Bumi dan Langit –Gatut Kaca dan Abimanyu

Bumi dan Langit –Gatut Kaca dan Abimanyu

Bumi dan Langit –Gatut Kaca dan Abimanyu

Dalam tulisan yang lalu, telah saya jabarkan tentang bertemunya kekuatan Api dan Air, dalam symbolisme dan metafora. Berikut ini akan saya ulas tentang kekuatan unsur lainnya, yaitu tanah dan Udara (langit/ angkasa). Dalam makna yang disimbolkan pada ketiga putra pandawa yang lain.

Langit (angkasa/udara) fungsi sebenarnya adalah untuk melindungi kulit bumi, dalam istilah ilmiah dikenal dengan Atmosfer. Sedangkan atmosfer sendiri sebenarnya terbentuk dari senyawa gas. Beberapa jenis gas yang ada dalam atmosfer bersifat mudah terbakar, seperti misalnya oksigen. Itulah sebabnya meteor yang memasuki wilayah atmosfer akan berpijar terbakar, sehingga akan habis menjadi debu. Dengan demikian tidak akan menghantam kulit bumi. Namun kadang karena besarnya butiran meteor, sesekali ada yang menghantam kulit bumi, itu karena bongkahannya yang sangat besar. Fungsi atmosfer yang menjaga bumi, ini disimbolisasikan dengan tokoh Gatotkaca, putra Bima yang lahir dari ibu Dewi Arimbi. Sewaktu masih bayi, ia sudah dijadikan jago oleh para dewa, dan digembleng di kawah Candramuka. Karena kehendak para dewa, ia menjadi kuat dan kebal terhadap semua senjata (tilas tepak paluning pande), sampai-sampai tali pusernya tidak dapat dipuput oleh senjata jenis apapun kecuali oleh senja Kunta milik uwaknya (Pakde-nya) Basukarna. Namun malang bagi Sang Tetuka, warangka dari senjata Kunta Wijayadanu, menyatu dengan puser yang telah berhasil di potong oleh senjata Kunta. Sang Gatotkaca adalah simbol dari seorang Prajurit sejati yang gagah pemberani. Tidak pernah gentar menghadapi segala peperangan. Tak pernah silau dengan kekuatan lawan.

Ksatria yang lain adalah Abimanyu, secara lahiriah ia adalah putra dari Arjuna, yang lahir dari ibu Subadra. Namun secara batin, ia adalah putra Bima. Itulah sebabnya dia diberi Julukan Abimanyu, yang juga berarti putra Bima. Sewaktu Bima mendapatkan wahyu “Wijining Ratu” namun wahyu itu terlepas dan bersatu dengan Abimanyu, maka diangkatlah Abimanyu sebagai anaknya. Dalam angkatan perang Pandawa, Ia selalu disimbolkan sebagai kekuatan Angkatan Darat.

Kedua ksatria diatas, Gatotkaca dan Abimanyu, ibaratkan mimi lan mintuno, tidak pernah terpisahkan, dimana ada Gatotkaca disitu ada Abimanyu. Ibarat pepatah, dimana ada langit disitu bumi dipijak. Dua wujudnya namun sebenarnya hanya satu, loro ning atunggal. Seolah seperti bersatunya antara Bumi dan Langit.

Namun kedua ksatria ini gugur dalam medan pertempuran Perang Baratayudha sebagai ksatria yang gagah berani. Namun dalam kisah masa lalunya, kedua ksatria ini mempunyai kesalahan yang besar. Dan perang Baratayudha adalah pintu penebusan kesalahan yang telah mereka perbuat. Kesalahan Gatotkaca adalah membunuh Pamannya sendiri, Kala Bendana. Meskipun sebenarnya bukan merupakan kesengajaan. Sedangkan kesalahan dari Abimanyu adalah telah berlaku dusta kepada calon istrinya, ia mengatakan kalau dia belum beristri. Abimanyu memperistri Dewi  Sundari, padahal secara silsilah masih terhitung neneknya. Tatkala meminang Dewi Sundari, Abimanyu bersumpah, matinya akan tertusuk oleh ribuan anak panah, jika ia berkata dusta kalau sudah memiliki istri. Itulah kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan oleh kedua ksatri ini.

Namun sebenarnya, dibalik romantisme cerita yang digambarkan menggunakan figur kedua ksatria diatas, terdapat ajaran yang sangat luhur. Menyatukan Bumi dan Langit, ibarat Bapa Angkasa dan Ibu Pertiwi, bukan pekerjaan Gampang. Menyatunya kedua unsur ini sering timbul pertentangan, sehingga akan membutuhkan sebuah pengorbanan yang tiada tara. Di alam nyata seperti dalam kehidupan kita sehari-hari, pengorbanan untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar sering kita hadapi, bahkan sering menjadi dilema. Korban materi, korban waktu dan korban perasaan. Korban materi dan korban waktu itu sangat mudah dilakukan. Jika kita memiliki lebih, tidak akan menjadi masalah. Namun beda halnya dengan korban perasaan, tidak semua orang mampu melakukan. Tergantung dari tingkat keiklasan seseorang. Dibutuhkan sebuah jiwa yang besar untuk dapat melakukannya. Berhati samodra, berbudi bawa leksana.

Jadi lengkaplah, dalam kehidupan kita selalu terdapat unsur-unsur alam yang berpengaruh dalam segenap kehidupan kita, yaitu Tanah (Bumi), Air, Api dan Angin (udara). Keempat unsur ini merupakan elemen pembentuk alam secara fisik. Keempat unsur ini juga merupakan pembentuk tubuh (badan kasar) manusia. Sungguh sangat disayangkan, jika memperlakukan keempat elemen ini dengan sikap yang semena-mena.

 

Bunda Lia Songgo Buwono.

Batal Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Promosikan · Bagikan

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: