Ketika … Kau datang saat aku sempurna melupa semua tapak yang pernah kujejak dalam kesendirian namun pasti….. Tak pernah tersisa penyesalan atas semua ingin yang tak sampai, karena kita hanya mengikuti sebuah kepastian…. Seperti bintang-2 yang patuh pada garis edar…. Lintasan itu kadang bersejajar beberapa masa, seolah akan selalu sepanjang waktu….Tapi mahluk tak punya hak atas keabadian, juga kepastian taukah dirimu akan ini semua…. Semua hanya kesementaraan dan selalu menyisakan pertanyaan. Kita pun tersadar tak berada pada satu lintasan takdir …. Lintasan kita menjauh, segala yang kita maksud tertebar di kaki nasib….. Lalu berjalan lagi pada garis hidup masing-2….

Suka · · Bagikan · 22 Maret pukul 21:08 ·
  • Bunda Lia dan 125 orang lainnya menyukai ini.
    • Bunda LiaMenerima semua ketentuan dengan diam tanpa dendam….. inilah putaran roda kehidupan… inilah rasaku… dan maafku… aku tak tau mungkinkah semua akan terjadi ??? Jangan hanyut dalam khayalmu karena tak mungkin kau mampu mengimbangi dan tak mungkin kau mampu mengisi adaku…. karena aku hanya ingin begini adanya… dan tak akan menerimamu… maafku… keceriaanku bukan untukmu namun untuk semua… senyumku bukan pula untukmu namun untuk keramahan sesama…

    • Bunda LiaPanca indera, rasa hati dan pengertian. Pertama, pancaindera, seperti yang telah kita ketahui yaitu alat penglihatan (mata), alat pendengaran (telinga), alat penciuman (hidung), alat pencecap (lidah) dan alat peraba (kulit, misalnya: jari- jari tangan merasa panas kena api, kulit merasa gatal terkena bulu ulat, dll). Kedua, rasa hati, adalah suatu kesadaran diri tentang keberadaan aku di mana aku dapat merasa senang, susah dan lain-lain. Ketiga, adalah pengertian, kegunaan pengertian dapat menentukan tentang hal-hal yang berasal dari pancaindera dan juga dari rasa hati…. nah disini kalau rasa ini sudah mati karena melihat sesuatu yg kurang baik atau kurang berkenan dalam pandangan kedepan apakah kita mau menerjang… lebih baik jangan sebelum langkah kita semakin jauh… keraguan itu jangan sampai ada … dari pada ragu lebih baik cukup dan sudahi… jangan memaksa melangkah… berbahaya dibelakang kita nantinya….

    • Sila SadewaHeeeemmmmmmm . . . . . !

    • Azis Kali Mayyalangit biru ini sudah tak seindah dulu lagi….sunyi dn gelap tak trlihat….smua hy bayangan…

    • Arie SetiawantiBunda……….

    • Bunda LiaPengertian di sebut pula sebagai persepsi, yang pada gilirannya akan menentukan mind-set atau pola pikir…. KALAU PIKIRAN KITA RAGU DAN TAK DAPAT MENERIMA … KITA MAU APA??? Dengan demikian alat pengertian ini dapat dikatakan sebagai alat yang tertinggi tingkatan otonominya bagi manusia karena ia sudah melampaui pengetahuan yang didapat dari alat pertama dan kedua. Ia sudah merupakan suatu refleksi kritis, kontemplasi, endapan yang didapat dengan cara menyeleksi hal-hal yang tidak diperlukan kemudian hanya memilih yang berguna atau bermanfaat saja. Sedangkan alat di luar ketiga tersebut tak diketahui karena di dalamnya terdapat banyak hal yang masih mysteri sulit terjangkau oleh kemampuan alat manusia…..

    • Aku DiaDiajeng Ayu Bunda Lia ……:)

    • Dedy AnggoroBahasa hati yg penuh dengan warna warni rasa cinta…..dalam..sangat dalam…lebih dalam…begitu dalam….bermuara ke lubuk hati nurani..”

    • Syahwir Papude Dinda Bunda Lia…Selamat Malam…Salaam Hormat, Bahagia dan Santun kanda selalu…Dinda semuanya akan berjalan menurut takdir DIA YANG MAHA CINTA…Keyakinan serta Kesabaran adalah dua hal yang harus kita tanamkan kedalam jiwa, agar setiap keputusan~NYA kita akan terima dengan Ikhlas serta penuh dengan Rasa Syukur…

    • Pur NomoMantap .. !

    • Bunda LiaMENGENALI JATI DIRI itu sangat perlu… dan ini harus… jangan larut dalam perasaan….karena…. Jiwa adalah nafas, nafs, hawa atau nafsu. Jiwa yang telah merdeka barangkali artinya sepadan dengan apa yang dimaksud jiwa yang mutmainah (an-nafsul mutmainah). Rasanya sepadan dengan apa yang dimaksud dalam konsep sebagai aku bukan kramadangsa. Aku bukan kramadangsa selanjutnya saya lebih suka menyebutnya sebagai JIWA yang NURUTI KAREPING RAHSA, lebih mudah dipahami bila saya analogikan sebagai Jiwa yang Tunduk kepada Sukma Jati…. Sebaliknya apa yang disebut sebagai jiwa kramadangsa, aku kramadangsa, tidak lain adalah jiwa yang NURUTI RAHSANING KAREP. Lebih tegas lagi saya sebut sebagai Jiwa yang DITAKLUKKAN OLEH JASAD…. nah kalau rasa sudah tak ada …. kepercayaan sudah luntur…. kita mau apa… apakah kita tetap muju…???? OOowwwwoooo…. nanti dulu….

    • Mardjito YonathanTrima ing pandum,ndherek ing rancanganNYA

    • Herdiman Sastrosudirdjo Tak pernah surut…. makin mantabbb…. sugeng ndalu Bunda Lia…..

    • Gde Mahesa jalan sendiri, menyusuri sepi, penuh onak duri tak kan mengguncang hati ……………………………………………………………………………… berhati menyungging senyum sendiri : hihihihi…

    • Tatot Pitulungangaris edarnya di mana ya.. ! apa ada hakim garisnya..

    • Budi Van Hallenamin ………….

    • Mardjito Yonathan Wekdal sumene ing dalasan ratri
      bayu kang mematri ,lumebet anyep ing jaladri
      makaryo jiwa ing saklebeting jalmi
      tumapak ing wekdal semedi
      sugeng ndalu,sugeng manembah

    • Bunda LiaBarangkali perlu dipahami bahwa jiwa kramadangsa (rasa nama) kesadarannya lebih dari jiwa yang berhasil diidentifikasi oleh Aristoteles sebagai jiwa yang ikut mati. Saya kira Aristoteles hanya menangkap jiwa-jiwa sebagaimana jiwa binatang dan tumbuhan yang ikut mati. Dan Sementara itu jiwa kramadangsa di sini adalah jiwa dengan kesadaran rendah, yang dimiliki manusia. Jiwa kramadangsa hanya terdiri dari kumpulan seluruh catatatan di dalam memori jasad manusia yang berisi semua tentang dirinya dan semua yang pernah dialaminya. Tidak seluruh memori itu bersifat abadi karena banyak catatan-catatan in memorial dapat terlupakan bahkan lenyap bersama jasad yang mati. Berbeda dengan “aku bukan kramadangsa”, berarti yang dimaksudkan adalah “aku yang dapat mengatasi kramadangsa” karena itu “aku” adalah aku yang dapat mengatur dengan baik kramadangsa-ku sendrini…

    • Aljufri JErryMantap bundaaaa

    • Dedy Anggoro Iradat ~NYA sedang bekerja melalui kalam~NYA..melembari aksara yg mensifati af ‘AL yg mewujudkan suatu pengertian dari ILMU HAYAT”
      Tuk sebuah kesempurnaan sifat yg bertemu..menyatu..dan lebur tenggelam.. Menjadi..DIRi nya..DIA nya..AKU nya…..di dalam diam dan di dalam gerak~NYA.”

    • Pedy BudisatrioKata2 bijak yg menyejukkan…sugeng ndalu bunda…selamat beristirahat bunda

    • Bunda LiaPengalaman demi pengalaman batin, memang bersifat subyektif, artinya tak mudah dibuktikann secara obyektif oleh banyak orang, namun saya yakin banyak di antara para pembaca pernah merasakan, paling tidak dapat meraba apa sesungguhnya hubungan di antara jiwa, roh, dan jasad. Walaupun jiwa dan roh berkaitan dengan gaib, namun bukankah entitas gaib itu berada dalam diri kita. Diri yang terdiri dari unsur gaib dan unsur wadag (fisik), tak ada alasan bagi siapapun untuk tidak bisa merasakan dan menyaksikan “obyektivitas” kegaiban. Mencegah diri kita dari unsur dan wahana yang gaib sama saja artinya kita mengalienasi (mengasingkan) dan membatasi diri kita dari “diri sejati” yang sungguh dekat dan melekat di dalam badan raga kita….

    • Teddy Delano Menurut Plato (gurunya Aristoteles), jiwa memiliki asal usul yang lebih mulia dibandingkan dengan kenyataan duniawi, oleh karena itu ia tidak bergantung kepada proses perubahan yang terjadi terus menerus, tetapi ia dekat kepada suatu dunia yang merupakan realitas rohani. Sehingga dapat dikatakan bahwa jika tubuh musnah, maka jiwa akan tetap ada dan tetap hidup.

      Sedangkan menurut Mbah Prapto dari Padepokan Lemah Putih, dalam kehidupan ini jiwa manusia melakukan perjalanan dari hana tan hana menuju ke sarining hana. Hana tan hana adalah ada yang tiada–tempat di mana manusia hidup. Sedangkan sarining hana adalah sari dari segala yang ada–tempat alam keabadian Hyang Sukma.

    • Azis Kali Mayyastiap orang hy bs mraba dn menganalisa…kebenaran mutlak milik sang Kholiq,dn stiap manusia merasa benar,tinggal sejauh mana manusia it mmbw kebenaran yg diyakininya…

    • Bunda LiaHubungan antara roh/sukma dengan raga bagaikan rangkaian perangkat internet… laksana kita main FB…. di warnet…. . Sukma atau roh dapat diumpamakan IP atau internet protocol, yang mengirimkan fakta-fakta dan data-data “gaib” dalam bentuk “bahasa mesin” yang akan diterima oleh perangkat keras atau hardware. Adapun hardware di sini berupa otak (brain) kanan dan otak kiri manusia. Sedangkan tubuh manusia secara keseluruhan dapat diumpamakan sebagai seperangkat alat elektronik bernama PC atau personal komputer, note book, laptop dst yang terdiri dari rangkaian beberapa hardware. Hardware otak tak akan bisa beroperasional dengan sendirinya menerima fakta dan data gaib yang dikirim oleh sukma. Hardware otak terlebih dulu harus diisi (instalation) dengan perangkat lunak atau sofware berupa “program” yang bernama spiritual mind atau pemikiran tentang Ketuhanan, atau pemikiran tentang yang gaib.

    • Azis Kali Mayyakelemahan pc sering eror bund,dn hadrware atau sofware…tdk bs brdiri sndiri hy bs menerima perintah…dn byk klemahannya,krna pc tidak mempunyai Qolbu..

    • Bunda LiaWalahhhhhh malah udan…. Ok lanjut… Namun demikian, hardware otak tidak akan mampu memahami fakta2 gaib tanpa adanya jembatan penghubung bernama jiwa. Jiwa merupakan jembatan penghubung antara sukma dengan raga. Aktivitas sukma antara lain mengirimkan bahasa universal kepada raga. Bahasa universal tersebut dapat berupa sinyal-2 gaib, pralampita, perlambang, simbol-2, dalam hal ini saya umpamakan layaknya bahasa mesin, di mana jiwa harus menterjemahkannya ke dalam berbagai bahasa verbal agar mudah dimengerti oleh otak manusia. Tugas jiwa tak ubahnya modem untuk menterjemahkan “bahasa mesin” atau bahasa universal yang dimiliki oleh sukma menjadi bahasa verbal manusia…..Namun demikian, masing-2 jiwa memiliki kemampuan berbeda-2 dalam menterjemahkan bahasa universal atau sinyal yang dikirim oleh sukma kepada raga, tergantung program atau perangkat lunak (software) jenis apa yang diinstal di dalamnya. Misalnya kita memiliki program canggih bernama Java script, yang bisa merubah bahasa mesin ke dalam bentuk huruf latin atau bahasa verbal, dan bisa dibaca oleh mata wadag…..

    • Bunda LiaSetelah jiwa berhasil menterjemahkan “bahasa mesin”, atau bahasa universal sukma ke dalam bahasa verbal, selanjutnya menjadi tugas otak bagian kanan manusia untuk mengolah dan menilainya melalui spiritual mind atau pemikiran spiritual. Semakin besar kapasitas random acces memory (RAM) yang dimiliki otak bagian kanan, seseorang akan lebih mampu memahami “kabar dari langit” yang dibawa oleh sukma, dan diterjemahkan oleh jiwa. Itulah alasan perlunya kita meng upgrade kapasitas “RAM” otak bagian kanan kita agar supaya lebih mudah memahami fakta gaib secara logic. Sebab sejauh yang bisa saya saksikan, kenyataan gaib itu tak ada yang tidak masuk akal. Jika dirasakan ada yang tak masuk akal, letak “kesalahan” bukan pada kenyataan gaibnya, tetapi karena otak kita belum cukup menerima informasi dan “data-data gaib”. Dimensi gaib memiliki rumus-rumus, dan hukum yang jauh lebih luas daan rumit daripada rumus-rumus yang ada di dalam dimensi wadag bumi….

    • Abdul Lathif ‎.
      Assalaamu’alaikum……
      sugeng ndalu, Yunda…. mudah-mudahan semua semuanya baik saja….

    • Bunda LiaContoh yang paling mudah, misalnya segala sesuatu yang ada di dalam dimensi wadag bumi, mengalami rumus atau prinsip terjadi kerusakan (mercapadha). Merca berarti panas atau rusak, padha adalah papan atau tempat. Mercapadha adalah tempat di mana segala sesuatunya pasti akan mengalami kerusakan. Sementara itu di dalam dimensi gaib, rumus kerusakan tak berlaku. Sehingga disebutnya sebagai dimensi keabadian, atau alam kehidupan sejati, alam kelanggengan, papan kang langgeng tan owah gingsir…..

    • Bunda LiaSekalipun organ tubuh manusia, apabila dibawa ke dalam dimensi kelanggengan, pastilah tak akan rusak atau busuk sebagaimana pernah saya ungkapkan dalam tulisan terdahulu, Sebaliknya, sukma yang hadir ke dalam dimensi bumi, pastilah terkena rumus atau prinsip mercapadha, yakni mengalami rasa cape, sakit, rasa lapar, ingin menikmati makanan dan minuman yang ia sukai sewaktu tinggal di dimensi bumi bersama raga. Hanya saja, sukmanya merupakan unsur gaib, maka tak akan terkena rumus atau prinsip mengalami kematian sebagaimana raga….

    • Dedy AnggoroSebuah piagam ketuhanan yg sudah sampai kepada hamba hambanya yg memegang AMANAH..l

    • Bunda LiaJiwa yang terlahir ke dalam jasad manusia merupakan software yang merdeka dan bebas menentukan pilihan… jadi pilihanpun tak boleh dipaksakan harus begini harus begitu… karena semua telah menjadi program…. begitu juga manusia jangan memaksa kalau memang tak mau… jangan pernah mengancam… karena ancaman itu virus… dan pasti ada maksud yg nggak baik….. Apakah akan menjadi jiwa yang mempunyai prinsip keseimbangan, yakni seimbang berdiri di antara sukma dan raga, menjadi pribadi yang seimbang lahir dan batinnya. Ataukah akan menjadi jiwa yang berat sebelah, yakni tunduk kepada sukma, ataukah jiwa yang menghamba kepada raga saja. Untuk menjadi pribadi yang dapat meraih keseimbangan lahir dan batin, jiwanya harus memperhatikan dan menghayati apa saran sang sukma (nuruti kareping rahsa). Tak perlu meragukan kemampuan sang sukma sebab ia tak akan salah jalan dalam menuntun seseorang menggapai keseimbangan lahir dan batin….

    • Azis Kali Mayyamanusia it dhoif bund…mau pergi sejauh manapun tetap dhoif…

    • Bunda LiaPribadi yang seimbang lahir dan batinnya akan mudah menggapai kemuliaan hidup di dunia dan kehidupan sejati setelah raganya ajal. Sementara itu bagi jiwa yang mau diperbudak oleh raga berarti menjadi pribadi yang hidup dalam penguasaan lymbic section, atau insting dasar hewani, selalu mengumbar hawa nafsu (nuruti rahsaning karep). Tentu saja kehidupannya akan jauh dari kemuliaan sejak hidup di mercapadha maupun kelak dalam kehidupan sejati….

    • Bunda LiaSebaliknya, bagi jiwa yang terlalu condong kepada sukma, ia akan menjadi pribadi yang fatalis, tak ada lagi kemauan, inisiatif, dan semangat menjalani kehidupan di dimensi wadag planet bumi ini. Seseorang akan terjebak ke dalam pola hidup yang mengabaikan kehidupan duniawi. Hal ini sangatlah timpang, sebab kehidupan duniawi ini akan sangat menentukan bagimana kehidupan kita kelak di alam keabadian. Apakah seseorang akan menggapai kemuliaan bahkan kemuliaan Hidup di dunia merupakan bekal di akhirat. Sebagaimana para murid Syeh Siti Jenar yang gagal dalam memahami apa yang diajarkan oleh gurunya. Para murid menyangka kehidupan di planet bumi ini tak ada gunanya, bagaikan mayat bergentayangan penuh dosa. Kehidupan dunia bagaikan penghalang dan penjara bagi roh menuju ke alam keabadian. Jalan satu-satunya melepaskan diri dari penjara kehidupan dunia ini adalah jalan kematian. Sehingga banyak di antara muridnya melakukan tindakan keonaran agar supaya menemui kematian.

    • Arief WibisonoHmmmmm……..

    • Lee Mellybundaaaaa…… aku di approve donk…. cek angelmen seng golei FB ne… :y))

    • Dodol Banjarwuiiih keren….’ makin cantik dan langsing………….

    • Putra Grogol Grogolkok tambah cantik dan remaja bun………………

About Bunda Lia

Tidak ada hal yang mustahil apapun dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan. Hidup damai dan rukun sesama masyarakat. Birunya harapan msh menjadi teka teki, bagai musafir disahara berhrp mendptkan air, saat kemarau mengiringi perja lanannya, smua kering, sepi, bisu hny semilir angin panas ikut menyertai.Kau menyambangiku ketika seluruh pintu telah kukunci. Kita bertukar kata di balik tembok tinggi. Tak ada lagi cekrama canda dan cinta bagi bilik hatiku. Tinggal dinding pemahaman yang lebih agung dari rasa. Kita bukan lagi sepasang jiwa yang mendaki didalam dinding bilik hatiku atau putaran takdir. Kau dan aku menjadi kumpulan keterbatasan yang luruh pada ketentuan Maha Cinta. Tak ada lagi sekeping harap yang kita titipkan pada puing senyap. Sebab asa telah membumbung pada manzila yang lebih tinggi dari arasy. Hati tak lagi mengeja bagai tulisan sang pujangga… kemungkinan beriringan mamasuki dinding tembok yang kokoh. Telah kubangun bilik jiwa yang melampaui wingitnya puri pemujaan. Kutisik waktu dengan benang pengharapan yang lebih detail dari semua keinginan….

Posted on Maret 27, 2012, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: