IBU.

IBU

Ibu

(Sebuah kenangan dalam kasihmu yang tiada mungkin sirna)

Langit biru dihiasi awan yang berarak tertiup angin pagi.

Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan di ujung jalan desa,

Sinar matahari menerobos menyusup melalui dahan dan dedaunan,

Seberkas sinar menerpa keningku,

Hangatnya terasa di sekujur tubuhku.

Burung prenjak bernyanyi bersorak,

Melompat menari dengan riang gembira

Diiringi suara tetesan embun yang menerpa pucuk-pucuk daun,

Bak bunyi genderang dalam sebuah simphony,

Menambah semaraknya pagi itu.

Kugeliatkan tubuhku, kurentangkan tanganku..

Kuhirup udara pagi yang segar…

Untuk membangkitkan semangatku yang sedikit lesu,

Kering di sudut bibir, perut terasa lapar..

Seharian telah kutempuh perjalanan menyusuri lembah.

Kubuka bekal makan yang kubawa serta,

Sebungkus nasi dan lauk-pauk

Yang disiapkan ibu untuk bekalku,

Segenggam nasi dan sekerat tempe,

Sungguh terasa sangat lezatnya…

Aku santap, dan kunikmati suap demi suap bekalku…

Masih terasa belaian tangan lembut jari-jari ibuku…

Dengan nyanyian yang sendu merdu…

Nasehat dengan tutur nan syahdu…

Berhias kecupan di keningku.

Sontak aku terhenyak…

Diriku hanyalah seonggok sampah yang bernafas..

Berjuta tanya berkecamuk dalam kepala…

Dari manakah ibuku mendapatkan butir-butir beras ini?

Sedangkan kerentaan menghinggapi tubuhnya..!

Tumpak Manis Watugunung,

Ibu.., kan kukenang dirimu.., sepanjang hidupku…

———————–

Sepiring nasi dan lauk-pauk yang berada di depan kita, sebenarnya telah melakukan perjalananan yang sangat jauh. Dia yang berkumpul di atas piring sebenarnya berasal dari tempat-tempat yang jauh dari rumah kita. Hanya dengan izin Allah semata, sepiring nasi dan lauk-pauk sampai dihadapan kita untuk menyambung hidup.

Beras berasal dari padi yang ditanam di sawah oleh para petani yang tempatnya mungkin sangat jauh dari tempat kita. Para petani merawat tumbuhan padi ini dengan susah payah. Mulai dari menggarap tanah, membajak tanah, dibantu oleh kerbau yang bertubuh kuat, menyemai padi, menanam, menyiangi, memupuk sampai musim panen membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Garam berasal dari lautan dan asam dari gunung. Mereka semua berasal dari pangkuan ibu pertiwi, ibu yang kasihnya abadi. Ibu pertiwi rela diinjak, dikotori, dilukai…. Namun tetap memberi rejeki berupa makanan yang melimpah pada kita semua. Sebuah simbol kasih yang abadi….

 

WAHDATULWUJUD Wujuding wijil wahyuning wangsit Wiyoto woting waskitha kang winasis Jajaning janma jatining jasad Jumujuging jaladara jantra jinajah. Amrih amining amaranti Amina mastani mantra mastadi Samudananing samudra samun Sesongaran sasat susantiningrum. Mungguh asmaning mung kanggo mupus Dipeh prana nalika daruna dumateng Tebining dhandhaka anyatrani Lubering ludira anebaki daruni. Najan hamung kinanthi sih utami Awit diniyati tan kenging rinuyit, Anggraitaa murih wekasanipun jrih Muncrat handalidir mring bantala. Tiba grahaning Hyang Suksma Memitri awit saking nggenira Njangkah tan angoncati Tibaning Rohul Kudus amrih miranti. Jinantra ontran-ontran kang amurwat Murwating angkara murka Nabrak, nunjang, ngobok-obok Nggelar kadurjanan Ngobrak-abrik tatanan Salang-tunjang Gede-cilik tanpa wirang. Ana jalma mimba Gusti Ngaku Allah sinarawedi Ngendi ana titah padha karo Gusti Kadunungan iblis pinasthi. Manunggal kuwi ‘ra teges sami Hamung celak raket ring Gusti Hamung Allah kang pinuji-puji Ya mung jalma najan wali. Nyuwun ngapura mring Hyang Widhi Wani nranyak mring Malikul’alam Wus madhani Sing Gawe Urip Dudu kuwi wahdatulwujud. Sing bener kuwi ya mung aran titah Ora samar angambrah-ambrah Aja nerak hukume lumrah Kawistra ora narimah. Duh Gusti Kang Maha Lestari Mugi kersa paring lubering pangastuti Kang samya memesu ring karsaning Gusti Najan sasarsusur yekti.

“ALLAHUMMA INNI A’UDZU BIKA MIN ‘ILMIN LA YANFA’U, WA MIN QALBIN LA YAHSYA’U, WA MIN NAFSIN LA TASBA’U, WA MIN DA’WATIN LA YUSTAJABU LAHA. ALLAHUMMA ATI NAFSI TAWAQWAHA, WA ZAKKIHA FA ANTA KHAIRU MAN ZAKKAHA,ANTA WALIYYUHA WA MAULAHA” Ya Allah,aku berlindung kepadaMU dari ilmuyang tidak manfaat, hati yang tidak khusyu’ nafsu yang tidak merasa puas, dan dari doa yang tidak terkabul. Ya Allah, berikanlah kepadaku jiwa yang takwa lagi bersih. Sebab hanya ENGKAU lah sebaik-baik yang membersihkan jiwa dan yang menguasai serta yang mengarahkan. ALLAHUMMANFA’NI BIMA ‘ALLAMTANI WA ‘ALLIMNI MA YANFA’UNI WA ZIDNI ‘ILMAN MIN ‘INDAKA Ya Allah, berikanlah manfaat terhadap ilmu yang telah ENGKAU anugrahkan kepadaku, dan ajarkanlah sesuatu yang memberikan manfaat kepadaku. Dan curahkanlah tambahan ilmu pengetauan dari sisi-MU.

ALLAHUMMA ASTAGHFIRUKA LIKULLI DZANBIN DALLASTU BIHI MINNIE MAA DHOHARTAHU AUKASAFTU ‘ANNIE BIHI MAA SATARTAHU BIHI MINNIE MAA KHASANTAHU. Mari kita bercermin karena jalan menuju Allah banyak sekali jebakannya dan membingungkan, yg sangat mengkwatirkan adalah hawa nafsu yg menguasai kita, Subkhanallah, Ya Allah tuntullah kami kejalan Mu yg lurus yg Engkau ridhoi bimbinglah kami selalu Ya Robbi. Karena….Hati tak memiliki logika, hati hanya bisa merasakan kebenaran. Hati hanya bisa merasakan ketulusan, seperti yang dirasakan hatiku pada pada semua teman dan sahabatku jua saudaraku. Dan…. Nurani adalah tempat rasa sejati berada, didalamnya ada Roh Kudus yg tdk pernah mau berbohong dan mengada ada, namun manusia seringkali mengabaikan nuraninya sendiri, dan lebih senang berkendaraan nafsunya.

Catatan pinggir, seorang sudra. Pada hakekatnya semua benda akan jatuh ke bawah. Begitu juga dengan air. Mencari kesetimbangan pada tempat yang terendah. Sesungguhnya tempat yang terendah dan bagian bawah bukanlah tempat yang tercela. Semakin ke bawah dan semakin rendah, semakin dekat pula dengan pusat gravitasi. Tenaga Gravitasi Bumi adalah lambang cita kasih yang abadi. Air mengalir di atas permukaan tanah menuju ke tempat yang terendah. Melalui selokan, parit, sungai, bengawan menuju ke lautan.Di sana seluruh air akan berkumpul mencari kesetimbangan, dengan permukaan yang rata. Meskipun terjadi riak dan ombak, permukaan air tetap kembali setimbang. Meskipun diterpa badai, menerjang gunung karang, air tidak pernah hancur, akan segera kembali pada kesetimbangannya. Dalam perjalanan mencari kesetimbangan, air sangat menyejukkan. Air terlahir dari hujan. Hujan pun membasahi permukaan bumi. Memberi kehidupan bagi seluruh penghuni bumi, tidak pandang bulu, meskipun dia jahat, buruk ataupun baik, tetap ia siram penuh dengan kesejukan. Semua yang tersiram oleh air akan menjadi bersih dan suci. Saya berusaha memahami filsafat air yang diajarkan oleh Eyang Marto. Sungguh saya sangat terkesima serta takjub dengan sifat dan watak air. Sungguh sangat tinggi nilai filosofi yang beliau sampaikan. Bahkan, hampir-hampir saya tidak mampu menjangkau hakekat ilmu yang beliau sampaikan. Setelah saya rasakan, akhirnya saya memahami tentang Wisesa Segara. Beliau menandaskan, dalam pengetahuan ini harus difahami dengan berbanding terbalik dan lurus. Semua sangat jelas dan gamblang, namun itupun jika kita mampu memahami pemikiran ini dalam kondisi berfikir terbalik. Dalam logika apapun, lautan itu sangat luas, sedangkan hati (bhs. Inggris = hepar) kita, hanya seluas telapak tangan kita sendiri. Namun hakekatnya, ternyata hati kita bisa lebih luas dari pada luasnya lautan. Panasnya hati kita, dapat disejukkan dengan dinginnya air lautan. Wisesa Segara adalah sebuah ajaran dengan perlambang untuk penghayatan hati seorang Jawa, atau orang yang mengaku dirinya sebagai orang Jawa. Orang tua kita sering mengingatkan kita untuk “Ngati-ati Le….!, Ngati-ati Nduk..!”. Sebenarnya kalau kita mau mencermati pesan orang tua kita itu, inti pesan tersebut tidak jauh dari ajaran filsafat Wisesa Segara. Ternyata orang yang selalu ingat akan Hatinya, dia akan selalu berhati-hati. Dalam ilmu Biologi dan Kedokteran, Hati adalah organ yang mampu menyaring racun. Begitu pula dalam ajaran filsafat Wisesa Segara, hati kita juga harus mampu menyaring segala bentuk Candhala, yang sangat mungkin menghinggapi pikiran dan perasaan kita setiap saat. Dari segi ilmu kesehatan, orang yang terkena penyakit hati (Hepatitis), hidupnya sudah di ujung tanduk. Berapa pun banyak harta yang dimilikinya akan segera habis tak tersisa sedikitpun hanya untuk berobat. Begitu pula dalam ajaran filsafat Wisesa Segara, orang yang mempunyai hati yang kotor akan menghadapi kehidupan yang suram dan kelam. Mempunyai hati yang kotor, tidak memungkinkan seseorang untuk dapat berfikir jernih dan bersih. Sehingga segala tindakannya tidak akan mampu untuk bersikap jujur dan adil. Wisesa Segara, bermakna “Ber-Hati Bersih” namun harus seluas Segara “Samodera”. Sungguh suatu ajaran filsafat kehidupan yang sangat brillian. Mengambil lambang-lambang kehidupan dari gambaran-gambaran alam, yang bahkan sudah sering kita lihat, namun kita tidak pernah mau menelaah maupun mengkaji maknanya. Akal kita menjadi dunggu, karena terbuai dengan kenikmatan-kenikmatan hidup yang telah memanjakan kita. Perasaan kita menjadi bebal karena seringnya kita mendapat pujian dan sanjungan dari orang-orang di sekitar kita. Ketika hati kita galau, pikiran kacau, tubuh gemetar, dan dahaga menyambar. Tiba-tiba mendapatkan setetes “TIRTA” suci, yang jatuh tepat mengenai dahi. Tirta itu meleleh mengalir membasahi sekujur tubuh. Meskipun tirta tersebut tidak sempat terminum, namun sungguh dapat menyejukkan jiwa, hilang dahaga seketika, hilang segala gundah gulana. Apalagi “TIRTA” suci yang terlahir dan menetes dari lubuk hati yang tercipta dari kasih Tuhan. Sungguh suatu karunia yang tak ternilai harganya. Bak petir menyambar, dunia seolah terbalik, ketika terlambat menyadari bahwa kehidupan ini adalah semu. Hakekat hidup sering tersembunyi diantara alam yang sering kita injak-injak, yang sering kita terlantarkan, dan sering kita rusak. Bahkan kita sering mengabaikan suara kebenaran yang muncul dari liang semut sekalipun. Tanpa disadari, hakekat kehidupan sudah melekat erat pada tubuh kita. Menyatu dalam segala sendi dan nafas kita. Hanya kita tidak mampu mengendalikannya. Petuah dan nasihat yang Eyang Marto sampaikan, meskipun secara tersirat, membuat hati saya tersentak, dan menumbuhkan kesadaran tanpa logika. Saya rasakan sebuah himpitan yang maha dahsyat menghimpit dada. Saya telah melakukan kesalahan yang tidak termaafkan, yang tidak mungkin dapat ditebus dalam sisa umur yang saya miliki. Tanpa disengaja, saya telah menyerap ilmu yang sebenarnya bukan menjadi hak saya. Untuk mengurangi beban hidup ini, dan dosa yang telah saya perbuat, maka hukumlah saya. Jika Eyang Marto menginginkan tangan dan kaki saya, ambillah tangan dan kaki saya, semoga dapat menambah kekuatan pada diri Eyang Marto. Diam adalah keingin saya. Jika Eyang Marto menghendaki Telinga saya, ambilah pendengaran saya. Tuli adalah tujuan hidup saya. Dan jika menghendaki mata saya, ambilah penglihatan saya. Buta adalah tujuan hidup saya. Semoga dapat memperluas pengetahuan Saya dan juga teman2 di FB. Jika menghendaki Hati saya, ambillah perasaan saya, dan usirlah saya. Kematian adalah akhir dari tujuan kehidupan saya. Semoga dapat menambah ketabahan hati dan kasih sayang saya pada teman2 di FB dan yang bersaudara dengan saya. Saya hanyalah seorang dungu lagi bodoh, belajar bertahun-tahun tidak juga bertambah pintar. Saya orang yang tidak berguna, Sangat bebal dalam memahami sesuatu yang mudah. Namun, Wisesa Segara telah menyadarkan saya. I wrote it with personification, I hope you understand what I mean. Sincerely, Your’s. Dalam perjalanan mengikuti aliran air, saya duduk termangu dalam kepenatan. Dengan kaki diluruskan merata dengan tanah menyentuh rerumputan. Saat wajah diterpa angin sepoi, meskipun di bawah terik sinar matahari, sangat terasa kehidupan yang damai. Bunyi air yang gemericik, sangat menghibur hati yang gundah. Sebagai obat penyembuh dahaga. Hati ini tertegun, ketika mata menatap tumbuhan kangkung yang tumbuh di pinggiran sungai. Meliuk-liuk diterpa air arus kecil yang beriak. Pepatah mengatakan “Air beriak, tanda tak dalam”. Justru karena kangkung tumbuh di air yang dangkal, itu yang membuat saya tercengang, ketika saya mencabut salah satu batang kangkung. Ternyata batang kangkung itu kosong, tidak ada isinya. Tapi mengapa batang itu mampu menopang dedaunan yang tumbuh di atasnya. Subhanallah, Maha Besar Allah ..! Yang telah memberikan ilmu kehidupan lewat tumbuhan kangkung. Tapi hati saya kembali tergelitik, mengapa Tuhan selalu menyembunyikan makna ajaran-ajarannya di alam dan di lingkungan sekitar kita. Tuhan adalah ‘Causa Prima’, dzat yang ‘Murba ing dumadi’ adalah awal dari segalanya. Memang sudah menjadi tugas kita untuk menggali dan mencari kajian makna yang tersembunyi di baliknya. Tanpa hati yang bersih dan pikiran jernih, sangat tidak mungkin kita dapat memahami makna-makna yang tersembunyi di balik kehidupan kita ini. Sesaat kemudian, saya dikejutkan oleh teriakan burung-burung bangau yang sedang mencari makan di persawahan. Bagaikan penari yang meliuk-liuk dengan indah, mereka berpesta pora sambil bersendau gurau, mencari mangsa. Katak-katak kecil berlarian menghindari sergapan burung bangau yang kelaparan. Tetapi apalah daya, takdir mereka, hidup mereka memang sudah ditakdirkan untuk menjadi santapan sang bangau. Kehidupan yang mereka jalani, mereka sumbangkan bagi kelangsungan kehidupan makhluk lain. Subhanallah, Maha Besar Allah. Banyak diantara kita yang mengeluh karena hanya harus berkorban harta untuk orang lain. Seekor katak akan lebih berharga di mata Allah, jika hidup kita tidak kita hiasi dengan amal perbuatan yang terpuji. Setelah puas bersantap dan merasa kenyang, kawanan bangau pun mulai beterbangan memenuhi angkasa. Mereka terbang dengan ritmis. Sesuai dengan hitungan algoritma yang sangat pasti. Mungkin karena mereka sudah melakukannya selama bertahun-tahun. Tetapi hati saya terkesima melihat bagaimana mereka menerapkan hitungan-hitungan tersebut dengan sangat tepat. Dan yang lebih mencengangkan lagi, mereka mampu pergi meninggalkan tempat tanpa meninggalkan jejak. Kita tidak akan mampu melihat jejak seekor burung bangau yang terbang di udara. Sungguh rahasia Allah sangat banyak. Dan Allah Maha Mengetahui. Mereka terbang beriringan dengan menggunakan formasi yang menyerupai anak panah. Satu di depan sebagai leader, dan diikuti dua ekor bangau dibelakangnya, dan tiga, empat dan seterusnya sambung menyambung di belakangnya. Saya ingat “Pascal” seorang ahli matematika. Apakah hukum yang diciptakan juga terinspirasi oleh sekawanan bangau yang terbang di langit? Allah Maha Adil, Binatang pun dikaruniai sebuah instink yang sangat tajam. Kadang kita sebagai manusia kalah dalam survive menjalani kehidupan di alam yang kejam ini. Tuhan memberikan manusia akal, itu yang membedakan manusia lebih dibandingkan makhluk lain. Akal kita harus diasah setajam mungkin, rasa kita harus ditumbuk sehalus mungkin. Tuhan mengajari kita ilmu dan hukum-hukum Allah, melalui binatang, tumbuhan dan lingkungan alam dimana kita hidup. Alam kehidupan mereka tersembunyi hukum-hukum Allah yang Maha Benar. Tergantung kita dapat melihat dan dapat memaknai atau tidak. Itu semua bergantung pada kemampuan kita sendiri. Semakin dekat kita dengan Tuhan, semakin besar pula cobaan yang akan kita terima. Kembali saya merenungkan keberadaan tumbuhan kangkung dan burung bangau. Kangkung yang tumbuh di tempat kotor, berlumpur dan hina, namun kangkung mengajari kita pada kehidupan yang hakiki. Batang kangkung tidak berisi (tidak berkambium), (jw. tanpa galih). Disitulah letak hakekat kehidupan, seperti galih kangkung. Dalam ilmu hakekat, kehidupan ini harus kita kosongkan, kita harus meniadakan segala macam bentuk hawa nafsu dan berbagai keinginan yang menguasai jiwa kita. Begitu juga dengan tapak burung bangau yang terbang di angkasa. “Sejatine ora ono, Ora ono opo-opo”. Jika kita bisa mengetahui rahasia galih kangkung dan tapak burung bangau, saat itu pula kita akan mengetahui rahasia hakekat kehidupan yang sebenarnya.
Batal Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Promosikan · Bagikan

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: