PERJALANAN PANJANG Sambungan kemarin Wedaran hari ke 8.

PERJALANAN PANJANG Sambungan kemarin Wedaran hari ke 8.

oleh Bunda Lia pada 01 Juni 2011 jam 19:14
 
 
PERJALANAN PANJANG Sambungan  wedaran kemarin hari ke 8.
Izinkanlah si Fakir ini untuk memohon maaf jika banyak kata-kata yang kurang pantas dan tidak berkenan di hati selama saya berbicara… menulis… bercanda… bergurau…. Tetapi itulah sejengkal pengetahuan dan pengalaman spiritual yang bisa saya sampaikan kepada para kadang kang kinasih dan sahabat atau anak-anakku yang tersayang….
Sebenarnya Sukma sejati, sukma jati, guru sejati atau guru murshid sama saja…cuma sebutannya saja yang berbeda…..ada juga yang menyebutnya dengan Nur Muhammad yang disebut Ruh idhlafi yang merupakan Hakikat Sukma dan ini merupakan kehendak dari Dzat Yang Maha Suci.
Nur Muhammad adalah hakikat sukma yang diakui keadaan Dzat dan merupakan perbuatan Atma dan menjadi Wahana dalam Alam Arwah ( Martabat 7 ) dan dari Nur Muhammad inilah yang menimbulkan Unsur-unsur Kehidupan yang menjadi Asal muasal Kehidupan.
Sukma sejati adanya pada kedalaman pribadi yang di pegang oleh Sang Pribadi…..melalui proses pengenalan diri sendiri maka muncullah cermin memalukan yang memberikan kenyataan kesadaran bahwa kotornya diri kita dan melalui proses selanjutnya maka kita bisa mulai mencari dan menemukan Sang Sukma sejati atau Adam Makna ……sama saja.
Dan dalam proses menemukan yang di butuhkan adalah totalitas Kesadaran, Keikhlasan, Ketulusan dan Kebulatan Tekad hanya untuk MencintaiNya seutuhnya ……tanpa ketakutan akan neraka atau keinginan akan sorga….yang ada hanya Dia.
Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4 …ini sesuatu yang berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah di sempurnakan atau di tundukkan oleh Sang Penguasa Sukma.
Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena untuk menemukan Penguasa Sukma ( sukma sejati ) melalui proses dan halangan yang cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.
Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.
Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4 …ini sesuatu yang berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah di sempurnakan atau di tundukkan oleh Sang Penguasa Sukma.
Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena untuk menemukan Penguasa Sukma ( sukma sejati ) melalui proses dan halangan yang cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.
Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.
Kenapa saya sebut sebuah perjalanan.
Karena ini semua harus kita jalani sendiri, dengan mulai dari sebuah keraguan, pencarian, penemuan, pemahaman, kesadaran dan penyatuan…..dalam sebuah cinta kasih yang tulus, dengan pengorbanan yang tak terkira untuk sampai kesana…untuk sampai ke pantai dan melihat samudera…untuk melihat dimana semua sungai bermuara   (  kembali ).
Seperti Bima bertemu Dewa Ruci.
Bagaimana pertama kali kita akan dihadang oleh nafsu 4 perkara…..mula-mula sinar lutam, sinar merah, sinar kuning, sinar putih.
Berakhirnya perjalanan ….Pada zaman karamatullah kelak, waktunya maqamijabah, yakni terkabulnya segala sesuatu, segala apa yang dikehendaki terlaksana, karena lenyapnya Mutdah yang merupakan Dzat hamba, tinggallah Wajah yaitu Dzat Tuhan yang bersifat kekal.
Menuju cinta sejati …..adalah sebuah perjalanan yang penuh pengorbanan, saat hidup di kuasai rahsa maka nafsu menguasai jiwa, dan kita tidak akan mendapatkan atau menemukan apa-apa semuanya hanya semua, tidak abadi dan kekal.
Betul sekali bahwa ortu, anak istri…dan semua yang kita dengar, lihat, rasa, endus…semuanya hanyalah pinjaman dan akhirnya toh harus kembali ke asal….itulah yang dinamakan Kesadaran…
Jalan bertemu suksma sejati……adalah dengan menemukan Kesadaran dengan membersihkan jiwa, mengendalikan nafsu 4 menembus 3 cahaya akhir … pertama ; ikhlas, kedua ; rela pada hukum kepastian Allah, ketiga ; agar merasa tidak memiliki apa-apa, keempat ; harap berserah diri pada kehendak Allah Taala …. tidak ada yg menyerupainya ….kecuali anda tahu tempatnya, disinilah kadang di perlukan pembimbing…karena kadang banyak yang serupa atau menyerupai…tapi bukanlah yg sebenarnya.
Dalam Kehidupan ini faktor yang sering dilupakan kita sebagai manusia yang kadang mentang-mentang sebagai khalifah ( pemimpin ) dan merupakan Tajali ( perwujudan ) dari Sang Maha Sempurna, adalah dari mana kita ” berasal ” dan bagaimana kita ” kembali ke asal “.
Sehingga kadang kita melupakan bahwa bahwa kita terdiri dari 2 bagian…..yaitu yg bernama “Jasad” ( raga )dan “Ruh” ( jiwa )……dan dalam menempuh hidup dan kehidupan, biasanya kita lebih banyak termakan dogma dari sebuah kehidupan yang mengandalkan atau menampilkan baju dari masing-masing sehingga hakikat atau makna dari dalam bajunya jarang tersentuh.
Bagaimana Jasad atau raga itu adalah sebagai baju dari Ruh atau jiwa….jiwa menemukan raga begitu di dunia…..dahulu disana tiadalah memerlukan baju atau apapun, raga memerlukan makanan, minuman dan kebutuhan lainnya untuk bertahan di dunia, sedangkan jiwa merindukan tempatnya yang dahulu, dimana tidak memerlukan apapun di alam adam makdum…..
Bagaimana sebuah raga begitu memerlukan perjuangan untuk bertahan hidup di dunia sehingga akhirnya kadang berbenturan dengan keinginan ruh yang tidak merindukan apa-apa, tetapi ruh tanpa raga adalah bukan siapa-siapa karena Keagungan Perwujudan Dzatullah tidak akan terlihat.
Demi menjaga keseimbangan haruslah kita mempertimbangkan tentang keduanya…… bagaimana begitu kita berwujud sudah berbekal 4 nafsu inti, lawwammah, amarah, sufian dan muthmainah, yg apabila bicara seharusnya……harusnya adalah kita harus mematikan dalam wacana mematikan nafsu 4 perkara :Mati nafsunya, setiap nafsu akan merasakan maut. Mati rohnya, maksudnya yang hilang rahsanya. Mati ilmunya, maksudnya yang mati atau yang berjurang imannya. Mati hatinya, maksudnya yang mati ucapannya dengan lisan.
Dan yang melandasi hukumnya adalah ; Jalan untuk kesempurnaan Pati itu adalah Hidayatullah yang menandakan tempat yang telah diatur, serta hakikat hidup yang berada pada manusia. Kedudukan Pati petunjuk Allah taala, selamat dalam keadaan jati maksudnya bijaksana terhadap kesempurnaan sangkan paran. Bertemunya Pati itu tawakal maksudnya berserah diri kepada Allah taala, adapun bertemunya apti itu iradat Allah. Perkara Pati perbuatan Allah maksudnya merapakan kesempurnaan Dza yang bersifat Esa.
Janganlah kita terpaku pada sebuah nama atau sebutan…..karena pasti akan menimbulkan perbedaan bahkan kekacauan dan berujung kehancuran.

Tidak SukaSuka · · Bagikan · Hapus

    • Rahmatsubada Deni Asswrwb..met mlm Bunda..
      01 Juni jam 19:23 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Rahayu rahayu rahayu….
      01 Juni jam 19:26 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Wa’alaikum salam mas Rahmatsubada Deni selamat malam salam kasih mas.
      01 Juni jam 19:26 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kang Dullah… poro sesepuh wis podho rawuh dongamu yo kang mugo aku biso nompo tugas abot….
      01 Juni jam 19:27 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Loh,saiki wis ning manding po….?
      01 Juni jam 19:29 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Pande Putra Ragil met alam bunda,dan met malam kang dullah ,bunda itu foto sama kakek siapa bunda
      01 Juni jam 19:32 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bayi Sehat selamat malam bunda^^
      01 Juni jam 19:33 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo selamat malam bunda…sugeng ndalu…rahayu
    • Misterr Jeans Sang Kinasih Sugeng ndalu Ibunda Abah Ali lan sdoyo kdang knasih mugi ksarasan kwilujengan tansah amberkahi kito sdoyo.. Monggo kito nyimak wedaranipun Ibunda kanti ikhlasing penggaleh.
    • Henny ‘niniek’ Noeralie Malam diajeng,mks utk tagnya……salam
    • Pande Putra Ragil kang dullah saya tidak mengerti bahasanya tapi kalau disimak comment2nya bikin damai kang dullah
      01 Juni jam 19:40 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Rahayu,Sang Kinasih….alhamdulillah....

      Pande….alhamdulillah….salamku.

    • Bunda Lia
      Asallamu’allaikum poro kadang kang kinasih… sugeng enjang sugeng pepanggihan njih…. mugi tansah rahayu wilujeng….Asung Puji Dhumateng Gusti Kang Moho….. ugi asung pamundhut mugi kita tansah kalimputan kasarasan lan kabagyan….. sumlempit pangarep arep …. mugi kepanggih menopo ingkang dipun upadi….. duhhhh poro kadang sedoyo kawulo tansah trisno dumateng poro kadang kang kinasih… mugi sedoyo reribet ing gesang sageto uwal dateng lampah … mamuji kawulo mugi panjenengan sami nyandung kabegyan kang sae saking ngersaning Gusti Kang Moho Wikan…. Wass. Rahayu3x.Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 19:51 · Tidak SukaSuka · 12 orangMemuat…
    • Pangeran Joyo Kusumo rahayu… Benar adanya menggalih jiwa alam sejati n menyatukannya… Salam kasih damai rahayu…3x
    • Hari Yuswadi sugeng ndalu bunda,sugeng ndalu mas Abdulah ali.mugi tansah pinanggih rahayu.
    • Bunda Lia Mas Pande Putra Ragil selamat malam mas…. salam kasih.
    • Abdullah Ali Mas Yuswadi,sugeng ndalu ugi….insyaAllah,amin amin amin
    • Petruk Tralala Nderek nyimak njih…geng dalu
    • Bunda Lia Mas Misterr Jeans Sang Kinasih hemmm… malam.
      01 Juni jam 20:05 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kang Pangeran Joyo Kusumo… Rahayu3x… sepurane kang aku kok rodho rakepenak ing pikir kang…
    • Bunda Lia Sugeng dalu mas Hari Yuswadi….
      01 Juni jam 20:07 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Cipto Turonggo Kawedar sugeng ndalu bunda,’absen kali tumut nyimak
      sugeng ndalu poro kdhang2 sdoyo ke mawon..
      01 Juni jam 20:07 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kang Petruk Tralala…
      01 Juni jam 20:07 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Tutur Pamungkas sugeng dalu Bunda…..
      nyuwun palilahipun nderek sebo wonten ing pamulangan dalu meniko….
      mugi2 engkang kawedar samangke saget dados koco benggalaning lampah gesang kulo…
      @pak Dullah: sugeng dalu pak…
      01 Juni jam 20:13 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Aminnnn… mugo2 panyuwun kang Tutur Pamungkas ugi kulo piyambak dawah atur kang sami njih kang Tutur…. ugi poro kadang sedoyo ugi sami kang Tutur…. Rahayu3x.
      01 Juni jam 20:16 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Tirta Naya sugeng dalu bunda … matur nuwun tag ipun..
      01 Juni jam 20:17 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Ariyo Hadiwijoyo monggo mas dongo mugi dalu meniko sageto tuntas kersaane mbejang saget medar Kanjeng Sunan Kali Jogo….
      01 Juni jam 20:18 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Nuwun injih mas Tutur,sugeng ndalu ugi….rahayu
      01 Juni jam 20:20 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Wowww Allahh Kang Tutur kok yo dadak ampek dadaku rasane…
      01 Juni jam 20:21 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Piye jal iki kang Dullah malah buntut2te kok yo kangen..
      01 Juni jam 20:21 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Den Ayu hehehehe….
      01 Juni jam 20:23 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Wah iki tanggung jawabbe mas Pande iki kang…..
      01 Juni jam 20:25 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Tirta Naya….. malam mas salam kasih…
      01 Juni jam 20:26 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Tirta Naya kang dullah sugeng dalu..lan sedoyo kang rawuh, pangestunipun..
      01 Juni jam 20:26 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Tirta Naya nggih bunda,,salam
      01 Juni jam 20:26 · Tidak SukaSuka · 2 orangAnda dan Agung Pambudi menyukai ini.
    • Bunda Lia Ora kang Dullah … kae loh kang Tutur wong nulis ra mbayar wae kok yo ra cemuit… opo wis bisu tenan he he he
      01 Juni jam 20:27 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kang Tutur piye… endi swaramu..???
    • Bunda Lia
      Bismilahirrahmanirrahim…. kita mulai ya kang takut tidak sampai waktunya…. Ya Robb … Bimbinglah Kami Dalam Mengarungi Jembatan Dunia Ini… Jadikanlah Dada Kami Sebagai Tempat Muaranya Lirik-lirik Kalam-Mu… Dan Penuhkanlah Berkah Dan Kebaikaan Pada Kami…
      Aamiin Ya Rabb….. Ku tulis bait ini dalam rangkaian malamku yang panjang… dan kutulis wedaran malam ini mohon ridho-Mu….
      Baiklah kumulai….. kang Dullah dongo mugo tutuk yo kang.

      Dalam khasanah jawa disebut sukma sejati dan sejatining sukma, dalam khasanah islam disebut ruh idhafi atau nur muhammad atau ruh al quds ( ruh suci ), dalam nasrani di sebut ruh kudus, dalam hindhu atma.
      Dalam perjalanannya kenapa disebut guru sejati atau guru mushid…..adalah pada saat kita mencari sesuatu yang murni atau sejati, abadi…..bahwa kita harus menyadari bahwa DzatNya ada pada sifat hidup kita dan yang pantas kita jadikan guru adalah hanya itu…..bukan yang lain yang sama dengan kita yang akan menjadi tanah lagi atau bahkan dari bangsa dilura manusia.Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 20:34 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Amin amin amin
      01 Juni jam 20:37 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Mas Tirta,sugeng ndalu ugi….rahayu
      01 Juni jam 20:38 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Mas Tutur….la opo ono wong kecemplung kaleng po hehehehe….
      01 Juni jam 20:40 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Tirta Naya subhehannalloh..amin, nggih sugeng dalu kang dullah..rahayu
      01 Juni jam 20:40 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Walah kleru ngetik….la wong kalen kok dadi kaleng jiiiiiiaaaaannnn hahahaha….
      01 Juni jam 20:41 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Dalam khasanah yang berbeda keberadaan sukma sejati tidak bisa dilepaskan dari asal mula Tuhan menciptakan Ruh suci ini dalam bentuk makhluk untuk meneruskan penzhahiran yang [paling sempurna dalam peringkat Alam Ketuhanan Dzat Yang Maha Tinggi. Dan Tuhan menhendaki ruh itu turun ke alam fana ini di peringkat paling rendah, yaitu alam Ajsam ( alam kokret )…..yang tujuan utamanya adalah untuk memberi pelajaran kepada Ruh suci itu dan untuk mengetahui pengalamannya dalam mencari jalan kembali kepada Tuhan.
      Dan dalam perjalanannya …dari tingkatyang paling tinggi sampai ke tingkat paling rendah , ruh suci menempuh berbagai alam atau peringkat….mulai dari semula turun ke peringkat Akal Semesta atau Kesatuan atau Hakikat Muhammad.
      Dan Ruh suci ini dihantarkan ke tempat yang paling rendah agar ia mencari jalan ke asalnya yaitu berpadu atau berdampingan denagn Tuhan seperti ketika ia berada dalam pakaian daging, darah, dan tulang itu. Melalui hati yang ada dalam badan kasar ini, wajar bila ia menanam benih rasa kesatuan dan keesaan, dan ia akan berusaha menyuburkan rasa berpadu dan berdampingan dengan Tuhan yang menciptakannya.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 20:41 · Tidak SukaSuka · 12 orangMemuat…
    • Kozink Saputra amin amin amin…selamat malm bunda..kang.dullah..ms jean .kng ptruk.tirta.pk yuswadi..pangera.kusumo..salam jabat erat persaudra’an kita..mlm ini kozink..ttp hadir..bunda slm hormat..dalem nderek nyimak bunda…
      01 Juni jam 20:41 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Dalam bumi hati itu ruh suci menanam benih keyakinan yang telah dibekalkan kepadanya oleh Tuhan dari alam Maha Tinggi dan benih itu diharapkan menjadi pokok keyakinan yang akan menghasilkan buah-buahan yang rasanya kelak akan membawa Ruh itu kembali naikke tingkat demi tingkat hingga sampai ke hadirat Tuhan.
      Penciptaan badan agar sukma sejati ( ruh ) dapat masuk dan menetap didalamnya, dan setiap ruh mempunyai nama tersendiri, dan Tuhan menyusun ruang-ruang dalam badan dan meletakkan ruh manusia diantara daging dan darah, dan meletakkan ruh suci ditengah hati manusia suatu ruang yang indah dan halus untuk menyimpan rahasia antara Tuhan dan hambaNya.
      Ruh-ruh itu berdiam diberbagai bagian anggota badan dengan tugas masing-masing. Keberadaannya seolah-olah berlaku sebagai pembeli dan penjual bermacam barang yang mendatangkan berbagai hasil. Perniagaan semacam inilah yang mendatangkan bentuk rahmat dan berkat dari Tuhan.
      Seharusnya manusia mengetahui kebutuhan dalam ruhaninya masing-masing, seharusnya tidak mengubah apa yang sudah ditetapkan atau ditakdirkan Tuhan kepadanya.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 20:55 · Tidak SukaSuka · 11 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo Injih bunda… amin…mugi gusti ingkang moho asih amberkahi… salam taklim dalem njih kagem sdoyo kadang kinasih
      01 Juni jam 20:59 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 4 orangMemuat…
    • Tutur Pamungkas punten dalem sewu Bunda….
      nyadong dedukanipun menawi damel kirang renaning penggalihipun,meni
      ko wau sawek wntn pengkeran…
      sumonggo pun lajengaken Bunda….dalem nyemak kemawon…
      01 Juni jam 21:02 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 7 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Mas Tutur hehehehe….
      01 Juni jam 21:05 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Dada adalah tempat bersemayamnya ruh dalam diri setiap insan manusia, tempat yang berhubungan dengan panca indera ini bertugas mengatur segala hal yang berkaitan dengan masalah syariat…..karena dengan ini Tuhan mengatur keharmonisan alam nyata. Ruh tidak pernah mengingkari perintah Tuhan, tidak mengatakan tindakannya itu sebagai tindakannya sendiri, tetapi lebih karena ia tidak mampu bercerai dengan Tuhan.
      Tuhan memberikan beberapa kelebihan bagi manusia yang memiliki ruhani yang tinggi pula ; pertama, kemampuan melihat bukti-bukti wujud keberadaan Tuhan didunia yang manifestasikan dalam sifat-sifat Tuhan, kedua…kemampuan melihat hal yang jamak dalam sesuatu yang tunggal dan sebaliknya dimata orang awam, ketiga…kemampuan melihat hakikat dibalik alam nyata dan keempat…perasaan dekat dengan Tuhan….inilah ganjaran karena keikhlasan dan ketulusan mencintaiNya dan berbuat semata-mata karena Dia.
      Namun inipun masih berkaitan dengan alam kebendaan, begitu pula hal2 yang dianggap luar biasa oleh sebagian orang seperti berjalan diatas air, terbang diudara, mendengar suara2 gaib, membaca sesuatu yang berada dibenak orang lain, dll…ini masih berpijak pada kebendaan atau alam nyata.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 21:05 · Tidak SukaSuka · 13 orangMemuat…
    • Subagyo Ucok atiUlloh wa’atiu Rasul,.Habluminallah wa Habluminannas.TAAT pada Allah dan Rasul.
      01 Juni jam 21:05 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Hendaknya dalam beramal shalih manusia tidak seperti “Pedagang” …yang selalu dalam melakukan sesuatu haruslah ada untungnya, apalagi ini dengan Tuhan.
      Ruh dalam Hati
      Hati adalah tempat bergeraknya ruh, dan ilmu yang mengulas tentang gerakan hati disebut ilmu thariqah. Kerjanya berkaitan dengan 4 nama Allah. Sebagaimana dengan 12 nama Dzat…4 nama ini tidak berhuruf dan tidak berbunyi, sehingga nama-nama itu tidak dapat diucapkan.
      Pada setiap peringkat ( dari 4 tingkatan ) yang dilalui oleh ruh terdapat 3 buah nama yang berbeda. Dan dengan cara ini Tuhan dapat memegang hati kekasihNya yang sedang dalam perjalanan cinta menuju kepadaNya.
      Ada 7 titik, yang 3 merupakan titik inti dan yang 4 adalah pendamping dan apabila diolah nantinya akan akan berhubungan dengan 9 lubang di badan kita.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 21:14 · Tidak SukaSuka · 12 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Cara pengolahannya ada beberapa cara ;
      1. Dengan berpuasa lahir dan batin, bukan berpuasa hanya puasa lahir tapi batin juga karena lahir hanya menggembleng lahir saja (jasmani ), tetapi batin akan meggembleng lahir dan batin.
      2. Meditasi, dengan pengolahan nafas secara benar dan teratur, kontinyu, karena nafas adalah tali jiwa.
      3. Dengan adanya pembukaan titik melalui orang lain yang bisa membukanya…..tetapi biasanya ini kurang membuat kita lebih matang dan kurang bisa mengolahnya dengan baik nantinya….karena kendala setelah itu akan banyak.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 21:20 · Tidak SukaSuka · 12 orangMemuat…
    • Denmas Riyanto Selamat malam Bunda ! mohon ijin tag Bunda…dan kalo Bunda berkenan..mohon sy ikut di tag dlm setiap catatan yg buat..krn sy ingin bljr jg ! terimakasih !
      01 Juni jam 21:23 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Arie Irfan
      Hanya ada satu wujud, Tuhan. Yang lain cuma maujud, mewujud! Gelombang atau gelembung. Ombak di lautan eksistensi. Karena itu, kemana saja kita hadapkan diri kita, sungguh kita senantiasa menatap Wajah_Nya. Semua kebaikan merupakan wujud dari Nama_nama_Nya. Tetapi, pribadi adalah manifestasi diri_Nya. Pribadi adalah tajalli, penjelmaan, Tuhan. Dia hanya satu. Tak ada dua atau banyak pribadi di dunia ini. Yg terlihat hanyalah fisiknya, badan manusia hidup. Pribadi sendiri tan kasat mata. Pribadi tak dapat dilihat, ta dapat didengar, tak dapat dibau, tak dapat disentuh, dan tak dapat dirasa. Tapi, dia ada. Dia baru dapat dirasakan kehadirannya bila sudah bersandang dan berkemah. Selamat Malam… Salam Kasihku. Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 21:23 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Dalam islam, kalimat La ilaaha illallaah itu melahirkan 12 nama Allah, setiap nama tercantum pada setiap hurufyang menyusun kalimat tersebut. Dan Allah akan memeberikan nama kepada setiap huruf dalam proses kemajuan hati seseorang itu.
      1. Lailaha illallaah : Tiada Ilah kecuali Allah
      2. Allah : Nama Dzat
      3. Huwa : Dia
      4. Al-Haqq : Yang Benar
      5. Al-Hayy : Yang Hidup
      6. Al- Qayyum : Yang berdiri sendiri kepadaNya segala sesuatu bergantung
      7. Al-Qahar : Yang Maha Berkuasa dan Perkasa
      8. Al-Wahab : Yang Maha Pemberi
      9. Al-Fattah : Yang Maha Pembuka
      10. Al-Wahid : Yang Satu
      11. Al-Ahad : Yang Maha Esa
      12. As-Shamad : Sumber, puncak segala sesuatu
      Hati adalah tempat bergeraknya ruh dan ruh selalu memandang ke alam ‘ Malakut’ yang identik dengan kebaikan, dan dialam ini ruh dapat melihat surga alam malakut beserta para penghuninya, cahaya, dan para malaikat yang ada didalamnya.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 21:26 · Tidak SukaSuka · 12 orangMemuat…
    • Denmas Riyanto maaf trburu2 ada kalimat yg kurang Bunda..hehehe! maksud sy mohon ikut di tag dlm setiap catatan yg Bunda buat ! terimakasih !
      01 Juni jam 21:28 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Arie Irfan Rahayu…. Salam Kasihku.
      01 Juni jam 21:28 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Dan dialam inilah ruh ruh bergerak dan melakukan percakapan-percakapan tanpa kata dan suara, dan dalam percakapan itu pikiran akan selalu berputarmencari rahasia-rahasia atau makna dalam batin.
      Ruha yang bergerak akan melalui berbagai tingkatan dalam perjalanannya. Dan tempat ruh yang telah mencapai tingkatan tinggi adalah di tengah hati, yaitu Hati bagi Hati.
      Yang sangat berhubungan dengan Sukma Sejati adalah bagaimana kita mengetahui dan memahami tentang “Rasa Sejati” …..bagaimana pembentukan rasa sejati adalah sebagai berikut:
      Eka Kamandhanu, artinya kandungan berumur satu bulan mulai bersatunya kama laki-laki dan perempuan. Dari detik ke detik, kama tersebut menggumpal dan merajut angan-angan untuk mencipta embrio. Kama tersebut menyatu padu dalam kandungan ibu menjadi benih unggul dan keadaan benih belum begitu kelihatan besar dalam perut ibunya. Saat itu biasanya wajah ibu berseri-seri karena itu sering dinamakan Eka Padmasari artinya sari-sari bunga sedang berkumpul dalam kandungan ibu, dalam keadaan penuh kegembiraan. Pada saat ini hubungan seksual masih diperbolehkan, bahkan dimungkinkan hubungan akan semakin hangat karena kedua pasangan tengah akan menikmati anugerah Tuhan yang sebelumnya telah dinanti-nantikan. Detik keberhasilan hubungan seksual ini akan menjadi spirit hidup sebuah pasangan.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 21:32 · Tidak SukaSuka · 11 orangMemuat…
    • Agung Pambudi
      Hampura-Sun..sugeng lumengsering suryo..kairing sumunaring condro sineksen lintang abyor kerlap kerlip hanyekseni poro titah kang tumitah..ingkang tansah hamemuji mring gusti ingkang moho suci..
      .salam ugi katur dumateng sedoyo kadhang sepuh lan pinisepuh kakung miwah putri ingkang sami lenggah ing paseban …….. diajeng ayu..pun kakang nderek lelenggahan njih nyemak wedaran agung ingkang bade kawedar ing dalu meniko…mugi gusti paring kekiatan..njih..ngantos pari purno…..nuwun..Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 21:34 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Catur Anggajati, benih berumur empat bulan mulai terbentuk organ-organ tubuh secara lengkap. Benih unggul telah berbentuk manusia. Karena itu telah menghisap sari-sari makanan melalui sang ibu, umur seperti ini juga sudah ditiupkan roh sehingga benih telah hidup, sebagai tandanya sering bergerak. Karena itu hubungan seks yang berlebihan kurang baik pada saat ini, bahkan hubungan seks atas bawah akan berbahaya bagi benih dalam kandungan. Saat ini pula benih mulai merekam denyut hidup kedua pasangan. Karenanya kedua pasangan jangan berbuat hal-hal yang tidak baik atau terjadi penyelewengan akan berbahaya bagi benih bayi tersebut. Candra benih berumur empat bulan disebut catur wanara rukem, artinya tingkah laku ibu akan seperti kera yang sedang diatas pohon rukem, dia mulai nyidam buah-buahan yang asam dengan cara lotisan dan akan sangat aneh-aneh sehingga membutuhkan kesabaran bagi pasangan, kadang kurang wajar. Ia mendapat tambahan otak, karena itu sudah punya keinginan’Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 21:39 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Panca Yitmayajati, artinya benih berumur lima bulan, dan benar-benar telah hidup, dan hubungan seks harus dilakukan lebih hati-hati, agar memperhatikan posisi sehingga tidak merugikan benih, dan pasangan harus telah tumbuh keberanian untuk menghadapi resiko lahirnya seorang bayi nanti. Karenanya candra benih berumur lima bulan sering dinamakan panca sura panggah, ada keteguhan dan keberanian menghadapi rintangan apapun ketika pasangan hamil lima bulan, tentu saja dari aspek materi jelas memerlukan persiapan berbagai hal. Mendapatkan tambahan otot mulai bergerak erlahan-lahan.
      Sad Lokajati, benih berumur enam bulan semakin besar, karena itu kedua pasangan harus lebih berhati-hati. Karena itu candra benih dinamakan sad guna weweka, artinya mulai bersikap hati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, jika diantara pasangan ada yang berbuat kasar, mencaci maki apalagi berbuat keji akan mengakibatkan benih yang dikandung tidak baik, bahkan suami dilarang membunuh binatang karena secara insting benih sudah dapat merekam keadaan sekelilingnya. Mendapatkan tambahan tulang karena itu ia bisa naik turun, jungkir balik.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 21:46 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Subagyo Ucok Mursyddu imani anta samsur farly rowal mu tur ali ya qur’an tur ‘aini
      samsi aulal dzidni ya maula jifani wa tukhu sauhi ya banur an tikoni.
      YA ALLAH SIRAMILAH HATIKU AKAN KETAUHIDTAN-MU.LAPANGKANLA JIWA SAUDARA SAUDARAKU YANG LAGI MENGINGAT ENGKAU YA ROBBI.
      01 Juni jam 21:54 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit Selamat mlam Mama,,salam kangenku selalu,,,
      01 Juni jam 21:55 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit Selamat malam Mas agung,,om abdullahku,,mas uco,,serta semua yg hadir di Sini,,salam sejahtera selalu,,,
      01 Juni jam 21:56 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Calon anak sudah dapat mengoperasikan saudara yang empat, sbb;
      Pertama : kakawah ( air ketuban )
      Kedua : bungkus
      Ketiga : ari-ari
      Keempat : darah
      Kakawah artinya menjadi pengasih, bungkus menjadi kekuatan, darah menjadi waliyas mati, harus diketahui bahwa Kakawah itu adalah malaikat Jibril, bungkus adalah Mikail, ari-ari adalah Malaikat Israfil, dan darah adalah malaikat Izrail.
      Jibril pada kulit, Mikail pada tulang, Israfil pada otot, Izrail pada dagingakhirnya selamatlah sentosa, semua itu tidak kelihatan karena Kodrat Allah.
      Nawapurnajati, bayi telah mendekati detik-detik lahir, yaitu sembilan bulan, dan tentu yang tepat sembilan bulan sangat jarang. Pada saat itu memang keadaan bayi dan ibunya sangat lelah, karena itu candra suasana disebut nawa gralupa artinya keaaan sangat lemas, tak berdaya, seperti orang lapar dan dahaga. Apalagi setelah sembilan bulan sepuluh hari dengan candra khusus dasa yaksa mati, artinya seperti raksasa mati terbunuh ksatria-seorang ibu setelah melahirkan bayi. Oleh karena itu hubungan seksual sangat dilarang, paling tidak kurang lebih 40 hari seorang suami harus berpuasa.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      Sembilan langkah tersebut diatas di harapkan pasangan suami istri dapat menjalankan sesirik ( prihatin ), ibarat sedang bertapa gaib. Segala tingkah laku akan menjadi cerminan hidup anak yang masih dalam kandungan. Itulah sebabnya sikap dan perilaku dijaga baik-baik dengan tujuan manembah dan karyenak tyasing sesama, maksudnya hubungan vertikal selalu harus terus menerus dan hubungan dengan sesama mahkluk agar jangan sampai berbuat diluar kewajaran. Ada empat yang dianugerahkan Allah Ta’ala dengan KodratNya ;
      Pertama : Budi
      Kedua : Rahsa
      Ketiga : Angan-angan
      Keempat : Hidup.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia Mas Agung selamat malam… Gadisku say malam say…
      01 Juni jam 22:04 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Misterr Jeans Sang Kinasih Ibunnnddaaaa…
      01 Juni jam 22:06 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit Selamat mlam Jg Mamaku sayang,,,,
      ILove U
      01 Juni jam 22:07 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit Selamat Malam Mas jeans,,,salam kasihku,,
      01 Juni jam 22:07 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Enget-enget anggite kang nulis, perdhu iku sajroning niyat, lafat Allahu anggite, lafal Hu tibanipun, lafal Akbar nyatane singgih yekti, lafal ingkang tetiga, anyipta sajrone werdaya, perdu iku tibane dipun uning, den waspada tingalira.

      Ingat-ingatlah karya penulis, tentang hal yang wajib dalam niat, lafal Allahu itu tempatnya,lafal Hu jatuhnya, lafal Akbar kenyataan sejati, lafal yang tiga itu ciptalah dalam hati, itulah wajib yang harus diingat, dan waspadailah konsentrasimu.

      Yogya sami angawruhana kaki, anedyaa tingal jrone shalat, sirnane shalat westane, sekawan kathahipun, kawrughana sawiji-wiji, dhingin iku munajat, kalih ikramipun, jangkep ingkang kaping tiga, iku arane ingkang tubadil, lan mikraj kaping sekawan.

      Segeralah kau ketahui Nak, konsentrasi dalan shalat yaitu, dinamakan lenyapnya shalat, jumlahnya ada empat hal ketahuilah satu-persatu, pertama munajat, kedua disebut ihram, ketiga tubadil dan kempat mikraj.Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:08 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Misterr Jeans Sang Kinasih Mat malam jg Gadisq..
      01 Juni jam 22:11 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Mas Jeans say…. he he he… kangen po ??? Aku dah agak baikan tapi aku harus istirahat awal….

      Tegesira kang munajat iku, wewacane wau ingkang shalat, sajrone salat mangke, ywa ngrasa aturipun, sapocapan kelawan Gusti, sebarang den apalna, cipta jroning kalbu, Pangeran ingkang miyarsa, tingalna adhepe marang Hyang Widhi, dene takbirira.

      Artinya munajat adalah, seluruh bacaan dalam shalat, dalam shalat, jangan merasa itu ucapanmu (karena engkau) satu ucapan dengan Tuhan, semuanya hafalkanlah, hening ciptakan dalam kalbu, Tuhan yang mendengar, konsentrasilah (bahwa) Tuhan ada di depanmu, (ketika) engkau takbir.

      Nulya lajeng maca wajah, ngadhepaken Pangerane, ingkang asih aduduhe, ngabekti mring Hyang Agung, wajah puniku sunat sayekti, Fatihah ika perdhu, Bismillahipun iku, namane Hyang kang Mahamurah aneng donya, ingkang asih tembe akhir, teka ari kiyamat.

      Kemudian bacalah wajah (doa iftitah), untuk menghadapkan diri dengan Tuhan Yang Maha Pengasih, (dan yang memberi) petunjuk, (dan pernyataan) pengabdian kepada Tuhan, wajah itu hanya sunah, Surat Al Fatihah yang wajib, lalu bacalah Bismillah (menyebut), nama Tuhan yang Maha Pemurah dan pengasih, di dunia dan sampai akhir kelak, di Hari Kiamat.Lihat Selengkapnya

    • Carricks Carr met malem bunda..mau tanya siapa yg foto bersama bunda..apa guru bunda..? sinten asmone..?
      01 Juni jam 22:14 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Ikram iku jenenge lumiring, kalimputan dhateng sipat jamal, tan kena mengeng tingale, bisa jamal puniku, iya iku sipate Gusti, maknane iku indah, Adi Maha Luhur, datan ana kang memadha, ingkang asih ngasihaken sajroning ati, ngasihi mring kawula.

      Ihram itu adalah terliputi kepada sifat jamal, tak boleh berubah konsentrasinya, jamal itu adalah sifat Tuhan, yang maknanya indah, adi dan Mahaluhur, tak ada yang menyamai, Maha Pengasih dan mengasihidalam hati, setiap manusia.

      Tegesira kang aran tubadil, angareksa barang tingkahira, kenyataan sakabehe, sampun kena luput iku, angrasani Hyang Agung, lir damar lan surya kaki, dadi karone tunggal, tan dadi roh iku sembah kang utama, apan mikraj iku tegese kaki, tan rumangsa tingkahnya.

      Artinya tubadil, menyadari segala tingkahnya, (dan) kenyataan semuanya, jangan sampai salah, membecarakan Tuhan Yang Maha Agung, bagaikan lampu dan cahaya, Nak, keduanya satu, tidak menjadi ruh itu sembah utama, lalu mikraj artinya, Nak, tidak merasa terhadap segala tingkahnya.Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:14 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Lawan mikraj tegese puniki, napinira tan nora kuwasa, apan pangucape mangke, kwasa jeneng suwung, saosike saking Hyang Agung, kabeh saking Pangeran, obah osikipun, kawula pan nora karya, saosike upama lir sarah keli, manut kanthine toyan.

      Mikraj itu artinya, kekosongandirimu tidak berkuasa, segala ucapanya adalah kuasa (tetapi) kosong, seluruh geraknya dari Allah, semua dari Allah, gerak tindakannya, karena hamba tak bisa membuat gerak dan tindakan itu hanya bagaikan sampah yang hanyut, ikut perjalanan air.Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:15 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Carricks Carr… ini romo Dusdjanto … bukan guruku … tapi teman… saudara… orang tua… kakek…. begitu mas… salam kasih.
      01 Juni jam 22:17 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Misterr Jeans Sang Kinasih Ya kangen banget ex Bundaaa.. Hehehe.. Jeh ampun sayah2 lek damel istirahat kemawon Ibunda..
      01 Juni jam 22:20 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@salam sejahtera pula gadis..sugeng ndalu..rahayu ingkang sami pinanggih…
      01 Juni jam 22:20 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@ kakang mas jeans..salam rahayu…
      01 Juni jam 22:20 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@den mas Riyanto salam sejahtera..sugeng ndalu..
      01 Juni jam 22:21 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      SULUK WONG SHALAT
      Pembukaan :
      Amenangi jaman edan
      ewuh aya ing pambudi
      Melu edan nora tahan
      yen tan melu anglakoni
      boya kaduman melik
      Kaliren wekasanipun
      Dilalah karsa Allah
      Begja-begjane kang lali
      luwih begja kang eling lawan waspada”
      (pupuh 7, Sent Kalatidha)

      Artinya;
      Mengalami jaman gila
      sukar sulit (dalam) akal ikhtiar
      Turut gila tidak tahan
      kalau tak turut menjalaninya
      tidak kebagian milik
      kelaparanlah akhirnya
      Takdir kehendak Allah
      sebahagia-bahagianya yang lupa
      lebih berbahagia yang sadar serta waspada”.
      – Syair jaman edan, dimana manusia kehilangan dasar sikap dan perilaku yang benar.
      – Di dalam Serat Kalatidha, Sabda Pranawa Jati Ki pujangga melihat kesusahan yang terjadi pada jaman itu . . .
      Rajanya utama, patihnya pandai dan menteri-menterinya mencita-citakan kesejahteraan rakyat serta semua pegawai-pegawainya cakap. Akan tetapi banyak kesukaran-kesukaran menimpa negeri; orang bingung, resah dan sedih pilu, serta dipenuhi rasa kuatir dan takut. Banyak orang pandai dan berbudi luhur jatuh dari kedudukannya. Banyak pula yang sengaja menempuh jalan salah . . . harga diri turun . . . akhlak merosot. Pada waktu-waktu seperti itu berbahagialah mereka yang sadar/ingat dan waspada.
      – Menghadapi jaman seperti itu Ki Ronggowarsito memberikan petuah-petuahnya, yaitu yang dapat disebut sebagai empat pedoman hidup.Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:21 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@kakang mas Arie irfan kang kinasih..sugeng ing madyaning ratri kakakng mas…salam rahayu..
      01 Juni jam 22:22 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Carricks Carr salam kasih bunda..
      01 Juni jam 22:23 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Misterr Jeans Sang Kinasih Sugeng ndalu Kang Mas Agung.. Mugi kwilujengan tansah amberkahi.. Salam Rahayu.
      01 Juni jam 22:26 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Salam kasih mas Carricks Carr……
    • Bunda Lia
      I. Tawakal marang Hyang Gusti
      – Pedoman yang pertama; yaitu kepercayaan iman dan pengharapan kepada Tuhan.
      – Pedoman inilah yang menjadi dasar hidup, perilaku dan karya manusia.
      1. “Mupus papasthening takdir, puluh-puluh anglakoni kaelokan”
      (pupuh 6, Kalatidha).
      Arti :
      Menyadari ketentuan takdir, apa boleh buat (harus) mengalami keajaiban. Manusia hidup harus menerima keputusan Tuhan.
      2. “Dialah karsa Allah, begja-begjane kang lali, luwih becik eling lawan waspada”
      (pupuh 7, Kalatidha)
      Arti :
      – Memanglah kehendak Allah, sebahagia-babagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar ingat dan waspada.
      – Manusia harus selalu menggantungkan diri kepada kehendak (karsa) Allah.
      – Karsa atau kehendak Allah itu seperti yang tersirat dalam ajaran agama, kitab suci, hukum-hukum alam, adat istiadat dan ajaran leluhur.
      3. Muhung mahasing ngasepi, supaya antuk parimirmaning Hyang suksma.
      (pupuh 8, Kalatidha)
      Arti:
      Sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat kasih sayang Tuhan.
      – Di kala ingin mendekatkan jiwa pada Tuhan, memang pikiran dan nafsu harus terlepas dari hal keduniawian.
      – Supayantuk: Supaya dilimpahi Parimirmaning Hyang suksma; Kasih sayang Tuhan.
      4. Saking mangunah prapti, Pangeran paring pitulung.
      (pupuh 9, Kalatidha)
      Arti :
      Pertolongan datang dari Tuhan, Tuhan melimpahkan pertolongan.
      – Hanya Dia, Puji sekalian alam, Gembala yang baik, yang dapat menolong manusia dalam kesusahannya.
      – Mangunah : Pertolongan Tuhan
      Prapti : Datang.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:29 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎5. Kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma.
      (pupuh 10, Kalatidha)
      Arti:
      Disertai dasar/awas dan ingat, bertujuan mendapatkan kasih sayang Tuhan.
      6. Ya Allah ya Rasululah kang sifat murah lan asih.
      (pupuh 11, Kalatidha)
      Arti :
      Ya Allah ya nabi yang pemurah dan pengasih.
      7. Badharing sapudendha, antuk mayar sawatawis, borong angga suwarga mesti martaya.
      (pupuh 12, Kalatidha)
      Arti
      (Untuk) urungnya siksaan (Tuhan), mendapat keringanan sekedarnya, (sang pujangga) berserah diri (memohon) sorga berisi kelanggengan.
      – Pengakuan kepercayaan bahwa pada Tuhanlah letak kesalamatan manusia.
      Pupuh-pupuh tambahan:
      8. Setyakenang naya atoh pati, yeka palayaraning atapa, gunung wesi wasitane tan kedap ing pan dulu ning dumadi dadining bumi, akasa mwang; riya sasania paptanipun, jatining purba wisesa, tan ana lara pati kalawan urip, uripe tansah tungga”.
      (pupuh 88, Nitisruti)
      Arti:
      Bersumpahlah diri dengan niat memakai tuntunan (akan) mempertaruhkan nyawa, yaitulah laku orang bertapa di (atas) gunung besi (peperangan) menurut bunyi petuah. Tak akan salah pandangannya terhadap segala makhluk dan terjadinya bumi dan langit serta segala isinya. Sekaliannya itu sifat Tuhan; tak ada mati, hiduppun tiada, hidupnya sudah satu dengan yang Maha suci.
      – Karya sastra Nitisruti ditulis oleh Pangeran di Karangayam (Pajang), pada tahun saka atau 1591 M.
      – Mengenai tekad untuk mengenal Tuhan dan rahasiaNya.
      – Mengenal kekuasaan di balik ciptaan-Nya, karena sudah bersatu dengan Gusti-Nya.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:33 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@ nembah nuwun kakang mas..jeans..mugi sedoyo keluargi sami pinaringan bagas kewarasan tinebihno ing nir sambikolo….
      01 Juni jam 22:33 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎9. Sinaranan mesu budya, dadya sarananing urip, ambengkas harda rubeda, binudi kalayan titi, sumingkir panggawe dudu, dimene katarbuka, kakenan gaibing widi.
      (Dari serat Pranawajati)
      Arti:
      Syaratnya ialah memusatkan jiwa, itulah jalannya di dalam hidup, menindas angkara yang mengganggu, diusahakan dengan teliti, tersingkirkanlah perbuatan salah, supaya terbukalah mengetahui rahasia Tuhan.
      – Serat Pranawajati ditulis oleh Ki R.anggawarsita
      – Pupuh ini menjelaskan jalan kebatinan untuk mencapai (rahasia) Tuhan.
      10. Pamanggone aneng pangesthi rahayu, angayomi ing tyas wening, heninging ati kang suwung, nanging sejatine isi, isine cipta kang yektos”.
      (Dari serat Sabda Jati)
      Arti:
      Tempatnya ialah di dalam cita-cita sejahtera, meliputi hati yang terang, hati yang suci kosong, tapi sesungguhnya berisi, isinya cipta sejati.
      11. Demikianlah orang yang dikasihi Tuhan, yang selalu mencari-Nya untuk memuaskan dahaga batin. Ia akan berbahagia dan merasa tentram sejahtera; sadar akan arti hidup maupun tujuan hidup manusia. Pembawaannya rela, jujur dan sabar; pasrah, sumarah lan nanima, berbudi luhur dan teguh dihati.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      II. Eling lawan Waspada

      – Pedoman yang kedua; yaitu sikap hidup yang selalu sadar-ingat dan waspada.
      – Pedoman inilah yang menjaga manusia hingga tidak terjerumus ke dalam lembah kehinaan dan malapetaka.
      Pupuh-pupuh :
      1. Dilalah karsa Allah, begja-begjane kang lali luwih becik kang eling lawan waspada.
      (Pupuh 1, Kalatidha)
      Arti :
      akdir kehendak Allah, sebahagia-bahagianya yang lupa, lebih bahagia yang sadar / ingat dan waspada.
      2. Yen kang uning marang sejatining kawruh, kewuhan sajroning ati, yen tan niru nora arus, uripe kaesi-esi, yen niruwa dadi asor.
      (Pupuh 8, Sabda Jati)
      Arti:
      Bagi yang tidak mengetahui ilmu sejati bimbanglah di dalam hatinya, kalau tidak meniru (perbuatan salah) tidak pantas, hidupnya diejek-ejek, kalau meniru (hidupnya} menjadi rendah.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:36 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@Carricks Carr ..salam rahayu kakang mas…sugeng pinanggih..
      01 Juni jam 22:39 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Sri Kandi DIAJENG TABUH 00.00 MANDEK DIAJENG ELING ROGO UGO PENGGALIHIRO. RAHAYU.
      01 Juni jam 22:40 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎3. Nora ngandel marang gaibing Hyang Agung, anggelar sekalir-kalir, kalamun temen tinemu, kabegjane anekani, kamurahaning Hyang Monon”.
      (Pupuh 9, Sabda Jati)
      Arti :
      Tidak percaya kepada gaib Tuhan, yang membentangkan seluruh alam, kalau benar-benar usahanya, mestilah tercapai cita-citanya, kebabagiaannya datang, itulah kemurahan Tuhan.
      – Serat Sabda Jati adalah juga ditulis oleh pujangga Ki Ranggawarsita.
      – Pupuh 8 membicarakan keragu-raguan hati karena melihat banyak orang menganggap perbuatan salah sebagai sesuatu yang wajar.
      – Akan tetapi bagi yang sadar/ingat dan waspada, tuntunan Tuhan akan datang membawa kebahagiaan batin.
      4. Mangka kanthining tumuwuh, salami mung awas eling, eling lukitaning alam, dadi wiryaning dumadi, supadi nir ing Sangsaya, yeku pangreksaning urip.
      (Pupuh 83, Wedhatama)
      Arti :
      Untuk kawan hidup, selamanya hanyalah awas dan ingat ingat akan sasmita alam, menjadi selamatlah hidupnya, supaya bebas dari kesukaran, itulah yang menjaga kesejahteraan hidup.
      5. Dene awas tegesipun, weruh warananing urip, miwah wisesaning Tunggal, kang atunggil rina wengi, kang makitun ing sakarsa, gumelar ngalam sekalir.
      (Pupuh 86, Wedhatama)
      Arti :
      Adapun awas artinya, tahu akan tabir di dalam hidup, dan kekuasaan Hyang Maha Tunggal, yang bersatu dengan dirinya siang malam, yang meliputi segala kehendak, disegenap alam seluruhnya.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:41 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mbak yu Sri nyuwun injih mbak yu… matur sanget nuwun mbak yu Rahayu3x.
    • Sri Kandi BACUTAKE DAK MIRENGAKE WAE.
      01 Juni jam 22:42 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎- Wedhatama ditulis oleh Pangeran Mangkunegara IV.
      6. Demikianlah sikap hidup yang berdasarkan “Eling lawan waspada”; yaitu selalu mengingat kehendak Tuhan sehingga tetap waspada dalam berbuat; untuk tidak mendatangkan celaka. Kehendak Tuhan mendapat dicari/ditemukan di dalam hukum alam, wahyu jatmika yang tertulis dalam kitab suci maupun karya sastra, adat-istiadat, nasehat leluhur/orang tua dan cita-cita masyarakat.
      7. Eling” juga berarti selalu mengingat perbuatan yang telah dilakukan, baik maupun buruk, agar “waspada” dalam berbuat. Berkat sikap “eling lawan waspada” ini, terasalah ada kepastian dalam langkah-langkah hidup.
      III. Rame ing gawe.
      – Pedoman hidup yang ketiga, yaitu hidup manusia yang dihiasi daya-upaya dan kerja keras.
      – Menggantungkan diri pada wasesa dan karsa Hyang Gusti adalah sama dengan menerima takdir.
      Karena siapakah yang dapat meriolak kehendak Nya?
      1. Ada tertulis:
      Tidak ada sahabat yang melebihi (ilmu) pengetahuan Tidak ada musuh yang berbahaya dan pada nafsu jahat dalam hati sendiri Tidak ada cinta melebihi cinta orang tua kepada anak-anaknya Tidak ada kekuatan yang menyamai nasib, karena kekuatan nasib tidak tertahan oleh siapapun”.
      (Ayat 5, Bagian II Kitab Nitiyastra).
      2. Tetapi apakah kekuatiran atau ketakutan akan nasib menjadi akhir dan pada usaha atau daya upaya manusia? Berhentikah manusia berupaya apabila kegagalan menghampiri kerjanya?
      3. …. Karana riwayat muni, ikhtiar iku yekti, pamilihe reh rahayu, sinambi budi daya, kanthi awas lawan eling, kang kaesthi antuka parmaning suksma.
      (Pupuh 10, Kalatidha)
      Arti :
      …. Karena cerita orang tua mengatakan, ikhtiar itu sungguh-sungguh, pemilih jalan keselamatan, sambil berdaya upaya disertai awas dan ingat, yang dimaksudkan mendapat kasih sayang Tuhan.
      – Menerima takdir sebagai keputusan terakhir, tidak berarti mengesampingkan ikhtiar sebagai permulaan daripada usaha.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:45 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎4. Kuneng lingnya Ramadayapati, angandika Sri Rama Wijaya, heh bebakal sira kiye, gampang kalawan ewuh, apan aria ingkang akardi, yen waniya ing gampang, wediya ing kewuh, sabarang nora tumeka, yen antepen gampang ewuh dadi siji, ing purwa nora ana.
      (Tembang Dandanggula, Serat Rama)
      Arti :
      Haria sehabis haturnya Ramadayapati (Hanoman), bersabdalah Sri Rama : Hai, kau itu dalam permulaan melakukan kewajiban, ada gampang dan ada sukar, itu adalah (Tuhan) yang membuat. Kalau berani akan gampang; takut akan yang sukar, segala sesuatu tidak akan tercapai. Bila kau perteguh hatimu, gampang dan sukar menjadi satu, (itu) tidak ada, tidak dikenal dalam permulaan (usaha).
      5. Demikianlah, takdir yang akan datang kelak tidak seharusnya menghentikan usaha manusia. Niat yang tidak baik adalah niat “mencari yang mudah, menghindari yang sukar”. Semua kesukaran atau tugas harus dihadapi dengan keteguhan hati. “Rame ing gawe” dan “Rawe-rawe rantas malang-malang putung” adalah semangat usaha yang lahir dari keteguhan hati itu.
      Catatan:
      Pupuh ke empat adalah cuplikan dari serat Rama, yang ditulis oleh Ki Yosadipura.
      (1729 – 1801 M).
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:45 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      IV. Mawasdiri:
      – Pedoman hidup yang keempat, yaitu perihal mempelajari pribadi dan jiwa sendiri; yang merupakan tugas semua mamusia hidup.
      Pupuh-pupuh:
      1. Wis tua arep apa, muhung mahasing ngasepi, supayantuk parimirmaning Hyang Suksma.
      (Pupuh 8, Kalatidha)
      Arti :
      Sudah tim mau apa, sebaiknya hanya menjauhkan diri dari keduniawian, supaya mendapat/kasih sayang Tuhan.
      – Nasehat agar tingkat orang yang telah berumur menunjukkan martabat.
      2. Jinejer neng wedhatama, mrih tan kemba kembenganing pambudi, sanadyan ta tuwa pikun, yen tan mikani rasa, yekti sepi asepi lir sepah samun, samangsaning pakumpulan, gonyak-ganyuk ngliling semi.
      (Pupuh 2, Pangkur, Wedhatama)
      Arti:
      Ajarannya termuat dalam Wedhatama, agar supaya tak kendor hasrat usahanya memberi nasehat, (sebab) meskipun sudah tua bangka, kalau tak ketahuan kebatinan, tentulah sepi hambar bagaikan tak berjiwa, pada waktu di dalam pergaulan, kurang adat memalukan.
      3. …. Pangeran Mangkubumi ing pambekanipun. Kang tinulad lan tinuri-luri, lahir prapteng batos, kadi nguni ing lelampahane, eyang tuwan kan jeng senopati, karem mawas diri, mrih sampurneng kawruh.Kawruh marang wekasing dumadi, dadining lalakon, datan samar purwa wasanane, saking dahat waskitaning galih, yeku ing ngaurip, ran manungsa punjul.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      ‎(Dari babad Giyanti)
      Arti :
      ….Pangeran Mangkubumi budi pekertinya. Yang ditiru dan dijunjung tinggi, lahir sampai batin, seperti dahulu sejarahnya, nenek tuan kanjeng senopati gemar mawas diri untuk kesempumaan ilmunya. Ilmu tentang kesudahan hidup, jadinya lelakon, tidak ragu akan asal dan kesudahannya (hidup), karena amat waspada di dalam hatinya, itulah hidup, disebut manusia lebih (dari sesamanya).
      – Babad Giyanti ditulis oleh pujangga Yasadipura I. Isinya memberi contoh tentang seseorang yang selalu mawas diri, yaitu Panembahan Senopati.
      4. Mawas diri adalah usaha meneropong diri sendiri dan dengan penuh keberanian mengubah pribadinya. Maka inilah asal dan akhir dari pada keteguhan lahir dan batin.
      5. Laku lahir lawan batin, yen sampun gumolong, janma guna utama arane, dene sampun amengku mengkoni, kang cinipta dadi, kang sinedya rawuh”.
      (Dari babad Giyanti)
      Arti :
      Amalan lahir dan batin, bilamana sudah bersatu dalam dirinya, yang demikian itu disebut manusia pandai dan utama, karena ia sudah menguasai dan meliputi, maka yang dimaksudkan tercapai, yang dicita-citakan terkabul.
      6. Nadyan silih prang ngideri bumi, mungsuhira ewon, lamun angger mantep ing idhepe, pasrah kumandel marang Hyang Widi, gaman samya ngisis, dadya teguh timbul).”
      (Tembung Mijil, Dari babad Giyanti)
      Arti :
      Meski sekalipun perang mengitari jagad, musuhnya ribuan, tetapi asal anda tetap di dalam hati, berserah diri percaya kepada Tuhan, semua senjata tersingkirkan, menjadi teguh kebal.
      Lihat Selengkapnya

    • Abdullah Ali Sugeng ndalu Mbak Ayu Sri….alhamdulillah…..salam ta’lim keng rayi mugi konjuk….
      01 Juni jam 22:46 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎7. Demikianlah ajaran Ki Ranggawarsita, yaitu mengenai empat pedoman hidup. Begitulah orang yang menggantungkan dirinya kepada kekuasaan Tuhan dan menerima tuntunan-Nya. Ia akan memiliki kepercayaan pada diri sendiri, tetapi tanpa disertai kesombongan maupun keangkaraan.
      Cita-cita kemasyarakatan.
      1. Ki pujangga Ranggawarsito mencita-citakan pula datangnya jaman Kalasuba, yaitu jaman pemerintahan Ratu Adil Herucakra. Karena itu beliau merupakan seorang penyambung lidah rakyatnya, yang menciptakan masyarakat “panjang punjung tata karta raharja” …. “gemah ripah loh jinawi” ….loh subur kang sarwa tinandur” dimana “wong cilik bakal gumuyu.
      2. Tiga hal yang pantas diperjuangkan, untuk menegakkan pemerintahan Ratu Adil; yaitu: Bila semua meninggalkan perbuatan buruk, bila ada persatuan dan bila hadir pemimpin-pemimpin negara yang tidak tercela lahir batinnya.
      3. Dengarlah!
      4. Ninggal marang pakarti tan yukti, teteg tata ngastuti parentah, tansah saregep ing gawe, ngandhap lan luhur jumbuh, oaya ana cengil-cengil, tut runtut golong karsa, sakehing tumuwuh, wantune wus katarbuka, tyase wong sapraya kabeh mung haryanti, titi mring reh utama.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:46 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      ‎(Dari Serat Sabdapranawa)
      Arti :
      Meninggalkan perbuatan buruk, tetap teratur tunduk perintah, selalu rajin bekerja, bawahan dan atasan cocok-sesuai tak ada persengketaan, seia sekata bersatu kemauan, dari segala makhluk, sebab telah terbukalah, tujuan orang seluruh negara hanyalah kesejahteraan, faham akan arti ulah keutamaan.
      5. Ngarataning mring saidenging bumi, kehing para manggalaningpraya, nora kewuhan nundukake, pakarti agal lembut, pulih kadi duk jaman nguni, tyase wong sanagara, teteg teguh, tanggon sabarang sinedya, datan pisan nguciwa ing lahir batin, kang kesthi mung reh tama.
      (Tembang Dandanggula, Serat Sabdapranawa)
      Arti:
      Merata keseluruh dunia; sebanyak-banyak pemimpin negara tak kesukaran menjalankan perbuatan kasar-halus; kembalilah seperti dahulu kala, tujuan orang seluruh negara, tetap berani sungguh, boleh dipercaya segala maksudnya, tak sekali-kali tercela lahir batinnya, yang dituju hanyalah selamat sejahtera.
      6. Demikianlah yang dicita-citakan pujangga agung Ranggawarsita.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:47 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@sungkem pun rayi kakang mbok ayu Sri Kandi..ngaturaken pangabekti kunjuk..rahayu ingkang sami pinaggih..
    • Aiman Yiman Rahayu
      Sedoyo kemawon,
      Bunda@ monggo dipun lanjut,
      Hehe..
      01 Juni jam 22:48 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Den Ayu hahahaha….hahahaha….langsung mancal gas jiiiiiiaaaaannnn hahahaha….hahahaha….
      01 Juni jam 22:49 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      SULUK TIYANG TILAR SHALAT (bagian 02)
      Kaya paran tumekoa, tingale marang Hyang Widhi, tingal pangkon sarta angas, aguguyu wong ngabekti, satengah amadani, wus sasat maido rasul, kapire wus tetala, kaya tingkah wong Yahudi, pesthi langgeng dadi dasaring naraka.
      Terjemahan :
      Kepad tujuan datangilah, arah konsentrasi kepada Tuhan, perhatian ditujukan ke hariban dengan rasa ngeri, menertawakan orang yang berbakti, setengah menyamai (mengolok-olok), bahkan menghina rasul, kafirnya sudah jelas, seperti prilaku orang Yahudi, kelak pasti kekal menjadi dasarnya neraka.
      Kathah wong kaliru tampa, dening ujar kang ngawingit, tekadipun kaluputan, miyarsa panemu jati, sisip dadya nampani, pan dadi saya delurung, ujar kasamaran, tinggal salat iku wajib, paninggale yaiku utama.
      Terjemahan :
      Banyak orang salah paham, oleh perkara yang rahasia, tekadnya jadi salah, mendengar pendapat sejati, salah paham dalam menerima, malah menjadi semakin tersesat, akan perkataan yang samar, meninggalkan shalat itu wajib, meninggalkannya itu lebih utama, meninggalnya itu lebih utama.
      Ujar iku kasamaran, saweneh den gawe batin, nyatane atinggal salat, tan idhep iku wajib, parentahing Hyang Widi, dateng Nabi satus ewu, pat likur samnya, kinen salat anetepi, pan sadaya tan ana atinggal salat.
      Terjemahan :
      Itulah perkataan yang samar, ada yang dibuat batini, nyatanya meninggalkan shalat, tidak tahu bahwa itu wajib, (padahal) perintah Tuhan, kepada Nabi yang seratus dua puluh empat ribu, disuruh menegakkan shalat, semua tak ada yang meninggalkannya.
      Nabi Musa cinarita, parentahipun Hyang Widhi, seket wektu prelonira, sadina lawan sawengi, umate anetepi, ika mukmin kang hakiki, iya iku mukmin ingkang utama.
      Terjemahan :
      Tersebutlah Nabi Musa a.s. diperintahkan Tuhan agar mendekatkan (diri pada) Tuhan, lima puluh waktu fardhu, dalam sehari semalam, umatnya mengikuti, perintah Tuhan tersebut, tak ada yang mengeluh, itulah mukmin yang sesungguhnya, yaitu mukmin yang utama.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:51 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Atinggal salat sampurna, kadi pun leh ngawruhi, apan wajib tinggal salat, wajibe lah kadi pundi, osiking lair batin, miwah sembah pujenipun, aja angrasa bisa, anging Allah kang darbeni.
      Terjemahan :
      Meninggalkan shalat sempurna, bagaimanakah cara memahami, bahwa wajib meninggalkan shalat, wajibnya itu bagaimana, gerak lahir ataupun batin, dan sembah puji, jangan merasa bisa, hanya Allah yang memiliki.
      Aja ngrasa duwe sembah, aja ngrasa duwe puji, miwah barang tingkah polah, angrasa anduweni, miwah tingaling ati, wajibing duwe Hyang Agung, miwah lan wujud kita, puniku hukume napi, tanpa polah, polahe Allah kang Murba.
      Terjemahan :
      Jangan merasa punya sembah, jangan merasa punya puji, dan segala gerak tindakan, jangan merasa memiliki, dan arah perhatian hati, wajib milik TuhanYyang Maha Agung, bahkan seluruh diri kita, itu adalah nafi, manusia tanpa memiliki gerak, tetapi Allah yang mengatur.
      Kang jenenging kawula, duk sirna tan ana keri, apan dadi wujudira, kangeten dening Hyang Widhi, ingkang ngawujud iki, anenggih prelambangipun, lir lintang karahinan, kasorotan Sang Hyang Rawi, lintang ilang kasorotan ing raditya.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      Jatenipun tingalira, pareng akasih ing Hyang Widhi, kawula pan ora bisa, yen ora kelawan sih, wisane angabekti, angugrahaning Hyang Agung, kang tumiba kawula kang dadi lantaran puji, dadi pareng sembah puji lan nugraha.
      Terjemahan :
      Sesungguhnya perhatianmu, bersama kasih Tuhan, (karena) hamba tidak sanggup, kalau tidak karena anugrah, bisanya berbakti anugrah Tuhan yang dijatuhkan pada hamba, yang menjadi perantara puji, jadi kehendak sembah puji dan anugrah.
      Kawula enggoning nyata, kahananipun Hyang Widhi, pangaken wujud tingal, kang dadi tibaning asih, kang sembah kang amuji, tan liyan kawulanipun, pan tajalining sipat, miwah Datipun Hyang Widhi, pan kawula puniki kinarya buat.
      Terjemahan :
      Hamba adalah wujud nyata, dari keadaan Tuhan, mengheningkan wujud konsentrasi, yang menjadi tempat jatuhnya anugrah, yang menyembah dan memuji, tak lain adalah hambanya, yaitu tajali sifat Dzat Tuhan, hamba itu hanya dijadikan sarana.
      Endi kang aran kawula, kang dadi tanda sayekti, iya ingkang cari iya, liron sih mring Hyang Widhi, mapan tan wonten malih, kang asung marga kang luhur, poma dipun narima, ing siyang kalawan lastri, malah nyasar dadi kawula kawarna.
      Terjemahan :
      Mana yang disebut hamba, yang menjadi tanda sejati, yaitu yang dicari, sebagai kekasih Tuhan, bahwa dan adalagi, yeng memberi jalan luhur, maka terimalah, baik siang dan malam, (agar) tidak tersesat sebagai hamba….
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:54 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Yen manteping panarima, ing siyang kalawan lastri yeku ingkang tinarima, kumawula maring Gusti, yen sampun tumeka ing sih, kang sinedya apan tiba, kapriye puji sembah, tinggal dereng pratitis, pangrasane waliyullah kang tumeka.
      Terjemahan :
      Dan mantapnya penerimaan, pada siang dan malam, yaitu yang diterima, menghamba kepada Tuhan, jika sudah sampai kepada mahabbah (sih), apa yang dikehendaki pasti tercapai, bagaimana puji dan sembah, pada konsentrasi belum tepat, perasaannya waliyullah yang datang.
      Dadine wong sumektan, kang ngrasa dadi kekasih, panembahe duna dungkap, adhepe pas shalat napi, lupute kapir sidik, ingkang saya kupur agung, lah poma den prayitna, iku kabeh anglampahi, salah tanda pangelmune, tanda dadi bahya.
      Terjemahan :
      Jadinya orang siap sedia, yang merasa menjadi kekasih Tuhan, (padahal) penyembahannya salah kira, menghadapny ketika shalat nafi, salahnya kafir sidik, yang justru kafir besar, maka waspadailah, itu semua menjalani, salah tanda ilmunya, tanda menjadi berbahaya.
      Tegese sidik puniku, angrasa murbeng ing widhi, atawa amisahena, ngelmu iku luwih rungsid iku ugi, tan kejaba tan kejero, cerak tanpa gepokan, adohe tan ana mung neng, iku dipun waspada mring alamika.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 22:54 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@kakang mas abdullah ali kang kinasih..salam takzimku kang mas.rahayu..
    • Agung Pambudi ‎@Aiman Yiman..salam rahayu…
      01 Juni jam 22:56 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Alaika salam,mas Agung….rahayu….
      01 Juni jam 23:00 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Agung Pambudi alhamdulillah…kang mas abdullah nembah nuwun….
      01 Juni jam 23:01 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@wedarane rodok banter hananging jaringan satelit lemot..lajeng aken diajeng ayu…ndang istirahat…manekung..
      01 Juni jam 23:05 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Terjemahan :
      Tidak akan sampai perhatiannya, menghambakan diri pada Tuhan, tetapi dengan persembahan dan pujian itu, pada siang dan malam hari, agar sungguh-sungguh mencari, jika tidak memuji dan menyembah, ingatlah Tuhan, yang memiliki kita semua.
      Namaning sembah sedaya, lilima ingkang rumiyin, ingaran sembah Jumungah, kalahir kawetu lathi, kathah ingkang teka, sembah Jumungah aranipun, marang kabeh rapale, iya iku lampahan sembah Jumunggah.
      Terjemahan :
      Jenis sembah semuanya, lima jumlahnya, pertama sembahyang jamaah namanya, adalah apa yang keluar dari lidah, banyak yang datang, itulah sembahyang jamaah namanya, apa yang telah diucapkan, itulah laku sembahyang berjamaah.
      Ping kalihe sembah wustha, iku tingal jroning ati, sampun angloro tingal, sapatemon ing Hyang Widhi, kalamun aningali, kados pundi patrapipun, upama tan nemua, nora warna nora rupi, kaya paran sapatemon ing Hyang Suksma.
      Terjemahan :
      Kedua sembah wusta, itu di dalam hati, jangan mendua perhatian, bersatu dengan Tuhan, jika melihat bagaimana caranya,jika tidak menemukan (karena Tuhan itu), tanpa rupa tanpa warna, seperti tujuan bertemu dengan Tuhan.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      SULUK SHALAT (bagian 03)
      Kepriye wong tinggal shalat, ngaku becik anglakoni, temen sir ya angas, amemada ing wong mukmin, bari angisin-isini, pan sasat nggeguyu rasul, dadi ratuning durga, kaya kapir wong Yahudi, mesthi lebur gempur ing naraka.
      Terjemahan :
      Bagaimanakah orang yang meninggalkan shalat, mengaku menjalakan dengan baik, sungguh sangat mengerikan, menyamai-nyamai orang mukmin, bahkan memalukan, (orang seperti itu) bagaikan menertawakan Rasul, kelak merekan akan menjadi pimpinan keburukan, sperti orang kafir Yahudi, dan (di akherat) pasti akan hancur lebur di neraka.
      Lulure wong tinggal shalat, kadi pundi yen ngawruhi, wajibe wong tinggal salat, wajibe ya kadi pundi, atinggal lahir batin, tan ana liya kaetung, miwah panggawe kita, mapan nora anduweni, anging Allah polahe ya ingkang shalat.
      Terjemahan :
      Sesungguhnya orang yang meninggalkan shalat, bagaimanakah jika (ingin) mengetahui, wajib meninggalkan shalat, wajibnya itu bagaimana, meninggalkan lahir (atau) batin, tak ada hal lain yang diperhitungkan, juga perbuatan kita, bahwa kita tidak memiliki, tetapi hanya Allah yang mengusai seluruh gerak shalat.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 23:13 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Ingkang jenenge kawula, sru sirna tan ana keri, datan ana ananira, gegentine marang Hyang Widhi, mangan jenenge napi, kawula ing lalisipun, lir lintang karainan, kasorotang ing Hyang Rawi, lintang ilang ing raditya.
      Terjemahan :
      Yang namanya hamba, segera sirna tak ketinggalan, sesungguhnya ADAnya hamda adalah tidak ada, digantikan oleh ADA-Nya, hamba sesungguhnya adalah nafi, hamba dalam kelaiannya ibarat bintang kesiangan, terkena sorot matahari, bintang hilang tidak tanpak.
      Wong tumeka salat tunggal, qasdu takrun lawan takyin, iya iku kang sampurna, kawruhana ingkang budi, lawan atining ati, ya puniki tegesipun, arep amarengine, qasdu takrun lawan takyin, aparengna lafal Allahu Akbar.
      Terjemahan :
      Orang yang hendak melakukan shalat tunggal, (hendaknya mengamalkan) qasdu takrun dan takyin, itulah yang sempurna, pahamilah budi, hati nurani, maksudnya memahamkan qasdu takrun dan takyin, dan menghayati lafal Allahu Akabar.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 23:14 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Aksara Ha aparengna, aksara Alip kang kaki, niyat iku Lam kang awal, Lam akhir niyat singgih, Hu tibaning niyati, parengna niyatipun, ya Allah jeneng Dat, tibane ingkang sayekti, Allahu Akbar sampurnaning niyatira.
      Terjemahan :
      Perhatikan abjad Ha, dan makna abjad Alif yang hak, niyat itu Lam awal, Lam akhir demikian juga, Hu jatuhnya niyat, pahamilah niyat itu, kepada Allah satu-satunya zat, itulah niyat yang lurus, Allahu Akbar adalah lafal niat yang sempurna.
      Jenenging niyat tan ana, pengleburan kang kekalih, tan ana Gusti kawula, yen isih kawula gusti, mangan turu utami, kadi pundi slametipun, ron dadi satunggan, satunggal dadi kekalih, ora ilang kawula lawan Pangeran.
      Terjemahan :
      Niyat adalah tak ada, penyatuan yang dua, tidak ada Gusti Kawula, jika masih kawula Gusti (ketika shalat), lebih baik makan tidur saja, bagaimana agar selamat, dua menjadi satu, satu menjadi dua, tidak hilang kawula Gusti.
      Kawruh iya kawula, parengna sihing Hyang Widhi,lamun tunggal kang kawula, tan ana ingkang ngarani, ingkang anebut Gusti, tan liya kawulanipun, dadi nyata Pangeran, ingkang nembah kang muji, pan kawula kinarya aling-alingan.
      Terjemahan :
      Pengetahuan seorang hamba, pikirkanlah kasih sayang Tuhan, jika manunggal dengan hamba, tidak ada yang menyebut Tuhan, kecuali adalah hamba-Nya, jadi sesungguhnya adalah, Tuhan sendirilah yang menyembah dan memuji, hamba hanya dijadikan sarana.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      Kawula anggome nyata, kahananira Hyang Widhi, pan angaken wujud tunggal, kekalihira Hyang Widhi, amung jenenging jalmi, kekalihira Hyang Agung, amung jeneng manungsa, kang dadi tibaning sang sih, mora ana liyane ingkang manungsa.
      Terjemahan :
      Hamba adalah tempat wujud nyata, dari keadaan Tuhan yang sesungguhnya, jika dikatakan wujud tunggal, yang kedua adalah Tuha., yang namanya manusia, adalah kekasih Tuhan, yang namanya manusia, adalah menjadi tempat anugrah, tidak ada yang lain selain manusia.
      Endi kang aran manungsa, ingkang terus lahir batin, kang narima ing Hyang Suksma, tan darbe polah kekalih, amung marang Hyang Widhi, kang paring marga luhur, apan tan ana liyan, Pangeran ingkang ngasihi, den anarima sih nugrahaning Hyang Suksma.
      Terjemahan :
      Siapakah yang disebut manusia, yang terus lahir batin, (yang dalam dirinya) ada Tuhan, tidak memiliki gerak mendua, hanya kepada Tuhan, yang memberikan jalan yang luhur, dan tidak ada lain, hanya Tuhan yang memberi anugrah, maka segala apa yang di anugrahkan Tuhan hendaknya diterima.
      Utawa jenenging shalat, lelima kathahe nenggih, dhihin Shalat Jumungah, kang kawetu saking lathi, pakumpulaning jalmi, Shalat Jumumgah ranipun, samya den estokna, kang kelahir saking lathi, iya iku lakune Shalat Jumungah.
      Terjemahan :
      Shalat itu ada lima jenis, pertama shala jamaah, adalah apa yang keluar dari lidah, tempat berkumpulnya orang-orang, itulah yang disebut shalat jamaah, laksanakan dengan baik, apa yang telah diucapkan, itulah laku shalat berjamaah.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 23:16 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Wahyu Nugroho Djati sugeng dalu mas Agung ugi Bunda LIA……….rahayu.
      01 Juni jam 23:18 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Kang sira den ucapna, asih lahir lawan batim, ja katungkul wus manuta, Kanjeng Nabi kang sinelir, kekasihing Hyang Widhi, punika analika wau, yogya angawruhana, bangsa lahir lawan batin, iya ik kang aran Shalta Jumungah.
      Terjemahan :
      Apa yang engkau ucapkan, selaras antara lahir dan batin, yang terlena oleh karena mengikuti saja, Nabi yang dikasihi, yang dicintai Tuhan, hal yang demikian itu, pahamilah apayang lahir dan yang batin, itulah yang dimaksud shalat jamaah.
      Ping kalihe Salat Wusta, dadi papadhang kang ati, tegese kang nora pegat, samaning alamiing ati, sapatemon Hyang Widhi, kaya parena patrepipun, lamun atetemu, nora kontha nora wani, tegesipun jaba jero awasira.
      Terjemahan :
      Yang kedua adalah shalat wusta, menjadi penerang hati, adalah tidak putus, sama dengan lama hati, bertemu dengan Tuhan, sebagai tujuan hidupnya, hendak bertemu dengan-Nya, zat yang tanpa rupa tanpa warna, maka luar dalam waspadamu.
      Ping kalihe Shalat Wusta, jenenge kawula Gusti, pan kawula nora ana, kawula jenenge napi, apa nora ndarbeni, purba wasesa puniku, pan kagenten Hyang Suksma, weruha marang Hyang widhi, polah tingkah iku purbaning Pangeran.
      Terjemahan :
      Yang kedua shalat wusta, namanya hamba dan Tuhan, bahwa hamba sesungguhnya tidak ada, hamba itu bersifat nafi, dia tidak memiliki, purba wasesa semua adalah hak Tuhan, Tuhan dan segala gerak laku adalah kehendak Tuhan.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 23:18 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…

    • Bunda Lia
      Shalat kang kaping tiga, aja ningali kekalih, eroh jasad winicara, jasad eroh kadi pundi, papan dadi gegenti, nggone nyata kendhang agung, jati-jatining tunggal.
      Terjemahan :
      Shalat yang ketiga (yaitu shalat haji), jangan lagi melihat hamba dan Tuhan secara dualis, ruh yang berbicara, fungsi jasad digantikan oleh ruh, tempat kenyataan “kendang agung”, kesatuan yang sebenar-benarnya.
      Iya iku durerasan, panemu kang angawruhi, luput bener kawiwara, lupute pan kadi pundi, luput kang dereng yekti, abener kang sampun weruh, yogya den gurokna, punika jenenging ngelmi, Shalat Haji poma sami kawruhana.
      Terjemahan :
      Hal itu bukanlah bahan pembicaraan, (hanya) pendapat yang mengetahui, tentang salah benar oleh Sang Pujangga, mana hal yang salah, salah bagi yang belum mengalami, benar bagi yang sudah mengetahui, maka carilah guru (yang mumpuni), itulah yang namanya ilmu, yakni pahamilah makna shalat haji.
      Waler sengker kang satengah, yen lamun arebut ngilmi, tan ana gelem kasirnan, datan reja mupakati, mila pating barekin, labete rebutan kawruh, yeku sami wasisnya, tan mikir luputing diri, kaluputan ngelmune pan dadi sasar.
      Terjemahan :
      Sebagian adalahhal yang dilarang, jika hendak memperebutkan ilmu, tak ada yang mau kehilangan, tidak juga mau bermufakat, maka ramai tidak karuan, padahal maksudnya mencari ilmu, tapi sama-sama merasa pandai, tidak mau berfikir kemungkinan kesalahan diri, padahal jika salah maka jadilah tersesat.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 23:18 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Dadine wong kang rayah, angresa wasis pribadi, tanpa ngrasa yen kapurba, dalil Qur’an ili muni, arepa mengawruhi, pan akeh jenenging ngelmu, dadi wong punika, weruha ngelmu sejati, darbe raga aja angrasa yen bisa.
      Terjemahan :
      Jadinya orang-orang saling berebut, merasa paling pandai, tidak merasa, dalil Qur’an itu berbunyi (bahwa) jika hendak mengetahui, menunutut ilmu yang banyak, manusia harus memahami ilmu sejati, punya badan jangan merasa kalau bisa.
      Shalat Daim ping sekawan, nora mengeng saking ati, uwis eningali, marang Maha Hyang Kang Luhur, jenengipun malrifat, tan ana Gusti kekalih, kang kasebut ing ati Allah Kang Tunggal.
      Terjemahan :
      Keempat adalah shalat daim, tak pernah putus dalam hati, sudah melihat terhadap Tuhan Yang Mahaluhur, itulah makrifat, tak adalagi Tuhan dan hamba, yang disebut dalam hati, hanyalah Allah Yang Tunggal.
      Aja angeloro Pangeran, ing awal tumekeng akhir, awake pun durung ana, jenenge akhir kang keri, akhir jisime isi, awek jeneng rohipun, pan dadi kanyatan, manipaksa (“) sejati, iya iku tegese tunggal tinunggal.
      Terjemahan :
      Jangan mendua Tuhan, dari awal hingga akhir, zat-Nya memang belum ada, namanya akhir yang ketinggalan, yang akhir jasadnya, kemudian diberi ruh, yang menjadi kenyataan, keterpaksaan sejati, itulah artinya satu yang menyatu.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 23:19 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Tegese kang kaping lima, kanugrahan kanugrahan kang sayekti, Shalat Ismu Ngalim ika, jenenging roh lawan jisim, yogya dipun kawruhi, tegese kang Maha Agung, asma Allah tan pegat, aningali kang dumadi, jagat iku yekti langgeng aneng suksma.
      Terjemahan :
      Yang kelima artinya adalah, anugrah yang sejati, namanya shalat ismu alam, adanya roh dan jasad, sebaiknya pahamilah, maksudnya Yang Maha Agung, sebutlah asma Tuhan tak pernah henti, melihat Tuhan dunia akan abadidalam suksma.
      Tan pegat ing tingaliran, dadine bumi lan langit, iya iku kanugrahan, kang dadi ayat sayekti, kang kajenging ngelmi, tan ana loro tetelu, jenenging kanyatan wajah, tuwah ingkang suci, iya eroh tegese kang aran wajah.
      Terjemahan :
      Tanpa henti perhatianmu, (memikirkan) terjadinya bumi dan langit, itulah anugrah kehendak Allah, merupakan ayat atau tanda yang sejati, yang dikehendaki ilmu, tidak dua atau tiga, itulah kenyataan wajah (doa tawajuh), mantra yang suci, yang dimaksud wajah adalah ruh.
      Utawi tegese pan, kathahe ingkang prakawis, ingkang dhingin pana ing Dat, kapindha sipat, kaping tiga winardi, wong kang pan apngalipun, tegesee pan ing Dat tan anane nenggih, ora ana anging Allah wujud baka.
      Terjemahan :
      Ada hal yang perlu diketahui, tentang tiga hal, pertama adalah zat, kedua sifat, dan winardi, yaitu orang yang tahu ag’alnya, maksudnya zat adalah, tidak ada zat lain kecuali zat Allah yang kekal abadi.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 23:20 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Anapun ana sipat, akabutana urip, langaliman lakuta, tan ana kuwasa singgih, tan ana angawruhi, anging Allah ingkang agung, kang amurba amasesa, tan ana ingkang madani, ora urip anging Allah Wujud hayat.
      Terjemahan :
      Ada pun yang disebut sifat, adalah disebut hidup, menguasai alam malakut, tak ada yang berkuasa, tak ada yang memberinya ilmu, hanya Allah Yang Agung, yang amurba amasesa, tak ada yang menyamai, tidak hidup kecuali Allah wujud hidup.
      Tegese pan apngal, anane duwe pangreti, anging Allah ingkang karya, kawula tan anduweni, salira polah jisim, tan ana iya kaetung, miwah panggawe kita, tan rumangsa anduweni, apngalira ora ana kang kuwasa.
      Terjemahan :
      Ada pun yang disebut af’al, adanya punya pengertian, hanya Allah yang berkarya, hamba tidak memiliki, baik jiwa maupun raga, tidak ada yang terhitung, termasuk perbuatan kita, bukan kita yang memiliki, ketahuilah bahwa hambasama sekali tak memiliki kuasa.
      Sing sapa weruh ing awak, iku weruh marang Gusti, tegese wruhing salira, tan ana wujude singgih, mapan kawula napi, datan ana wujudipun, tandane wruhing Allah, kawruhana kang sayekti, ora ana anging Allah kang mulya.
      Terjemahan :
      Barang siapa tahu akan dirinya, akan tahu siapa Tuhan-nya, maksudnya barang siapa bisa memahami sesungguhnya dirinya itu tidak ada, bahwa dirinya itu nafi, tak berwujud apa pun, pertanda ia tahu akan Allah, ketahuilah yang sesungguhnya, tak ada lain kecuali Allah Yang Mahamulia.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      Angendika Rasulullah, pangawruh ingkang sayekti, sing sapa nembah ing asma, ora weruh asma singgih, punika dadi kapir, yen tan weruh tegesipun, wong munapik, wong ngaku tan wruhing asma.
      Terjemahan :
      Berkata Rasulullah, ilmu pengetahuan yang sejati, adalah barang siap yang menyembah asma (Tuhan), tetapi tidak tahu siapa asma (Tuhan) itu, sungguh dia itu kafir, kalau tidak tahu artinya, orang munafik, orang yang mengaku tidak tahu akan asma (Tuhan-nya).
      Wong weruh asma lan makna, sirik yen ora ngawruhi, wong kang weruh marang makna. Kelawan hak angawruhi, yen ta wus weruh iki, yaiku mukmin satuhu, lan tinggal ingkang makna, hak ingkang dipun kawruhi, iya iku kang aran mukmin makrifat.
      Terjemahan :
      Orang (harus tahu akan) asma dan maknanya, syirik jika tidak mengetahuinya, orang yang tahu akan makna, dengan pengetahuan yang benar, kalaulah sudah tahu, itulah mukmin yang sebenarnya, dan tinggal makna, kebenaran yang diketahui, itulah yang disebut mukmin makrifat.
      Angendika wong hakikat, alabtu thalabul rahmi, ingsun ngulati roh iku, kaya ngulati Hyang Widhi, lan tegesipun ngulati, roh kelawan ingkang agung, lah para kabeta roh, nora beda ngelmu jati, iya eroh lan Pangeran antaranya.
      Terjemahan :
      Berkata ahli hakikat, saya mengenali (melihat) ruhku, seperti mengenali Tuhan, dan maksudnya mengenali ruh yang Agung adalah (dengan) mendekatinya ruh, tidak beda dengan ilmu sejati, ialah antara ruh dan Tuhan.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 23:22 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Ngendika Seh Mahmud ika, adoh mesih ing Hyang Widhi, kaya pisaha kapir, saking suwarga kang luhur, lapal watarkus shalat, tinggal ashalat sayekti, luwih luhur tinggal shalat banjur ngojah.
      Terjemahan :
      Berkata Syekh Mahmud, jauhnya tempat Tuhan bersemayam itu, seperti jauhnya orang kafir, dari surga yang luhur, (karena mereka) meninggalkan shalat sejati, lebih luhur tinggal shalat lalu ngobrol.
      Tegese atinggal shalat, salat lahir lawan batin, tan ngresa memuji nembah, eling kang sawiji-wiji, apan nora ndarbeni, panguwasa polahipun, anging nikmating tingal, tang angrasa nembah muji, polah tingkahe Allah kang shalat.
      Terjemahan :
      Meninggalkan shalat itu maksudnya, shalat lahir dan batin, tak merasa memuji menyembah, ingat pada satu-satunya, tidak merasa memiliki, tak berkuasa atas tindakannya, hanya anugrah Allah, tak merasa menyebah memuji, seluruh tindakan shalat adalah tindakan Allah.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      Sampurnane shalat iku, nora ningali kekalih, nora ningali Pangeran, kawula nora kaeksi, ilang kawula Gusti, tan ana dulu dinulu, ananging idhepira, kang anembah kang amuji, pan kagenten sih nugrahaning Pangeran.
      Terjemahan :
      Sempurnanya shalat itu, tidak melihat dua, tidak melihat Tuhan, hamba tidak diperlihatkan, hilang kawula Gusti, tak ada kuasa menguasai, tetapi maksudmu, yang menyembah dan memuji itu, telah diganti oleh anugrah Allah.
      Angandika wong utama, shalat iku malih-malih, kang ngendi tegese nyata, kang aran nyata kang endi, tegese nyata iki wau kang nyata satuhu, nyata ing dalem akal, ingkang nyata ingkang ngendi, alak iku roh satuhu kawruhana.
      Terjemahan :
      Berkata orang yang utama, shalat itu berubah-ubah, mana yang dimaksud nyata, yang disebut nyata yang mana, artinya nyata ini yang benar-benar nyata dalam akal, yang nyata yang mana, akal itu adalah roh sejati maka pahamilah.
      Anapon shalat pasa, lawan jakat munggah Haji, pinedhakken brahala, mapan jeneng shalat wajib, wektu metu iki, wektuning shalat kawektu, iku dadi brahala, apan isih amemuji, pan tinampi kasembahe dadi brahala.
      Terjemahan :
      Adapun shalat puasa, dan zakat serta naik haji, meruntuhkan berhala, adapun shalat wajib, (adalah tergantung pada) waktu, waktu shalat yang ditentukan, itu menjadi berhala jika masih memuji, tidak diterima panembahnya (jika masih) jadi berhala.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 23:24 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Pundi tegese asalat, wong kang weruh ing Hyang Widhi, kelawan ati kang padhang, kawruhana kang sayekti, aja kaliru tampi, jatining ening puniku, pundi eningkang tunggal, kang ingaran ati ening, iya iku cahyaning e-Dat kang nyata.
      Terjemahan :
      Bagaimanakah maksud shalat, orang yang mengetahui Tuhan, dengan hati yang terang, pahamilah yang sebaik-baiknya, jangan sampai salah terima, sesungguhnya hening itu, adalah hening pada Yang Tunggal, yang disebut hati hening, yaitu cahaya zat yang nyata.
      Angandika Abu Bakar, kinasihan ing Hyang Widhi, ingkang antuk rahmatullah, tegese shalat sejati, tarkulu syai’in, ing tinggal sawiji iku, kang liyan saing Allah, tan ana sawiji-wiji, anging tunggal Allah kang murba misesa.
      Terjemahan :
      Berkata Abu Bakar, orang yang dikasihi Allah, yang mendapat rahmatullah, bahwa yang dimaksud shalat sejati (adala) meninggalkan segala sesuatu (dan memusatkan pada) satu hal, bukan pada yang lain selain Allah, tak ada sesuatu pun melainkan hanya Allah Yang Esa, yang amurba amasesa.
      Tegese anane shalat, sekawan kathahe nenggih, kalima sampurnanira, dhingin wulu tanpa warih, kapindho niyat singgih, ikrar kaping tiganipun, kaping sekawan makrifat, tan kelawan netra jati, ping limane nora kelawan makrifat.
      Terjemahan :
      Yang dimaksud shalat, empat jumlahnya, dan kelima kesempurnaannya, pertama wudhu tanpa air, kedua niyat, ketiga ikrar, keempat makrifat tanpa netra jati, dan kelima tanpa makrifat.
      Kang sira awas makrifat, yaiku yekti Hyang Widhi, kang muji pinuji dawak, memuji pujining Widi, tan ana liyan sejati, anging Allah ingkang Agung, ilang jeneng manungsa, tan ana makhluk sejati, anging Allah ya jenenge ingkang shalat.
      Terjemahan :
      Ingatlah dikau waspada makrifat, yaitu Tuhan yang sesungguhnya, yang memuji dan dipuji sendiri, memuji pujian-Nya, tak ada yang lain sejati, hanya Allah yang Agung, hilanglah esensi manusia, tak ada makhluk yang sejati, hanya diri Allah-lah yang melakukan shalat.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      SULUK PRATINGKAHING SHALAT (bagian 04)
      Angandika Nabi kang sinelir, angrasani jenenge wong salat, arep weruh Pangerane, kelawan ora weruh, siya-siya dennya nglampahi, pertingkahe wong shalat, den weruh sadennya nglampahi, pertingkahe wong shalat, den weruh satuhu, weruhe kadi punapa, yen weruha sameleke dadi kapir, pan ora werna rupa.
      Terjemahan :
      Berkata Nabi yang terkasih, membicarakan orang yang shalat, hendak mengetahui Tuhannya, (jika) tidak mengetahui maka sia-sialah salat yang dilakukannya, tingkang laku orang shalat, (ingin) mengetahui sesungguhnya, mengetahui seperti apa, jika mengetahui seperti mata melihat maka jadilah ia kafir, (karena Tuhan itu) tanpa warna tanpa rupa.
      Lamun ora weruh ing Hyang Widhi, yekti wuta benjang neng akherat, arep weruh ing semangke, yogya sami nggegurua, ing pagawruh kang sejati, pratingkahe wong shalat, ya weruh satuhu, jenenge asalat tunggal, tunggal wujud kawula kelawan Gusti, kang dadi kenyatan.
      Terjemahan :
      Jika tidak mengetahui Tuhan, sesungguhnya akan buta besok di akherat, hendak mengetahui nantinya, maka carilah seorang guru, tentang kawruh sejati, tingkah laku orang shalat, harus tahu benar, perihal shalat tunggal, tunggal wujud hamba dan dan Tuhan, yang menjadi kenyataan.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      Weruhipun kawula Gusti, jeneng niyat kang tigang perkara, qasdu takrun lan takyine, weruhe bedanipun, niyat iku sawiji-wiji, qasdu ingkang panedya, ingkang niyat iku, dudu bangsa lan suara, ingkang ngadeg sujud rukuk kang rekangat, tan kena kaleru, takyine kang kaping tiga, nyatakken wektu Subuh lan Maghrib, klawan Ngisake pisan.
      Terjemahan :
      Mengetahui hamba dan Tuhan, niat tiga hal, qasdu takrun dan takyin, ketahuilah perbedaannya niat yang tiga itu satu-persatu, qasdu adalah permohonan, niat itu bukan jenis dan ucapannya, berdiri rukuk dan sujud itu juga bukan niat.
      Ping kalih takrun kang gumanti, lungguhira bakdane rakangat, papat lawan tetigane, ing Ngasar lan Subuh, dipun awas sawiji-wiji, jenenge kang rekangat, tan kena kaleru, takyine kang kaping tiga, nyatakken wektu Subuh lan Maghrib, klawan Ngisake pisan.
      Terjemahan :
      Yang kedua, takrun yang menggantikan, dudukmu stelah rekaat, yang keempat atau ketiga, dalam waktu Ngasar atau Subuh, pahamilah satu-persatu, menghitung rekaat tidak boleh keliru, takyin yang ketiga, menyatakan padaSshalat Subuh, Magrib dan Isya.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      Yen nganggoa qasdu takyin, tan sampurna shalate wong ika, yen ora nganggo kepriye, pan batal salatipun, niyat iku jenenge wajib, tan kena tinggal, iya ingkang tetelu, yen lamun meksih nganggoa, qasdu takrun kelawan takyin puniki, shalate tan sampurna.
      Terjemahan :
      Jika (tidak) memakai qasdu takyin, maka salatnya orang itu tidak sempurna, jika tidak memakai bagaimana, apakah batal shalatnya, niat itu adalah yang wajib, yang tak boleh ditinggal, sedangkan ketiganya, qasdu takrun dan takyin itu, jika tak dipakai shalatnya tidak sempurna (tetapi tidak batal).
      Waler sengker pocapan puniki, kang satengah nora duwe duga, dene ayuh bebasane, nggeguyu peksa weruh, pangucape, pegel kena ati, tan kena den kalahena, padune wong bingung, kudu ngajak kakerengan, kang saweneh ngaku yen bisa tapsir, katungkul ngudi sastra.
      Terjemahan :
      Nasehat ini adalah nasehat yang terlarang, yang sebagaian jangan sampai kurang pertimbangan, peribahasanya menertawakan memaksa (orang yang) hendak tahu, perkataannya menyakitkan hati, tak bisa dikalahkan, justru (sebenarnya) itu orang yang bingung, ingin mengajak pertengkaran, dan menyombongkan kalau bisa ilmu tafsir, (tapi) terlalu mementingkan nilai susastranya.
      Atakona ingkang padha mukmin, jeneng kawruh sejatine shalat, den weruh pisah kumpule, pundi kang mukmin tuhu, iya iku ingkang ngawruhi, sejatine wong shalat, pisah kumpulipun, dudu shalate kawula, sejatine kanugrahaning Hyang Widhi, kang tiba mring kawula.
      Terjemahan :
      Bertanya pada orang mukmin, tentang pengertian shalat, ketahuilah berpisah dan berkumlpulnya, siapakah orang mukmin sebenarnya, yaitu orang yeng mengetahui, kesejatian shalat, dan berpisah bersatunya (hanba dan Tuhan), shalat itu bukanlah shalat hamba, melainkan anugrah Tuhan yang melimpah pada hamba.
      Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia
      Ingkang tinggal shalat mapan wajib, wus sampurna ingkang tinggal shalat, yogya apa pangawruhe, lamun tan kaya iku, siya-siya dennya nglampahi, angel jeneng shalat, manawa kaleru, dwn dalih atinggal pisan, bebayane aninggal shalat sejati, pan wajib linakonan.
      Terjemahan :
      Yang meninggalkan shalatyang wajib, dan yang sudah sempurna “meninggalkan shalat”, seperti apa perbuatannya, jika tidak tahu sia-sia olehnya menjalani, sulit memahami shalat, jangan sampai keliru, dikiranya sudah bersatu (padahal belum), bahayanya meninggalkan shalat sejati, yang wajib dilakukan.
      Lamun tinggal shalat apan kapir, nora kena mayite dinusan, wong mati bangka hukume, kelawan malihipun, nora tinggal lan bukti, ingkang tinggal shalat, iku janjinipun, lawan malih nora apsah, anembeleh angrusak kalimah kalih, iya wong atinggal shalat.
      Terjemahan :
      Jika meninggalkan shalat adalah kafir, tak boleh mayatnya dimandikan, itu adalah orang yang mati tidak sempurna, tidak berhak meninggalkan bukti, itulah orang yang meninggalkan shalat, itulah janjinya, dan lagi tidak absah menyembelih (karena) telah mrusak kalimah dua (syahadat), itulah orang yang meninggalkan shalat.
      Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 23:28 · Tidak SukaSuka · 11 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Alhamdulillah selesai juga akhirnya walau harus lari2 karena sudah diingatkan harus jam 00.00 kan kita syukuri walau agak tegang mencari wedaran 7 bln yang lalu dari Bunda LIa Songgo Buwono … lari ke Bunda Lia Tiga…. kok hilang ternyata ketemu juga di Bunda Lia Songgo Buwono 2. He he he… selesai Tugasku… akhir kata saya ucapkan terimakasih… atas semuanya… apa bila ada yang kurang berkenan mohon maaf yg sebesar2nya…. terima kasih. Wass.Lihat Selengkapnya

      01 Juni jam 23:32 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@Wahyu Nugroho Djati salam rahayu kakang mas sugeng ing madyaning ratri..
      01 Juni jam 23:33 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Wahyu Nugroho Djati sugeng dalu salam kasih mas…. saya mohon diri dulu karena badan agak krodit…. nyuwun pangapunten mas… Rahayu ngantos pinanggih.
      01 Juni jam 23:42 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Saliqun Nafs
      Assalamu’alaikum wrwb,
      sugeng pinanggih poro kadang sedoyo mugi tansah pinaring karahjan dumateng gusti kang moho agung

      Sungkem hormat kagem poro sederek ingkang sampun rawuh lan nderek sesrawungan ilmi ing warung kasih mrikj..

      Ta’jim dalem dumateng mbak yu sri kalian poro sepuh pinisepuh kakung miwah setri bopo lan biyung..

      Dumateng diajeng kang kinasih
      Mugi gusti pun paringi sehat Dumateng panjenengan..

      Salam salam salamLihat Selengkapnya

      01 Juni jam 23:43 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ngadep tabuh 00,00 wib diajeng ayu..titi wancinipun..manekung..mahening suci….
    • Agung Pambudi ngadep tabuh 00,00 wib diajeng ayu..titi wancinipun..manekung..mahening suci….
      01 Juni jam 23:48 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Rahayu rahayu rahayu
      01 Juni jam 23:58 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Denmas Riyanto Sugeng ndalu mas Agung Pambudi ! nyuwun pangapunten dalem nembeke medal kolowau ! salam…rahayu !!
      02 Juni jam 0:01 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Muhamad Mukhtar Zaedin ‎@ selamat malam BundaLia dan semuanya, mhn maaf atas keterlambatanku ikuti sidang PERJALANAN PANJANG ini, rahayu
      02 Juni jam 0:09 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Arie Irfan Rahayu… Rahayu Rahayu… Salam Kasih.
      02 Juni jam 1:07 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 2 orang

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on Juli 5, 2011, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: