“SEMAR“ Hari Ke 3 wwwisonggobuwono.com/semar.html

“SEMAR“ Hari Ke 3

( Ikuti tulisan selanjutnya Klik Judul ) http://www.catatan.songgobuwono.com/semar.html

oleh Bunda Lia pada 15 Oktober 2011 jam 19:34

“SEMAR“ ( Ikuti tulisan selanjutnya Klik Judul )
www. catatan.songgobuwono.com/semar.html

Di dalam tulisan sebelumnya yang berjudul “Batara Semar,” telah dipaparkan bahwa Batara Semar atau Batara Ismaya, yang hidup di alam Sunyaruri, sering turun ke dunia dan manitis di dalam diri Janggan Semarasanta, seorang abdi dari Pertapaan Saptaarga. Mengingat bahwa bersatunya antara Batara Ismaya dan Janggan Semarasanta yang kemudian populer dengan nama Semar merupakan penyelenggaraan Illahi, maka munculnya tokoh Semar diterjemahkan sebagai kehadiran Sang Illahi dlam kehidupan nyata dengan cara yang tersamar, penuh misteri.

Semar = Haseming samar-samar (Fenomena harafiah makna kehidupan Sang Penuntun). Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tumggal”. Sedang tangan kirinya bermakna berserah total dan mutlak serta selakigus simbul keilmuaan yang netral namun simpatik”.
Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. Rambut semar “kuncung(jarwodoso/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan.
Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi. Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”. Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : mengadakan keadilan dan kebenaran di bumi.

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Isalam di tanah Jawa.
Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman Prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.
Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .
Gambar Wayang Semar kiranya merupakan simbol pengertian atau konsepsi dari aspek sifat Ilahi, yang kalau dibaca bunyinya :

Yang wayang itu hanyalah kulit, Yang kulit itu bukan Hakekat
Samasekali bukan , Ia Hanyalah lambang dan sifat-sifat
Nama-nama dan aspeknya, Yang dalam lambang itu Maya
Dalam Maya ada Ia, Ia adalah yang Maha Wisesa, Wenang wening
Ia tak tampak tapi ada, Ada ini sebagai ada yang pertama
Dan tidak pernah tidak ada, Adanya adalah tunggal
Adanya adalah Mutlak, Ia satu-satunya kenyataan
Ada adalah tak tampak mata, Gaib, misterius, samar
Karena yang ada mutlak itu Tunggal, Yang Tunggal adalah kebenaran
Kebenaran mutlak karena tak ada kebenaran yang mendua
Tan Hana Dharma Mngrwa, Jadi Sang Hyang Tunggal adalah Kebenaran
Sang Hyang Tunggal adalah Samarnya SEMAR, Samar adalah aspek sifat dan Nama
Samar ada pada SEMAR, Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.

Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala. Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa.

Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna :
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

Dari bentuknya saja, tokoh ini tidak mudah diterka. Wajahnya adalah wajah laki-laki. Namun badannya serba bulat, payudara montok, seperti layaknya wanita. Rambut putih dan kerut wajahnya menunjukan bahwa ia telah berusia lanjut, namun rambutnya dipotong kuncung seperti anak-anak. Bibirnya berkulum senyum, namun mata selalu mengeluarkan air mata ndrejes. Ia menggunakan kain sarung bermotif kawung, memakai sabuk tampar, seperti layaknya pakaian yang digunakan oleh kebanyakan abdi. Namun bukankah ia adalah Batara Ismaya atau Batara Semar, seorang Dewa anak Sang Hyang Wisesa, pencipta alam semesta.



Tidak SukaSuka · · Berhenti Mengikuti KirimanIkuti Kiriman · Bagikan · Hapus

  • Lihat semua (2) yang dibagikan
    • Bunda Lia Dengan penggambaran bentuk yang demikian, dimaksudkan bahwa Semar selain sosok yang sarat misteri, ia juga merupakan simbol kesempurnaan hidup. Di dalam Semar tersimpan karakter wanita, karakter laki-laki, karakter anak-anak, karakter orang dewasa atau orang tua, ekspresi gembira dan ekspresi sedih bercampur menjadi satu. Kesempurnaan tokoh Semar semakin lengkap, ditambah dengan jimat Mustika Manik Astagina pemberian Sang Hyang Wasesa, yang disimpan di kuncungnya. Jimat tersebut mempunyai delapan daya yaitu; terhindar dari lapar, ngantuk, asmara, sedih, capek, sakit, panas dan dingin. Delapan macam kasiat Mustika Manik Astagina tersebut dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa, walaupun Semar hidup di alam kodrat, ia berada di atas kodrat. Ia adalah simbol misteri kehidupan, dan sekaligus kehidupan itu sendiri…..

      15 Oktober jam 19:41 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Bunda Lia Jika dipahami bahwa hidup merupakan anugerah dari Sang Maha Hidup, maka Semar merupakan anugerah Sang Maha Hidup yang hidup dalam kehidupan nyata. Tokoh yang diikuti Semar adalah gambaran riil, bahwa sang tokoh tersebut senantiasa menjaga, mencintai dan menghidupi hidup itu sendiri, hidup yang berasal dari Sang Maha Hidup. Jika hidup itu dijaga, dipelihara dan dicintai maka hipup tersebut akan berkembang mencapai puncak dan menyatu kepada Sang Sumber Hidup, manunggaling kawula lan Gusti. Pada upaya bersatunya antara kawula dan Gusti inilah, Semar menjadi penting. Karena berdasarkan makna yang disimbolkan dan terkandung dalam tokoh Semar, maka hanya melalui Semar, bersama Semar dan di dalam Semar, orang akan mampu mengembangkan hidupnya hingga mencapai kesempurnaan dan menyatu dengan Tuhannya.

      15 Oktober jam 19:48 · Tidak SukaSuka · 10 orangMemuat…
    • Muhamad Mukhtar Zaedin ‎@ selamat malam BundaLia dan sahabatku yg terkasih. trimakasih atas tag yg sdh BundaLia lakukan. trimakasih referensinya

      15 Oktober jam 19:53 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Muhamad Mukhtar Zaedin ‎@ selamat malam BundaLia dan sahabatku yg terkasih. trimakasih atas tag yg sdh BundaLia lakukan. trimakasih referensinya

      15 Oktober jam 19:53 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Selain sebagai simbol sebuah proses kehidupan yang akhirnya dapat membawa kehidupan seseorang kembali dan bersatu kepada Sang Sumber Hidup, Semar menjadi tanda sebuah rahmat Illahi (wahyu) kepada titahnya, Ini disimbolkan dengan kepanjangan nama dari Semar, yaitu Badranaya. Badra artinya Rembulan, atau keberuntungan yang baik sekali. Sedangkan Naya adalah perilaku kebijaksanaan. Semar Badranaya mengandung makna, di dalam perilaku kebijaksanaan, tersimpan sebuah keberuntungan yang baik sekali, bagai orang kejatuhan rembulan atau mendapatkan wahyu. Dalam lakon wayang, yang bercerita tentang Wahyu, tokoh Semar Badranaya menjadi rebutan para raja, karena dapat dipastikan, bahwa dengan memiliki Semar Badranaya maka wahyu akan berada dipihaknya.

      15 Oktober jam 19:54 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia Selamat malam Mas Muhamad Mukhtar Zaedin salam kasihku selalu….

      15 Oktober jam 19:54 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Menjadi menarik bahwa ada dua sudut pandang yang berbeda, ketika para satria raja maupun pendeta memperebutkan Semar Badranaya dalam usahanya mendapatkan wahyu. Sudut pandang pertama, mendudukkan Semar Badranaya sebagai sarana fisik untuk sebuah target. Mereka meyakini bahwa dengan memboyong Semar, wahyu akan mengikutnya sehingga dengan sendirinya sang wahyu didapatkan. Sudut pandang ini kebanyakan dilakukan oleh kelompok Kurawa atau tokoh-tokoh dari sabrang, atau juga tokoh lain yang hanya menginkan jalan pintas, mencari enaknya sendiri. Yang penting mendapatkan wahyu, tanpa harus menjalani laku yang rumit dan berat….

      15 Oktober jam 19:59 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Bunda Lia Sudut pandang ke dua adalah mereka yang mendudukan Semar Badranaya sebagai sarana batin untuk sebuah proses. Konsekwensinya bahwa mereka mau membuka hati agar Semar Badranaya masuk, tinggal dan menyertai kehidupannya, sehingga dapat berproses bersama meraih Wahyu. Penganut pandangan ini adalah kelompok dari keturunan Saptaarga. Dari ke dua sudut pandang itulah dibangun konflik, dalam usahanya memperebutkan turunnya wahyu. Dan tentu saja berakhir dengan kemenangan kelompok Saptaarga…

      15 Oktober jam 20:04 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mengapa wahyu selalu jatuh kepada keturunan Saptaarga? Karena keturunan Saptaarga selalu mengajarkan perilaku kebijaksannan, semenjak Resi Manumanasa hingga sampai Harjuna. Di kalangan Saptaarga ada warisan tradisi sepiritual yang kuat dan konsisten dalam hidupnya. Tradisi tersebut antara lain; sikap rendah hati, suka menolong sesama, tidak serakah, melakukan tapa, mengurangi makan dan tidur dan laku lainnya. Karena tradisi-tradisi itulah, maka keturunan Saptaarga kuat diemong oleh Semar Badranaya….

      15 Oktober jam 20:07 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Kerta Kusumah Maaf numpang nimbrung Bunda, izin urun rembug.. : Beliau Semar / Sri Baginda Umar Maya sebagai Maha Mantri selalu bersama dg Raja Mantri atau Sri Baginda Umar Mahdi / Bhatara Antaga / JANUS. dan selalu bersama pula dg Sang Hyang Bhatara Guru Manikmaya Raja Diraja Guru. Haturnuhun, Terimakasih. Salam.

      15 Oktober jam 20:15 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Joko Lelono njiih bunda sumonggo sinambi ngopi lan ampun supe niku mendoanipun sampun cumawis.sugeng ndalu mboten supe sungkem kulo katur bunda.

      15 Oktober jam 20:17 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Abdullah Ali wah,nek kon ngekih tobat aku Den Ayu hehehehe….

      15 Oktober jam 20:19 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Kakang Prabu Anom Selamat malam Bunda.. Kang Mas Abdullah dan seluruh yang telah hadir & menyimak.. salam kasih & rahayu…

      15 Oktober jam 20:26 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Masuknya Semar Badranaya dalam setiap kehidupan, menggambarkan masuknya Sang Penyelenggara Illahi di dalam hidup itu sendiri. Maka sudah sepantasnya, anugerah Ilahi yang berujud wahyu akan bersemayam di dalamnya. Karena apa yang tersembunyi di balik tokoh Semar adalah Wahyu. Wahyu yang disembunyikan bagi orang tamak dan dibuka bagi orang yang hatinya merunduk dan melakukan perilaku kebijaksanaan. Seperti yang dilakukan keturunan Saptaarga…

      15 Oktober jam 20:26 · Tidak SukaSuka · 8 orangMemuat…
    • Gusti Kelab Selamat malam bunda, semoga sll dalam naungan Hyang Maha Kuasa,…Salam kasih & hormat sll dari Bali…

      15 Oktober jam 20:26 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Selamat malam mas Kerta Kusumah… he he he terimakasih njih mas…. buat nambah pengalaman…

      15 Oktober jam 20:27 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Walahhhhh kang Abdullah Ali… omong opo we ki kang…

      15 Oktober jam 20:28 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kakang Prabu Anom selamat malam kakang salam kasihku selalu…

      15 Oktober jam 20:29 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Muhamad Mukhtar Zaedin ‎@ adakah yg punya referensi ttg SEMAR dlm tinjuan asal usul bahasa yg sebagian budayawan mengidentikan dgn bahasa Arab?

      15 Oktober jam 20:29 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia Terimakasih Mas Gusti Kelab selamat malam salam kasih salam dari kami keluarga besar Songgo Buwono mas…

      15 Oktober jam 20:29 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Abdullah Ali salah ketik la wong ngelih dadi ngekih hahahaha….

      15 Oktober jam 20:31 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Muhamad Mukhtar Zaedin saudaraku terkasih sabar ya mas masih ada 19 hari dan nanti akan sampai ketitik sasaran…sabar ya… nanti kalau langsung poin wahhh ada yg protes mas… jangankan arab ke Cina pun sampai ….

      15 Oktober jam 20:31 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Muhamad Mukhtar Zaedin ‎@ baguslah klo begitu, aku akan ikuti perjalanan Sang Semar sampai ke negeri Cina, heheheee

      15 Oktober jam 20:35 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Muhamad Mukhtar Zaedin ‎@ baguslah klo begitu, aku akan ikuti perjalanan Sang Semar sampai ke negeri Cina, heheheee

      15 Oktober jam 20:35 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Muhamad Mukhtar Zaedin ‎@ baguslah klo begitu, aku akan ikuti perjalanan Sang Semar sampai ke negeri Cina, heheheee

      15 Oktober jam 20:36 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Yunus Susilo sugeng ndalu jeng lia

      15 Oktober jam 20:37 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
       
       

       
       
       
       
    • Bunda Lia

      Lakon ini seakan merupakan “lakon wajib” bagi dalang untuk membawakannnya. Disamping menarik, lakon ini memberikan pesan moral yang gampang dimenerti kendati mengandung nilai-nilai filosofis “khas kejawen”. Hampir semua dalang pernah membawakan cerita ini dengan versi dan kreativitas masing-masing, tak terkecuali Ki H Anom Suroto…. Alm. Timbul Hadi Prayitno, Ki Gito Carito, Ki Soko, dll Oleh karena itu lakon ini banyak dikenal oleh masyarakat pecinta wayang kulit. Dari sampul kaset dan ijin produksinya, kaset ini direkam pada tahun 1985, Duapuluh lima tahun atau seperempat abad sudah Ki H Anom Suroto membawakan cerita ini. Akan tetapi ketika saya mendengarkan sembalri mengconvert cerita ini, terasa masih sangat segar ide-ide yang dilontarkan olehnya. Hanya saja, mendengarkan wayang akan lebih sangat menarik apabila dikaitkan dengan suasana aktual yang terjadi pada masa itu….Lihat Selengkapnya

      15 Oktober jam 20:39 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Sugeng dalu mas Joko Lelono salam kasih kadang kang kinasihku…

      15 Oktober jam 20:40 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Budi Purnomo Jeng Lia, Abah Ali sugeng dalu ngapunten rasane menawi nderek nyimak wedar panjenengan sedoyo kadose sampun dateng Jogja

      15 Oktober jam 20:43 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Hari Yuswadi sugeng ndalu bunda. saya nyimak saja.

      15 Oktober jam 20:46 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Kanjeng Romo Joko Suryo

      WECAN TUNJUNG SETA TUMEKA KAKI SEMAR
      1. Ingsun meling mring siro kalihnyo (kakang Semar lan Antaga) kang dadyo sesenggemane ngirido gung lelembut bala siluman nusa jawi kabyantokna sang nata Herucakra prabu nata tedhaking barata wijiliro ing ketonggo sonyaruri sajroning alas pudhak.
      2. Duk timurnyo babaran surandhil ingkang ibu tedhaking mataram kang rama trahing rasule ginaib miyosipun sang tunjung seto jejuluk neki duk sih kineker marang hyang kesampar kesandung jalma samya katambuhan tan wikan mring pudhak sinumpet sinandi dewa mangejawantah
      3. Wus pinasti kang murbeng dumadi sang tunjung seto kinarya dhuta jumeneng paran-parane ngadili nusa nipun ngasto darmaning umum kalis ing mayane ndoya wus wineleg mukti wibawaning diri ing ketangga siluman
      4. Satru mungsuh samyo hangemasi tumpes tapis kataman prabowo kasekten sabda ciptane nggegirisi balanipun wujud kalabang kalajengking sirulloh ajinipun prajurit lelembut iku kang wekas ing wang, siro nderek angemong ing tembe wuri sang nata binathoro
      Lihat Selengkapnya

      15 Oktober jam 20:48 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Mendengarkan cerita ini, seakan kita dibawa pada suasana dimana Negara Indonesia masih “ayem tentrem” tanpa gejolak baik politik, ekonomi maupun sosial tentu saja dalam pengertian praktis, bukan subsatnsi makanya aku mau gelar Semar Mbangun Kayangan pada Tgl 11-11-2011 Di Pendopo Alit Songgo Buwono…. Pesan-yang ada didalam dialog antar tokoh sepanjang pagelaran, tak menggambarkan adanya “kegundahan” hati masyarakat Indonesia. Tak ada century, tak ada kerusuhan, tak ada pemakzulan, tak ada debat politik, tak ada perang media…. ha ha ha bubrah tenan jagad iki…. Pendeknya, yang tergambar dalam angan-angan adalah nonton wayang ditengah kehidupan warga masyarakat yang rukun, ayem tentrem dan tanpa rasa curiga mencurigai…. cawisane tiwul… gatot, getuk, Kesulitan ekonomi yang dihadapi punakawan dalam adegan goro-goro menunjukkan kewajaran, bukan ketakutan…… lohhh kok malah masuk pada poros lakon untuk tgl.11-11-2011.Lihat Selengkapnya

      15 Oktober jam 20:49 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Diceritakan, bahwa untuk kepentingan “mbangun kayangan” , Ki Lurah Semar bermaksud meminjam Jamus Kalimasada kepada Prabu Puntadewa. Oleh karena itu, dia mengutus Petruk untuk menghadap Sang Prabu guna menindak lanjuti rencana tersebut. Pada saat yang sama Pendita Durna dan Patih Sakuni menyampaikan pesan sebagai utusan Prabu Duryudana, untuk juga meminjam Jamus Kalimasada sebagai sarana memulihkan “dahuru” yang menimpa Kerajaan Astinapura…..Lihat Selengkapnya

      15 Oktober jam 20:52 · Tidak SukaSuka · 7 orangMemuat…
    • Muhammad Kromo Sagirat Maturnuwun Den Ayu tlah berkenan membagikan pengetahuanya tentang Semar..
      Sugeng ndalu..
      Salam kasih..
      Rahayu..

      15 Oktober jam 20:54 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Edy Yusuf Ritonga Selamat malam Bunda Lia dan seluruh keluarga besar yang hadir…
      Trima kasih atas wedaran nya Bunda saya hanya bisa nyimak ya Bunda…

      salam takdhim saya Bunda…. Rahayu …

      15 Oktober jam 20:55 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Kanjeng Romo Joko Suryo

      ‎5. Wong cilik samyo suko ing ati gumuyu murah sandhang lan tedha guyub rukun sesamane samya madhep sumujud ngarseng hyang widhi lan njeng gusti, wedi wewalatira wingiting sang ratu manongko jaman kencana, kakang semar gyo tindakno weling mami ngiridto gung lelembut
      6. Minongko welinge sang aji sri jayabaya nata binathara mring kakang semar umatur “pikulun jayabaya aji pun kakang wus anampa kabeh sabdanipun dadya paseksening jangka mangeja wantahiro paduko aji sang nata binathara
      7. Jumenengiro gusthi pribadi lamun jangkaning nusa tumeko nora endhas lan buntute pun kakang wus sumangguh ngemong sang tunjung seto aji lan ngirid byantokna sagunging lelembut sinegeg wawan sabdonyo sri jayabaya lan pamomongnya ka kalih meca jangkaning nusa.
      (Ginubah dening panembahan pramana seta ing girimaya)
      Lihat Selengkapnya

      15 Oktober jam 21:00 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Tentu saja, Prabu Puntadewa menjadi “ewuh aya ing pambudi” kepada siapa Jamus Kalimasada akan dipinjamkan. Prabu Kresna yang berada di pasewakan karena diundang Prabu puntadewa, mengambil langkah bijak agar masing-masing menunggu di alun-alun, sementara keputusan akan dimusyawarahkan terlebih dahulu. Kresna pergi ke Kahyangan Jonggring Saloka guna menghadap Betara Guru agar diberikan petunjuk menyelesaikan permasalahan ini dengan cara yang tepat. Sambil menunggu kedatangan Sri Kresna, Prabu Puntadewa menemui para utusan dan memberikan syarat bagi siapapun yang bermaksud meminjam Jamus Kalimasada, yaitu berupa “Kembang Turangga Jati”. Siapapun, baik Semar maupun Duryudana bisa membawa Jamus Kalimasada asalkan berhasil memetik “Kembang Turangga Jati”…Lihat Selengkapnya

      15 Oktober jam 21:02 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Tak elok, jika saya menceritakan sampai tuntas lakon ini kepada anda, karena tujuan saya adalah mengajak anda untuk ikut menikmati suasana ketika Lakon ini direkam / dipentaskan. Sekali lagi, kendati saya sangat yakin anda sudah hafal dengan cerita ini, tapi mendengarkan wayang bukan saja bertujuan untuk mengetrahui akhir dan jalannnya cerita tetapi juga menggali pesan moral yang terkandung didalamnya, selain tentunya sebagai “lelangen wardaya”, makanan jiwa…Lihat Selengkapnya

      15 Oktober jam 21:05 · Tidak SukaSuka · 4 orangMemuat…
    • Kanjeng Romo Joko Suryo Bunda & kawan2 maaf hehe … td di atas ku ikut nimbrung pasang iklan agak beda critanya dgn crita wayang bunda …

      15 Oktober jam 21:08 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa….

      15 Oktober jam 21:09 · Tidak SukaSuka · 5 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Yunus Susilo salam kangenku mas… apa kabar mas… Ya Alloh… sehat ya mas….

      15 Oktober jam 21:19 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Sugeng dalu mas Budi Purnomo monggo…. mugi tansah Rahayu Wilujeng… matur nuwun rawuhipun…

      15 Oktober jam 21:21 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Kanjeng Romo Joko Suryo monggo mas… matur nuwun wedaranipun…

      15 Oktober jam 21:21 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Hari Yuswadi sugeng dalu njih mas… salam kasihku selalu….

      15 Oktober jam 21:22 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Aiman Yiman Malam bunda
      Malam smua.
      Nderek nyimak kemawon bunda,hehe..

      15 Oktober jam 21:25 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Misterr Jeans Sang Kinasih Sugeng ndalu Ibunda lan sdoyo kdang knasih.. Nderek nyimak Ibunda.. Salam kasih.

      15 Oktober jam 21:26 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Bunda Lia Dalam pewayangan dikisahkan, Batara Ismaya sewaktu masih di kahyangan sempat dijodohkan dengan sepupunya yang bernama Dewi Senggani. Dari perkawinan itu lahir sepuluh orang anak, yaitu:
      Batara Wungkuham….. Batara Surya….. Batara Candra
      Batara Tamburu…. Batara Siwah…. Batara Kuwera…. Batara Yamadipati…. Batara Kamajaya…. Batara Mahyanti….Batari Darmanastiti….

      15 Oktober jam 21:33 · Tidak SukaSuka · 3 orangMemuat…
    • Kanjeng Romo Joko Suryo

      Kelir lambang gumelarnya jagad raya, gedebog pisang sbg lambang jasad, lampu blencong sbg lambang pemberi cahaya, bagi penonton pemula nonton wayangnya dari luar kelir, lebih seneng lihat gebyar indahnya kulit wayang, apa lagi nontone deket sinden sing ayu spt bunda Lia qiqiqi … maksudnya yg dilihat keindahan dari sisi kulit dari pada isi, maka dinamakan TONTONAN.
      Lain halnya dgn penonton yg mengedepankan isi dari pada kulit, sudah mengenal hakekat, nonton wayangnya di belakang layar? yg terlihat keindah bayangan cahaya silulet dari lampu blencong yg memancar dari isi nya wayang (ruhnya wayang) jd lebih mengedepankan tatanan dan tuntunan …
      Lihat Selengkapnya

      15 Oktober jam 21:34 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Aring Sukaton Asalamualaikum wrwb ….
      Lha wes koyo ndeleng wayang kulit ki ono dalang mas KR joko suryo hehehe

      Sugeng dalu paro kadhang monggo dipun lanjut

      Salam damai abadi dulurrr

      15 Oktober jam 21:40 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Eko Susanto Selamat Malam Bunda Lia, Terimakasih Banyak Kiriman Tagnya Bun……. Selamat Malam Saudara Saudariku Semuanya Yg Hadir Di Pencerahan Bunda Lia,…….. Smoga Semuanya Sehat Wal’afiat Dan Kaberkahan ALLAH…….. Amiiin…. Amin YRA….. Salam Kasih Dan Damai Dihati Semuanya…….

      15 Oktober jam 21:51 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Kanjeng Romo Joko Suryo Aku mau nonton asal sindene bunda Lia, arep nyawer qiqiqi …

      15 Oktober jam 21:56 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Aring Sukaton Lho lho. Sing duwe gawe kog dikon dadi Sinden waah salah kedaden ki

      Hehehehe

      15 Oktober jam 22:33 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhamad Mukhtar Zaedin ‎@ monggo dipun lajengaken, ngapunten kula wahu maksih wonten dateng perjalanan. *mana kopinya Kangdullah? heheheee

      15 Oktober jam 22:42 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Budi Purnomo Nembe womten kegiatan menopo jeng ?

      15 Oktober jam 23:07 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Misterr Jeans Sang Kinasih selamat malam… malming kemana mas???

      15 Oktober jam 23:11 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Hemmmm mbak Chety Eko Susanto… sama2 ya mbak…

      15 Oktober jam 23:12 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Kanjeng Romo Joko Suryo ha ha ha ha onok2 wae…

      15 Oktober jam 23:12 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Mas Muhamad Mukhtar Zaedin … wahhh ….

      15 Oktober jam 23:13 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia Hemmm nembe wangsul Malam Mingguan njih mas Budi Purnomo, sugeng dalu jelang enjang mas…

      15 Oktober jam 23:14 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Muhamad Mukhtar Zaedin ‎@ hmmmm gmn Bunda?

      15 Oktober jam 23:19 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Mbah Jocker Mtr nwn bunda…sugeng ndalu…klo nderek nyìmak njih…

      15 Oktober jam 23:26 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Nur Santi Bhumi Ningtyas
      Andai dekat, waaah di depan sendiri x ya Bun?hehe sugeng enjing Bunda…matur nuwun…Rahayu selalu.

      16 Oktober jam 2:43 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Hang Setia hamba percaya akan cerita Semar itu…mohon share..ya

      16 Oktober jam 5:13 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Hang Setia SEMAR adalah Dewa…dalam bahasa kita…dalam bahasa Arabnya…Malaikat..,

      16 Oktober jam 5:22 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Herdiman Sastrosudirdjo sugeng siyang… Bunda Lia
      ada pertanyaan begini : apakah Semar, Gareng, Petruk dan Bagong itu merupakan satu keluarga… ? tks ….

      16 Oktober jam 14:26 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Bunda Lia

      Mas Herdiman Sastrosudirdjo….. Petruk dan panakawan yang lain Semar, Gareng dan Bagong selalu hidup di dalam suasana kerukunan sebagai satu keluarga. Bila tidak ada kepentingan yang istimewa, mereka tidak pernah berpisah satu sama lain. Mengenai Punakawan, punakawan berarti ”kawan yang menyaksikan” atau pengiring. Saksi dianggap sah, apabila terdiri dari dua orang, yang terbaik apabila saksi tersebut terdiri dari orang-orang yang bukan sekeluarga. Sebagai saksi seseorang harus dekat dan mengetahui sesuatu yang harus disaksikannya. Di dalam pedalangan, saksi atau punakawan itu memang hanya terdiri dari dua orang, yaitu Semar dan Bagong bagi trah Witaradya…..Lihat Selengkapnya

      16 Oktober jam 14:50 · Tidak SukaSuka · 2 orangAnda dan Herdiman Sastrosudirdjo menyukai ini.
    • Bunda Lia

      Sebelum Sanghyang Ismaya menjelma dalam diri cucunya yang bernama Smarasanta (Semar), kecuali Semar dengan Bagong yang tercipta dari bayangannya, mereka kemudian mendapatkan Gareng/Bambang Sukodadi dan Petruk/Bambang Panyukilan. Setelah Batara Ismaya menjelma kepada Janggan Smarasanta (menjadi Semar), maka Gareng dan Petruk tetap menggabungkan diri kepada Semar dan Bagong. Disinilah saat mulai adanya punakawan yang terdiri dari empat orang dan kemudian mendapat sebutan dengan nana ”parepat atau prapat”.Lihat Selengkapnya

      16 Oktober jam 14:53 · Tidak SukaSuka · 2 orangMemuat…
    • Muhamad Mukhtar Zaedin ‎@ selamat sore BundaLia, salam kasih dan kangen selalu. semoga semua selalu baik dan sehat. *monggo dipun lajengaken,,

      16 Oktober jam 16:08 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…
    • Pangeran Joyo Kusumo hem… tansoyo rahayu gumelareng carito agawe tentremeng jiwo… salam kasih slalu rahayu…3x

      16 Oktober jam 20:17 · Tidak SukaSuka · 1 orangMemuat…

  • Tulis komentar…
Iklan

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on Oktober 21, 2011, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: