Setubuh Alami-Senyawa Illahi KGRK 3


Setubuh Alami-Senyawa Illahi KGRK 3
Oleh. Bunda Lia Songgo Buwono. http://www.songgobuwono.com

Setubuh Alami-Senyawa Illahi Wikan wengkoning samodra, Kederan wus den ideri, Kinemat kamot hing driya, Rinegan segegem dadi, Dumadya angratoni, Nenggih Kangjeng Ratu Kidul, Ndedel nggayuh nggegana, Umara marak maripih, Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda..Tahu akan batas samudra Semua telah dijelajahi Dipesona nya masuk hati Digenggam satu menjadi Jadilah ia merajai Syahdan Sang Ratu Kidul Terbang tinggi mengangkasa Lalu datang bersembah Kalah perbawa terhadap Junjungan Mataram…

Tidak Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Bagikan · Sunting · Rabu melalui BlackBerry Smartphones App

  • 1 kali dibagikan
    • Bunda Lia Setubuh alamai-senyawa Illahi Yang artinya : Mengetahui/mengerti betapa kekuasaan samodra, seluruhnya sudah dilalui/dihayati, dirasakan dan meresap dalam sanubari, ibarat digenggam menjadi satu genggaman, sehingga terkuasai. Panembahan Senopati dikisahkan dalam babad Tanah Jawa memiliki kebiasaan yang hebat dalam olah rasa, meditasi dan gentur bertapa. Salah satu ritual wajib yang dilakukannya untuk melatih kesabaran adalah membuang cincinnya sendiri ke sungai dan kemudian mencarinya hingga ketemu. Tindakan unik dan nyeleneh diluar kebiasaan ini membuahkan hasil berupa diperolehnya kawicaksanan tertinggi, ilmu-ilmu ketuhanan yang mumpuni serta kesaktian yang pilih tanding.

      Saben mendra saking wisma
      Lelana laladan sepi
      Ngisep sepuhing sopana
      Mrih para pranaweng kapti

      Setiap kali keluar rumah
      Wisata ke wilayah sunyi sepi
      Menghidup napas kerokhanian
      Agar arif kebulatan awal akhir,

      Rabu pukul 18:08 · Tidak Suka · 12
    • Bunda Lia Ijin dulu ya menghadap Magrib…. magrib … yok….
      Rabu pukul 18:08 · Tidak Suka · 3
    • Danang Rawa Kenyot Joss,,,
      Rabu pukul 18:08 · Tidak Suka · 2
    • Anton Stone Ratu Pantai Selatan…fantastic!!!
      Rabu pukul 18:09 · Tidak Suka · 2
    • Ronggo Waskito · 37 teman yang sama
      Betul betul betul
      Rabu pukul 18:09 · Tidak Suka · 2
    • Krht Suripto Diningrat Wong Agung Ngeksigondo…Panembahan Senopati….
      Rabu pukul 18:10 · Tidak Suka · 3
    • Herri Teguh abis magrib to be continue
      Rabu pukul 18:15 · Tidak Suka · 2
    • Bunda Lia Selamat malam semuanya saudara/saudariku yg terkasih… kita menginjak hari ke 3 penjabaran dan mengumpulkan berbagai fersi mitos dan legenda berbagai daerah…. memang asyik sih tapi kali ini bener2 kita sambil belajar ya tambah pengalaman saja kan…??? Baik dipakai kurang baik buang jauh2…. Ok… Maaf tak dapat menyalami satu persatu karena sudah banyak yg hadir…. sekali lagi selamat malam damai saudara/saudariku… bahagia dimalam hari ini bersama saya yg ingin belajar bersama panjenengan tentang KGRK… Ok… salam kasihku selalu dan maafkan apa bila tulisan saya adakurang lebihnya saya mohon maaf….
      Rabu pukul 18:24 · Tidak Suka · 8
    • Kozink Saputra Sugeng ndalu bunda . Kozink hadir hehehe kaltim dh seleai magrib niki wou.salm rahayu bunda
      Rabu pukul 18:26 · Tidak Suka · 2
    • Bunda Lia Sungguh hebat dan luar biasa ya KGRK seantero punya Mitos dan Legenda… bagaimana kita nggak percaya… kalau ghoib itu ada… masak nenek moyang kita berbohong, ya nggak lah…. Tersebutlah Kangjeng Ratu Kidul, naik ke angkasa, datang menghadap dengan hormat, kalah wibawa dengan raja Mataram. Ada versi lain dari masyarakat Sunda (Jawa Barat) yang menceritakan bahwa pada jaman kerajaan Pajajaran, terdapat seorang putri raja yang buruk rupa dan mengidap penyakit kulit bersisik sehingga bentuk dan seluruh tubuhnya jelak tidak terawat.Oleh karena itu, Ia diusir dari kerajaan oleh saudara-saudaranya karena merasa malu mempunyai saudara yang berpenyakitan seperti dia. Dengan perasaan sedih dan kecewa, sang putri kemudian bunuh diri dengan mencebur ke laut selatan…. dan ada lagi cerita…. Pada suatu hari rombongan kerajaan Pajajaran mengadakan slametan di Pelabuhan Ratu…..
      Rabu pukul 18:29 · Tidak Suka · 7
    • Sultan Samber Nyowo Al-jabbaar kulo nyimak mawon bun…
      Rabu pukul 18:33 · Tidak Suka · 2
    • Pebriana Wahyu Ningtyas · 18 teman yang sama
      Saya minta Ijin nyimak, bunda 🙂
      Rabu pukul 18:35 · Tidak Suka · 2
    • Bunda Lia Pada saat mereka tengah kusuk berdoa muncullah si putri yang cantik jelita dan mereka tidak mengerti mengapa ia berada disitu, kemudian si putri menjelaskan bahwa ia adalah putri kerajaan Pajajaran yang diusir oleh kerajaan dan bunuh diri di laut selatan, tetapi sekarang telah menjadi Ratu mahluk halus dan menguasai seluruh Laut Selatan. Selanjutnya oleh masyarakat, ia dikenal sebagai Ratu Kidul. Dari cerita-cerita mitos tentang Kangjeng Ratu Kidul, jelaslah bahwa Kanjeng Ratu Kidul adalah penguasa lautan yang bertahta di Laut Selatan dengan kerajaan yang bernama Karaton Bale Sokodhomas….
      Rabu pukul 18:36 · Tidak Suka · 7
    • Kozink Saputra Lanjuut bundaku..
      Rabu pukul 18:39 · Tidak Suka · 2
    • Diah Astuti · Berteman dengan Ayah Fauzie dan 17 lainnya
      lanjut bunda… Msh menyimak nih.. Suwun:)
      Rabu pukul 18:40 · Tidak Suka · 2
    • Panca Saraksa ouh…hebat ya ?
      Rabu pukul 18:41 · Tidak Suka · 2
    • Panca Saraksa belajar ilmu keperintahannya dari siapa ya ?
      Rabu pukul 18:42 · Tidak Suka · 2
    • Bunda Lia Bingung juga ya… he he he … makin asyik kalau kita perhatikan…. mitos2 nanti akan tersimpul loh nama keratonnya beda kan… nah bagaimana dengan mitos yg lain… kitasimak lagi…. semoga menemukan titik temu he he he…. Mitosini lain lagi…. kita simak saja…. Pertemuan Kangjeng Ratu Kidul Dengan Penembahan Senopati Sebelum Panembahan Senopati dinobatkan menjadi raja, beliau melakukan tapabrata di Dlepih dan tapa ngeli. Dalam laku tapabratanya, beliau selalu memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar dapat membimbing dan mengayomi rakyatnya sehingga terwujud masyarakat yang adil dan makmur. Dalam cerita, pada waktu Panembahan Senopati melakukan tapa ngeli, sampai di tempuran atau tempat bertemunya aliran sungai Opak dan sungai Gajah Wong di dekat desa Plered dan sudah dekat dengan Parang Kusumo, Laut Selatan tiba-tiba terjadilah badai dilaut yang dasyat sehingga pohon-pohon dipesisir pantai tercabut beserta akarnya, ikan-ikan terlempar di darat dan menjadikan air laut menjadi panas seolah-olah mendidih. Bencana alam ini menarik perhatian Kangjeng Ratu Kidul yang kemudian muncul dipermukaan laut mencari penyebab terjadinya bencana alam tersebut…. ada apa gerangan …??? Mengapa sampai laut selatan bergejolak hebat….
      Rabu pukul 18:43 · Tidak Suka · 7
    • Ki-Bayu Aji bundaaaaaaaaaa kangen neee buuund…………… sugeng sonten mugi tansah rahayu, sehat soho sempat……………
      Rabu pukul 18:43 · Tidak Suka · 2
    • Krht Suripto Diningrat Saya pernah mendengar cerita ,bahwa Puteri Kadhita pada zaman Kerajaan Gelang gelang Jayakatwang,terusir dari Keraton,karena ulah saudari2nya,dan menceburkan diri di Laut Kidul,menjadi Ratu dari kerajaan gaib…..wallahu alam
      Rabu pukul 18:44 · Tidak Suka · 3
    • Rochman Soesilo Soesilo · Berteman dengan Susanti Ones
      Bumi goncang ganjing…metu medal melebet….heehehe….
      Rabu pukul 18:45 · Tidak Suka · 2
    • Panca Saraksa ini cerita nayi ratu roro kidul apa ibu ratu ?
      Rabu pukul 18:46 · Tidak Suka · 3
    • Krht Suripto Diningrat Pertemuan P.Senopati dg GKR Kidul,di Selo Palenggahan Cepuri Parangkoesoemo……?
      Rabu pukul 18:49 · Tidak Suka · 3
    • Panca Saraksa maaf…nyai ratu roro kidul maksud saya.
      Rabu pukul 18:50 · Tidak Suka · 2
    • Bunda Lia KGRK terusik dan mencari sumbernya dalam percarianya…., Kangjeng Ratu Kidul menemukan seorang satria sedang bertapa di tempuran sungai Opak dan sungai Gajah Wong, yang tidak lain adalah Sang Panembahan Senopati. Pada waktu Kangjeng Ratu Kidul melihat ketampanan Senopati, kemudian jatuh cinta. Selanjutnya Kangjeng Ratu Kidul menanyakan apa yang menjadi keinginan Panembahan Senopati sehingga melakukan tapabrata yang sangat berat dan menimbulkan bencana alam di laut selatan, kemudian Panembahan menjelaskan keinginannya Kangjeng Ratu Kidul memperkenalkan diri sebagai raja di Laut Selatan dengan segala kekuasaan dan kesaktiannya. Kangjeng Ratu Kidul menyanggupi untuk membantu Panembahan Senopati mencapai cita-cita yang diinginkan dengan syarat, bila terkabul keinginannya maka Panembahan Senopati beserta raja-raja keturunannya bersedia menjadi suami Kangjeng Ratu Kidul. Panembahan Senopati menyanggupi persyaratan Kangjeng Ratu Kidul namun dengan ketentuan bahwa perkawinan antara Panembahan Senopati dan keturunannya tidak menghasilkan anak…. perjanjian itu dinamakan perjanjian Abiproyo… sudah saya tulis dalam wedaran 2 malam yg lalu….dan mohon dicari saja yg ada gambar KGRK…..
      Rabu pukul 18:52 · Tidak Suka · 10
    • Panca Saraksa ouh…nyai roro kidul ning…hatur nuhun.
      Rabu pukul 18:54 · Tidak Suka · 3
    • Bunda Lia
      Setelah terjadi kesepakatan itu maka alam kembali tenang dan ikan-ikan yang setengah mati hidup kembali. Adanya perkawinan itu konon mengandung makna simbolis bersatunya air (laut) dengan bumi (daratan/tanah). Ratu Kidul dilambangkan dengan air sedangkan raja Mataram dilambangkan dengan bumi. Makna simbolisnya adalah dengan bersatunya air dan bumi maka akan membawa kesuburan bagi kehidupan kerajaan Mataram yang akan datang. Menurut sejarah bahwa Panembahan Senopati sebagai raja Mataram yang beristrikan Kangjeng Ratu Kidul tersebut merupakan cikal bakal atau leluhur para raja Mataram ,termasuk Karaton Surakarta Hadiningrat. Oleh karena itu maka raja-raja karaton Surakarta sesuai dengan janji Panembahan Senopati yaitu menjadi suami dari Kangjeng Ratu Kidul…..

      Rabu pukul 19:00 · Tidak Suka · 11
    • Bunda Lia
      Dalam perkembangannya, raja Paku Buwono III selaku suami Kangjeng Ratu Kidul telah mendirikan Panggung Songgo Buwono sebagai tempat pertemuannya. Selanjutnya tradisi raja-raja Surakarta sebagai suami Kangjeng Ratu Kidul berlangsung terus sampai dengan raja PB X. Alkisah PB X yang merupakan suami Ratu Kidul sedang bermain asmara di Panggung Songgo Buwono. Pada saat mereka berdua menuruni tangga Panggung yang curam tiba-tiba PB X terpeleset dan hampir jatuh dari tangga tetapi berhasil diselamatkan oleh Kangjeng Ratu Kidul.
      Dalam kekagetannya itu Ratu Kidul berseru : “Anakku Ngger…………..” (Oh……….Anakku). Apa yang diucapkan oleh Kangjeng Ratu Kidul itu sebagai Sabda Pandito Ratu artinya sabda Raja harus ditaati….

      Rabu pukul 19:05 · Tidak Suka · 11
    • Bunda Lia Sejak saat itu hubungan kedudukan mereka berdua berubah bukanlah lagi sebagai suami istri , tetapi hubungannya sebagai ibu dan anak, begitu pula terhadap raja-raja keturunan PB X selanjutnya.
      Rabu pukul 19:06 · Tidak Suka · 10
    • Bunda Lia Panggung Songgo Buwono dan mitosnya…. Secara mistik kejawen, Panggung Songgo Buwono dipercaya sebagai tempat pertemuan raja-raja Surakarta dengan Kangjeng Ratu Kidul, oleh karena itu letak Panggung Songgo Buwono tersebut persis segaris lurus dengan jalan keluar kota Solo yang menuju ke Wonogiri. Konon, menurut kepercayaan, hal itu memang disengaja sebab datangnya Ratu Kidul dari arah Selatan…..
      Rabu pukul 19:08 · Tidak Suka · 10
       

       
       
       
    • Nony Nisa Mantebs
      Rabu pukul 19:14 · Tidak Suka · 3
    • Bunda Lia
      Nah disinilah kita mengenal Panggung Songgo Buwono …. dan ayoh kuajak sedikit mempelajari makna yg tersirat…. Ok…
      Pada puncak bangunan Panggung Songgo Buwono yang berbentuk seperti topi bulat terdapat sebuah hiasan seekor naga yang dikendarai oleh manusia sambil memanah….. Menurut Babad Surakarta, hal itu bukan sekedar hiasan semata tetapi juga dimaksudkan sebagai sengkalan milir….. Bila diterjemahkan dalam kata-kata sengkalan milir itu berbunyi Naga Muluk Tinitihan Janma, yang berarti tahun 1708 Jawa atau 1782 Masehi yang merupakan tahun berdirinya Panggung Songgo Buwono Naga-8, Muluk-0, Tinitihan-7, dan Janma-1 Arti lain dari sengkalan milir tersebut adalah: 8 diartikan dengan bentuknya yang segi delapan, 0 yang diartikan dengan tutup bagian atas bangunan yangberbentuk seperti topi, 7 adalah manusia yang mengendarai naga sambil memanah dan 1 diartikan sebagai tiang atau bentuk bangunannya yang seperti tiang. Namun demikian, sebenarnya nama Panggung Sangga Buwana itu sendiri juga merupakan sebuah sengkalan milir yang merupakan kependekan dari kata Panggung Luhur Sinonggo Buwono…. .

      Rabu pukul 19:14 · Tidak Suka · 9
    • Sultan Samber Nyowo Al-jabbaar lajeng bun…?
      Rabu pukul 19:16 · Tidak Suka · 3
    • Bunda Lia Entar aku nyari gambar / lukisan Panggung Songgo Buwono tak taruhnya ke atas kita … sabar ya….
      Rabu pukul 19:16 · Tidak Suka · 9
    • Wes Ngalam · Berteman dengan Damar Wulan dan 4 lainnya
      rahayu all…nderek..
      Rabu pukul 19:17 · Tidak Suka · 3
    • Kakang Prabu Anom selamat malam bunda, dan semua yg sedang menyimak wedaran malam ini… semoga sehat & sukses selalu.. Rahayu..3x
      Rabu pukul 19:26 · Tidak Suka · 6
    • Bunda Lia
      He he he lukisan masih punya…. fotonya ada…. Panggung Songgo Buwono…. Baik saya teruskan jabaranya…. Dari nama tersebut lahir dua sengkalan sekaligus yang bila diterjemahkan akan didapati dua jenis tahun yaitu tahun Jawa dan tahun Hijryah. Untuk sengkalan tahun Hijryah, Panggung berarti gabungan dua kata, PA dan AGUNG. Pa adalah huruf Jawa dan Agung adalah besar berarti huruf Jawa Pa besar yaitu angka delapan. Sedangkan Songgo adalah gabungan kata SANG da GA yang merupakan singkatan dari Sang atau sembilan dan Ga adalah huruf Jawa atau angka Jawa yang nilainya satu. Serta kata Buwono yang artinya dunia, yang bermakna angka satu pula. Dengan demikian menunjukkan angka tahun 1198 Hijryah. Kemudian untuk sengkalan tahun Jawa kata Panggung Luhur Sinonggo Buwono. Panggung juga tediri dari PA dan AGUNG yang berarti huruf Jawa Pa besar sama dengan 8. Luhur mempunyai makna tanpa batas yang berarti angka 0…..

      Rabu pukul 19:27 · Tidak Suka · 9
    • Bunda Lia
      Sinonggo bermakna angka 7 dan Buwono bermakna angka 1. Shonggo bila digabungkan mempunyai arti yang sama yaitu tahun 1708 Jawa. Kedua tahun tersebut, baik tahun Jawa dan Hijryah bila dimaksukkan atau dikonversikan ke tahun Masehi sama2 menunjukkan angka 1782, saat pembangunan panggung tersebut. Pada Panggung Songgo Buwono masih didapati sebuah sengkalan milir yang pada jaman penjajahan Belanda dirahasiakan adanya. Sebab diketahui sengkalan terakhir ini berupa sebuah ramalan tentang tahun kemerdekaan Indonesia, sehingga jelas akan menimbulkan bahaya apabila diketahui oleh Belanda. Selain itu yang namanya ramalan memang tidak boleh secara gegabah diumumkan, mengingat ketakaburan manusia yang dapat ditaksirkan akan mendahului takdir Tuhan… ndisikki kerso ora apik… he he he…. kenapa??? Pusing ya memaknai… he he he memang nenek moyang kita suka yg rumit2 dan njelimet … semua pakai simbul/ sanepan….

      Rabu pukul 19:32 · Tidak Suka · 9
    • Bunda Lia
      Sengkalan rahasia yang dimaksud adalah terletak pada puncak atas panggung yang telah disinggung yaitu Naga Muluk Tinitihan Janma. Bentuk dari hiasan tersebut adalah manusia yang naik ular naga tengah beraksi hendak melepaskan anak panah dari busurnya, sedangkan naganya sendiri digambarkan memakai mahkota. Hal ini merupakan Sabda terselubung dari Sunan PB III yang kemudian ketika disuruh mengartikan kepada seorang punjangga karaton Surakarta yang bernama Kyai Yosodipuro, juga cocok yaitu ramalan tahun kemerdekaan bangsa Indonesia adalah tahun 1945. Naga atau ular diartikan melambangkan rakyat jelata dan mahkotanya berarti kekuasaan. Dengan demikian keseluruhan sosok naga tersebut menggambarkan adanya kekuasaan ditangan rakyat jelata….. hitungan nenek moyang kita sih hebat ya… maknanya luar biasa… hitungan orang sekarang kok luput terus ya… he he he….

      Rabu pukul 19:39 · Tidak Suka · 10
    • Syaiful Anwar · Berteman dengan Oma Cuin Balqy
      Wah..wah..mantep bngt untaian kata nya…
      Rabu pukul 19:42 · Tidak Suka · 3
    • Radzi Saad Sungguh takjub dan hebat sekali!
      Rabu pukul 19:42 · Tidak Suka · 3
    • Sulistiyo Yudi Assalamualaikum,
      nderek nylenuk Bunda, sampun repot2, kula sampun mbeto kopi & rokok piyambak.
      sugeng dalu Bunda & sedayanipun ingkang sampun rawuh.
      rahayu
      Rabu pukul 19:43 · Tidak Suka · 4
    • Bunda Lia
      Dan gambarkan manusia yang mengendarainya dengan siap melepaskan anak panah diartikan sebagai sasaran, kapan tepatnya kekuasaan berada ditangan rakyat…. waduhhh hebat banget semua serba Rakyat… seandainya tatanan ini… ahhhh jadi berandai2 dech…. Sebenarnya sosok manusia mengendarai naga tersebut dipasang juga untuk mengetahui arah mata angin dan tiang yang berada dipuncaknya dan digunakan untuk penangkal petir…. Hal tersebut oleh Kyai Yosodipuro dibaca sebagai sengkalan juga yaitu keblat Rinaras Tri Buwono. Keblat – 4, Rinaras – 6, Tri – 3 dan Buwono – 1 atau tahun 1364 Hijryah, bila dimasukan atau dikonversikan ke tahun Masehi akan menjadi 1945 yang merupakan tahun kemerdekaan bangsa Indonesia…. Sayangnya bangunan Songgo Buwono beserta hiasan asli dipuncaknya itu pernah terbakar dilalap api tahun 1954, tetapi hingga sekarang kepercayaan masyarakat dan legenda akan bangunan tersebut tidak pernah punah sehingga mereka tetap menghormati dan menghargainya dengan cara selalu melakukan upacara sesaji atau yang lazim disebut caos dahar pada setiap hari Selasa Kliwon atau Anggoro Kasih, setiap malam Jumat atau malam Jumat Kliwon dan saat menjelang upacara-upacara kebesaran karaton…..

      Rabu pukul 19:53 · Tidak Suka · 8
    • Bunda Lia
      Bangunan Panggung Songgo Buwono apabila dilihat sebagai sumbu dari bangunan karaton secara keseluruhan yang menghadap ke arah utara, maka semua Bangunan yang berada di sebelah kiri Panggung Songgo Buwono mempunyai hubungan vertikal dan yang sebelah kanan mempunyai hubungan horisontal. Hubungan vertikal tersebut yaitu hubungan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai kegiatan spiritual misalnya : bangunan Jonggring Selaka, Sanggar Palanggatan, Sanggar Segan, Mesjid Bandengan, Mesjid Pudyasana, Mesjid Suranatan, Mesjid Agung, Gereja Protestan Gladag dan Gereja Katolik Purbayan. Sedangkan hubungan horizontal yaitu kegiatan duniawi manusia misalnya Pasar Gading, Pasar Kliwon, Pasar Gedhe, dan sebelah timur lagi terdapat sarana transportasi Begawan Solo. Panggung Songgo Buwono juga mempunyai arti sebagai penyangga bumi memiliki ketinggian kira-kira 30 meter sampai puncak teratas. Didalam lingkungan masyarakat Solo terdapat sebuah kepercayaan bahwa bangunan-bangunan yang berdiri di kota Solo tidak boleh melebihi dari Panggung Songgo Buwono karena mereka sangat menghormati rajanya dan mempercayai akan kegiatan yang terjadi di puncak bangunan tersebut sehingga apabila ada bangunan yang melanggarnya maka akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan…. begitu …. memang iya… dan betul he he he…. selamat malam semuanya… kok dah ngantuk ki piye jal… Ngopi dulu ya…. he he he…. pusing ya ikut memaknai… aku yakin dibaca 2 kali bisa lebih ya he he he….

      Rabu pukul 20:03 · Tidak Suka · 10
    • Bunda Lia
      Nah sekarang kita belajar Bentuk Panggung Songgo Buwononya Ok… Bentuk fisik dari Panggung Songgo Buwono adalah segi delapan atau hasta wolu dalam istilah Jawa. Bentuk yang segi delapan itu diartikan sebagai hasta brata yang menurut filosifi orang Jawa adalah sifat kepepimpinan, jadi diharapkan setiap pemimpin mempunyai sifat yang demikian. Filsafat Jawa selalu berorientasi pada alam karana dengan alam mereka dapat menikmati hidup dan merasakan komunikasi batin manusia dengan Sang Pencipta. Orang Jawa juga mempercayai bahwa apabila bangunan yang tidak menghiraukan alam lingkungan maka bangunan tersebut akan jauh dari situasi manusiawi…. hebat kan nenek moyang kita dulu… nggak kayak kepemimpinan sekarang he he he… banyak orang pintar nggak perlu tinggi2 sekolahnya… sekarang banyak sekolah tinggi kok malah kelewat pinter kok yo minteri… dan juga keblinger… piye jal…

      Rabu pukul 20:10 · Tidak Suka · 9
    •  
       
       
      Wahhhh iki nek medar Wahyu Hasta Brata dowone iso pirang2 depo… disingkat wae yo… selak ngantuk …. mana belum kepasar sayur he he he…. Ok tak lanjutkan…. Ajaran hasta brata atau delapan laku yang merupakan ajaran kepemimpinan bagi setiap manusia. Dari ajaran tersebut diharapkan setiap pemimpin mempunyai sifat-sifat seperti watak kedelapan unsur alamkurang lebihnya…. 1. Matahari yang diartikan sebagai seorang pemimpin harus dapat menjadi sumber hidup orang lain. 2. Bulan mengartikan penerangan dalam kegelapan. 3. Bintang sebagai petunjuk arah bagi yang tersesat 4. Bumi yang maksudnya seorang pemimpin yang baik harus kuat menerima beban hidup yang diterimanya. 5. Mendhung diharapkan sebagai pemimpin tidak mempunyai sifat yang tidak pilih kasih. 6. Api yang berarti mematangkan yang mentah 7. Samodra/Air dimaksudkan bahwa pemimpin harus dapat memahami segala kebaikan dan keburukan 8. Angin yang apabila berada dimanapun juga harus dapat membawa kesejukkan…. singkat jelas padet maknane duuuuwwwooooowwwwoooo…

      Rabu pukul 20:17 · Tidak Suka · 8
    • Bunda Lia
      Seorang pemimpin yang dihormati oleh rakyatnya karena rakyat mengharapkan dengan hadirnya pemimpin yang mempunyai sifat demikian maka mereka pasti akan hidup rukun, tentram dan damai sejahtera…. tapi kapan ya??? Apakah mungkin sekarang ini…. ohoiiii kalau ngomongin itu membuat gerah… lanjutkan saja ya…. Dari bentuk fisik bangunan Panggung Songgo Buwono juga melambangkan sebagai simbol lingga yang yang berdampingan dengan yoni yaitu Kori Srimanganti…. sik ini bukan gatho locho loh … ini makna loh Ok aku lanjutkan….. Dalam kepercayaan agama hindu, lingga dan yoni melambangkan Dewa Shiwa atau Dewa Kesuburan. Simbol lingga dan yoni juga terukir atau terekam dalam bentuk ornamen di Kori Srimanganti yang berarti bahwa sebagai perantara kelahiran manusia yang juga mengingatkan hidup dalam alam paberayan senantiasa bersikap keatas dan kebawah serta ke kanan dan ke kiri…. waduh ada yg berdehem… lain kali akan saya tulis masalah gatho locho Ok…. Hal ini semua mengandung arti bahwa manusia harus selalu ingat adanya Yang Menitahkan dan sekaligus mengakui bahwa manusia hanya sebagai yang dititahkan. Sedangkan ke kanan dan ke kiri dapat diartikan manusia selalu hidup bermasyarakat.

      Rabu pukul 20:28 · Tidak Suka · 10
    • Bunda Lia
      Panggung Songgo Buwono yang melambangkan lingga diartikan juga sebagai suatu kekuatan yang dominan disamping menimbulkan lingga-yoni yang juga merupakan lapisan inti atau utama dari urut-urutan bangunan Gapura Gladag di Utara hingga Gapura Gading di Selatan. Lingga dan yoni merupakan kesucian terakhir dalam hidup manusia, hal ini kemudian menimbulkan sangkang paraning dumadi yaitu dengan lingga dan yoni terjadilah manusia. Jadi dengan kata lain kesucian dalam hubungannya dengan filsafat bentuk secara simbolik dapat melambangkan hidup. Panggung yang dilambangkan sebagai lingga dan Srimanganti sebagai yoni, juga merupakan suatu pasemon atau kiasan goda yang terbesar. Maksudnya, lingga adalah penggoda yoni, dan sebaliknya yoni merupakan penggoda lingga… he he he he waduhhhh gatho loco tenan ki piye jal… tepiskan dulu…..

      Rabu pukul 20:37 · Tidak Suka · 8
    • Bunda Lia
      Seterusnya, panggung dan kori itu juga merupakan lambang yang bisa diartikan demikian: seorang lelaki dalam menghadapi sakaratul maut, yaitu ketika ia hampir berangkat menuju ke hadirat Tuhan, ia akan sangat tergoda oleh wanita atau sebaliknya. Begitu pula sebaliknya wanita, ketika dipanggil Tuhan Yang Maha Kuasa ia pun sangat tergoda atau sangat teringat akan pria atau kekasihnya. Begitulah makna yang terkandung atau perlambang yang terkandung di dalam Panggug Songgo Buwono bersama Kori Srimanganti yang selalu berdekatan. Fungsi Panggung Songgo Buwono Versi lain mengatakan bahwa Panggung Songgo Buwono ditilik dari segi historisnya, pendirian bangunan tersebut disengaja untuk mengintai kegiatan di Benteng Vastenburg milik Belanda yang berada disebelah timur laut karaton. Memang tampaknya, walaupun karaton Surakarta tuduk pada pemerintahan Belanda, keduanya tetap saling mengintai….

      Rabu pukul 20:43 · Tidak Suka · 8
    • Bunda Lia
      Ibarat minyak dan air yang selalu terpisah jelas kendati dalam satu wadah. Belanda mendirikan Benteng Vastenburg untuk mengamati kegiatan karaton, sedangkan PB III yang juga tidak percaya pada Belanda, balas mendirikan Panggung Songgo Buwono untuk mengintai kegiatan beteng…. he he he demi Rakyat…. Namun tak-tik PB III sempat diketahui oleh Belanda. Setidaknya Belanda curiga terhadap panggung yang didirikan itu. Dan ketika di tegur, PB III berdalih bahwa panggung tersebut didirikan untuk upacara dengan Kangjeng Ratu Kidul semata tanpa tendensi politik sedikitpun…. sungguh pas dan tepat sekali alasanya tapi apakah percaya belanda dengan ghoib ya… ??? Anehnya mereka terima alasan tsb. Lantai teratas merupakan inti dari bangunan ini, yang biasa disebut tutup saji. Fungsi atau kegunaan dari ruang ini bila dilihat secara strategis dan filosofis atau spiritual adalah: 1. Secara strategis, dapat digunakan untuk melihat Solo dan sekitarnya.

      Rabu pukul 20:51 · Tidak Suka · 8
    • Bunda Lia
      Untuk dapat melihat kota Solo dari lantai atas panggung dan tidak sembarangan orang yang dapat menaiki, ada petugas yang memang bertugas untuk melihat dengan menggunakan teropong atau kadang-kadang raja Surakarta sendiri yang melakukan pengintaian. Pada jaman dulu raja sering naik keatas untuk melihat bagaimana keadaan kota, rakyat dan musuh. 2. Segi filosofi dan spiritualnya, Panggung Songgo Buwono merupakan salah satu tempat yang mempunyai hubungan antara Kengjeng Ratu Kencono Sari dengan raja Jawa setempat. Hal yang memperkuat keyakinan bahwa raja2 Jawa mempunyai hubungan dengan Kangjeng Ratu Kidul atau Kangjeng Ratu Kencono Sari yang dipercaya sebagai penguasa laut dalam hal ini di Laut Selatan dan raja sebagai penguasa daratan, jadi komunikasi didalam tingkatan spiritual antara raja sebagai penguasa didaratan dan Kangjeng Ratu Kencono Sari sebagai penguasa lautan dikaitkan dengan letak geografis Nusantara sebagai negara maritim.

      Rabu pukul 20:56 · Tidak Suka · 8
    • Bunda Lia
      Jadi dapat disimpulkan bahwa ruang tutup saji ini digunakan sebagai…. tempat meditasi bagi raja, karena letaknya yang tinggi dan ruang ini memberikan suasana hening dan tentram – tempat meraga sukma bagi raja, untuk mengadakan pertemuan dengan Kangjeng Ratu Kidul. Tempat untuk mengawasi keadaan atau pemandangan sekeliling karaton. Pada lantai teratas digunakan untuk bersemedi raja dan pertemuan dengan Kangjeng Ratu Kidul terdapt dua kursi yang diperuntukkan bagi raja (kursi sebelah kiri) dan Ratu Kidul (kursi sebelah kanan) yang menghadap ke arah selatan. Arah orientasi dari bangunan ini adalah ke selatan pintu masuk dari arah selatan dengan tujuan untuk menghormati Kangjeng Ratu Kidul sebagai penguasa Laut Selatan….

      Rabu pukul 21:03 · Tidak Suka · 8
    • Bunda Lia
      Diantara dua buah kursi terdapat sebuah meja yang digunakan untuk meletakkan panggageman Kangjeng Ratu Kidul didalam sebuah kotak. Pangageman tersebut diganti setiap tahun menjelang acara Jumenengan raja. Menurut cerita, pada saat mengadakan pertemuan dengan raja, Kangjeng Ratu Kidul mengenakan pakaiannya dan seketika itu juga beliau berwujud seperti manusia. Setelah pertemuan selesai, Kangjeng Ratu Kidul kembali ke alamnya dengan sebelumnya mengembalikan ageman yang dikenakannya ke dalam kotak. Didalam ruang tutup saji yang berdiameter kira-kira 6 meter, pada bagian tepat ditengah ruangan terdapat kolom kayu yang secara simbolis menunjukkan bahwa segala kegiatan yang dilakukan di tutup saji mempunyai hubungan dengan Tuhan….

      Rabu pukul 21:10 · Tidak Suka · 8
    • Bunda Lia
      Kayu yang digunakan adalah kayu jati yang berasal dari hutan donoloyo yang dianggap angker bagi orang jawa. Lungsung Jagat dan Jayekatong Bukti Cintanya Kanjeng Ratu Kidul dengan Sang Senopati … Ini cerita lain dari Babad Demak. Berbagai ragam kesaktian melingkupi kehidupan para Raja di Pulau Jawa. Sebutir telor yang dinamai Langsung Jagat dan minyak Jayekatong disebut-sebut punya khasiat luar biasa. Konon, telur Lungsung Jagat dan minyak Jayekatong dahulu dimiliki oleh Panembahan Senopati yang merupakan pemberian dari Kanjeng Ratu Kidul sebagai bukti tanda cintanya kepada sang Senopati. Kedua pusaka ini bukanlah pusaka sembarangan, karena memiliki khasiat menjadikan tubuh menjadi sangat kuat dan memiliki umur yang panjang….

      Rabu pukul 21:16 · Tidak Suka · 8
    • Bunda Lia
      Alkisah, setelah menerima pemberian ini, sang Senopati bertemu dengan Sunan Kadilangu, gurunya. Sunan Kadilangu bertanya kepada sang Senopati bahwa ia diberi apa oleh Ratu Kidul. Sang Senopati menunjukkan benda-benda yang diberikan oleh Ratu Kidul, yaitu telur Lungsung Jagat dan minyak Jayengkatong. Senopati kemudian memberikan benda itu kepada Sunan Kadilangu. Dalam kesempatan itu Sunan Kadilangu ingin singgah ke Mataram. Mereka ingin membuktikan khasiat keduanya. Sang Senopati mempunyai juru taman yang kesukaannya meminum candu sehingga menderita sakit pernafasan. la sering berdoa kepada Yang Mahakuasa agar dianugerahi kekuatan dan umur panjang.

      Rabu pukul 21:23 · Tidak Suka · 8
    • Bunda Lia
      Sang Senopati memberikan telur Lungsung Jagat kepada juru taman. la memberitahukan juru taman bahwa sesudah memakan telur itu penyakitnya akan sembuh dan akan memiliki umur panjang. Sesudah juru taman memakannya, badannya berputar sangat cepat dan tidak berapa lama terdengar bunyi menggelegar, dan bersamaan dengan itu ada pohon yang tumbang. Tiba-tiba juru taman berubah menjadi raksasa yang bertaring dan berambut tebal. Benarlah ternyata khasiat telur Lungsung Jagat menjadikan orang yang memakannya menjadi raksasa yang kuat, sehat, dan berumur panjang. Sunan Kadilangu dan sang Senopati ingin membuktikan khasiat minyak Jayengkatong.

      Rabu pukul 21:29 · Tidak Suka · 7
    • Bunda Lia
      Sang Senopati memanggil dua orang abdinya, bernama Nini Panggung dan Ki Kosa. Begitu ditetesi minyak itu, keduanya menjadi tidak tampak sebab sudah berubah menjadi siluman. Keduanya disuruh oleh Sunan Kadilangu agar mengasuh sang Senopati. Kemudian Nini Panggung dan Ki Kosa disuruh tinggal di pohon beringin tua, sedangkan juru taman disuruh tinggal di Gunung Merapi. Konon karena kesaktian telur Lungsung Jagat dan minyak Jayekatong ini, sampai sekarang ketiga abdi sang Senopati ini tetap dalam wujudnya. Sang Juru Taman menjadi makhluk gaib yang menjaga kawasan Gunung Merapi. Sedangkan Nini Panggung dan Ki Kosa, menurut cerita masih dapat ditemui oleh orang-orang tertentu yang melakukan tirakat dan semedi di Kotagede Jogjakarta…..

      Rabu pukul 21:35 · Tidak Suka · 8
    • Bunda Lia
      Memang ….. Dalam masyarakat Jawa terdapat berbagai macam mitologi yang digunakan sebagai kerangka acuan kehidupan mereka seperti mitologi wayang, gunung, laut dan lain-lain. Masyarakat Jawa mempunyai tradisi-tradisi religius yang berkaitan dengan mite atau mitos. Masyarakat Jawa melakukan tradisi-tradisi religius yang berkaitan dengan mitos/mite salah satu tujuanya adalah untuk mencapai keseimbangan, keselarasan dan keharmonisan hidup di dunia, keseimbangan antara alam kodrati dan alam adikodrati. Salah satunya adalah mitologi terhadap Kanjeng Ratu Kidul penguasa pantai selatan. Tidak hanya masyarakat pihak keraton (Yogyakarta) pun mempunyai hubungan yang erat dengan Ratu Kidul tersebut….

      Rabu pukul 21:40 · Tidak Suka · 8
    • Bunda Lia
      Orang Jawa menganggap bahwa raja adalah individu yang sangat sakti karena dipandang dapat memusatkan kekuatan-kekuatan supranatural. Pandangan masyarakat Jawa terhadap adanya kekuatan2 tersebut dipahami melalui simbol2 kekuasaan dan upacara2 yang diselenggarakan pihak keraton seperti upacara garebeg, labuhan, sesaji, tari bedaya dan lain-lain. Seorang raja dianggap sebagai wakil Yang Ilahi dalam menjalankan pemerintahan dan menjaga ketentraman. Raja yang ideal adalah raja yang terus-menerus mencari tuntunan Ilahi di dalam batin melalui semedi, puasa, bertapa dll serta dapat bersatu dengan rakyatnya atau raja yang dekat dengan rakyat…. kalau sudah begini kita mau bicara apa???

      Rabu pukul 21:47 · Tidak Suka · 8
    • Ki-Bayu Aji MAAF BUND AKU NYIMAKNYA KOK JD KRINGETAN KAYAK BANYAK YG HADIR……………….
      Rabu pukul 21:50 · Tidak Suka · 3
    • Syahwir Papude Dinda Bunda Lia…Selamat Malam…Rakhmat serta Berkah dari~NYA senantiasa selalu menyertai kita…alhamdulillaah…Salaam Hormat, Bahagia dan Santun kanda dari Kota Padang Panjang…!!
      Rabu pukul 21:54 · Tidak Suka · 6
    • Bunda Lia
      Menurut alam pikiran orang Jawa, sultan adalah seorang yang dapat memusatkan kekuatan2 yang ada di dunia ini. Oleh karena itu seorang sultan dapat berkomunikasi dengan dunia adikodrati (dunia yang tidak tampak mata/dunia halus). Sultan dipandang memiliki kesanggupan untuk berhubungan langsung dengan arwah nenek moyang, penguasa laut selatan (sebelah selatan), gunung Merapi (sebelah utara), gunung Lawu (sebelah timur), kahyangan Dlepih (sebelah barat) dan makhluk halus lain…. yang menjadi pertanyaan saya apakah mungkin Sultan sekarang bisa xxixixixixixiiix….. Ahhhh udahlah masa bodoh punya tugas masing2…. saya lanjutkan…. Hubungan tersebut nampak melalui upacara2 untuk keselamatan atau sesajian. Salah satu bentuknya adalah labuhan atau sesajian persembahan. Dengan labuhan tersebut makhluk dari alam supranatural diharapkan melindungi raja, keraton dan rakyatnya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Jadi hubungan tersebut tersifat timbal balik…. masalah labuhan… sesaji aku lihat masih tapi kesanggupan untuk berhubungan langsung dengan arwah nenek moyang… masih mampukah…. he he he….

      Rabu pukul 22:01 · Tidak Suka · 8
    • Sultan Samber Nyowo Al-jabbaar hmmm…lajeng?
      Rabu pukul 22:04 · Tidak Suka · 2
    • Bunda Lia
      Laut Selatan yang dikenal ganas ombaknya dianggap oleh orang Jawa sebagai laut yang mempunyai kekuatan supranatural…. memang benar sih… ombaknyapun aneh se-Asia… coba saja dilihat….. Laut ini dikuasai Kanjeng Ratu Kidul yang konon sangat cantik dengan rakyatnya yang kebanyakan juga berjenis kelamin perempuan. Keraton laut selatan digambarkan mirip dengan keraton yang ada di dunia nyata. Di dalam keraton tersebut terdapat istana, alun-alun, tumbuh-tumbuhan, hewan, abdi dalem dan sebagainya. Nelayan pantai selatan pada saat-saat tertentu selalu memberi sesaji kepada Ratu Kidul dan rakyatnya. Konon bila tidak ada sesaji Ratu Kidul atau pengikutnya dapat menimbulkan bencana. Kanjeng Ratu Kidul merupakan ratu makhluk halus yang dapat memusatkan kekuatan-kekuatan sakti, sehingga keraton kidul dianggap sebagai wilayah penuh kekuatan gaib dan keramat…..

      Rabu pukul 22:07 · Tidak Suka · 11
    • Bunda Lia
      Keraton Yogyakarta yang mempunyai hubungan erat dengan laut selatan dapat dilihat melalui praktek-praktek keagamaan seperti upacara labuhan, Tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semang. Keraton Luat Selatan sebenarnya tidak dapat dipisahkan dengan Keraton Merapi dan Keraton Yogyakarta. Mereka selalu mengadakan hubungan, baik hanya saling berkunjung atau saling memberi bantuan. Masyarakat Jawa mempercayai adanya lampor yaitu perjalanan makhluk halus yang saling berkunjung tersebut. Lampor ditandai dengan suara ribut gemerincing. Bila mendengar suara tersebut orang harus menghindar agar tidak terbawa.

      Rabu pukul 22:13 · Tidak Suka · 10
    • Atieq Wigoena wow…….
      Rabu pukul 22:15 · Tidak Suka · 3
    • Sultan Samber Nyowo Al-jabbaar akan kah nanti cerita ini juga berkaitan dengan “baju barat” bun…?
      Rabu pukul 22:18 · Tidak Suka · 2
    • Bunda Lia
      Eksistensi Keraton Kasultanan Yogyakarta tidak dapat dilepaskan dari pandangan orang Jawa terhadap alam semesta… kalau dah begini kita harus bagaimana???. Keraton dipandang sebagai pusat dunia, baik dunia natural yaitu wilayah kerajaan yang mengelilinginya maupun dunia supranatural yaitu keempat keraton makhluk halus yang mengelilinginya (Merapi, Lawu, Dlepih dan Laut Selatan) atau makhluk halus penguasa arah mata angin….. Bingung kan kita mikirnya….??? Yang Percaya monggo yg tidak percaya mongso bodhowo…. Ok tak teruskan… Kelima keraton tersebut membentuk tatanan alam yang rapi dan teratur. Gangguan-gangguan alam atau peristiwa-peristiwa alam yang terjadi akan selalu dihubungkan dengan kekuasaan raja, apakah raja memerintah dengan baik atau tidak itu urusan mereka sebagai Raja. Dengan demikian mitologi tersebut dapat dipakai sebagai sarana untuk mengontrol raja…. Rajane apik opo rajane jadi detaktor…. Keraton Yogyakarta secara periodik mengadakan labuhan di empat tempat tersebut sebagai sarana untuk membina dan memperbaharui hubungan kerja sama, kerukunan serta saling membantu. Hubungan ini dilakukan untuk menjaga agar tatanan dunia yang ada tidak terganggu…. itupun kebanyakan dikira kita sebagai spiritual banyak yg menganggap klenik….

      Rabu pukul 22:26 · Tidak Suka · 10
    • Bunda Lia
      Mitologi Kanjeng Ratu Kidul digunakan oleh penguasa Kasultanan Yogyakarta sebagai kerangka acuan dalam menjalankan pemerintahan., menjamin keselamatan dan ketenteraman rakyat., pengantara antara manusia dengan daya-daya kekuatan alam. Doa-doa yang diucapkan juru kunci saat labuhan menunjukkan bahwa tujuan upacara tersebut adalah memohon ketenteraman, keselamatan, dan kejayaan kasultanan Yogyakarta dan seluruh rakyatnya…. Ok aku ngantuk saatnya untuk mohon pamit sampai jumpa dengan kisah yg sama KGRK bagian ke 4 besok malam… tapi besok kan malam Jumat Kliwon … saya kan punya tugas… jadi apa kata besok ya…. yg jelas Jumat aku lanjutkan… waktunya turun dari FB menuju pasilan… he he he….selamat malam salam kasih sayang untuk semua salam hormat dan santunku selalu ada kurang lebihnya tulisan malam ini saya pribadi mohon maaf yang sebesar2nya…. selamat merenung dan istirahat… jangan lupa doa sebelum lidur… Wass….

      Rabu pukul 22:35 · Tidak Suka · 9
    • Sultan Samber Nyowo Al-jabbaar bismikawoh huma aya wabis mika amud…
      Rabu pukul 22:38 · Tidak Suka · 3
    • Kakang Prabu Anom selamat istirahat bunda, tetap jaga kesehatan… dan semoga sukses untuk semua tugasnya.. salam hormat untuk bunda & keluarga besar..
      Rabu pukul 22:38 · Tidak Suka · 5
    • Kozink Saputra Wa allaikum salam.selamat istirahat.bunda slm takzimku.
      Rabu pukul 23:37 · Tidak Suka · 3
    • Sri Suyanti · Berteman dengan Tia Duba Ardhina
      Nderek pitepangan ibu mugi tansah di paringi sehat, tebih ing sambekolo..nuwun..
      Kamis pukul 0:46 · Tidak Suka · 3
    • Trisdarisadwi Soedarto Salam samudera … dan salam dari sedulur Dewi Inten Nawang Wulan dan Dewi Kwan In dan Sri Baduka Maharaja …
      Kamis pukul 7:17 · Tidak Suka · 1

  • Tulis komentar…

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on Maret 3, 2012, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: