MANZILAH.

MANZILAH – Titik-titik sudut di cakrawala…

MANZILAH  – Titik-titik sudut di cakrawala…

Langit redup temaram, matahari beranjak ke peraduan…

Malam merambat perlahan, dan gelap mulai menancapkan kekuasaannya…

Angin pun berhenti bertiup, seolah ingin memberi hormat kepada sang penguasa malam.

Dan suasana pun berubah semakin mencekam, ketika terdengar suara-suara serangga yang menadi sahabat kegelapan….

Aku duduk di tengah ladang….

Memandang langit tanpa awan….. tanpa bintang….

Hatiku kelu……

Matahariku telah pergi meninggalkan aku….

Tak ada lagi pelangi.. … yang menghiasi hidupku…..

Kucoba berdiri dan menghibur diri…….

Namun tak ada teman….  tak ada kawan……

Untuk berbagi duka……   nestapa……..

Yang ada hanya rumput  ilalang

Yang selalu bergoyang……  jika tertiup angin kencang….

Kuberanikan diri  untuk berpaling ke arah timur,

Diujung cakrawala terlihat sebuah bayangan hitam yang mengerikan,

Tinggi besar hitam menyeramkan,

Bak sang kala yang siap menerkam.

Untuk menghilangkan rasa takut kalut dalam hati……

Kucoba gunakan logika dan akal yang sehat…

Sontak ku ingat…..

Bayangan itu hanyalah sebuah pohon angsana yang tumbuh di ujung desa….

Hatiku sedikit terhibur, karena aku tidak lagi dikuasai rasa takut

Yang muncul dari dalam anganku sendiri…

Apalagi tatkala kulihat sebersit cahaya temaram

Yang muncul dari balik pohon angsana….

Dalam hati aku bersyukur….

Rasa gundah di hati berangsur sirna,

Karena logikaku sudah mulai menguasai perasaanku…….

Dewi Sasi telah muncul dihadapanku…

Dengan sinarnya yang sangat menyejukkan…

Sekali lagi aku bersyukur pada Tuhan…

Masih ada cahaya suci yang menyinari  batinku…..

Lalu aku berucap : “Oh, Dewa…. janganlah engkau tinggalkan aku…..”

“Terangilah jiwaku…. Jangan pernah engkau menghilang dari hidupku…..”

Dalam keheningan malam kudengar bisikannya…

“Aku tunduk pada hukum alam….. Yang tak mampu kulawan….”

“Setiap malam akan kuterangi jiwamu,  namun jangan halangi kepergianku…”

“Tunggulah aku ditengah padang ilalang…. aku pasti datang menghampirimu….”

 

Tanpa terasa, telah basah pipiku dengan linangan air mata…

Sebenarnya hatiku sangat sedih, karena sang Dewa akan pergi meninggalkanku…

Aku sadar……..

Bahwa diriku hanyalah sebutir debu yang tak akan mampu menahan rembulan,

Meskipun aku sangat menyayanginya…

 

Bumi, matahari dan bulan menempati manzilahnya sendiri-sendiri.

Hukum alam telah mengatur kodrat mereka dengan segala perbedaannya.

Apa jadinya jika ketiganya menempati manzilah yang sama?

Memang kadang terjadi…. dan sering terjadi….

Sebuah efek dari fenomena alam yang sebenarnya merupakan hal sangat luar biasa, terutama bagi orang-orang yang mau berfikir…. “Gerhana matahari atau gerhana bulan”

 

Dari fenomena ini nenek moyang kita orang-orang jawa dimasa lampau, menamakan hari-hari meggunakan dasar logika dari letak-letak manzilah ini….

Hari pertama dimulai dengan MATAHARI, hari kedua dengan BULAN, dan seterusnya   BUMI, BINTANG dan PLANET yang mengelilinginya.

Mari kita perhatikan….

Matahari (Surya) dalam bahasa jawa kuno dikenak dengan Raditya dan nama hari pertama dalam bahasa jawa kuno adalah Redite.  Mungkin diantara kita sudah banyak yang melupakannya, karena nama hari itu lebih populer dengan nama Minggu atau Ahad. Minggu berasal dari bahasa Spanyol yaitu Domingo, dan Ahad adalah berasal dari bahasa Arab “Wahid” yang artinya juga satu atau pertama.

Bulan (rembulan) adalah (Dewi) Sasi dalam bahasa jawa kuno disebut Soma, dan hari kedua dalam bahasa jawa kuno dikenal dengan nama Soma. Begitu seterusnya…. (Anggara, Budda, Respati, Sukra dan Tumpek)

Nah sekarang kita coba menoleh sedikit ke budaya barat, bagaimanah budaya mereka menamakan hari. Similary, mereka menamakan hari juga menggunakan nama-nama tatasurya disekitar kita.

Matahari dalam bahasa Inggris adalah Sun, dan mereka menamai hari pertama itu dengan Sunday (sun-day) hari matahari. Moon adalah bulan dan nama hari kedua adalah Monday (moon-day) dan seterusnya.

 

 

 

Batal Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Promosikan · Bagikan

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: