Kesadaran – Pengabdian. ( Mohon Klik Judul bila ingin mengikuti cerita kelanjutannya, Salam Kasih )

Kesadaran – Pengabdian. ( Mohon Klik Judul bila ingin mengikuti cerita kelanjutannya, Salam Kasih )

oleh Bunda Lia pada 18 Juni 2011 jam 18:52
Perubahan Anda sudah disimpan.
Kesadaran – Pengabdian.
 ( Mohon Klik Judul bila ingin mengikuti cerita kelanjutannya, Salam Kasih )  

Kesadaran pada hakikatnya akan selalu melibatkan akal manusia.
Dengan kesadaran, manusia dapat memahami semua perilaku dan tindakannya.
Hanya saja untuk selalu bertindak dan berperilaku baik, manusia harus memiliki tidak saja kesadaran semata tetapi lebih dari itu adalah kesadaran moral.
Atas dasar kesadaran moral itulah manusia dapat memilih tindakan yang baik atau buruk. Dengan kesadaran moral ini manusia akan merasa wajib untuk berbuat baik tanpa paksaan dan tekanan dari pihak mana pun juga. Semua didasarkan atas keputusan hati nuraninya sendiri. Di sini, perbuatan baik manusia itu bersifat ‘imperatif kategoris’. Manusia berbuat baik karena memang sudah seharusnya ia berbuat baik dan apabila ia tidak berbuat baik itu merupakan suatu pelanggaran moral.
Unsur-unsur kesadaran moral (moral conscience) itu ada tiga, yaitu ;
1) kewajiban, 2) rasional, dan 3) kebebasan.
Kesadaran moral memang hanya dimiliki oleh manusia yang berakal, mempunyai perasaan, dan memiliki kehendak yang bebas (otonomi) untuk selalu mewujudkan perbuatan baik semata. Sedangkan moralitas seseorang itu dapat digolongkan ke dalam tiga tingkatan, yaitu ;
 1) Instinctive morality level pada level ini moralitas seseorang berada pada tingkatan terendah yang sifatnya naluriah/hewani,

2) Customary morality level, di sini, moralitas seseorang didasarkan kepada adat kebiasaan atau adat istiadat suatu masyarakat, dan

3) Conscience morality level, ini adalah kesadaran moral yang dalam realisasinya selalu bergerak di atas kaidah-kaidah moral.

Bahwa manusia berbuat baik itu karena memang sudah merupakan kewajiban dan apabila tidak, maka ia telah melanggar norma-norma moral yang berlaku.
Berbuat kebajikan artinya berbuat kebaikan.  Manifestasi dari perbuatan baik adalah melakukan perbuatan-perbuatan baik yang dilandasi dengan kesadaran moral.
Dengan demikian kita akan selalu merasa wajib melakukan perbuatan baik.
Apabila kita tidak melakukan perbuatan baik maka kita merasa bahwa itu merupakan suatu kesalahan. Perbuatan-perbuatan baik yang kita lakukan itu tidak boleh bertentangan dengan norma-norma yang ada dan berlaku (norma moral, norma hukum, dan norma agama).
Hakikat kodrat manusia itu adalah ;

1) sebagai individu yang berdiri sendiri (yang memiliki cipta, rasa, dan karsa),
2) sebagai makhluk sosial yang terikat kepada lingkungannya (lingkungan sosial dan alam lingkungannya), dan
3) sebagai makhluk ciptaan Tuhan.

Perbuatan-perbuatan baik manusia haruslah sejalan, sesuai dengan hakikat kodratnya itu. Norma-norma yang dihadapi manusia itu ada yang bercorak moral yaitu kewajiban moral, dan nilai moral (deontic judgements, dan areatic judgements), dan ada yang bercorak bukan moral (nilai yang nonmoral) yang sifatnya teknis belaka dan tidak mengandung pertimbangan-pertimbangan penilaian.
Norma-norma moral juga ada yang bersifat evaluatif, artinya norma-norma itu berlaku dan dianggap baik bagi komunitas tertentu pada waktu tertentu, tetapi pada suatu saat dapat saja berubah, tidak lagi dapat diberlakukan karena mungkin sudah dianggap tidak baik lagi, atau norma-norma itu dapat berlaku baik bagi komunitas tertentu, tetapi belum tentu baik bagi komunitas lain.

Sebagai catatan, selain kebaikan yang sejati ternyata ada juga kebaikan semu.
Kebaikan semu ini suatu perbuatan baik yang dilakukan seseorang tetapi untuk memperoleh imbalan, baik imbalan yang berupa materi maupun yang nonmateri.
Pada hakikatnya, pengabdian adalah perwujudan dari rasa dan sikap setia untuk melayani dengan penuh hormat, percaya, tulus, dan ikhlas.
Pengabdian mencakup beberapa hal, antara lain ;
1) pengabdian kepada kebaikan (itu sendiri),
2) pengabdian kepada keluarga,
3) pengabdian kepada masyarakat,
4) pengabdian kepada negara dan bangsa,
5) pengabdian kepada Tuhan atau agama.

Ungkapan “Manunggaling kawula Gusti” sesungguhnya mengandung beberapa makna yang sesuai dengan makna pengabdian, antara lain kesesuaian antara sifat-sifat (baik) Tuhan dengan perilaku dan tindakan manusia perilaku dan tindakan manusia sesuai dengan sifat-sifat baik Tuhan.
Ungkapan itu juga mengandung makna bahwa manusia haruslah memelihara alam tempat mereka tinggal
Hakikat Pengabdian Pengabdian berasal dari kata abdi yang artinya menghambakan diri, patuh, dan taat terhadap  siapa saja yang kita abdi.  Pengabdian diartikan sebagai perihal perilaku berbakti atau memperhamba diri kepada tugas yang (dianggap) mulia. Di dalam Bahasa Arab, kata abdiabd  yang mengandung sedikitnya tiga arti, yaitu tumbuhan yang beraroma harum, anak panah, dan sesuatu yang dimiliki. Dari arti katanya, seorang abdi seharusnya menggambarkan ketiga hal diatas: dia beraroma harum bagi lingkungannya, bekerja bagaikan anak panah, dan dimiliki secara penuh oleh si pemilik atau kepada siapa dia mengabdi. terambil dari kata
Setiap bentuk pengabdian didasarkan atas cinta.
Cinta dapat membuat seseorang dibangkitkan emosi dan obsesinya untuk mewujudkan misi perjuangan kemanusiaannya. Seseorang yang menjadi pencinta tidak akan tinggal diam dan bahkan menangis ketika menyaksikan sesamanya ditimpa dan berbalut duka akibat bencana……Pengabdian bukan perbudakan, sebab perbudakan selalu disertai dengan paksaan dan ketakutan, yang akhirnya menimbulkan pemberontakan. Tidak ada perbudakan yang menghasilkan kebahagiaan karena akan berakhir pada kehancuran.
”Apakah hakikat pengabdian itu?”
 “Ada tiga macam. (1), seorang abdi tidak menganggap apa yang berada digenggaman tangan atau wewenangnya sebagai miliknya pribadi, karena hamba bukan berarti memiliki tapi dimiliki. (2) Segala aktivitasnya adalah berkisar pada yang diperintahkan, atau apa yang dilarang tuannya. (3), tidak memastikan sesuatu pun kecuali setelah mendapat izin dari yang diabdi (tuannya).
Contoh sikap kita dalam kehidupan
Cita-cita dan pengorbanan bagaikan mata uang dengan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Cita-cita dan pengorbanan meliputi beberapa hal, antara lain;
(a) cita-cita (dan pengorbanan) atas (egoisme) diri,
(b) cita-cita (dan pengorbanan) terhadap keluarga,
(c) cita-cita (dan pengorbanan) terhadap masyarakat, bangsa, dan negara, serta
(d) cita-cita (dan pengorbanan) terhadap agama (Tuhan).

Ungkapan ‘sepi ing pamrih, rame ing gawe’ selain menggambarkan sikap pantang putus asa dalam berusaha, dalam mengejar cita-cita, hal itu juga meggambarkan keikhlasan kita dalam memperoleh imbalan atau reward sesuai dengan usaha yang kita kerjakan.

Hak dan kewajiban bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan keberadaannya. Berbicara hak, berarti berbicara mengenai kewajiban, dan sebaliknya. Di dalam hak terkandung kewajiban.

Sebaliknya, di dalam kewajiban terkandung pula hak, dan inilah yang dinamakan keadilan. Keadilan yaitu pelaksanaan hak dan kewajiban secara seimbang dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang dengan kesadaran moral yang tinggi akan melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu daripada menuntut haknya.
Menurut von Magnis, kewajiban merupakan perasaan wajib untuk melaksanakan tindakan bermoral. Ini sesuai dengan pendapat Kant yang menyatakan bahwa kewajiban itu bersifat imperatif kategoris. Kewajiban bersifat objektif universal, artinya berlaku tetap dan bagi siapa saja serta tidak terikat ruang dan waktu.
Selain itu,kewajiban bersifat rasional atau masuk akal. Dalam kerangka hak dan kewajiban, manusia diberi otoritas penuh untuk memilih dan menentukan pilihan sesuai dengan kehendaknya. Tetapi harus diingat bahwa setiap pilihannya akan dikenai penilaian moral yang konsekuensinya akan terkena sanksi moral, hukum (positif), dan agama (hukum Tuhan). Sesuai dengan sifat kodratnya sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial, manusia diberi otoritas untuk menentukan pilihan. Kebebasan dan tanggung jawab adalah salah satu ‘alat uji’ dari kewenangan dalam memilih yang dimiliki manusia. Pada akhirnya, kebebasan selalu diikuti oleh tanggung jawab sebagai konsekuensi moral yang harus ditanggung.
Manusia memang bebas untuk memilih, hanya saja pilihan itu tetap di dalam kerangka etik (etika pribadi, etika sosial, dan etika theistic) yang ada dan berlaku.

Jika kita menginginkan kebaikan dunia dan akhirat, maka kita harus selalu mengintai ilmu Allooh, serta memerintahkan nafsu kita untuk mengamalkan perintah-Nya di samping mencegahnya melakukan kedurhakaan kepada-Nya. Perintahkan ia agar selalu sabar ketika menerima musibah, serta rela ketika datang ketentuan dan takdir di samping bersyukur ketika datang kenikmatan….Jika kita telah melakukan hal ini, maka hilanglah penghalang kita serta terbukalah untuk kita bersama Allooh.
Bahkan kita akan berada di jalan bersama kasih dan pertolongan serta bertemu dengan kekayaan yang mengikutimu di mana pun kamu berada.Jangan kita pedulikan di mana kita berada. Kerana di mana pun kita patuh, pasti akan bertemu.
Hukum, ilmu, kekuasaan, kesenangan, dan malaikat akan melayani kita.
Segala sesuatu akan takut kepada kita, berkat ketakutan kita kepada Allooh.
Segala sesuatu akan member kita kerana ketaatan kita kepada-Nya.

 Coba kita mengintip lakon wayang dengan judul “Pandhawa Muksa”

Tidak SukaSuka · · Bagikan · Hapus

  • 150 dari 175
    • Bunda Lia Mas Rilson Nansar selamat malam mas….

      18 Juni jam 20:10 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Tyo malam mas… he he he …

      18 Juni jam 20:10 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Jeans… malam…

      18 Juni jam 20:10 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Satyo Aji Sanjaya ‎’met malem jg, Bun… haa-haay 🙂

      18 Juni jam 20:11 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Barkhya Balya salam kasih……………..setiap diri……menanam rasa….untuk merasa…..dimiliki ALLAH…………………………

      18 Juni jam 20:14 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Arus globalisasi sekarang ini telah menyerbu kaum muslimin dalam dan membentuk paradigma mereka segala hal, termasuk gaya hidup dalam berumah tangga. Saat ini untuk menjadi istri yang setia dan konsisten untuk mengaplikasikan mutiara ajaran Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ternyata tidak popular. Sehingga sebagian wanita beranggapan, sudah bukan zamannya lagi memperlakukan suami sebagai junjungan yang harus ditaati, atau istri harus senantiasa meminta izin terlebih dahulu kepada suami untuk melakukan apa yang mau dilakukannya.

      18 Juni jam 20:16 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Salam kasih mas Balya… lama tak jumpa bagaimanakah beritanya..???

      18 Juni jam 20:17 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Barkhya Balya Salam kasih bunda lia………….seperti air mengalir……………..

      18 Juni jam 20:18 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Di sisi lain, bukan hal aneh jika sekarang ini kita banyak mendengar rumah tangga muslim mengalami guncangan, keretakan bahkan perceraian. Tentu saja semua orang tidak menginginkan semua ini terjadi pada rumah tangga mereka. Terdapat sejumlah cara untuk mencegahnya yaitu suami istri harus melakukan evaluasi perjalanan rumah tangganya secara berkala, terutama evaluasi tentang orientasi menikah dan membangun rumah tangga. Misalnya, apa sesungguhnya tujuan saya menikah? Apa yang saya harapkan dari pernikahan ini? Model rumah tangga apa yang akan saya bangun? Dan jawaban atas pertanyaan tersebut dapat dijadikan renungan dan penguat dalam menghadapi gelombang dalam rumah tangga. Kemudian setelah itu berusaha memantapkan hati untuk menjalankan rumah tangga dengan mengedepankan ridha dan qona’ah (menerima dan puas dengan pemberian Allah Subkhana Wa Ta’ala).

      18 Juni jam 20:19 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Abdullah Abahe Ali Kebutuhan hidup hanya ada dua hal pokok….KESELAMATAN dan KESEJAHTERAAN….sama halnya kebutuhan seorang istri…..
      Dari dua hal pokok itu bila di jabarkan dan di kupas akan mencakup segalanya….
      Aku sendiri sebagai suami dari isteriku belum mampu dan mungkin tak akan mampu melaksanakan kedua hal pokok itu….apakah pantas suami seperti aku punya hak RIDHO pada isteriku….?

      18 Juni jam 20:23 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Sebagai seorang muslimah sudah sepatutnya kita ridha atas ketentuan Allah Subhana Wa Ta’ala, dan mesti sadari bahwa ridha atas kepemimpinan suami sebagai kepala rumah tangga, konsekuensinya adalah taat….. Ketaatan seorang istri pada suaminya, pada hakikatnya merupakan satu bentuk ketaatannya kepada ketentuan Allah Subhana Wa Ta’ala. Dalam hal ini …. ketaatan ini tentunya suami berada di jalan yang benar. Untuk melaksanakannya tidak semudah yang dibayangkan, karena ketaatan istri pada suami tidak bisa disesuaikan dengan keinginan kita…. mungkin loh ya… nah disinilah kalau tidak selaras akan terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan … dan bagaimanakah biar selaras…???

      18 Juni jam 20:25 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Mungkin tidak akan menjadi masalah jika keinginan atau perintah suami selaras dengan keinginan kita, tapi kalau tidak selaras … sebagai istri harus diperlukan kelapangan dada, keikhlasan dan pengorbanan untuk dapat mentaati dan melaksanakan perintahnya. Harus kita sadari bahwa kita suami istri mempunyai latar belakang yang berbeda, jadi tidak semuanya harus serba cocok dan sepaham, ketika memasuki gerbang pernikahan. Oleh karena itu di sinilah pentingnya untuk saling mengenal antara suami dan istri……

      18 Juni jam 20:27 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Ki Juru Taman Bunda. Lia terima kasih sebelum.nya atas kiriman taq. Dan catatan.2nya salam

      18 Juni jam 20:30 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Abdullah Abahe Ali Saling mengenal….maka hendaknya juga saling mengerti….bila tak demikian apakah masih juga saling menyaksi….?

      18 Juni jam 20:35 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
      (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257 ).
      “Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.”

      1]. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.
      2]. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.
      3]. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya.
      4]. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya.
      5]. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta‘ (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan.

      18 Juni jam 20:44 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono ‎6]. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
      “Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.”
      Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
      “Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya.”
      7]. Bersegera memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya tanpa alasan yang syar‘i, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan takut terhadap berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
      “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.”
      “Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).”

      18 Juni jam 20:54 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Subagyo Ucok GENG NDALU Bunda Lia,monggo di pun lanjut 69 saja sama senengnya,kala susah dan suka.

      18 Juni jam 20:54 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Siwi Marthin Sugeng ndalu bunda Lia. Absen kalian nderek nyimak.

      18 Juni jam 20:55 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Sugeng dalu mas Bagyo….

      18 Juni jam 21:03 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mbak Siwi salam kangen ya mbak… piye mbak dah baikan lum… doaku say… cepat sembuh ya….

      18 Juni jam 21:04 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Ki Juru Taman dawah atur kang sami…

      18 Juni jam 21:04 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Pengabdian merupakan perbuatan baik yang berupa pikiran, pendapat ataupun tenaga sebagai perwujudan kesetiaan antara lain kepada raja, cinta, kasih sayang, hormat, atau suatu ikatan dan semua dilakukan dengan ikhlas. Timbulnya pengabdian itu hakikatnya karena adanya rasa tanggung jawab. Tanggung jawab adalah kesadaran manusia akan tingkah laku atau perbuatan yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Yang juga berarti perwujudan dari kesadaran akan kewajiban.Pengabdian banyak ragamnya, seperti kepada keluarga, masyarakat, negara atau kepada tuhan. Kualitas pengabdian pun bergantung pada motivasi dan pandangan yang bersangkutan terhadap pengabdian itu. Pandangan pengabdian yang antroposentris berbeda dengan pandangan pengabdian yang teosentris, artinya dari aspek niat dan itikadnya meskipun pengabdian itu sangat membantu bagi manusia lainnya. Tindakan pengabdian pun belum tentu semuanya berdampak positif bagi masyarakat. Pandangan terhadap pengabdian pun berbeda-beda, adakalanya dianggap pamrih atau tanpa pamrih dalam kehidupan sehari-hari….. coba kita coba mengintip perjuangan Phandawa…. sampai Muksha….

      18 Juni jam 21:07 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Abdullah Abahe Ali Namun dibalik pengabdian seorang istri….justru aku dapat makna lain bahwa suamilah yang seharusnya mengabdi pada seorang istri….

      18 Juni jam 21:15 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Sri Kresna, Kunthi, Drupadi dan para Pandhawa meneruskan perjalanan mereka. Tiba-tiba mereka melihat seorang nenek sedang menimba sumur. Setiap air yang ditimba sampai di atas, kemudian dimasukkan ke dalam sumur lagi. Sri Kresna menanyainya. Nenek itu bernama Nyai Ruminta. Ia memberitahu, bahwa harta kekayaannya dimasukkan ke dalam sumur, sebab sejak perang Baratayuda akan dirampok oleh perajurit Korawa. Ia menjadi janda dan menjadi salah satu korban perang. Jika Pandhawa tidak dapat menemukan dan mengembalikan kekayaannya, pasti akan mendapat hukuman Tuhan. Sri Kresna sanggup mengembalikan harta kekayaan Nyai Ruminta. Nyai Ruminta disuruh minta bantuan orang se desa untuk mengisi sumur dengan air sampai penuh meluap-luap. Orang sedesa mengambil air dari berbagai sumur, dituangkan ke dalam sumur yang berisi harta kekayaan itu. Bersama luapan air sumur keluarlah barang-barang emas berlian dari dalam sumur. Sri Kresna minta agar harta itu untuk semua orang di desa Samahita.

      18 Juni jam 21:17 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia La kok mbok walik kang Dullah…

      18 Juni jam 21:18 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo · 36 teman yang sama
      sugeng ndalu bunda…matur suwon njih tag ipun …mugi pikantuk ndalu rahayu

      18 Juni jam 21:21 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Ariyo sugeng dalu …salam kasih mas… met malam… kok baru muncul to mas ???
      Sri Kresna dan Bima melanjutkan perjalanan, mengejar perjalanan saudara-saudaranya yang telah jauh berjalan.
      Perjalanan mereka tiba di tepi samodera. Sri Kresna membuang pusaka saktinya yang bernama Sekar Wijaya Mulya. Sekar Wijaya Mulya mendarat di pulau, kemudian tumbuh menjadi:
      (1) tempat bunga tumbuh menjadi pohon Kastuba
      (2) bunganya tumbuh menjadi pohon Kembang Wijaya Kusuma
      (3) tutupnya tumbuh menjadi empon-empon umbi-umbian.
      Perjalanan mereka tiba di sebuah rumah bertutup pintu di desa Padapa. Yang empunya rumah tidur di dalam. Bima dan Puntadewa mendekat, melihat orang yang telah tidak berkaku. Orang itu bernama Anggira, bekas abdi Gardhapati raja Singala. Ia korban perang Baratayuda yang masih hidup karena kebaikan seorang dukun dari desa Soka. Kunthi member aji Pameling. Drupadi memberi pusaka Sumbul Musthika yang bisa menghasilkan makan-makanan. Bima member aji Pagracut. Sri Kresna, Puntadewa, Arjuna, Nakula dan Sadewa memberi doa puji keselamatan untuk Anggira…..

      18 Juni jam 21:24 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Mereka tiba di desa Soka, bertemu dengan Kuda Prewangan. Bima tahu, bahwa Kuda Prewangan itu jelmaan Dhang Hyang Drona, Arjuna segera melepaskan panah, kuda Prewangan musnah seketika. Didengar suara Drona, mengucap terimakasih atas kebaikan para Pandhawa.Orang-orang di desa Soka marah, para Pandhawa dikeroyok, tetapi mereka tidak mampu mengalahkan, meskipun para Pandhawa tidak melawannya. Bima menjelaskan dan minta maaf. Bima member ajaran kepada semua orang di desa Soka tentang hakikat pengabdian manusia di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.Sri Kresna, Kunthi, Drupadi dan para Pandhawa selesai melakukan pemujaan berkeliling, lalu kembali ke kerajaan Ngastina. Selama dalam perjalanan Bima dan Kresna membicarakan amal bakti Dhang Hyang Drona.

      18 Juni jam 21:26 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo · 36 teman yang sama
      injih bunda…mau pulang tnggu hujan reda…salam njih@ sdoyo kadang kinasih…rahayu

      18 Juni jam 21:31 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Abdullah Abahe Ali Den Ayu….kewajiban seorang suami adalah memenuhi kebutuhan istri,apa bukan pengabdian ini namanya,Den Ayu….sementara istri hanya mempunyai hak taat saja….
      Sebetulnya semua pekerjaan rumah tangga adalah kewajiban suami untuk mengerjakannya….ini aturan agama,Den Ayu….nek ora kleru le ku ngaji….

      18 Juni jam 21:32 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Raja Parikesit dan sanak saudaranya menjemput kedatangan mereka. Bima disambut tangis oleh dua cucunya. Danurwenda dan Sasi Kirana. Bima memberi nasihat banyak tentang hakikat dan kehidupan. Bima mengharap segala sikap Pandhawa selama hidup menjadi teladan bagi mereka berdua. Bima menghadiahkan aji kepada Danurwenda. Aji itu bernama Bandung Bandawasa, Ungkal Bener dan Blabak Pangantolantol. Kemudian memberikan gada Lukitamuka dan tombak Wilugarba kepada Sasi Kirana.Kunthi, Drupadi, Nakula, Sadewa, Arjuna, Puntadewa dan Bima muksa. Para anak cucu menyaksikan kemuksaan mereka. Kunthi berpakaian serba putih, naik ke candhi Rukmi, lalu bersamadi. Kemuksaan Kunthi ditandai oleh cahaya berbinar-binar menyambar Candhi Rukmi. Sukma dan raga Kunthi muksa.Drupadi berpakaian serba putih, naik ke Candhi Rukmi, lalu bersamadi. Kemuksaan Drupadi ditandai oleh sinar bundar seperti matahari berlubang berseri-seri.Nakula dan Sadewa bercuci diri di sungai Gangga, lalu mengenakan pakaian brahmana. Mereka masuk ke Candhi Sekar, bersamadi. Kemuksaan mereka ditandai oleh tiupan angin topan.

      18 Juni jam 21:34 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Agung Pambudi kita ikuti wedaran alur kisah kehidupan pasutri sinambi ngopi atau menikmati tteh poci jeruk hangat n camilan kripik telo .dan suwek parut klopo mudo..hm …disinilah awal segala hukum itu..bermula dari kehidupan rumah tangga….saya suka bab ini diajeng ayu..

    • Abdullah Abahe Ali Dan ingat….suami adalah seorang pemimpin….padahal sebaik baik pemimpin adalah yang mampu mengabdi pada yang di pimpin….nek ra kleru le ku ngaji lo iki,Den Ayu…..

      18 Juni jam 21:36 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Arjuna mandi di Sendhang Pangruwatan, lalu mengenakan pakaian brahmana. Arjuna masuk ke Candhi Sekar, bersamadi. Kemuksaan Arjuna kelihatan seolah-olah Arjuna naik dalam kereta yang nampak seperti cahaya berseri-seri. Kereta cahaya ditarik oleh seratus kuda, dikemudikan dewa dan dipayungi bidadari.
      Puntadewa (Darmakusuma) bersama anjing naik ke Candhi Rukmi. Anjing itu bernama Linggasraya, kemudian berubah menjadi dewa Darma setelah ia memberi tafsiran terhadap tulisan yang didapat dalam Kalimsada. Dewa Darma kembali ke kahyangan, Dewa Indra menjemput Puntadewa dengan kereta cahaya dari kahyangan. Puntadewa muksa bersama Dewa Indra. Bima berbincang-bincang dengan Sri Kresna. Sri Kresna tidak akan muksa bersama Pandhawa sebab berbeda amal baktinya. Atas saran Bima, Sri Kresna bertapa di laut pasir, di tepi samodera. Setelah mereka selesai berbicara masalah muksa, Sri Kresna masuk dalam Candhi Rukmi, lalu pergi ke laut pasir untuk mencari kemuksaan. Bima masuk ke Candhi Sekar, bersamadi. Kemuksaan Bima ditandai oleh suasana tenang dan sunyi. Para pandhawa telah muksa, raja Baladewa minta agar Candhi Rukmi dan Candhi Sekar dibakar segera. Prabu Kiswaka dan Wesi Aji datang, menyerang kerajaan Ngastina. Setyaki dan Sasi Kirana menyambut serangan musuh Prabu Kiswaka hancur dipukul Setyaki dengan gada Wesi Kuning, Wesi Aji hancur kena pukulan gada Lukitamuka. Parikesit, Baladewa, Patih Dwara, Patih Danurwenda dan para sanak saudara berkumpul, mendoakan, arwah para Pandhawa yang telah muksa ke alam baka.

      18 Juni jam 21:40 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Agung Pambudi persoalan hidup rumah tangga dari adam hawa sampai generasi manusia selanjunya tak kan pernah usai usai dibahas dan akan selalu menarik..banyak hikmah kebenaran disini…dan inilah problematika seluruh manusia dimuka bumi…

      18 Juni jam 21:40 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Tukribo Budiharto Assalamu ‘alaikum…sugeng ndalu Bunda Lia lan poro sederek sedoyo ingkang sampun rawuh wonten mriki…kulo namung bade nderek nyimak mawon…sek sek sek …tak udud sek…Kang Abdullah sampeyan arep udud po ra ..xixixixixixixi…

      18 Juni jam 21:42 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Tedjo Anom sugeng dalu den ayu, melu nyemak karo ngopi nggih, rahayu sedulur kang sami rawuh,

      18 Juni jam 21:44 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdullah Abahe Ali Dadi wong lanang kuwi abot sanggane….tanggungjawab sekabehane….ora mung seneng njaluk hak e kudu di penuhi….dadi ora mung cukup kata kata aku tresno sliramu….
      La opo ujude tresno yen mung njaluuuuuuukkk wae ra tau menehi….

      18 Juni jam 21:44 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Betul mas Agung … hemmm

      18 Juni jam 21:45 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Wa’alaikum salam mas Tukribo… salam kasih mas.

      18 Juni jam 21:45 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Tedjo Anom sugeng dalu…. sugeng rawuhipun njih mas… mugi tansah sami rahayu wilujeng….

      18 Juni jam 21:46 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Tedjo Anom nggih den ayu, guyub rukun mangayu bagya,

      18 Juni jam 21:47 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdullah Abahe Ali Mas Budiharto….di samping aku udud tapi yi di u…..hehehehe….selingan ojo di bacut mas Budiharto….hahahaha….hahahaha….hahahaha….sepurane,Den Ayu….ora iso ngampet ngguyu wong wis wateg hahahaha….hahahaha….

      18 Juni jam 21:48 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Surga atau neraka dunia ternyata dapat dicipta dan dipilih dalam sebuah rumah tangga. Semua tergantung cantiknya kerjasama antara sang pimpinan yaitu suami dengan para “rakyat”nya. Kelihaian suami dalam menyikapi serta menanggapi emosi permaisurinya yang kadang naik turun tergantung selera dan keadaan perasaan, sudah barang tentu turut menentukan keberlangsungan rumah tangga itu. Disinilah sebenarnya kesempatan bagi para laki- laki yang ingin menguji kualitas diri dalam kepemimpinan, pengayoman serta penguasaan, khususnya terhadap para istri mereka.

      Ya, para istri yang sejatinya menjadi guru atas kesabaran suami, karena kemanjaan,serta kebandelan mereka. Jika para suami menyikapinya secara positif, maka bukan amarah yang akan mereka tampilkan melainkan perasaan kemakluman atas seorang wanita yang mereka cintai, yang menjadi ladang amal bagi mereka sebagai jembatan pengabdian kepada Allah.

      18 Juni jam 21:50 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@waalaikum salam kang mas tukribo..hm ini wedaran paling saya sukai kang mas…mantap banyak hikmah tentunya..oh ya kopinya disruputkang mas tukribo…ugi poro sedoyo kadhang kinasih..

      18 Juni jam 21:50 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Nuwun injih mas Tedjo Anom… Pangestu panjenengan dalem… monggo…. kito sami2 ngupas bab Kesadaran-Pengabdian…. monggo mas …

      18 Juni jam 21:51 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Bagaimana seorang istri tidak bahagia mempunyai seorang suami yang mempunyai penguasaan diri yang cukup atas emosi, ego serta kelemahannya sendiri. Dan ajaibnya, suami mengemas semua itu dengan caranya yang sangat laki- laki, sehingga yang nampak adalah kekuatannya yang tidak mungkin tidak, akan melahirkan sebuah pujian. Istri adalah orang terdekat suami, yang mengetahui sebagian besar baik dan buruknya mereka. Maka, Ketika suami sudah dapat memukau dan menyejukkan hati sang istri, maka orang terjauh sekalipun akan menyayangi sang suami. Apa gunanya bila mengutamakan pandangan serta pendapat orang lain yang mungkin tidak memberikan andil penting dalam hidup para suami, sedangkan kehadiran si suami sendiri dirumah sama sekali tidak menentramkan keluarga?

      18 Juni jam 21:55 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Tedjo Anom hm,… leres den ayu,

      18 Juni jam 21:59 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Abdullah Abahe Ali La opo wong wedok kudu diwenehi duwid lan bondo….???? Pada kenyataan istri mampu mendapatkan uang dan harta benda….
      Sing angel kuwi wong lanang menehi ketentraman lan kenyamanan….ini yang di maksud memberi….kiro kiro do wis iso ngono durung yo karo bojone….????

      18 Juni jam 21:59 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Senyum serta keistiqomahan para suami untuk tetap bersikap ramah dan menjaga lidah serta tangan mereka dengan baik, sejatinya menghadirkan rasa malu dari para istri yang justru akan memaki diri mereka sendiri karena keras kepala mereka dalam sebuah kesalahan. Seorang istri juga mempunyai naluri untuk berbuat dan bersikap baik, maka dari itu, ketika mereka berbuat salah, sebenarnya mereka akan secara sadar mengetahui dan mengakui kesalahan tersebut. Namun mungkin ego dan gengsi menahan tangan dan mulut mereka untuk merendahkan diri dan meminta maaf. Disinilah pentingnya kebesaran hati seorang suami untuk memaafkan pasangannya. Tak perlu banyak kata, tak perlu banyak action. Dengan tetap bersikap baik, para suami akan sudah memperoleh gelar kebesaran serta kewibawaannya dihadapan sang istri.

      18 Juni jam 22:00 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Agung Pambudi hm alam katentreman adalah kesepakatan ridho dan tujuan dari kedua pasangan suami istri……indah nian….hm…semakin asyik..disimak..

      18 Juni jam 22:00 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit selamat mlam Mama,,,,salam kangen dan salam sayanku s3lalu,,,,,I LOVE U

      18 Juni jam 22:00 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Subhanallah, siapa wanita didunia ini yang tidak menginginkan suami yang sangat penyayang dan sabar menghadapinya. Bahkan lebih memahaminya dari diri sang istri sendiri. Betapa sangat dalam dan berartinya nasehat dari seseorang yang dengan penuh wibawa mengayomi kemanjaan serta kebandelan. Sang istri akan merasa bahwa suami adalah separuh jiwanya karena yang paling memenuhi kebutuhan batin atas penghargaan orang lain adalah suaminya sendiri. Hal ini tentu sangatlah menyentuh dan benar- benar menyentuh hatinya. Dalam diri istri muncul kekaguman karena sama sekali tiada hadir amarah dari suami. Hanya pemakluman dan pengertian yang penuh kebijaksanaan serta senyum tulus yang meneduhkan, mendamaikan. Waktu seolah tiada masalah ketika berlalu hanya demi mendengarkan keluh kesah serta efek dari kepenatan hidup dari sang istri.

      18 Juni jam 22:04 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Tedjo Anom lek masalah wis biso opo durung kiye ditakokne menyang pribadine dewe dewe disit prayogine ngono Gus abdullah nggih napa boten, gelem weneh yo gelem nrimo dadi inbangane ngono mbok menawa lo,

      18 Juni jam 22:05 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Pangeran Joyo Kusumo Rahayu… salam damai kasih tuk smua… rahayu…

      18 Juni jam 22:08 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Tedjo Anom masalae bojoku wis loro loh Gus, eee untungge kok yo rukun ngono lo, kek..kek..kek…

      18 Juni jam 22:09 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Abdullah Abahe Ali Mas Tedjo hahahaha….hahahaha….la kuwi aku yo hurung jiiiiiiaaaaannnn cilekek hahahaha….hahahaha….hahahaha….rahayu,mas Tedjo….

      18 Juni jam 22:10 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Yah begitulah pinta dari kaum para kaum hawa, didengarkan. Mereka bahkan lupa untuk berpikir penting atau tidak keluhan mereka, yang mereka tahu hanyalah ingin didengarkan. Mereka mungkin tidak tahu, logik atau tidak alasan kesedihan dan segala air mata mereka, yang mereka tahu hanya kebutuhan untuk dipahami. Dan Allah memang sang maha memahami, di beriNya keseimbangan hidup dalam jiwa rapuh para wanita dengan kekuatan hati, kewibawaan serta kebijaksanaan laki- laki.

      Maka cukuplah para suami menyadari kekuatan mereka dalam “pengasuhan”nya terhadap sang istri. Surga dunia pun dapat mereka ciptakan dalam hangatnya kedamaian rumah tangga lewat kewibawaan dan kebijaksanaan sang nahkoda rumah tangga tersebut. Tak perlu caci maki, teriakan atau pamer kekuatan, karena semua itu justru akan menghilangkan kebesaran anda sebagai seorang pemimpin dirumah. Dan seorang suami yang memuliakan istrinya, tidak lain adalah memuliakan dirinya juga, dihadapan Allah dan para manusia di sekelilingnya.

      18 Juni jam 22:11 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit wilujeng ndalu om abdulah,,,mas agung,,,mas turbiko,,lan sedoyo kadang kinasih,,,,,salam hormat dan salam sejahtera selalu,,,Rahayu,,,

      18 Juni jam 22:13 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Gadisku say…. kok belum tidur say…???

      18 Juni jam 22:13 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Abdullah Abahe Ali Mas Tedjo hahahaha…..hahahaha….hahahaha….wiswiswiswis….menginmengini jiiiiiiaaaaannnn kisruh poro rawuh hahahaha….hahahaha….

      18 Juni jam 22:15 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Tukribo Budiharto Ayo disimak sing temenan …dicatet..dicopas tautane Bunda Lia …luwih2 sing iseh bujangan…aku mono wis tuwek …anakku wis bujang karo prawan…xixixixixixi…

      18 Juni jam 22:17 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Di Madinah ada seorang wanita cantik shalihah lagi bertakwa.
      Bila malam mulai merayap menuju tengahnya, ia senantiasa bangkit dari tidurnya untuk shalat malam dan bermunajat kepada Allah.
      Tidak peduli waktu itu musim panas ataupun musim dingin, karena disitulah letak kebahagiaan dan ketentramannya. Yakni pada saat dia khusyu’ berdoa, merendah diri kepada sang Pencipta, dan berpasrah akan hidup dan matinya hanya kepada-Nya. Dia juga amat rajin berpuasa, meski sedang bepergian. Wajahnya yang cantik makin bersinar oleh cahaya iman dan ketulusan hatinya…..

      18 Juni jam 22:17 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Bunda Lia Suatu hari datanglah seorang lelaki untuk meminangnya, konon ia termasuk lelaki yang taat dalam beribadah. Setelah shalat istikharah akhirnya ia menerima pinangan tersebut. Sebagaimana adat kebiasaan setempat, upacara pernikahan dimulai pukul dua belas malam hingga adzan subuh. Namun wanita itu justru meminta selesai akad nikah jam dua belas tepat, ia harus berada di rumah suaminya. Hanya ibunya yang mengetahui rahasia itu. Semua orang ta’jub. Pihak keluarganya sendiri berusaha membujuk wanita itu agar merubah pendiriannya, namun wanita itu tetap pada keinginannya, bahkan ia bersikeras akan membatalkan pernikahan tersebut jika persyaratannya ditolak. Akhirnya walau dengan bersungut pihak keluarga pria menyetujui permintaan sang gadis.

      18 Juni jam 22:20 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Abdullah Abahe Ali Salam malam Gadis….rahayu….

      Mas Budiharto,nek weteng luwe mangane enak….biasne iki biasane….tanduk….hahahaha….hahahaha….

      18 Juni jam 22:21 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Dik Bayi… doaku selalu… mas Tukribo matur nuwun mas….
      Waktu terus berlalu, tibalah saat yang dinantikan oleh kedua mempelai. Saat yang penuh arti dan mendebarkan bagi siapapun yang akan memulai hidup baru. Saat itu pukul sembilan malam.
      Doa ‘Barakallahu laka wa baaraka alaika wa jama’a bainakuma fii khairin’ mengalir dari para undangan buat sepasang pengantin baru. Pengantin wanita terlihat begitu cantik. Saat sang suami menemui terpancarlah cahaya dan sinar wudhu dari wajahnya. Duhai wanita yang lebih cantik dari rembulan, sungguh beruntung wahai engkau lelaki, mendapatkan seorang istri yang demikian suci, beriman dan shalihah.

      Jam mulai mendekati angka dua belas, sesuai perjanjian saat sang suami akan membawa istri ke rumahnya. Sang suami memegang tangan istrinya sambil berkendara, diiringi ragam perasaan yang bercampur baur menuju rumah baru harapan mereka. Terutama harapan sang istri untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan keikhlasan dan ketakwaan kepada Allah.

      18 Juni jam 22:24 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Agung Pambudi sugenging madyaning ratri gadis…hm malam ini sunguh wedaran istimewa….kita ambil hikmah sebanyak banyaknya dari wedaran diajeng ayu bunda lia malam ini ya..hm ..semoga bahagia selalu dimalam minggu ini ya gadis…

      18 Juni jam 22:25 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Tukribo Budiharto Kang Abdullah …iyo kang bener banget ikut…alm.mamakku yo kondho…mangan opo wae kuwi lawuhe luwe/ngeleh…mesti enake ..he he he he he…

      18 Juni jam 22:25 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Setibanya disana, sang istri meminta ijin suaminya untuk memasuki kamar mereka. Kamar yang ia rindukan untuk membangung mimpi-mimpinya. Dimana di kamar itu ibadah akan ditegakkan dan menjadi tempat dimana ia dan suaminya melaksanakan shalat dan ibadah secara bersama-sama. Pandangannya menyisir seluruh ruangan. Tersenyum diiringi pandangan sang suami mengawasi dirinya.

      Senyumnya seketika memudar, hatinya begitu tercekat, bola matanya yang bening tertumbuk pada sebatang mandolin yang tergeletak di sudut kamar. Wanita itu nyaris tak percaya. Ini nyatakah atau hanya fatamorgana? Ya Allah, itu nyanyian? Oh bukan, itu adalah alat musik. Pikirannya tiba-tiba menjadi kacau. Bagaimanakah sesungguhnya kebenaran ucapan orang tentang lelaki yang kini telah menjadi suaminya. Oh…segala angan-angannya menjadi hampa, sungguh ia amat terluka. Hampir saja air matanya tumpah. Ia berulang kali mengucap istighfar, Alhamdulillah ‘ala kulli halin. “Ya bagaimanapun yang dihadapi alhamdulillah. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala kegaiban.”

      18 Juni jam 22:28 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Tedjo Anom dipun lajengaken den ayu,

      18 Juni jam 22:28 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit belum ngantuk Mama,,,,

      18 Juni jam 22:29 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Ia menatap suaminya dengan wajah merah karena rasa malu dan sedih, serta setumpuk rasa kekhawatiran menyelubung. “Ya Allah, aku harus kuat dan tabah, sikap baik kepada suami adalah jalan hidupku.” Kata wanita itu lirih di lubuk hatinya. Wanita itu berharap, Allah akan memberikan hidayah kepada suaminya melalui tangannya.

      Mereka mulai terlibat perbincangan, meski masih dibaluti rasa enggan, malu bercampur bahagia. Waktu terus berlalu hingga malam hampir habis. Sang suami bak tersihir oleh pesona kecantikan sang istri. Ia bergumam dalam hati, “Saat ia sudah berganti pakaian, sungguh kecantikannya semakin berkilau. Tak pernah kubayangkan ada wanita secantik ini di dunia ini.” Saat tiba sepertiga malam terakhir, Allah ta’ala mengirimkan rasa kantuk pada suaminya. Dia tak mampu lagi bertahan, akhirnya ia pun tertidur lelap. Hembusan nafasnya begitu teratur. Sang istri segera menyelimutinya dengan selimut tebal, lalu mengecup keningnya dengan lembut. Setelah itu ia segera terdorong rasa rindu kepada mushalla-nya dan bergegas menuju tempat ibadahnya dengan hati melayang.

      18 Juni jam 22:34 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Tedjo Anom weleh weleh elok tenan den ayu,

      18 Juni jam 22:37 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Sang suami menuturkan, “Entah kenapa aku begitu mengantuk, padahal sebelumnya aku betul-betul ingin begadang. Belum pernah aku tertidur sepulas ini. Sampai akhirnya aku mendapati istriku tidak lagi disampingku. Aku bangkit dengan mata masih mengantuk untuk mencari istriku. Mungkin ia malu sehingga memilih tidur di kamar lain. Aku segera membuka pintu kamar sebelah. Gelap, sepi tak ada suara sama sekali. Aku berjalan perlahan khawatir membangunkannya. Kulihat wajah bersinar di tengah kegelapan, keindahan yang ajaib dan menggetarkan jiwaku. Bukan keindahan fisik, karena ia tengah berada di peraduan ibadahnya. Ya Allah, sungguh ia tidak meninggalkan shalat malamnya termasuk di malam pengantin. Kupertajam penglihatanku. Ia rukuk, sujud dan membaca ayat-ayat panjang. Ia rukuk dan sujud lama sekali. Ia berdiri di hadapan Rabbnya dengan kedua tangan terangkat. Sungguh pemandangan terindah yang pernah kusaksikan. Ia amat cantik dalam kekhusyu’annya, lebih cantik dari saat memakai pakaian pengantin dan pakaian tidurnya. Sungguh kini aku betul-betul mencintainya, dengan seluruh jiwa ragaku.”

      18 Juni jam 22:38 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Agung Pambudi hm rasanya didalam lubuk hatiku yang terdalam ku ingin memuja dia yang tercipta begitu mengagumkan..sungguh robbbul alamien sebaik baik pencipta…semoga ia mendengar puji hadist alal hadistku..ya robb…ialah belahan jiwaku…hm….lanjutkan diajeng kisahnya begitu mempesona..hasrat…..

      18 Juni jam 22:41 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Seusai shalat ia memandang ke arah suaminya. Tangannya dengan lembut memegang tangan suaminya dan membelai rambutnya. Masya Allah, subhanallah, sungguh luar biasa wanita ini. Kecintaannya pada sang suami, tak menghilangkan kecintaannya kepada kekasih pertamanya, yakni ibadah. Ya, ibadah kepada Allah, Rabb yang menjadi kekasihnya. Hingga bulan kedepan wanita itu terus melakukan kebiasaannya, sementara sang suami menghabiskan malam-malamnya dengan begadang, memainkan alat-alat musik yang tak ubahnya begadang dan bersenang-senang. Ia membuka pintu dengan perlahan dan mendengar bacaan Al-Qur’an yang demikian syahdu menggugah hati. Dengan perlahan dan hati-hati ia memasuki kamar sebelah. Gelap dan sunyi, ia pertajam penglihatannya dan melihat istrinya tengah berdoa. Ia mendekatinya dengan lembut tapi cepat. Angin sepoi-sepoi membelai wajah sang istri. Ya Allah, perasaan laki-laki itu bagai terguyur. Apalagi saat mendengar istrinya berdoa sambil menangis. Curahan air matanya bagaikan butiran mutiara yang menghiasi wajah cantiknya.

      18 Juni jam 22:42 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Gadis Exsprit terima kasih mas agung,,wedaran Mama malam ini,,,sungguh sangat berguna,,buat saya pribadi,,,salam sejahtera mas agung

      18 Juni jam 22:43 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Tedjo Anom Gus abdullah kiye mau menyang ngendi ya, dilanjut Gus , loroning atunggil kek..kek..kek…

      18 Juni jam 22:46 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Agung Pambudi subhanallooh….luluh lantak tak berwujud rasanya….seolah olah….hm ikut mersakan hadirnya….indah nian..ya robb kisah ini..hm…ndahneo .yo….

      18 Juni jam 22:47 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Hari Yuswadi sugeng ndalu bunda,nyuwun pangapunten,randat anggen kulo marak sowan.

      18 Juni jam 22:50 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Tubuh lelaki itu bergetar hebat, kemana selama ini ia pergi, meninggalkan istri yang penuh cinta kasih? Sungguh jauh berbeda dengan istrinya, antara jiwa yang bergelimang dosa dengan jiwa gemerlap di taman kenikmatan, di hadapan Rabbnya.

      Lelaki itu menangis, air matanya tak mampu tertahan. Sesaat kemudian adzan subuh. Lelaki itu memohon ampun atas dosa-dosanya selama ini, ia lantas menunaikan shalat subuh dengan kehusyuan yang belum pernah dilakukan seumur hidupnya.

      Inilah buah dari doa wanita shalihah yang selalu memohonkan kebaikan untuk sang suami, sang pendamping hidup.

      Beberapa tahun kemudian, segala wujud pertobatan lelaki itu mengalir dalam bentuk ceramah, khutbah, dan nasihat yang tersampaikan oleh lisannya. Ya lelaki itu kini telah menjadi da’i besar di kota Madinah.

      Memang benar, wanita shalihah adalah harta karun yang amat berharga dan termahal bagi seorang lelaki bertakwa. Bagi seorang suami, istri shalihah merupakan permata hidupnya yang tak ternilai dan “bukan permata biasa”…..

      18 Juni jam 22:52 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Tedjo Anom Gus agung, hm..

      18 Juni jam 22:53 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Ketenteraman, ketenangan dan kasih sayang kepada pasangan merupakan target yang diupayakan untuk terwujud dalam rumah tangga, ia bisa menjadi tolak ukur kebahagiaan pasangan suami istri, meskipun Allah menyatakan bahwa semua itu merupakan bagian dari tanda-tanda kekuasaanNya akan tatapi tidak berarti bahwa pasangan suami istri pasrah tanpa ada upaya dan usaha untuk mewujudkannya melalui langkah-langkah yang menjadi sebab ketenangan dan kebahagiaan suami istri, bagaimana pun Allah mengaitkan sesuatu dengan sebabnya.

      18 Juni jam 22:58 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Tedjo Anom cocok den ayu,

      18 Juni jam 23:01 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Hari Yuswadi Sugeng dalu njih mas…. monggo mas….
      Hadiah berpengaruh besar dalam menumbuhkan cinta kasih suami istri lebih-lebih jika pemilihan dan momennya tepat, sekecil apapun hadiah tersebut karena biasanya pasangan tidak melihat kepada apa yang dihadiahkan akan tetapi kepada penghadiahan itu sendiri yang merupakan wujud dan ungkapan kasih sayang. Bukankah lumrah kalau orang cenderung tidak memberi kecuali kepada orang yang dia cintai? Untuk itu tidak perlu berkhayal hadiah mahal yang menipiskan dompet, itu kalau Anda berduit, akan tetapi cukup sesuaikan dengan mizaniyah yang mampu Anda pikul. Suami misalnya sepulang kantor dia bisa mampir ke sebuah warung atau toko membeli sesuatu atau makanan yang terjangkau kesukaan keluarga, ketika istri membuka pintu menyambutnya pulang, sementara di tangan suami ada sesuatu untuknya dimakan bareng-bareng tentu hal ini membuat semua anggota keluarga tersenyum. Istri pun bisa melakukannya untuk suami, tetapi kalau istri tidak bekerja dari mana dia bisa memberi hadiah kepada suami? Jangan cemas, buatkan saja makanan atau minuman kesukaannya pada saat tertentu lebih-lebih jika hal itu tidak diberitahukan sebelumnya, ini bisa jadi kejutan bukan? Begitu besarnya pengaruh hadiah dalam menumbuhkan kasih sayang ini ditetapkan oleh sabda Nabi saw yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan al-Bukhari dari di al-Adab al-Mufrad dari Abu Hurairah.

      (Hendaknya kalian saling memberi hadiah niscaya kalian akan saling menyayangi).

      18 Juni jam 23:03 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Agung Pambudi betapa syahdunya maha cinta merangkai indahnya kehidupan mereka..oh…kisah yang dahsyat…..hm…piye kang tedjo..rosomu..hm..

      18 Juni jam 23:03 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo · 36 teman yang sama
      rahayu bunda…rahayu sdoyo kinasih…rahayu

      18 Juni jam 23:04 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Ariyo Hadiwijoyo Rahayu mas sugeng dalu… hemmmm begadang malam minggu nembe kondor nopo mas..????

      Salam adalah doa keselamatan, ia pengusir keterasingan, kemarahan dan kebencian, ia indikasi terjalinnya hubungan baik dan kasih sayang, tentunya yang paling layak mendapatkan semua itu adalah keluarga. Ketika suami hendak meninggalkan rumah atau ketika dia pulang ke rumah atau ketika istri meminta izin keluar kepada suami karena ada hajat yang harus ditunaikan dan pada semua itu diiringi dengan ucapan salam niscaya lenyaplah kemarahan yang mungkin tersisa di dalam hati, berganti dengan ketenteraman dan kelapangan, plong rasanya. Inilah pengarahan Rasulullah saw kepada para sahabat,

      Dari Abu Hurairah rhu berkata, Rasulullah saw bersabda, “Kalian tidak masuk surga sehingga kalian beriman dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling menyintai, maukah kalian aku tunjukkan sesuatu jika kalian melakukannya niscaya kalian saling menyintai ? Tebarkanlah salam diantara kalian.”

      Lihatlah Rasulullah saw menetapkan bahwa menebarkan salam di antara kaum muslimin membuat mereka saling menyintai. Bukankah suami istri juga termasuk kaum muslimin? Dan sebelum itu al-Qur`an telah berbicara,“Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik.”

      18 Juni jam 23:11 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono ‘Anjuran salam jika masuk rumahnya’ lalu beliau menyebutkan ayat di atas dan hadits Anas, dia berkata, Rasulullah saw berkata kepadaku, “Wahai anakku jika kamu masuk kepada keluargamu maka ucapkanlah salam karena ia adalah barakah atasmu dan keluargamu.”

      18 Juni jam 23:12 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo · 36 teman yang sama
      wangsul bar isyak bunda…mlm mingguan dihutan rahayu

      18 Juni jam 23:15 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Maria Saja maria ikut baca aj

      18 Juni jam 23:23 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Njih mas Aryo kulo kinten malming he he he…..
      Membantu pasangan dengan mengambil alih sebagian dari tugas-tugasnya menimbulkan perasaan dalam diri pasangan, ‘Oh ternyata suami saya atau istri saya tidak menginginkan saya dalam kesulitan, dia ingin meringankan beban saya dan itu sebagai realisasi cintanya kepada saya.’ Dalam kondisi ini, karena pasangan merasa diperhatikan dengan bantuan Anda kepadanya, tentunya dia akan membalasnya dengan cinta pula. Biasanya yang membuat pasangan emoh membantu adalah perasaan gengsi, dia menganggap tidak level mengerjakan pekerjaan tersebut, ini umumnya terjadi pada suami, yang ada di benak suami, ‘masak aku sebagai ini, sebagai itu harus turun keprabon atau harus nyuci piring kotor atau harus nyeboki anak dan sebagainya,’ pikiran seperti ini kurang tepat, memang tanpa Anda turun ke belakang mengerjakan sebagian tugas istri tidak akan membuat hubungan Anda dengannya menjadi buruk, akan tetapi jika Anda bersedia membantunya niscaya ada yang lain dalam arti positif antara Anda dengan dia, ya minimal jika istri anda sakit misalnya Anda tidak perlu kalang kabut dengan urusan belakang Anda karena sebagian darinya telah biasa Anda kerjakan dan belum tentu anda mampu membayar pembantu.
      Buang sajalah rasa gengsi itu bukankah pemimpin adalah abdi rakyatnya? Orang-orang Arab berkata,

      (Pemuka suatu kaum adalah pelayan mereka).
      Simaklah keteladanan baginda Nabi saw. Dari al-Aswad bin Yazid berkata, Aisyah ditanya, “Apa yang dilakukan oleh Nabi saw di rumah?” Aisyah menjawab, “Melayani keluarganya. Jika tiba waktu shalat beliau pergi shalat.”

      Beliau juga bersabda,
      “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya.

      18 Juni jam 23:24 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Agung Pambudi sugeng ing madyaning ratri kang mas Ariyo Hadiwijoyo..salam rahayu..

      18 Juni jam 23:25 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo · 36 teman yang sama
      kakang mas Agung@ sugeng ndalu rahayu kagem kito sami kakang mas Pambudi…salam rahayu…

      18 Juni jam 23:30 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Sentuhan lembut adalah salah satu bahasa cinta, memang kasih sayang tidak harus dibahasakan dengan sentuhan, saya yakin pasangan Anda menyayangi anda ker Allah dengan tulus, akan tetapi bagaimanapun cinta dan kasih tanpa sentuhan adalah garing dan sesuatu yang garing lama-lama bisa mati lho.. inilah yang diisyaratkan oleh Rasulullah saw ketika beliau mencium dua cucu tercintanya Hasan dan Husain dan itu dilihat oleh seorang Arab badui yang garing, badui ini berkata, “Aku mempunyai sepuluh orang anak, tidak seorang pun dari mereka yang aku cium.” Rasulullah saw menjawab, “Apa yang bisa aku perbuat kalau Allah mencabut kasih sayang dari hatimu.”
      Lihatlah di sini, Nabi saw tidak menutup kemungkinan dicabutnya kasih sayang dari badui ini manakala tidak ada sentuhan apapun darinya kepada anaknya.

      Sentuhan, ciuman, pelukan, berpegangan tangan dan yang sepertinya di samping mendekatkan dari sisi fisik ia juga mendekatkan dari sisi emosi, bisa dipastikan pasangan kita akan merespon dan pada saat itu terjalinlah sesuatu yang hanya anda rasakan dengan pasangan. Pastinya, orang yang tidak menyayangi tidak disayang… he he he biner ora mas Ariyo Hadiwijoyo….. dik Bayi Sehat….

      18 Juni jam 23:32 · Tidak SukaSuka · 11 orangMemuat…
    • Agung Pambudi kang mas bayi sehat..salam rahayu…

      18 Juni jam 23:33 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@kangmas Ariyo…nembah nuwun kang mas..rahayu ingkang sami pinanggih..

      18 Juni jam 23:33 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo · 36 teman yang sama
      injeh …leres bunda…neng katah2e isen mmbuktikan cintanya …maunya maunya nanem cinta tok marine merem …gede ngoroke…herrrr herrr…he he hee

      18 Juni jam 23:41 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Ok satu lagi kita bercerita semoga bisa dibuat ingatan ya … Insya Allah ini kisah nyata…. dan untuk bahan saja jangan diambil hati … apa bila diantara kita ada yg kisahnya sama saya pribadi mohon maaf yang sebesar2nya….

      18 Juni jam 23:45 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      PENGAKUAN SEORANG WANITA DALAM KISAH PERKAWINANNYA.

      Cinta itu butuh kesabaran…
      Sampai dimanakah kita harus bersabar menanti cinta kita???
      Hari itu.. aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita..
      Aku menjadi perempuan yg paling bahagia…..
      Pernikahan kami sederhana namun meriah…..
      Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu.
      Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan & mapan pula.
      Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya.
      Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu..
      Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci….
      Aku sangat bahagia dengannya, dan dianya juga sangat memanjakan aku… sangat terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya pada ku.
      Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.
      Lihat Selengkapnya

      18 Juni jam 23:48 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Agung Pambudi kabar baik kang mas bayi…rahayu njih..hm ..malih pengin ngelus bojo ngene iki..duh gusti..

      18 Juni jam 23:54 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Ariyo Hadiwijoyo · 36 teman yang sama
      kakang mas Agung Pambudi@ nuwun injih kakang mas.

      18 Juni jam 23:54 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri, sangat tak terasa waktu begitu cepat berjalan walaupun kami hanya hidup berdua saja karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil (bayi) di tengah keharmonisan rumah tangga kami.
      Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya.
      Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku…
      Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-NYA. Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu & adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku…
      Didepan suami ku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi dibelakang suami ku, aku dihina-hina oleh mereka…
      Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suami ku selamat dari maut yang hampir membuat ku menjadi seorang janda itu.
      Ia dirawat dirumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang & malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al – Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan dari tempat aku melakukan aktivitas sosial ku, aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.

      Namun saat ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya dan teman-teman suamiku, dan disaat itu juga.. aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.Lihat Selengkapnya

      18 Juni jam 23:56 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suami ku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.

      Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, “Assalammu’alaikum” dan mereka menjawab salam ku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah 5 hari mata nya selalu tertutup.

      Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata “Assalammu’alaikum”, ia pun menjawab salam ku dengan suaranya yg lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.

      Lalu.. Ibu nya berbicara denganku …

      “Fis, kenalkan ini Desi teman Fikri”.

      Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, tak banyak aku bicara di dalam ruangan tersebut,aku tak mengerti apa yg mereka bicarakan.

      Aku sibuk membersihkan & mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba adik ipar ku yang bernama Dian mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin.
      Dan suamiku pun mengijinkannya. Kemudian aku pun menemaninya.

      Tapi ketika di luar adik ipar ku berkata, ”lebih baik kau pulang saja, ada
      kami yg menjaga abang disini. Kau istirahat saja.”Lihat Selengkapnya

      18 Juni jam 23:59 · Tidak SukaSuka · 9 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.

      Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.

      ***

      Hari itu.. aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya, aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.

      Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggil ku ke taman belakang, ia baru aja selesai sarapan, ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.

      Aku bertanya, ”Ada apa kamu memanggilku?”

      Ia berkata, ”Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang”

      Aku menjawab, ”Ia sayang.. aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memeegang tiket bukan?”Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 0:06 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Agung Pambudi tabuh 00;07 diajeng..jika lelah dilanjutkan pagi nanti..namun jika masih fit..kami akan setia mengikuti kisah ini hingga ahir….hm ..sudah mulai masuk spertiga malam..semoga semakin banyak hikmah kebaikan dimalam ini amien….

      19 Juni jam 0:10 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      “Ya tapi aku tak akan lama disana, cuma 3 minggu aku disana, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah dan aku akan pulang dengan mama ku”, jawabnya tegas.

      “Mengapa baru sekarang bicara, aku pikir hanya seminggu saja kamu disana?“, tanya ku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulanggannya itu, padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.

      ”Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti”, jawabnya tegas.

      ”Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita 3 minggu tidak bertemu, ya kan?”, lanjut nya lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan pada nya.

      Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang & cintanya walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku.

      Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku, tapi karena keluarganya tidak menyukaiku hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.
      Kemudian aku memutuskan agar ia saja yg pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.

      Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan diperdulikan oleh keluarganya harus datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.Lihat Selengkapnya

    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang, ia menatapku dan menghapus airmata yang jatuh dipipiku, lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.

      Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini, karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi.

      Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman, karena biasanya hanya pembantu sajalah teman mengobrolku.

      Hati ini sedih akan di tinggal pergi olehnya.

      Sampai keesokan harinya, aku terus menangis.. menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini, perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya apada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.

      ***

      Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman, aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.

      Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti di lilit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit dirahimku ini, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adik laki-lakiku yang kebetulan menemaniku disana. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium 3.

      Aku menangis.. apa yang bisa aku banggakan lagi…..Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 0:19 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Agung Pambudi selamat jalan kang mas bayi sehat..semoga selalu bahagia dan dalam lindungannya illahirobbi..amien..

      19 Juni jam 0:22 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Mertuaku akan semakin menghinaku, suamiku yang malang yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku.. namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.

      Aku kangen pada suamiku, aku selalu menunggu ia pulang dan bertanya-tanya, “kapankah ia segera pulang?” aku tak tahu..

      Sementara suamiku disana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku..

      Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang.

      Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya. Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung…

      Sudah 3 minggu suamiku di Sabang, malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada sms yang masuk.

      Kubuka di inbox ponselku, ternyata dari suamiku yang sms.

      Ia menulis, “aku sudah beli tiket untuk pulang, aku pulangnya satu hari lagi, aku akan kabarin lagi”.

      Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yg aku tunggu pun tiba, aku menantinya di rumah…….Lihat Selengkapnya

    • Agung Pambudi ‎@ kang mas Hari yuswadi..salam takzimku kang mas..sugeng sumunaring condro..rahayu sagung dumadi..

      19 Juni jam 0:26 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang, dan nantinya aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yg buruk akhir-akhir ini.

      Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya kedepan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya, aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami.

      Setelah itu akupun berdiri langsung mencium tangannya tapi apa reaksinya..

      Masya Allah.. ia tidak mencium keningku, ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku..

      Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaan nya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan 1/3 malam, mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.

      Biasa nya kami selalu berjama’ah, tapi karena melihat nya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengeelus wajahnya dan aku cium keningnya, lalu aku sholat tahajud 8 rakaat plus witir 3 raka’at.Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 0:27 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno Assalamu’alaikum poro sedulur..semoga dimalam ini dibawah naungan bulan rajab..kan selalu dalam rahmat dan keridhoan Allah SWT untuk poro kadang….salam kasih bunda…..wss

      19 Juni jam 0:28 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Wa’alaikum salam mas Eko sugeng dalu mas…. salam kasih mas Eko… matur nuwun.

      19 Juni jam 0:30 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Agung Pambudi waalaikum salam kakang mas..Eko Sutrisno salam rahayu..

      19 Juni jam 0:31 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu aku melihat dirinya dari balkon kamar kami yang bersiap-siap untuk pergi. Lalu aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan aku berlari dari atas ke bawah tanpa memperdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya tapi ia begitu cepat pergi.

      Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?

      Aku tidak bisa diam begitu saja, firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon kerumah mertuakudan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya, aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, “Loe pikir aja sendiri!!!”. Telpon pun langsung terputus.

      Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.

      Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat dan ia bertanya dengan nada yg keras. Suamiku telah berubah.Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 0:32 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Agung Pambudi ‎@ salam rahayu kakang mas Wisang Geni ..sugeng ing madyaning ratri njih…

      19 Juni jam 0:32 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Eko Sutrisno maaf sedulu2 semua baru muncul habis ada menyantap Jamuan wedang jahe Imtaq (Iman dan Taqwa) Quran Surat 10 (Yunus) ayat 62-64 di majelis Ridho Allah ,,,,jadi agak telat…

      19 Juni jam 0:33 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Bahkan yang membuat ku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu, tapi aku selalu ingat.. sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang.

      Aku hanya berdo’a semoga suamiku sadar akan prilakunya.

      ***
      Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini, kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.

      Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya & menyiapkan segala yang ia perlukan. Penyakitkupun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.

      Bersyukurlah.. aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji, jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku….Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 0:35 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Hari Yuswadi sugeng ndalu mas agung pambudi.salam rahayu.

      19 Juni jam 0:38 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Sungguh.. suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku, setiap aku bertanya ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri. Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.

      “Ya, ada apa Yah!” sahutku dengan memanggil nama kesayangannya “Ayah”.

      “Lusa kita siap-siap ke Sabang ya.” Jawabnya tegas.

      “Ada apa? Mengapa?”, sahutku penuh dengan keheranan.

      Astaghfirullah.. suami ku yang dulu lembut tiba-tiba saja menjadi kasar, dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.

      Dia mengatakan ”Kau ikut saja jangan banyak tanya!!”

      Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis, sedih karena suamiku kini tak ku kenal lagi.

      Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah dan sudah 2 tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Ku lihat kamar kami yg dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin.. sangat dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 0:39 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..

      ***
      Kami telah sampai di Sabang, aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul disana, termasuk ibu & adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini..

      Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah didalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.

      Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua yg berada di dekat pintu kamar, lemari tua yang telah ada sebelum suamiku lahir tiba-tiba Tante Lia, tante yang sangat baik padaku memanggil ku untuk bersegera berkumpul diruang tengah, aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada ditengah rumah besar itu, yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.

      Kemudian aku duduk disamping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya.

      Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.

      “Baiklah, karena kalian telah berkumpul, nenek ingin bicara dengan kau Fisha”. Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.

      ”Ada apa ya Nek?” sahutku dengan penuh tanya..

      Nenek pun menjawab, “Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!!“.Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 0:44 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Aku menangis.. untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?

      “Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu.. sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau di atur,dan akhirnya menikahlah ia dengan kau.” Neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.

      Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.

      “Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya”, neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu.

      Sedangkan suamiku hanya terdiam saja, tapi aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian itu.

      Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, “kau maunya gimana? kau dimadu atau diceraikan?“

      MasyaAllah.. kuatkan hati ini.. aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku..

      Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau
      kayu, mereka mengira aku sangat bahagia 2 tahun belakangan ini.

      “Fish, jawab!.” Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 0:49 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.

      ”Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah, untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru dirumah kami.”

      Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.

      Aku lalu bertanya kepada suamiku, “Ayah siapakah yang akan menjadi sahabatku dirumah kita nanti, yah?”

      Suamiku menjawab, ”Dia Desi!”

      Aku pun langsung menarik napas dan langsung berbicara, ”Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini Nek?.”

      Ayah mertuaku menjawab, “Pernikahannya 2 minggu lagi.”

      ”Baiklah kalo begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok”, setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.

      Tak tahan lagi.. air mata ini akan turun, aku berjalan sangat cepat, aku buka pintu kamar dan aku langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri disini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku..

      Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan ini?

      Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, “sudah tidak cantikkah aku ini?“.Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 0:56 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Wisang Geni sugeng ndalu ugi salam rahayu mas agung…. salam taklim kagem sedoyo sanak kadang….. rahayu…..

      19 Juni jam 0:59 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Agung Pambudi hm nembah nuwun kang mas..Hari Yuswadi …kisah kehidupan rumah tangga yang penuh hikmah pelajaran buat kita kita ya mas..sangat menarik disimak…hm…salam rahayu kang mas..

      19 Juni jam 1:02 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Ku ambil sisirku, aku menyisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi, rambutku sudah hampir habis.. kepalaku sudah botak dibagian tengahnya.

      Tiba-tiba pintu kamar ini terbuka, ternyata suamiku yang datang, ia berdiri dibelakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu.

      Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, “terima kasih ayah, kamu memberi sahabat kepada ku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti! Iya kan?.”

      Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok, dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo.

      Dalam hatiku bertanya, “mengapa ia sangat cuek?” dan ia sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “sudah malam, kita istirahat yuk!“

      “Aku sholat isya dulu baru aku tidur”, jawabku tenang.

      Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Ku hitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku.

      Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakan aku atas rasa sayang dan cintanya itu.

      ***

      Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.

      Di laptop aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas, apa salahku? sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku
      save di mydocument yang bertitle “Aku Mencintaimu Suamiku.”

      Hari pernikahan telah tiba, aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri didekat jendela, aku melihat matahari, karena mungkin saja aku takkan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama.. lalu suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.

      “Apakah kamu sudah siap?”

      Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata :

      “Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk kedalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu, lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin bacakan do’a di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu..”, perkataanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 1:03 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Tiba-tiba suamiku menjawab “Lalu apa Bunda?”

      Aku kaget mendengar kata itu, yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar…

      “Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?”, pintaku tuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.

      Dia mengangguk dan berkata, ”Baik bunda akan ayah ulangi, lalu apa bunda?”, sambil ia mengelus wajah dan menghapus airmataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.

      Dia tersenyum sambil berkata, ”Kita liat saja nanti ya!”. Dia memelukku dan berkata, “bunda adalah wanita yang paling kuat yang ayah temui selain mama”.

      Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, “Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tau, bahwa aku tidak pernah berzinah! Dulu.. waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang dihadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah.” Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, ”Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah”.

      Saat itu juga, diangkatnya badanku.. ia hanya menangis.

      Ia memelukku sangat lama, 2 tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, ”bunda baik-baik saja kan?” tanyanya dengan penuh khawatir.

      Aku pun menjawab, “bisa memeluk dan melihat kamu kembali seperti dulu itu sudah mebuatku baik, Yah. Aku hanya tak bisa bicara sekarang“. Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyu menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.

      ***

      Setelah tiba dimasjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku.

      Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, “Ayah jangan!!”, tapi aku ingat akan kondisiku.

      Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia, tante yang baik itu, memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya… aku kuat.

      Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding dipelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku, mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh, mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum, tapi dibalik itu.. hatiku menangis.Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 1:08 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Sampai dirumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini?

      Sementara itu Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang di musuhi.

      Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana.

      Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu, lalu aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur disofa ruang tengah. Kudekati lalu kulihat. Masya Allah.. suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur disofa, aku duduk disofa itu sambil menghelus wajahnya yang lelah, tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.

      “Kamu datang ke sini, aku pun tahu”, ia berkata seperti itu. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, “maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena ego nya aku. Besok kita pulang ke Jakarta, biar Desi pulang dengan mama, papa dan juga adik-adikku”

      Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi. Ya Allah.. apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi.. masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini..

      Suamiku berbisik, “Bunda kok kurus?”

      Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa aku rasakan.

      Aku pun berkata, “Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?”

      ”Aku kangen sama kamu Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois.” Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.

      Lalu suamiku berkata, ”Bun, ayah minta maaf telah menelantarkan bunda.. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah, bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah dan satu lagi.. ayah pernah melihat sms bunda dengan mantan pacar bunda dimana isinya kalau bunda gak mau berbuat “seperti itu” dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip (“seperti itu”). Ayah ingin ngomong tapi takut bunda tersinggung dan ayah berpikir kalau bunda pernah tidur dengannya sebelum bunda bertemu ayah, terus ayah dimarahi oleh keluarga ayah karena ayah terlalu memanjakan bunda”

      Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.

      Aku hanya menjawab, “Aku sudah ceritakan itu kan Yah. Aku tidak pernah berzinah dan aku mencintaimu setulus hatiku, jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu itu Yah. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu.“

      Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena sahabatku sendirian dikamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga.

      Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 1:13 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Wisang Geni

      salam taklim ugi salam rahayu….. mugi mbak lia tansah rahayu wilujeng tebih saking rubedho ugi lir sambi kolo…. amin….
      sungguh miris dan sungguh luar biasa…. ulasan yg mbak lia sampaikan….. banyak hikmah dan pelajaran hidup di dalamnya… sungguh luar biasa….. saya pribadi sangat kagum…. semoga mbak lia dan semua saudara yg ada di forum wall ini selalu mendapatkan kebaikan …. keberkahan…… serta selalu dalam berkah barokah alloh….. amin….. salam kasih dan hormat….
      R………A……….H….…..A………..Y……..….U…………
      Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 1:13 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Mas Wisang…. la kulo mawon malah sesek dodho kulo nahan tangis kulo je mas… mugi… ampun kados makaten…. Njih mas kulo lajengaken… nyuwun pangapunten…..

      Keesokan harinya…

      Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali.. aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku.

      Aku pun dilarikan ke rumah sakit..

      Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku..

      Aku merasakan tanganku basah..

      Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran.

      Ia menggenggam tanganku dengan erat.. Dan mengatakan, ”Bunda, Ayah minta maaf…”

      Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku?

      Aku berkata dengan suara yang lirih, ”Yah, bunda ingin pulang.. bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana ya, Yah..”

      “Ayah jangan berubah lagi ya! Janji ya, Yah… !!! Bunda sayang banget sama Ayah.”

      Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin keatas, kakiku sudah tak bisa bergerak lagi.. aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata.

      Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.

      Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku..

      Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka..

      Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah.

      Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah nafasku.

      Untuk Ibu dan Bapak mertuaku : “Maafkan aku telah hadir didalam kehidupan anakmu sampai aku hidup didalam hati anakmu, ketahuilah Ma.. dari dulu aku selalu berdo’a agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku didepan suamiku, apa engkau punya buktinya Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku Ma? Fikri tetap milikmu Ma, aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu, dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku menantumu kau bersikap sebaliknya.”
      SELAMAT TINGGAL SUAMIKU…. AKU MENANTIMU DISANA … AYAH AKU MENCINTAIMU….. BAPAK…. IBU MERTUA SEBENARNYA AKUPUN SAYANG PADAMU….
      ***Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 1:19 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Setelah ku buka laptop, kubaca curhatan istriku.
      =============================
      Ayah, mengapa keluargamu sangat membenciku?
      Aku dihina oleh mereka ayah.
      Mengapa mereka bisa baik terhadapku pada saat ada dirimu?
      Pernah suatu ketika aku bertemu Dian di jalan, aku menegurnya karena dia adik iparku tapi aku disambut dengan wajah ketidaksukaannya. Sangat terlihat Ayah..
      Tapi ketika engkau bersamaku, Dian sangat baik, sangat manis dan ia memanggilku dengan panggilan yang sangat menghormatiku. Mengapa seperti itu ayah?
      Aku tak bisa berbicara tentang ini padamu, karena aku tahu kamu pasti membela adikmu, tak ada gunanya Yah..
      Aku diusir dari rumah sakit.
      Aku tak boleh merawat suamiku.
      Aku cemburu pada Desi yang sangat akrab dengan mertuaku.
      Tiap hari ia datang ke rumah sakit bersama mertuaku.
      Aku sangat marah..
      Jika aku membicarakan hal ini pada suamiku, ia akan pasti membela Desi dan
      ibunya..
      Aku tak mau sakit hati lagi.
      Ya Allah kuatkan aku, maafkan aku..
      Engkau Maha Adil..
      Berilah keadilan ini padaku, Ya Allah..
      Ayah sudah berubah, ayah sudah tak sayang lagi pada ku..
      Aku berusaha untuk mandiri ayah, aku tak akan bermanja-manja lagi padamu..
      Aku kuat ayah dalam kesakitan ini..
      Lihatlah ayah, aku kuat walaupun penyakit kanker ini terus menyerangku..
      Aku bisa melakukan ini semua sendiri ayah..
      Besok suamiku akan menikah dengan perempuan itu.
      Perempuan yang aku benci, yang aku cemburui.
      Tapi aku tak boleh egois, ini untuk kebahagian keluarga suamiku.
      Aku harus sadar diri.
      Ayah, sebenarnya aku tak mau diduakan olehmu.
      Mengapa harus Desi yang menjadi sahabatku?
      Ayah.. aku masih tak rela.
      Tapi aku harus ikhlas menerimanya.
      Pagi nanti suamiku melangsungkan pernikahan keduanya.
      Semoga saja aku masih punya waktu untuk melihatnya tersenyum untukku.
      Aku ingin sekali merasakan kasih sayangnya yang terakhir.
      Sebelum ajal ini menjemputku.
      Ayah.. aku kangen ayah…….
      ======================
      Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 1:25 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono

      Dan kini aku telah membawamu ke orang tuamu, Bunda..
      Aku akan mengunjungimu sebulan sekali bersama Desi di Pulau Kayu ini…. tidurlah dengan tenang Bunda…. akupun sangat mencintaimu
      Aku akan selalu membawakanmu bunga mawar yang berwana pink yang mencerminkan keceriaan hatimu yang sakit tertusuk duri.
      Bunda tetap cantik, selalu tersenyum disaat tidur.
      Bunda akan selalu hidup dihati ayah…. maafkalah Bapak dan Ibuku…
      Bunda.. Desi tak sepertimu, yang tidak pernah marah..
      Desi sangat berbeda denganmu, ia tak pernah membersihkan telingaku, rambutku tak pernah di creambathnya, kakiku pun tak pernah dicucinya.
      Ayah menyesal telah menelantarkanmu selama 2 tahun, kamu sakit pun aku tak perduli, hidup dalam kesendirianmu..
      Seandainya Ayah tak menelantarkan Bunda, mungkin ayah masih bisa tidur dengan belaian tangan Bunda yang halus.
      Sekarang Ayah sadar, bahwa ayah sangat membutuhkan bunda..
      Bunda, kamu wanita yang paling tegar yang pernah kutemui.
      Aku menyesal telah asik dalam ke-egoanku..
      Bunda.. maafkan aku.. Bunda tidur tetap manis. Senyum manjamu terlihat di tidurmu yang panjang.
      Maafkan aku, tak bisa bersikap adil dan membahagiakanmu, aku selalu meng-iyakan apa kata ibuku, karena aku takut menjadi anak durhaka. Maafkan aku ketika kau di fitnah oleh keluargaku, aku percaya begitu saja.
      Apakah Bunda akan mendapat pengganti ayah di surga sana?
      Apakah Bunda tetap menanti ayah disana? Tetap setia dialam sana?
      Tunggulah Ayah disana Bunda..
      Bisakan? Seperti Bunda menunggu ayah di sini.. Aku mohon..
      Ayah Sayang Bunda….. nantakan ayah Bunda…..
      Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 1:27 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Wisang Geni heeeeeeeemmmmmm……..
      SUBKHANAALLOH………. Ketulusan dan kejujuran yg akan menunjukan KEBENARAN…. maha suci alloh dengan segala kehendak dan kuasaNYA…….
      semoga mbak lia bersama suami dan keluarga…. Alloh senantiasa Hamberkahi….. amin…….

      19 Juni jam 1:28 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Songgo Buwono Anggap saja ____ T A M A T___ aku tak nangis wae….. karena aku ndak kuat … mungkinkah…..

      19 Juni jam 1:30 · Tidak SukaSuka · 6 orangMemuat…
    • Bunda Lia Waduhhhh ra kuat dewe ki piye jal…. mas Wisang… mas Agung… mas Hari….. Kyara say….. nyuwun pamit rumiyen madap Pasilan ngayahe kewajiban sanes ngisi doa rumiyen… kagem mbenjang enjang…. menawi wonten atur kang kirang sae lan kladuk kulo nyuwun agunging pangapunten sak ageng2 ipun… Wass. Rahayu3x.

    • Agung Pambudi

      istri solehah..dambaan setiap suami…begitupun sebaliknya…syurga sangat merindukan insan insan yang demikian…duh sungguh kehidupan rumah tangga adalah mengajarkan kita arti kehidupan yang sebenarnya…serumit apapun jika ada komunikasi dan keterbukaan dianataranya..inya ALLOOH kan ada jalan keluar yang lebih baik..intinya ..adalah sepakat didalam ridho menuju tujuan hidup yang sebenarnya…semoga….menjadikan mawadah warohmah….hinga ahir tujuan..yaitu ZAT yang MAHA SUCI ..tempat kita kembali keasal…Lihat Selengkapnya

      19 Juni jam 1:47 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Tedjo Anom ndereaken den ayu,

      19 Juni jam 1:51 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Agung Pambudi nderekaken mujahadah ing madyaning ratri diajeng ayu..nembah nuwun ..wedaranipun..mugi saget kesambung ing sanes wekdal…rahayu sagung dumadi…sedoyo kadhang kinasih…kulo njih pamit lumengser sak wetawis..ugi nuwun agung’e samudro pangaksami…….wasalam..

      19 Juni jam 1:54 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Akarbawah Tanah kisah yg mengharukan…..

      19 Juni jam 4:19 · SukaTidak Suka · 2 orangMemuat…
    • Saliqun Nafs Rahayu__

      19 Juni jam 5:38 · SukaTidak Suka · 1 orangMemuat…
    • ‘Samuel Pongoh’ Belajar kesempurnaan pada Semar ….

      19 Juni jam 8:48 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Aloeth Pathi II I like it.. literaturnya perlu ditulis Bun…

      24 Juni jam 21:01 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
  • Tulis komentar…

Iklan

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on September 22, 2011, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: