ISTIGHOSAH… DAMAILAH INDONESIAKU.

Sambutan Istighosah Akbar Taman Hati Songgo Buwono
14, Februari 2013-02-13 Pendopo Alit Songgo Buwono Jln.Parangtritis Km.12 No.22 Manding Serut- sabdodadi-Bantul.Yogyakarta.

Assalamu’alaikum wr wb.
Istighotsah Akbar Taman Hati Songgo Buwono, arahnya adalah pemberdayaan dan pengembangan sosial ekonomi menuju” Damailah Indonesiaku” Yang mana Songgo Buwono akan meluncurkan “PT.Citra Songsong Buwono dan Lembaga Songsong Buwono” Yang bertujuan untuk memberi stimulan dan melahirkan pengusaha-pengusaha kecil untuk kesejahteraan rakyat kecil di berbagai daerah menuju Indonesia Damai adil makmur dan sentosa.

Perjalanan hidup merupakan proses pematangan mental spiritual bagi umat manusia, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. Demikian pula dalam berbangsa dan bernegara. Sudah sekian tahun bangsa ini menyatakan kemerdekaannya, namun… apakah kita telah memperoleh kemerdekaan yang hakiki……? Memang dalam tatanan kenegaraan, Kita sudah menjadi bangsa yang merdeka. Namun naifnya, dalam kemerdekaan itu kita dikerdilkan oleh diri kita sendiri, dikerdilkan oleh bangsa kita sendiri, Dimana kemerdekaan digeser menjadi kesewenangan dan bertindak semaunya. Padahal toleransi dan rasa kebersamaan jauh lebih manfaat ketimbang itu.
Kemerdekaan menjadi barang runyam, jika yang merdeka tak memiliki keutuhan jati diri. Manusia adalah sesempurnna-sempurnanya mahluk yang diciptakan Allah. Manusia adalah mahluk multi dimensi yang memiliki Cipta, rasa dan karsa, bukan barang mati yang hanya menjadi alat pelengkap dalam kehidupan.
Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak,
oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil,
sang korek api langsung terbakar.

Kita mempunyai kepala, dan juga otak,
jadi kita tidak perlu bertengkar hanya karena gesekan kecil,
dengan menggunakan otak, kita dapat mengatasi masalah.

Ketika burung hidup, ia makan semut.
Ketika burung mati, semut makan burung.
Waktu terus berputar sepanjang jaman.
Siklus kehidupan terus berlanjut.

Jangan merendahkan siapapun dalam hidup.
Akan tetapi kita harus menunjukkan penghargaan pada orang lain,
bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita.
Kita mungkin berkuasa, tapi waktu lebih berkuasa daripada kita.
Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita,
kita merasa penuh percaya diri untuk melakukan apa saja.

Waktu kita tak berdaya,
barulah kita sadar selama ini siapa sahabat sejati kita,
siapa teman yang hanya memperalat dan memanfaatkan kita.
Dan Waktu kita sakit,
kita baru tahu bahwa sehat itu sangat berharga, jauh melebihi harta.
Manakala kita miskin,
kita baru tahu, jadi orang harus banyak bersedekah dan saling membantu.
Ketika kita tua,
kita baru tahu, kalau masih banyak yang belum dikerjakan.
Dan, setelah di ambang ajal,
kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Hidup tidaklah lama,
sudah saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA
Saling menghargai,
Saling membantu dan memberi,
Saling mendukung,
Jadilah teman setia tanpa syarat, Jauhkan niat jahat untuk memperdaya teman
Jauhkan memaksa seseorang melakukan suatu hal untuk kepentingan pribadi kita.

Aku hanyalah setitik debu ditengah padang ilalang
Akan hilang musnah tertiup angin kemarau
Akan lebur bersama embun dan hujan
Karena aku bukan siapa-siapa…

Mungkinkah keharmonisan ini bisa dicapai hanya dengan kata merdeka…? jawabnya jelas tidak. Untuk menuju kesadaran yang demikian dibutuhkan kemanunggalan antara cipta rasa dan karsa. Hal ini jelas merupakan gambaran dari saling menunjangnya antara keimanan dalam beragama dengan adat dan tradisi yang berlaku di masyarakat. Jika itu berlangsung, maka Damailah Indonesiaku. Indonesia yang lahir dari mata air yang jernih.
Untuk itu, mari kita bersama-sama berniat dan berbuat untuk mencapai harmoni kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Kita rangkai bunga-bunga keimanan di Taman Hati kita, agar kemerdekaan dapat dirasakan dan dinikmati secara bersama-sama. Mari kita wujudkan cita-cita dan angan kita bersama untuk mengembalikan nusantara menjadi tletah yang “Tata titi tentrem, kerta raharja, loh jinawi” Dialah Indonesia yang Beradab, Beradat dan Beriman.
Ingat…., Negeri ini adalah warisan dari para leluhur, yang sudah barang tentu beliau-beliau juga memiliki tujuan mewariskan hal-hal baik juga ciri-ciri tertentu sebagai identitasnya. Salah satu contoh dalam kehidupan bermasyarakat, setiap anggota masyarakat harus memiliki sikap “golong-gilig, ajur-ajer” sehingga akan mengkoloid menjadi sebuah sikap yang “labuh-labet”. Itulah salah satu ciri dan bagian dari identitas yangdiwariskan para leluhur bangsa ini kepada kita.
Seyogyanya sikap-sikap seperti ini harus dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa kecuali. Baik rakyat maupun pamong sekalipun. Maka sudah menjadi kemakluman, bahkan keharusan bagi kita untuk selalu mengingat dan menghargai moyang kita sendiri yang telah mewariskan hal baik kepada kita.
Guna merekonstruksi dan mengembalikan sikap labuh labet dibutuhkan seorang pemimpin yang benar-benar memiliki daya rasa dan fikir yang linuwih dan memiliki legetimasi di masyarakat. Bak mencari jarum di tumpukan jerami, hal ini sungguh dulit. Namun yakinlah, kedepan Allah akan menunjukkan dan memberikan kepada kita pemimpin yang kita idamkan itu. Pemimpin yang memiliki hati nurani, negarawan yang berjiwa kebangsaan, Insan yang memiliki sifat “ Tutur, Sembur, Uwur …. hingga mampu mewujudkan impian rakyatnya.
Pemimpin yang lahir dari rakyat dan berpihak kepada rakyat. Pemimpin itu melihat lebih jauh dan lebih dalam dari pada orang lain, Melihat lebih banyak dari pada orang lain, lebih dulu melihat dari pada orang lain. pemimpin yang bisa ngayomi / ngayemi masyarakat – kawulo alit. Berani tanggung jawab dan ambil oper kesalahan anak buah, sonder berfikir demi keuntungan pribadi.
Dudukilah TEKAT.
Tak bisa dipungkiri, setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Setiap orang memiliki fungsi yang berbeda-beda.
Sehingga hak-hak individu harus saling dihormati.
Dan yang jelas, kita harus mempertahankan keutuhan tali silaturahmi. Yakinlah jika kita benar-benar melaksanakan amanat Pancasila dan UUD 45 dengan murni dan konsekuen, Nusantara akan tetap Jaya dan bersahaja. Tidak akan ada anak bangsa yang durhaka terhadap Ibu Pertiwi, dan dia selalu mengingat nenek moyangnya.
Mungkin, keadaan yang carut marut karena “Air, Angin, Api dan Berbagai Penyakit” saat ini adalah teguran dari Yang Maha Kuasa. Mungkin kita lupa bersyukur dan lupa berterima kasih kepada alam dimana kita tinggal. Bumi yang sudah menghidupi kita, alam yang telah menyediakan segalanya untuk keperluan hidup kita. Sadar akan hal itu, mari kita membangun kembali jati diri bangsa ini secara bersama-sama, bangsa yang beriman kepada sang kholiq, bangsa yang tak lelah mengenang dan menghargai para leluhur, bangsa yang mengabdi pada kejayaan Ibu Pertiwi. Karena itulah kunci republik ini, menuju Indonesia yang “Tata titi tentrem, kerta raharja, loh jinawi” yang kita cita-citakan bersama.
Kami sangat ingin dan sangat gandrung kemerdekaan lahir batin, semoga terwujud cita-cita Bangsa Indonesia dan mendapatkan pemimpin yang diharapkan rakyatnya. Mari kita basuh bumi ini dengan budi pekerti dan kemurnian hati nurani guna menata “Taman Hati” sebagai penghias surganya surga dari sang pencipta.
Demikian sekapur sirih dari saya. . . . . . . . . . . . . . .. . . .Wassalamu’alaikum wR wB.

Bantul tertanda Bunda Lia. 14 Pebruari 2013

Foto: Sambutan Istighosah Akbar Taman Hati Songgo Buwono
14, Februari 2013-02-13                                                                            Pendopo Alit Songgo Buwono Jln.Parangtritis Km.12 No.22 Manding Serut- sabdodadi-Bantul.Yogyakarta.

Assalamu'alaikum wr wb.
Istighotsah Akbar Taman Hati Songgo Buwono, arahnya adalah pemberdayaan dan pengembangan sosial ekonomi menuju" Damailah Indonesiaku" Yang mana Songgo Buwono akan meluncurkan "PT.Citra Songsong Buwono dan Lembaga Songsong Buwono" Yang bertujuan untuk memberi stimulan dan melahirkan pengusaha-pengusaha kecil untuk kesejahteraan rakyat kecil di berbagai daerah menuju Indonesia Damai adil makmur dan sentosa.

Perjalanan hidup merupakan proses pematangan mental spiritual bagi umat manusia, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. Demikian pula dalam berbangsa dan bernegara. Sudah sekian tahun bangsa ini menyatakan kemerdekaannya, namun... apakah kita telah memperoleh kemerdekaan yang hakiki......?  Memang dalam tatanan kenegaraan, Kita sudah menjadi bangsa yang merdeka. Namun naifnya, dalam kemerdekaan itu kita dikerdilkan oleh diri kita sendiri,  dikerdilkan oleh bangsa kita sendiri, Dimana kemerdekaan digeser menjadi kesewenangan dan bertindak semaunya. Padahal toleransi dan rasa kebersamaan jauh lebih manfaat ketimbang itu.
Kemerdekaan menjadi barang runyam, jika yang merdeka tak memiliki keutuhan jati diri. Manusia adalah sesempurnna-sempurnanya mahluk yang diciptakan Allah. Manusia adalah mahluk multi dimensi yang memiliki Cipta, rasa dan karsa, bukan barang mati yang hanya menjadi alat pelengkap dalam kehidupan.
Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak,
oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil,
sang korek api langsung terbakar.

Kita mempunyai kepala, dan juga otak,
jadi kita tidak perlu bertengkar hanya karena gesekan kecil,
dengan menggunakan otak, kita dapat mengatasi masalah.

Ketika burung hidup, ia makan semut.
Ketika burung mati, semut makan burung.
Waktu terus berputar sepanjang jaman.
Siklus kehidupan terus berlanjut.

Jangan merendahkan siapapun dalam hidup.
Akan tetapi kita harus menunjukkan penghargaan pada orang lain,
bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita.
Kita mungkin berkuasa, tapi waktu lebih berkuasa daripada kita.
Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita,
kita merasa penuh percaya diri untuk melakukan apa saja.

Waktu kita tak berdaya,
barulah kita sadar selama ini siapa sahabat sejati kita,
siapa teman yang hanya memperalat dan memanfaatkan kita.
Dan Waktu kita sakit,
kita baru tahu bahwa sehat itu sangat berharga, jauh melebihi harta.
Manakala kita miskin,
kita baru tahu, jadi orang harus banyak bersedekah dan saling membantu.
Ketika kita tua,
kita baru tahu, kalau masih banyak yang belum dikerjakan.
Dan, setelah di ambang ajal,
kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Hidup tidaklah lama,
sudah saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA
Saling menghargai,
Saling membantu dan memberi,
Saling mendukung,
Jadilah teman setia tanpa syarat, Jauhkan niat jahat untuk memperdaya teman
Jauhkan memaksa seseorang melakukan suatu hal untuk kepentingan pribadi kita.

Aku hanyalah setitik debu ditengah padang ilalang
Akan hilang musnah tertiup angin kemarau
Akan lebur bersama embun dan hujan
Karena aku bukan siapa-siapa...

Mungkinkah keharmonisan ini bisa dicapai hanya dengan kata merdeka...? jawabnya jelas tidak. Untuk menuju kesadaran yang demikian dibutuhkan kemanunggalan antara cipta rasa dan karsa. Hal ini jelas merupakan gambaran dari saling menunjangnya antara keimanan dalam beragama dengan adat dan tradisi yang berlaku di masyarakat. Jika itu berlangsung, maka Damailah Indonesiaku. Indonesia yang lahir dari mata air yang jernih.
Untuk itu, mari kita bersama-sama berniat dan berbuat untuk mencapai harmoni kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Kita rangkai bunga-bunga keimanan di Taman Hati kita, agar kemerdekaan dapat dirasakan dan dinikmati secara bersama-sama. Mari kita wujudkan cita-cita dan angan kita bersama untuk mengembalikan nusantara menjadi tletah yang “Tata titi tentrem, kerta raharja, loh jinawi” Dialah Indonesia yang Beradab, Beradat dan Beriman.
Ingat...., Negeri ini adalah warisan dari para leluhur, yang sudah barang tentu beliau-beliau juga memiliki tujuan mewariskan hal-hal baik juga ciri-ciri tertentu sebagai identitasnya. Salah satu contoh dalam kehidupan bermasyarakat, setiap anggota masyarakat harus memiliki sikap “golong-gilig, ajur-ajer” sehingga akan mengkoloid menjadi sebuah sikap yang “labuh-labet”. Itulah salah satu ciri dan bagian dari identitas yangdiwariskan para leluhur bangsa ini kepada kita.
Seyogyanya sikap-sikap seperti ini harus dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa kecuali. Baik rakyat maupun pamong sekalipun. Maka sudah menjadi kemakluman, bahkan keharusan bagi kita untuk selalu mengingat dan menghargai moyang kita sendiri yang telah mewariskan hal baik kepada kita.
Guna merekonstruksi dan mengembalikan sikap labuh labet  dibutuhkan seorang pemimpin yang benar-benar memiliki daya rasa dan fikir yang linuwih dan memiliki legetimasi di masyarakat. Bak mencari jarum di tumpukan jerami, hal ini sungguh dulit. Namun yakinlah, kedepan Allah akan menunjukkan dan memberikan kepada kita pemimpin  yang kita idamkan itu. Pemimpin yang memiliki hati nurani, negarawan yang berjiwa kebangsaan, Insan yang memiliki sifat “ Tutur, Sembur, Uwur .... hingga mampu mewujudkan impian rakyatnya. 
Pemimpin yang lahir dari rakyat dan berpihak kepada rakyat. Pemimpin itu melihat lebih jauh dan lebih dalam dari pada orang lain, Melihat lebih banyak dari pada orang lain, lebih dulu melihat dari pada orang lain. pemimpin yang bisa ngayomi / ngayemi masyarakat – kawulo alit. Berani tanggung jawab dan ambil oper kesalahan anak buah, sonder berfikir demi keuntungan pribadi. 
Dudukilah TEKAT.
Tak bisa dipungkiri, setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Setiap orang memiliki fungsi yang berbeda-beda.
Sehingga hak-hak individu harus saling dihormati.
Dan yang jelas, kita harus mempertahankan keutuhan tali silaturahmi. Yakinlah jika kita benar-benar melaksanakan amanat Pancasila dan UUD 45 dengan murni dan konsekuen, Nusantara akan tetap Jaya dan bersahaja. Tidak akan ada anak bangsa yang durhaka terhadap Ibu Pertiwi, dan dia selalu mengingat nenek moyangnya. 
Mungkin, keadaan yang carut marut karena “Air, Angin, Api dan Berbagai Penyakit” saat ini adalah teguran dari Yang Maha Kuasa. Mungkin kita lupa bersyukur dan lupa berterima kasih kepada alam dimana kita tinggal. Bumi yang sudah menghidupi kita, alam yang telah menyediakan segalanya untuk keperluan hidup kita. Sadar akan hal itu, mari kita membangun kembali jati diri bangsa ini secara bersama-sama, bangsa yang beriman kepada sang kholiq, bangsa yang tak lelah mengenang dan menghargai para leluhur, bangsa yang mengabdi pada kejayaan Ibu Pertiwi. Karena itulah kunci republik ini, menuju Indonesia yang “Tata titi tentrem, kerta raharja, loh jinawi” yang kita  cita-citakan bersama. 
Kami sangat ingin dan sangat gandrung kemerdekaan lahir batin, semoga terwujud cita-cita Bangsa Indonesia dan mendapatkan pemimpin yang diharapkan rakyatnya. Mari kita basuh bumi ini dengan budi pekerti dan kemurnian hati nurani guna menata  “Taman Hati” sebagai penghias surganya surga dari sang pencipta.
Demikian sekapur sirih dari saya. . . . . . . . . . . . . .  .. . . .Wassalamu'alaikum wR wB. 

Bantul tertanda Bunda Lia. 14 Pebruari 2013
Foto: Sambutan Istighosah Akbar Taman Hati Songgo Buwono
14, Februari 2013-02-13                                                                            Pendopo Alit Songgo Buwono Jln.Parangtritis Km.12 No.22 Manding Serut- sabdodadi-Bantul.Yogyakarta.

Assalamu'alaikum wr wb.
Istighotsah Akbar Taman Hati Songgo Buwono, arahnya adalah pemberdayaan dan pengembangan sosial ekonomi menuju" Damailah Indonesiaku" Yang mana Songgo Buwono akan meluncurkan "PT.Citra Songsong Buwono dan Lembaga Songsong Buwono" Yang bertujuan untuk memberi stimulan dan melahirkan pengusaha-pengusaha kecil untuk kesejahteraan rakyat kecil di berbagai daerah menuju Indonesia Damai adil makmur dan sentosa.

Perjalanan hidup merupakan proses pematangan mental spiritual bagi umat manusia, baik secara sendiri-sendiri maupun bersama. Demikian pula dalam berbangsa dan bernegara. Sudah sekian tahun bangsa ini menyatakan kemerdekaannya, namun... apakah kita telah memperoleh kemerdekaan yang hakiki......?  Memang dalam tatanan kenegaraan, Kita sudah menjadi bangsa yang merdeka. Namun naifnya, dalam kemerdekaan itu kita dikerdilkan oleh diri kita sendiri,  dikerdilkan oleh bangsa kita sendiri, Dimana kemerdekaan digeser menjadi kesewenangan dan bertindak semaunya. Padahal toleransi dan rasa kebersamaan jauh lebih manfaat ketimbang itu.
Kemerdekaan menjadi barang runyam, jika yang merdeka tak memiliki keutuhan jati diri. Manusia adalah sesempurnna-sempurnanya mahluk yang diciptakan Allah. Manusia adalah mahluk multi dimensi yang memiliki Cipta, rasa dan karsa, bukan barang mati yang hanya menjadi alat pelengkap dalam kehidupan.
Korek api mempunyai kepala, tetapi tidak mempunyai otak,
oleh karena itu setiap kali ada gesekan kecil,
sang korek api langsung terbakar.

Kita mempunyai kepala, dan juga otak,
jadi kita tidak perlu bertengkar hanya karena gesekan kecil,
dengan menggunakan otak, kita dapat mengatasi masalah.

Ketika burung hidup, ia makan semut.
Ketika burung mati, semut makan burung.
Waktu terus berputar sepanjang jaman.
Siklus kehidupan terus berlanjut.

Jangan merendahkan siapapun dalam hidup.
Akan tetapi kita harus menunjukkan penghargaan pada orang lain,
bukan karena siapa mereka, tetapi karena siapa diri kita.
Kita mungkin berkuasa, tapi waktu lebih berkuasa daripada kita.
Waktu kita sedang jaya, kita merasa banyak teman di sekeliling kita,
kita merasa penuh percaya diri untuk melakukan apa saja.

Waktu kita tak berdaya,
barulah kita sadar selama ini siapa sahabat sejati kita,
siapa teman yang hanya memperalat dan memanfaatkan kita.
Dan Waktu kita sakit,
kita baru tahu bahwa sehat itu sangat berharga, jauh melebihi harta.
Manakala kita miskin,
kita baru tahu, jadi orang harus banyak bersedekah dan saling membantu.
Ketika kita tua,
kita baru tahu, kalau masih banyak yang belum dikerjakan.
Dan, setelah di ambang ajal,
kita baru tahu ternyata begitu banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Hidup tidaklah lama,
sudah saatnya kita bersama-sama membuat HIDUP LEBIH BERHARGA
Saling menghargai,
Saling membantu dan memberi,
Saling mendukung,
Jadilah teman setia tanpa syarat, Jauhkan niat jahat untuk memperdaya teman
Jauhkan memaksa seseorang melakukan suatu hal untuk kepentingan pribadi kita.

Aku hanyalah setitik debu ditengah padang ilalang
Akan hilang musnah tertiup angin kemarau
Akan lebur bersama embun dan hujan
Karena aku bukan siapa-siapa...

Mungkinkah keharmonisan ini bisa dicapai hanya dengan kata merdeka...? jawabnya jelas tidak. Untuk menuju kesadaran yang demikian dibutuhkan kemanunggalan antara cipta rasa dan karsa. Hal ini jelas merupakan gambaran dari saling menunjangnya antara keimanan dalam beragama dengan adat dan tradisi yang berlaku di masyarakat. Jika itu berlangsung, maka Damailah Indonesiaku. Indonesia yang lahir dari mata air yang jernih.
Untuk itu, mari kita bersama-sama berniat dan berbuat untuk mencapai harmoni kehidupan dalam berbangsa dan bernegara. Kita rangkai bunga-bunga keimanan di Taman Hati kita, agar kemerdekaan dapat dirasakan dan dinikmati secara bersama-sama. Mari kita wujudkan cita-cita dan angan kita bersama untuk mengembalikan nusantara menjadi tletah yang “Tata titi tentrem, kerta raharja, loh jinawi” Dialah Indonesia yang Beradab, Beradat dan Beriman.
Ingat...., Negeri ini adalah warisan dari para leluhur, yang sudah barang tentu beliau-beliau juga memiliki tujuan mewariskan hal-hal baik juga ciri-ciri tertentu sebagai identitasnya. Salah satu contoh dalam kehidupan bermasyarakat, setiap anggota masyarakat harus memiliki sikap “golong-gilig, ajur-ajer” sehingga akan mengkoloid menjadi sebuah sikap yang “labuh-labet”. Itulah salah satu ciri dan bagian dari identitas yangdiwariskan para leluhur bangsa ini kepada kita.
Seyogyanya sikap-sikap seperti ini harus dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat, tanpa kecuali. Baik rakyat maupun pamong sekalipun. Maka sudah menjadi kemakluman, bahkan keharusan bagi kita untuk selalu mengingat dan menghargai moyang kita sendiri yang telah mewariskan hal baik kepada kita.
Guna merekonstruksi dan mengembalikan sikap labuh labet  dibutuhkan seorang pemimpin yang benar-benar memiliki daya rasa dan fikir yang linuwih dan memiliki legetimasi di masyarakat. Bak mencari jarum di tumpukan jerami, hal ini sungguh dulit. Namun yakinlah, kedepan Allah akan menunjukkan dan memberikan kepada kita pemimpin  yang kita idamkan itu. Pemimpin yang memiliki hati nurani, negarawan yang berjiwa kebangsaan, Insan yang memiliki sifat “ Tutur, Sembur, Uwur .... hingga mampu mewujudkan impian rakyatnya. 
Pemimpin yang lahir dari rakyat dan berpihak kepada rakyat. Pemimpin itu melihat lebih jauh dan lebih dalam dari pada orang lain, Melihat lebih banyak dari pada orang lain, lebih dulu melihat dari pada orang lain. pemimpin yang bisa ngayomi / ngayemi masyarakat – kawulo alit. Berani tanggung jawab dan ambil oper kesalahan anak buah, sonder berfikir demi keuntungan pribadi. 
Dudukilah TEKAT.
Tak bisa dipungkiri, setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Setiap orang memiliki fungsi yang berbeda-beda.
Sehingga hak-hak individu harus saling dihormati.
Dan yang jelas, kita harus mempertahankan keutuhan tali silaturahmi. Yakinlah jika kita benar-benar melaksanakan amanat Pancasila dan UUD 45 dengan murni dan konsekuen, Nusantara akan tetap Jaya dan bersahaja. Tidak akan ada anak bangsa yang durhaka terhadap Ibu Pertiwi, dan dia selalu mengingat nenek moyangnya. 
Mungkin, keadaan yang carut marut karena “Air, Angin, Api dan Berbagai Penyakit” saat ini adalah teguran dari Yang Maha Kuasa. Mungkin kita lupa bersyukur dan lupa berterima kasih kepada alam dimana kita tinggal. Bumi yang sudah menghidupi kita, alam yang telah menyediakan segalanya untuk keperluan hidup kita. Sadar akan hal itu, mari kita membangun kembali jati diri bangsa ini secara bersama-sama, bangsa yang beriman kepada sang kholiq, bangsa yang tak lelah mengenang dan menghargai para leluhur, bangsa yang mengabdi pada kejayaan Ibu Pertiwi. Karena itulah kunci republik ini, menuju Indonesia yang “Tata titi tentrem, kerta raharja, loh jinawi” yang kita  cita-citakan bersama. 
Kami sangat ingin dan sangat gandrung kemerdekaan lahir batin, semoga terwujud cita-cita Bangsa Indonesia dan mendapatkan pemimpin yang diharapkan rakyatnya. Mari kita basuh bumi ini dengan budi pekerti dan kemurnian hati nurani guna menata  “Taman Hati” sebagai penghias surganya surga dari sang pencipta.
Demikian sekapur sirih dari saya. . . . . . . . . . . . . .  .. . . .Wassalamu'alaikum wR wB. 

Bantul tertanda Bunda Lia. 14 Pebruari 2013
Iklan

Posted on Juni 10, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: