Metamorfose dan Sangkan Paran

Metamorfose dan Sangkan Paran
oleh Bunda Lia 

Metamorfose dan Sangkan Paran

 

Hama ulat bulu merajalela dimana-mana, siapa yang tidak geli melihatnya? Kecuali predator yang memangsanya.

Alam memberikan Sasmita atau petunjuk kepada umat manusia dengan menggunakan bahasa alam yang lebih bersifat universal, tanpa vokal maupun verbal.

Penggunaan kecerdasan spiritual kita sangat dituntut untuk dapat membaca dan memahami petunjuk dan sasmita alam tersebut.

Ulat bulu melakukan proses metamorfose untuk menjadi kupu-kupu. Pada setiap tahap dalam proses metamorfose ini memiliki bentuk (wujud), sifat (karakter) dan perilaku yang berbeda. Ulat, hari-harinya hanya dihabiskan untuk makan. Ia tidak pernah berhenti makan, apa saja yang ada didepannya akan dilahap sampai habis. Ulat lebih memetingkan perutnya daripada penampilannya (yang menyeramkan).

Dia tidak akan berhenti makan sampai titik penghabisan. Jasadnya akan lebur dan terbungkus oleh serat-serat yang halus, dan berubah menjadi kepompong. Sifat-sifat yang dimiliki ulat telah hilang, dan berubah menjadi suatu bentuk yang benar-benar baru, dengan sifat, karakter dan perilaku yang baru pula. Kepompong melakukan puasa total, seperti orang sedang lelaku. Fase ini adalah fase peralihan dengan pengendalian menyeluruh dari segala indera yang dimilikinya. Pada akhirnya akan hilang bentuk kepompong dan akan lahir bentuk baru yang kian cantik, yaitu kupu-kupu. Tidak hanya bentuknya saja yang berubah menjadi lebih indah, namun juga sifat, perilaku dan cara hidup, makanan yang dipilih juga berubah total. Dari yang pemakan daun menjadi penghisap sari-sari bunga. Yang bisa terbang kesana-kemari dengan segenap kebebasandan kemerdekaannya.

Mungkinkah alam mengingatkan kita tentang sifat dan sikap kehidupan manusia yang telah berubah, yang hanya mementingkan perut yang cenderung egois dan destruktif…?

Marilah sama-sama kita renungkan….

Analogi dari proses metamorfosa.

Tuhan memberikan karunia berupa sukma pada jasad ulat. Setelah jasad ulat itu hancur, sukma akan dipindahkan pada jasad kepompong. Jasad kepompong rusak dan menjadi kupu-kupu, sang sukma juga dipindahkan pada jasad kupu-kupu. Proses metamorfose membuktikan bahwa sukma bersifat langgeng (abadi) dan jasad ataupun raga bersifat sementara dan bisa rusak (fana). Proses metamorfosa dapat kita jadikan jembatan untuk memahami ungkapan “Sangkan Paran” ing dumadi.

 

 

Batal Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Promosikan · Bagikan
  • Putrie Ragiel Trisno Huuuhuuuuhuu..Renungan sore hari mulai..monggo Bunda sayang Muaaach….LOP U
  • Aloeth Pathi II Smoga bisa berproses sperti kupu-kupu…
  • Sang Suryagama Sabdanata: sugeng dalu Diajeng. kekalnya makhluk karena di kekalkan, sebab makhluk itu bersifat hawadis. #RAHAYU#
  • Petruk Tralala mbeber kloso amoh, ndeprok nang pojok, sinambi rokok, sekali2 lus2 irung hihihi..
  • Putrie Ragiel Trisno Hi hi hi hiiiii…Omm Petruk put3 nderek ndoprok…bleeeg, sambil nyamik’ kacang cap Garuda…
  • Prima Selindo Menghidupkan dengan..aroma kembang wijaya kusuma..cinta kasih hati sesama..dan alunan merdu..seruling gembala.. seuntai benang merah bercahaya mengikat hati sang pemilik bunga..dengan satu sentuhan ..merekahlah..semua dan kehidupan terlihat indah.
  • Bunda Lia Kita semua sudah tahu ..bahwa kupu-kupu itu terjadi dari ulat,ulat membuat kepompong dan dari kepompong keluarlah kupu-kupu…
    terjadinya kupu-kupu dari ulat adalah suatu fakta yang kita alami.
    Kita percaya,bahwa kupu-kupu itu terjadi dari ulat.tetapi kita tidak mengerti bagaimana ulat bisa berubah menjadi kupu-kupu.walaupun kita tidak mengerti ..namun kita percaya bahwa kupu-kupu terjadi dari ulat.

    Kita sudah biasa melihat fakta itu terjadi.percaya akan adanya dan percaya akan terjadinya sesuatu itu tidak perlu kita mengerti,
    fakta bahwa kupu-kupu itu keluar dari kepompong adalah dasar dari kepercayaan akan terjadinya kupu-kupu dari ulat.
    Filosofi kehidupan yang sangat tinggi……..aku anggap inilah ilmu Urip….
  • Brewisnu Jayati Memang jarang dijaman skr orang belajar dari Alam, mrka lebih cenderung belajar cari duit dan menghalalkan sgala cara. Wolak walike jaman “kudu Edan ora Edan ora kduman, sing ngalah kalah sing wani menang” Salam Sejahtrah, Smoga Smua Mahluk Hidup berBahagia.
  • Sang Suryagama Sabdanata: bak bunga kanigaran di taman kaputran, ulat berani memproses dirinya demi kemuliaan. #RAHAYU#
  • Pusar Angin Rahayu … Bunda … ?
  • Bunda Lia Kita tidak mengerti bagaimana kupu-kupu bisa keluar dari kepompong yang begitu kuat .walaupun kita tidak mengerti,…namun kita percaya bahwa kupu-kupu dengan kekuatan sendiri keluar dari kepompong…percaya itu tidak perlu mengerti…. namun itu semua karena adanya proses…..
  • Bunda Lia Mas Pusar Angin selamat malam… selamat datang Rahayu3x….
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ selamat malam BundaLia, malam yg penuh kegembiraan. salam kasihjati selalu.
  • Bunda Lia Mas Mukhtar jangan sayang2an dgnku ada Nataku disini….
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ selamat malam Kangdullah, Gusagung, dan semua yg sdh, sdng, dan akan hadir di warung kasih BundaLia ini, salam kasih.
  • Prima Selindo ku percaya walau ku tak mengerti….bahwa itu adalah rahasia di balik rahasia ..
  • Bunda Lia Kang Dullah……hemmmm
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ BundaLia, aku akan coba mengerti, mdh2an aku bisa heheheheeee
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Sugeng ndalu Ibunda, Abah Ali, Mas Petruk, Jenk Putri, Kang Mas Agung, Mas Margo lan sdoyo kdang knasih engkang smpun sami rawoh, monggo sami mirengaken wdaranipun Ibunda..
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ Kangdullah kaya ulat ya? wkwkwkwk
  • Awan Baraya Full terbanglah seperti kupu kupu hinggap di mana ia suka..namun menyengat seperti lebah disaat menghadapi kerasnya ke hidupan…
  • Triasih Prasetianingtyas Selamat malam Bunda …salam kasih ..para sahabat selamat malam salam sejahtera …
  • Sang Suryagama Sabdanata: bak mencari jatuhnya wahyu kaprabon, kepedihan itu di alami ulat dalam kepompong. #RAHAYU#
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ jadi Kangdullah bukan sahabatku ya? hahahaaaa
  • MasTebe Budiharto Ngatos2 Bunda…mangke kenging ulet bulu mgke gatel sedanten kulitipun….
  • Satyo Aji Sanjaya Persahabatan bagai kepompong,… mengubah ulat menjd kupu2… salam sayang buat para sahabat yg ada di-sini,… sahabat dlm meniti perjalanan,,, sahabat senasib-sepenanggungan, sahabat seperjuangan,… @Salam kasih ‘tuk sesama.
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ Kangdullah,,,ooooo begitu to Kang? lupa-lupa ingat wkwkwkwkwkwk
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ kepompong itu merupakan wadah yg pantas bagi proses perubahan yg di lakukan kupu2, kira2 begitu deh heheheee
  • Prima Selindo hm ..kang mas ..zaedin..sarujuk…hm he he
  • Christine Wae tapi tdk semua kepompong malih jadi kupu-kupu ..
    kadang proses ‘tafakur’nya rusak dan si bakal calon kupu2 cuma jadi sampah kepompong busuk ….

    bersyukurlah bila kita berkesempatan menjadi kupu-kupu … walau warnanya tidak begitu indah
  • Awan Baraya Full tapi ngomong ngomong kupu kupunya kemana..? kupu kupu yg lucu,kemana engkau terbang,hilir mudik mencari bunga bunga yg kembang..hehehe jd ingat lgu di masa kcil
  • Misterr Jeans Sang Kinasih KUPU KUPU jg bs buat perlambang atau tanda di skitar kita, kata Nenek Moyang klo ada KUPU KUPU di dpn Rumah katanya mau ada tamu yg akan dtang.
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ kok sarujuk Gusagung, emang klo duarujuk gmn? heheheheeee
  • Bunda Lia Yang dinamakan Manusia ada dua unsur yaitu RAGA dan URIP (Nyawa)
    Saat Manusia sdh selesai menyelesaikan tugas dunia maka manusia itu akan kembali (seharusnya kembali dengan sempurna)
    Raga terdiri dari dua unsur, yang kelihatan sering dikatakan Jasmani dan yang tidak kelihatan dinamakan Jiwa. Isi dari jiwa Angen2, Budi pekerti dan Panca Indra. Bagaimana proses ulat menuju kepompong lalu menjadi kupu-kupu….
    Yang dimaksud dengan kembali secara sempurna :
    Jasmani kembali ke 4 anasir, tanah, air, api dan angin, sehingga saat Manusia mati seharusnya jasad terurai pada 4 unsur tadi (moksa).
    Jiwa, bila sempurna akan bersama2 dengan Urip (Suci) kepada Maha Suci.
  • Sang Iblis Selamat malam Bunda…. Salam Kasihku.
  • Awan Baraya Full tanpa mengurangi rasa hormatku untuk semua yg ada di sini aku pamit mundur terlebih dahulu..mataku sudah semakin merah,terima kasih untuk para sang pencerah..
  • Sang Iblis Selamat malam Kang Dullah, Mas Jeans, Mas Mukthar, Mas Agung, serta semua yg hadir disini… Salam Hormatku.
  • Bunda Lia Saya kok jenuh setiap kali hanya menulis dengan arah yang sama namun penyampaian saja yang berbeda…..Urip iku Suci kagungan palenggahan lan kagungan Asmo, Guru sejati itu ya Urip.
    Sering kali kita mendengar kenalilah dirimu, kenalilah dirimu maka engkau akan mengenal Allah Tuhanmu, tapi opo yo wis mangerteni kalungguhane, wis mangerteni Asmane? inilah pintu untuk membuka guru sejatiniro.
    Dengan tahu Uripnya sendiri kita bisa hidup tenteram tentramnya tentram, bahagia bahagianya bahagia. Kita terkadang capek dengan mengejar sesuatu (surga) dengan angen2 kita, apa iya bisa nyampai? Kita ikuti aja ajaran yang dari dalam (Urip) kito pribadi, iku bener benering bener, tanpa harus berfikir kita nanti mau ke Surga atau tidak, jalani saja kehidupan ini jadilah seperti BEGAWAN ABIYOSO…. seperti proses ulat yang telah siap menjadi kepompong harus benar2 bersih dan lepas dari kehudupan ataupun duniawi… mampukah kita… hemmmmm berhasilkah kita selama jadi kepompong menahan hawa dan nafsu duniawi…. mampukah diri kita menjadi kupu2 yang indah …??? Atau menjadi kepompong kosong tanpa isi… seperti manusia mesti mati sia2 karena tak tau arah selama dia jadi kepompong… maka dari itu alangkah baiknya sebelum kita siap jadi kepompong renungkan dulu…..
  • Bunda Lia Semua orang bisa mengetahui kapan dirinya siap menjadi kepompong dalam arti lahir batinya…. bahkan org lain akan tau bagaimana sikap dan perilaku kita sebelum siap menjadi kepompong semua tegantung dari perbuatan dan akhlak kita. Dengan syarat, perilakunya selaras dengan alam semesta, tidak melawan kodrat alam. Kodratnya alam bahwa manusia mendapat kesempatan utk mengetahui apa yg akan terjadi. Tapi manusia melawan kodrat alam dengan sikapnya yg enggan belajar mengasah batin. Bahkan sengaja membatasi diri tidak belajar sesuatu yg berhubungan dgn gaib hanya karena takut salah. Padahal siapapun yg takut akan resiko salah maka sepanjang masa hanya menjadi katak dalam tempurung, org bodoh yg merasa dirinya pintar. Siapapun yg mau membuka diri, menyibak tempurung doktrin, tentu akan mampu seperti apa yg panjenengan alami…. untuk itu mari kita mengenal dengan dengan guru sejati… sejatine guru….
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ hakikat semua ilmu itu mendekati Yang Satu, tak lain. mnggo dipun lanjut Diajeng,,,salam kasih. (eh nata mana ya?)
  • Bunda Lia Untuk membedakannya, kita bisa melihat apakah objek yang dibahas itu adalah sesuatu yang bisa dilihat ataukah sesuatu yang menjadi objek pembahasan itu tidak bisa terlihat. Jika objek dari pokok bahasan itu bisa dilihat seperti objek biologi, kimia, fisika dan lain-lain maka kita menyebutnya dengan ilmu emphirisme. Sementara jika objeknya tidak bisa terlihat seperti fildafat, bahasa, matematika, agama kita menyebutnya dengan ilmu rasionalisme. Jikalau kita sudah bisa mengenali mana persoalan ilmu yang disebut dengan emphirisisme dan mana yang disebut dengan rasionalisme maka apakah yang menjadi pembeda di antara keduanya ? Bagaimana persoalan pengetahuan dari sudut pandang orang-orang emphiris dan bagaimana pula dari sudut pandang orang-orang rasional? Jawaban sederhananya ; adalah terletak pada penekanan fungsi akal. Menurut orang-orang emphiris tidak ada satupun di alam semesta ini yang masuk akal kalau sesuatu itu tidak bisa dilihat dan dialami. Fungsi akal pada persoalan ini persis seperti fungsi cermin, yaitu hanya menerima bayangan yang masuk lalu kemudian memantulkannya lagi. Dengan memahami persoalan fungsi akal ini maka menurut kaum emphiris manusia itu hanya akan mendapatkan sesuai dengan apa yang mereka usahakan dan karena itulah maka semua orang akhirnya memiliki takaran pengetahuan yang berbeda-beda karena berangkat dari pengalaman olah akal yang berbeda-beda pula…
  • Christine Wae ada titis, ada tetes (e diucapkan seperti kata kates), ada tetes (e diucapkan seperti kata males). pahami dan sadari, kita sejatinya titisan siapa, tetesan siapa dan menetas drmn. maka semua itu akan membantu proses kepompong diri. insya alloh, gak akan jadi kepompong kopong/busuk …
  • Sang Iblis Dalam hidup ini tidak sekadar berjalan, tetapi sungguh_sungguh melihat apa yg ada di sekelilingnya. Tanpa memerhatikan dengan sungguh_sungguh manusia akan kehilangan jati dirinya. Akan kehilangan tujuan hidupnya! Sifat asal jati diri itu ketenangan, kedamaian, dan ketentraman… Salam Kasih.
  • Christine Wae mbak ayu … jenuh itu wajar. yg sering kulihat mbak ayu hanya memberi. sementara aku tahu mbak ayu ingin sinergisitas, bicara secara 2 arah mengkombain, koreksi dan intropeksi. gak papalah. mungkin itulah fungsi dinding ini sebenarnya. sesekali menjadi papan pencerahan buat yg memang sedang mencarinya.

    just cheer up …. a few people you really know so close kan tetap ada jadi pendampingmu … iyo po ora, tho..?
  • Bunda Lia Sedangkan menurut kaum rasional justru sebaliknya. Menurut pendapat mereka fungsi akal justru untuk mengingat-ingat kembali (recalling) apa-apa yang sudah ada di dalam akal itu sendiri. Jadi tidak benar kalau akal mendapatkan pengetahuan dari indra dan pengalaman karena sesungguhnya pengetahuan manusia itu sudah melekat pada dirinya sendiri jauh-jauh hari sebelum mereka terlahir ke planet bumi ini. Karena fungsi akal adalah untuk recalling atau mengingat-ingat kembali, maka dengan sendirinya semua orang sesungguhnya mempunyai potensi pengetahuan yang sama. Perbedaannya hanya terletak pada kemampuan recalling masing-masing individu.
    Ilmu Spiritual yang Metodis dan Ilmiah kita mencoba masuk didalam ilmu Sastra jendra misalnya, Ilmu Sastro Jendro merupakan ngelmu yang diperoleh melalui perpaduan antara metode olah batin, pendekatan emphirisisme dan rasionalisme. Ketiga pendekatan tersebut harus matching, sinambung dan sepadan. Untuk itu sastra jendra bukanlah ngelmu yang hanya sekedar jarene atau katanya. Dapat dikatakan Ngelmu sastra jendra diperoleh sebagai hasil dari olah batin yang gentur dilakukan dalam waktu yang lama sehingga membuahkan hasil berupa pengalaman batin dan pengalaman lahir. Bahkan ngelmu sastra jendra merupakan ilmu rahasia “langit” yang berhasil diproses agar “membumi”. Dengan demikian dalam kawruh sastra jendra, tidak ada lagi kegaiban yang tidak masuk akal. Segala yang gaib justru sangat masuk akal, bisa diterima oleh logika penalaran. Artinya, otak kiri sudah berhubungan erat dengan otak kanan. Otak kanan sudah pernah menerima noumena (“fenomena gaib”) yang diterima oleh mata batin maupun wadag. Bagi yang belum bisa memahami gaib secara akal, atau masih menganggap gaib sebagai sesuatu yang irasional, hal itu menandakan ia belum berhasil melewati proses demi proses ngelmu Sastra Jendra secara tuntas.
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ terus gmn kedudukan OTAK TENGAH YG BELAKANG INI DI HEMBUSKAN OLEH JEPANG DAN DI PROMOSIKAN OLEH G.M.C. Bunda?
  • Sang Iblis Tujuan hidup manusia yg pokok pasti sama. Cuma pernik_perniknya yg tidak sama. Apa yg sama? Yaitu, tujuan untuk memperoleh kedamaian. Salam! Slamet. Selamat lahir dan batin. Selamat dunia akhirat. Salam atau selamat merupakan keadaan yg ingin dituju manusia. Karena eh karena, hanya dalam keadaan selamat manusia bisa menikmati kebahagiaan. Salam Kasih Penuh Damai.
  • Bunda Lia Pada awalnya untuk mendapatkan ngelmu Sastra Jendra ditempuh melalui metode olah batin yang berat dan panjang.
    Untuk memperoleh Ngelmu sastra jendra, seseorang tidak hanya cukup yakin saja. Tetapi harus bisa membuktikan sendiri, dengan menyaksikan, mengalami dan merasakan sendiri fakta di balik rahasia alam wadag maupun di “alam” gaib. Dalam metode atau pendekatan ngelmu satra jendra, kebenaran bukanlah sekedar postulat, aksioma, argumentasi rasional, apalagi sekedar keyakinan saja. Kebenaran sekalipun bersifat gaib dan dalam ranah idealitas, tetap harus bisa dibuktikan secara “ontologis” dan “epistemologis” atau obyek dan subyek ilmu. Oleh sebab itu, dalam tradisi ngelmu sastra jendra pengalaman gaib bukan lagi pengalaman batin yang bersifat subyektif, melainkan pengalaman yang bersifat obyektif dapat dibuktikan oleh orang lain yang memiliki kemampuan olah batin yang sama. Apabila pengalaman gaib dikatakan subyektif hal itu karena kenyataan bahwa hanya sedikit orang-orang yang sungguh-sungguh bisa membuktikan dan mempunyai pengalaman gaib tersebut. Secara epistemologis, metode pembuktian dilakukan oleh beberapa orang yang sama-sama mampu merambah ke dalam dimensi gaib untuk melakukan pembuktian bahkan tidak menutup kemungkinan menemukan suatu “hipotesis” baru. Hasil dari pembuktian itu lalu diambil suatu kesimpulan yang dirumuskan sebagai sebuah rumus-rumus yang berlaku di alam kegaiban. Misalnya; seperti kisah keajaiban yang pernah saya posting dalam “Kunci Merubah Kodrat” bahwa organ tubuh manusia yang “disimpan” di dalam dimensi atau alam kehidupan sejati (alam kelanggengan) tidak akan rusak atau busuk, karena di sana tidak ada rumus kerusakan sebagaimana di mercapada atau bumi.>
  • Sang Iblis Hahahaha…. Kang Dullah selamat malam… Pasti mantap surantap ketatap tuh…. Hiahahahaha….
  • Bunda Lia Merca adalah panas atau rusak, pada adalah tempat atau papan. Segala sesuatu yang ada di mercapada berarti akan terkena rumus kerusakan. Rumus ini tidak berlaku di alam kelanggengan atau alam kehidupan sejati. Rumus ini dapat digunakan untuk menjelaskan peristiwa “aneh” (sebut saja mukjizat) di mana seorang anak angkat yang menghibahkan ginjalnya untuk ditransplantasi kepada ibu angkatnya selama lebih kurang 15 tahun lamanya hingga wafat dalam kondisi baik dan sehat. Setelah beberapa tahun sejak ibu angkatnya wafat, ginjal itu benar-benar kembali ke dalam perut anak angkat yang menghibahkannya dulu, dan tetap berfungsi secara normal lagi. Peristiwa mukjizat tersebut TIDAK terjadi sekonyong-konyong, ujug-ujug, dan bukannya peristiwa yang tidak bisa dijelaskan prosesnya. Melalui ngelmu sastra jendra, peristiwa itu dapat dijelaskan secara rasional oleh orang lain dan secara emphiris oleh ybs (anak angkat tersebut). Maka dari itu ngelmu sastra jendra bisa disebut sebagai ilmu spiritual (gaib) yang ilmiah. Dapat dilakukan verifikasi (uji kebenaran) atas hipotesa-hipotesanya oleh banyak orang terutama yang mampu membuktikan. Hanya saja, kelemahan ngelmu sastra jendra yang memverifikasi hipotesis haruslah seseorang yang sudah berkompeten, mahir dalam berinteraksi dengan dimensi gaib. Tak cukup hanya melalui disiplin ilmu pengetahuan saja’
  • Sang Iblis Hmmm… Masih dalam proses perenungan Kang…. Hehehehe….
  • Satyo Aji Sanjaya @Abdullah: kalo’ Dhe Abdullah, sudah pasti jd pendekar Ulat-Sutra,… haa-haaay,… (nuwun sewu,Dhe, niki selingan mawon) hwe-hee-hee
  • Sang Iblis Manusia yg dilahirkan di dunia ini bersandangkan hawa nafsu, kuasa nafsu maka manusia harus bisa mengenal dirinya dan mengetahui asal_usulnya. Karena eh karena tanpa mengenal siapa dirinya, justru ia akan terbelenggu oleh hawa nafsunya sendiri. Terperosok ke dalam kubangan hawa nafsunya sendiri…. Hmmm… Salam Kasih.
  • Bunda Lia Kelemahan metode ini selain sangat terbatas orang yang bisa menguji atau memverifikasi kebenarannya, juga orang yang mengaku bisa menguji harus terseleksi hingga lulus uji terlebih dahulu. Sebab bukan tidak mungkin orang tersebut masih rancu dalam memahami gaib. Kerancuan yang disebabkan oleh adanya polutan yang bernama ilusi, imajinasi, dan fantasi hal-hal gaib atau dogma yang mengendap di alam bawah sadarnya yang sewaktu-waktu bisa muncul seolah gambaran gaib. Sebaliknya, yang menseleksi juga harus diseleksi terlebih dahulu. Hal itu dapat dilakukan apabila semakin banyak orang waskita yang mampu berinteraksi dengan gaib secara bersama-sama melakukan uji kebenaran dan dilakukan sejujur-jujurnya. Orang-orang seperti ini jarang kita temukan di zaman sekarang di mana kesadaran kosmos telah terampas oleh kesadaran semu dogma, termasuk pula yang semata-mata mengandalkan daya analisa otak kiri yang limited. Namun masih ada secercah harapan, dengan hadirnya anak-anak kristal, yang jauh lebih cermat dan matang dari anak-anak indigo serta kawula muda bangsa yang kini tampak semakin bersemangat untuk belajar mempertajam batin. Sedikit orang waskita yang memiliki ketajaman batin bukan berarti merupakan takdir atau garis hidup dan bakat alamiah. Bagi saya pribadi, setiap orang memiliki “software” yang kurang lebih sama, sehingga semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mempertajam mata batinnya asal saja mau mengolahnya dengan sungguh-sungguh.
  • Sang Suryagama Sabdanata: sungguh nafsu itu selalu memerintah ke arah keburukan. Tenangkan nafsumu….. #RAHAYU#
  • Bunda Lia Lebih lanjut tentang metode memperoleh ngelmu sastra jendra, secara ontologis ia memiliki obyek penelitian yang bersifat gaib maupun wadag (tanda-tanda/bahasa alam) tetapi apa sesungguhnya yang terjadi masih sangat rahasia. Namun sekali lagi, kegaiban bukan berarti tidak bisa dilihat dan dialami secara emphiris, tidak pula melulu hanya dibahas dengan pendekatan rasionalisme. Hanya saja walaupun obyek gaib (noumena) benar-benar ada, namun belum tentu langsung bisa dilihat secara wadag oleh setiap orang. Bagi orang yang bisa melihat, menyaksikan dan merasakan sendiri obyek gaib, hal itu merupakan sebuah pengalaman emphiris yang biasa-biasa saja. Gaib bukan lagi sekedar bisa dijabarkan melalui pendekatan idealisme-rasionalisme, namun juga dengan mudah dapat diketahui dan dalami secara emphirisisme. Semua tergantung pribadi masing-masing apakah ada kemauan atau tidak. Dengan metode itulah Ngelmu sastra Jendra lahir dari orang-orang waskita di zaman dahulu. Ngelmu Sastra Jendra tak ubahnya “pisau analisa” yang mampu mengupas rahasia di dalam NOUMENA atau gejala-gejala yang ada di dimensi gaib, apalagi hakekat dan rahasia di balik FENOMENA atau gejala-gejala yang ada di dimensi wadag’
  • Sang Iblis Iya Kang Dullah… Harus sudah matang dalam kesadarannya. Hal ini dimaksudkan agar tidak disalahgunakan, atau disalahartikan. Karena banyak hal_hal yg sifatnya tersembunyi. Wilayah misteri. Begitu ea Kang Dullah… Salam Hormatku.
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ NOUMENA dan FENOMENA saling bergandeng dalam keselarasan kehendak dari pengetahuan yg mempengaruhi dirinya yg sadar,,,
  • Bunda Lia Antara Keyakinanisme dengan Spiritualisme….Lantas di mana posisi keyakinan dalam hal ini ? Tentu saja keyakinan tidak memiliki metode ilmiah sebagaimana Ngelmu Sastra Jendra. Keyakinan melimputi dua kutub yakni; yakin untuk meyakini adanya sesuatu atau pun yakin untuk meyakini tiadanya sesuatu. Kedua kutub keyakinan tersebut sama-sama hanya butuh pengakuan subyektif saja untuk sekedar meyakini saja! Asas utama kedua kutub keyakinan itu adalah sikap percaya tanpa perlu membuktikan melalui pengalaman batiniah, emphiris dan rasional. Nah, ngelmu sastra jendra bisa digunakan untuk membuktikan sekaligus menguatkan dua macam kutub keyakinan dengan cara membuktikan apakah sesuatu yang diyakini atau tidak diyakininya benar adanya. Dengan cara berusaha untuk mengalami dan menyaksikan paling tidak merasakannya, sehingga tidak hanya sekedar yakin, tetapi menjadi hak atau kesadarannya akan adanya kebenaran sejati. Meskipun demikian kedua kutub keyakinan mempunyai kekuatan yang dahsyat untuk menopang mental seseorang. Sebaliknya, kelemahan dari kedua kutub keyakinan tersebut masing-masing dapat terpatri secara kuat dalam benak, menyingkirkan kemampuan nalar dan batin untuk memahaminya secara rasional dan secara esensial (hakekat). Bahkan dua kutub keyakinan dapat menjadi lebih kuat daripada pengalaman emphiris dan pengetahuan rasionalitas. Karena kedua keyakinan (sengaja) bertumpu pada sesuatu yang teramat jauh dari jangkauan rasionalisme dan emphrisisme itu sendiri. Jika kita mau jujur, pada saat keyakinan adanya sesuatu atau keyakinan akan tiadanya sesuatu kita serap dengan nalar dengan tanpa disertai olah batin untuk sekedar merasakan bahkan melihat atau mengalami sendiri, nyaris tak ada bedanya pada saat nalar kita menikmati sebuah imajinasi, mitologi, legenda dan dongeng. Dan masing-masing pemegang sikap keyakinan untuk yakin adanya sesuatu dan keyakinan untuk menolak adanya sesuatu, keduanya memiliki kecenderungan yang sama yakni, menganggap bahwa keyakinan dirinyalah yang paling benar sementara ia sulit membuktikannya sendiri.
  • Triasih Prasetianingtyas Malam mas Dullah …salam sejahtera ..aku tetap hadir koq mas ..
  • Bunda Lia Sementara itu kesadaran spiritual (ketuhanan) lebih cenderung memahami kehidupan ini secara bijak dan arif. Ia sadar bahwa jalan menggapai spiritualitas adalah beribu bahkan bermilyar cara yang tiada batasan jumlahnya. Ibarat bilangan berapapun jika dibagi nol (0) ketemunya adalah bilangan tak terbatas. Atau sejatine ora ono opo-opo, sing ono kuwi dudu. Manusia bisa manembah kepada Gusti Yang Maha Tunggal (suatu episentrum dari segala episentrum zat energi yang maha dahsyat atau energi hidup yang menghidupkan) dengan sebanyak nafasnya. Bagaikan aktifitas menghirup udara bisa kita hitung, berapa kali dalam sehari, dan dilakukan oleh berapa banyak orang. Tetapi udara itu sendiri merupakan suatu zat yang tak bisa dihitung. Sikap manembah berarti menselaraskan zat yang ada dalam diri kita dengan zat maha dahsyat tersebut. Lebih lanjut soal spiritualisme, bahwa nilai-nilai spiritual akan tumbuh dengan sendirinya seiring-sejalan dengan makin banyaknya pengalaman demi pengalaman batin dan lahir yang individu alami sendiri. Maka spiritualisme berakar pada suatu pengalaman batin, dan tak dapat disangkal dan ditolak bahwa kecenderungan setiap individu adalah bersentuhan dengan suatu pengalaman batin. Bagi yang mau mencermatinya, tentu akan mendapatkan pengetahuan spiritual, sebaliknya akan mengabaikan pengalaman batin tersebut bagai angin berlalu begitu saja tanpa bekas.
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ suatu garis keselarasan yg tak terjamah oleh sembarang jawaban,,,
  • Sang Iblis Hidup di dunia ini sebenarnya dalam belenggu kepura_puraan. Hal ini disebabkan manusia itu tidak tahu mau ke mana dalam hidup ini. Lalu, manusia mencari pegangan. Dan yg dipakai pegangan umumnya adalah agama atau kepercayaan. Agama mengandung unsur kepercayaan, tetapi kepercayaan belum tentu dalam bingkai agama… Salam Kasih.
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ betapapun buruk atau baik nilai keseluruhan diri seseorang, semua tetap di dorong oleh pengetahuan yg melingkupinya,,,
  • Bunda Lia Kebimbangan ; Pertarungan Nurani dengan Nalar
    Terkadang nurani merasakan adanya kejanggalan atas sesuatu yang kita yakini atau pun yang tidak kita yakini selama ini. Hingga timbul keraguan yang sangat bergolak di dalam sanubari. Hal itu wajar karena apa yang diyakini atau tidak diyakini merupakan sesuatu yang belum pernah dilihat dan dialami sendiri, sehingga “keimanan” sangat rentan bergoyah. Kebimbangan demi kebimbangan muncul saat terjadi pemberontakan nurani terhadap pola pikir yang selama ini hanya menyerap ilmu melalui doktrin semata. Termasuk di dalamnya manakala anda akan melakukan sesuatu keputusan yang membuat bimbang. Hal ini menunjukkan adanya daya tarik menarik antara getaran nurani dengan pertimbangan nalar anda sendiri. Bila kekuatan keduanya berimbang akibatnya kebimbangan itu muncul, yang disertai keraguan, dan ketidakpuasan terhadap apa yang anda yakini ataupun yang tidak anda yakini selama ini.
    Nalar kita yang sudah terpola (mind-setting) oleh doktrin keyakinan sejak kanak-kanak, biasanya nalar tersebut dengan sekuat tenaga akan segera mencegah kesadaran nurani yang sedang menggeliat, dengan buru-buru mendefinisikan geliat nurani itu sebagai bentuk gangguan mahluk halus. Kesadaran indoktrinasi bagaikan “lingkaran setan”. Kesadaran indoktrinasi meretas nilai-nilai doktrin yang baru. Nalar yang sudah terdoktrin cenderung mendoktrin kesadaran kita, dengan cara meyakin-yakinkan diri kita atas suatu dalih bahwa keyakinan merupakan wilayah yang tabu untuk disentuh dan dijabarkan di depan publik. Atau ditekankan suatu konsep bahwa “hanya tuhan saja yang paling berhak mengetahui segala sesuatu yang gaib”. Walau kenyataannya banyak sekali manusia yang berkesempatan merasakan, mengalami dan menyaksikan suatu noumena di alam kegaiban. Dalam titik kulminasi terjadi extreme ignorance, atau kesalahan yang fatal, di mana nalar yang terindoktrinasi berusaha membunuh setiap getaran nurani. Nalar dengan serta-merta menjatuhkan vonis bahwa kebimbangan dan keraguan terhadap suatu keyakinan bukan datang dari nurani, melainkan wujud nyata “bisikan setan” yang bertujuan menggoyahkan keimanan seseorang. Nalar kita mampu bekerja secara otoriter, artinya tidak berperan secara dinamis melalui prinsip dialektika, dialog imbal balik, atau kontemplasi mendalam dalam memahami kehidupan ini. Tabiat nalar yang otoriter justru melahirkan dehumanisme, mencetak karakter pribadi yang tumpul mata batinnya. Alam bawah sadar yang merangkum nilai doktrinasi sejak kecil menciptakan akal fikiran yang sangat terpola dan menjadi kaku, tertutup, serta anti toleran (sikap fanatisme).

    JEJERE MANUNGSO KENO DI ARANI (SASTRO JENDRO YUNINGRAT) .
    (SASTRO JENDRO YUNINGRAT)
    tegese TULISING GUSTI KANG CETHO DUMUNUNG ONO WUJUD ING MANUNGSO LANANG LAN WADON.MULO MANUNGSO BISANE NGGAYUH BUDI LUHUR/RAHAYUNING WIWITAN LAN PUNGKASAN,SENAJAN MANUNGSO IKU DIWENANG AKE DUWE KAREP NGGAYUH DONYO BRONO KUDU MANUT MARANG KRENTEG KE ATI KANG RESIK ,BISO O NGEMONG URIP KANG SUCI, NULI BISO SAMPURNO LAIR LAN BATHINE.

  • Sang Iblis Kita harus bisa memahami perjalanan hidup dan posisi kita dalam hidup ini. Agar kita bisa menerima tugas atau kodrat hidup yg telah yg telah kita setujui dengan suka rela. Mengemban tugas dengan legawa, hati yg lapang!
    Ada itu suatu derita dan derita itu disebabkan oleh hasrat…. Salam Kasih.
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ imani takdir baik atau buruk dan serahkan padaNYA, dan perbaiki yg buruk sebagai amanah yg di bebankan pada akal,,,
  • Sang Iblis Di dunia itu jangan cuma melafalkan sesuatu. Menyembah. Komat_kamit berdoa. Menghafalkan huruf alif lam. Semua itu hanya lafal. Di dunia kita harus mengetahui asal kita, hidup sampai mati… Salam Kasih.
  • Bunda Lia Sudah menjadi hukum alam semesta bahwa kehidupan ini bersifat dinamis, walau seringkali memakan waktu teramat panjang dan terlambat. Bisa jadi lambat laun kekuatan nurani memenangkan pertarungannya dengan kekuatan nalar yang terindoktrinasi. Dalam falsafah Jawa dikenal rumus-rumusnya misalnya becik ketitik, ala ketara. Sepadan dengan peribahasa berikut; serapat-rapatnya menyimpan bangkai, toh akhirnya tercium baunya juga. Barangkali tahun 2012 di mana daya magnetik galaktika melemah, gravitasi bumi kendur, menyebabkan banyak orang mengalami penurunan gelombang otak, ibarat melakukan meditasi secara massal. Lereming pancadriya, tinarbuka ing waksita. Bisa jadi saat itu kelak menjadi momentum terbukanya kesadaran nurani yang lebih dalam lagi bagi banyak orang. Bila tahun 2012 dianggap sebagai saat kiamat tiba, saya memahaminya sebagai kiamatnya kesadaran semu yang melekat dalam nilai-nilai doktrin, sekaligus merupakan awal lahirnya suatu kesadaran baru, yakni kesadaran sejati berada di relung sanubari kita. Sementara yang gagal lolos seleksi alam, berarti pula pertarungan dimenangkan oleh kekuatan doktrin yang cenderung kontraversi dengan dinamika alam semesta. Kegagalan itu beresiko melahirkan kepribadian mudah stress, gampang bingung, sikap fatalis, hingga gangguan kejiwaan. Ujung-ujungnya adalah sikap ekstrim sebagaimana sikap-sikap radikal.
  • Prima Selindo hm tinarbuka..
  • Prima Selindo ada dech….ehheehe.
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ titik-titik maklumatjati mengantarkan pada kesadaran yg absolut dan berakhir di entah,,,
  • Bunda Lia Sampai kapan nalar kita mampu mencegah pemberontakan kekuatan nurani? Sejak zaman dulu manusia terjebak oleh pola pikir yang menyangka bahwa kedua macam kutub keyakinan tersebut selalu dikaitkan dengan kekuatan yang transenden (berada di luar diri manusia), yang memiliki hukum sebab akibat fantastis. Kebaikan menghasilkan surga, keburukan menyebabkan neraka. Surga neraka pun terjadinya kelak pada waktu yang tak seorangpun tahu kapan akan terjadi sehingga banyak orang cenderung bersantai-santai. Saya kira “surga-neraka” sudah ada sejak saat kita hidup di bumi ini yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Hari pembalasan/hukum karma pun tak perlu dinanti kelak, karena telah terjadi pembalasan tiap hari, yang terangkum dalam mekanisme hukum sebab akibat. Hari ini adalah buah dari apa yang kita lakukan di waktu yang telah berlalu.Fanatisme vs Spiritualitas Sejati…..Nilai-nilai keyakinan diikat dan dipertahankan melalui doktrin-doktrin atau proses hegemoni kesadaran agar seseorang mempercayainya. Sementara itu nilai-nilai spiritual diikat dan dipertahankan oleh diri pribadi karena pengalaman emphiris dan pengalaman batiniah yang sekaligus bisa diterima secara rasional. Spiritualisme adalah pemahaman akan hakekat yang memuat nilai-nilai universal. Tak heran jika seorang spiritualis sejati memiliki sikap toleransi tinggi terhadap keyakinan yang berbeda. Karena spiritualisme berlandaskan pada kesadaran holistic spirituality. Inilah bedanya, fanatisme sejati, dengan spiritualis sejati. Fanatisme bertumpu pada keyakinan saja. Sementara itu spiritualitas sejati bertumpu pada perjalanan batin yang penuh dengan pengalaman emphiris, maupun pengalaman batin yang bisa dipahami dan dijangkau oleh rasio.

    Lereming pancadriya, tinarbuka ing waskita. sangat menarik..berkaitan dengan guru sejati..
    Keberhasilan mengolah Guru Sejati, tatarannya akan dapat dicapai apabila kita sudah benar-benar ‘lepas’ dari basyor atau raga/tubuh. Yakni jiwa yang telah merdeka dari penjajahan jasad. Bukan berarti kita harus meninggalkan segala kegiatan dan aktivitas kehidupan duniawi, itu salah besar !! Sebaliknya, kehidupan duniawi menjadi modal atau bekal utama meraih kemuliaan baik di dunia maupun kelak setelah ajal tiba.. 
    Guru Sejati yakni rahsa sejati; meretas ke dalam sukma sejati, atau sukma suci, kira-kira sepadan dengan makna roh kudus (ruhul kudus/ruh al quds). Kita mendaya gunakan Guru Sejati kita dengan cara mengarahkan kekuatan metafisik sedulur papat (dalam lingkup mikrokosmos) untuk selalu waspada dan jangan sampai tunduk oleh hawa nafsu. Bersamaan menyatukan kekuatan mikrokosmos dengan kekuatan makrokosmos yakni papat keblat alam semesta yang berupa energi alam dari empat arah mata angin, lantas melebur ke dalam kekuatan pancer yang bersifat transenden (Tuhan Yang Mahakuasa). Setiap orang bisa bertemu Guru Sejatinya, dengan syarat kita dapat menguasai hawa nafsu negatif; nafsu lauwamah (nafsu serakah; makan, minum, kebutuhan ragawi), amarah (nafsu angkara murka), supiyah (mengejar kenikmatan duniawi) dan mengapai nafsu positif dalam sukma sejati (al mutmainah). Sehingga jasad dan nafs/hawa nafsu lah yang harus mengikuti kehendak sukma sejati untuk menyamakan frekuensinya dengan gelombang Yang Maha Suci. Sukma menjadi suci tatkala sukma kita sesuai dengan karakter dan sifat hakekat gelombang Dzat Yang Maha Suci, yang telah meretas ke dalam sifat hakekat Guru Sejati. Yakni sifat-sifat Sang Khaliq yang (minimal) meliputi 20 sifat. Peleburan ini dalam terminologi Jawa disebut manunggaling kawula-Gusti..

  • Bunda Lia Seorang fanatis menjelaskan tuhan secara etnosentris, rasis, primordialis dan dogmatis, yang memaksa orang lain agar sependapat dengan dirinya. Fanatis juga memvonis siapapun yang berusaha menjelaskan tuhan secara rasional sebagai kafir (menutup diri dari kebenaran) dan sesat (salah jalan). Hal itu justru mengesankan seolah-olah kebenaran sejati ditandai bilamana “kebenaran” tersebut tidak bisa dicerna secara rasional. Jikalaupun ada orang yang mampu mengalami persentuhan dengan gaib, baik secara batin maupun emphiris, disebutlah ia sebagai pembohong besar dan telah disesatkan oleh si “setan kober”. Sementara itu spiritualis sejati menjelaskan konsep ketuhanan dengan sifat-sifatnya secara esoteris, demokratis dan universal. Maka seorang spiritualis sejati, ia akan menganalogikan tuhan sebagai wujud sifat dan karakter yang lebih enak dan nyaman dirasakan. Misalnya Mahakasih, Tuhan Yang Tidak Pilih kasih, Yang Tidak Kejam, Yang Maha Welas Asih. Sikap sebaliknya, meyakini tuhan dengan karakter seperti layaknya sifat-sifat nafsu manusia yang menakutkan, misalnya ; kejam, murka, bahkan disangka tuhan pencemburu. Faktanya, konsep tersebut sangat mempengaruhi pola pikir masing-masing orang’

    Tradisi Jawa mengajarkan tata cara membangun sukma sejati dengan cara ‘manunggaling kawula Gusti’ atau penyatuan/penyamaan sifat hakikat makhluk dengan Sang Pencipta (wahdatul wujud). Sebagaimana makna warangka manjing curiga; manusia masuk kedalam diri “Tuhan”, ibarat Arya Sena masuk kedalam tubuh Dewaruci. Atau sebaliknya, Tuhan menitis ke dalam diri manusia; curigo manjing warongko, laksana Dewa Wishnu menitis ke dalam diri Prabu Kreshna.
    Sebagai upaya manunggaling kawula gusti, segenap upaya awal dapat dilakukan seperti melalui ritual mesu budi, maladi-hening, tarak brata, tapa brata, puja brata, bangun di dalam tidur, sembahyang di dalam bekerja. Tujuannya agar supaya mencapai tataran hakekat yakni dengan meninggalkan nafsul lauwamah, amarah, supiyah, dan menggapai nafsul mutmainah. Kejawen mengajarkan bahwa sepanjang hidup manusia hendaknya laksana berada dalam “bulan suci Ramadhan”. Artinya, semangat dan kegigihan melakukan kebaikan, membelenggu setan (hawa nafsu) hendaknya dilakukan sepanjang hidupnya, jangan hanya sebulan dalam setahun. Selesai puasa lantas lepas kendali lagi. Pencapaian hidup manusia pada tataran tarekat dan hakikat secara intensif akan mendapat hadiah berupa kesucian ilmu makrifat. Suatu saat nanti, jika Tuhan telah menetapkan kehendakNya, manusia dapat ‘menyelam’ ke dalam tataran tertinggi yakni makna kodratullah. Yakni substansi dari manunggaling kawula gusti sebagai ajaran paling mendasar dalam ilmu Kejawen khususnya dalam anasir ajaran Syeh Siti Jenar. Manunggling Kawula Gusti = bersatunya Dzat Pencipta ke dalam diri mahluk. Pancaran Dzat telah bersemayan menerangi ke dalam Guru Sejati, sukma sejati…

  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ hmmm mengapa mencampur adukan dua disiplin yg berbeda (Sufisme+Theologhie) yg tak akan bisa berdamai sejak awalnya?
  • Bunda Lia Orang yang mengkonsep tuhan maha kejam, ia akan menjadi pribadi yang tega-an. Yang mengkonsep tuhan maha murka, ia akan menjadi pribadi yang gampang marah, bahkan menyangka kemurkaannya adalah absah karena telah mewakili kemurkaan tuhan. Darimana ia tahu tuhan telah murka ? Jika kita mau cermati adalah suatu fakta di lingkungan kita, bahwa landasan spiritual –yang berlandaskan pada holistic spirituality– cenderung memiliki sifat toleran, sebaliknya fanatisme yang tumbuh dari doktrinasi cenderung bersifat anti-toleran.
    Saya pribadi memahami bahwa agama bukanlah tujuan melainkan jalan untuk mencapai kesadaran spiritual itu sendiri. Lebih dari itu, agama bukan alat untuk meraih kekuasaan (politisasi agama) apalagi untuk mendirikan suatu kekalifahan seperti zaman dulu di Timteng dan sekitarnya. Memahami agama sebagai tujuan, lagi-lagi akan terjebak pada sikap fanatisme. Selebihnya, menjadikan agama sebagai alat untuk menciptakan dan meraih kekuasaan (kalifah/theokrasi) akan rentan terjadi instabilitas nasional. Itulah salah satu sebab di manapun saja, negara theokrasi –yang berasaskan agama– sangat rawan terjadi perpecahan dan pergolakan. Hal itu dipicu oleh sebab kebebasan beragama yang bersumber pada kesadaran holistic spirituality hilang bilamana prinsip negara nasional digantikan dengan prinsip “negara agama” (theokrasi). Theokrasi sangat memerlukan tali pengikat keutuhan politik. Biasanya theokrasi lantas terjebak menerapkan sistem otoriiterisme, tirani, ataupun fasisme. Nah, apakah konsep ketuhanan dipahami bersifat tiran, fasis, otoriter ? Ataukah tuhan bersifat demokratis ? Jawabannya bukan pada tuhan, tetapi pada pola pikir masing-masing individu’

    JIKA kita mendalami KETUHANAN dengan suatu cara memakai GURU dan BUKU,maka cara yang demikian itu dinamakan ILMU PENGETAHUAN,WETENSCHAP,SCIENCE,ATAU KAWERUH.
    yang dimaksud dengan dengan guru ialah manusia yang langsung atau tidak memberikan pelajaran,dan dengan buku dimaksudkan semua KITAB yang langsung maupun tidak di buat oleh orang.
    dengan cara mendalami ketuhanan yang demikian itu maka pengertian tentang KETUHAHANAN yang kita dapat ialah merupakan hasil pemikiran,karena itu dinamakan KAWERUH…
    Pengertian itu kita dapat dari pengetrapan indera,atau tumanduk ing weruh,jadi kaweruh atau ilmu pengetahuan itu hanya merupakan suatu cara untuk mendalamai ketuhanan.
    jika kita mendalamai ketuhanan dengan suatu cara yang lain,yaitu dengan suatu cara yang tanpa guru dan tanpa buku,tetapi dengan TUHAN yang dianggap hidup dan maha tahu itu dijadikan guru dan bukunya,maka cara ini bukan lagi dinamakan ilmu pengetahuan atau kaweruh.
    tidak ada lagi guru- orang dan kitab tulisan-orang yang dipakainnya.
    Cara mendalami ketuhanan tanpa guru dan tanpa buku yang demikian itu dinamakan NGELMU,——-NGELMU jadi juga hanya merupakan suatu cara untuk mendalami ..KETUHANAN…
    yang dimaksud dengan dengan guru ialah manusia yang langsung atau tidak memberikan pelajaran,dan dengan buku dimaksudkan semua KITAB yang langsung maupun tidak di buat oleh orang.
    dengan cara mendalami ketuhanan yang demikian itu maka pengertian tentang KETUHAHANAN yang kita dapat ialah merupakan hasil pemikiran,karena itu dinamakan KAWERUH…

  • Bunda Lia Apa yang akan terjadi jika nusantara ini berprinsip theokrasi, alias “negara agama”. Tentunya negara theokrasi akan memiliki kecenderungan anti-toleran dan rawan memecah belah kesatuan bangsa yg sangat heterogen ini. Tak pelak nusantara akan menjadi ladang pembantaian antara satu dengan lainnya (killing field). Sebab akan terjadi “pengadilan atas keyakinan yang berbeda” berdasarkan tafsir tunggal suatu (aliran) agama yang memiliki otoritas politik besar. Sekedar contoh, di zaman dulu banyak kasus-kasus hukuman mati atas perbedaan keyakinan, atau bentuk-bentuk kekerasan fisik dan mental, intimidasi, teror, serta anarkhisme seperti masih terjadi di zaman sekarang. Hal itu membuktikan suatu kebangkrutan sebuah ideologi agama bercorak “imperialisme doktriner” yang kurang memberi tempat pada keyakinan/iman yang berbeda-beda.
    Setiap orang pada mulanya berada dalam “goa” prasangkanya sendiri. Manakala menoleh di belakang, oh ternyata ada cahaya tampak terang, lalu melongok ke atas, barulah menyadari betapa selama ini berada di dalam goa yang gelap gulita. Banyak hal merupakan sangkaan pribadinya sendiri, tidak ada apa-apa kecuali yang berfatwa. Maka untuk mengurangi resiko destruktif, kita seyogyanya lebih berpositif thinking dan berhati-hati saat sedang berprasangka (buruk) kepada orang lain yang berbeda pandangan.

    Kembali pada pembahasan Guru Sejati. Melalui 3 langkahnya (Triwikrama) Dewa Wishnu (Yang Hidup), mengarungi empat macam zaman (kertayuga, tirtayuga, kaliyuga, dwaparayuga), lalu lahirlah manusia dengan konstruksi terdiri dari fisik dan metafisik di dunia (zaman mercapada). Fisik berupa jasad atau raga, sedangkan metafisiknya adalah roh beserta unsur-unsur yang lebih rumit lagi. Ilmu Jawa melihat bahwa roh manusia memiliki pamomong (pembimbing) yang disebut pancer atau guru sejati. Pamomong atau Guru Sejati berdiri sendiri menjadi pendamping dan pembimbing roh atau sukma. Roh atau sukma di siram “air suci” oleh guru sejati, sehingga sukma menjadi sukma sejati. Di sini tampak Guru sejati memiliki fungsi sebagai resources atau sumber “pelita” kehidupan. Guru Sejati layak dipercaya sebagai “guru” karena ia bersifat teguh dan memiliki hakekat “sifat-sifat” Tuhan (frekuensi kebaikan) yang abadi konsisten tidak berubah-ubah (kang langgeng tan owah gingsir). Guru Sejati adalah proyeksi dari rahsa/rasa/sirr yang merupakan rahsa/sirr yang sumbernya adalah kehendak Tuhan; terminologi Jawa menyebutnya sebagai Rasa Sejati. Dengan kata lain rasa sejati sebagai proyeksi atas “rahsaning” Tuhan (sirrullah). Sehingga tak diragukan lagi bila peranan Guru Sejati akan “mewarnai” energi hidup atau roh menjadi energi suci (roh suci/ruhul kuddus). Roh kudus/roh al quds/sukma sejati, telah mendapat “petunjuk” Tuhan –dalam konteks ini hakikat rasa sejati– maka peranan roh tersebut tidak lain sebagai “utusan Tuhan”. Jiwa, hawa atau nafs yang telah diperkuat dengan sukma sejati atau dalam terminologi Arab disebut ruh al quds. Disebut juga sebagai an-nafs an-natiqah, dalam terminologi Arab juga disebut sebagai an-nafs al-muthmainah, adalah sebagai “penasihat spiritual” bagi jiwa/nafs/hawa. Jiwa perlu di dampingi oleh Guru Sejati karena ia dapat dikalahkan oleh nafsu yang berasal dari jasad/raga/organ tubuh manusia. Jiwa yang ditundukkan oleh nafsu hanya akan merubah karakternya menjadi jahat.
    Menurut ngelmu Kejawen, ilmu seseorang dikatakan sudah mencapai puncaknya apabila sudah bisa menemui wujud Guru Sejati. Guru Sejati benar-benar bisa mewujud dalam bentuk “halus”, wujudnya mirip dengan diri kita sendiri. Mungkin sebagian pembaca yang budiman ada yang secara sengaja atau tidak pernah menyaksikan, berdialog, atau sekedar melihat diri sendiri tampak menjelma menjadi dua, seperti melihat cermin. Itulah Guru Sejati anda. Atau bagi yang dapat meraga sukma, maka akan melihat kembarannya yang mirip sukma atau badan halusnya sendiri. Wujud kembaran (berbeda dengan konsep sedulur kembar) itu lah entitas Guru Sejati. Karena Guru Sejati memiliki sifat hakekat Tuhan, maka segala nasehatnya akan tepat dan benar adanya. Tidak akan menyesatkan. Oleh sebab itu bagi yang dapat bertemu Guru Sejati, saran dan nasehatnya layak diikuti. Bagi yang belum bisa bertemu Guru Sejati, anda jangan pesimis, sebab Guru Sejati akan selalu mengirim pesan-pesan berupa sinyal dan getaran melalui Hati Nurani anda. Maka anda dapat mencermati suara hati nurani anda sendiri untuk memperoleh petunjuk penting bagi permasalahan yang anda hadapi.
    Namun permasalahannya, jika kita kurang mengasah ketajaman batin, sulit untuk membedakan apakah yang kita rasakan merupakan kehendak hati nurani (kareping rahsa) ataukah kemauan hati atau hawa nafsu (rahsaning karep). Artinya, Guru Sejati menggerakkan suara hati nurani yang diidentifikasi pula sebagai kareping rahsa atau kehendak rasa (petunjuk Tuhan) sedangkan hawa nafsu tidak lain merupakan rahsaning karep atau rasanya keinginan.
    Sarat utama kita bertemu dengan Guru Sejati kita adalah dengan laku prihatin; yakni selalu mengolah rahsa, mesu budi, maladihening, mengolah batin dengan cara membersihkan hati dari hawa nafsu, dan menjaga kesucian jiwa dan raga. Sebab orang yang dapat bertemu langsung dengan Guru Sejati nya sendiri, hanyalah orang-orang yang terpilih dan pinilih.

  • Bunda Lia Ngelmu dan Kawruh…..Ngelmu atau angel anggone ketemu (sukar diraih) disebut pula ilmu spiritual, yakni ilmu tentang kebatinan dan ketuhanan. Ngelmu banyak diserap oleh indera batin sebagai pengetahuan batin. Sementara itu kawruh adalah ilmu diserap oleh indera fisik, sebagai pengetahuan nalar. Sastra Jendra termasuk kategori ngelmu. Ngelmu Sastra Jendra disebut pula Sastra Ceta. Suatu ilmu spiritual yang mengandung kebenaran faktual (noumena), nilai-nilai luhur, dan keagungan akan kesempurnaan penilaian terhadap hal-hal yang belum nyata bagi manusia pada umumnya. Karena itu Ngelmu Sastra Jendra disebut pula sebagai ilmu sejati atau pengetahuan tentang rahasia seluruh semesta alam (fisik dan metafisik) beserta dinamikanya. Ngelmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu adalah ilmu pengetahuan batin sebagai jalan untuk mencapai kesempurnaan hidup.
    Ngelmu Sastra Jendra berasal dari kaum ningrat di dalam kraton, jika dijabarkan teramat luas cakupannya. Dulunya dipelajari oleh para raja, orang-orang linuwih, empu, resi, kihai dan para pandita. Itulah orang-orang yang dimaksud golongan NINGRAT, bukan berarti setiap orang yang “berdarah biru”, tetapi orang yang selalu hening ing rat. Orang yang selalu mengheningkan cipta dan batin untuk menggapai kesadaran kosmos. Seseorang sebelum menyerap ngelmu sastra jendra terlebih dulu harus memahami jagad alit dan jagad ageng, mikrokosmos dan makrokosmos. Mengenali hakekat diri sejati dan hakekat alam semesta. Sesudah itu barulah secara bertahap dapat memahami, menghayati dan mengamalkannya. Bagaimana mungkin seseorang berhasil sukses dalam peng-hayat-an dan peng-amal-an (implementasi) jika belum sungguh-sungguh memahami secara benar tentang diri sejati dan alam semesta ini.
  • Prima Selindo hening ing rat. Orang yang selalu mengheningkan cipta dan batin untuk menggapai kesadaran kosmos. ..hm..sungguh indah….
  • Sang Iblis Hahahaha butul itu Kang Dullah kita sama_sama uler ea…. Hiahahahahaha….
  • Sang Iblis Mas Agung sama dunk… Malah rokokku udah hampir habis ne… Hehehehe….
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ BundaLia+Kangdullah, trimakasih atas kunjungannya,,, salam kasih.
  • Sang Iblis Sukma Jati, atau Diri Sejati, berasal dari Cahaya yang terpuji. Ya, dari Nur Muhammad. Nur Muhammad hanya ada satu! Dan, Nur Muhammad inilah yg selalu mendapatkan pancaran Cahaya Ilahh. Seluruh manusia itu pada mulanya satu. Cahaya asal itu satu. Nah, pancarannya ke segenap arah inilah yg menyebabkan terjadinya aku yg tak terbilang. Meski manusia terus_menerus bertambah, tetapi itu perwujudan dari satu cahaya. Karena itu, manusia harus bisa hidup bersatu! Salam Kasih.
  • Prima Selindo hm ya mas arie……bersatu..hm heehhee..
  • Bunda Lia Walah dah kelar ya…
  • Prima Selindo diajeng……kata mas arie….BERSATU..ehheehehee..uhuk uhuk..batuk .com…
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ bagamana Nur Muhammad itu tercipta dan terbentuk Gusarie?
  • Bunda Lia Ilmu “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah puncak Ilmu Kejawen. “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” artinya; wejangan berupa mantra sakti untuk keselamatan dari unsur-unsur kejahatan di dunia. Wejangan atau mantra tersebut dapat digunakan untuk membangkitkan gaib “Sedulur Papat” yang kemudian diikuti bangkitnya saudara “Pancer” atau sukma sejati, sehingga orang yang mendapat wejangan itu akan mendapat kesempurnaan. Secara harfiah arti dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah sebagai berikut; Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau lambang keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan.Pengertiannya; bahwa Serat Sastrajendra Hayuningrat adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.
  • Sang Iblis Kang Dullah mata itu juga tempatnya malu loh…. Hehehehe….
  • Bunda Lia Ilmu “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah puncak Ilmu Kejawen. “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” artinya; wejangan berupa mantra sakti untuk keselamatan dari unsur-unsur kejahatan di dunia. Wejangan atau mantra tersebut dapat digunakan untuk membangkitkan gaib “Sedulur Papat” yang kemudian diikuti bangkitnya saudara “Pancer” atau sukma sejati, sehingga orang yang mendapat wejangan itu akan mendapat kesempurnaan. Secara harfiah arti dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah sebagai berikut; Serat = ajaran, Sastrajendra = Ilmu mengenai raja. Hayuningrat = Kedamaian. Pangruwating = Memuliakan atau merubah menjadi baik. Diyu = raksasa atau lambang keburukan. Raja disini bukan harfiah raja melainkan sifat yang harus dimiliki seorang manusia mampu menguasai hawa nafsu dan pancainderanya dari kejahatan. Seorang raja harus mampu menolak atau merubah keburukan menjadi kebaikan.Pengertiannya; bahwa Serat Sastrajendra Hayuningrat adalah ajaran kebijaksanaan dan kebajikan yang harus dimiliki manusia untuk merubah keburukan mencapai kemuliaan dunia akhirat. Ilmu Sastrajendra adalah ilmu makrifat yang menekankan sifat amar ma’ruf nahi munkar, sifat memimpin dengan amanah dan mau berkorban demi kepentingan rakyat.

    Wah kembali ke keblat papat..lagi…
    Konsep tentang guru sejati sebagaimana ajaran Jawa, dapat ditelusuri melalui konsep sedulur papat lima pancer, dalam konsep pewayangan yang makna dan hakikatnya dapat dipelajari sebagaimana tokoh dalam Pendawa Lima (lihat dalam tulisan Pusaka Kalimasadha). Namun demikian, dalam perjalanannya mengalami pasang surut dan proses dialektika dengan anasir asing yakni; Hindu, Budha, Arab. Leluhur bangsa kita memiliki karakter selalu positif thinking, toleransi tinggi, andap asor. Sehingga nenek moyang kita, para leluhur yang masih peduli dengan kearifan lokal, secara arif dan bijaksana mereka tampil sebagai penyelaras sekaligus cagar kebudayaan Jawa. Setelah Islam masuk ke Nusantara, ajaran Kejawen mendapat anasir Arab dan terjadi sinkretisme, sedulur papat keblat kemudian diartikan pula sebagai empat macam nafsu manusia yakni nafsu lauwamah (biologis), amarah (angkara murka), supiyah (kenikmatan/birahi/psikologis), dan mutmainah (kemurnian dan kejujuran). Sedangkan ke lima yakni pancer diwujudkan dalam dimensi nafsu mulhimah (sebagai pengendali utama atau tali suh atas keempat nafsu sebelumnya. Konvergensi antara Kejawen dengan tradisi Arab disusunlah klasifikasi sifat-sifat nafsu jasadiah di atas dengan diaplikasikan ke dalam lambang aslinya yakni tokoh wayang; 1. Lauwamah = Dosomuko, 2. Amarah = Kumbokarno, 3. Supiyah = Sarpo Kenoko, 4. Mutma’inah = Gunawan Wibisono.

  • Bunda Lia Menurut para ahli sejarah, kalimat “Sastra Jendra” tidak pernah terdapat dalam kepustakaan Jawa Kuno. Tetapi baru terdapat pada abad ke 19 atau tepatnya 1820. Naskah dapat ditemukan dalam tulisan karya Kyai Yasadipura dan Kyai Sindusastra dalam lakon Arjuno Sastra atau Lokapala. Kutipan diambil dari kitab Arjuna Wijaya pupuh Sinom pada halaman 26.



    Selain daripada itu, sungguh heran bahwa tidak seperti permintaan anak saya wanita ini, yakni barang siapa dapat memenuhi permintaan menjabarkan “Sastra Jendra hayuningrat” sebagai ilmu rahasia dunia (esoterism) yang dirahasiakan oleh Sang Hyang Jagad Pratingkah. Dimana tidak boleh seorangpun mengucapkannya karena mendapat laknat dari Dewa Agung walaupun para pandita yang sudah bertapa dan menyepi di gunung sekalipun, kecuali kalau pandita mumpuni. Saya akan berterus terang kepada dinda Prabu, apa yang menjadi permintaan putri paduka. Adapun yang disebut Sastra Jendra Yu Ningrat adalah pangruwat segala segala sesuatu, yang dahulu kala disebut sebagai ilmu pengetahuan yang tiada duanya, sudah tercakup ke dalam kitab suci (ilmu luhung = Sastra). Sastra Jendra itu juga sebagai muara atau akhir dari segala pengetahuan. Raksasa dan Diyu, bahkan juga binatang yang berada dihutan belantara sekalipun kalau mengetahui arti Sastra Jendra akan diruwat oleh Batara, matinya nanti akan sempurna, nyawanya akan berkumpul kembali dengan manusia yang “linuwih” (mumpuni), sedang kalau manusia yang mengetahui arti dari Sastra Jendra nyawanya akan berkumpul dengan para Dewa yang mulia…
  • Bunda Lia Piye to kompiuterku kok doble…
  • Bunda Lia Bersatu ??? He he he ya Bersatu ya mas Arie… Ok mas Agung …
  • Bunda Lia La iyo kang Dullah aku mau dadak kok tegur mandek po piye…
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ Kangdullah melu karo aku ae to kang? wkwkwkwkwkkk
  • Bunda Lia Ajaran “Sastra Jendra hayuningrat Pangruwating Diyu” mengandung isi yang mistik, angker gaib, kalau salah menggunakan ajaran ini bisa mendapat malapetaka yang besar. Seperti pernah diungkap oleh Ki Dalang Narto Sabdo dalam lakon wayang Lahirnya Dasamuka. Kisah ceritanya sebagai berikut;
    Begawan Wisrawa mempunyai seorang anak bernama Prabu Donorejo, yang ingin mengawini seorang istri bernama Dewi Sukesi yang syaratnya sangat berat, yakni;
    1. Bisa mengalahkan paman Dewi Sukesi, yaitu Jambu Mangli, seorang raksasa yang sangat sakti.
    2. Bisa menjabarkan ilmu “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”
    Prabu Donorejo tidak dapat melaksanakan maka minta bantuan ayahandanya, Begawan Wisrawa yang ternyata dapat memenuhi dua syarat tersebut. Maka Dewi Sukesi dapat diboyong Begawan Wisrawa, untuk diserahkan kepada anaknya Prabu Donorejo.
    Selama perjalanan membawa pulang Dewi Sukesi, Begawan Wisrawa jatuh hati kepada Dewi Sukesi demikian juga Dewi Sukesi hatinya terpikat kepada Begawan Wisrawa.
  • Sang Iblis Itu pasti Bunda…. Hehehehe….
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ heheheheeee Kangdullah,,,
  • Bunda Lia “Jroning peteng kang ono mung lali, jroning lali gampang nindakake kridaning priyo wanito,” kisah Ki Dalang.
    Begawan Wisrawa telah melanggar ngelmu “Sastra Jendra”, beliau tidak kuat menahan nafsu seks dengan Dewi Sukesi. Akibat dari dosa-dosanya maka lahirlah anak yang bukan manusia tetapi berupa raksasa yang menakutkan, yakni;
    – Dosomuko
    – Kumbokarno
    – Sarpokenoko
    – Gunawan Wibisono
    Setelah anak pertama lahir, Begawan Wisrawa mengakui akan kesalahannya, sebagai penebus dosanya beliau bertapa atau tirakat tidak henti-hentinya siang malam. Berkat gentur tapanya, maka lahir anak kedua, ketiga dan keempat yang semakin sempurna.Laku Begawan Wisrawa yang banyak tirakat serta doa yang tiada hentinya, akhirnya Begawan Wisrawa punya anak-anak yang semakin sempurna ini menjadi simbol bahwa untuk mencapai Tuhan harus melalui empat tahapan yakni; Syariat, Tarikat, Hakekat, Makrifat.
    Lakon ini mengingatkan kita bahwa untuk mengenal diri pribadinya, manusia harus melalui tahap atau tataran-tataran yakni;
    – Syariat; dalam falsafah Jawa syariat memiliki makna sepadan dengan Sembah Rogo.
    – Tarikat; dalam falsafah Jawa maknanya adalah Sembah Kalbu.
    – Hakikat; dimaknai sebagai Sembah Jiwa atau ruh (ruhullah).
    – Makrifat; merupakan tataran tertinggi yakni Sembah Rasa atau sir (sirullah).
  • Sang Iblis Kang Dullah…. Hahahahaha….
  • Bunda Lia Kang Dullah sak iki sing lagi payu dirimu ha ha ha
  • Bunda Lia Pun diceritakan dalam kisah Dewa Ruci, di mana diceritakan perjalanan Bima (mahluk Tuhan) mencari “air kehidupan” yakni sejatinya hidup. Air kehidupan atau tirta maya, dalam bahasa Arab disebut sajaratul makrifat. Bima harus melalui berbagai rintangan baru kemudia bertemu dengan Dewa Ruci (Dzat Tuhan) untuk mendapatkan “ngelmu”. Bima yang tidak lain adalah Wrekudara/AryaBima, masuk tubuh Dewa Ruci menerima ajaran tentang Kenyataan “Segeralah kemari Wrekudara, masuklah ke dalam tubuhku”, kata Dewa Ruci. Sambil tertawa Bima bertanya :”Tuan ini bertubuh kecil, saya bertubuh besar, dari mana jalanku masuk, kelingking pun tidak mungkin masuk”. Dewa Ruci tersenyum dan berkata lirih:”besar mana dirimu dengan dunia ini, semua isi dunia, hutan dengan gunung, samudera dengan semua isinya, tak sarat masuk ke dalam tubuhku”.
  • Prima Selindo aku yo arep mlebu koyo bima sena..nanging ora lewat kono..lewat sing liyane wae,,,,wah…hehehe..
  • Bunda Lia Atas petunjuk Dewa Ruci, Bima masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri.
    Dan tampaklah laut luas tanpa tepi, langit luas, tak tahu mana utara dan selatan, tidak tahu timur dan barat, bawah dan atas, depan dan belakang. Kemudian, terang, tampaklah Dewa Ruci, memancarkan sinar, dan diketahui lah arah, lalu matahari, nyaman rasa hati.
    Ada empat macam benda yang tampak oleh Bima, yaitu hitam, merah kuning dan putih. Lalu berkatalah Dewa Ruci:”Yang pertama kau lihat cahaya, menyala tidak tahu namanya, Pancamaya itu, sesungguhnya ada di dalam hatimu, yang memimpin dirimu, maksudnya hati, disebut muka sifat, yang menuntun kepada sifat lebih, merupakan hakikat sifat itu sendiri. Lekas pulang jangan berjalan, selidikilah rupa itu jangan ragu, untuk hati tinggal, mata hati itulah, menandai pada hakikatmu, sedangkan yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih, itu adalah penghalang hati.
    Yang hitam kerjanya marah terhadap segala hal, murka, yang menghalangi dan menutupi tindakan yang baik. Yang merah menunjukkan nafsu yang baik, segala keinginan keluar dari situ, panas hati, menutupi hati yang sadar kepada kewaspadaan. Yang kuning hanya suka merusak. Sedangkan yang putih berarti nyata, hati yang tenang suci tanpa berpikiran ini dan itu, perwira dalam kedamaian. Sehingga hitam, merah dan kuning adalah penghalang pikiran dan kehendak yang abadi, persatuan Suksma Mulia.
  • Prima Selindo dewo ruci ruh kang suci….hm..
  • Bunda Lia Lalu Bima melihat, cahaya memancar berkilat, berpelangi melengkung, bentuk zat yang dicari, apakah gerangan itu ?! Menurut Dewa Ruci, itu bukan yang dicari (air suci), yang dilihat itu yang tampak berkilat cahayanya, memancar bernyala-nyala, yang menguasai segala hal, tanpa bentuk dan tanpa warna, tidak berwujud dan tidak tampak, tanpa tempat tinggal, hanya terdapat pada orang-orang yang awas, hanya berupa firasat di dunia ini, dipegang tidak dapat, adalah Pramana, yang menyatu dengan diri tetapi tidak ikut merasakan gembira dan prihatin, bertempat tinggal di tubuh, tidak ikut makan dan minum, tidak ikut merasakan sakit dan menderita, jika berpisah dari tempatnya, raga yang tinggal, badan tanpa daya. Itulah yang mampu merasakan penderitaannya, dihidupi oleh suksma, ialah yang berhak menikmati hidup, mengakui rahasia zat.Kehidupan Pramana dihidupi oleh suksma yang menguasai segalanya, Pramana bila mati ikut lesu, namun bila hilang, kehidupan suksma ada. Sirna itulah yang ditemui, kehidupan suksma yang sesungguhnya, Pramana Anresandani.Jika ingin mempelajari dan sudah didapatkan, jangan punya kegemaran, bersungguh-sungguh dan waspada dalam segala tingkah laku, jangan bicara gaduh, jangan bicarakan hal ini secara sembunyi-sembunyi, tapi lekaslah mengalah jika berselisih, jangan memanjakan diri, jangan lekat dengan nafsu kehidupan tapi kuasailah.
  • Sang Iblis Mas Mukhtar selamat ulang tahun ea… Semoga panjang umur, tambah sukses, dan sehat selalu.. Amin. Salam Hormatku.
  • Bunda Lia Tentang keinginan untuk mati agar tidak mengantuk dan tidak lapar, tidak mengalami hambatan dan kesulitan, tidak sakit, hanya enak dan bermanfaat, peganglah dalam pemusatan pikiran, disimpan dalam buana, keberadaannya melekat pada diri, menyatu padu dan sudah menjadi kawan akrab.Sedangkan Suksma Sejati, ada pada diri manusia, tak dapat dipisahkan, tak berbeda dengan kedatangannya waktu dahulu, menyatu dengan kesejahteraan dunia, mendapat anugerah yang benar, persatuan manusia/kawula dan pencipta/Gusti. Manusia bagaikan wayang, Dalang yang memainkan segala gerak gerik dan berkuasa antara perpaduan kehendak, dunia merupakan panggungnya, layar yang digunakan untuk memainkan panggungnya’
  • Prima Selindo sugeng ambal warso kang mas zaedin…kang kinasih..mugi tansah pinaringan rahayu sak laminyo..
  • Bunda Lia Mas Arie mas Mukhtar HUT po…??? ” Selamat Ulang Tahun ” Semoga panjang umur, sehat, murah rejeki dan tetap baik hati….
  • Prima Selindo wah pantesan wedaran malam ini sangat beragam dan beraneka warna…hm ada yg ultah….nggak tahunya..heehe ..
  • Bunda Lia Bila seseorang mempelajari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” berarti harus pula mengenal asal usul manusia dan dunia seisinya, dan haruslah dapat menguraikan tentang sejatining urip (hidup), sejatining Panembah (pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa), sampurnaning pati (kesempurnaan dalam kematian), yang secara gamblang disebut juga innalillahi wainna illaihi rojiuun, kembali ke sisi Tuhan YME dengan tata cara hidup layak untuk mencapai budi suci dan menguasai panca indera serta hawa nafsu untuk mendapatkan tuntunan Sang Guru Sejati.
    Uraian tersebut dapat menjelaskan bahwa sasaran utama mengetahui “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” adalah untuk mencapai Kasampurnaning Pati, dalam istilah RNg Ronggowarsito disebut Kasidaning Parasadya atau pati prasida, bukan sekedar pati patitis atau pati pitaka. “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” seolah menjadi jalan tol menuju pati prasida. Bagi mereka yang mengamalkan “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dapat memetik manfaatnya berupa Pralampita atau ilham atau wangsit (wahyu) atau berupa “senjata” yang berupa rapal. Dengan rapal atau mantra orang akan memahami isi Endra Loka, yakni pintu gerbang rasa sejati, yang nilainya sama dengan sejatinya Dzat YME dan bersifat gaib. Manusia mempunyai tugas berat dalam mencari Tuhannya kemudian menyatukan diri ke dalam gelombang Dzat Yang Maha Kuasa. Ini diistilahkan sebagai wujud jumbuhing/manunggaling kawula lan Gusti, atau warangka manjing curiga. Tampak dalam kisah Dewa Ruci, pada saat bertemunya Bima dengan Dewa Ruci sebagai lambang Tuhan YME. Saat itu pula Bima menemukan segala sesuatu di dalam dirinya sendiri. Itulah inti sari dari “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” sebagai Pungkas-pungkasaning Kawruh. Artinya, ujung dari segala ilmu pengetahuan atau tingkat setinggi-tingginya ilmu yang dapat dicapai oleh manusia atau seorang sufi. Karena ilmu yang diperoleh dari makrifat ini lebih tinggi mutunya dari pada ilmu pengetahuan yang dapat dicapai dengan akal’
  • Bunda Lia Dalam dunia pewayangan lakon “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu” dimaksudkan untuk lambang membabarkan wejangan sedulur papat lima pancer. Yang menjadi tokoh atau pelaku utama dalam lakon ini adalah sbb;
    Begawan Wisrawa menjadi lambang guru yang memberi wejangan ngelmu Sastrajendra kepada Dewi Sukesi. Ramawijaya sebagai penjelmaan Wisnu (Kayun; Yang Hidup), yang memberi pengaruh kebaikan terhadap Gunawan Wibisono (nafsul mutmainah), Keduanya sebagai lambang dari wujud jiwa dan sukma yang disebut Pancer. Karena wejangan yang diberikan oleh Begawan Wisrawa kepada Dewi Sukesi ini bersifat sakral yang tidak semua orang boleh menerima, maka akhirnya mendapat kutukan Dewa kepada anak-anaknya.
    – Dasamuka (raksasa) yang mempunyai perangai jahat, bengis, angkara murka, sebagai simbol dari nafsu amarah.
    – Kumbakarna (raksasa) yang mempunyai karakter raksasa yakni bodoh, tetapi setia, namun memiliki sifat pemarah. Karakter kesetiannya membawanya pada watak kesatria yang tidak setuju dengan sifat kakaknya Dasamuka. Kumbakarno menjadi lambang dari nafsu lauwamah.
    – Sarpokenoko (raksasa setengah manusia) memiliki karakter suka pada segala sesuatu yang enak-enak, rasa benar yang sangat besar, tetapi ia sakti dan suka bertapa. Ia menjadi simbol nafsu supiyah.
    – Gunawan Wibisono (manusia seutuhnya); sebagai anak bungsu yang mempunyai sifat yang sangat berbeda dengan semua kakaknya. Dia meninggalkan saudara-saudaranya yang dia anggap salah dan mengabdi kepada Romo untuk membela kebenaran. Ia menjadi perlambang dari nafsul mutmainah.
  • Bunda Lia Gambaran ilmu ini adalah mampu merubah raksasa menjadi manusia. Dalam pewayangan, raksasa digambarkan sebagai mahluk yang tidak sesempurna manusia. Misal kisah prabu Salya yang malu karena memiliki ayah mertua seorang raksasa. Raden Sumantri atau dikenal dengan nama Patih Suwanda memiliki adik raksasa bajang bernama Sukrasana. Dewi Arimbi, istri Werkudara harus dirias sedemikian rupa oleh Dewi Kunti agar Werkudara mau menerima menjadi isterinya. Betari Uma disumpah menjadi raksesi oleh Betara Guru saat menolak melakukan perbuatan kurang sopan dengan Dewi Uma pada waktu yang tidak tepat. Anak hasil hubungan Betari Uma dengan Betara Guru lahir sebagai raksasa sakti mandra guna dengan nama “ Betara Kala “ (kala berarti keburukan atau kejahatan). Sedangkan Betari Uma kemudian bergelar Betari Durga menjadi pengayom kejahatan dan kenistaan di muka bumi memiliki tempat tersendiri yang disebut “ Kayangan Setragandamayit “. Wujud Betari Durga adalah raseksi yang memiliki taring dan gemar membantu terwujudnya kejahatan.
    Melalui ilmu Sastrajendra maka simbol sifat sifat keburukan raksasa yang masih dimiliki manusia akan menjadi dirubah menjadi sifat sifat manusia yang berbudi luhur. Karena melalui sifat manusia ini kesempurnaan akal budi dan daya keruhanian mahluk ciptaan Tuhan diwujudkan. Dalam kitab suci disebutkan bahwa manusia adalah ciptaan paling sempurna. Bahkan ada disebutkan, Tuhan menciptakan manusia berdasar gambaran dzat-Nya. Filosof Timur Tengah Al Ghazali menyebutkan bahwa manusia seperti Tuhan kecil sehingga Tuhan sendiri memerintahkan para malaikat untuk bersujud. Sekalipun manusia terbuat dari dzat hara berbeda dengan jin atau malaikat yang diciptakan dari unsur api dan cahaya. Namun manusia memiliki sifat sifat yang mampu menjadi “ khalifah “ (wakil Tuhan di dunia).
    Namun ilmu ini oleh para dewata hanya dipercayakan kepada Wisrawa seorang satria berwatak wiku yang tergolong kaum cerdik pandai dan sakti mandraguna untuk mendapat anugerah rahasia Serat Sastrajendrahayuningrat Diyu.
    Ketekunan, ketulusan dan kesabaran Begawan Wisrawa menarik perhatian dewata sehingga memberikan amanah untuk menyebarkan manfaat ajaran tersebut. Sifat ketekunan Wisrawa, keihlasan, kemampuan membaca makna di balik sesuatu yang lahir dan kegemaran berbagi ilmu. Sebelum “ madeg pandita “ ( menjadi wiku ) Wisrawa telah lengser keprabon menyerahkan tahta kerajaaan kepada sang putra Prabu Danaraja. Sejak itu sang wiku gemar bertapa mengurai kebijaksanaan dan memperbanyak ibadah menahan nafsu duniawi untuk memperoleh kelezatan ukhrawi nantinya. Kebiasaan ini membuat sang wiku tidak saja dicintai sesama namun juga para dewata.
  • Sang Iblis Keberadaan sejati itu disebut Dzat Tuhan. Artinya, mula_mula yg ada itu Dzat_Nya. Dzat ini tak ada awal dan akhirnya. Dia bukan kumpulan partikel. Satu ada_Nya, tetapi tidak tersusun dari zat. Pertama, Dzat Allah memancarkan cahaya_Nya dan terwujudlah dalam bahasa Jawa disebut kayu berasal dari kata hayyu, yg artinya hidup. Setelah kata tersebut diucapkan kayu maka selanjutnya diucapkan dengan bahasa yg halus, yaitu kajeng. Karena itu pohon kehidupan disebut Kajeng Sejati. Kayu atau pohon sejati, karena menjadi asal bagi keberadaan berikutnya.
    Kedua, dari hayyu ini terciptalah Nur Muhammad, Cahyo kang pinuji. Cahaya yg terpuji. Ini perwujudan dari atma [Sukma Sejati] atau hayyu [Hidup]. Meski sudah ada sesuatu, sesuatu itu tidak akan hadir bila Nur Muhammad tidak ada. Dinyatakan sebagai cahaya yg terpuji, karena pancaran cahayanya menjadi tampak. Jadi, semula alam ini bagaikan keberadaan di alam gelap. Bendanya itu itu sendiri ada, tetapi tak terlihat. Agar terlihat maka harus ada cahaya yg meneranginya. Makanya, dinamakan cahaya yg terpuji yg dalam bahasa Arabnya disebut Nur Muhammad. Kegelapan semesta disinari. Bagaikan biji yg ditanam di dalam tanah. Sinar matahari yg mengenai permukaan tanah yg menutupi biji itu, merangsang biji untuk tumbuh. Dengan sinar matahari itu muncullah tumbuhan dari biji. Salam Dini Hari.
  • Prima Selindo hmmmmm…
  • Bunda Lia Sifat Manusia Terpilih…..Sebelum memutuskan siapa manusia yang berhak menerima anugerah Sastra Jendra, para dewata bertanya pada sang Betara Guru. “ Duh, sang Betara agung, siapa yang akan menerima Sastra Jendra, kalau boleh kami mengetahuinya. “Bethara guru menjawab “ Pilihanku adalah anak kita Wisrawa “. Serentak para dewata bertanya “ Apakah paduka tidak mengetahui akan terjadi bencana bila diserahkan pada manusia yang tidak mampu mengendalikannya. Bukankah sudah banyak kejadian yang bisa menjadi pelajaran bagi kita semua”
    Kemudian sebagian dewata berkata “ Kenapa tidak diturunkan kepada kita saja yang lebih mulia dibanding manusia “.
    Seolah menegur para dewata sang Betara Guru menjawab “Hee para dewata, akupun mengetahui hal itu, namun sudah menjadi takdir Tuhan Yang Maha Kuasa bahwa ilmu rahasia hidup justru diserahkan pada manusia. Bukankah tertulis dalam kitab suci, bahwa malaikat mempertanyakan pada Tuhan mengapa manusia yang dijadikan khalifah padahal mereka ini suka menumpahkan darah“. Serentak para dewata menunduk malu “ Paduka lebih mengetahui apa yang tidak kami ketahui”. Kemudian, Betara Guru turun ke mayapada didampingi Betara Narada memberikan Serat Sastra Jendra kepada Begawan Wisrawa.
    “ Duh anak Begawan Wisrawa, ketahuilah bahwa para dewata memutuskan memberi amanah Serat Sastra Jendra kepadamu untuk diajarkan kepada umat manusia”
    Mendengar hal itu, menangislah Sang Begawan “ Ampun, sang Betara agung, bagaimana mungkin saya yang hina dan lemah ini mampu menerima anugerah ini “.
    Betara Narada mengatakan “ Anak Begawan Wisrawa, sifat ilmu ada 3 ( Tiga). Pertama, harus diamalkan dengan niat tulus. Kedua, ilmu memiliki sifat menjaga dan menjunjung martabat manusia. Ketiga, jangan melihat baik buruk penampilan semata karena terkadang yang baik nampak buruk dan yang buruk kelihatan sebagai sesuatu yang baik. “ Selesai menurunkan ilmu tersebut, kedua dewata kembali ke kayangan.
    Setelah menerima anugerah Sastrajendra maka sejak saat itu berbondong bondong seluruh satria, pendeta, cerdik pandai mendatangi beliau untuk minta diberi wejangan ajaran tersebut. Mereka berebut mendatangi pertapaan Begawan Wisrawa melamar menjadi cantrik untuk mendapat sedikit ilmu Sastra Jendra. Tidak sedikit yang pulang dengan kecewa karena tidak mampu memperoleh ajaran yang tidak sembarang orang mampu menerimanya. Para wiku, sarjana, satria harus menerima kenyataan bahwa hanya orang-orang yang siap dan terpilih mampu menerima ajarannya. Demikian lah pemaparan tentang puncak ilmu kejawen yang adiluhung, tidak bersifat primordial, tetapi bersifat universal, berlaku bagi seluruh umat manusia di muka bumi, manusia sebagai mahluk ciptaan Gusti Kang Maha Wisesa, Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang Maha Tunggal. Janganlah terjebak pada simbol-simbol atau istilah yang digunakan dalam tulisan ini. Namun ambilah hikmah, hakikat, nilai yang bersifat metafisis dan universe dari ajaran-ajaran di atas. Semoga bermanfaat.Harapanku… Semoga disini yang bersamaku malam ini ada salah satu diantara orang-orang yang terpilih dan pinilih untuk meraih ilmu sejatinya hidup…. untuk… dan bagi….. Matur nuwun sugeng enjang…Rahayu3x ngantos pinanggih mbenjang dalu…. tapi kalau boleh kita bercanda sesaat ya untuk ngilangin kejenuhan malam ini….salam kasihku selalu….wedaran saya tutup S E L E S A I ….. Wass…

    Pamuji kulo mugi krenteg e manah meniko tansah hambegawan cipto ning ..lan sedoyo ingkang kawedar wau tansah andadosaken pangenget khususipun ten diri pribadi lan panjenengan sami

    sanghyang sukma sejati….engkang anglenggahi telenging ati..menopo tego loro tego pati panjenengan sowan piyambak ing ngarsanipun….yo yo raganiro…jeneng siro wus mangerteni babakan iki kanthi lumantar guru sejatiningsun nora susah rogoniro bali menyang patang anasir..hayo nggayuh sampurnaning dumadi (jeneng siro bakal kawedar babakan kamuksan.ateges sampurno lan paripurno).

    monggo nderekaken minggah ing sanggar pamujan hanetepi
    darmaning agesang nggayuh pakarti luhur manungso jati mahening suci lungguhing pribadi,mawas raos sak jeroning batos,madhep manthep,manther,manembah mring gusti engkang moho suci.

  • Bunda Lia Wancinipun nyuwun pamit mandap pasilan … wonten atur kang lepat nyuwun pangapunten…. Rahayu3x…..
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ Sumangga leren, sing renahing manah Diajeng, sun ngiring kalih lega ati lan pandonga, muga mugiya wilujeng lan rahayu.
  • Bunda Lia Aminnnn3x Allahuma Aminnnn.
  • Gempar Soekarnoputra Mengenai METAMORFOSE dimaksud menurut pandangan olahbatin bahwa dalam periode Pemerintahan untuk Bangsa dan Negara kita ke depan ada 3 tahapan, yakni dengan memperhitungkan ketika Negara kita mulai diserang hama ulat berbulu. Artinya dalam masa ini cenderung Pemimpin2 Bangsa dan Negara kita mempunyai sikap rakus tanpa batas dalam menggerogoti “uang Negara” atau “uang Rakyat” bahkan menjarah hasil kekayaan alam Negeri kita dengan membabi buta tanpa memikirkan kebutuhan generasi yang akan datang. Jadi Korupsi dan kolusi terjadi dimana-mana dan kapan saja. Bahkan Hukum tidak mampu berbuat apa2 karena politik kekuasaan yang mengendalikan hukum. Mafia peradilan dan mafia hukum terjadi dimana-mana. Merosotnya nilai2 sosial kemanusiaan dan akhlak tidak dapat diatasi oleh para Ulama dan Pemerintah. Hal-hal demikian akan mempercepat terjadinya kalabendhu (goro-goro). Itulah gambaran yang disimbolkan sebagai “ulat bulu pemakan daun.” Kemudian ada tahapan penggantian Rejim yang rakus tersebut. Calon Pemimpin yang akan muncul selama ini masih disimpan/dirahasiakan (Satrio Pininggit) dan akan muncul pada saat timbulnya goro-goro di Negeri kita ini dan dapat menumbangkan Rejim yang rakus tersebut. Itu merupakan gambaran yang disimbolkan sebagai “kepompong.” Artinya Sang Pemimpin tersimpan rapih dan semua orang tidak akan mengetahui siapa si Satrio Pininggit tersebut. Dialah seorang Ratu Adil yang akan menegakkan hukum di Negeri yang kaya raya dengan kekayaan alam tapi miskin akhlak dan miskin moral. Pedang hukum akan ditegakkan tanpa pilih bulu, siapa yang korupsi dan kolusi akan dipenjarakan seumur hidup dan bahkan bagi Koruptor kakap akan ditembak mati. Karena hukum dan keadilan ditegakkan maka Bangsa kita tentu akan menuju pada kemakmuran, kejayaan dan kemajuan yang pesat. Satrio Pininggit tersebut akan memerintah dengan Pedang Hukum dan akan bersikap tegas. Sedangkan simbol dari “kupu-kupu” nan indah dan cantik tentu merupakan Pemimpin2 masa depan Bangsa kita ini sesudah masa kepemimpinan Sang Satrio Pininggit. Jadi Satrio Pininggit hanya membuka jalan bagi Pemimpin2 Bangsa kita ke depan agar Negara kita bersih dari korupsi, kolusi dan berbagai macam mafia, teroris, narkoba yang sangat merugikan Rakyat, Bangsa dan Negara.
  • Bunda Lia Ngapain sih tiap komentar mesti dah larut banget…. mas Gempar… ada apa????
  • Bunda Lia Sesok tak bahase soal Ratu Adil Ok.
  • Ariyo Hadiwijoyo sugeng enjang.
    ..mugi karahaon ingkang pinanggih…amin.
  • Gempar Soekarnoputra Selamat pagi, Mbak Lia. Memang sampai kini saya belum tidur…hehehe… tirakat…..
  • Bunda Lia Sama mas Gempar… wirid buat minta kekuatan doa pagi… biar sampai doaku mas dan bagi yg membacanya biar kena sawab kekuatanya… Aminnn.
  • Bunda Lia Mas Ariyo…. ya mas salam ….
  • Ariyo Hadiwijoyo iya
    bunda…makasiih…salam…salam….
  • Ariyo Hadiwijoyo iya
    bunda…makasiih…salam…salam….
  • Ariyo Hadiwijoyo iya
    bunda…makasiih…salam…salam….
  • Tulis komentar…

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: