GAJAH.

Anekdot, Gajah dan orang-orang buta.

Saya teringat dengan tembang dolanan anak-anak sewaktu kecil,

                Gajah-gajah, kowe tak kandani….

                Mripat koyo laron, kuping gede koyo ilir…

                Kathik nganggo tlale, buntut cilik tansah kopat-kapit

 

                Sikil kaya bumbung, mung mlakumu megal-megol…

Seekor gajah yang sangat besar, berjalan menyusuri  jalanan desa. Ia memakan rumput, dedaunan yang tumbuh di sepanjang perjalanannya. Untuk mempersingkat cerita, sampailah gajah itu di halaman sebuah rumah yang dihuni oleh sebuah keluarga yang sangat bahagia. Namun sayang, anggota keluarga itu semuanya cacat. Anggota keluarga itu berjumlah enam orang, Lima orang diantaranya buta, dan satu diantaranya bisu.

Ketika  sedang duduk-duduk dan bercengkrama di beranda rumah, mereka dikejutkan oleh suara binatang yang datang. Dari suaranya mereka bisa menerka kalau binatang itu seekor binatang yang sangat besar. Mereka berlima ( yang buta ) mendatangi dan mendekati sang Gajah itu.  Sedangkan si Bisu hanya berdiri termangu, karena sangat ketakutan melihat ada seekor gajah di halaman rumah mereka. Namun sayang, si bisu tidak bisa memberi tahu saudara-saudaranya kalau di halaman rumah mereka ada seekor Gajah.  Saudara-saudaranya beriring bergandengan tangan menghampiri sang Gajah. Mereka ingin memastikan binatang apa yang telah masuk ke halaman rumah mereka. Si buta 1, memegang belalai gajah, si buta 2 memegang telinga gajah, si buta 3 memegang perut gajah, si buta 4 memegang kaki gajah, dan si buta 5, memegang ekor gajah. Mereka semua (yg buta) meraba-raba apa yang ada di depannya, sambil menerka-nerka dan mencoba memahami bentuk dari binatang yang sedang mereka pegang itu. Tiba-tiba, secara kebetulan ada salah seorang tetangga mereka melintas disamping rumah keluarga itu. Dan ia berteriak-teriak memberitahu pada orang-orang buta itu untuk menjauhi binatang itu, “Hai, menjauhlah dari gajah itu…!, nanti dia mengamuk...!” begitu serunya. Buru-buru mereka pergi meninggalkan gajah itu dengan lari lintang pukang, dan berkumpul lagi di beranda rumah. Karena juga merasa terkejut, akhirnya gajah itupun pergi meninggalkan rumah itu.

Setelah keadaan kembali menjadi tenang, mereka mulai bercakap-cakap lagi. Karena teriakan tetangga mereka, akhirnya mereka tahu nama binatang yang tadi sempat mereka pegang, yaitu gajah. Si buta 1, mulai bercerita : “saudara-saudaraku, aku rasa tetangga kita tadi terlalu mengada-ada, masak binatang yang sangat lembut menyerupai selang dikatakan berbahaya. Adiknya si buta 2 menyangkal, “Tidak kak, binatang itu menyerupai kipas, bentuknya tipis dan lebar..! tapi masak tetangga kita itu menyuruh kita pergi. Aku pikir binatang itu memang tidak berbahaya. Si buta 3, juga menyangkal pendapat kedua kakaknya tadi, “kalian salah, binatang tadi bentuknya seperti tembok. Namun saya setuju kalau binatang itu tidak berbahaya. Sedangkan si buta 4 berpendapat lain, kamu juga salah saudaraku, bentuk binatang itu hanya menyerupai batang pohon kelapa. Mungkin benar tetangga kita itu sudah gila, masak binatang yang bentuknya seperti pohon kelapa dikatakan berbahaya”, begitu selanya.

Kemudian mereka semua bertengkar mempertahankan pendapatnya masing-masing. Memegang prinsip kebenaran dengan pengalaman yang telah mereka rasakan, yaitu dengan memegangi gajah. Hanya satu kesepahaman yang mereka setuju, bahwa “Tetangga mereka telah gila, dengan melarang mereka mendekati gajah itu”.

Adik mereka yang paling bungsu (si bisu), tidak bisa menengahi perdebatan kelima saudara-saudaranya. Dia juga memahami tentang bentuk gajah, bahkan mungkin dia memahami lebih terperinci. Namun sayang, dia tidak bisa menyampaikan pendapat karena terhalang oleh kelemahan yang ia miliki.

Setelah larut malam, perdebatan itu berakhir dengan sendirinya. Mereka tertidur dengan dibuai mimpi-mimpi indah, meresapi dan mengenang sebuah pengalaman tentang bentuk tubuh binatang gajah. Mereka tidak saling sepaham dengan saudara-saudaranya, karena mereka yakin dengan pengalaman yang telah mereka rasakan sendiri….

Semua merasa benar, dan memang sebenarnya mereka semua memang benar…. Namun sebenarnya, kebenaran yang mereka percayai belum benar-benar benar.

Sebuah pendekatan tentang pemahaman dari prinsip kebenaran yang saya sampaikan ini, semoga bisa membuka cakrawala berfikir kita menjadi lebih luas, tanpa mengabaikan pemahaman kebenaran yang pahami orang lain dalam perspektif yang berbeda.

Batal Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Promosikan · Bagikan

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: