Shalat (tarek dan Daim) Hari ke 5

Shalat (tarek dan Daim) Hari ke 5

oleh Bunda Lia pada 29 Mei 2011 jam 18:09


Shalat (tarek dan Daim)
Terusan wedaran kemarin Hari 5 
Syekh Siti Jenar mengajarkan dua macam bentuk shalat, yang disebut shalat tarek dan shalat daim. Shalat tarek adalah shalat thariqah, diatas sedikit dari syari’at. Shalat tarek diperuntukkan bagi orang yang belum mampu untuk sampai pada tingkatan Manunggaling Kawula Gusti, sedang shalat daim merupakan shalat yang tiada putus sebagai efek dari kemanunggalannya. Sehingga shalat daim merupakan hasil dari pengalaman batin atau pengalaman spiritual.
Ketika seseorang belum sanggup melakukan hal itu, karena masih adanya hijab batin, maka yang harus dilakukan adalah shalat tarek. Shalat tarek masih terbatas dengan adanya lima waktu shalat, sedang shalat daim adalah shalat yang tiada putus sepanjang hayat, teraplikasi dalam keseluruhan tindakan keseharian ( penambahan, mungkin efeknya adalah berbentuk suci hati, suci ucap, suci pikiran ); pemaduan hati, nalar, dan tindakan ragawi.
Kata “tarek” berasal dari kata Arab “tarki” atau “tarakki” yang memiliki arti pemisahan. Namun maksud lebih mendalam adalah terpisahnya jiwa dari dunia, yang disusul dengan tanazzul (manjing)-nya al-Illahiyah dalam jiwa. Shalat tarek yang dimaksud di sini adalah shalat yang dilakukan untuk dapat melepaskan diri dari alam kematian dunia, menuju kemanunggalan. Sehingga menurut Syekh Siti Jenar, shalat yang hanya sekedar melaksanakan perintah syari’at adalah tindakan kebohongan, dan merupakan kedurjanaan budi.
Pengambilan shalat tarek ini berasal dari Kitab Wedha Mantra bab 221; Shalat Tarek Limang Wektu. (Sang Indrajit: 1979, hlm. 63-66).
Keterangan bagi yang mengamalkan ilmu shalat tarek lima waktu ini.(Semua hal yang berkaitan dengan shalat tarek ini diterjemahkan dengan apa adanya dari Kitab Wedha Mantra. Makna terjemahan yang bertanda kutip hanyalah arti untuk memudahkan pemahaman. Adapun maksud dan substansi yang ada dalam kalimat-kalimat asli dalam bahasa Jawa-Kawi, lebih mendalam dan luas dari pemahaman dan terjemahan diatas.(penulisnya wanti-wanti banget loh). Pelaksanaan shalat tarek bisa saja diamalkan bersamaan dengan shalat syari’at sebagaimana biasa, bisa juga dilaksanakan secara terpisah. Hanya saja terdapat perbedaan dalam hal wudlunya. Jika dalam shalat syari’at, anggota wudhu yang harus dibasuh adalah wajah, tangan, sebagian kepala, dan kaki, sementara dalam shalat tarek adalah di samping tempat-tempat tersebut, harus juga membasuh seluruh rambut, tempat-tempat pelipatan anggota tubuh, pusar, dada, jari manis, telinga, jidat, ubun-ubun, serta pusar tumbuhnya rambut (Jawa; unyeng-unyengan). Walhasil wudlu untuk shalat tarek sama halnya dengan mandi besar (junub/jinabat).
Bahwa kematian orang yang menerapkan ilmu ini masih terhenti pada keduniaan, akan tetapi sudah mendapatkan balasan surga sendiri. Maka paling tidak ujaran-ujaran shalat tarek ini hendaknya dihafalkan, jangan sampai tidak, agar memperoleh kesempurnaan kematian.
Bagi yang akan membuktikan, siapa saja yang sudah melaksanakan ilmu ini, dapat saja dibuktikan. Ketika kematian jasadnya didudukkan di daratan (di atas tanah), di kain kafan serta diberi kain lurub (penutup) serta selalu ditunggu, kalau sudah mendapatkan dan sampai tujuh hari, bisa dibuka, niscaya tidak akan membusuk, (bahkan kalau iradah dan qudrahnya sudah menyatu dengan Gusti), jasad dalam kafan tersebut sudah sirna. Kalau dikubur dengan posisi didudukkan, maka setelah mendapat tujuh hari bisa digali kuburnya, niscaya jasadnya sudah sirna, dan yang dikatakan bahwa sudah menjadi manusia sempurna. Maka karena itu, orang yang menerapkan ilmu ini, sudah menjadi manusia sejati.
Sedangkan tentang ilmu ini, bukanlah manusia yang mengajarkan, cara mendapatkannya adalah hasil dari laku-prihatin, berada di dalam khalwat (meditasi, mengheningkan cipta, menyatu karsa dengan Tuhan sebagaimana diajarkan Syekh Siti Jenar).
Tentang anjuran untuk pembuktian di atas, sebenarnya tidak diperlukan, sebab yang terpenting adalah penerapan pada diri kita masing-masing. Justru pembuktian paling efektif adalah jika kita sudah mengaplikasikan ilmu tersebut. Apalagi pembuktian seperti itu jika dilaksanakan akan memancing kehebohan, sebagaimana terjadi dalam kasus kematian Syekh Siti Jenar serta para muridnya.

Tidak SukaSuka · · Bagikan · Hapus

    • Agung Pambudi sugeng lumengsering suryo..kairing sumunaring condro sineksen lintang abyor kerlap kerlip hanyekseni poro titah kang tumitah..ingkang tansah haemuji mring gusti ingkang moho suci..
      29 Mei jam 18:16 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Agung Pambudi diajeng ayu..pun kakang nderek lelenggahan njih nyemak wedaran agung ingkang bade kawedar ing dalu meniko…
      29 Mei jam 18:20 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Jalan sudah mulai licin juga terjal….sabuk pengaman haruslah kuat….salamku,Den Ayu….
      29 Mei jam 18:20 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@salam rahayu kakang mas abdullah ali kang kinasih..salam takzimku kakang mas…
      29 Mei jam 18:22 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bhoechah Ghemblunk Permisi orang bodoh ikut nyimak…
      29 Mei jam 18:23 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Matursembahnuwun,mas Agung….monggo pun sekecaaken anggenipun lenggah….kawulo wonten regol pendopo mawon….rahayu…..
      29 Mei jam 18:25 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@Bhoechah Ghemblunk..kang kinasih ..salam rahayu..sugeng ndali kakang mas…
      29 Mei jam 18:31 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Benda Pusaka kitab aslinipun Siti Jenar punopo taksih wonten to Bunda……….
      29 Mei jam 18:33 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@ Benda pusaka..salam rahayu..
      29 Mei jam 18:37 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bhoechah Ghemblunk Slmt mlm jg mas agung…
      29 Mei jam 18:37 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Agung selamat malam mas Salam kasih.
      29 Mei jam 18:38 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kang Dullah malam kang…. hemmmm
    • Benda Pusaka ‎@ Agung Pambudi : rahayu ugi kang mas…….
      29 Mei jam 18:39 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Misterr Jeans Sang Kinasih Salam Rahayu Ibunda, Abah Ali, Kang Mas Agung, lan sdoyo kdang knasih, mugi GUSTI tansah paring berkah dmateng kito sdoyo.
      29 Mei jam 18:39 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Cipto Turonggo Kawedar sugeng ndalu bunda,sugeng ndalu kang mas agung,babeh abdullah,sugeng ndalu sdoyo ke mawon ingkang sampun rawuh teng pendopo songgo buono ngriki,…
      Bunda..nderek nyimak ngjeh bunda…
      29 Mei jam 18:39 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Bhoecah apa kabar..??? Salam kasih….
      29 Mei jam 18:39 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Agung Pambudi Misterr Jeans Sang Kinasih..salam takzimku kakng mas…mugi tansah pinaringan rahayu wilujeng ing dalu meniko..
      29 Mei jam 18:42 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Agung Pambudi Cipto Turonggo Kawedar.kang kinasih..salam rahayu kakang mas…semoga sejahtera senantiasa…
      29 Mei jam 18:43 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Benda… waduh jangan dibuka noh mas….
      29 Mei jam 18:43 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bhoechah Ghemblunk Kbr baik bunda…alhmdllh….
      29 Mei jam 18:44 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Hari Yuswadi sugeng ndalu bunda.kaparengo dalem nyimak .sugeng ndalu poro kadang. mugi rahayu ingkang tansah pinanggih.
      29 Mei jam 18:44 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Benda Pusaka Bunda Lia : upss keceplosan Bunda…… ngapuntenipun Bunda, hehehe….
      29 Mei jam 18:44 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Jeans selamat malam….
      29 Mei jam 18:45 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Mugo lancar Den Ayu….nyuwun ridhane Gusti….amin amin amin
      29 Mei jam 18:45 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Cipto malam salam kasih.
      29 Mei jam 18:46 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Hari Yuswadi selamat malam mas… salam kasih kagem keluargo njih…
      29 Mei jam 18:46 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Benda he he he sini tak cupit dikit saja he he he….
      29 Mei jam 18:47 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kang Dullah doangamu yo kang sing tak suwun…
      29 Mei jam 18:48 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Amin amin amin….BISMILLAH….
      29 Mei jam 18:49 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Benda Pusaka Bunda Lia : ampun bunda…. mangke wonten ingkang cemburu lho….😀
      29 Mei jam 18:50 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia He he he he mas Benda I Lov U… xxixixixiixixiiiii
      29 Mei jam 18:51 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia Tenang wae yo kang tak siap2 moco dongo ben ora kesandung utowo keblinger padange jagat… mundak mikul kereto he he he
      29 Mei jam 18:52 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Benda Pusaka hehe……. Status hakekatipun manteb Bunda…. sejalan dg pemikiran orang Jawa………… hehehe……..
      29 Mei jam 18:56 · SukaTidak Suka · 5 orangMemuat…
    • Benda Pusaka ‎(Bunda Lia He he he he mas Benda I Lov U… xxixixixiixixiiiii)
      wah nek meniko njih mboten wantun mbales koment Bunda…
      29 Mei jam 18:57 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Tirta Naya ijin ikut baca bunda…makasih
      29 Mei jam 18:58 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Tenang piye wong cemburu kok hahahaha….hahahaha….yo nasib nek kon nyunggi kereto hahahaha….hahahaha….
      Wis ayo di awiti Den Ayu….BISMILLAH.
      29 Mei jam 19:01 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Tukribo Budiharto Kulonuwun…nuwun sewu ..bade nderek nyimak kemawon…
      29 Mei jam 19:02 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Yara Kasih Sugeng dalu Mama kinasih dalem…Yara yg dangkal Ilmu dan segalanya Nyimak …salam kangen Mama sayang….
      29 Mei jam 19:03 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Kozink Saputra sugeng ndalu bunda..kng dullah..kangmas agung..ms jeans..mas naya..mas benda..kng tkribo.,..dan semua yg hadir dsini…salam jabat erat persaudara’an..kita….
      29 Mei jam 19:04 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Yara Kasih Sugeng dalu ugi mas Agung,,Abah Ali..Benda pusaka..kalian swedoyo engkang sdampun sowan..rahyu3x
      29 Mei jam 19:04 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Sila Sadewa Ayo Kooong sedeku sik pekoleh bareng dongo, Sirolah……. Dzattolah….. Sifattolah…….. Ujudtolah……… dst …….. Lancar “D” Amiiin…… !!!
      29 Mei jam 19:06 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Siwi Marthin Sugeng ndalu bunda Lia. Nyimak. Salam.
      29 Mei jam 19:08 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Siap Komandan….hehehehe….mbak Sila….
      29 Mei jam 19:09 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Yara Kasih Sugeng dalu Ibu siwi ,mas sadewa..Rahayu..
      29 Mei jam 19:10 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Kozink,Sang,Yara,mbak Siwi….lan kabeh sing hadir….mugi tansah pinaringan rahayu….amin amin amin
      29 Mei jam 19:11 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Benda Pusaka ‎@ Kyara Dewi, Kozink Saputra : rahayu, rahayu, rahayu…. sugeng pinanggih wonten mriki…….😀
      29 Mei jam 19:12 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Tirta Naya selamat malam mas… hari minggu kemana saja mas???
      29 Mei jam 19:12 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Kozink Saputra malam mas… kopine disiapaken dereng…
      29 Mei jam 19:13 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kyara say… salam kangen kapan yo pulangnya….
      29 Mei jam 19:14 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Petruk Tralala nderek nyimak njih bund…Rahayu poro rawuh..
    • Bunda Lia Sillaku hemmmmmm… iki onok mbak Din … dirimu dicari say…
      29 Mei jam 19:14 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mbak Siwi malam
      29 Mei jam 19:14 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@Tirta Naya..salam rahayu kakang mas…sugeng ndalu..
      29 Mei jam 19:15 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Yara Kasih InsyaAllah tahun depan Mama…nyuwun pangestunipun ugi doa suci Mama..I miss You Mom..
      29 Mei jam 19:15 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@Kyara Dewi sugeng ingmadyaning ratri ..salam rahayu.
      29 Mei jam 19:15 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Tirta Naya selamat malam juga bunda..tidak ke mana2 di rumah saja bunda..
      29 Mei jam 19:15 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@ kang mas kozink..salam damai sejahtera..
      29 Mei jam 19:16 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kang Petruk Tralala he he he salam kasih mat malam kang…
      29 Mei jam 19:17 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@ mbak siwi…salam sejahtera selalu..ya mbak yu..
      29 Mei jam 19:17 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Tirta Naya m kyara – m agung selamat malam, makasih
      29 Mei jam 19:18 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Sila Sadewa Haaaiiii, mbak Din yg megah somay mat malem sugeng rawoh …..!
      29 Mei jam 19:18 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Yara Kasih selamat malam mas Tirta ..rahayu ..sugeng nyimak wedaran kang agung meniko ..mugi dadosaken mantepipun ziadah ketaqwaan kita bersama ..amien
      29 Mei jam 19:20 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Alim Mahmud wah salam takzimku terhadapmu bunda lia……..semoga keparengan rahayu sentosa………….tulisan di atas mengingatkanku pada petuah bapakku………..salam rahayu sll…………..
      29 Mei jam 19:20 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Agung Pambudi Embae Mbak Sila..salam sejahtera damai dihati..rahayu ingkang sami pinanggih…
      29 Mei jam 19:20 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Sila Sadewa Siaaap Kyai…… damai dalam kasih Nya !
      29 Mei jam 19:21 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@ mas alim mahmud..salmku kang mas…
      29 Mei jam 19:21 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Alim Mahmud waalaikum salam kang mas agung…semoga kita bersama sll dalam kasih dan mahabbahNYA……….amiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnn
      29 Mei jam 19:26 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Kozink Saputra bunda..kopi dereng di damelke..bun..jatahe radi wengi..hehehe..kng dullah.ms agung..mas benda ..matur nuwun njeh…salam rahayu..
      29 Mei jam 19:28 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@kakang mas petra..salam takzimku kakang mas..mugi sami pinaring karaharjan ing dalu meniko…rahayu ingkang samipinanggiih..
      29 Mei jam 19:29 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Alaika salam mas Alim Mahmud selamat malam salam kasih mas….
      29 Mei jam 19:36 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Awan Baraya Galuh Putra allah maha mendengar para hamba hamba yang memujinya..selamat malam semua ..
      29 Mei jam 19:36 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Tukribo sugeng dalu mas salam kasih…
      29 Mei jam 19:38 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Benda he he he ben pisan sing arep cemburu biar kelihatan … wahhh jiaaaannnn mas Benda….
      29 Mei jam 19:39 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Margo Surya Buwana aku cem ………….. buru .. xixiixi malam kak..
      29 Mei jam 19:40 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Kozink Saputra asmara..cemburu…hehehehe..jd ingat waktu..abg dluh..klo dah tua gini..sick ..tuk apalah cemburu…mustinya g ush di cenburui..disayang ae…hehehehhee..wah kang dullah rindi maneh koq g da muncul2 lg iki…
      29 Mei jam 19:43 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Baiklah poro kadang kang kinasih monggo kito awiti maos Bismillah…. rumiyen sak derengipun wedaran ing dalu meniko kalajeng……

      TIGAPULUH SATU
      Shalat Subuh
      Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Kudus kang shalat, iya iku rohing Allah. Allah iku lungguh ana ing paningal, shalat iku sajrone shalat ana gusti, sajroning gusti ana sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajro-ning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing awakku.”
      (Aku berniat shalat, roh Kudus yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya Allah. Allah yang menempati penglihatan, shalat yang di dalam shalat itu ada gusti, di dalam gusti ada sukma, di dalam sukma ada nyawa, di dalam nyawa terdapat kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar tetap mantap mengerti akan diriku sendiri).
      Malaikatnya adalah Haruman (malaikat Rumman), memujinya dengan “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
      Niatnya, “Niyatingsun shalat, sirku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu akbar, tetep madhep langgeng weruh ing sirku.”
      (Aku berniat shalat, sir [rahasia]-ku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap menghadap dengan abadi mengerti akan sir [rahasia]-ku).
      Lihat Selengkapnya

      29 Mei jam 19:44 · Tidak SukaSuka · 13 orangMemuat…
    • Bunda Lia Dik Margo Buwono…. salam kasih dik…
      29 Mei jam 19:45 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Margo Surya Buwana lanjut kak..
      29 Mei jam 19:45 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Siwi Marthin ya bun aku nyimak sambil ntn dong yi seri 50. sehat kan bun? selamat malam juga buat kang Dullah dan mas Agung.
      29 Mei jam 19:46 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Wisang Geni sugeng ndalu bunda lia…. ugi poro sederek ingkang langkung rumiyin lenggahan ingkang mboten saget kasebat setunggal2…. ngaturaken salam pambagyo ugi salam rahayu..
      29 Mei jam 19:47 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Sugeng dalu sugeng rawuh mas Wisang…. rahayu njih….
      29 Mei jam 19:48 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Sila Sadewa ‎” D” lanjut lg Sir kog macet…. Kooong…… keganjal/ tersumbat.
      29 Mei jam 19:54 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Wisang Geni maturnuwun nda…… monggo kalajengaken…. salam kasih… nderek nyimak….
      29 Mei jam 19:58 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      TIGA PULUH DUA

      Shalat Luhur
      Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh idlafi kang shalat, iya iku rohing Pangeran. Pangeran iku lungguhe ana ing kaketek, shalat iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing Pangeranku.” (Aku berniat shalat, roh Idlafi yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya Tuhan. Tuhan yang menempati ketiak, shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Tuhanku). Malaikatnya adalah Jabarail (malaikat Jibril), memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
      Niatnya, “Niyatingsun shalat, kang shalat osikku, pardlu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing osikku.” (Aku berniat shalat, yang shalat bisikan dan gerak hatiku, wajib dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan bisikan nuraniku).
      Malaikatnya Jabarail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
      Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku). Seratus kali.
      Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
      Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta). Seratus kali.
      Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.”
      (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.
      Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku”,
      (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.
      Lihat Selengkapnya

      29 Mei jam 19:59 · Tidak SukaSuka · 12 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Lanjut……
      29 Mei jam 20:07 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      TIGA PULUH TIGA

      Shalat ‘Ashar
      Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Abadi kang shalat, iya iku rohing Rasul. Rasul iku lungguhe ana ing poking ilat, shalat iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing Rasulku.”
      (Aku berniat shalat, roh keabadian yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya Utusan. Utusan Tuhan yang menempati ujung lidah, shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Utusanku).
      Malaikatnya adalah Mikail, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
      Niatnya, “Niyatingsun shalat, angen-angenku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing angen-angenku.”
      (Aku berniat shalat, angan-anganku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan angan-anganku).
      Malaikatnya Mikail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
      Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku). Seratus kali.
      Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
      Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta). Seratus kali.
      Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.” (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.
      Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.
      Lihat Selengkapnya

      29 Mei jam 20:17 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Sila Sadewa ‎” D” Alloh Hu 2 lancar nihc batry abis tak cas ….. lanjut !
      29 Mei jam 20:24 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Muhamad Mukhtar Zaedin ‎@ SHOLAT DAIM, SHOLAT LANGGENG, LANGGENG ING SHOLAT, HMMM TAK BISA BERDOSA DAN BERSALAH. *met mlm Bunda&sahabatku semua
      29 Mei jam 20:44 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 5 orangMemuat…
    • Kozink Saputra lanjut bundaku….
      29 Mei jam 20:58 · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat…
    • Sila Sadewa Kooong…… enak sik lg di sambije sabar yo !
      29 Mei jam 21:01 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Kozink Saputra silaa..wes kebelet je..piye jal ngene iki…hehehehehe..
      29 Mei jam 21:02 · Tidak SukaSuka · 3 orangAnda, Abdullah Ali, dan Agung Pambudi menyukai ini
    • Abdullah Ali Wooooo…..mesti di sambi mojok jiiiiiiaaaaannnn hm…….
      29 Mei jam 21:07 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Kadis Satria duh .. sholat dhuhur sama ashar kalau ngikuti urut2an diatas iso nggak golek pangan ..anak bojo kluwen piye jall”
      29 Mei jam 21:15 · Tidak SukaSuka · 2 orangAnda dan Agung Pambudi menyukai ini.
    • Abdullah Ali Hehehehe….Kadis….yo jangan ditiru wong ini bukan tiruan kok hehehehe….
      29 Mei jam 21:18 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Kozink Saputra hahahahahaha..jian…kng dullh..emnnya imitasi..kok..ada tiruan segala…kepengen apik emng..kudu rekoso…tpi seng rekoso kadang yo..belum tentu apik..lha trus pye…amboh..pinter2..bawa diri aja..biar gak di gondol..tikus..hehehehe…nunggu bunda..sinambi guyonan..yo kng..
      29 Mei jam 21:24 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Kozink….di komentarku paling atas aku sudah uluk salam….jalan mulai licin dan berbatu….sabuk pengaman harus kuat hehehehe….
      29 Mei jam 21:32 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat…
    • Sila Sadewa Oooo……. euuunaaak tenan….. wis, mudun pasilan wae degleh ki sawo mateng 2 boyok tua rengkeng 2 nunggu gak jelas wis ngglangsar sabuke pedot Kooooong……. !
      29 Mei jam 21:34 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Kadis Satria ya jalani ajach ..yang bisa. .lagian bukan tujuan jadi wong suci sing penting migunani kanggo keluargane anak bojone dewe disik nek ono siso tenogo lan modal yo kiri kanan ugo dilirik..he.he.he.he.he
      29 Mei jam 21:41 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Waduh mbak Sila….hahahaha….iso di tilang iki walah hahahaha….hahahaha….
      29 Mei jam 21:42 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Kadis hahahaha….ya lebih baik begitu….apapun yang diyakini baik monggo dilaksanakan dengan sungguh sungguh….nanti hasilnyapun juga akan bagus hehehehe….
      29 Mei jam 21:45 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Sila Sadewa Wah …….. daerah blakn sport kong, gak atik tilang le kumkum atis bajune dirampas damar wulan, kepleset maning…… haaaaa …… !!!
      29 Mei jam 21:47 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Hahahaha….hahahaha….la tambah asyik to le mojok,mbak hahahaha….hahahaha….
      29 Mei jam 21:50 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Kadis Satria
      umumnya wong pinter akeh sing keblinger bingung golek-i anane gusti kang murbeing dumadi lha wong bodo kuwi ora bingung waton laku urip sing prasojo ..ora gawe..ukoro lan lakon sing ngrugek-ke sepadan-padane .ora mikir sing gawe urip iki deleng opo ora lakune blass ora mikir..embuh opo jare gusti alloh [gumannya]. dekat atupun jauh kenal ataupun tidak dengan gusti ..ya tetap saja diliputi oleh sang gusti.. seperti halnya ikan di dalam air .. ngerti dirinya didalam air atau nggak tetap saja di air kalau berani keluar dari air ya tewas.. ha.ha.ha.ha.Lihat Selengkapnya

      29 Mei jam 21:56 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      TIGA PULUH EMPAT
      Shalat Maghrib
      Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, rokhani kang shalat, iya iku rohing Muhammad. Muhammad iku lungguhe ana ing talingan, shalat iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing Muhammadku.”
      (Aku berniat shalat, rohani yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya Muhammad. Muhammad yang menempati ujung telinga, shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan Muhammadku).
      Malaikatnya adalah Israfil, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
      Niatnya, “Niyatingsun shalat, tekadku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing tekadku.”
      (Aku berniat shalat, tekadku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan tekadku).
      Malaikatnya Israfil, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
      Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku). Seratus kali.
      Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
      Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta). Seratus kali.
      Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.”
      (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.
      Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.
      Lihat Selengkapnya

      29 Mei jam 22:00 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Kadis yo mulane ojo dadi wong pinter….ndak keblinger….dadio wong sing ngerti….nek pengen ngerti yo ngaji hehehehe….ning nek ngaji mung terjemah yo wis da da wae hahahaha….hahahaha….
      29 Mei jam 22:09 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Kadis Satria yo kang..ngaji karo.. alam wae. dijamin jujur lan ora bayar whwkwkwkwk
      29 Mei jam 22:13 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Kadis hahahaha….yo mulane teles koyo iwak jiiiiiiaaaaannnn hahahaha….hahahaha….
      29 Mei jam 22:17 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit Selamat Malam Mama,,,,,salam kangenku selalu,,I Love U
      29 Mei jam 22:34 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit Selamat Malam Om abdullahku,,mas kadis
      Mas Sila sadewa serta semua saudra2ku yg telah hadir,,,salam sejaghtera Selalu,,,,Rahayu
      29 Mei jam 22:36 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Rahayu,Gadis…..
      29 Mei jam 22:38 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Kozink Saputra nah..gadis ku dah dtng nih…kmn aja toh ndok cah ayu..wingi gk nongol..diarep2..karo ume dullh…kok ndok..pye kbre rak tetep..sehat bagas waras toh ndok cah ayu…
      29 Mei jam 22:42 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit Ugi Rahayu om abdullahku,,,
      Mas Saputra selamat malam Mas,,alkamduliah berkat doa dr sedulurku semua,,,kabar gadis baik dan sehat,,dan saya harap sebaliknya,,RAHAYU
      29 Mei jam 22:56 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Kozink Saputra alkham dullilah amin…amin amin…
      29 Mei jam 22:58 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Kozink Saputra malam ini akn lbh dahsyat.dan seru apa bila..di tempo..wedaran bunda..ini…kang mas agung..ugi kerso nyukani..pitutur..piwualng..kng…mbok sumonggo toh kang mas..agung..kersane sederek niki…lbh tambah semangat..d sela2..wedaran bunda meniko..sumonggo kang mas agung….
    • Arie Irfan Oooh…. Selamat Malam…. Salam Kasihku.
      29 Mei jam 23:22 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Arie Irfan Sungguh luar biasa… Selamat malam Kang Dullah, Mas Kozink, Gadis, serta semua yg hadir disini… Rahayu… Salam Kasih Dan Hormatku.
      29 Mei jam 23:25 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Agung Pambudi kakang mas arie kang kinasih…………..
      29 Mei jam 23:26 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      TIGA PULUH LIMA
      Shalat ‘Isya’
      Niat yang paling awal, “Niyatingsun shalat, roh Robbi kang shalat, iya iku rohing urip. urip iku lungguhe ana ing napas, shalat iku sajroning sukma, sajroning sukma ana nyawa, sajroning nyawa ana urip, sajroning urip ana eling, pardhu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep weruh ing uripku.”
      (Aku berniat shalat, roh Pembimbing yang melaksanakan shalat, yaitulah rohnya kehidupan. Utusan Tuhan yang menempati napas, shalat yang di dalam sahalat itu ada gusti, didalam gusti terdapat sukma, di dalam sukma terkandung nyawa, di dalam nyawa adanya kehidupan, di dalam kehidupan terdapat kesadaran menyeluruh, kewajiban dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap mengerti akan kehidupanku).
      Malaikatnya adalah Izrail, memujinya dengan, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
      Niatnya, “Niyatingsun shalat, karepku kang shalat, pardlu ta’ala Allahu akbar, tetep mantep madhep langgeng weruh ing karepku.”
      (Aku berniat shalat, keinginanku yang shalat, wajib dari Allah ta’ala, Allahu akbar, tetap mantap menghadap dengan abadi mengerti akan keinginanku).
      Malaikatnya Izrail, pepujiannya, “Ya Hu, Ya Hu.” Seratus kali.
      Kemudian memuji; “Ya Rajamu, ya rajaku.” (Arab; Ya Maliku al-Mulku). Seratus kali.
      Dilanjutkan, “Sirrullah, darajatullah, sifatullah”. Seratus kali.
      Dilanjutkan lagi, “Lah giri-giri Allah, sir jeneng, sir jumeneng Allah, nur gumulung, gumulung agawe jagat,” (Sungguh puncak dari segala puncak adalah Allah, rahasia tempat berdiam Allah, cahaya tergulung, tergulung membuat semesta). Seratus kali.
      Kemudian berdzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes kena ing Allahku.”
      (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh pasti sudah kena pada Allahku).Seratus kali.
      Dilanjutkan dengan dzikir, “Lah wes kena Pangeranku, lah wes nyata ing Allahku”, (Sungguh sudah kena Tuhanku, sungguh sudah nyata pada Allahku), Seratus kali.
      Lihat Selengkapnya

      29 Mei jam 23:26 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Arie Irfan Selamat Malam Mas Agung… Rahayu… Salam Hormat & Jabat Erat.
      29 Mei jam 23:28 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      TIGA PULUH ENAM
      “Inilah shalat satu raka’at salam, yang dilaksanakan setiap tanggal (bulan purnama), dengan waktu tengah malam tepat :
      a. Inilah niatnya, “Ushalli urip dzatullah Allahu akbar” (Aku berniat melaksanakan shalat kehidupan dzatullah, Allahu akbar).
      b. Membaca surat al-Fatihah, kemudian membaca ayat dengan menyebut, “aku pan Sukma” (Aku sang pemilik Sukma).
      c. Melakukan ruku’ dengan menyebut, “langgeng urip dzatullah” (Kehidupan abadi dzatullah).
      d. Sujud dengan mengucapkan, “ibu bumi dzatullah”.
      e. Duduk di antara dua sujud dengan doa, “langgeng urip dzatullah tan kena pati” (kehidupan abadi dzatullah yang tidak terkena kematian).
      f. Sujud lagi dengan bacaan, “Ibu bumi dzatullah”.
      g. Tahiyat dengan membaca, “Urip dzatullah”.
      h. Membaca syahadat dengan bacaan, “Ashadu uripingsun lan sukma” (Ashadu kehidupanku dan Sukma).
      I. Salam dengan bacaan, “Ingsun kang agung, ingsun kang memelihara kehidupan yang tidak terkena kema-tian.
      j. Membaca doa, “Allahumma papan tulis hadhdhari langgeng urip tan kena pati” (Allahumma papan tulis segala sesuatu yang abadi hidup yang tak pernah terkena mati).
      k. Kemudian berdoa dalam hati, “Ingsun kang agung ingsun kang wisesa suci dhiriningsun” (ingsun yang Agung, ingsun yang memelihara, suci diriku sendiri [ingsun]).
      Dalam Islam dikenal shalat satu raka’at, namun itu hanya sebagian dari shalat witir (shalat penutup akhir malam dengan raka’at yang ganjil).
      Shalat satu raka’at salam dalam ajaran Syekh Siti Jenar bukanlah shalat witir, namun shalat ngatunggal, atau shalat yang dilaksanakan dalam rangka mencapai kemanunggalan diri dengan Gusti.
      Bacaan-bacaan shalat ngatunggal tidak semuanya memakai bahasa Arab, hanya lafazh takbir dan al-Fatihah serta ayat-ayat yang dibaca satu madzhab fiqih Islam sekalipun (yakni madzhab Imam Hanafi, dan di Indonesia terutama madzhab Hasbullah Bakri), bacaan dalam shalat selain takbir dan al-Fatihah boleh diucapkan dengan bahasa ‘ajam (selain bahasa Arab).
      Lihat Selengkapnya

    • Agung Pambudi trimakasih kakng mas Arie Irfan..jabat erat pula dariku..kakang mas..
    • Bunda Lia
      TIGA PULUH TUJUH
      “Shalat lima kali sehari, puji dan dzikir itu adalah kebijaksanaan dalam hati menurut kehendak pribadi. Benar atau salah pribadi sendiri yang akan menerima, dengan segala keberanian yang dimiliki.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 33).
      Syekh Siti Jenar menuturkan bahwa sebenarnya shalat sehari-hari itu hanyalah bentuk tata krama dan bukan merupakan shalat yang sesungguhnya, yakni shalat sebagai wahana memasrahkan diri secara total kepada Allah dalam kemanunggalan. Oleh karenanya dalam tingkatan aplikatif, pelaksanaannya hanya merupakan kehendak masing-masing pribadi.
      Demikian pula, masalah salah dan benarnya pelaksanaan shalat yang lima waktu dan ibadah sejenisnya, bukanlah esensi dari agama. Sehingga merupakan hal yang tidak begitu penting untuk menjadi perhatian manusia. Namanya juga sebatas krama, yang tentu saja masing-masing orang memiliki sudut pandang sendiri-sendiri.
      Lihat Selengkapnya

      29 Mei jam 23:46 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      TIGA PULUH DELAPAN
      “Pada waktu saya shalat, budi saya mencuri, pada waktu saya dzikir, budi saya melepaskan hati, menaruh hati kepada seseorang, kadang-kadang menginginkan keduniaan yang banyak. Lain dengan Zat Allah yang bersama diriku. Nah, saya inilah Yang Maha Suci, Zat Maulana yang nyata, yang tidak dapat dipikirkan dan tidak dapat dibayangkan.” (Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 37).
      Pada kritik yang dikemukakan Syekh Siti Jenar terhadap Islam formal Walisanga tersebut, namun jelas penolakan Syekh Siti Jenar atas model dan materi dakwah Walisanga. Pernyataan tersebut sebenarnya berhubungan erat dengan pernyataan-pernyataan pada point 37 diatas, dan juga pernyataan mengenai kebohongan syari’at yang tanpa spiritualitas di bawah.
      Menurut Syekh Siti Jenar, umumnya orang yang melaksanakan shalat, sebenarnya akal-budinya mencuri, yakni mencuri esensi shalat yaitu keheningan dan kejernihan busi, yang melahirkan akhlaq al-karimah. Sifat khusyu’nya shalat sebenarnya adalah letak aplikasi pesan shalat dalam kehidupan keseharian.
      Sehingga dalam al-Qur’an, orang yang melaksanakan shalat namun tetap memiliki sifat riya’ dan enggan mewujudkan pesan kemanusiaan disebut mengalami celaka dan mendapatkan siksa neraka Wail. Sebab ia melupakan makna dan tujuan shalat (QS. Al-Ma’un/107;4-7). Sedang dalam Qs.Al-Mukminun/23; 1-11 disebutkan bahwa orang yang mendapatkan keuntungan adalah orang yang shalatnya khusyu’. Dan shalat yang khusyu’ itu adalah shalat yang disertai oleh akhlak berikut : (1) menghindarkan diri dari hal-hal yang sia-sia dan tidak berguna, juga tidak menyia-siakan waktu serta tempat dan setiap kesempatan; (2) menunaikan zakat dan sejenisnya; (3) menjaga kehormatan diri dari tindakan nista; (4) menepati janji dan amanat serta sumpah; (5) menjaga makna dan esensi shalat dalam kehidupannya. Mereka itulah yang disebutkan akan mewarisi tempat tinggal abadi; kemanunggalan.
      Namun dalam aplikasi keseharian, apa yang terjadi? Orang muslim yang melaksanakan shalat dipaksa untuk berdiam, konsentrasi ketika melaksanakan shalat. Padahal pesan esensialnya adalah, agar pikiran yang liar diperlihara dan digembalakan agar tidak liar. Sebab pikiran yang liar pasti menggagalkan pesan khusyu’ tersebut. Khusyu’ itu adalah buah dari shalat. Sedangkan shalat hakikatnya adalah eksperimen manunggal dengan Gusti. Manunggal itu adalah al-Islam, penyerahan diri <Wong Jowo ngomonge’ Pasrah Bongkoan>. Sehingga doktrin manunggal bukanlah masalah paham qadariyah atau jabariyah, fana’ atau ittihad.
      Namun itu adalah inti kehidupan. Khusyu’ bukanlah latihan konsentrasi, bukan pula meditasi. Konsentrasi dan meditasi hanya salah satu alat latihan menggembalaan pikiran. Wajar jika Syekh Siti Jenar menyebut ajaran para wali sebagai ajaran yang telah dipalsukan dan menyebut shalat yang diajarkan para Wali adalah model shalatnya para pencuri’
      Lihat Selengkapnya

      29 Mei jam 23:57 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Arie Irfan
      Sekarang salat banyak yang menjadi formalitas belaka. Bila suatu ibadat telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi, dan hanya untuk membohongi orang lain, maka semuanya merupakan keburukan di bumi. Tidak bisa dipegangi artinya kelima rukun itu tak tak dapat dirasakan manfaatnya bagi kesejahteraan hidup. Dan hanya digunakan sebagai alat untuk melegitimasi kekuasaan. Yg mengajarkan syariat biasanya juga tidak memahami manfaat dari syariat yg diajarkan itu. Dan juga tidak memiliki kemampuan untuk mengajarkan praktik syariat yg hidup dan nyata gunanya. Akhirnya syariat menjadi tanpa makna. Seperti teroris banyak orang yg pandai berdalil bahwa salat harus dikerjakan secara khusyuk. Tapi nyatanya, melatih orang bisa khusyuk salatnya itu tidak gampang. Bukan hanya yg dilatih itu tidak dapat mengerjakan, tapi yg melatih pun tidak bisa mengerjakan dengan khusyuk. Bila yg diartikan khusyuk adalah konsentrasi. Pikiran tidak mengembara. Menurut Syekh Siti Jenar, ketika seseorang yg melakukan salat berusaha khusyuk, maka sebenarnya pikirannya mencuri. Jroning salat budiku memaling. Yang dicuri dalam salat tentu saja keheningan dan kejernihan budi. Pikiran dipaksa untuk diam, konsentrasi. Padahal sebenarnya pikiran digembalakan agar tidak liar. Khusyuk sebenarnya hanyalah buah. Buah dari penyerahan diri. Kerendahan hati. Bukan upaya untuk berkonsentrasi. Salam Kasih Dan Hormatku. Lihat Selengkapnya

      29 Mei jam 23:58 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Arie Irfan Salam Kasihku….
      30 Mei jam 0:01 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Kozink Saputra ‎”peksi nala”….
      30 Mei jam 0:02 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Puasa Zakat dan Haji
      TIGA PULUH SEMBILAN
      “Syahadat, shalat dan puasa itu, sesuatu yang tidak diinginkan, jadi tidak perlu. Adapun zakat dan naik haji ke Mekah, itu semua omong kosong (palson kabeh). Itu seluruhnya kedurjanaan budi, penipuan terhadap sesama manusia. Orang-orang dungu yg menuruti aulia, karena diberi harapan surga di kelak kemudian hari, itu sesungguhnya keduanya orang yang tidak tahu. Lain halnya dengan saya, Siti Jenar. Tiada pernah saya menuruti perintah budi, bersujud-sujud di mesjid mengenakan jubah, pahalanya besok saja, bila dahi sudah menjadi tebal, kepala berbelulang. Sesungguhnya hal ini tidak masuk akal! Di dunia ini semua manusia adalah sama. Mereka semua mengalami suka-duka, menderita sakit dan duka nestapa, tiada beda satu dengan yang lain. Oleh karena itu saya, Siti Jenar, hanya setia pada satu hal saja, yaitu Gusti Zat Maulana.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 38-39>.
      Syekh Siti jenar menyebutkan bahwa syariat yang diajarkan para wali adalah “omong kosong belaka”, atau “wes palson kabeh”(sudah tidak ada yang asli). Tentu istilah ini sangat amat berbeda dengan anggapan orang selama ini, yang menyatakan bahwa Syekh Siti Jenar menolak syari’at Islam. Yang ditolak adalah reduksi atas syari’at tersebut. Syekh Siti Jenar menggunakan istilah “iku wes palson kabeh”, yg artinya “itu sudah dipalsukan atau dibuat palsu semua.” Tentu ini berbeda pengertiannya dengan kata “iku palsu kabeh” atau “itu palsu semua.”
      Jadi yang dikehendaki Syekh Siti Jenar adalah penekanan bahwa syari’at Islam pada masa Walisanga telah mengalami perubahan dan pergeseran makna dalam pengertian syari’at itu. Semuanya hanya menjadi formalitas belaka. Sehingga manfaat melaksanakan syariat menjadi hilang. Bahkan menjadi mudharat karena pertentangan yang muncul dari aplikasi formal syariat tsb’
      Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 0:03 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Bagi Syekh Siti Jenar, syariat bukan hanya pengakuan dan pelaksanaan, namun berupa penyaksian atau kesaksian. Ini berarti dalam pelaksanaan syariat harus ada unsur pengalaman spiritual. Nah, bila suatu ibadah telah menjadi palsu, tidak dapat dipegangi dan hanya untuk membohongi orang lain, maka semuanya merupakan keburukan di bumi. Apalagi sudah tidak menjadi sarana bagi kesejahteraan hidup manusia. Ditambah lagi, justru syariat hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan (seperti sekarang ini juga).Yang mengajarkan syari’at juga tidak lagi memahami makna dan manfaat syari’at itu, dan tidak memiliki kemampuan mengajarkan aplikasi syari’at yg hidup dan berdaya guna. Sehingga syari’at menjadi hampa makna dan menambah gersangnya kehidupan rohani manusia.
      Nah, yg dikritik Syekh Siti Jenar adalah shalat yg sudah kehilangan makna dan tujuannya itu. Shalat haruslah merupakan praktek nyata bagi kehidupan. Yakni shalat sebagai bentuk ibadah yg sesuai dgn bentuk profesi kehidupannya. Orang yg melakukan profesinya secara benar, karena Allah, maka hakikatnya ia telah melaksanakan shalat sejati, shalat yg sebenarnya. Orientasi kepada yang Maha Benar dan selalu berupaya mewujudkan Manunggaling Kawula Gusti, termasuk dalam karya, karsa-cipta itulah shalat yg sesungguhnya. Itulah pula yang menjadi rangkaian antara iman, Islam, dan Ihsan. Lalu bagaimana posisi shalat lima waktu? Shalat lima waktu dalam hal ini menjadi tata krama syari’at atau shalat nominal.
      Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 0:07 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Kozink Saputra alkhamdulililah..semakin plong rasane jero atiku..
    • Kozink Saputra kang dullah..kok mendel wae toh kng…mane toh manee..kumis g usah tebel2..nggedibel..abot..abot gae ngomong….hahahaha…ayo d unjuk kopine..ojo podo tegang mentelengi.layar…sambi nruput kopi..biar rilex sikit kng….
      30 Mei jam 0:15 · SukaTidak Suka · 4 orangMemuat…
    • Arie Irfan
      Pelaksanaan salat bukanlah sebuah tujuan dalam hidup ini. Salat merupakan etika dalam kehidupan beragama. Makna dan tujuan di balik pelaksanaan salat itu yg tidak boleh diabaikan. Justru salat merupakan hal yg mencelakakan manusia bila hanya dikerjakan sebagai pemenuhan formalitas, tak memberi manfaat bagi orang_orang yg menderita. Yg wajib dalam beragama adalah penegakan, dan bukan pengerjaan, salat. Salat ditegakkan agar tercipta zikir kepada Tuhan. Yg menjadi sasaran utama itu zikirnya, bukan pengerjaan salatnya. Jika salat tidak menghasilkan zikir kepada Tuhan, ya sama saja dengan gerak badan dalam bentuk salat. Celakalah orang_orang yg mengerjakan salat, yang tak ada perhatian dalam salatnya, dan hanya sekadar pamer. Salam Kasih. Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 0:17 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Makna Ihsan
      EMPAT PULUH
      “Itulah yang dianggap Syekh Siti Jenar Hyang Widi. Ia berbuat baik dan menyembah atas kehendak-NYA. Tekad lahiriahnya dihapus. Tingkah lakunya mirip dengan pendapat yg ia lahirkan. Ia berketetapan hati untuk berkiblat dan setia, teguh dalam pendiriannya, kukuh menyucikan diri dari segala yg kotor, untuk sampai menemui ajalnya tidak menyembah kepada budi dan cipta. Syekh Siti Jenar berpendapat dan menggangap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat rasul yg sejati, sifat Muhammad yg kudus.”
      EMPAT PULUH SATU
      “Gusti Zat Maulana. Dialah yg luhur dan sangat sakti, yg berkuasa maha besar, lagipula memiliki dua puluh sifat, kuasa atas kehendak-NYA. Dialah yg maha kuasa, pangkal mula segala ilmu, maha mulia, maha indah, maha sempurna, maha kuasa, rupa warna-NYA tanpa cacat seperti hamba-NYA. Di dalam raga manusia Ia tiada nampak. Ia sangat sakti menguasai segala yg terjadi dan menjelajahi seluruh alam semesta, Ngidraloka”.
      Dua kutipan di atas adalah aplikasi dari teologi Ihsan menurut Syekh Siti Jenar, bahwa sifatullah merupakan sifatun-nafs. Ihsan sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dalam salah satu hadistnya (Sahih Bukhari, I;6), beribadah karena Allah dgn kondisi si ‘Abid dalam keadaan menyaksikan (melihat langsung) langsung adanya si Ma’bud. Hanya sikap inilah yg akan mampu membentuk kepribadian yg kokoh-kuat, istiqamah, sabar dan tidak mudah menyerah dalam menyerukan kebenaran.
      Sebab Syekh Siti Jenar merasa, hanya Sang Wujud yg mendapatkan haq untuk dilayani, bukan selain-NYA. Sehingga, dgn kata lain, Ihsan dalam aplikasinya atas pernyataan Rasulullah adalah membumikan sifatullah dan sifatu-Muhammad menjadi sifat pribadi.
      Dengan memiliki sifat Muhammad itulah, ia akan mampu berdiri kokoh menyerukan ajarannya dan memaklumkan pengalamannya dalam “menyaksikan langsung” ada-NYA Allah. “Persaksian langsung” itulah terjadi dalam proses manunggal.
      Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 0:19 · Tidak SukaSuka · 11 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Kang Dullah lagi mojok karo regol pendopo,Zink….ojo diganggu….hahahaha….hahahaha….
      30 Mei jam 0:25 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      EMPAT PULUH DUA
      “Bonang, kamu mengundang saya datang di Demak. Saya malas untuk Datang, sebab saya merasa tidak di bawah atau diperintah oleh siapapun, kecuali oleh hati saya. Perintah hati itu yang saya turutinya, selain itu tidak ada yang saya patuhi perintahnya. Bukankah kita sesama mayat? Mengapa seseorang memerintah orang lain? Manusia itu sama satu dengan yang lain, sama-sama tidak mengetahui siapa Hyang Sukma itu. Yang disembah itu hanya nama-Nya saja. Meskipun demikian ia bersikap sombong, dan merasa berkuasa memerintah sesama bangkai.” <Serat Syaikh Siti Jenar, Ki Sasrawijaya, Pupuh VII Asmarandana, 50-51>.
      Ihsan berasal dari kondisi hati yg bersih. Dan hati yg bersih adalah pangkal serta cermin seluruh eksistensi manusia di bumi. Keihsanan melahirkan ketegasan sikap dan menentang ketundukan membabi-buta kepada makhluk. Ukuran ketundukan hati adalah Allah atau Sang Pribadi. Oleh karena itu, sesama manusia dan makhluk saling memiliki kemerdekaan dan kebebasan diri. Dan kebebasan serta kemerdekaan itu sifatnya pasti membawa kepada kemajuan dan peradaban manusia, serta tatanan masyarakat yg baik, sebab diletakkan atas landasan Ke-Ilahian manusia. Penjajahan atas eksistensi manusia lain hakikatnya adalah bentuk dari ketidaktahuan manusia akan Hyang Widhi…Allah (seperti Rosul sering sekali mengatakan bahwa “Sesungguhnya mereka tidak mengerti”).
      Karena buta terhadap Allah Yang Maha Hadir bagi manusia itulah, maka manusia sering membabi-buta merampas kemanusiaan orang lain. Dan hal ini sangat ditentang oleh Syekh Siti Jenar. Termasuk upaya sakralisasi kekuasaan Kerajaan Demak dan Sultannya, bagi Syekh Siti Jenar harus ditentang, sebab akan menjadi akibat tergerusnya ke-Ilahian ke dalam kedzaliman manusia yang mengatasnamakan hamba Allah yg shalih dan mengatasnamakan demi penegakan syari’at Islam.
      Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 0:26 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo sugeng ndalu bunda…selamat mlm saudaraku smua…plajaran yg murni dn bagus bunda…smua baik utk dr kita …bkn utk umum…mdh2n kt bs mnjadi jenar2 yg bru..dgn tatanan yg bru sesuai jaman tnpa mengurangi makna yg sbnrya…slm rahayu…saudaraku smu
      30 Mei jam 0:36 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 5 orangMemuat…
    • Agung Pambudi “BADANKU BADAN ROKHANI, KANG SIFAT LANGGENG WASESA, KANG SUKSMA PURBA WASESA, KUMEBUL TANPA GENI, WANGI TANPA GANDA, AKU SAJATINE ROH SAKALIR, TEKA NEMBAH, LUNGO NEMBAH, WONG SAKETI PADA MATI, WONG SALEKSA PADA WUTA, WONG SEWU PADA TURU, AMONG AKU ORA TURU, PINANGERAN YITNA KABEH….
      30 Mei jam 0:39 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      EMPAT PULUH TIGA
      “Hyang Widi, wujud yg tak nampak oleh mata, mirip dengan ia sendiri, sifat-sifatnya mempunyai wujud, seperti penampakan raga yg tiada tampak. Warnanya melambangkan keselamatan, tetapi tanpa cahaya atau teja, halus, lurus terus-menerus, menggambarkan kenyataan tiada berdusta, ibaratnya kekal tiada bermula, sifat dahulu yg meniadakan permulaan, karena asal dari diri pribadi.”
      Pribadi adalah pancaran roh, sebagai tajalli atau pengejawantahan Tuhan. Dan itu hanya terwujud dengan proses wujudiyah, Manuggaling Kawula-Gusti, sebagai puncak dan substansi tauhid. Maka manusia merupakan wujud dari sifat dan dzat Hyang Widi itu sendiri. Dengan manusia yg manunggal itulah maka akan menjadikan keselamatan yg nyata bukan keselamatan dan ketentraman atau kesejahteraan yg dibuat oleh rekayasa manusia, berdasarkan ukurannya sendiri. Namun keselamatan itu adalah efek bagi terejawantah-NYA Allah melalui kehadiran manusia.
      Sehingga proses terjadinya keselamatan dan kesejahteraan manusia berlangsung secara natural (sunnatullah), bukan karena hasil sublimasi manusia, baik melalui kebijakan ekonomi, politik, rekayasa sosial dan semacamnya sebagaimana selama ini terjadi.
      Maka dapat diketahui bahwa teologi Manuggaling Kawula Gusti adalah teologi bumi yg lahir dengan sendirinya sebagai sunnatullah. Sehingga ketika manusia mengaplikasikannya, akan menghasilkan manfaat yg natural juga dan tentu pelecehan serta perbudakan kemanusiaan tidak akan terjadi, sifat merasa ingin menguasai, sifat ingin mencari kekuasaan, memperebutkan sesama manusia tidak akan terjadi. Dan tentu saja pertentangan antar manusia sebagai akibat perbedaan paham keagamaan, perbedaan agama dan sejenisnya juga pasti tidak akan terjadi.
      Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 0:40 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Agung Pambudi
      UTAMANING SARIRA PUNIKI,
      ANGRAWUHANA JATINING SALAT,
      SEMBAH LAWAN PUJINE,
      JATINING SALAT IKU,
      DUDU NGISA TUWIN MAGERIB,
      SEMBAH ARANEKA,
      WENANGE PUNIKU, LAMUN ARANANA SALAT,
      PAN MINANGKA KEKEMBANGING SALAT DAIM, INGARAN TATA KRAMA. ..
      Lihat Selengkapnya

    • Ariyo Hadiwijoyo maaf saudaraku smua…disambi ngopi kurang nulisnya
      30 Mei jam 0:41 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 4 orangMemuat…
    • Agung Pambudi
      PANGABEKTINE INGKANG UTAMI,
      NORA LAN WAKTU SASOLAHIRA,
      PUNIKA MANGKA SEMBAHE MENENG MUNI PUNIKU,
      SASOLAHE RAGANIREKI,
      TAN SIMPANG DADI SEMBAH,
      TEKENG WULUNIPUN,
      TINJA TURAS DADI SEMBAH,
      IKU INGKANG NIYAT KANG SEJATI, PUJI TAN PAPEGETAN. ..
      Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 0:42 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Arie Irfan
      Syariat yg hanya ditunaikan secara formal itu merupakan hal yg buruk, jahat, dibumi ini. Padahal sekarang ini banyak orang yg berpandangan bahwa yg penting dilakukan daripada tidak. Alasannya: lho, yg mengerjakan salat saja banyak yg tidak bisa berbuat baik, apalagi yg tidak. Hal ini salah pengandaian. Ini tidak bisa disamakan dengan siswa yg menghadapi ujian esai. Bagi yg akan menempuh ujian esai, tentu saja harus belajar dan berlatih terlebih dahulu agar bisa lulus. Bila tidak pernah belajar dan berlatih, jangan diharapkan bisa lulus. Ketika syariat agama dilakukan sebagai kedok, maka yg terjadi adalah tindakan membohongi, atau mengecoh orang lain. Seolah_olah orang yg tampak alim dalam beribadat, pasti orang baik_baik. Orang yg rajin dalam beribadat kelihatan dapat dipercaya dalam kehidupan berbangsa. Ini tidak benar. Kualitas keagamaan seseorang bisa dilihat dalam komitmennya dalam pergaulan masyarakat. Salam Dini Hari.Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 0:43 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo maaf saudaraku smua…disambi ngopi kurang nulisnya
      30 Mei jam 0:45 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo maaf saudaraku smua…disambi ngopi kurang nulisnya
      30 Mei jam 0:46 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Ziiiiiink….ketika tanganku membelai batu batu yang telah terbentuk tubuh bernama regol….aku seperti membelai diriku sendiri….regol tampak lega….karena aku mau membelainya dengan penuh kasih sayang….kemudian aku serasa masuk kedalam tumpukan batu bata itu….yang ternyata sudah sempurna menjadi regol yang senantiasa menyaksikan siapa yang datang dan bersemayam didalam pendopo….
      30 Mei jam 0:50 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bayu Agustianto solat solat….solath menenangkan hati,wah ane suka bener yang kayak gini hm…siiii…p..
      30 Mei jam 0:51 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Mas Ariyo wah sing kurang ngendi to…wah jiannn opo wis ngantuk yo…????

      EMPAT PULUH EMPAT
      “Sabda sukma, adhep idhep Allah, kang anembah Allah, kang sinembah Allah, kang murba amisesa.” <Kitab Mantra Yoga, hlm. 63>.
      Pernyataan Syekh Siti Jenar di atas sengaja penulis nukilkan dalam bahasa aslinya, dikarenakan multi-interpretasi yang dapat muncul dari mutiara ucapan tersebut. Secara garis besar maknanya adalah, “Pernyataan roh, yang bertemu-hadapan dengan Allah, yang menyembah Allah, yang disembah Allah, yang meliputi segala sesuatu.”
      Inilah adalah salah satu sumber pengetahuan ajaran Syekh Siti Jenar yang maksudnya adalah sukma (roh di kedalaman jiwa) sebagai pusat kalam (pembicaraan dan ajaran). Hal itu diakibatkan karena di kedalaman roh batin manusia tersedia cermin yang disebut mir’ah al-haya’ (cermin yang memalukan). Bagi orang yang sudah bisa mengendalikan hawa nafsunya serta mencapai fana’ cermin tersebut akan muncul, yang menampakkan kediriannya dengan segala perbuatan tercelanya. Jika ini telah terbuka maka tirai-tirai rohani juga akan tersingkap, sehingga kesejatian dirinya beradu-satu (adhep-idhep), “aku ini kau, tapi kau aku”. Maka jadilah dia yang menyembah sekaligus yang disembah, sehingga dirinya sebagai kawula-Gusti memiliki wewenang murba amisesa, memberi keputusan apapun tentang dirinya, menyatu iradah dan kodrat kawula-Gusti.
      Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 0:51 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo rahayu Bunda…rahayu kakang mas Agung…mas Arie rahayu…kakanag Dullah salam rahayu
      30 Mei jam 0:52 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo rahayu Bunda…rahayu kakang mas Agung…mas Arie rahayu…kakanag Dullah salam rahayu
      30 Mei jam 0:52 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bayu Agustianto yo kakean lek ngeklik sampek loroi piye…
    • Arie Irfan Selamat pagi Mas Ariyo… Rahayu… Salam Hormatku.
      30 Mei jam 0:56 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Agung Pambudi
      PATRAP’E NGILO ING PANGILON OJO KEDEP MANDENG WEWAYANGAN SAKJERONING MRIPAT ,WEWAYANGAN KANG KEDEP MAU ILANG MARANG KANG NINGALI WEWAYANGAN KANG CILIK ONO ING SAKJERONING WEWAYANGANE MANIK RUPANE PUTIH.OJO PEGAT PANYOROG’E TUMULI SIRNO MANJING MARANG KANG NINGALI,YEN WUS KATON,TUMULI KOCO KAKUREPAKE ,NULI NOLEH,IKU SIRNANE KANG SIFAT ANYAR KABEH IKU KANG JUMENENG MOHO SUCI ORA NO LALAWANAN ORA ONO PADHANG ORA ONO PETHENG.YEN ORA ENGGAL NGUREPAKE KOCO JISIME MUKSWO SAK RAGANE…IKU UGO PODO UTAMANE KARO KANG TINGGAL JISIM,ANGGER ORA SAMAR TEKAD’E DENE YEN DURUNG MONGSO TUMEKO ING PATI IKU TEKAD’E BADAN ROHANI,YEN WIS TUMEKO ING PATI IKU TEKAD’E BADAN ROH ILLAPI YO IKU KANG ARAN SALAT DAIM LORONING ATUNGGAL MATI SAK JERONING URIP..Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 0:56 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Ali Koziiiiiinnkk….bareng aku nyawang fotomu,la kok koyo aku walah jiiiiiiaaaaannnn hahahaha….la jebul aku lagi ngilo karo kowe to Zink jiiiiiiaaaaannnn hahahaha….wis persis pokoke hahahaha….hahahaha….
      30 Mei jam 0:57 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      EMPAT PULUH LIMA
      “Hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman yang jika sudah diminta oleh yang empunya, akan menjadi tanah dan membusuk, hancurlebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup. Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur, dan seringkali tidak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya. Kalau sudah sampai sedemikian jauhnya, baru orang menyesalkan perbuatannya.” <Serat Syaikh Siti Jenar Ki Sasrawijaya, Pupuh III Dandanggula, 42-44>.
      Menurut Syekh Siti Jenar, baik pancaindera maupun perangkat akal tidak dapat dijadikan pegangan dan pedoman hidup. Sebab semua itu bersifat baru, bukan azali. Satu-satunya yang bisa dijadikan gondhelan dan gandhulan hanyalah Zat Wajibul Maulana, Zat Yang Maha Melindungi. Pancaindera adalah pintu nafsu, dan akal adalah pintu bagi ego. Semuanya harus ditundukkan di bawah Zat Yang Wajib Memimpin.
      Karena itu Dialah yang menunjukkan semua budi baik. Jadi pencaindera harus dibimbing oleh budi dan budi dipimpin oleh Sang Penguasa Budi atau Yang Maha Budi.
      Sedangkan Yang Maha Budi itu tidak terikat dalam jeratan dan jebakan nama tertentu. Sebab nama bukanlah hakikat. Nama itu bisa Allah, Hyang Widhi, Hyang Manon, Sang Wajibul Maulana, dan sebagainya. Semua itu produk akal sehingga nama tidak perlu disembah. Jebakan nama dalam syari’at justru malah merendahkan Nama-Nya.
      Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 0:57 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Bayu Agustianto wis wis …semrawut mboten ngertos kulo .iki dimonitor karo sing nduwe pantei parang tritis,weih nyi roro….mm…sopo yo?lali aku
      30 Mei jam 0:59 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Kozink Saputra kang dullaaaaaaaaahhhhh..mantap kng…heheheheheh….
      30 Mei jam 0:59 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo kang mas Bayu@ salam rahayu njih…sinyalipun awon mniko
      30 Mei jam 1:00 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Kozink Saputra kng bayu..seng nduwe parangtritis iku..two in one..kng..yg 1 lg mmberi wejangn ngene kok…slm…hormat..
      30 Mei jam 1:04 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Arie Irfan Kang Dullah kalo aku lagi ML neh… Melototi Layar… Heheheee….
      30 Mei jam 1:05 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      EMPAT PULUH ENAM
      “Apakah tidak tahu bahwa penampilan bentuk daging, urat, tulang, sungsum, bisa rusak dan bagaimana cara Anda memperbaikinya? Biarpun bersembahyang seribu kali setiap harinya akhirnya mati juga. Meskipun badan Anda, Anda tutupi akhirnya menjadi debu juga. Tetapi jika penampilan bentuknya seperti Tuhan, Apakah para Wali dapat membawa pulang dagingnya, saya rasa tidak dapat. Alam semesta ini baru. Tuhan tidak akan membentuk dunia ini dua kali dan juga tidak akan membuat tatanan baru, dalilnya layabtakiru hilamuhdil yang artinya tidak membuat sesuatu wujud lagi tentang terjadinya alam semesta sesudah dia membuat dunia.” <Suluk Wali Sanga R. Tanaja, hlm. 44, 51>.
      Dari pernyataan Syekh Siti Jenar tersebut, nampak bahwa Syekh Siti Jenar memandang alam semesta sebagai makrokosmos sama dengan mikrokosmos (manusia). Sekurangnya kedua hal itu merupakan barang baru ciptaan Tuhan yang sama-sama akan mengalami kerusakan, tidak kekal dan tidak abadi.
      Pada sisi yang lain, pernyataan Syekh Siti Jenar tersebut juga memiliki muatan makna pernyataan sufistik, “Barangsiapa mengnal dirinya, maka ia pasti mengenal Tuhannya.” Sebab bagi Syekh Siti Jenar, manusia yang utuh dalam jiwa raganya merupakan wadag bagi penyanda, termasuk wahana penyanda alam semesta. Itulah sebabnya pengelolaan alam semesta menjadi tanggungjawab manusia. Maka, mikrokosmos manusia tidak lain adalah blueprint dan gambaran adanya jagat besar termasuk semesta.
      Bagi Syekh Siti Jenar, manusia terdiri dari jiwa dan raga yang intinya ialah jiwa sebagai penjelmaan dzat Tuhan (sang Pribadi). Sedangkan raga adalah bentuk luar dari jiwa yang dilengkapi pancaindera, berbagai organ tubuh seperti daging, otot, darah dan tulang. Semua aspek keragaan atau ketubuhan adalah barang pinjaman yang suatu saat setelah manusia terlepas dari pengalaman kematian di dunia ini, akan kembali berubah menjadi tanah. Sedangkan rohnya yang menjadi tajalli Ilahi, manunggal ke dalam keabadian dengan Allah.
      Manusia tidak lain adalah ke-Esa-an dalam af’al Allah. Tentu ke-Esa-an bukan sekedar af’al, sebab af’al digerakkan oleh dzat. Sehingga af’al yang menyatu menunjukkan adanya ke-Esa-an dzat, ke mana af’al itu dipancarkan.
      Lihat Selengkapnya

    • Ariyo Hadiwijoyo amin amin kakang mas Agung @ tmbah pangestu nggih …
      30 Mei jam 1:13 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      EMPAT PULUH TUJUH
      “Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini pada hakikatnya adalah af’al (perbuatan) Allah. Berbagai hal yang dinilai baik maupun buruk pada hakikatnya adalah dari Allah juga. Jadi keliru dan sesat pandangan yang mengatakan bahwa yang baik dari Allah dan yang buruk selain Allah.” “…Af’al Allah harus dipahami dari dalam dan luar diri. Saat manusia menggoreskan pena misalnya, di situlah terjadi perpaduan dua kemampuan kodrati yang dipancarkan oleh Allah kepada makhluk-Nya, yakni kemampuan kodrati gerak pena. Di situlah berlaku dalil Wa Allahu khalaqakum wa ma ta’malun (QS. Ash-Shaffat:96), yang maknanya Allah yang menciptakan engkau dan segala apa yang engkau perbuat. Di sini terkandung makna mubasyarah. Perbuatan yang terlahir dari itu disebut al-tawallud. Misalnya saya melempar batu. Batu yang terlempar dari tangan saya itu adalah berdasar kemampuan kodrati gerak tangan saya. Di situ berlaku dalil Wa ma ramaitaidz ramaita walakinna Allaha rama (QS. Al-Anfal:17), maksudnya bukanlah engkau yang melempar, melainkan Allah jua yang melempar ketika engkau melempar. Namun pada hakikatnya antara mubasyarah dan al-tawallud hakikatnya satu, yakni af’al Allah sehingga berlaku dalil la haula wa la quwwata illa bi Allahi al-‘aliyi al-adzimi. Rasulullah bersabda la tataharraku dzarratun illa bi idzni Allahi, yang maksudnya tidak bergerak satu dzarah pun melainkan atas izin Allah.” <Suluk Syekh Siti Jenar, I, hlm. 182-283>.Lihat Selengkapnya

    • Abdullah Ali Mas Arie hehehehe….
      30 Mei jam 1:18 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 3 orangMemuat…
    • Bayu Agustianto byuh byuh….weh dowi..emmen niki pripun .af al weih ladalah…. keseluruh penjuru langit,bumi dan diantara keduanya…mboten ngoten jeng? niku memancar terus menerus nggeh?….
      30 Mei jam 1:19 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Sila Sadewa Pas Kyai milo sami seserepan dalem punopo ingkang sampun “D” kawedar, ndungkap lingsir taksih sambung /rehat, suwuuun….. ! dikebut.
      30 Mei jam 1:20 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bayu Agustianto putih putih bunga melati,baju putih suka di hati waaaah pantunku siip iki…wis ngopi sek pegel boyokku..ngopi ngopi….bur ning endi to cah iki?
      30 Mei jam 1:29 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Arie Irfan
      Bagi Syekh Siti Jenar, hidup sejati itu adalah hidup yg tidak bersandang badan, raga atau tubuh jasmani sekarang ini. Raga jasmani justru membatasi gerak. Dengan badan fisik ini manusia tak bisa bergerak cepat dalam perjalanan hidupnya. Manusia tak merdeka! Badan fisik bahkan menutupi pandangan. Sehingga manusia tidak bisa melihat jalan hidupnya yg akan datang. Makan dan minum ternyata tidak membuat kita hidup! Kita makan dan minum itu untuk menunda diri kita menjadi mayit, bangkai. Sungguh, lahir di bumi ini untuk menyongsong kematian. Bukan untuk mendapatkan kehidupan. Ini adalah realita! Jika kita ini berjalan menuju kematian, tidak berarti lalu kita boleh seenaknya. Sama dengan orang yg ada di dalam penjara. Walaupun ia sendirian, ia tak bisa bertingkah laku semaunya. Ia tetap wajib memenuhi aturan main di penjara. Kita makan agar kita dapat bekerja. Yg jelas bukan agar kita hidup. Kita cuma menunda kematian! Karena kita memang berada di alam kematian. Lalu, untuk apa kita hidup sekarang ini. Untuk menemukan jalan hidup! Salam Dini Hari. Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 1:30 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      Tafsir mistik Syekh Siti Jenar tetap mengacu kepada Manunggaling Kawula-Gusti, sehingga baik badan wadag manusia sampai kedalaman rohaninya dilambangkan sebagai tempat masing-masing dari lafal surat al-Fatihah. Tentu saja pemahaman itu disertai dengan penghayatan fungsi tubuh seharusnya masing-masing, dikaitkan dengan makna surahi dalam masing-masing lafadz, maka akan ditemukan kebenaran tafsir tersebut, apalagi kalau sudah disertai dengan pengalaman rohani/spiritual yang sering dialami.
      Konteks pemahaman yang diajukan Syekh Siti Jenar adalah, bahwa al-Qur’an merupakan “kalam” yang berarti pembicaraan. Jadi sifatnya adalah hidup dan aktif. Maka taksir mistik Syekh Siti Jenar bukan semata harfiyah, namun di samping tafsir kalimat, Syekh Siti Jenar menghadirkan tafsir mistik yang bercorak menggali makna di balik simbol yang ada (dalam hal ini huruf, kalimat dan makna historis).
      Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 1:32 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      EMPAT PULUH SEMBILAN
      “Di di dunia ini kita merupakan mayat-mayat yang cepat juga akan menjadi busuk dan bercampur tanah…Ketahuilah juga, apa yang dinamakan kawula-Gusti tidak berkaitan dengan seorang manusia biasa seperti yang lain-lain. Kawula dan Gusti itu sudah ada dalam diriku, siang malam tidak dapat memisahkan diriku dari mereka. Tetapi hanya untuk saat ini nama kawula-Gusti itu berlaku, yakni selama saya mati. Nanti, kalau saya sudah hidup lagi, gusti dan kawula lenyap, yang tinggal hanya hidupku sendiri, ketentraman langgeng dalam Ada sendiri. Bila kau belum menyadari kebenaran kata-kataku maka dengan tepat dapat dikatakan, bahwa kau masih terbenam dalam masa kematian. Di sini memang terdapat banyak hiburan aneka warna. Lebih banyak lagi hal-hal yang menimbulkan hawa nafsu. Tetapi kau tidak melihat, bahwa itu hanya akibat pancaindera. Itu hanya impian yang sama sekali tidak mengandung kebenaran dan sebentar lagi akan cepat lenyap. Gilalah orang yang terikat padanya. Saya tidak merasa tertarik, tak sudi tersesat dalam kerajaan kematian. Satu-satunya yang kuusahakan, ialah kembali kepada kehidupan.” <Serat Syekh Siti Jenar, Sinom, Widya Pustaka; hlm. 25-26 bait 30-36>.
      Syekh Siti Jenar menyatakan secara tegas bahwa dirinya sebagai Tuhan, ia memiliki hidup dan Ada dalam dirinya sendiri, serta menjadi Pangeran bagi seluruh isi dunia. Sehingga didapatkan konsistensi antara keyakinan hati, pengalaman keagamaan, dan sikap perilaku dzahirnya. Juga ditekankan satu satu hal yang selalu tampil dalam setiap ajaran Syekh Siti Jenar. Yakni pendapat bahwa manusia selama masih berada di dunia ini, sebetulnya mati, baru sesudah ia dibebaskan dari dunia ini, akan dialami kehidupan sejati. Kehidupan ini sebenarnya kematian ketika manusia dilahirkan. Badan hanya sesosok mayat karena ditakdirkan untuk sirna. (bandingkan dengan Zotmulder; 364). Dunia ini adalah alam kubur, di mana roh suci terjerat badan wadag yang dipenuhi oleh berbagai goda-nikmat yang menguburkan kebenaran sejati, dan berusaha mengubur kesadaran Ingsun Sejati.
      Lihat Selengkapnya

    • Abdullah Ali Hehehehe….mbak Sila….yoh turu hahahaha….
      30 Mei jam 1:33 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bayu Agustianto koyo’e mutasyabihat..mpun tak leren disiek ,remasone endi yo.?
      30 Mei jam 1:40 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      LIMA PULUH
      “Syekh Siti Jenar berpendapat dan mengganggap dirinya bersifat Muhammad, yaitu sifat Rasul yang sejati, sifat Muhammad yang kudus. Ia berpendapat juga, bahwa hidup itu bersifat baru dan dilengkapi dengan pancaindera. Pancaindera ini merupakan barang pinjaman, yang jika sudah diminta oleh empunya akan menjadi tanah dan membusuk, hancur-lebur bersifat najis. Oleh karena itu pancaindera tidak dapat dipakai sebagai pedoman hidup.”
      “Demikian pula budi, pikiran, angan-angan dan kesadaran, berasal dari pancaindera, tidak dapat dipakai sebagai pegangan hidup. Akal dapat menjadi gila, sedih, bingung, lupa tidur, dan sering kali tidak jujur. Akal itu pula yang siang malam mengajak dengki, bahkan merusak kebahagiaan orang lain. Dengki dapat pula menuju perbuatan jahat, menimbulkan kesombongan, untuk akhirnya jatuh dalam lembah kenistaan, sehingga menodai nama dan citranya.” <Serat Syekh Siti Jenar, Ki Sasrawijaya, Pupuh III : Dandang Gula, 27-28; Falsafah Sitidjenar, hlm. 33>.
      “Kalau kamu ingin berjumpa dengan dia, saya pastikan kamu tidak akan menemuinya, sebab Kyai Ageng berbadan sukma, mengheningkan puja ghaib. Yang dipuja dan yang memuja, yang dilihat dan melihat yang bersabda sedang bertutur, gerak dan diam bersatu tunggal. Nah, buyung yang sedang berkunjung, lebih baik kembali saja.” <Pupuh XIII Sinom, 29; Falsafah Sitidjenar, hlm. 34>.
      Ini adalah pandangan Syekh Siti Jenar tentang psikologi dan pengetahuan. Menurut Syekh Siti Jenar, sumber ilmu pengetahuan itu terdiri atas tiga macam; pancaindera, akal-nalar, dan intuisi (wahyu). Hanya saja pancaindera dan nalar tidak bisa dijadikan pedoman pasti. Hanya intuisi yang berasal dari orang yang sudah manunggallah yang betul-betul diandalkan sebagai pengetahuan.
      Oleh karenanya, konsistensi dengan pendapat tersebut, Syekh Siti Jenar menegaskan bahwa baginya Muhammad bukan semata sosok utusan fisik, yang hanya memberikan ajaran Islam secara gelondongan, dan setelah wafat tidak memiliki fungsi apa-apa, kecuali hanya untuk diimani.
      Justru Syekh Siti Jenar menjadikan Pribadi Rasulullah Muhammad sebagai roh yang bersifat aktif. Dalam memahami konsep syafa’at, Syekh Siti Jenar berpandangan bahwa syafa’at tidak bisa dinanti dan diharap kehadirannya kelak di kemudian hari. Justru syafa’at Muhammad hanya terjadi bagi orang yang menjadikan dirinya Muhammad, me-Muhammad-kan diri dengan keseluruhan sifat dan asmanya. Rahasia asma Allah dan asma Rasulullah adalah bukan hanya untuk diimani, tetapi harus merasuk dalam Pribadi, menyatu-tubuh dan rasa. Itulah perlunya Nur Muhammad, untuk menyatu cahaya dengan Sang Cahaya. Dan itu semua bisa terjadi dalam proses Manunggaling Kawula-Gusti.
      Lihat Selengkapnya

    • Arie Irfan Salam Kasih…..
      30 Mei jam 1:46 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 4 orangMemuat…
    • Sri Kandi BACUTAKE DIAJENG RAHAYU-RAHAYU-RAHAYU.
      30 Mei jam 1:47 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia
      LIMA PULUH SATU
      “Bukan kehendak, angan-angan, bukan ingatan, pikir atau niat, hawa nafsu pun bukan, bukan juga kekosongan atau kehampaan. Penampilanku bagai mayat baru, andai menjadi gusti jasadku dapat busuk bercampur debu, napasku terhembus ke segala penjuru dunia, tanah, api, air, kembali sebagai asalnya, yaitu kembali menjadi baru. Syekh Siti Jenar belum mau menuruti perintah sultan. Hal ini disebabkan karena bumi, langit, dan sebagainya adalah kepunyaan seluruh manusia. Manusialah yang memberikan nama. Buktinya sebelum saya lahir tidak ada.
      Syekh Siti Jenar menghubungkan antara alam yang diciptakan Allah, dengan konteks kebebasan dan kemerdekaan manusia. Kebebasan alam mencerminkan kebebasan manusia. Segala sesuatu harus berlangsung dan mengalami hal yang natural (alami), tanpa rekayasa, tanpa pemaksaan iradah dan qudrah. Maka ketidakmauannya memenuhi penggilan sultan, dikarenakan dirinya hanyalah milik Dirinya Sendiri. Jadi seluruh manusia masing-masing mamiliki hak mengelola alam. Alam bukan milik negara atau raja, namun milik manusia bersama. Maka setiap orang harus memiliki dan diberi hak kepemilikan atas alam. Ada yang harus dimiliki secara privat dan ada juga yang harus dimiliki secara kolektif.
      Dari wejangan Syekh Siti Jenar tersebut, juga diketahui bahwa hakikat seluruh alam semesta adalah tajaliyat Tuhan (penampakan wajah Tuhan). Adapun mengenai alam yang kemudian memiliki nama, bukanlah nama yang sesungguhnya, sebab segala sesuatu yang ada di bumi ini, manusialah yang memberi nama, termasuk nama Tuhanpun, dalam pandangan Syekh Siti Jenar, diberikan oleh manusia. Dan nama-nama itu seluruhnya akan kembali kepada Sang Pemilik Nama yang sesungguhnya. <Untuk sejarah pemberian nama Tuhan, lihat buku Karen Armstrong, The History of God: The 4.000 Quest of Judaism, Christianity and Islam. New York: Ballatine, 1993>. Maka memang nama itu perlu, namun jangan sampai menjebak manusia hanya untuk memperdebatkan nama.
      Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 1:48 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Sri Kandi TABUH 2 LEREN DIAJENG EMAN RAGANIRO. ISIH AKEH TUGAS NIRO WONG AYU.RAHAYU.
      30 Mei jam 1:49 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Nyuwun injih mbak yu sendiko dawuh nyuwun agunging pangaksami.
      30 Mei jam 1:49 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@ Sungkem kawulo kakang mbok ayu..Sri Kandi…rahyu sagung dumadi
      30 Mei jam 1:50 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo salam taklim dalem @ kakang mbok Sri Kandi …nyuwun pangestu …amrih rahayu ing sesami
      30 Mei jam 1:56 melalui Facebook Seluler · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Sila Sadewa Wis 50 Kooong, sare yo ayo jo lali pelajarane do’a sebelum the and ! Maksudku pasrah, ikhlas legowo boyong kalegan.
    • Bayu Agustianto syeh siti marem emmen to jenenge .wis wis mpun lali sedoyo ,tapi dalemeniki eling kalehan siti koncone dalem ning embean asmanipun siti kdi adine bature kakang prabu …… mm….sopo yo?.. haryo bledek . yaya mungkin kakang prabu haryo bledek yang menghayati……makna2 lan liyo liyo ,boso jowokuiki bener2 asli ra ngapusi aku sungguh….
    • Bunda Lia
      Assalamu’alaikum wR wB nyuwun pangapunten poro kadang kinasih saya mohon maaf tak dapat meneruskan wejangan besok kita sambung lagi… karena waktunya ngisi kekuatan doa pagi dengan Yasin dan Al Ikhlas… matur nuwun menawi wonten lepat igi luput nyuwun agunging pangapunten… mas Agung, Dimas Abbur, Dimas Bayu, mas Arie… kang Dullah ugi kadang yang lain sungguh saya minta maaf saya teruskan nanti di Bunga Doa demikian salam kasih nan tulus dariku.Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 1:58 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Sri Kandi DIMAS AGUNG PAMBUDI , RAHAYU DIMAS DONGO PANGESTUKU DIMAS. RAHAYU,
      30 Mei jam 1:59 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bayu Agustianto injih sami sami jeng..
      30 Mei jam 2:00 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Agung Pambudi nembah nuwun kakang mbok ayu ..pangestu panjenengan kawulo tampi lan sanget anggen kawulo mundhi..mugi tansah handadosaken kawuningan…dojo ing bojo……rahayu sak laminyo.nir ing sambikolo..
      30 Mei jam 2:02 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Dimas Bayu lagi separuh Dimas wedaran ini masih 4 hari lagi he he he aku pamit dulu Dimas salam kasihku.
    • Sri Kandi DIMAS AGUNG UGO PORO SANAK SEDOYO NYUWUN PAMIT. MUGI SEDOYO TANSAH RAHAYU WILUJENG UGI TANSAH MANGGIHI KAWILUJENGAN SEDOYO. MONGGO KALAJENG, KULO NAMUNG SAK DERMI NAMUNG DEREK LANGKUNG KEMAWON. SALAM RAHAYU SAKING LERENG LAWU. RAHAYU-RAHAYU-RAHAYU.
      30 Mei jam 2:05 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Silla say… udah ya say…. dah pagi .. hayo istirahat besok Dinas cinta….
      30 Mei jam 2:06 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Agung Pambudi pun abdi injih nyuwun pamit lumengser sak wetawis kakng mbok ayu,ugi sedoyo kadhang kinasih nyuwun agung’e samudro pangaksami…..sampun titi wancinipun minggah ing sanggar pamujan hanetepi darmaning agesang..nnggayuh pakarti luhur manungso jati..MAHENING SUCI LUNGGUHING PRIBADI …MAWAS RAOS SAKJERONING BATOS…tansah madep mantep mantherv manembah mring gusti ingkang moho suci….nuwun..
      30 Mei jam 2:08 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo matur suwun sanget…mugi gusti amberkahi…nderekaken lampah dateng gusti ingkang moho suci
      30 Mei jam 2:39 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo waalaikum salam wr wbrktuh.
      30 Mei jam 2:45 melalui Facebook Seluler · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Dian Gaul foto2 nya membuat aku semakin terinspirasi…
      30 Mei jam 9:36 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Kadis Satria
      kira2 lelaku syech siti jenar seperti kacang .garua kulit kacang di buka dan di makan isinya kulit kacang nggak dibawa kemana-mana.. di buang begitu saja..atau seperti nyebarang laut naik prahu setelah samapai paa tujuan apakah prahunya juga di bawa ? tentunay nggak cukup ditambat saja di pingggir laut ..he.he.he.he ..kira2 posisi agama seperti itu.. kali ya..agama nggak perlu lagi di teteng kemana-mana marak-ke beban .dan lucu di deleng he.he.he.he..menurut sederek2 kados pundi monggo di dawak -aken ..ceritane..Lihat Selengkapnya

      30 Mei jam 11:16 · Tidak SukaSuka · 2 orang

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on Juli 5, 2011, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: