“Bambang Ekalaya”

“Bambang Ekalaya” 

(Klik Judul Ikuti Kelanjutanya) http://www.catatan.songgobuwono.com/semar.html

 
oleh Bunda Lia pada 25 Oktober 2011 jam 19:43
“Bambang Ekalaya” (Klik Judul Ikuti Kelanjutanya) http://www.catatan.songgobuwono.com/semar.html

Kenalkah anda dengan tokoh ksatriya yang bernama Bambang Ekalaya ? Sebuah kisah tragis mengiringi perjalanan hidupnya… Bambang Ekalaya adalah seorang ksatriya tampan yang mempunyai kemauan keras serta bakat yang luar biasa… Hal itu masih belum cukup untuk menggambarkan pribadinya yang demikian mantap dan gagah berani menapaki kehidupan yang sungguh sangat berat dan berkesan tidak adil pada dirinya..

Bagaimana tidak …  Atas keinginannya yang kuat untuk belajar memanah pada Begawan Drona, maka dia memberanikan diri untuk menghadap dan memohon untuk bisa menjadi murid Sang Begawan… Karena memang terikat janji pada kekuasaan di Astinapura bahwa Begawan Drona hanya akan mengajarkan ilmu kaprajuritanya pada Pandhawa dan Kurawa saja maka ditolaklah permohonan Bambang Ekalaya… Tidak patah semangat sampai di situ saja, Bambang Ekalaya membuat patung perwujudan Begawan Drona, dan sambil membayangkan bahwa patung itu adalah Begawan Drona yang sesungguhnya maka secara otodidak dia mulai belajar memanah (olah kridhaning jemparing) dan ilmu keprajuritan lainnya.. Bagaimana kelanjutanya….Nanti dulu ……  kita baca yang ini dulu…..

Ketika masih remaja, Pandawa dan Korawa didik oleh seorang Brahmana yang sakti dan terkenal dengan ajian Danurwedanya yaitu Resi Drona. Seorang Brahmana mulia dan guru utama bagi putra raja Hastinapura. Resi Drona mengajarkan berbagai ilmu kepada para siswa sesuai dengan bakat dan kemampuannya. Suatu ketika para siswa di ajar untuk memanah. Maka digantunglah sebuah apel dengan seutas tali di dahan pohon mangga. Satu per satu para siswa diminta untuk memanah apel tersebut. Duryudana tampil terlebih dahulu dengan gendewa di tangan dan langsung menarik busur dan membidik anak panah ke arah apel tersebut.

Lalu Resi Drona bertanya kepada Duryudana, “Ananda … apakah yang kamu lihat saat kamu membidik ?”.Sambil tetap membidikkan anak panah, Duryuduna menjawa, “Guru, saya melihat apel yang di gantung tali, dan di atas pohon juga aku lihat seekor burung kecil yang tengah berkicau”. Lalu dilepasnya anak panah, yang ternyata melenceng sangat jauh dari sasaran. “Huuuuu … “, Pandawa dan Korawa bersorak mencemooh Sang Duryudana. Lalu berikutnya Bima juga maju dan ditanya hal yang sama. Bima menjawab, “Hamba melihat apel, batang dan daun yang berjatuhan tertiup angin”. Panah melesat, sayang tidak mengenai apel, melainkan tertancap kuat di ranting pohon duren itu. “Weeehhhh ….”, teriak para korawa sambil mengejek Bima yang merah padam mukanya karena malu. Tidak satupun dari para siswa yang mampu mengenai buah apel itu. Sehingga tiba saatnya Arjuna maju dengan gendewanya yang indah.

Pertanyaan yang sama diajukan oleh Sang Resi Drona, Mahaguru Utama, “Anakku Arjuna, apakah yang engkau lihat saat membidik ?”. Arjuna dengan tegas menjawab, “Aku melihat apel merah”. Kembali Drona menegaskan pertanyaannya “Apa lagi yang kaulihat selain apel itu anakku ?”. Sambil memicingkan mata Arjuna kembali menjawab, “Saya hanya melihat apel merah, guru”. Lalu Drona segera berkata, “Lepaslah sekarang anak panahmu muridku … engkau akan berhasil !”. Lalu melesat secepat kilat anak panah dari gendewa nan indah, meluncur cepat mengarah ke apel merah yang tergantung sangat jauh dari tempat Arjuna berdiri.

Dan … Cep … panah tersebut persis menancap dan menembus bagian tengah apel merah yang tergantung itu. Segera teriakan bangga lima bersaudara Pandawa menggema … diiringi dengan gerutu para Korawa yang berjumlah seratus itu, menggumam bagai suara tawon yang sedang diusik sarangnya. Lalu dengan lantang Sang Drona berkata, “Anak-anakku, petiklah pelajaran dari pengalaman ini, renungkanlah bahwa konsentrasi terhadap sasaran adalah hal utama dalam keberhasilan memanah”.

Selain Pandawa dan Korawa, rupanya dari kejauhan ada seorang anak sebaya yang mengintip dari semak-semak. Dia memperhatikan dengan kagum gerak-gerik dan ucapan Resi Drona saat mengajar. Anak ini adalah Bambang Ekalaya seorang pangeran dari negeri seberang. Bambang Ekalaya pernah datang menghadap Resi Drona dan memohon dengan amat sangat agar dapat kiranya dijadikan murid. Akan tetapi permohonan itu di tolak oleh Resi Drona dengan lembut, karena Beliau telah berjanji hanya akan mengajar para Ksatriya putra-putri kerajaan Hastina. Maka disarankan agar Bambang Ekalaya mencari guru yang lebih baik dari diri nya, beserta doa restu agar dia berhasil meraih cita-citanya.





Tidak SukaSuka · · Berhenti Mengikuti KirimanIkuti Kiriman · Bagikan · Hapus

    • K Agus Bebas Bebas Salam sejahtera,.
      Salam berbahagia,..
      Met malam,.”Bunda Lia__________
      25 Oktober jam 19:45 · Tidak SukaSuka · 5Memuat…
    • Bunda Lia Namun Bambang Ekalaya bertekad untuk tetap mengangkat Resi Drona sebagai gurunya. Sehingga dibuatlah patung di tengah Hutan yang sangat menyerupai Resi Drona. Setiap pagi sebelum berlatih, dia bersembahyang didepan patung Sang Resi, untuk memohon restu agar dia dilimpahkan ilmu memanah yang sakti. Alkisah, setelah berbulan-bulan, Bambang Ekalaya menjadi sangat sakti, bahkan lebih sakti dari para ksatria Pandawa dan Korawa yang didik langsung oleh Resi Drona… sebegitunyakah….. wah kalau ada murid semacam ini bagaimana ya waktu sekarang ini…????
      25 Oktober jam 19:46 · Tidak SukaSuka · 11Memuat…
    • Bunda Lia Selamat malam mas K Agus Bebas terimakasih mas….
      25 Oktober jam 19:47 · Tidak SukaSuka · 6Memuat…
    • K Agus Bebas Bebas Hehehehe,…daunnya segar bangettt,.”Bunda Lia…..
      Bagaikan manusia yg barusan berkorban,…
      Met berkorbannya,..yacgh Bunda Lia.
      _______________AMIN_________________
      25 Oktober jam 19:50 · Tidak SukaSuka · 4Memuat…
    • Bunda Lia Mas K Agus Bebas bisa saja…
      25 Oktober jam 19:57 · Tidak SukaSuka · 5Memuat…
    • K Agus Bebas Bebas Hehehehe,…tanks atas kebersamaan nya,.Bunda Lia.
      saya duluan yacghh.met malam_________Gbu
      25 Oktober jam 19:59 · Tidak SukaSuka · 4Memuat…
    • Bunda Lia He he he ya mas K Agus Bebas monggo…
      25 Oktober jam 20:12 · Tidak SukaSuka · 4Memuat…
    • Edy Yusuf Ritonga Selamat malam Bunda Lia dan seluruh keluarga besar yg hadir …

      nembah nuwun sangat yo Bunda atas wedaran nya, seperti biasa saya nyimak aja ya Bunda ” ge sdikit mumet juga ni Bunda myelesaikan sdikit tugas ….
      he he he he

      salam taklim saya Bunda …… Rahayu ….

      25 Oktober jam 20:13 · Tidak SukaSuka · 6Memuat…
    • Kakang Prabu Anom Selamat malam Bunda… semoga sehat selalu & tetap semangat.. jangan lupa istirahat untuk jaga stamina… salam kasih & rahayu..
      25 Oktober jam 20:13 · Tidak SukaSuka · 5Memuat…
    • Aby Airbyon Maturnuwun Bunda BEnya,jd teringat sahabat sepuh yg jg saya kenal di maya ini.Jgn lupa tetap perhatikan jam istirahat Bunda sbelum sakit
      25 Oktober jam 20:15 · Tidak SukaSuka · 6Memuat…
    • Bunda Lia Selamat malam Dik Edy Yusuf Ritonga sabar ya… doaku selalu…
      25 Oktober jam 20:20 · Tidak SukaSuka · 5Memuat…
    • Bunda Lia Kakang Prabu Anom… ya Kang aku nggak lama kok….
      25 Oktober jam 20:21 · Tidak SukaSuka · 6Memuat…
    • Bunda Lia Dik Aby Airbyon sayang ya nggak lupa istirahat kok … makasih ya….
      25 Oktober jam 20:22 · Tidak SukaSuka · 4Memuat…
    • Arya Kamajaya Selamat malam Bunda Lia… Semoga tetap tersenyum,, semangat dan sehat selalu…
      Salam kasih penuh damai selalu… mugi rahayu…
      25 Oktober jam 20:26 · Tidak SukaSuka · 5Memuat…
    • Bunda Lia
      Hal ini terbukti ketika ada pertandingan memanah, dan ternyata Bambang Ekalaya lebih sakti daripada Arjuna. Lebih terkejut lagi, ternyata Bambang Ekalaya juga menguasai ilmu memanah Danurwedha yang terkenal itu. Lalu bertanyalah para Korawa, siapa yang menjadi guru dari Bambang Ekalaya. Maka menjawablah Bambang Ekalaya, bahwa gurunya adalah Resi Drona. Mendengar hal itu, lalu para Korawa berbondong-bondong datang mengadu kepada Prabu Drestarata, ayah dari para Korawa. Prabu Drestarata lalu memanggil Resi Drona, dan mengingatkan dia akan janjinya, untuk tidak mengajarkan ilmu utama itu kepada Ksatria dari negara lain….Lihat Selengkapnya

      25 Oktober jam 20:30 · Tidak SukaSuka · 8Memuat…
    • Bunda Lia Makasih mas Arya Kamajaya…. selamat malam….
      25 Oktober jam 20:33 · Tidak SukaSuka · 4Memuat…
    • Edy Yusuf Ritonga
      Trima kasih Bunda Lia atas doa Bunda moga di balas ALLAH SWT dengan limpahan rahmat dan hidayah berupa kesehatan ,kemudahan ,kelapangan, dan dan di jauh kan dari hal yg gak di inginkan…
      Amin YRA ..

      Pasti Bunda ,, gak ada kata menyerah dalam kamus hidup kita ,,
      tetap semangat ” never give up “,,

      semangat ya Bunda jaga kondisi kesehatan
      saya doa kan moga cepat pulih Bunda ..
      semangat …. semangat ….. semangat Bunda ..

      salam taklim saya Bunda … Rahayuu …Lihat Selengkapnya

      25 Oktober jam 20:34 · SukaTidak Suka · 4Memuat…
    • Bunda Lia
      Resi Drona agak bingung dengan kenyataan ini, dan meminta waktu untuk mendapatkan jawabannya. Karena dia sama sekali tidak pernah merasa, mengangkat seorang murid dari negara lain. Akhirnya dibuntutilah Bambang Ekalaya, sampai ke tempatnya berlatih. Dia terkejut melihat patung dirinya, berdiri tegak di tengah-tengah sanggar pemujaan Sang Ksatria utama. Bambang Ekalaya tengah khusuk, berdoa dihadapan patung dirinya itu. Lalu disapalah Bambang Ekalaya oleh Resi Drona … “Hemmmm … anakku Bambang Ekalaya … rupanya kamu memiliki sanggar pemujaan di sini ya”.Lihat Selengkapnya

      25 Oktober jam 20:36 · SukaTidak Suka · 8Memuat…
    • Trah Kidung Alam Met malam Bunda sugeng rahayu… Yang aku lihat cuma hatinya bunda yg slalu cantik… Betul lho Bunda…?? Tuh kelihatan dari sorot mata Bunda… Hehehe.
      25 Oktober jam 20:37 · SukaTidak Suka · 3Memuat…
    • Bunda Lia Sangat terkejut Bambang Ekalaya mendengar suara yang sangat dikaguminya itu, dengan setengah tidak percaya, dia melihat Resi Drona dengan gagah dan berwibawa berdiri di hadapannya. Sambil menyembah Bambang Ekalaya berkata “Duhhhh sendiko dawuh , Guru yang hamba puja dan hormati, ada apakah gerangan engkau datang ke tempat hamba yang hina ini”. “Terimalah sembah sujud hamba kepadamu”.
      25 Oktober jam 20:38 · SukaTidak Suka · 7Memuat…
    • Bunda Lia Sama2 dik Edy Yusuf Ritonga… yang penting selalu berusaha, jangan menyerah… dan jangan mengeluh nikmatilah aku yakin Dik Edy bisa dan harus bisa…
      25 Oktober jam 20:39 · Tidak SukaSuka · 4Memuat…
    • Bunda Lia Mas Trah Kidung Alam kadangku kang kinasih … kidungmu menggema padahal kidung Sabdopalon akan kita bacakan di Laut Selatan tepatnya tgl.11-11-2011… selamat malam kadangku… salam kasihku selalu…
      25 Oktober jam 20:41 · SukaTidak Suka · 5Memuat…
    • Antok Nuansa Antika Trima kasih Bunda slamat malam..
      25 Oktober jam 20:42 · SukaTidak Suka · 3Memuat…
    • Bunda Lia
      Lalu Guru Drona bertanya, latar belakang segala yang terjadi selama ini, dan dengan penuh hormat, Bambang Ekalaya menceritakan perjalanannya meraih ilmu dengan cara belajar sendiri dan memuja patung Resi Drona untuk mendapatkan restu dari Sang Guru. Trenyuh dan terharu Resi Drona mendengar penuturan dari Bambang Ekalaya. Dia sadar, bahwa kemampuan sang murid dalam belajar sendiri sangat luar biasa. Hanya dengan rasa bhakti terhadap guru, walau tanpa diajar langsung, dia dapat menguasai ilmu Danurweda yang terkenal sangat sulit untuk dipelajari namun sangat ampuh…. luar biasa hanya dengan batin yang khusuk dan niat yg besar… tanpa pernah bicara atau komonikasi pakai HP atau FB Bambang Ekalaya… mampu mendapatkan ilmu seseorang yg dipuja…. yaitu Resi Drona…Lihat Selengkapnya

      25 Oktober jam 20:43 · Tidak SukaSuka · 7Memuat…
    • Bunda Lia Selamat malam mas Antok Nuansa Antika… selamat datang… temu pole mas Antok… de’maah kabaren … Amogi Alloh Ta’ala begi kebaikan Mas Antok sekeluarge ta’iye….
      25 Oktober jam 20:46 · Tidak SukaSuka · 5Memuat…
    • Bunda Lia
      Dan setelah mendengar penjelasan dari Sang Ksatria utama, maka termenunglah Resi Drona, hatinya gundah gulana melihat kenyataan yang dia hadapi. Melihat kesedihan yang terpancar dari roman muka Sang Guru, lalu Bambang Ekalaya bertanya, ada apa gerangan, sehingga menjadi berduka seperti itu. Berkatalah Sang Guru, “Bambang Ekalaya anakku, aku terharu akan usahamu dalam melaksanakan swadhyaya atau belajar sendiri”. Engkau mampu menguasi ilmu Danurweda yang sangat sulit ini, yang bahkan akupun belajar dengan guruku selama bertahun-tahun. Sedangkan ananda dapat menguasainya dalam waktu singkat dan sangat sempurna, hanya dengan rasa bhaktimu dirimu mampu mendapatkan Danurweda……Lihat Selengkapnya

      25 Oktober jam 20:51 · Tidak SukaSuka · 9Memuat…
    • Antok Nuansa Antika Alhamdulillah berkat dueh Bunda Lia sehat ta’ korang panapa..
      25 Oktober jam 20:51 · SukaTidak Suka · 3Memuat…
    • Edy Yusuf Ritonga
      Insya ALLAH Bunda Lia ,,,

      trima kasih Bunda atas smua doa dan saran Bunda , moga di balas ALLAH SWT dgn pahala dan kebaikan berlipat-lipat ganda …

      bunda saya ijin pamit Bunda saya mau diskusi ke tempat teman,,
      biar lebh enak di t4 beliau belajar nya ..
      saya tetap nyimak Bunda …

      salam taklim saya Bunda .,…. RahayuLihat Selengkapnya

      25 Oktober jam 20:54 · Tidak SukaSuka · 5Memuat…
    • Bunda Lia Syukur ikut senang ateh kaula mas Antok Nuansa Antika… begi salam kaulo nggih begi keluarge…. salam ormat ogih santun kaule…
      25 Oktober jam 20:57 · SukaTidak Suka · 4Memuat…
    • Aring Sukaton Asalamualaikum wrwb

      Saya hadir dan mengikuti cerita wayang ini sbg pengetahuan budaya , tp saya ga mengerti crita wayang hehehe biar sedikit tau
      Selamat malam

      25 Oktober jam 20:58 · SukaTidak Suka · 4Memuat…
    • Antok Nuansa Antika InsaALLAH Bunda Lia..mator kaso’on
      25 Oktober jam 21:00 · SukaTidak Suka · 3Memuat…
    • Bunda Lia Wa’alaikum salam mas Aring… pangapuro nggih mas Aring poleh… njek pade’ biasa banyak agelek… cetak rasana nyot nyot… todus rasana angocak dek iye’ hemmmm …. gik leso nika …
      25 Oktober jam 21:02 · Tidak SukaSuka · 4Memuat…
    • Bunda Lia Kalngkong mas Antok Nuansa Antika
      25 Oktober jam 21:03 · Tidak SukaSuka · 4Memuat…
    • Bunda Lia
      Namun ketahuilah ananda, aku sekarang berada dalam posisi sangat sulit, dan ini tidak sama sekali karena kesalahanmu. Ketahuilah, bahwa aku pernah berjanji kepada Prabu Drestarata, untuk tidak mengangkat murid selain dari keluarga Hastina. Dan akibat ulah dari pada Korawa setelah kalah perang tanding denganmu, maka aku dituduh berkhianat terhadap janji yang telah aku ucapkan sendiri. Sedangkan menepati janji adalah kewajiban utama bagi seorang Brahmana. Mungkin ini memang sudah jalanku, sehingga aku tidak bisa melanjutkan cita-citaku sejak lama untuk menjadi Brahmana Kerajaan. Tapi ketahuilah, aku sangat bangga kepadamu Bambang Ekalaya. Engkau akan menjadi contoh bagi generasi muda, yang tidak cengeng, dan mampu mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi. Engkau menjadi contoh bahwa belajar sendiri dengan upaya yang sungguh-sungguh, akan dapat menghasilkan kemampuan sama bahkan lebih baik, daripada siswa yang berguru secara langsung…. sungguh aku kagum padamu ananda….Lihat Selengkapnya

      25 Oktober jam 21:08 · Tidak SukaSuka · 10Memuat…
    • Yuyun Yuwonowati Priyono Knapa sasaran memanah buah APEL Bund ? Merah ! Arti. APEL , se2orang hendaknya Agamanya kuat , Pekertinya terpuji , Ekonominya hebat , Luhur jiwanya .untk diterapkn dlm kehidupan manusia. Nuwun Bunda Lia nan cantik ♣♧°˚˚˚°♧ÍňĴĺĥ♧°˚˚˚°♧♣ maturnuwun
      25 Oktober jam 21:10 · SukaTidak Suka · 3Memuat…
    • MasTebe Budiharto Sugeng ndalu Bundaku…kulo nderek nyimak kemawon…
      25 Oktober jam 21:17 · SukaTidak Suka · 4Memuat…
    • Bunda Lia
      Maka menangislah Bambang Ekalaya … dan sambil bersujud kepada Resi Drona meminta maaf atas kelakuannya yang telah menyusahkan hati Sang Guru yang sangat dia hormati. Seraya berkata, apa yang dia dapat dilakukan untuk menebus kesalahannya. Resi Drona kembali berkata, bahwa ini bukanlah kesalahan dari Bambang Ekalaya … namun ini hanya karena takdir. Namun Bambang Ekalaya bersikukuh dengan pendirian, bahkan mau mengorbankan nyawa demi Guru yang dia cintai.Lihat Selengkapnya

      25 Oktober jam 21:18 · Tidak SukaSuka · 9Memuat…
    • Syahwir Papude Salaam..!! Alhamdulillah wasy syukru lillah,,; BUNDA LIA,,salaam Cinta kasihku selalu,,demikian pula salaam Hormat dan Santunku buat seluruh Saudara~Saudaraku,,yg telah hadir disini..!!
      25 Oktober jam 21:19 · SukaTidak Suka · 4Memuat…
    • Jagad Satria Njiiih bunda….ingkang atos2 kmwn entukipun medar njih. Bilih tesih sayah istrhat. Ampun supe obte bunda….gegambaran keris ingkang wonten pakeliran puniko mbahayani….tumrap ksatria kekalih…hanyuwun pangapunten bunda saking sdyo klptanipun kulo…sungkem kulo ktr njengandiko bunda.
    • Antok Nuansa Antika Slamat malam ki Jagat satria
      25 Oktober jam 21:20 · SukaTidak Suka · 4Memuat…
    • Bunda Lia
      Akhirnya setelah lama berdialog, akhirnya Bambang Ekalaya berjanji untuk tidak menggunakan ilmu Danurweda tersebut, dan sebagai tandanya, dia merelakan ibu jari tangan kanannya dipotong, sehingga tidak bisa memanah lagi. Serta merta, Bambang Ekalaya memotong ibu jari tangannya … darah menetes dengan deras … dan sambil tetap dengan rasa hormat, di persembahkanlah ibu jari itu kepada Resi Drona yang sangat dia hormati..Lihat Selengkapnya

      25 Oktober jam 21:20 · Tidak SukaSuka · 9Memuat…
    • Antok Nuansa Antika Slamat malam ki Abdullah
      25 Oktober jam 21:21 · SukaTidak Suka · 3Memuat…
    • Bunda Lia
      Maka terkejutlah Resi Drona terhadap pengorbanan dari Bambang Ekalaya, dengan menangis haru, Resi Drona memberikan restu dan mendoakan Bambang Ekalaya, kelak menjadi Ksatria dan Raja Utama. Dengan rasa hormat dan terima kasih, Bambang Ekalaya memeluk kaki Sang Guru, seraya mohon pamit untuk kembali ke negaranya. Lalu mereka berpisah, dan Resi Drona kembali ke Hastina dan menceritakan kepada Prabu Drestarata tentang hal yang terjadi. Akhirnya Guru Drona tetap menjadi Brahmana Kerajaan di Hastina, sedangkan Bambang Ekalaya menggantikan ayahnya menjadi Raja di negara Nisada…..Lihat Selengkapnya

    • Jagad Satria Njiih sugeng ndalu mas antok…sugeng kenal kmwn kagem pnjenengan.
      25 Oktober jam 21:38 · SukaTidak Suka · 4Memuat…
    • MasTebe Budiharto Lanjut Bundaku …sy msh setia menyimak & mennunggu wedaran selanjutnya dari cerita ini …monggo dipun lajengaken …
      25 Oktober jam 21:42 · SukaTidak Suka · 3Memuat…
    • Effi Mustika Widiarini malam Bundaku….. fiiiii ikut nyimak saja….
      25 Oktober jam 21:44 · SukaTidak Suka · 3Memuat…
    • Eko Susanto Sugeng Ndalu Bunda Lia… Dalem Nderek Nyimak Injih Bun….. Maturnuwun Sanget….. Salam Kasih Dan Damai Dihati Bunda dan Poro Sederek Kadang Kinasih Kang Hadir……. Nuwun.
      25 Oktober jam 21:48 · SukaTidak Suka · 5Memuat…
    • Arie Setiawanti malem bun……….malem semua…………semoga bunda cpt pulih ya……salam kasih buat semua…….
      25 Oktober jam 22:02 · SukaTidak Suka · 3Memuat…
    • Hari Yuswadi sugeng ndalu bunda. mugi bunda kaparingan sehat.salam ugi dumateng sederek ingkang sampun sowan.
      25 Oktober jam 22:04 · SukaTidak Suka · 2Memuat…
    • Muhammad Kromo Sagirat Sugeng ndalu Den Ayu..
      Maturnuwun wedaranipun..
      Kawulo nyiwak mawon..
      25 Oktober jam 22:07 · SukaTidak Suka · 3Memuat…
    • Nur Santi Bhumi Ningtyas
      Waduh lg nyantai sambil menyimak y Bun?hehe
      jd inget nie ama kawan ‘Bambang Ekoloyo’ kemana y beliau?lama g terlihat..
      Matur nuwun Bun, sugeng daluuu
      25 Oktober jam 22:20 · SukaTidak Suka · 2Memuat…
    • Trah Kidung Alam Sang_Resi> Mengingkari janji tuk berbuat baik/menipu untuk baik (benar2 baik).
      25 Oktober jam 22:51 · SukaTidak Suka · 1Memuat…
    • Pangeran Joyo Kusumo Rahayu tenan… Carito kang tinoto… Salam kasih slalu rahayu…
      26 Oktober jam 0:52 · SukaTidak Suka · 1Memuat…

  • Tulis komentar…

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on Desember 4, 2011, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: