AIR.

AIR.

Pada hakekatnya semua benda akan jatuh ke bawah. Begitu juga dengan air. Mencari kesetimbangan pada tempat yang terendah. Sesungguhnya tempat yang terendah dan bagian bawah bukanlah tempat yang tercela. Semakin ke bawah dan semakin rendah, …semakin dekat pula dengan pusat gravitasi. Tenaga Gravitasi Bumi adalah lambang cita kasih yang abadi.Air mengalir di atas permukaan tanah menuju ke tempat yang terendah. Melalui selokan, parit, sungai, bengawan menuju ke lautan. Di sana seluruh air akan berkumpul mencari kesetimbangan, dengan permukaan yang rata. Meskipun terjadi riak dan ombak, permukaan air tetap kembali setimbang. Meskipun diterpa badai, menerjang gunung karang, air tidak pernah hancur, akan segera kembali pada kesetimbangannya.

Dalam perjalanan mencari kesetimbangan, air sangat menyejukkan. Air terlahir dari hujan. Hujan pun membasahi permukaan bumi. Memberi kehidupan bagi seluruh penghuni bumi, tidak pandang bulu, meskipun dia jahat, buruk ataupun baik, tetap ia siram penuh dengan kesejukan. Semua yang tersiram oleh air akan menjadi bersih dan suci.

Saya berusaha memahami filsafat air yang diajarkan oleh Eyang Marto Almarhum pada saya Thn.1991 usiaku baru 21 Thn….. Sungguh saya sangat terkesima serta takjub dengan sifat dan watak air. Sungguh sangat tinggi nilai filosofi yang beliau sampaikan. Bahkan, hampir-hampir saya tidak mampu menjangkau hakekat ilmu yang beliau sampaikan. Setelah saya rasakan, akhirnya saya memahami tentang Wisesa Segara. Beliau menandaskan, dalam pengetahuan ini harus difahami dengan berbanding terbalik dan lurus. Semua sangat jelas dan gamblang, namun itupun jika kita mampu memahami pemikiran ini dalam kondisi berfikir terbalik. Dalam logika apapun, lautan itu sangat luas, sedangkan hati (bhs. Inggris = hepar) kita, hanya seluas telapak tangan kita sendiri. Namun hakekatnya, ternyata hati kita bisa lebih luas dari pada luasnya lautan. Panasnya hati kita, dapat disejukkan dengan dinginnya air lautan. Wisesa Segara adalah sebuah ajaran dengan perlambang untuk penghayatan hati seorang Jawa, atau orang yang mengaku dirinya sebagai orang Jawa.

Orang tua kita sering mengingatkan kita untuk “Ngati-ati Le….!, Ngati-ati Nduk..!”. Sebenarnya kalau kita mau mencermati pesan orang tua kita itu, inti pesan tersebut tidak jauh dari ajaran filsafat Wisesa Segara. Ternyata orang yang selalu ingat akan Hatinya, dia akan selalu berhati-hati. Dalam ilmu Biologi dan Kedokteran, Hati adalah organ yang mampu menyaring racun. Begitu pula dalam ajaran filsafat Wisesa Segara, hati kita juga harus mampu menyaring segala bentuk Candhala, yang sangat mungkin menghinggapi pikiran dan perasaan kita setiap saat. Dari segi ilmu kesehatan, orang yang terkena penyakit hati (Hepatitis), hidupnya sudah di ujung tanduk. Berapa pun banyak harta yang dimilikinya akan segera habis tak tersisa sedikitpun hanya untuk berobat. Begitu pula dalam ajaran filsafat Wisesa Segara, orang yang mempunyai hati yang kotor akan menghadapi kehidupan yang suram dan kelam. Mempunyai hati yang kotor, tidak memungkinkan seseorang untuk dapat berfikir jernih dan bersih. Sehingga segala tindakannya tidak akan mampu untuk bersikap jujur dan adil.

Wisesa Segara, bermakna “Ber-Hati Bersih” namun harus seluas Segara “Samodera”. Sungguh suatu ajaran filsafat kehidupan yang sangat brillian. Mengambil lambang-lambang kehidupan dari gambaran-gambaran alam, yang bahkan sudah sering kita lihat, namun kita tidak pernah mau menelaah maupun mengkaji maknanya. Akal kita menjadi dunggu, karena terbuai dengan kenikmatan-kenikmatan hidup yang telah memanjakan kita. Perasaan kita menjadi bebal karena seringnya kita mendapat pujian dan sanjungan dari orang-orang di sekitar kita.

Ketika hati kita galau, pikiran kacau, tubuh gemetar, dan dahaga menyambar. Tiba-tiba mendapatkan setetes “TIRTA” suci, yang jatuh tepat mengenai dahi. Tirta itu meleleh mengalir membasahi sekujur tubuh. Meskipun tirta tersebut tidak sempat terminum, namun sungguh dapat menyejukkan jiwa, hilang dahaga seketika, hilang segala gundah gulana. Apalagi “TIRTA” suci yang terlahir dan menetes dari lubuk hati yang tercipta dari kasih Tuhan. Sungguh suatu karunia yang tak ternilai harganya.

Bak petir menyambar, dunia seolah terbalik, ketika terlambat menyadari bahwa kehidupan ini adalah semu. Hakekat hidup sering tersembunyi diantara alam yang sering kita injak-injak, yang sering kita terlantarkan, dan sering kita rusak. Bahkan kita sering mengabaikan suara kebenaran yang muncul dari liang semut sekalipun. Tanpa disadari, hakekat kehidupan sudah melekat erat pada tubuh kita. Menyatu dalam segala sendi dan nafas kita. Hanya kita tidak mampu mengendalikannya.

Petuah dan nasihat yang saya sampaikan, meskipun secara tersirat, membuat hati saya tersentak, dan menumbuhkan kesadaran tanpa logika. Saya rasakan sebuah himpitan yang maha dahsyat menghimpit dada. Saya telah melakukan kesalahan yang tidak termaafkan, yang tidak mungkin dapat ditebus dalam sisa umur yang saya miliki. Tanpa disengaja, saya telah menyerap ilmu yang sebenarnya bukan menjadi hak saya. Untuk mengurangi beban hidup ini, dan dosa yang telah saya perbuat, maka hukumlah saya. Jika panjenengan semua menginginkan tangan dan kaki saya, ambillah tangan dan kaki saya, semoga dapat menambah kekuatan pada diri panjenengan semua. Diam adalah keingin saya. Jika panjenengan semua menghendaki Telinga saya, ambilah pendengaran saya. Tuli adalah tujuan hidup saya. Dan jika menghendaki mata saya, ambilah penglihatan saya. Buta adalah tujuan hidup saya. Semoga dapat memperluas pengetahuan kita semua. Jika menghendaki Hati saya, ambillah perasaan saya, dan usirlah saya. Kematian adalah akhir dari tujuan kehidupan saya. Semoga dapat menambah ketabahan hati dan kasih sayang kita semua.

Saya hanyalah seorang dungu lagi bodoh, belajar bertahun-tahun tidak juga bertambah pintar. Saya orang yang tidak berguna, Sangat bebal dalam memahami sesuatu yang mudah. Namun, Wisesa Segara selah menyadarkan saya…. dan Insya Allah tulisan saya ini akan berguna untuk semua. Matur nuwun dari orang Sudra pinggiran pantai Selatan. Bunda Lia Songgo Buwono.

 

Batal Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Promosikan · Bagikan

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: