Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa KGRK – 5

www.songgobuwono.com
Jika kita menilik dari nilai budaya, jelas sejak jaman pra Majapahit Tanah Jawa telah memiliki nilai-nilai budaya yang adiluhung. Bahkan budaya leluhur itu telah menjadi pedoman hidup, dan sesungguhnya nilai-nilai itu tak lekang oleh jaman walau penggunanya kian berkurang…. Seperti halnya budaya spiritual, sebelum masuknya agam-agama asing di pelataran tanah Jawa, Bangsa ini telah mengenal adanya Tuhan sang maha pencipta dan maha melindungi….. Maka, walau dengan symbol-simbol yang diciptakannya sendiri, para nenek moyang kita mampu mengekplorasaikan rasa kecintaannya terhadap sang Maha Kuasa. Kemudian situasi itupun terus berkembang hingga mencapai titik keyakinan yang lebih sempurna lagi….Dengan olah fIkir dan olah rasa, budaya spiritual tersebut berkembang menjadi keyakinan yang dikenal dengan sebutan “Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa” yang kental dengan adat dan budaya Jawanya. Sehingga istilah “Kejawen”-pun menjadi popular. Jika kita tarik ke belakang….. dengan pola atau kultur kejawen di masa itu, negeri ini telah sampai kepada titik nang ning nung nang… aman damai tentram sentausa. Titik inilah yang sesungguhnya merupakan era peradaban yang tinggi. Di masa ini telah terbangun sedemikian rupa sistim etika, dan moralitas. Namun sangat disayangkan, ketika bangsa ini mengenal kultur budaya impor, justeru mutiara hati yang sudah ada ditinggal begitu saja tanpa mempertimbangkan dampak yang bakal timbul kemudian…. seperti sekarang ini….

Tidak Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Bagikan · Sunting · 4 Maret

  • 1 kali dibagikan
    • Bunda LiaDimana bumi dipijak, disana langit dijunjung…. Adat istiadat, budaya dan agama, adalah sebuah rangkaian yang tak terpisahkan. Timbulnya adat istiadat, karena adanya budaya yang mengakar dalam masyarakat dan Tuntunan Keagamaan yang kuat dan dijalankan oleh masyarakat. Adat istiadat adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat secara rutin dan berkala, dilakukan secara turun temurun. Adat istiadat biasanya dilakukan secara bersama oleh masyarakat, dalam suatu rangkaian kegiatan untuk tujuan-tujuan tertentu.

      4 Maret pukul 19:22 · Tidak Suka · 8
    • Kang Edy Yusuf Ritonga Selamat malam Ibunda Guru terkasih Bunda Lia …saya nyimak ya Ibunda, sembari menghayati tulisan Ibunda , capek kali Ibunda baru nyampe di Medan …

      Salam taklim saya Ibunda ,, Rahayu ….

      4 Maret pukul 19:26 · Tidak Suka · 2
    • Sugeng Rianto Siiiiip…….

      4 Maret pukul 19:27 · Tidak Suka · 2
    • Dhuwick ListaAkuu suka,,,

      4 Maret pukul 19:29 · Tidak Suka · 2
    • Turah Eka PputraMlm bunda….btul itu apalagi d bali kini berbagai suku bangsa dtng dan tkk semua membawa dapk positif bg budaya bali.

      4 Maret pukul 19:29 · Tidak Suka · 2
    • Afif Junaidi sebelum masuknya agam-agama asing di pelataran tanah Jawa, Bangsa ini telah mengenal adanya Tuhan sang maha pencipta dan maha melindungi…
      ——————————
      ketika bangsa ini mengenal kultur budaya impor, justeru mutiara hati yang sudah ada ditinggal begitu saja tanpa mempertimbangkan dampak yang bakal timbul kemudian
      ——————————–
      Adakah yang dimaksud agama asing adalah agama yang tidak diturunkan dijawa, serta tidak menggunakan simbol simbol jawa…?, adakah agama agama itu berseberangan dengan budaya dan tidak bertingkah laku beradap..?
      Yang seperti apakah beradap itu, yang tidak diajarkan oleh agama agama asing? Tabik

      4 Maret pukul 19:30 · Tidak Suka · 3
    • Bunda LiaBudaya berasal dari kata ‘BUDI’ dan ‘DAYA’. Secara umum, pengertian budaya adalah suatu usaha (daya) melalui olah ‘budi’, olah rasa, olah spiritual, untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih baik dari sebelumnya….. Masyarakat jawa (dalam ilmu Antropologi) mempunyai sikap nrimo, namun mampu menyaring (filtering) pengaruh dari kebudayaan asing. Sehingga akan timbul proses Akulturasi Budaya. Hasilnya sudah pasti bisa dibayangkan, akan timbul suatu bentuk kebudayaan baru yang bersumber dari dua kebudayaan yang berbeda. Masyarakat jawa selalu mempertahankan sesuatu yang bersifat local genius, atau keunggulan-keunggulan budaya local yang bersifat baik….

      4 Maret pukul 19:32 · Tidak Suka · 8
    • Agus SupriyantoBunda lia, antara budaya islam dan budaya kejawen adalah dua budaya yg ada ditanah jawa skrg ini. Nguri uri kabudayan tradisi itu menurut saya sangat bagus, namun kadang ada sebagian yg berbenturan dg ajaran islam. Mohon pencerahanya bun…,

      4 Maret pukul 19:33 · Tidak Suka · 2
    • Bunda LiaDik Edy Yusuf… ya sayng … Alaika salam ya adikku… salam saja buat mama…

      4 Maret pukul 19:34 · Tidak Suka · 3
    • Bunda LiaMas Sugeng Rianto selamat malam terimakasih…

      4 Maret pukul 19:34 · Tidak Suka · 3
    • Bunda Lia Kebudayaan dengan bentuk baru inilah yang akhirnya berkembang dalam kehidupan masyarakat secara umum, dan dilakukan secara rutin dan turun temurun. Pada akhirnya diakui sebagai suatu adat istiadat atau tradisi pada kehidupan dalam masyarakat.
      Masyarakat jawa sejak zaman dahulu selalu suka menggunakan symbol-symbol (jw.:sanepan) dalam menjelaskan sesuatu. Begitu juga didalam Kitab Suci Alqur’an, Allah SWT juga telah mengajarkan symbol-symbol alam, contohnya dalam surat Al Fajr : Demi fajar, demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil, dan apa bila malam berlalu……

      4 Maret pukul 19:38 · Tidak Suka · 5
    • Bunda LiaHe he he semakin menjurus ke Budaya…. baiklah saya teruskan…. dan maaf tidak dapat memberi salam satu persatu keburu ngibrit kepasar…. Ok… Hal itu dilakukan pada seluruh aspek kehidupan, baik dalam kehidupan secara fisik maupun kehidupan secara spiritual. System berfikir semacam ini merupakan local genius dari masyarakat jawa. Dalam ilmu modern hal demikian dikenal dengan istilah abstraction. Pola berfikir abstract, adalah pola berfikir menggunakan otak kiri secara simultan. Sebagai contoh kalau kita berhitung secara abstrak (jw.: awangan) kita membanyangkan symbol-symbol bilangan di pikiran kita. Setelah symbol-symbol bilangan tersebut mampu kita bayangkan, maka otak kiri kita perintahkan untuk menjalankan operasi yang kita butuhkan, misal: operasi penjumlahan, operasi perkalian dsb. Sebagai bukti fisik yang nyata, memberi angka (nilai) pada hari dan pasaran (jw. : pancawara), hanya dikenal pada masyarakat jawa, dan tidak dikenal dalam kebudayaan di belahan bumi manapun. Akankah kita mengingkari ke-genius-an nenek moyang kita?

      4 Maret pukul 19:44 · Tidak Suka · 7
    • Kang Edy Yusuf Ritonga Salam IBunda Lia akan saya sampai kan ke Mama Ibunda ….
      saya nyimak Ibunda krana capek gak ktulungan Ibunda …
      he he he

      4 Maret pukul 19:44 · Tidak Suka · 2
    • Bunda Lia

      Namun banyak diantara anggota masyarakat kita banyak yang alergi dengan hal-hal yang demikian. Mereka menganggap hal-hal seperti itu sebagai klenik, musyrik dan sebangsanya. Jawaban yang paling pasti, hanya bisa dijawab jika pertanyaan itu kita kembalikan pada hati nurani kita masing-masing…. Contoh masyarakat jawa juga dikenal dengan type masyarakat socio cultural….. Seperti yang telah disebutkan pada bagian awal uraian ini. Terutama masih dapat kita rasakan pada masyarakat kita yang hidup di pedesaan. Rasa kebersamaan, se-nasib dan sepenanggungan, merupakan faktor yang sangat penting dalam pertumbuhan sikap ini dalam kehidupan bermasyarakat…. Sekali mohon maaf tak dapat memberi salam satu persatu, karena sesungguhnya saya ingin megisahkan KGRK … dan perjalanan Kiagen Pemanahan dan Kiageng Giring waktu mendapat WAHYU GAGAK emprit atau serabut kelapa yg harus ditanam… eeee malah bicara budaya… baiklah nggak masalah….tetapi bila hanya sampai dalam budaya saja saya mohon maaf karena pekerjaan harus kulakan ya saya sambung besok … 45 menit atau 1 jam lagi saya bisa menemani…..
      4 Maret pukul 19:52 · Tidak Suka · 6
    • Bunda Lia

      Ungkapan-ungkapan yang dibuat oleh nenek moyang kita, sering kali mengunakan symbol-symbol atau perlambang yang mudah dipahami…. hingga saat ini budaya ini masih digunakan dan dipakai Keraton dan masyarakat…. Namun sulit untuk dijelaskan, apalagi untuk dilakukan. Setidaknya dalam kehidupan pada masyarakat kita saat ini. Hal ini disebabkan karena kita tidak mau memahaminya. Sebagai contoh, makna dari ‘SEGO GOLONG’, yang bentuknya ‘golong-gilig’ atau menyerupai sebuah bola yang terbuat dari nasi. Bentuk yang sedemikian masive, adalah merupakan sebuah ungkapan kebulatan tekad yang se-iya se-kata, sak yeg sak eka kapti. Bisa kita bayangkan jika seluruh lapisan masyarakat memahami falsafah ini, kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat akan tumbuh berkembang dengan sangat subur. Tidak akan terjadi perpecahan (symbol:masive) maupun pertengkaran (symbol: ngglinding). Sehingga kerukunan dalam kehidupan masyarakat akan selalu terjaga dan langgeng. Tidak akan mudah terprovokasi. Tetap Percaya pada Tuhan Yang Maha Esa…..
      4 Maret pukul 19:58 · Tidak Suka · 6
    • Turah Eka Pputrasetuju bunda…saya mengagumi budaya kejawen walaupun saya orang bali..krn merasa ada kesamaan budaya…

      4 Maret pukul 20:00 · Tidak Suka · 2
    • Agus SupriyantoMaklum bun, saya sebenarnya malu dg diri saya sendiri. Sebagai orang keturunan jawa tapi sangat minim pengetahuan saya tentang kebudayaan jawa tersebut. Saya dibesarkan dlm lingkungan islam, tpi saya berniat untuk tau bagaimana sih budaya jawa itu.

      4 Maret pukul 20:08 · Tidak Suka · 2
    • Bunda Lia

      Contohnya saya terlahir sebagai orang jawa, di tanah jawa. Makanan yang kita makan tumbuh dari tanah yang kita pijak, yaitu tanah jawa. Kita harus berfikir dengan pola pikir jawa. Sampai kapan pun, tidak akan bisa kita pungkiri kalau diri pribadi kita adalah “Orang Jawa”. Meskipun kita mempelajari ilmu-ilmu modern, (modern = barat : eropa) tidak akan mampu menghilangkan trade mark kita “JAWA”. Begitu pula dengan apa yang kita anut dan kita hayati, Kepercayaan Tuhan Yang Maha Esa. Kita tidak akan mampu menerapkan seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa arab dalam kehidupan kita sehari-hari. Seluruh ajaran islam bisa saja kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun adat istiadat, tabiat, tingkah laku, cara berpakaian dari bangsa arab tidak mungkin kita tiru seluruhnya… hanya apa adanya saja yg jelas kita tetap pada kesopanan dalam beragama dlm busana Islam. Kondisi geografis dan iklim, maupun struktur kehidupan masyarakat kita sangat jauh berbeda. Kita harus bersyukur, dikaruniai oleh Tuhan YME lingkungan alam yang sangat subur, dan kehidupan kita yang makmur. Juga kita telah diberi Berkah oleh Tuhan YME, sehingga kita dapat mengenal tata krama adat istiadat kita karena budaya nenek moyang kita. Apalagi kita juga terlahir dalam keadaan Eling lan Waspodho…..
      4 Maret pukul 20:08 · Tidak Suka · 5
    • Aris MusthofaKnp Para Leluhur Nusantara Bisa berpikiran lebih maju Dalam Hal Perhitungan,penanggalan ,Spritual, Penghargaan terhadap alam dan lingkungan.Yg Pasti Bkn hanya dgn akal saja mereka Membuat Suatu Kebudayaan yg sdh Maju ..??? Rahayu

      4 Maret pukul 20:13 · Tidak Suka · 1
    • Bunda Lia

      Perlunya Pelestarian Budaya Adiluhung…. Jika kita menilik dari nilai budaya, jelas sejak jaman pra Majapahit Tanah Jawa telah memiliki nilai-nilai budaya yang adiluhung. Bahkan budaya leluhur itu telah menjadi pedoman hidup, dan sesungguhnya nilai-nilai itu tak lekang oleh jaman walau penggunanya kian berkurang….. Seperti halnya budaya spiritual, sebelum masuknya agama-agama asing di pelataran tanah Jawa, Bangsa ini telah mengenal adanya Tuhan sang maha pencipta dan maha melindungi. … Maka, walau dengan symbol-simbol yang diciptakannya sendiri, para nenek moyang kita mampu mengekplorasaikan rasa kecintaannya terhadap sang Maha Kuasa. Kemudian situasi itupun terus berkembang hingga mencapai titik keyakinan yang lebih sempurna lagi.
      4 Maret pukul 20:14 · Tidak Suka · 4
    • Agus SupriyantoMenyimak postingan bunda lia yg terus terang mengenalkan saya tentang apa itu kejawen, bagaimana memaknai hidup, saya setuju kalau bunda membuat buku (atau malah sudah pernah, sy tdk tau). Minimnya referensi membuat generasi penerus tdk tau apa itu kejawen

      4 Maret pukul 20:17 · Tidak Suka · 2
    • Bunda Lia

      Dengan olah fikir dan olah rasa, budaya spiritual tersebut berkembang menjadi keyakinan yang dikenal dengan sebutan “Kepercayaan kepada Tuhan yang Maha Esa” yang kental dengan adat dan budaya Jawanya. Sehingga istilah “Kejawen”-pun menjadi popular. Jika kita tarik ke belakang….. dengan pola atau kultur kejawen di masa itu, negeri ini telah sampai kepada titik neng ning nung nang… aman damai tentram sentausa. Titik inilah yang sesungguhnya merupakan era peradaban yang tinggi. Di masa ini telah terbangun sedemikian rupa sistim etika, dan moralitas. Namun sangat disayangkan, ketika bangsa ini mengenal kultur budaya impor, justeru mutiara hati yang sudah ada ditinggal begitu saja tanpa mempertimbangkan dampak yang bakal timbul kemudian.
      4 Maret pukul 20:19 · Tidak Suka · 5
    • Kozink SaputraSugeng ndalu bunda..nderek nyimak njih. Slm hormatku sllu bu.

      4 Maret pukul 20:20 · Tidak Suka · 1
    • Bunda Lia

      Kini terbukti, budaya adiluhung asli negeri ini telah bergeser, walau sesungguhnya nilai budaya tersebut ada pada tataran nilai tertinggi, namun kebanyakan masyarakat menganggap sebagai kultur budaya keterbelakangan. Ini dikarenakan terisinya ruang-ruang kosong oleh gemerlapnya kultur budaya luar. Demikian pula dengan kejawen yang nyaris seperti Emban kehilangan momongan. Tingginya budaya spiritual kejawen seperti halnya berakar, namun tak berbatang, bercabang , apalagi berdaun…. Sekuat apapun akar itu, akan menjadi sia-sia, jika tak dapat tumbuh dan berkembang. Inilah yang sebenarnya menjadi permasalahan bangsa ini, dimana kita memiliki akar budaya yang kuat, namun akar tersebut ditumbuhi benalu (budaya impor) yang menghisap saripati budaya kita hingga nyaris habis. Mas Kozink Saputra… dah sampai mana????
      4 Maret pukul 20:24 · Tidak Suka · 6
    • Bunda LiaSebaliknya sang benalu itupun tumbuh subur dan mengakar kuat hingga membuat kita pangling akan kultur budaya sendiri yang seharusnya menjadi jati diri bangsa ini….

      4 Maret pukul 20:25 · Tidak Suka · 4
    • Bunda Lia

      Perlu keterbukaan…… Semakin kritisnya posisi kultur budaya ini memang merupakan suatu kewajaran, karena bangsa ini pernah mengalami pase penjajahan fisik yang demikian lama, sehingga mau tidak mau berpengaruh kepada kondisi mental spiritual. Namun menjadi tidak wajar jika masa kritis ini dibiarkan begitu saja hingga menggerogoti jiwa. Seperti yang kini terjadi, banyak keganjilan-keganjilan timbul di masyarakat. Keganjilan itu sendiri timbul bukan hanya pengaruh dari luar, kesalahkaprahan atas penjabaran terhadap pendalaman kultur budaya asli-pun turut menjadi sebab timbulnya keganjilan tersebut. Berkaitan dengan keganjilan yang datang dari luar jelas mudah untuk dilihat dan dirasakan, namun keganjilan yang timbul dari kultur budaya sendiri justeru masuk dengan tidak terasa, sampai-sampai kita tidak sadar akan kekeliruan itu.
      4 Maret pukul 20:30 · Tidak Suka · 4
    • Bunda Lia

      Permasalahan ini agaknya yang perlu diantisipasi lebih dini agar kita dapat membentengi diri kita dari asupan-asupan yang negative baik dari luar maupun dari dalam. Perlu adanya penetrasi yang smooth dan smart. Untuk mengantisipasi pengaruh luar, jelas peru adanya penumbuhkembangan kecintaan kita terhadap budaya adiluhung, tinggal upaya untuk mencintai dan mengekmbangkan budaya adiluhung agar ada ketertarikan dan tidak terjerumus kepada hal-hal klinik yang tergolong aneh. Ini jelas dibutuhkan formula yang tepat guna.
      4 Maret pukul 20:33 · Tidak Suka · 4
    • Mela Yang · Berteman dengan RM Cakra dan 1 lainnya

      salam..bunda,bunda pengagum ibu ratu laut selatan ya?

      4 Maret pukul 20:38 · Tidak Suka · 1
    • Bunda Lia

      Berkaitan dengan Kejawen, jelas ini terbilang ngelmu dhuwur, namun akan menjadi kurang manfaatnya jika hanya diketahui dan dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok atau golongan. Budaya adiluhung ini harus dikenal, dilestarikan dan dijadikan “ageman” bagi semua kaum dan golongan…. Secara realita dapat kita lihat, ilmu pengetahuan kejawen boleh dibilang baru bisa diterima oleh sebagian besar kaum tua saja, sementara para generasi muda awam akan pengetahuan tersebut. Sementara tak sedikit para pelaku Kejawen terjebak kepada lingkaran klenik. Kondisi inilah yang menjadi permasalahan besar yang harus segera terselesaikan jika kita tidak menginginkan budaya adi luhung pupus di tanah kelahirannya…..
      4 Maret pukul 20:41 · Tidak Suka · 6
    • Agus SupriyantoMatur suwun sanget bun, penjelasan dari bunda cukup memberikan gambaran kpd sy. Jangankan budaya bun, bahasa jawa saja sy tertatih tatih krn minimny referensi. Sebaik baiknya orang adalah yg bermanfaat bagi orang lain, jgn capek ya bun buat menyalurkn ilmu

      4 Maret pukul 20:42 · Tidak Suka · 1
    • Bunda Lia

      Agaknya perlu adanya penyegaran dan keterbukaan atas ilmu pengetahuan kejawen guna menyerap ketertarikan generasi berikut, serta kesalah kaprahan atas penyerapan keilmuan yang ada. Lebih terbukanya dalam mengeksplorasi makna yang tersirat dalam keilmuan jawa, dapat lebih mudah bagi mereka yang ingin mendalami keilmuan tersebut, demikian pula generasi peneruspun akan lebih tertarik untuk menyerap pengetahuan tersebut.
      Memang tak mudah untuk melakukan penetrasi hal itu kesegenap masyarakat, perlu adanya kerjakeras serta komitmen tinggi dalam mengembalikan jati diri bangsa ini. Tak perlu lagi kita mempertahankan eksklusifitas, terlebih merasa unggul dari yang lain. Sudah saatnya kita tampil lebih bersahaja agar dapat menciptakan zaman, bukan selalu mengekor pada zaman yang sejatinya belum tentu sesuai dengan kepribadian kita.
      4 Maret pukul 20:45 · Tidak Suka · 5
    • Mela Yang · Berteman dengan RM Cakra dan 1 lainnya

      maaf atas ketdk tauan sy,bkn kah mmg seperti itu bun,kejawen tdk jauh dgn klenik?maaf bun sejatinya kejawen itu seperti apa?mhn info nya…..

      4 Maret pukul 20:45 · Tidak Suka · 1
    • Bunda LiaMbak Mela Yang… terimakasih… masalah KGRK…. he he he ya mbak saya jujur kagum… masalah Klenik monggo… dibaca saja saya tak dapat mengulang disini karena saya harus kepasar kulakan jam 21.00… sekali lagi maafkan… salam hormatku….

      4 Maret pukul 20:50 · Tidak Suka · 6
    • Agus SupriyantoRata rata permasalahanya bun, bkn pada tidak maunya untuk tau apa itu kejawen. sekali lagi itu krn minimnya referensi dan pendidik. Orang yg mengerti benar budaya jawa itu kaya apa susah sy temukan dilingkungan tempat tinggal saya. Media ini sgt membantu.

      4 Maret pukul 20:54 · Tidak Suka · 2
    • Bunda Lia

      Bersyukur kita memiliki jiwa budaya sebagai induk budaya sepiritual, kini tinggal bagaimana mesin pecinta budaya kita ini dapat berjalan secara efektip efisien dalam mengemban tugasnya yang bukan hanya melestarikan budaya adi luhung, namun yang lebih berat lagi adalah memasyarakatkan dan menumbuh kembangkan warisan nenek moyang kita yang sarat dengan pesan moral yang tinggi yang kemudian diharapkan dapat mengembalikan jati diri bangsa ini dari kepanglingannya atas budayanya…. baik di inbox ada yang bertanya apa arti Neng Ning Nung Nang…..Neng : Nenging Solah Bowo ( Melakukan yang benar dalam bertindak ) Ning : Ninging Ati Manungku pujo ( bersihkan batin kita untuk memohon pada Tuhan YME ) Nung : Dumununging Kasunyatan ( Syukurilah dan nikmati sesuatu yang nyata ) Nang : Wenanging Jumenengan
      ( Memunculkan kebenaran hakiki )
      .
      4 Maret pukul 20:55 · Tidak Suka · 7
    • MelaYang…kowe asline cah ndi to nduk…???

      4 Maret pukul 20:55 · Tidak Suka · 2
    • Mela Yang · Berteman dengan RM Cakra dan 1 lainnya

      trim’s bun,salam hormat ku juga tuk’ bunda..sejauh mn ke kaguman bunda terhdp beliau? next jwbnya selesai bunda plg dr pasar…aku ttp cabe rwt 1kl. salam….

      4 Maret pukul 20:56 · Tidak Suka · 1
    • Bunda Lia

      Kalau kita sadar dengan bait Sangkan Paraning Dumadhi dan kita betul-betul merenungkanya Insak Allah kita akan selalu sadar apa yang akan kita lakukan sebagai makluk Allah. Karena seluruh mahkluk hidup manusialah yang paling sempurna, karena manusia diberi satu kelebihan yaitu akal. Namun harus diingat bahwa dalam menyelesaikan berbagai problema hidup, kita tidak boleh meninggalkan kesabaran dan senantiasa bertawakal kepada Allah SWT atas hasil dari ikhtiar kita. Doa, ikhtiar, dan tawakal adalah bekal utama menghadapi masalah kehidupan yang tidak menentu. Akhirnya, di ujung pencarian dan ikhtiar tersebut kita akan sampai pada keyakinan bahwa sesungguhnya yang kita cari, kita tuju itu tidaklah jauh. Sesungguhnya Tuhan YME dekat dengan kita, bahkan lebih dekat ketimbang urat nadi kita. Dengan pemahaman serta keyakinan inilah kita harus sanggup mengarungi samudra kehidupan yang pelik-rumit, dan atas ijin Tuhan YME kita akan mencapai tujuan dengan selamat. Ya Allah, Engkaulah tujuan kami dan ikhlasMu jua yang aku harap, karuniailah kami dengan Iman dan CintaMu…..
      4 Maret pukul 21:00 · Tidak Suka · 8
    • Mela Yang · Berteman dengan RM Cakra dan 1 lainnya

      prezto kalee@aku sendr mbingung kang mas…mhn kang mas terawang tp ojo di raba yo kang mas….ku tgg infonya…salam..

      4 Maret pukul 21:01 · Tidak Suka · 2
    • Bunda Lia

      Semua ilmu baik tinggal yg memakai mau dibuat baik mau dibuat jelek itu urusanya…. mau dikatakan baik mau dikatakan klenih silahkan saja…. karena kalau belum tau isinya dan baru melihat kulitnya saja akan mengatakan yg kurang baik… semua terserah yg menilai dan yg suka nengan penilaian tanpa diteliti…. dari segi isi yg ada didalamnya…. karena banyak orang sekarang menilai …. orang lain dari kulit bukan isi…
      4 Maret pukul 21:04 · Tidak Suka · 8
    • Syah Ruddinmalam bunda nyimak aje di ujung lorong hehehehe…. Salam rahayu

      4 Maret pukul 21:05 · Tidak Suka · 1
    • Turah Eka Pputraning nung nang neng…betul”sesuatu yg sangat mendalam di dlm suatu kesederhanaan…rahayu bunda kepasarnya

      4 Maret pukul 21:06 · Tidak Suka · 1
    • Mela Yang · Berteman dengan RM Cakra dan 1 lainnya

      betul bun….seseorang sell menilai sesuatu itu dr luar tanpa mau betanya kepd yg bersangkutan.. blm brgkt kepasar bun? ntar keburu ttp lho pasar nya.. .

      4 Maret pukul 21:08 · Tidak Suka · 1
    • Bunda Lia

      Untuk menyiasati seharusnya dengan rumus sinergi energi Manungku Pujo atau Me-Leng lengkapnya; Leng ing cipto wus gumeleng. Ling dumelenging swaraning asepi. Lung tumulunging kasunyatan. Lang ketawang suksmo ilang. Untuk itu menyatukan jiwa, semadhi untuk memohon kepada Tuhan YME, mohon pengampunan, perlindungan agar mendapatkan pertolongan dan keselamatan yang nyata dengan olah rasa dan untuk itu kita dengan landasan; Neng – Ning – Nung – Nang yang artinya yg artinya saya jelaskan diatas setelah kita miliki rasa Neng-Ning- Nung- Nang kita harus berusaha menghindari rasa M limo (5) yaitu Madal- Madul- Milik- Meri- Maidho…. Inilah jalanya orang menjadi sabar dan berjalan menuju jalan yang mendapat Ridho’ Allah SWT.
      4 Maret pukul 21:14 · Tidak Suka · 4
    • Mela Yang · Berteman dengan RM Cakra dan 1 lainnya

      sy salut dgn pengetahuan yg bunda punya…tp syg bunda,sy krg faham dgn bhs jawa. coz sy msh bljr bun tuk mengerti bhs jawa….maafkan kebodohan sy bun…..he..he..he..piiss…salam..

      4 Maret pukul 21:20 · Tidak Suka · 2
    • Sekar ArumSlmt mlm Bunda. Kt nenek sy dlu “Wong jawa kudhu ngerti jawane, yen ora ngerti kudhu belajar”. Senajan aq ora bisa basa jawa alus, nanging aq seneng nguri uri kabudayan jawa. Bunda…tlng tag gmbr diatas. Mksh

      4 Maret pukul 21:22 · Tidak Suka · 1
    • Bunda LiaMbak Mela Yang hari ini sudah hari ke 6 cerita dari KGRK tolong baca ke statusku kemarin2 yg ada gambarnya wanita cantik tapi bukan KGRK silahkan….selamat malam mbak…

      4 Maret pukul 21:23 · Tidak Suka · 3
    • Bunda Lia Mbak Sekar Arumaku bantu tag… yg KGRK kemarin2 tag sendiri ya aku pakai hp perjalanan ke Prambanan kulakan mbak … maklum say… sekarang jadi mbok sayur….

      4 Maret pukul 21:26 · Tidak Suka · 2
    • Mela Yang · Berteman dengan RM Cakra dan 1 lainnya

      waaahh…berarti aku ketinggalan ya bun….g pa2 kan bun ”lebih baik ketinggalan dr pd tdk sama se X…

      4 Maret pukul 21:27 · Tidak Suka · 1
    • Wadi Naza · Berteman dengan Tia Duba Ardhina

      Bunda lam kenal…..
      bunda kt2 ya sungguh menarik,smua kt2 bunda penuh hikmah ya,tp kl bs org hidup harus tau hakekat ya…..bukan ya begitu Bunda…!!!!

      4 Maret pukul 21:31 · Tidak Suka · 1
    • Bunda Lia

      Ok maaf ya aku tinggal dulu semuanya masalah Kiageng Giring … Kiageng Pemanahan dan KGRK besok… bukan tidak bertanggung jawab karena nuruti pertanyaan … jadi ya harus diterima…. sedang saya harus kulakan di Prambanan… 1 jam lebih perjalanan… pulang jam 2 pagi lebih…. maaf khusus untuk mbak Mela Yang saya tak dapat memenuhi permintaan… kalau tenagaku robot mungkin bisa 7 hari tdk tidur he he he OK maaf mbak sekali lagi WAHYU GAGAK EMPRIT ceritanya besok…. hari ini gambar itu membawa kita kearah budaya… nggak apa2 aku senang… ok selamat malam semuanya Wass…
      4 Maret pukul 21:34 · Tidak Suka · 4
    • Totok Wiro Martono Waaaow……paparan budaya Jawa yang sangat dasyat…falsafah yang memberikan spirit kemanusiaan yang luar biasa…..yang akan menghadirkan semangat hidup dalam hidup dan melahirkan budi pekerti yang terpuji…………Titis …Tatas ….Tetes………,
      salam Budaya

      4 Maret pukul 21:34 · Tidak Suka · 1
    • Bunda Lia Mas Totok Wiro Martono… he he malam mas… salam Jiwa Budaya saudaraku…. damai selalu…. besok membahas Gejawan dan Gejawen setelah membuka tabir Eyang Giring dan Kiageng Pemanahan ya… eeeehhhhh salah Gejawan dan Gejawen Rahasia…. nggak boleh itu ilmu yg akan kuhadiahkan khusus he he he…. tadi dah mulai menulis tapi belum banyak …. Ok aku berangkan kulakan prambanan mas….

    • Turah Eka Pputrabunda 5 M ya tolong jelaskan artinya ke bahasa indonesia…mklm sy orang bali…tp saya inggin bljr bhs jawa skrng 😉

    • Arief Wibisono

      Alhamdulillah…masih ada yang bisa menjembatani jurang pemisah yang dalam…benang merah sejarah masa lalu yang terputus kini pelan2 dirajut kembali…antara peralihan kekuasaan dan peralihan keyakinan/agama…ternyata tidak semua bisa dibumihanguskan meski tanah ini sudah diluluh lantakkan tapi tetap terbit dan tumbuh dalam relung2 sanubari putih ksatria…ajaran2 luhur yang mengandung nilai2 kebenaran tidak bisa dipadamkan begitu saja…masih tetap menyimpan bara api dalam dada para pendekar putih tanah air pertiwi yang siap membakar dan membela kembali….seandainya semua pusaka aktif kembali dan tuahpun dihormati…inti saripati tidak akan terputus begitu saja dan pasti akan sampai pada diri kita serta anak cucu kita semua….sampai akhirnya…kita sendiri yang merasa berada ditengah keterasingan dirumah kita sendiri…yang bisanya hanya melahirkan tanya dan sangsi….menjadi pengekor dan tak tahu memulainya dari arah mana….
      Bangun sebelum pagi berlalu…dengarkan ayam jantan berkokok ditimur jauh….karena datangnya pagi selalu dari arah timur….putra fajar…bangulah sambut…matahari merah diufuk timur……..
      4 Maret pukul 21:43 · Tidak Suka · 1
    • Totok Wiro MartonoSlamat malam juga Bunda, he he he…yang dua itu amat sangat saya tunggu…dan Matur nuwun banget atas segalanya…….Salam Budaya

      4 Maret pukul 21:45 · Tidak Suka · 1
    • Ray Abikusno DuaSelamat malam Bunda, mohon izin tag ya Bunda, terima kasih 🙂

    • Sekar ArumMksh ya Bunda, maaf ngrepotin. Smg perjlnan ke prambanan sllu dlm LindunganNYA dan slmt sampai tujuan. Ttp sehat dan semangat.

    • Syahwir Papude Dinda Bunda Lia…Selamat Malam menjelang subuh…Semoga DIA YANG MAHA RAHIIM senantiasa selalu MEMBERKAHI kita timbal balik…Salaam Hormat, Bahagia dan Santun kanda…Do’a dan Harapan kanda selalu…!!

  •  
    Tulis komentar…
Iklan

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on Maret 9, 2012, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: