Perebutan Pengaruh Antara Wisnu Dan Semar.

Perebutan Pengaruh Antara Wisnu Dan Semar. ( Ingin mengikuti kisah ini silahkan Klik gambar ) http://www.catatan.songgobuwono.com

oleh Bunda Lia pada 21 Oktober 2011 jam 20:19
Perebutan Pengaruh Antara Wisnu Dan Semar.  
( Ingin mengikuti kisah ini silahkan Klik gambar )      http://www.catatan.songgobuwono.com

Dalam epos Ramayana maupun Bharata Yudha, tidak dikenal tokoh Semar.  
Semar hanya dikenal dalam cerita pewayangan di Jawa. Nenek moyang kita, pujangga-pujangga jawa jaman dahulu telah berhasil mengakulturasi dan memadukan kedua epos di atas dengan cerita lokal, dengan tokoh lokal “Semar”. Ini merupakan “local genius” dari bangsa Indonesia. Dan akhirnya wayang diakui dunia melalui unesco, sebagai warisan budaya dunia.

Dalam cerita ramayana versi aslinya, Sri Rama adalah titisan Wisnu, yang selalu diikuti oleh Anoman sebagai perwujudan “Bayu”.
Sri Rama selalu didampingi oleh adiknya, Laksmana. Ini merupakan perwujudan dari ‘loro ning atunggal’. Dalam kisah Maha Bharata, yang merupakan titisan Wisnu adalah Sri Bathara Krisna. Dan yang menjadi simbol ‘loro ning atunggal’ adalah Arjuna. Kedua tokoh ini tidak bisa dipisahkan. Sedangkan perwujudan ‘Bayu’ dalam Maha Bharata adalah Bima. Sri Rama akan lemah jika tidak didampingi oleh Laksmana dan Anoman. Ketiga kekuatan itu menyatu bagaikan tiga ujung senjata “Trisula”, sehingga Sri Rama tidak terkalahkan dalam peperangan melawan Alengka Pura.

Ada sisi kelemahan dalam filosofi ini. Jika salah satu unsur tidak terpenuhi, maka kekuatan itu menjadi sirna. Para pujangga jawa jaman dahulu, melihat sisi kelemahan ini. Dengan memasukkan tokoh Semar, dalam cerita itu, menjadikan filosofi tentang penyatuan kekuatan menjadi lebih sempurna. Namun ada unsur penetrasi pada kisah Maha Bharata versi Jawa. Semar dipaksakan masuk dan mengambil alih tugas dari Wisnu. Semar bertugas sebagai pamong, yang mengayomi para ksatria yang berbudi luhur. Unsur pengayoman dari Wisnu, sedikit dikurangi dan porsi dari Semar menjadi lebih dominan. Sebagai contoh, dalam kisah Semar Mbangun Kahyangan, usaha semar selalu dihalangi dan berusaha digagalkan oleh Sri Krisna.  

“Semar” merupakan simbolik nenek moyang orang jawa. Sedangkan Sri Krisna, yang merupakan titisan Wisnu, adalah adopsi dari tradisi Hindu di India. Dari keseluruhan kisah Ramayana maupun Maha Bharata di indonesia, menjadi lebih menarik, karena sudah bercampur dengan tradisi dan muatan lokal, tanpa menghilangkan jalannya cerita utama. Semar sebagai tokoh central, berupaya memperbaiki keadaan. Dengan mendirikan tapa dan berdoa kepada Tuhan, konotasi dari “Mbangun Kahyangan”. Disini unsur keislaman dimasukkan dengan munculnya simbolis dari ketiga pusaka : “Serat Kalimasada, Tumbak Kalawelang dan Payung Tunggulnaga”.

Usaha ini berusaha d gagalkan oleh Sri Krisna yang merupakan Titisan Wisnu, sudah jelas bahwa penganggit cerita ini ingin mengedepankan filsafat islam, tanpa meninggalkan budaya tradisi leluhur orang jawa maupun tradisi hindu. Sebuah contoh lagi, Dalam versi Maha Bharata aslinya, Mahaguru Rsi Drona, adalah seorang yang sakti dan berilmu tinggi. Seorang guru yang sangat dihormati dan dipundi-pundi oleh pada Kurawa maupun Pandawa. Rsi Drona adalah tokoh yang tidak punya cela sedikitpun. Namun dalam versi jawa, Pandita Durna, berubah menjadi seorang tokoh yang sangat jahat, bahkan ia bersahabat dengan Sengkuni.  
Kedua tokoh ini selalu bekerja sama untuk menindas para Pandawa.  

Jika kita jeli dalam melihat isi cerita Maha Bharata versi jawa, ada peran yang disembunyikan dari kisah ini. “Jangan percaya pada Pendeta (Hindu), percayalah pada pamong “Semar”.  Lepas dari perebutan pengaruh islam dan hindu, kita sebagai “budayawan” Songgo  Buwono, melihat muatan cerita “Semar Mbangun Kahyangan” sebagai momentum yang bagus untuk memperbaiki moral bangsa kita yang semakin terpuruk. Semar adalah figur leluhur, yang arif dan bijaksana, tidak mengenal lelah, dan tak pernah susah.




Tidak SukaSuka · · Berhenti Mengikuti KirimanIkuti Kiriman · Bagikan · Hapus

Iklan

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on Desember 4, 2011, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: