JASAD PENGIKAT BUDI….

Jasad pengikat budi….. budi pengikat nafsu….. nafsu pengikat karsa (kemauan), karsa pengikat sukma….. sukma pengikat rasa…. rasa pengikat cipta, cipta pengikat penguasa….. penguasa pengikat Yang Maha Kuasa…. Barang siapa menabur angin,….. akan menuai badai,…… Siapa menanam, akan mengetam,….. Barang siapa gemar menolong, ….akan selalu mendapatkan kemudahan, ……. Barang siapa gemar sedekah kepada yang susah, rejekinya akan menjadi lapang. Orang pelit, pailit …… Pemurah hati, mukti…… Dari pada tidur lebih baik bangun….. Daripada bangun lebih baik melek….. Daripada melek lebih baik duduk…… Daripada duduk lebih baik berdiri…… Daripada berdiri lebih baik melangkah lah…….
Foto: Jasad pengikat budi.....  budi pengikat nafsu..... nafsu pengikat karsa (kemauan), karsa pengikat sukma..... sukma pengikat rasa.... rasa pengikat cipta, cipta pengikat penguasa..... penguasa pengikat Yang Maha Kuasa.... Barang siapa menabur angin,..... akan menuai badai,...... Siapa menanam, akan mengetam,..... Barang siapa gemar menolong, ....akan selalu mendapatkan kemudahan, ....... Barang siapa gemar sedekah kepada yang susah, rejekinya akan menjadi lapang. Orang pelit, pailit ...... Pemurah hati, mukti...... Dari pada tidur lebih baik bangun.....  Daripada bangun lebih baik melek.....  Daripada melek lebih baik duduk...... Daripada duduk lebih baik berdiri...... Daripada berdiri lebih baik melangkah lah.......
  • Putrie Ragiel Trisno Selamat malam Bunda sayang….boleh berlari ngak bunda heheheheee…. Emaaach
  • Ki Nagawiru Dari pada melangkah mendingan Kabur saja,met malam Neng heeheheh.
  • Bunda Lia Jeng Putrie boleh kok lari… selamat malam say….
  • Bunda Lia Kabur nggak apa2 Ki… selamat malam Ki Naga Wiru… salam kasih.
  • Bunda Lia Kang mas Pangeran he he he… aku akan wedar malam saja atau besok ini masih diluar rumah….
  • Muhammad Rifai Anwar mantap bunda,,salam kenal dari beginner
  • Ida Ang Ang selamat malam bunda gmn kabarnya?
  • Bunda Lia Salam kenal kembali mas Rifai Anwar met malam… terimakasih….
  • Lentera Hati Injih Bunda…kita mesti tegas ….berani…berani mati..berani hidup…matur nuwun Bunda..telah mengingatkan …
  • Bunda Lia Malam mbak Ida selamat malam… Alhamdulillah mba baik….
  • Bunda Lia Mas Jr Arief akan kuulas nanti setelah sampai rumah….
  • Lentera Hati Sendiko dawuh Bunda…
  • Onni Wibowo sugeng dalu bunda….filosofi itu insya allah bisa menjadi cermin diri kita dalam meniti kehidupan ini dan mudah”an allah memberikan ijinnya yaitu kemudahan dalam menyikapi filosofi diatas…
    Matur nuwun untuk pencerahan hari ini…salam kasih untuk bunda ugi sedulur ing mriki….rahayu…
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Sugeng ndalu Ibunda, jenk Putri, Abah Ali, ki Naga lan sdoyo egkang rawuh, mugi kwilujengan amberkai kito sdoyo.. Ananda sowan Ibunda..
  • Bunda Lia Mas Jeans mas Onni tolong dijawabkan kalau ada tamu aku tak pulang dulu ini masih di studio… Ok…aku 25 menet dah sampai rumah…. makasih… salam kasihku untuk semua….
  • Petruk Tralala Trm ksh bunda…
    Salam Rahayu sagung dumadi..
  • Gorga Santiago Sugeng dallu bunda,pripon bun parwatosipon?mugi shat sllu geh bun
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Perintah siap laksanakan Bunda.. Monggo2.. Yg baru dtang silakan duduk dulu.. Bunda baru perjalanan pulang..
  • Onni Wibowo siap dalem laksanakan perintah,tapi biar mas jeans yang pegang komando,nuwun sewu sebelumnya mas.
  • Elly Argiati Selamat malam Bundaku yg cantik…….salam
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Mat mlm mas Petruk, mas Gorga, mas jr Arief, mbak Elly, kang mas Onni.. Di tenggo riyen jeh.. Bunda nembeh perjalanan pulang.. Monggo pinarak rumiyen..
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Mat mlm mas Rilson.. Silakan duduk dulu..
  • Bunda Lia Selamat malam semuanya salam kasih dan penuh sayang saudara/sahabat dan anak2ku yang mau berkomentar maupun hanya menyimak dan memberi jempol…… terimakasih sekali telah masuk dan berkunjung di warung penuh kasih ini… sungguh malam ini kita akan merenung dan memeras habis pikiran…. sesuai apa yang kita bicarakan pada malam ini di studio akan kuulas malam ini disini… dengan yang bener dapat memecahkanya…… Kita sadar dan percaya, bahwa di bumi Nusantara ini sangat kaya akan ilmu spiritual, tetapi ironisnya, banyak yang gagal dalam PENCAPAIAN spiritualitas. Orang bersemangat untuk memeluk agama, tetapi gagal dalam “menjadi’ agama itu….. sungguh tanggung jawab yang berat rasanya… Bismilah hirahmanirrahhim….
  • Koko Puspo Handokoningrat wilujeng dalu jeng & para kadang kinasih
  • Koko Puspo Handokoningrat mungkin ibadah sudah rajin jeng..tapi ibadah yang khusuk mungkin belum …begitukah?
  • Bunda Lia Wajah negeri yg dahulu dicap sebagai negeri multi agama, multi etnis, multi kultur tetapi solid bersatu di atas slogan Bhineka Tunggal Ika karena rakyatnya memiliki watak toleransi. Negeri yang subur makmur gemah ripah loh jinawi. Lautan diumpamakan kolam susu, dan dikiaskan bahwa tongkat kayu pun dapat tumbuh karena saking suburnya tanah daratan. Hawanya sejuk, banyak hujan, kaya akan hutan belantara sebagai paru-paru dunia. Hampir tak ada bencana alam; tanah longsor, banjir, gempa bumi, angin lesus, kebakaran, kekeringan. (Koes plus kali ya hemmmmm )
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Sami2 Mas Rilson.. Smua yg tlah gbung di warung Bunda.. Smuanya dah jd kluarga Mas.. Saling mendo,akan, saling tukar kweruh.. Monggo kopine kaleh di minum Mas.. Hehehe..
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Sugeng ndalu Kang Mas Koko.. Mugi kawilujengan tansah amberkai.. Rahayu..
  • Bunda Lia He he he Selamat malam kang mas Koko….. Lak njih sami rahayu wilujeng njih…. baiklah kang mas Koko…. saya lanjutkan unkapan dan menjabaran diatas…..Realitasnya di masa kini sangat kontradiktif, justru kita semua sering menyaksikan di media masa maupun realitas obyektif sosial-politik sehari-hari…… Negeri ini telah berubah karakter menjadi negeri yang berwajah beringas lak njih makaten njih kang mas Koko coba dipirsani sak meniko lak njih sampun, angker, berapi-api, anti toleran, waton gasak, nafsu menghancurkan dan bunuh, “semangat” menebar kebencian di mana-mana……… Sangat disayangkan justru dilakukan oleh para sosok figur yang menyandang nama sebagai panutan masyarakat, pembela agama, dan juru dakwah yang memiliki banyak pengikut. Ini sungguh berbahaya, dapat membawa negeri ini ke ambang kehancuran fatal……. Alam pun turut bergolak seolah tidak terima diinjak-injak penghuninya yang hilang sifat manusianya…. Naudzubillah…. Sehingga bencana dan musibah datang silih berganti, tiada henti, bertubi-tubi membuat miris penghuni negeri ini.
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Gaaaddiisssss.,… Hadirlaaahhi………
  • Bunda Lia Mas Awan selamat malam mas… Terimakasih mas … salam kasih….. Mas Awan…. di mana wajah negeri impian yg tentram, damai, subur, sejuk, makmur ? apakah ini sudah benar-benar hukuman atau bebendu dari Gusti Allah, sebagaimana sudah diperingatkan oleh para leluhur kita yg bijaksana dan waskita sejak masa silam ? masihkah kita akan mengingkari nasehat tersebut, dengan mengatasnamakan “kebenaran” maka serta merta menganggapnya sebagai “ramalan” yang tidak boleh dipercaya, karena dekat dengan syirik dan musyrik. Sikap seperti itu hanya menjauhkan kita dari watak arif dan bijaksana.
  • Padma Wijaya II Nderek nggangsu bunda? Salam karahayon..nwn.
  • Bunda Lia Musibah, bencana, wabah, dan seterusnya, tengah melanda negeri ini. Sudah selayaknya kita sadari semua ini sebagai hukuman, atau bebendu dari Tuhan. Anggapan demikian justru akan menambah kewaspadaan kita, dapat menjadi sarana instropeksi diri, dan otokritik yang bijak. Agar kita lebih pandai mensyukuri nikmat dan anugrah Tuhan. Sebaliknya anggapan bahwa ini semua sebagai COBAAN bagi keimanan kita merupakan pendapat yang terlalu NAIF, innocent. Kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan menjadi ndableg, lancang, kurang waspada lan eling. Sejak kapan kita bisa mengukur keimanan kita ? parameter apa yg dipakai ? seberapa persen keimanan kita hanya dapat diukur dgn “perspektif” yg hanya Tuhan miliki. Kita menjadi sok tahu, teralu percaya diri dengan tingkat keimanan kita. Begitulah awalnya manusia menjadi keblinger. Selalu ingin mencari menangnya sendiri, mencari benernya sendiri, mencari butuhnya sendiri. Manusia seperti itu tidak menyadari sesungguhnya dirinya menyembah HAWA NAFSU. Itulah makna apa yang disebut PENYEKUTUAN TUHAN, yakni nuruti RAHSANING KAREP (nafsu). Merasa sudah tinggi ilmunya, padahal ilmunya tidak mumpuni. Ilmu Tuhan bukankah ibarat air laut yang mengisi seluruh samudra di jagad raya ini. Sedangkan ilmu manusia hanya setetes air laut. Dari setetes air laut itu, sudah seberapa persenkah yang kita miliki ?
  • Eyang Sabdopaningal ……………Dari pada lapar makanlah.
  • Bunda Lia Salah satu ciri khas orang-orang yg sudah mampu memahami hakekat “manunggaling kawula-Gusti“ adalah “DUWE RASA, ORA DUWE RASA DUWE” (tidak punya rasa punya). Tumbuhnya rasa demikian itu menjadi pembuka jalan untuk menggapai tataran kemanunggalan (manunggaling kawula-Gusti), harus di awali dgn nuruti atau mengikuti KAREPING RAHSA. karena rahsa atau rasa atau sir merupakan pancaran dari “kehendak” Tuhan (Sirullah).
  • Bunda Lia Di manakah signyal rasa itu berada ? Bagi yg masih ‘awam’ cermatilah suara hati nurani kita …… Hati nurani itu tidak dibelenggu nafsu, ia merupakan pancaran kehendak Tuhan atau yang disebut Sirullah. Sirullah diumpamakan rasa manis dengan “gulanya”. Atau bayangan rembulan dengan rembulannya. Rembulan itu satu, tetapi bayangannya ada dalam ratusan, ribuan atau jutaan ember berisi air. Begitulah personifikasi akan hakikat antara makhluk dengan Sang Pencipta. Di dalam RAHSA terdapat Zat dan energi Tuhan. Buanglah setan (nafsu) dari dalam hati, maka akan “tampak” sejatinya “wujud” Tuhan. Keberhasilan menyirnakan setan (nafsu) memudahkan kita LEBUR DENING PANGASTUTI, menyatu dengan hakikat energi Tuhan. Dalam peleburan itu, nurani akan mentransformasi sifat hakikat Tuhan. Terbukalah pintu hakekat “penyatuan” atau “panunggalan”, sebagai wujud dari makna “dwi tunggal” (loro-loroning atunggil).
  • Tutur Pamungkas Sugeng dalu Bunda…
    Mugi2 Bunda tansah kaparingan kekiyatan lan pangestunipun Gusti kang akaryo jagad awit tanpo kendat anggenipun paring seserepan lan donga dumateng poro kadang….
    Sugeng dalu ugi dumateng sedoyo kadang
  • Haris sugeng dalu, bunda…

    selamaat malam juga untuk semua…
  • Agoes Moordowo kepareng badhe nderek nyalin seratan ing nginggil… Bunda……
  • Pusar Angin Roso , rumongso , ngrumangsani …
  • Bunda Lia Makanya kita itu kalau dah bilang ikhlas mbok sing ikhlas tenana lahir batin to yo…. ikhlas ada ilmunya. Secara sederhana dan ringkas saya ungkapkan disini …..
    -Kita harus niteni kebecikane liyan.
    -Tulislah kebaikan org lain di atas batu, dan tulislah kebaikan yg pernah kita lakukan di atas tanah.
    – Hakekat tapa mendem, tidak mengungkit, membangkit, apa yg pernah kita lakukan pada org lain, sebaliknya “mengubur” dalam2 jasa baik kita pada sesama agar lupa dari ingatan.
    – Bisalah rumongso, ojo rumongso biso.
    – Duwe rasa, ora duwe rasa duwe. dan keikhlasan (serta kesabaran) adalah pelajaran yg tak pernah usai sepanjang kita hidup. Maka, jika kita sudah ikhlas hendaknya lebih ikhlas lagi. Detik ini ikhlas, belum tentu sejam kemudian memiliki rasa ikhlas dgn kadar yg sama.
    Sementara itu, kosong bisa bermakna TIADA MAKNA, bisa pula berarti MAKNA YG TAK TERHINGGA, misalnya ungkapan berikut…. sejatine iku ora ono opo-opo, sing ono kuwi dudu.
    Salam karaharjan njih poro kadang kang lenggah ing dalu meniko….
  • Lentera Hati hmmm….mmm…injih2..leress2…
  • Bunda Lia Sesuai dengan Status…. kita mengingat beberapa kitab kuno… Di dalam kepustakaan Jawa, dikenal kitab kuno, yakni kitab Primbon Atassadhur Adammakna, merupakan salah satu kitab terpenting dalam ajaran Kejawen. Di dalamnya memuat ajaran-ajaran utamanya yakni Wirid Maklumat Jati di mana mencakup delapan wiridan sebagai berikut … baca saja kalau mau kalau ndak mau juga tidak apa2
    WIRIT MAKLUMAT JATI ada 8
    1. Wirayat-Jati
    2. Laksita-Jati
    3. Panunggal-Jati
    4. Karana-Jati
    5. Purba Jat
    6. Saloka-Jati
    7. Sasmita-Jati
    8. Wasana-Jati

    Mau diterusin ndak…???? Mas Jeans kopine loh mas…. di jok….
  • Pusar Angin Mantab.. Mening.. Iki ..mbkyu , q kopine’ sisan yow … Hmmm
    rahayu
  • Koko Puspo Handokoningrat kula mulai wau ngglempoh wnt jogan… midhangetaken ..mawon
  • Petruk Tralala Galih…sini lho mas, aku td bawa krupuk, buat camilan, sampean mau ta..?
  • Bunda Lia Walah keasikan nulis sampai ndak lihat tamu2 agung kang rawuh… njih monggo Mas Agoes Murdowo… mas Tutur kang Dullah…Padma Wijaya II … baiklah saya teruskan…..8. Pembabaran Wirit Maklumat Jati….Tulisan di atas hingga dibawah atau sampai selesai hanya bersifat pengenalan awal dan pemetaan secara global tentang referensi atau buku-buku khasanah ilmu Jawa. Mudah-mudahan pemaparan ini dapat memberikan arti dan manfaat untuk seluruh poro kadang kang kerso ….yang mau membaca dan untuk direnungkan saja… mau dipakai ya monggo…. sekalipun hanya sedikit….. sangat ber-arti itu kalau saya…..

    1. Wirayat-Jati; ajaran yang mengungkap rahasia dan hakikatnya ilmu kasampurnan. Ilmu “pangracutan” sebagaimana yang ditempuh oleh Sinuhun Kanjeng Sultan Agung merupakan bentuk “laku” untuk menggapai ilmu kasampurnan ini.

    2. Laksita-Jati; ajaran tentang langkah-langkah panglebur raga, agar supaya orang yang meninggal dunia, raganya dapat melebur ke dalam jiwa (warangka manjing curiga). Kamuksan, mokswa, atau mosca, yakni mati secara sempurna, raga hilang bersama sukma, yang lazim dilakukan para leluhur zaman dahulu merupakan wujud warangka manjing curiga.

    3.Panunggal-Jati; ajaran tentang hakikat Tuhan dan manusia mahluk ciptaanNya. Atau hakikat manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan. Meretas hakekat ajaran tentang “manunggaling kawula lan Gusti” atau “jumbuhing kawula-Gusti”. Panunggal-Jati berbeda dengan Aji Panunggal. Aji Panunggal membeberkan ke-ada-an jati diri manusia, yang meliputi adanya pancaindera. Aji Panunggal juga mengajarkan tata cara atau teknik untuk melakukan semedi/maladihening/mesu budi/yoga sebagai upaya jiwa dalam rangka menundukkan raga.

    4.Karana-Jati; ajaran tentang hakikat dan asal muasalnya manusia, ajaran ini sebagai cikal bakal ilmu “sangkan-paraning dumadi”. Siapakah sejatinya manusia. Hendaknya apa yang dilakukan manusia. Akan kemana kah selanjutnya manusia.

    5. Purba Jati; ajaran tentang hakikat Dzat, ke-Ada-an Dzat yang sejati. Menjawab pertanyaan,”Tuhan ada di mana ? Dan membeberkan ilmu tentang sejatinya Tuhan. Seyogyanya Purba Jati dibaca oleh pembaca yang budiman dan bijaksana, dan bagi yang telah mencapai tingkatan pemahaman tasawuf agar supaya tidak terjadi kekeliruan pemahaman.

    6. Saloka-Jati; ilmu tentang perlambang, sanepan, kiasan yang merupakan pengejawantahan dari bahasa alam, yang tidak lain adalah bahasa Tuhan. Supaya manusia menjadi lebih bijaksana dan mampu nggayuh kawicaksananing Gusti; mampu membaca dan memaknai bahasa (kehendak) Tuhan. Sebagai petunjuk dasar bagi manusia dalam mengarungi samudra kehidupan.

    7. Sasmita-Jati; ilmu yang mengajarkan ketajaman batin manusia supaya mengetahui kapan “datangnya janji” akan tiba. Semua manusia akan mati, tetapi tak pernah tahu kapan akan meninggal dunia. Sasmita Jati mengungkap tanda-tanda sebelum seseorang meninggal dunia. Tanda-tanda yang dapat dibaca apabila kurang tiga tahun hingga sehari seseorang akan meninggal dunia. Dan bagaimana manusia mempersiapkan diri untuk menyongsong hari kematiannya.

    8. Wasana-Jati; ilmu yang menggambarkan apa yang terjadi pada waktu detik-detik terakhir seseorang meninggal dunia, dan apa yang terjadi dengan sukma atau ruh sesudah seseorang itu meninggal dunia.
  • Bunda Lia Kang Dullah tentang Keikhlasan sesok wae sak iki medar sesuai yang ada di status… atai nanti kalau cukup wahtunya ya kuta lanjut kang… 8 Wirit itu belum diwedar loh… wah opo awakmu wae kang medar aku tak mendengarkan luwih kepenak… sinambi ngetik…..aku ki kang… la nek pas aku ngetik mbok diwedar to kang aku tak ngepaske wedaranku…… kita kan mengingat leluhur kita… karena ini nanti sambunganya panjang kang 8 itu… neng-ning-nung-nang- sampai GUNG nya… terus masuk wedaran Wahyu Hasto Broto- Wahyu Mahkuto Romo… wah iso 1 minggu kang.
  • Abdul Lathif Assalaamu’alaikum…..
    Sugeng Ndhalu sedhaya kadang kinasih…. Mbak Lia, Mas Ali, Kanjeng Koko, Mas Galih lan lintu-lintunipun…………
  • Agoes Moordowo matur sembah nuwun awit sampun kersa paring sesuluh ingkang estu adamelipun adem ing raos kang ndadosaken pajaring wardaya…..
    nderek ngudi kawruh Bunda….
  • Bunda Lia LAKSITA JATI……Ilmu yang mengajarkan tata cara menghargai diri sendiri, dengan “laku” batin untuk mensucikan raga dari nafsu angkara murka (amarah), nafsu mengejar kenikmatan (supiyah), dan nafsu serakah (lauwamah). Pribadi membangun raga yang suci dengan menjadikan raga sebagai reservior nafsul mutmainah. Agar supaya jika manusia mati, raganya dapat menyatu dengan “badan halus” atau ruhani atau badan sukma………Hakikat kesucian, “badan wadag” atau raga tidak boleh pisah dengan “badan halus”, karena raga dan sukma menyatu (curigo manjing warongko) pada saat manusia lahir dari rahim ibu. Sebaliknya, manusia yang berhasil menjadi kalifah Tuhan, selalu menjaga kesucian (bersih dari dosa), jika mati kelak “badan wadag” akan luluh melebur ke dalam “badan halus” yang diliputi oleh kayu dhaim, atau Hyang Hidup yang tetap ada dalam diri kita pribadi, maka dilambangkan dengan “warongko manjing curigo”. Maksudnya, “badan wadag” melebur ke dalam “badan halus”. Pada saat manusia hidup di dunia (mercapada), dilambangkan dengan “curigo manjing warongko”; maksudnya “badan halus” masih berada di dalam “badan wadag”. Maka dari itu terdapat pribahasa sebagai berikut:“Jasad pengikat budi, budi pengikat nafsu, nafsu pengikat karsa (kemauan), karsa pengikat sukma, sukma pengikat rasa, rasa pengikat cipta, cipta pengikat penguasa, penguasa pengikat Yang Maha Kuasa”.
  • Ayu Dewi Lestari Asalamualaikum mama,,,,,,
  • Teylaga Beiyru Assalamu’alaikum..wr,wbr
    , Mtr zwun bunda… N Sugeng ndalu…. .
  • Bunda Lia Sebagai contoh saja ya….. Kalau salah maaf… kalau bener Alhamdulillah…. baca lagi Bismillahhirahmannirrahhim…..
    Jasad jika mengalami kerusakan karena sakit atau celaka, maka tali pengikat budi menjadi putus. Orang yang amat sangat menderita kesakitan tentu saja tidak akan bisa berpikir jernih lagi. Maka putuslah tali budi sebagai pengikat nafsu. Maka orang yang sangat menderita kesakitan, hilanglah semua nafsu-nafsunya; misalnya amarah, nafsu seks, dan nafsu makan. Jika tali nafsu sudah hilang atau putus, maka untuk mempertahankan nyawanya, tinggal tersisa tali karsa atau kemauan. Hal ini, para pembaca dapat menyaksikan sendiri, setiap orang yang menderita sakit parah, energi untuk bertahan hidup tinggalah kemauan atau semangat untuk sembuh. Apabila karsa atau kemauan, dalam bentuk semangat untuk sembuh sudah hilang, maka hilanglah tali pengikat sukma, akibatnya sukma terlepas dari “badan wadag”, dengan kata lain orang tersebut mengalami kematian. Namun demikian, sukma masih mengikat rasa, dalam artian sukma sebenarnya masih memiliki rasa, dalam bentuk rasa sukma yang berbeda dengan rasa ragawi. Bagi penganut kejawen percaya dengan rasa sukma ini. Maka di dalam tradisi Jawa, tidak boleh menyianyiakan jasad orang yang sudah meninggal. Karena dipercaya sukmanya yang sudah keluar dari badan masih bisa merasakannya. Rasa yang dimiliki sukma ini, lebih lanjut dijelaskan karena sukma masih berada di dalam dimensi bumi, belum melanjutkan “perjalanan” ke alam barzah atau alam ruh.
    Rahsa atau rasa, merupakan hakikat Dzat (Yang Maha Kuasa) yang mewujud ke dalam diri manusia. Dzat adalah Yang Maha Tinggi, Yang Maha Kuasa, Tuhan Sang Pencipta alam semesta. Urutan dari yang tertinggi ke yang lebih rendah adalah sebagai berikut;

    1. Dzat (Dzatullah) Tuhan Yang Maha Suci, meretas menjadi;
    2. Kayu Dhaim (Kayyun) Energi Yang Hidup, meretas menjadi;
    3. Cahya atau cahaya (Nurullah), meretas menjadi;
    4. Rahsa atau rasa atau sir (Sirrullah), meretas menjadi ;
    5. Sukma atau ruh (Ruhullah).

    No 1 – no 5 adalah retasan dari Dzat, Tuhan Yang Maha Kuasa, maka ruh bersifat abadi, cahaya bersifat mandiri tanpa perlu bahan bakar. Ruh yang suci yang akan melanjutkan “perjalanannya” menuju ke haribaan Tuhan, dan akan melewati alam ruh atau alam barzah, di mana suasana menjadi “jengjem jinem” tak ada rasa lapar-haus, emosi, amarah, sakit, sedih, dsb. Sebelum masuk ke dimensi barzah, ruh melepaskan tali rasa, kemudian ruh masuk ke dalam dimensi alam barzah menjadi hakikat cahaya tanpa rasa, dan tanpa karsa. Yang ada hanyalah ketenangan sejati, manembah kepada gelombang Dzat, lebur dening pangastuti.

    WARANGKO MANJING CURIGO….senada dengan serat kekiyasanipun pangracutan Sultan Agung..Kang mas Koko kok mendel kemawon to ??? Mbok injih dibantu medar meniko….mungkin kang mas pirso” menggapai “peleburan” tertinggi, lebur dening pangastuti; yakni raga dan jiwa melebur ke dalam Cahaya yang Suci; monggo kang mas Koko…..
  • Koko Puspo Handokoningrat Mati penasaran, kebalikan dari mati sempurna. Dalam kajian Kejawen, mati dalam puncak kesempurnaan adalah mati moksa atau mosca atau mukswa. Yakni warangka (raga) manjing curigo (ruh). Raga yang suci, adalah yang tunduk kepada kesucian Dzat yang terderivasi ke dalam ruh. Ruh suci/roh kudus (ruhul kuddus) sebagai retasan dari hakikat Dzat, memiliki 20 sifat yang senada dengan 20 sifat Dzat, misalnya kodrat, iradat, berkehendak, mandiri, abadi, dst. Sebaliknya, ruh yang tunduk kepada raga hanya akan menjadi budak nafsu duniawi, sebagaimana sifat hakikat ragawi, yang akan hancur, tidak abadi, dan destruktif. Menjadi raga yang nista, berbanding terbalik dengan gelombang Dzat Yang Maha Suci. Oleh karena itu, menjadi tugas utama manusia, yakni memenangkan perang Baratayudha di Padang Kurusetra, antara Pendawa (kebaikan yang lahir dari akal budi dan panca indera) dengan musuhnya Kurawa (nafsu angkara murka). Perang inilah yang dimaksud pula dalam ajaran Islam sebagai Jihad Fii Sabilillah, bukan perang antar agama, atau segala bentuk terorisme.

    Adapun ajaran untuk menggapai kesucian diri, atau Jihad secara Kejawen, yakni mengendalikan hawa nafsu, serta menjalankan budi (bebuden) yang luhur nilai kemanusiannya (habluminannas) yakni ; rela (rilo), ikhlas (legowo), menerima/qonaah (narimo ing pandum), jujur dan benar (temen lan bener), menjaga kesusilaan (trapsilo) dan jalan hidup yang mengutamakan budi yang luhur (lakutama). Adalah pitutur sebagai pengingat-ingat agar supaya manusia selalu eling atau selalu mengingat Tuhan untuk menjaga kesucian dirinya, seperti dalam falsafah Kejawen berikut ini :

    “jagad bumi alam kabeh sumurupo marang badan, badan sumurupo marang budi, budi sumurupo marang napsu, napsu sumurupo marang nyowo, nyowo sumurupo marang rahso, rahso sumurupo marang cahyo, cahyo sumurupo marang atmo, atmo sumurupo marang ingsun, ingsun jumeneng pribadi”

    (jagad bumi seisinya pahamilah badan, badan pahamilah budi, budi pahamilah nafsu, nafsu pahamilah nyawa, nyawa pahamilah karsa, karsa pahamilah rahsa, rahsa pahamilah cahya, cahya pahamilah Yang Hidup, Yang Hidup pahamilah Aku, Aku berdiri sendiri (Dzat).

    Artinya, bahwa manusia sebagai derivasi terakhir yang berasal dari Dzat Sang Pencipta harus (wajib) memiliki kesadaran mikrokosmis dan makrokosmis yakni “sangkan paraning dumadi” serta tunduk, patuh dan hormat (manembah) kepada Dzat Tuhan Pencipta jagad raya.

    Selain kesadaran di atas, untuk menggapai kesucian manusia harus tetap berada di dalam koridor yang merupakan “jalan tembus” menuju Yang Maha Kuasa. Adalah 7 perkara yang harus dicegah, yakni;

    1. Jangan ceroboh, tetapi harus rajin sesuci.

    2. Jangan mengumbar nafsu makan, tetapi makanlah jika sudah merasa lapar.

    3. Jangan kebanyakan minum, tetapi minum lah jika sudah merasa haus.

    4. Jangan gemar tidur, tetapi tidur lah jika sudah merasa kantuk.

    5. Jangan banyak omong, tetapi bicara lah dengan melihat situasi dan kondisi.

    6. Jangan mengumbar nafsu seks, kecuali jika sudah merasa sangat rindu.

    7. Jangan selalu bersenang-senang hati dan hanya demi membuat senang orang-orang, walaupun sedang memperoleh kesenangan, asal tidak meninggalkan duga kira.

    Demikian pula, di dalam hidup ini jangan sampai kita terlibat dalam 8 perkara berikut;

    1. Mengumbar hawa nafsu.

    2. Mengumbar kesenangan.

    3. Suka bermusuhan dan tindak aniaya.

    4. Berulah yang meresahkan.

    5. Tindakan nista.

    6. Perbuatan dengki hati.

    7. Bermalas-malas dalam berkarya dan bekerja.

    8. Enggan menderita dan prihatin.

    Sebab perbuatan yang jahat dan tingkah laku buruk hanya akan menjadi aral rintangan dalam meraih rencana dan cita-cita, seperti digambarkan dalam rumus bahasa berikut ini;

    1. Nistapapa; orang nista pasti mendapat kesusahan.

    2. Dhustalara; orang pendusta pasti mendapat sakit lahir atau batin.

    3. Dorasangsara; gemar bertikai pasti mendapat sengsara.

    4. Niayapati; orang aniaya pasti mendapatkan kematian.
  • Bunda Lia Kang mas Koko disitu ada sesuatu yang mana ibarat orang mati penasaran dan JALAN SETAPAK MERAIH KESUCIAN
    Jihad/Perang Baratayudha/Perang Sabil monggo kang mas saya tak meneruskan setelah ini.
  • Koko Puspo Handokoningrat ya jeng … tak lanjut dulu ya …. yg namanya PERBUATAN itu , PASTI MENIMBULKAN “RESONANSI”

    Demikian lah, sebab pada dasarnya perilaku hidup itu ibarat suara yang kita kumandang akan menimbulkan gema, artinya apapun perbuatan kita kepada orang lain, sejatinya akan berbalik mengenai diri kita sendiri. Jika perbuatan kita baik pada orang lain, maka akan menimbulkan “gema” berupa kebaikan yang lebih besar yang akan kita dapatkan dari orang lainnya lagi. Hal ini dapat dipahami sebagaimana dalam peribahasa;

    Barang siapa menabur angin, akan menuai badai,

    Siapa menanam, akan mengetam,

    Barang siapa gemar menolong, akan selalu mendapatkan kemudahan,

    Barang siapa gemar sedekah kepada yang susah, rejekinya akan menjadi lapang.

    Orang pelit, pailit

    Pemurah hati, mukti

    PERILAKU TAPA BRATA

    Idealnya, setiap orang sepanjang hidupnya dapat melaksanakan “tapa brata” atau mesu-budi, menahan hawa nafsu, yg mempunyai kesamaan dengan hakikat puasa seperti di bawah ini;

    1. Tapa/puasanya badan/raga; harus anoraga; rendah hati; gemar berbuat baik.

    2. Tapa/puasanya hati; nerima apa adanya; qonaah; tak punya niat/prasangka buruk, tidak iri hati.

    3. Tapa/puasanya nafsu; ikhlas dan sabar dalam menerima musibah, serta memberi maaf kepada orang lain.

    4. Tapa/puasanya sukma; jujur.

    5. Tapa/puasanya rahsa; mengerem sembarang kemauan, serta kuat prihatin dan menderita.

    6. Tapa/puasanya cahya; eneng-ening; tirakat atau bertapa dalam keheningan, kebeningan, dan kesucian.

    7. Tapa/puasanya hidup (gesang); eling (selalu ingat/sadar makro-mikrokosmos) dan selalu waspada dari segala perilaku buruk.

    Selain itu, anggota badan (raga) juga memiliki tanggungjawab masing-masing sebagai wujud dari hakikat puasa atau tapa brata ;

    1. Tapa/puasanya netro/mata; mencegah tidur, dan menutup mata dari nafsu selalu ingin memiliki/menguasai.

    2. Tapa/puasanya karno/telinga; mencegah hawa nafsu, enggan mendengar yang tak ada manfaatnya atau yang buruk-buruk.

    3. Tapa/puasanya grono/hidung; mencegah sikap gemar membau, dan enggan “ngisap-isap” keburukan orang lain.

    4. Tapa/puasanya lisan/mulut; mencegah makan, dan tidak menggunjing keburukan orang lain.

    5. Tapa/puasanya puruso/kemaluan; mencegah syahwat, tidak sembarangan ngentot/rakit/ngewe/senggama/zina.

    6. Tapa/puasanya asto/tangan; mencegah curi-mencuri, rampok, nyopet, korupsi, dan tidak suka cengkiling; jail dan menyakiti orang lain.

    7. Tapa/puasanya suku/kaki; mencegah langkah menuju perbuatan jahat, atau kegiatan negatif, tetapi harus gemar berjalan sembari “semadi” yakni berjalan sebari eling lan waspodo.

    Tapa/maladihening/mesu budi/puasa seperti di atas dapat diumpamakan dalam gaya bahasa personifikasi, yang memiliki nilai falsafah yang sangat tinggi dan mendalam sbb;

    “Katimbang turu, becik tangi. Katimbang tangi, becik melek. Katimbang melek, becik lungguh. Katimbang lungguh, becik ngadeg. Katimbang ngadeg, becik lumakuo”.

    (Daripada tidur lebih baik bangun. Daripada bangun lebih baik melek. Daripada melek lebih baik duduk. Daripada duduk lebih baik berdiri. Daripada berdiri lebih baik melangkah lah)

    Untuk meraih kesempurnaan dalam melaksanakan tata laku di atas, hendaknya setiap langkah kita selalu eling dan waspada. Agar supaya setelah menjadi manusia pinunjul tidak menjadi sombong dan takabut, sebaliknya justru harus disembunyikan semua kelebihan tersebut, dan tidak kentara oleh orang lain, sehingga setiap jengkal kelemahan tidak memancing hinaan orang lain. Untuk itu manusia pinunjul harus;

    1. Solahbawa, harga diri, perbuatan, harus selalu di jaga

    2. Keluarnya ucapan harus dibuat yang mendinginkan, menyejukkan, dan menentramkan lawan bicara

    3. Raut wajah yang manis, penuh kelembutan dan kasih sayang.

    Inilah sejatinya tata krama dalam ajaran Kejawen. Kesempurnaan dalam melaksanakan langkah-langkah di atas, seyogyanya menimbang situasi dan kondisi, menimbang waktu dan tempat secara tepat, tidak asal-asalan. Karena sekalipun “isi”nya berkualitas, tetapi bungkusnya jelek, maka “isi”nya menjadi tidak berharga. Dengan kata lain, jangan mengabaikan (dugoprayoga) duga kira, bagaimana seharusnya yang baik. Sebab sesempurnanya manusia tetap memiliki kekurangan atau kelemahan, sehingga manakala kelemahan dan kekurangan tersebut diketahui orang lain tidak akan menjadi “batu sandungan”. Seperti dalam ungkapan sebagai berikut;

    1. Kusutnya pakaian; tertutup oleh derajat (harga diri) yang luhur.

    2. Terpelesetnya lidah, tertutup oleh manisnya tutur kata.

    3. Kecewanya warna, tertutup oleh budi pekerti.

    4. Cacadnya raga, tertutup oleh air muka yang ramah.

    5. Keterbatasan, tertutup oleh sabar dan bijaksana.

    Oleh karena itu, meraih kesempurnaan dalam konteks ini diartikan kesempurnaan dalam melaksanakan tapa brata. Kegagalan melaksanakan tapa brata, dapat membawa manusia kepada zaman “paniksaning gesang” tidak lain adalah nerakanya dunia, seperti di bawah ini;

    1. Zamannya kemelaratan, dimulai dari perilaku boros

    2. Zamannya menderita aib, dimulai dari watak lupa terlena, tanpa awas.

    3. Zamannya kebodohan, dimulai dari sikap malas dan enggan.

    4. Zamannya angkara, dimulai dengan sikap mau menang sendiri

    5. Zamannya sengsara, dimulai dari perilaku yang kacau.

    6. Zamannya penyakit, diawali dari kenyang makan.

    7. Zamannya kecelakaan, diawali dari perbuatan mencelakai orang lain.

    Sebaliknya, “ganjaraning gesang” atau “surganya dunia”, lebih dari sekedar kemuliaan hidup itu sendiri, yakni;

    1. Zamannya keberuntungan, awalnya dari sikap hati-hati, tidak ceroboh.

    2. Zamannya kabrajan, awalnya dari budi luhur dan belas kasih.

    3. Zamannya keluhuran, awalnya dari giat andap asor, sopan santun.

    4. Zamannya kebijaksanaan, awalnya dari telaten bibinau.

    5. Zamannya kesaktian (kasekten), awalnya dari puruita dan tapabrata.

    6. Zamannya karaharjan (ketentraman-keselamatan), awalnya dari eling dan waspada.

    7. Zamannya kayuswan (umur panjang), awalnya sabar, qonaah, narimo, legowo, tapa.
  • Abdul Lathif >
    Sugeng ndhalu….Mas Misterr Jeans….. Saya sedang khusyu’ menyimak ‘wedharanipun’ Mbak Lia sama Kanjeng Mas Koko….. iniloh Mas….. Sugeng Ndhalu…..
  • Bunda Lia SHALAT atau SEMBAHYANG – DHAIM
    Sebagai tulisan penutup saya berusaha memaparkan garis besar TAPA BRATA, agar supaya mudah diingat dan gampang dicerna bagi poro kadang yang masih awam tentang ajaran Kejawen.
    Selain dipaparkan di atas, sejalan dengan bertambahnya usia, seyogyanya hidup itu sembari mencari ciptasasmita, “tuah” atau petunjuk yang tumbuh jiwa yang matang dan dari dalam lubuk budi yang suci. Pada dasarnya, tumbuhnya budipekerti (bebuden) yang luhur, berasal dari tumbuhnya rasa eling, tumbuhnya kebiasaan tapa, tumbuhnya sikap hati-hati, tumbuhnya “tidak punya rasa punya”, tumbuhnya kesentausaan, tumbuhnya kesadaran diri pribadi, tumbuhnya “lapang dada”, tumbuhnya ketenangan batin, tumbuhnya sikap manembah (tawadhu’). Pertumbuhan itu berkorelasi positif atau sejalan dengan usia seseorang.

    Akan tetapi, jika semakin lanjut usia seseorang akan tetapi perkembangannya berbanding terbalik, mempunyai korelasi negatif, yakni justru memiliki tabiat dan karakter seperti anak kecil, ia merupakan produk topobroto yang gagal. Untuk mencegahnya tidak lain harus selalu mencegah hawa nafsu, serta mengupayakan dengan sungguh-sungguh untuk meraih kesempurnaan ilmu.
    Begitu pentingnya hingga adalah “wewarah” yang juga merupakan nasehat yang hiperbolis, sbb; “ageng-agenging dosa punika tiyang ulah ilmu makripat ingkang magel. Awit saking dereng kabuko ing pambudi, dados boten superep ing suraosipun”

    Bagi yang sudah lulus, dapat menerima semua ilmu, tentu akan menemui kemuliaan “sangkan paran ing dumadi”. Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui Tuhannya, sesungguhnya dapat mengetahui di dalam badanya sendiri. Siapa yang sungguh-sunggun mengetahui badannya sendiri, sesungguhnya mengetahui Tuhannya. Artinya siapa yang mengetahui Tuhannya, ia lah yang mengetahui semua ilmu kajaten (makrifat). Siapa yang sunguh-sungguh mengetahui sejatinya badannya sendiri, ia lah yang dapat mengetahui akan hidup jiwa raganya sendiri. Kita harus selalu ingat bahwa hidup ini tidak akan menemui sejatinya “ajal”, sebab kematian hanyalah terkelupasnya isi dari kulit. “Isi” badan melepas “kulit” yang telah rusak, kemudian “isi” bertugas melanjutkan perjalanan ke alam keabadian. Hanya raga yang suci yang tidak akan rusak dan mampu menyertai perjalanan “isi”. Sebab raga yang suci, berada dalam gelombang Dzat Illahi yang Maha Abadi.

    Maka dari itu, jangan terputus dalam lautan “manembah” kepada Gusti Pangeran Ingkang Sinembah. Agar supaya menggapai “peleburan” tertinggi, lebur dening pangastuti; yakni raga dan jiwa melebur ke dalam Cahaya yang Suci; di sanalah manusia dan Dzat menyatu dalam irama yang sama; yakni manunggaling kawulo gusti. Dengan sarana selalu mengosongkan panca indra, serta menyeiramakan diri pada Sariraning Bathara, Dzat Yang Maha Agung, yang disebut sebagai “PANGABEKTI INGKANG LANGGENG” (shalat dhaim) sujud, manembah (shalat) tanpa kenal waktu, sambung-menyambung dalam irama nafas, selalu eling dan menyebut Dzat Yang serba Maha. Adalah ungkapan; “salat ngiras nyambut damel, lenggah sinambi lumampah, lumajeng salebeting kendel, ambisu kaliyan wicanten, kesahan kaliyan tilem, tilem kaliyan melek.

    (sembahyang sambil bekerja, duduk sambil berjalan, berjalan di dalam diam, membisu dengan bicara, bepergian dengan tidur, tidur sembari melek).
    Jika ajaran ini dilaksanakan secara sungguh-sungguh, berkat Tuhan Yang Maha Wisesa, setiap orang dapat meraih kesempurnaan Waluyo Jati, Paworing Kawulo Gusti, TIDAK TERGANTUNG APAPUN AGAMANYA.
  • Bunda Lia Mas Agoes… meniko ugi pas matuk sak estu kalian kagunganipun Kanjeng Koko… monggo mas Agoes…..
  • Bunda Lia Wa’alaikum salam mas Teylaga Biru….. selamat malam mas senang mas asal tidak bosan saja… terimakasih.
  • Bunda Lia Kang mas Koko pas cocok dan sesuai kalau kita kupas tersebuat besok tak kupasnya Purbo Jati…… terimakasih njih kang mas Koko …. Bismillahirromannirrohim…Jagad bumi alam kabeh…Sumusupo marang badan…Badan sumusupo marang budi….Budi sumusupo marang nyowo…Nyowo sumusupo marang roso…Roso sumusupo marang cahyo….Cahyo sumusupo marang atmo…Atmo sumusupo marang dat
    Dat sumusupo marang Ingsun…Ingsun jumeneng pribadi
    Tanpo timbangan, tanpo lawanan..Ono ing kalaratingsun
    Kang moho muyo, moho suci sejati…..Ing kodratipun…. Aku tak minta suara yang hadir… monggo poro kadang berhubung sudah panajng lebar kami ulas…. dan akan kita kupas lagi hingga selesai sesuai urutan sampai Serat kuning dan Wahyu Mahkutho Romo…. sekarang waktunya bercanda besok kita sambung lagi…..
  • Abdul Lathif .
    @Mas Ali : Matur sembah nuwun arupi jempolipun…..
  • Bunda Lia Walah… ha ha ha kang dullah … la kok koyok di uro2 jur turu piye to iki kang Dullah… tangi2x tangi kang…..
  • Bunda Lia Luar Biasa..
    kasampurinaning hurip/ urip/ hidup….… Matur Sembah Nuwun…
    “Suro diro Joyoningrat Lebur dening pangastuti ”
  • Abdul Lathif .
    Matur sembah nuwun, Mbak…… Mata Kuliah 4 Semester telah saya terima dengan baik…..
    Semoga nanti saya akan mampun mengerjakan soal ujian dengan nilai “A” Plus…. Asalkan Bu Dosen Lia dan Pak Dosen Koko baik padaku, hehehehe……….
  • Abdul Lathif .
    Selamat malam, Mbak Gadis…….
    kok jempol-jempol saja …. kalau ngantuk, sebaiknya tidur saja …. hehe…..
  • Abdul Lathif .
    hehehe…….. Sugeng aso saliro, Mas Ali, monggo,,,,
  • Ayu Dewi Lestari Om lathif@ met mlam om,,,,he he,,nyimak aja om,,,,sambil belajar
  • Abdul Lathif .
    Gadis….. Sama, saya juga ngiras-ngirus PENDALAMAN (iling-iling) barang kang wus kapendhem….. (mengingat apa yang pernah saya pelajari)
  • Abdul Lathif .
    Mas Mister iki ije melek po…….. Apa saking asyiknya membaca, sampai tidak ngomong-ngomong to…..
    Walah…… lha kalau saya dibiarkan sendirian, yo…..
  • Kakang Prabu Anom selamat malam Bunda, pinisepuh & keluarga besar di warung ini.. ayo..minum kopi dulu..
  • Ayu Dewi Lestari Betul om latief he he,,,buat pengetahuan,,,,,,ini sangzt bagus,,,klu bisa jngn tinggalkan sejarah jmn dulu,,,
  • Abdul Lathif .
    Mas Galih, Mbak gadis, mas Misterr…… Saya sarankan supaya dicopy lewat WORD saja supaya gampang dibaca kapan-kapan.
    Dan saya Yakin Mbakyu Lia pun mengizinkannya……. Lhak nji toh, Mbakyu……
  • Sang Iblis Pemahaman yg betul tentang hukum sebab_akibat akan membebaskan kita dari rasa takut. Dan membuat diri kita lebih bertanggung jawab. Bertanggung jawab atas setiap perbuatan, ucapan, dan pikiran kita… Selamat Malam Bunda… Salam Kasih.
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Sy tetap menyimak Mas Lathif.. Sori td gi ada tamu, jd dak bs nerusin ngobrol diwarung.. Hehehe..
  • Sang Iblis Selamat malam Gadis, Mas Galih, Mas Latif… Salam Hormat & Jabat Erat.
  • Sang Iblis Selamat malam Mas Jeans… Udah pesan kopi lagi belum… Hehehe…
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Mlm jg Mas Arie.. Wis mpek blendingan iki Mas ngopi trs.. Xixixi..
  • Lentera Hati Alhamdulillaah…Haada minfadli Robbi..Matur nuwun Bunda pawedaranipun..Matur nuwun poro sepuh ingkang hadir..lan kadang kinasih… meniko kantun nglampahi dan bukte ake….
  • Dahaka Ahura sugeng dalu ibu,,,panci leres saestu. kantil,kenanga lan mlathi….salam ta’zim.
  • Harry Hattab Met malam Bunda Lia,..salam hangat selalu
  • Bunda Lia Ya Allah berikanlah kami kebaikan dunia dan akherat ….Amin.
  • Sang Iblis Amin Ya Rabb… Selamat Pagi Bunda… Salam Kasihku.
  • Bunda Lia Ya Allah, tegarkanlah argumentasi kami, pertajamkan pembicaraan kami, tajamkan ilmu yang Engkau titipkan kepada kami.
    Ya Allah, perbaikilah urusan agamaku yang menjadi pegangan bagi setiap urusanku, perbaikilah duniaku karena di sinilah urusan kehidupanku.Perbaikilah akhiratku, yang ke sanalah aku akan kembali, jadikanlah hidupku ini sebagai tambahan kesempatan untuk memperbanyak amal kebajikan, dan jadikanlah kematianku sebagai tempat peristirahatan dari setiap kejahatan…. Amin.
  • Bunda Lia Mas Arie belum tidur mas??? Aku baru habus ngisi doa pagi mas … mohon petunjuk saja kok… dan minta keridhoan Allah agar doa2 kita selalu sampai dan terkabul mas…..
  • Sang Iblis Belum Bunda… Tapi udah mau istirahat ne… Hehehe…
    Semoga Allah meridhoi doa Bunda dan melimpahkan segala Rahmat untuk kita semua… Amin. Salam Kasihku.
  • Bunda Lia Salam kasih mas Arie…. silahkan mas dah jam 02.00… selamat istirahat mas… aku tak neruskan ngetik doa pagiku… monggo mas… Selamat pagi… selamat istirahat.
  • Ayu Dewi Lestari Mama belum istirahat mah
  • Alam Malaqut Trimaksih Mama..semua wedaran Mama sungguh membuat hati ini tergugah …salam ta’dzim yara kepadamu Mama Sayang..dan salam sejahtera kepada semua yg hadir di majlis ini Rahayu3x
  • Alam Malaqut Menyelam kedalam Samudra jiwa dan Ruh…Bersatu dengan Allah..Amien….subhanallah ..wedaran Mama luar biasa arahanya..semoga kita semua bisa menundukan ego kita ..dng begitu hanya Allah yg berkehendak….
  • Senyum SangMurai Selamat siang Bunda…salam hormat penuh kedamaian…. sungguh suatu ular2 yg sangat menawan Bunda yg cantik…. Dan semoga bisa menjadikan Murai lbih berhati2 dlam setiap tindakan serta sikap… pada dasarnya Murai org yg msih belajar melek dlm hidup…., terima kasih Bunda…. salam hormat juga buat semua sdr2 Murai di wahana ini….
  • Mas Dheems Bunda, terpancar suatu energi yang luar biasa kuat…
  • Gempar Soekarnoputra Hehehe…saya suka dgn filsafat ojo dumeh. Sebab itu kita manusia harus “eling lan waspodo.” Terima kasih Mbakyu Lia.

Posted on Juni 10, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: