmaning agesang….nembah nuwun kakang mbok ayu..
      27 Mei jam 23:51 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Sang Suryagama SABDANATA: SUGENG DALUH DIAJENG. INGKANG ASMA ALLAH YEKU MOKHAL KANG WARNA RUPA LAN MANCAWARNA #RAHAYU#
      27 Mei jam 23:54 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 8 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@ salam rahayu kakang mas Sang Suryagama…sugeng ing madyaning ratri…
      27 Mei jam 23:54 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Sang Suryagama SABDANATA: SALAM RAHAYU MAS AGUNG PAMBUDI. WILUJENG ING SAKABEH WANADRI LAN JALADRI. #RAHAYU#
    • Agung Pambudi RAHAYU kakang mas…nembah nuwun..
      28 Mei jam 0:12 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo Bunda…sugeng ing madyanin ratri …sugeng ndalu…rahayu.
      28 Mei jam 0:51 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 4 orangMemuat…
    • Eddy Sudarmanto
      Salam.. Salam .. Salam
      Rahayu .. Rahayu .. Rahayu

      Sugeng dalu poro sanak lan kadhangisun
      Mugi pinaring karaharjan sedoyo

      Mbakyu sri sungkem hormat dalem haturaken
      Mugi sageto paring dawuh dumateng ingsun..

      Kakangku dollah mugi tansah bungah raosing manah kakang..

      Sedulurku lanang agung pambudi, tampanono
      Uluk salamku ki sanak…

      Poro sepuh lan pinisepuh kadhangisun kabeh
      salam salam salam..
      Mugi tansah pinaring asihing gusti moho agung

      Diajengku gusti ayu lia sihsihaningsun ..
      Mugi tansah sumringah lereming manah yo dii
      Tetep jejeg manteb ora owah solahbowoningsun olehing hanetepi janji..
      Mugi kabeh tansah handadeake jimat
      Marang lelakuningsun lanhiro
      Rahayu rahayu rahayu…Lihat Selengkapnya

      28 Mei jam 2:27 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Pur Ilham Widiatmo ngalkamdulilah Bunda, walaupun hal2 tersurat itu bru menjelaskan sedidikit tp sdh menjadi petunjuk yg sangat luar biasa, karena untuk mendapatkan hal yg utuh harus ketemu mas Mursid, kamongko tuk biso ktmu mas Mursid kudu ngampiri sedulurmu sing papat. lah nek panganan koyo gini Onto ora doyan po meneh Wroho… Rahayu
      28 Mei jam 5:10 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Carricks Carr hong wilah heng sekaring bawono…
      28 Mei jam 8:27 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Sarjono Imam Salam Rahayu dumateng para sedulur
      28 Mei jam 10:42 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Yulius Langi Salam kasih selalu…
      28 Mei jam 13:23 · Tidak SukaSuka · 3 orangAnda, Agung Pambudi, dan Hady Yuss menyukai ini
    • Sunardi Nardi Klaten Sugeng sonten poro kadang sedoyo engkang makempal wonten dalem ipun Ibunda.. Salam Rahayu
      28 Mei jam 17:36 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on Juli 5, 2011, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: