Motivasi yang mendorongku Fajarku Harapanku

Motivasi yang mendorongku Fajarku Harapanku

Motivasi yang mendorongku Fajarku Harapanku

Kulihat sebuah bendera yang berkibar…

Dengan megahnya membelah angkasa raya

Menebarkan pesona dan semerbak wangi aromanya…

Tampak berkibar dengan gagah perkasa

Kulihat sepasang tangan menyangga Buwana

Sungguh gundah hatiku,Ketika kulihat bendera nan elok itu…

Ditopang oleh sebuah tiang yang rapuh….

Ternyata, tiang itu keropos,

Dimakan dan digerogoti oleh selaksa rayap…

Ketika kudekati bendera nan elok itu…

Dengan berbekal niat yang tulus..

Ingin ku perkokoh tiang penopang itu..

Ingin kuperbaiki tiang penopang itu…

Namun rayap-rayap itu malah menggigitku..

Sepertinya,

Rayap-rayap itu tidak menghendaki niat baikku.

Aku menjauh..

Kupandangi bendera nan elok dengan rasa pilu..

Sejenak aku berfikir dan bertanya dalam hati…

Mungkinkah aku membuat tiang penyangga yang baru?

Yang anti rayap tentunya..

Ingin aku persembahkan tiang penyangga yang kokoh

Pada bendera nan elok merona…

Agar dapat berkibar lagi…

Lebih megah, dan semakin gagah..

Biarlah tiang penopang yang lama roboh…

Habis dimakan rayap…

Yang utama, bendera itu tetap bisa berkibar,

Membelah angkasa dengan gagahnya…

Seekor rayap menggigit ujung jari kakiku.

Aku tersadar dari lamunanku…

Kupandangi bendera itu dari kejauhan..

Timbul pertanyaan dalam hatiku,

“Relakah bendera itu aku pindahkan di tiang penopang yang baru?”

Jangan-jangan ia lebih menyukai tiang penyangga yang lama,

Yang telah keropos dimakan selaksa rayap yang menghuninya..

“oh, bendera nan elok, pujaan hatiku…”

Maafkan aku yang telah lancang dalam anganku,

Aku hanya ingin melihat bendera itu berkibar lagi..

Membelah langit….

Menari mengikuti alunan irama angin…

Menantang dunia…

Di bawah sinar Sang Surya…

Sungguh gagahnya…

Mamasuh Malaning Bumi, Mangasah Mingising Budi

Sewindu wus kalangkung, anderek ake lumakuning Jontro,

Jantraning sedyo kang luhur , kang mbabar larasing roso, puguh kukuh katerak rubedho,

Sambekolo tan biso amenggak karso, kadhereng hardening karti.

Mrih mijiling sedyo kang suci.

Luhur kang dadi setyo… suci gegadange karti….

Linambar genturing dongo.

Nggayuh pangestuning Hyang Moho Suci.

Langit gemerlap bertaburan bintang..

Bagaikan permata yang ditaburkan di dinding langit

Angkasa terlihat semarak…

Berhiaskan ratna mutu manikam.

Bintang Timur memancarkan cahayanya…

Dengan senyum pesona yang menawan setiap pria

Bak sang primadona….

Yang sangat elok di ujung langit jagat raya…

Ufuk mulai memerah….

Sang Surya mulai menampakkan kekuasaannya…

Malam pun telah berganti siang…

Fajar baru telah menyingsing…

Kunikmati cahayanya….

Harapanku…. kesedihan kan segera berlalu

Dengan iringan bendera Songgo Buwono

Menyambut datangnya bendera Songsong Buwono

Untuk memayungi Rakyat Kecil. 

 

 

Batal Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Promosikan · Bagikan
  • Putrie Ragiel Trisno Malam Bunda sayang juga poro pini sepuh Rahayu.
  • Herry Tasman Terima kasih Bunda Lia….Selamat Malam….Rahayu
  • Bunda Lia Jeng Putrieku… lam penuh rasa kuuuuaaaannnggggeeeennnn ppppooooolllll pokoknen.
  • Mayonggo Seto Subhanallah…
    Bendera itu sesungguhnya tdklah membutuhkan tiang yg menopangnya..
    Bendera itu tlah mendapat restu bumi hingga tdk ada kayu yg pantas menjadi tiangnya…
  • Bunda Lia Mas Herry selamat malam mas… Astungkara.
  • Bunda Lia Mas Mayonggo Seto … bedera itupun juga milikmu jagalah dan rawatlah… salam kasih…
  • Herry Tasman Sungguh berat beban Bunda….hrs mengatur arah perahu yg begitu banyak muatannya…..tanpa nakhoda yg handal. Mustahil perahu dpt berlayar sampai tujuan…..Astungkara
  • Triasih Prasetianingtyas Selamat malam Bunda ..tetaplah melangkah dan maju terus ..aku tetap menemanimu ..salam kasihku ..
  • Triasih Prasetianingtyas Selamat malam kpd smua sahabat trcinta yg sdh dan blm hadir ..salam sejahtera salam bahagia ..
  • Bunda Lia Hanya doa2 dari semua saudara yg kupinta yang akan mennambah kuatnya cengkeraman tanganku memegan tiang bendera agar tidak goyah mas Herry…. doamu yang slalu ku harap.
  • Bunda Lia Salam penuh kasihku mbak yu Triasih doa dan nasehatmu yg selalu kuharap agar aku semakin perkasa…
  • Bunda Lia Aminnn matur nuwun kang Dullah kang Kinasih….bareng2 merawat… merumat yo kang…
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ selamat malam Sang Ratu Songgo Buwono, hamba nembah matur hadir, salam kasih dan hormat selalu,,,
  • Satyo Aji Sanjaya ‘met malem Bun… (Berkibarlah Bendera-qu, Lambang Suci gagah perwira,,, di-Seluruh pantai Indonesia,…) meski sdh ada tiang penopang,,, perlukah d-tambah Tali pengikat, biar ttp tegar berkibar… (Hyaaa, tali pengikat, ibarat membina Tali Persaudaraan yg kuat bagi smua kerabat yg ada d-sini,,,) Amiien.
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ selamat malam Kangdullah, Mbatriasih, dan semua yg sdh hadir. salam dami penuh kasih,,,
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ selamat malam Kangmas Setyoaji yg aku hormati,,,salam damai kasih abadi,,,
  • Awan Baraya Full asma agung sangga buana……biarlah tetap pada ceritanya
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ berbicara BENDERA (PANJI), TIANG, SONGGO BUWONO, DAN RAYAP, hmmm asyik nih,, *kata Kang Baridin heheheheheee
  • Bunda Lia Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya. Terbentuknya Negara….Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), jelas melalui proses panjang, penuh dengan
    perjuangan dan pengorbanan, Sehingga lahirlah bangsa yang besar dan dikenal oleh bangsa-bangsa lain, yakni ”Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika”nya.
    Dapat dibayangkan,
    betapa besar karya cipta tersebut (NKRI.),
  • Herry Tasman Selama Matahari masih terbit dari Timur,…..Doa serta support Ku selalu utk Bunda Lia…..Astungkara
  • Satyo Aji Sanjaya @Muhamad Mukhtar Zaedin: Sugeng ndalu, pak Mukhtar,… Senyum sapa salam Sejahtera Slalu, Mugi tansah Karahayon, salam taklim kagem keluarga njih, pak…
  • Bunda Lia Keanekaragaman suku, agama dan ras dapat disatukan yang kemudian menjadi kekuatan mahadahsyat. Namun pada dekade belakangan ini, keutuhan persatuan dan kesatuan mulai mengalami degradasi. Bhineka Tunggal Ika tak lagi menjadi slogan sakral, justru kian dianggap sebagai ‘barang usang’ yang tak lagi dibutuhkan.
    Kemerosotan tersebut kemudian menjadi celah timbulnya ego pribadi dan ego…kelompok yang akhirnya berdampak pada pengkotak-kotakan masyarakat. Hal ini sudah demikian terasa. Mengendurnya rasa persatuan menjadikan ruang keharmonisan dalam bermasyarakat
    semakin menyempit karena terkikisnya rasa toleransi terhadap segala perbedaan yang ada. Melihat tengara demikian, bisa disimpulkan bahwa Bangsa ini sedang mengalami dekadensi moral. Asas
    persatuan yang demikian luhur bergeser menuju kultur egoistis. Nurani tidak lagi menjadi pijakan atas segala tindakan, kepentingan pribadi/kelompok menjadi primadona.
  • Awan Baraya Full setiap mahluk tuhan masing masing punya cerita sendiri sendiri..berubah atau tidak cerita itu sampai di mana keyakinan yang ada pada diri kita….masing masing jalani apa yg sudah menjadi cerita hidupmu..doa kami di nadimu….
  • Bunda Lia Untuk memulihkan kondisi tersebut, agaknya Reformasi Nurani harus segera diwujudkan. Nurani harus tetap menjadi pijakan dalam bertindak. Robeknya Nurani harus segera terobati.
    Sanggar Supranatural… Songgo Buwono, sebagai lembaga yang concern terhadap Budaya dan Spiritual, akan
    terus berupaya memulihkan dan melakukan Reformasi Nurani. Hal tersebut dilakukan melalui alur Budaya dan Spiritual. Mengapa harus Budaya dan Spiritual? Di samping bidang tersebut memang sudah menjadi bagian kegiatan Songgo Buwono, terapi untuk melakukan Reformasi Nurani melalui Budaya dan Spiritual dipandang tepat, sebab Budaya adalah hasil karya cipta manusia yang luhur, sedangkan Spiritualisme merupakan upaya pendekatan diri kepada Tuhan.Dengan kata lain, melalui kegiatan Budaya dan Spiritual yang dilakukan secara benar akan menciptakan suatu kearifan yang berlandaskan hati nurani yang sehat. Sebagai langkah nyata, Songgo Buwono akan mengadakan Ruwat dan Doa bersama bagi masyarakat yang kurang mampu, melakukan kegiatan yang terkait dengan Kebangkitan Nurani. Sebagai langkah awal, Songgo Buwono nanti akan menggela Bedah Budaya Nusantara. Diharapkan langkah ini nantinya dapat menjadi benih-benih kebangkitan kembali rasa persatuan dalam perbedaan yang ada.
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ membaca judul, ‘MOTIVASI YANG MENDORONGKU FAJARKU HARAPAN’, masih menyisakan pertanyaan yg terkait dgn BENDERA, DLL
  • Bunda Lia Dan pada gilirannya, akan menjadi pusat pembangkitan nurani serta dapat dikondisikan sebagai Laboratorium Spiritual dan Budaya guna meningkatkan keyakinan manusia pada Sang Pencipta.
    Marilah kita langkahkan kaki demi Rakyat, demi Masyarakat, demi Bangsa dan Negara Indonesia. Harapan besar ini mendorong kami untuk segera memulai langkah awal kita menuju Ruwat
    dan Do’a Bersama, agar kita dapat mengembalikan Naluri Nenek Moyang yang telah diajarkan pada kita semua, yang nyaris hilang dari ingatan dan hampir terlupakan. Sehingga kita tidak lagi memiliki iman – ketakwaan kita tergoyah oleh kemajuan zaman dan pergaulan bebas. Manusia lupa akan kepribadian dan ajaran moyang
    kita. Tegakah kita melihat dan membiarkan Adat dan Budaya kita tercabik-cabik oleh budaya luar? Pergaulan bebas, obat terlarang, minuman keras telah merajalela merasuki kehidupan anak dan tunas-tunas Bangsa.
  • Herry Tasman Bangsa ini sdh krisis & degradasi moral Bunda, …..
  • Bunda Lia Mari kita renungkan Adat, Budaya dan Naluri kita yang hampir luntur sehingga kita kehilangan jatidiri. Sudah menjadi watak manusia yang hilang Naluri, baik di saat mendapat kedudukan maupun tidak, selalu kurang puas dan kecewa hatinya. Karena manusia kurang bersyukur, hilang kesabaran maupun kesadarannya. Maka sifat angkara murka telah menguasai seluruh aspek kehidupan sehingga meng-halalkan segala cara demi pencapaian kepentingan pribadi.
    Apakah itu bukan kesalahan sendiri? Bila kita lihat dengan mata batin dan rasa, memang aneh ulah manusia. Yang jujur, yang dusta hatinya, dapat kita lihat dan ketahui dari satu firasat, dari namik. Namun tak semua mampu, kecuali yang telah terbuka untuk gaib.
    Paham terhadap rasa, serta ingat safi’i di masa lalu, tetapi lebih rumit ceritanya. Budi pekertinya telah tampak pada zaman lain. Banyak orang memahami bahasa dan kehidupan bangsa lain, namun tidak memahami dan menguasai bahasa sendiri. Hingga manusia lupa akan Budaya Leluhur! Kebudayaan adalah inti yang harus diambil agar dapat menambah budi yang kuat.
  • Tasirin Rahmat bunda sorry ya blm bs main kejogya
  • Bunda Lia Mas Tasirin.. wahhh tak tunggu kok ndak datang ki piye to???
  • Ariyo Hadiwijoyo wahai bendera berkibarlah…jgn hiraukan rayap2 menggerogotimu…brkibarlah…yg kropos biarlah tumbang tnpa rs tkut kehilangan…dmi niat nan tulus suci …sllu ada tiang penyempurna buat brkibar dlm diri nan suci !
  • Ariyo Hadiwijoyo wahai bendera berkibarlah…jgn hiraukan rayap2 menggerogotimu…brkibarlah…yg kropos biarlah tumbang tnpa rs tkut kehilangan…dmi niat nan tulus suci …sllu ada tiang penyempurna buat brkibar dlm diri nan suci !
  • Bunda Lia Gundhul-gundhul Pacul…
    Gemblelengan
    Nyunggi-nyunggi wakul
    Gemblelengan
    Wakul ngglempang
    …Segane dadi sak jogan
    Wakul ngglempang
    Segane dadi sak ratan…..
  • Bunda Lia Sejatine, janma kang wus wikan ngelmu.
    Ngelmu kasampurnan.
    Kasampuenaning dumadi.
    Dumadine, ber budi bawa leksana. Kanthi golong giliging manah, hanawu segara, nyinom pradopo, hanyokrokusumo. Lelana laladan sepi, angupadi ngelmu kang sejati.Dengan kebulatan hati melaut di ayat-ayat Tuhan, sepeti hijaunya daun, dan bungan yang mekar, berjalan di jalan yang sepi untuk meraih ilmu yang sejati.
  • Bunda Lia Pramila dados pemimpin ing ngarsa asung tulada, kedah sarwa wicaksana, aja gemblelengan…. nggawa sega kanggo kembul bujana… wutah neng ndalan ora tekan nggone…kabeh kapiran… ampun kados tembang dolanan… Gundul-gundul pacul.
  • Tasirin Rahmat saniki negoro ora genah, saniki kue, tontonan jadi tuntunan, tuntunan jadi tontonan. pripun niki
  • Bunda Lia Antara Manusia dan alam Semesta
    Dengan panca inderanya manusia mengetahui bahwa di antara bumi dan langit terdapat tumbuh-tumbuhan dan hewan dengan sifat tertentu. Matahari, bulan, bintang, dan bumi dengan gunung dan samuderanya juga mempunyai sifat tertentu. Di luar manusia, lingkungan alam mempunyai sifat, kodrat tertentu. Manusia mempunyai akal, dan dapat berpikir, berbicara serta bertindak berdasarkan akalnya, itulah yang membedakan manusia dengan lingkungannya. Apabila terjadi suatu aksi terhadap suatu benda di alam, maka benda tersebut selalu bereaksi secara alami. Bagi hewan reaksi terhadap hal yang membahayakan dirinya adalah fight or flight, melawan atau melarikan diri. Manusia mempunyai pikiran, maka dia dapat memilih apa yang akan dilakukannya terhadap aksi terhadapnya.
    Menurut Bhagavad Gita, pada dasarnya sifat alam ini ada tiga: satwik, rajas dan tamas, tenang, agresif dan lembam-malas dan pada dasarnya semua benda yang ada di alam ini mempunyai sifat kombinasi dari ketiga sifat dasar ini. Segala sesuatu yang ada di alam ini juga terdiri dari kombinasi unsur-unsur padat, cair, api, angin dan ruang. Unsur-unsur tersebut pada dasarnya adalah energi dengan berbagai kerapatan yang berbeda.

    Leluhur kita mengatakan alam ini sebagai jagad gumelar, alam yang terkembang, makrokosmos; dan manusia sebagai jagad gumulung, alam yang terlipat, alam kecil, mikrokosmos. Untuk itu manusia perlu menyadari sangkan paraning dumadi ( asal usul dan tujuan akhir makhluk). Kodrat manusia sebagai pria dan wanita, dengan berbagai macam kebudayaan, suku, ras dan sebagainya adalah untuk memuliakan alam dan seisinya.
  • Bunda Lia Salah satu petikan dari Serat Sastra Gendhing, karya Sultan Agung menyebutkan tugas manusia terhadap alam yaitu: Mangasah mingising budhi; Mamasuh malaning bhumi; Mamayu hayuning bhawana. Mengasah tajamnya budi; membasuh lukanya bumi, menyehatkan bumi yang sakit; dan memperindah alam semesta. Sakitnya bumi ini, terjadi karena manusia tidak mengasah budinya, dan telah bertindak melukai bumi dalam memenuhi keserakahannya.
    Pada dasarnya manusia itu mendiami bumi yang sama. Pulau-pulau yang terpisah dengan laut, di dasar lautnya bersatu, semua manusia hidup dalam lapisan kerak bumi yang sama. Apabila naik ke angkasa nampak bahwa langit ini juga satu. Semua manusia selain kakinya terhubung dengan bumi yang sama, napasnya juga terhubung dengan langit yang sama’
  • Kakang Prabu Anom Selamat malam Bunda & seluruh keluarga besar yang hadir..
    Nyimak dulu ah..
  • Prima Selindo sugeng sumunaring condro ing wayah ratri …salam ugi katur dumateng poro sepuh lan pinisepuh ..kakung miwah putri..poro sujono ingkang wasis..sidiq paningal ugi wening ing penggalih….rahayu sagung dumadi….diajeng ayu..nderek lelenggahan njih..nyemak kanti prayogi…….nuwun..
  • Bunda Lia Setiap kali kita menghirup napas, kita menghirup 10 pangkat 22 atom dari alam semesta. Sejumlah atom tersebut masuk ke tubuh kita menjadi sel-sel otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Setiap kali kita menghembuskan napas, kita mengeluarkan atom 10 pangkat 22 yang terdiri dari kepingan otak, jantung, paru-paru dan lainnya. Secara teknis, kita mempertukarkan organ tubuh kita dengan organ tubuh orang lain, dengan orang yang pernah hidup, bahkan dengan semua makhluk, semua zat, yang pernah hidup. Berdasarkan perhitungan isotop-isotop radio aktif, tubuh kita memiliki jutaan atom yang pernah singgah di tubuh orang-orang suci dan orang-orang genius. Dalam waktu kurang dari 1 tahun, 98% dari semua atom dalam tubuh kita telah berganti secara total. Atom milikku adalah atom milikmu. Atom-atom terdiri dari partikel-partikel, partikel adalah fluktuasi dari energi. Segala-galanya di bumi ini sejatinya adalah energi, berasal dari cahaya Matahari. Hakekatnya kita semua adalah satu.
    Visi yang selaras dengan keberadaan alam semesta.
  • Tasirin Rahmat mari kita kembalikan jati diri bangsa ini, yg sdah diacak2 oleh pihak asing maupun yg orang kita yg sdah terpengaruh bangsa lain.
  • Bunda Lia Mas Tasirin kita satu perjuangan … he he he SEMANGAT Ok…. baiklah kita teruskan njih mas wedaranya biar cepat kelar lalu kita ngobrol…

    Hubungan Manusia dengan Tuhan menurut Leluhur
    Tuhan adalah “Sangkan Paraning Dumadi”, asal usul dan tujuan akhir makhluk. Leluhur kita menyebutnya “tan kena kinaya ngapa”,tak dapat disepertikan, Acintya. Terhadap Tuhan, manusia hanya bisa memberikan sebutan sehubungan dengan peranan-Nya. Gusti Kang Murbeng Dumadi (Penentu nasib semua mahluk) , Gusti Kang Murbeng Gesang (Penguasa kehidupan), Gusti Kang Maha Agung (Tuhan Yang Maha Besar), dan lain-lain yang dikenal dengan 99 Nama Allah bagi kaum muslimin. “Ekam Sat Viprah Bahuda Vadanti” artinya “Tuhan itu satu tetapi para bijak menyebut-Nya dengan banyak nama”.

    Perjalanan manusia menemukan Tuhannya digambarkan seperti perjalanan Bima, satria Pandawa mencari susuhing angin, sarangnya angin. Istilah lain adalah, mencari tapake kuntul nglayang, jejaknya burung yang terbang, mencari galihing kangkung, intinya sayur kangkung yang kosong dan lain sebagainya. Sebelum bertemu dengan Dewa Ruci, Bima dalam samudera kehidupan harus mengalahkan naga ganas keduniawian yang membelitnya dengan kuat dan erat. Dengan kesungguhan hatinya, naga dapat dikalahkan dengan kuku pancanakha, dan Bima bertemu dengan Dewa Ruci, wujud kembarannya yang kecil. Dewa Ruci meminta Bima memasuki dirinya lewat telinganya.
    Pada awalnya Bima ragu-ragu, wujud dirinya besar sedang wujud Dewa Ruci kecil. Dewa Ruci mengatakan, besar mana antara diri Bima dengan samudera dan jagad raya, karena seluruh jagad raya ini bisa masuk ke dalam dirinya.
  • Bunda Lia Mas Ariyo makasih mas salam Jiwa Budaya….. Kakang Prabu malam kang salam kangen… Mas Herry betul sekali… mas Mukhtar pelan2 ya mas… rayap2 tiang dan bendera ha ha ha … kang Dullah manakah suaramu… mas Tyo mana kesungguhan dan semangatmu yang juga salah satu pemilik bendera itu…… baik saya teruskan mas.
    Leluhur kita menggambarkan wadag, raga ini sebagai warangka, sarung keris, sedang ruh kita adalah curiga, kerisnya. Manusia hidup di alam ini disebut curiga manjing warangka, keris di dalam sarungnya. Setelah manusia sadar atas ketidaksempurnaan duniawi ini dan dapat melepaskan dari belitan naga ganas duniawi dan yakin pada dirinya yang sejati, maka dia dapat memasuki dirinya yang sejati, seperti Bima yang memasuki Dewa Ruci. Di dalam diri Dewa Ruci ini ternyata sangat luas, alam pun berada pada dirinya. Leluhur kita menggambarkan peristiwa ini ibarat warangka manjing curiga, sarung keris masuk kedalam keris, kodok ngemuli lenge, katak menyelimuti liangnya, Manunggaling Kawula Gusti, bersatunya makhluk dengan Keberadaan. Selama ini manusia diibaratkan golek banyu apikulan warih, manusia mencari air sedangkan dia sendiri memikul air.
  • Mas Bhimo Sekti Sugeng Enjang Kanjeng Ibunda Ku tersayang membaca untaaian kata kata ini seakan akan berkaca tentang diriku sendiri. Karena untaian kata kata ini aku merasa tertampar menyadarkan dari sebuah lamunan. Matersembahnuwun Ibuku tersayang…. Hemm rindunya nanda dengan Ibuku tersayang hwhehehehhe
  • Satyo Aji Sanjaya @Mas Bhimo Sekti : Sugeng ndalu,mas… (Ampun nglindurr, niki wancine sampun ndalu, haa-haaay…)
  • Bunda Lia Mas Agung…selamat malam salam kasihku selalu njih mas…. baik akan saya teruskan .. nyuwun sewu mas Agung… saya teruskan
    Otak kita yang luar biasa….Kita menjalani kehidupan dalam otak kita. Orang yang kita lihat, rasa basahnya air, harumnya bunga, semuanya terbentuk dalam otak kita. Padahal satu-satunya yang ada dalam otak kita adalah sinyal listrik. Ini adalah fakta yang menakjubkan bahwa otak yang berupa daging basah dapat memilah sinyal listrik mana yang mesti diinterpretasikan sebagai penglihatan, sinyal listrik mana sebagai pendengaran dan dan mengkonversikan material yang sama dengan berbagai penginderaan dan perasaan.
    Meskipun orang menganggap material ada di luar kita, cahaya, bunyi dan warna di luar otak kita itu tidak ada, yang ada adalah energi. Benda di luar hanya ada dalam paket energi. Paket energi tersebut dilihat oleh retina. Retina mengirim sinyal listrik ke otak. Otaklah yang menginterpretasikan itu adalah suatu benda. Bunyi juga terbentuk kala gelombang-gelombang energi menyentuh telinga kita, kemudian diteruskan ke otak dan diintepretasikan sebagai bunyi tertentu oleh otak kita.
  • Mas Bhimo Sekti Mas Satyo Aji Sanjaya huahahahhaha sugeng enjang mas tersayang pripun pawartose….??
  • Satyo Aji Sanjaya Bun,… kita2 nie ttp penuh Semangat Heroik-Patriotik,… dan ttp mempunyai Jiwa Corsa yg tinggi,… khan ada… swara “Gong” yg sudah berbunyi”… ingat khan…
  • Satyo Aji Sanjaya @Bhimo Sekti: sy baik2 ajj, nak-Maz… smoga demikian adanya dgn Diri-mu, nak-Maz,… (biasa2 ajj dech, haa-haaay)
  • Bunda Lia Fisika quantum memperlihatkan bahwa klaim adanya eksistensi materi tidak mempunyai landasan yang kuat. Materi adalah 99,99999 % hampa. Yang ada diluar otak hanyalah paket-paket energi, otaklah yang menginterpretasikan itu adalah benda. Alam semesta seperti yang kita lihatpun hanya ada karena adanya otak kita. Yang luar biasa adalah mengapa penginterpretasian dari banyak otak di banyak manusia sama semua. Berarti ada kesatuan penginterpretasian dari semua makhluk. Diluar diri manusia hanya paket energi, manusia pun merupakan kombinasi dari unsur-unsur alami yang pada hakikatnya adalah energi juga. Pikiranpun adalah energi juga. Segala sesuatu yang ada adalah energi.Dalam Isavasyopanishad terdapat sebuah penjelasan bahwa semua bentuk apapun juga yang bergerak di Alam Semesta ini, termasuk Alam Semesta ini, yang bergerak sendiri, hidup di dalam atau ditunjang atau terselimuti oleh Yang Maha Esa. La Illaha Illallah. Yang ada hanya Allah.

    Kita perlu memahami kesadaran manusia yang terdiri dari beberapa lapisan kesadaran: kesadaran fisik, kesadaran energi-zat hidup, kesadaran mental emosional, kesadaran intelegensia dan kesadaran murni. Apabila manusia dalam kehidupannya sehari-hari telah menyadari dirinya berada lapisan kesadaran yang mana, maka dia dapat meningkatkan kesadarannya sampai suatu saat mencapai kesadaran murni. Ego kitalah yang membawa kesadaran kita menurun sehingga kita merasa terpisah dan kesadaranlah yang membawa kita meningkat sehingga kita merasa satu. Pada waktu tubuh manusia sehat, dia bertindak sebagai kesatuan, dan pada waktu sakit baru dia merasa ada bagian terpisah yang sedang sakit. Selama manusia merasa terpisah dengan yang lain, manusia sedang sakit dan kesadaran adalah alat penyembuhnya.
  • Bunda Lia He he he monggo mas Agung bahas jawinipun kulo tak nglajengaken bab arti saking bendera Songgo Buwono….
  • Sang Iblis Catatan yg luar biasa… Mantab dech pokoknya… Selamat Malam.. Salam Kasihku.
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Sugenkg ndalu Ibunda, Abah Ali, Kang Mas Agung, lan sdoyo kdang kinasi engkang sampun sami rawoh, mugi GUSTI tansah paring kberkahan dmateng kito sdoyo..
  • Sang Iblis Selamat malam Kang Dullah… Salam Kasih Dan Hormatku.
  • Bunda Lia Makna dan Arti Lambang Bendera Songgo Buwono.

    1. Pita Merah Putih diatas gambar Bumi dan Peta Dunia yang artinya dibawah payung Sang Saka Merah Putih Bangsa Indonesi merasa mempunyai Tanggung Jawab Hangrungkebi, Handarbeni Bumi Pertiwi untuk dijaga Kelestarianya.

    2. Peta Dunia di mana Peta Indonesia tampak dimuka Bola Dunia artinya sangat punya arti dan makna menuju Indonesia pada posisi terdepan dimata Dunia. Upaya tersebut dilakukan dengan Cara dan Sasaran utama penyelamatan Negara dan Bangsa Indonesia seutuhnya dari segala cobaan dan keterpurukan, agar segera Indonesia kembali pada Jati Diri seutuhnya.

    3. Warna Biru laut melambangkan warna Samodra dan kami wajib memiliki hati seluas lautan-sedingin lautan dan berhati Segoro. Kelapangan hati dalam menerima segala perbedaan yang dapat dikemas menjadi sesuatu kekuatan yang utuh. Untuk membangun dan mengembalikan rasa percaya diri Bangsa dan Negara Indonesia.

    JRONING uru-ara, kang ana mung sarwa ora nggenah lan ngajak bubrah. Sing dening wong akeh dianggep bener, jebul malah keblinger. Sewu laler padha ngrubung tembelek, apa tetep wae dianggep bener?!

    Jroning tradisi Hindhu, ana kang diarani nyepi. Ora mung dhewekan, nanging ditindakake bebarengan, dipengeti lan dipersudi dening kabeh umat. Jroning nyepi, ora ana sing padha metu saka ngomah. Sawetara metu saka uru-ara lan gebyaring kadonyan sing kebak swara.  Ing kalangan umat Katolik-Kristen, ana retreat. Ing agama Buddha ana uga sing diarani Buddha reclining. Kanthi pasa lan iktikaf, kaum muslim uga duwe sarana kanggo mundur saka ìuru-araî-ning donya sing kebak tukar padu, cengkah, lan apa-apa sing bisa agawe bubrah.

    Kanthi Kalatidha karyane pujangga agung Ranggawarsita bisa dadi kaca benggala tumrap jaman sing kebak uru-ara, jaman sing “rurah pangrehing ukara”. Sebab apa? “Karana tanpa palupi!” Merga ora ana sing bisa ditulad, ora ana sing pantes diconto jalaran kabeh-kabeh wis mletho…

  • Wektu terus lumaku. Uru-ara ora mendha nanging malah saya ndadra, selot ndadi. Pangarep-arep saya ora ganep bebarengan karo janji lan prasetya sing ora digondheli maneh. Sing ana mung mburu karepe dhewe, mburu kepenake dhewe, lan mburu benere dhewe. Katon banget yen padha kongas kalawan kasudiranira.

    Wedhatama uga melu nggambarake pokal-polah kaya mangkono iku. Laras karo serat anggitane KGPAA Mangkunagara IV iku, kabeh padha “ngugu karsane priyangga”. Kabeh “nora nganggo peparah lamun angling”, ngomong ora nganggo waton, nanging waton muni. Senajan mengkono, ora gelem yen diarani isih kaya bocah Taman Kanak-kanak, “lumuh ingaran balilu”, kapara “uger guru aleman”.
    Nggugu Karepe Dhewe..
  • Bunda Lia 4. Warna Hijau melambangkan warna keteduhan yang menyelimuti kesuburan – kekayaan dan kemakmuran Bumi Pertiwi dengan Pertanian dan hasil kekayaan alam yang diberikan Allah SWT pada semua makluk hidup yang ada di Bumi yang kita pijak ini.

    5. Kuning Kecoklatan melambangkan warna kulit tubuh kita. Kita Bela Bumi Pertiwi ini dengan bertaruhkan Nyawa, Harta, Harkat, Martabat dari tangan penjajah untuk Membela dan membawa Indonesia Merdeka. Untuk Menjadikan Indonesia Jaya. Untuk Membuat Bangsa Indonesia dapat Dipercaya dan Disegani oleh Negara lain.

    6. Warna Merah adalah warna Darah kita dengan gagah berani kita junjung tinggi-tinggi Bumi Pertiwi ini dengan keberanian yang penuh semangat Juang dan kita maju terus pantang mundur demi membawa Indonesia kembali Jaya.
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Ibunda nyuwun pangapunten Bendera Songgo Buwono nyuwon dipun aplout kersane poro kdang kinasih pirso Lambang Songgo Buwono.
  • Bunda Lia 7. Putih adalah warna Tulang kita dengan perjalanan yang lurus dan benar kita akan menjadikan Negara Indonesia ini menuju jalan yang baik dan tidak akan ada kerikil tajam yang kita lalui. Dengan harapan kita tetap menjaga Iman dan Ketakwaan kita setiap akan melakukan apa saja dan berbuat apa saja kalau ingat Hukum Tuhan, Hukum Agama, Hukum Alam, atas perbuatan kita dengan menyadari sudah benarkah perbuatan kita apa bila kita melangkahkan kaki ketempat yang kita tuju? Ingat ada sebab tentu akan muncul akibat.

    8. Warna Hitam melambangkan diri kita sendiri janganlah merasa bersih atau putih, sadarilah bahwa kita masihlah banyak salah dan dosa, jadi akan menimbulkan kerugian pada diri sendiri. Namun apa bila kita merasa bahwa kita masihlah banyak salah dan dosa juga masihlah kotor, niscaya akan menimbulkan sifat takut melakukan perbuatan buruk, untuk itu langkah kita pasti akan selalu berhati – hati dan timbul rasa takut bila kita melakukan salah dan dosa.

    9. Kedua Tangan Menyangga Peta Dunia yang artinya betapa berat tanggung jawab dan tugas yang kita Sangga untuk Menyelamatan Negara dan Bangsa Indonesia Khususnya, hanya berharap pada tumpuan sepasang tangan yang peduli untuk melindungi sekaligus menjaga akan kelestariannya. Memayu Hayuning Bawono.
    Amarga mung nggugu karepe dhewe, mula bener sing dibujung ya mung benere dhewe utawa bener kanggo golongane dhewe. Anggere disengkuyung dening wong akeh, dianggep bener. Iki sing ora mung ndadekake padha keblinger, nanging uga banjur nglairake mentalitas “massa”, massa sing kelangan daya kritise nalika ngadhepi apa wae. Bisane mung anut grubyug sanadyan ora ngerti rembug, kaya belo melu seton.


    Kanthi pratelan sing luwih plastis, “malah mangkin andadra, rubeda kang ngreribedi, beda-beda ardane wong sanagara.”Banjur, yen kabeh padha rebut ngarep lan nyuwara sabanter-bantere, satemah dadi uru-ara, apa sing luwih prayoga ditindakake amrih ora karoban ing pawarta lolawara?…

  • Kaya sing diandharake ing ngarep, temene saben agama wis nuduhake dalan kanggo ngadhepi saben uru-ara lan kahanan sing dibeberake. Saben kapitayan wis nuduhake cara kanggo narik dhiri saka salah kaprah sing dadi keblinger kolektif iki.
    Kanthi mapanake Kalatidha minangka pancadan, ya kahanan sing kaya mangkono iku kang banjur ndadekake sapa wae sing isih kedunungan jiwa “parameng kawi”, bakal “kawileting tyas malatkung”. Sebab keperiye olehe ora, yen “tidhem tandhaning dumadi, ardayengrat dening karoban rubeda”. Banjur kudu kepriye? “Sageda sabar santosa, mati sajroning ngaurip,” pratelane Kalatidha kaya-kaya asung pawangsulan….
  • Petruk Tralala mbeber kloso amoh, melu sinau rek..!! ben rodo wasis..

    Sugeng ndalu poro kadang kinasih…nuwun
  • Prima Selindo mugi sedoyo kadhang kinasih tansah pinaringan rahayu wilujeng..monggo kito lajenga ken..
  • Bunda Lia Kang Petruk… kok njih nembe rawuh….
  • Prima Selindo Kanthi mangkono, diajab bisa “kalis ing reh aru-ara, murka angkara sumingkir, tarlen meleng malatsih, sanityasa tyas mamasuh, badharing sapudhendha, antuk mayar sawatawis.”

    Masterpiece-e Ranggawarsita mau wis mratelakake, “wahyaning arda rubeda, ki pujangga amengeti”. Kepriye cak-cakane? Mesu cipta mati raga, mudhar warananing gaib.
  • Sakeplasan, tetembungan mau ora gampang disumurupi dening wong akeh. Nanging intine cetha: ngresiki batin saka pikiran-pikiran ala, lan meper sakehing karep kanthi “mateni” raga. Kanthi “mesu cipta”, rasa lan karsane mesthi dadi positif. Kathi mateni raga, bakal saya sentosa batine. Kanthi mateni raga, kanthi mati sajroning urip, mengkone bakal bisa nggayuh urip sajroning pati. Yen wis bisa mengkono, nadyan kudu ngadhepi ura-ara kaya ngapa wae mesthi ora bakal gampang kelune…..Kanthi mangkono uga, ora bakal angel anggone meruhi “sasmitaning sakalir”. Persis kaya sing diandharake ing Kalatidha: “ruweding sarwa pakewuh, wiwaling kang warana, dadi badaling Hyang Widdhi, amedharken paribawaning bawana.”
    Bebanda..
    Rekadaya nggayuh sepining hawa, satemah kuwawa ngadhepi uru-ara, dudu tanpa pepalang. Gedhene melik lan ora ngrumangsani marang jejere dhewe, mujudake pepalang sing gedhe. Tetembungan “melik barang kang melok” mujudake pepeling supaya wong ora kebanda dening pepinginane dhewe. Sebab, pepenginan iku sing tundhone bakal njurung marang tumindak apa wae. Mergane, melik nggendhong lali. Yen wis kedunungan melik, adhakane banjur lali marang sakabehing pepacuh lan pitutur.
    Kontrol dhiri, temene uga bisa ditindakake kanthi “ngilo githoke dhewe”. Paradoks kesane. Sebab, ing tata lair, piye bisane wong ngilo marang githoke dhewe yen ora nganggo kaca pengilon rangkep. Angel, nanging ora ateges mokal. Iki uga perangan sing ora bisa ditinggalake jroning nyepi. Sacara internal, pancen kudu sentosa, lagi bisa ngambah njaba…
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Monggo Ibunda.. Kalajengaken..
  • Petruk Tralala Nembe dugi ngayahi pakaryan, bund..monggo dipun lajengaken, ugi kangmas Agung, sumonggo dipun wedar…
  • Prima Selindo
    ..
  • Prima Selindo
  • Gegayutan karo melik, Wedhatama asung pepeling, mligine sing (kudune) wis ngancik tataraning kadewasan: wis tuwa arep ngapa, muhung mahas ing ngasepi, supyantuk parmaning Suksma.
    Tuwa pancen mung tibaning umur. Yen ora sinartan pangudi, sing ana mung “sepa sepi lir sepah samun”. Kosokbaline, yen nglungguhi marang sepuhe, mesthi sepuh kuwi dadi sepining hawa…
    Pancen, nyepi ora kandheg ing tata lair wae. Yen biyen, supaya bisa nyentosakake budi, kudu kanthi ngambah laladan sepi utawa teteki, mlebu guwa sirung munggah gunung. Nanging saiki, kudu bisa nyepi jroning krameyan, bisa tapa ngrame. Apa maneh prasyarate? Mangasah mingising budi, memasuh malaning bumi! Marang diri pribadine, kudu wani nglantipake cipta, rasa, lan karsanane. Kanthi mangkono ora ulap marang sakabehing kang dumadi, ora gampang keguh marang sawernane kahanan. Ora keli, nanging saora-orane ngeli….. Beberangen karo kuwi ora bakal wedi marang kahanan kang dumadi. Ora wedi ora ateges ngawur, ora ateges nekad, nanging wis linambaran sepining hawa, ora melik maneh marang kang melok jalaran wis mati sajroning ngaurip ..
    Arti kalimat Songgo Buwono
    Kita Sangga Bumi ini dengan kedua tangan yang lemah dengan harapan kita mampu menjunjung tinggi Bumi Pertiwi yang kita cintai dengan harapan menunaikan Amanat YME untuk menjaga, merawat, dan menyayangi Bumi ini beserta Isinya yang bermacam-macam makna yang terkandung didalam Bumi. Kita harus dapat menerima dengan kedua tangan kita yang lemah ini dengan beraneka ragam masalah, problema, perkara, cobaan, terpaan badai, fitnah, keangkara murkaan, perselisihan dll. Kita sebagai Pemilik Lambang Logo ini harus siap menerima resiko baik maupun buruk tetap kita terima dengan hati bagaikan Samodra.

    Dan kita sebagai Supranatural hanya mampu menengadahkan tangan memohon pada YME untuk meminta Keridho”an NYA agar tangan kami mampu membantu sesamanya dalam doa maupun jasa-jasa kami dengan tulus ikhlas.
  • Prima Selindo
  • Bunda Lia Motto Songgo Buwono
    Mamasuh Malaning Bumi, Mangasah Mingising Budi.
    Yang artinya :
    Membasuh Lukanya Bumi, Mengasah Tajamnya Budi.
    Tidak ada Hal yang Mustahil apapun dapat terjadi karena Manusia memiliki kemampuan yang luar biasa. Untuk menjelmakan suatu keinginan menjadi kenyataan.

    Pedoman Songgo Buwono
    Kita harus mampu membangkitkan suatu keinginan menjadi kenyataan. Karena kita memiliki harapan besar yang harus kita wujudkan. Dengan ilmu-ilmu yang kita miliki dan dengan kemampuan yang ada dalam diri kita. Tak ada satupun yang dapat menghalangi semua yang menjadi keinginan kita. Asal kita ikhlas dalam segala hal dan tindakan, dan sertailah dengan niat yang ikhlas terpuji.
    Allah Humma. Amin….
  • Prima Selindo amien..diajeng ayu…..
  • Prima Selindo mongo sinambi nyruput wedhang kopi..mireng aken..tembang caping nggunung..utawi jineman uler kambang…hm …supados tambah gayeng……mpun kesupe…udut jisam so..utawi rokok klobot sarung jagung…sarwo suwung jagad agung…hehe……
  • Sang Iblis Amin Amin Amin Allahuma Aminnnn….
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Semoga Songgo Buwono bs ttp sperti Akar Ibunda.. Bs menjalar, menrobos, dan jg bs menghancurkan, menjalar: bs mengayomi sesama, menrobos: dr sgala rintangan, menghancurkan: dr sgala kbatilan dan akhirnya bs membuat ktentraman pd sesama.
  • Satyo Aji Sanjaya Alhamdulillah,… smua sudah terurai secara jelas,… tinggal kiat2/ cara2 Jitu yg bermanfaat guna mewujudkan tujuan dr perjuangan ini, demi Bendera Songgo Buwono agar ttp tegar berkibar. smoga mendptkn dukungan berbagai pihak. Amiien. (ijin badhe leyeh2 rumiyin, sinambi ngopi+Udut Sampoerna,…) @Salam.
  • Bunda Lia Salah satu yang kita pelajari adalah….Wedhatama merupakan ajaran luhur untuk membangun budi pekerti dan olah spiritual bagi kalangan raja-raja Mataram, tetapi diajarkan pula bagi siapapun yang berkehendak menghayatinya. Wedhatama menjadi salah satu dasar penghayatan bagi siapa saja yang ingin “laku” spiritual dan bersifat universal lintas kepercayaan atau agama apapun. Karena ajaran dalam Wedhatama bukan lah dogma agama yang erat dengan iming-iming surga dan ancaman neraka, melainkan suara hati nurani, yang menjadi “jalan setapak” bagi siapapun yang ingin menggapai kehidupan dengan tingkat spiritual yang tinggi. Mudah diikuti dan dipelajari oleh siapapun, diajarkan dan dituntun step by step secara rinci. Puncak dari “laku” spiritual yang diajarkan serat Wedhatama adalah; menemukan kehidupan yang sejati, lebih memahami diri sendiri, manunggaling kawula-Gusti, dan mendapat anugrah Tuhan untuk melihat rahasia kegaiban ( dapat mengintip rahasia langit).
  • Bunda Lia Serat yang berisi ajaran tentang budi pekerti atau akhlak mulia, digubah dalam bentuk tembang agar mudah diingat dan lebih “membumi”. Sebab sebaik apapun ajaran itu tidak akan bermanfaat apa-apa, apabila hanya tersimpan di dalam “menara gadhing” yang megah.Kami sangat bersukur kepada Gusti Allah, dan berterimakasih sebesar-besarnya kepada Eyang-eyang Gusti dan para Ratu Gung Binatara yang telah njangkung lan njampangi kami dalam membedah dan medhar ajaran luhur ini, sehingga dengan “laku” yang sangat berat dapat kami susun dalam bahasa Nasional. Karena keterbatasan yang ada pada kami, mudah-mudahan tidak mengurangi makna yang terkandung di dalamnya. Tanpa adanya kemurahan Gusti Allah dan berkat doa restu dari para leluhur agung yang bijaksana, kami menyadari sungguh sulit rasanya, memahami dan menjabarkan kawruh atau pitutur yang maknanya persis sama sebagaimana teks aslinya. Mudah-mudahan hakikat yang tersirat di dalam pelajaran ini dapat diserap secara mudah oleh para pembaca yang budiman. Harapan saya mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang agama dan kepercayaannya. Bagi siapapun yang lebih winasis pada sastra Jawa. Mudah-mudahan para kadang, dapat saran kepada saya.
  • Bunda Lia 1.Mingkar mingkuring angkara,
    Akarana karanan mardi siwi,
    Sinawung resmining kidung,
    Sinuba sinukarta,
    Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung
    Kang tumrap neng tanah Jawa,
    Agama ageming aji. Meredam nafsu angkara dalam diri,
    Hendak berkenan mendidik putra-putri
    Tersirat dalam indahnya tembang,
    dihias penuh variasi,
    agar menjiwai hakekat ilmu luhur,
    yang berlangsung di tanah Jawa (nusantara)
    agama sebagai “pakaian” kehidupan.
    2.Jinejer neng Wedatama
    Mrih tan kemba kembenganing pambudi
    Mangka nadyan tuwa pikun
    Yen tan mikani rasa,
    yekti sepi asepa lir sepah, samun,
    Samangsane pasamuan
    Gonyak ganyuk nglilingsemi. Disajikan dalam serat Wedhatama,
    agar jangan miskin pengetahuan
    walaupun sudah tua pikun
    jika tidak memahami rasa sejati (batin)
    niscaya kosong tiada berguna
    bagai ampas, percuma sia-sia,
    di dalam setiap pertemuan
    sering bertindak ceroboh memalukan
  • Bunda Lia 3.Nggugu karsaning priyangga,
    Nora nganggo peparah lamun angling,
    Lumuh ing ngaran balilu,
    Uger guru aleman,
    Nanging janma ingkang wus waspadeng semu
    Sinamun ing samudana,
    Sesadon ingadu manis Mengikuti kemauan sendiri,
    Bila berkata tanpa dipertimbangkan (asal bunyi),
    Namun tak mau dianggap bodoh,
    Selalu berharap dipuji-puji.
    (sebaliknya) Ciri orang yang sudah memahami (ilmu sejati) tak bisa ditebak
    berwatak rendah hati,
    selalu berprasangka baik.
    4.Si pengung nora nglegawa,
    Sangsayarda deniro cacariwis,
    Ngandhar-andhar angendhukur, Kandhane nora kaprah,
    saya elok alangka longkanganipun,
    Si wasis waskitha ngalah,
    Ngalingi marang si pingging. (sementara) Si dungu tidak menyadari,
    Bualannya semakin menjadi jadi,
    ngelantur bicara yang tidak-tidak,
    Bicaranya tidak masuk akal,
    makin aneh tak ada jedanya.
    Lain halnya, Si Pandai cermat dan mengalah,
    Menutupi aib si bodoh.
  • Bunda Lia 5-Mangkono ngelmu kang nyata,
    Sanyatane mung weh reseping ati,
    Bungah ingaran cubluk,
    Sukeng tyas yen denina,
    Nora kaya si punggung anggung gumrunggung
    Ugungan sadina dina
    Aja mangkono wong urip. Demikianlah ilmu yang nyata,
    Senyatanya memberikan ketentraman hati,
    Tidak merana dibilang bodoh,
    Tetap gembira jika dihina
    Tidak seperti si dungu yang selalu sombong,
    Ingin dipuji setiap hari.
    Janganlah begitu caranya orang hidup.
    6-Urip sepisan rusak,
    Nora mulur nalare ting saluwir,
    Kadi ta guwa kang sirung,
    Sinerang ing maruta,
    Gumarenggeng anggereng
    Anggung gumrunggung,
    Pindha padhane si mudha,
    Prandene paksa kumaki. Hidup sekali saja berantakan,
    Tidak berkembang, pola pikirnya carut marut.
    Umpama goa gelap menyeramkan,
    Dihembus angin,
    Suaranya gemuruh menggeram,
    berdengung
    Seperti halnya watak anak muda
    masih pula berlagak congkak.
  • Ayu Dewi Lestari Selamat malam Mama,,,,,,SONGGO BUWONO,,akan selalu berkibar sampai Akhir zaman,,,,amin,,,
  • Ayu Dewi Lestari Selamat malam mas jeans,,mas agung,om abdullah,,,salam kasihku selalu
  • Bunda Lia 7-Kikisane mung sapala,
    Palayune ngendelken yayah wibi,
    Bangkit tur bangsaning luhur,
    Lha iya ingkang rama,
    Balik sira sarawungan bae durung
    Mring atining tata krama,
    Nggon anggon agama suci. Tujuan hidupnya begitu rendah,
    Maunya mengandalkan orang tuanya,
    Yang terpandang serta bangsawan
    Itu kan ayahmu !
    Sedangkan kamu kenal saja belum,
    akan hakikatnya tata krama
    dalam ajaran yang suci
    8-Socaning jiwangganira,
    Jer katara lamun pocapan pasthi,
    Lumuh asor kudu unggul,
    Semengah sesongaran,
    Yen mangkono keno ingaran katungkul,
    Karem ing reh kaprawiran,
    Nora enak iku kaki. Cerminan dari dalam jiwa raga mu,
    Nampak jelas walau tutur kata halus,
    Sifat pantang kalah maunya menang sendiri
    Sombong besar mulut
    Bila demikian itu, disebut orang yang terlena
    Puas diri berlagak tinggi
    Tidak baik itu nak !
  • Bunda Lia 9-Kekerane ngelmu karang,
    Kekarangan saking bangsaning gaib,
    Iku boreh paminipun,
    Tan rumasuk ing jasad,
    Amung aneng sajabaning daging kulup,
    Yen kapengok pancabaya,
    Ubayane mbalenjani. Di dalam ilmu yang dikarang-karang (sihir/rekayasa)
    Rekayasa dari hal-hal gaib
    Itu umpama bedak.
    Tidak meresap ke dalam jasad,
    Hanya ada di kulitnya saja nak
    Bila terbentur marabahaya,
    bisanya menghindari.
    10-Marma ing sabisa-bisa,
    Bebasane muriha tyas basuki,
    Puruita-a kang patut,
    Lan traping angganira,
    Ana uga angger ugering kaprabun,
    Abon aboning panembah,
    Kang kambah ing siyang ratri. Karena itu sebisa-bisanya,
    Upayakan selalu berhati baik
    Bergurulah secara tepat
    Yang sesuai dengan dirimu
    Ada juga peraturan dan pedoman bernegara,
    Menjadi syarat bagi yang berbakti,
    yang berlaku siang malam.
  • Bunda Lia 11-Iku kaki takok-eno,
    marang para sarjana kang martapi
    Mring tapaking tepa tulus,
    Kawawa nahen hawa,
    Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu
    Tan mesthi neng janma wredha
    Tuwin mudha sudra kaki. Itulah nak, tanyakan
    Kepada para sarjana yang menimba ilmu
    Kepada jejak hidup para suri tauladan yang benar,
    dapat menahan hawa nafsu
    Pengetahuanmu adalah senyatanya ilmu,
    Yang tidak harus dikuasai orang tua,
    Bisa juga bagi yang muda atau miskin, nak !
    12- Sapantuk wahyuning Gusti Allah,
    Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit,
    Bangkit mikat reh mangukut,
    Kukutaning jiwangga,
    Yen mengkono kena sinebut wong sepuh,
    Lire sepuh sepi hawa,
    Awas roroning atunggil Siapapun yang menerima wahyu Tuhan,
    Dengan cermat mencerna ilmu tinggi,
    Mampu menguasai ilmu kasampurnan,
    Kesempurnaan jiwa raga,
    Bila demikian pantas disebut “orang tua”.
    Arti “orang tua” adalah tidak dikuasai hawa nafsu
    Paham akan dwi tunggal (menyatunya sukma dengan Tuhan)
  • Bunda Lia 13- Tan samar pamoring sukma, Sinuksmaya winahya ing ngasepi,
    Sinimpen telenging kalbu,
    Pambukaning warana,
    Tarlen saking liyep layaping aluyup,
    Pindha pesating sumpena,
    Sumusuping rasa jati. Tidak lah samar sukma menyatu
    meresap terpatri dalam keheningan semadi,
    Diendapkan dalam lubuk hati
    menjadi pembuka tabir,
    berawal dari keadaan antara sadar dan tiada
    Seperti terlepasnya mimpi
    Merasuknya rasa yang sejati.
    14-Sejatine kang mangkana,
    Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi,
    Bali alaming ngasuwung,
    Tan karem arameyan,
    Ingkang sipat wisesa winisesa wus, Mulih mula ulanira. Mulane wong anom sami. Sebenarnya ke-ada-an itu merupakan anugrah Tuhan,
    Kembali ke alam yang mengosongkan,
    tidak mengumbar nafsu duniawi,
    yang bersifat kuasa menguasai. Kembali ke asal muasalmu
    Oleh karena itu,
    wahai anak muda sekalian…
    (lanjut ke SINOM)

    TAPI LANJUTANYA BESOK YA KARENA BELUM AKU TERJEMAHKAN DALAM BAHASA INDONESIA…. JADI SAMAPAI JUMPA BESOK DENGAN SINOM. Demikian dulu karena aku lelah mohon ijin off. sampai jumpa besok malam lagi. Akhir kata aku ucapkan banyak terimakasih …. Wass.
  • Prima Selindo wah sinom….ya diajeng…he he…
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ salam kangen semua, jalan menuju ke mari macet total, apa kabar semuanya? heheheheee
  • Prima Selindo Wong a-yu pe-pu-ja ning-wang

    Pan-cen su-lis-tya sa-yek-ti

    Kas-ma-ran ing-sun mring si-ra

    Gan-dhes lu-wes me-rak -ati

    A-nggan-da rum lir mla-thi

    Ga-we bran-ta ati-ning sun

    Gu-mrung-gung jro-ning dri-ya

    Tan-sah ka-pang si-yang ra-tri

    Duh ku-su-ma sun se-su-wun se-dya-nira

    ..
  • Prima Selindo sedikit cuplikan tentang sinom..
  • Prima Selindo sampun titi wancinipun MAHENING SUCI DIAJENG AYU…monggo…sedoyo ke mawon bade pamit undur sak wetawis….rahayu..nuwun..
  • Bunda Lia Ha ha ha ha ha la piye kang….
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ he bubar ! bubar ! *KATA KANG BARIDIN PAKE SERAGAM SATPOL PP
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ Kangdullah,,, masih ono ijehan kopi po ora kang?
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ yo wis aku mulih neh,,, *BARI KERODONGAN SARUNG TERUS NGELEOS PERGI, TERUS LARI, TERUS,,,
  • Bunda Lia Mas Mukhtar……
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ iya Diajeng,,,ada apa ya? *SAMBIL BUKA SARUNG YG NUTUPIN KEPALA
  • Bunda Lia Kang Dullah we wis digawekke kopi duyung?
  • Ayu Dewi Lestari Om dullah,,,,lha om mukthar pakai paksa,,,jadi ya ikut,,wkwkkw
  • Ayu Dewi Lestari Hadir di sini Mama,,,,,temani Mama
  • Bunda Lia Kangen ki karo Nata…
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ yo wis kopi opo wae lah,,, *SAMBIL DUDUK DI SAMPING KANG SODRON SERAYA MENGALUNGKAN SARUNG
  • Bunda Lia Kang Dullah say aku pingin botok sing pedes ki kang.
  • Bunda Lia Gadisku mama kangen ki piye?
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ ooooo gitu ya, katanya sih, hape Kang Nata sdgn erorr, terus sore tadi kumpulan pengobeng,,,*JWB KANG BARIDIN MESEM
  • Ayu Dewi Lestari Mama,,,aku kangen sekli,,,,,,hik hik,,,pingin meluk Mama,,,,
  • Bunda Lia Kang ngerti ora kompiuterku eror iki gawe hp. Kok yo gantian, ha ha wis jiaaaaaannnn mboiisssss tenan kang senasib seperjuangan ha ha ha
  • Ayu Dewi Lestari Om mukathar,,,,ayo keliling kampung,,,,,,,,ha ha ha,,,,,
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ siap cantik, jangan ajak om Dullah ya Dis? wkwkwkwkwkwkk
  • Ayu Dewi Lestari Om dullah,,,gak di perkosa,,,,tapi di paksa suruh pakai seragan hansip,,ha ha,,pak baridin lgi jaga malam,,,,
  • Ayu Dewi Lestari Aduh Mama,,,kok ya sama ya,,,,
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ tadi sore Kang Nata mau masuk, tapi HPnya erorr, kasihan dia, wkwkwkwkwkwkkk
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ Dis, siapin kopi buat ronda keliling kampungnya, biar kita ga masuk angin, nanti om Baridin yg bawa, heheheheee
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ nek ora di pekso yo ora iso nganaki Kang Sodron, iki piye to? wkwkwkwkwkwk
  • Ayu Dewi Lestari Ha ha ha,,iya om mukhtar,,om dullah ada tugas petik kelzpa buat botok,,,,,he he,,,
  • Ayu Dewi Lestari Kopi udah bikin om mukhtar,,,tinggal bawa
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ Lhooo iki piye Dis, nek aku ronda ya ora iso manek kelapa dis, wkwkwkwkwk
  • Kakang Prabu Anom @Kang Mas Abdullah: To Be Continue… hehehe
  • Kakang Prabu Anom @Gadis: kopi juga dong…
    @Ang Mukhtar: rokona atuh ang…
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ niiih,,,*BARI NGASIHKAN 234 MASIH SEGELAN DAN BARU BANGET
  • Ayu Dewi Lestari Om mukhtar@ ha ha ha,,,tenang,,,serahkan saja sama om abdulllah,,,,
    Kakang prabu@ selamat malam,,,segera di buatkan,,,,
  • Kakang Prabu Anom @Ang Mukhtar: nuhun ang heheheh
    @Gadis: sip.. hatur nuhu.
    @Kang Mas Abdullah: kang mas Abdullah kemana ya? ayo temenin jalan2 keliling malioboro hehehe..
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ Dis, kita ronda jangan di sini yuk, takut ganggu om Dullah yg sdg tidur, ayo keliling kampung,,,*SAMBIL GANDENG TANGAN
  • Ayu Dewi Lestari Kakang prabu@ sama2,,,kakang
    Om mukhtar@ om dullah gk tidur,,,tapi lagi panjat kelapa,,ha ha ha,,,tngak lagi pegang belati om,.gak bergandandengan
  • Ariyo Hadiwijoyo Berkibarlah wahai bendera…diiringi para bintang apbla malam…dihiasi sang mentari dpagi hri …kerapuhan tiang bukan mslh…sllu ada tiang2 sbg pemancang…brsinarlah dmi niat nan tulus…rahayu malam dlm salam.
  • Wisang Geni Fajar yang indah…. dengan harapan yang senantiasa akan terwujud…… terjaga….. terlindungi….. dan TIANG itu akan tetap berdiri……. selaksa MERCUSUAR…….
    semoga rayap2 itu akan menyingkir dengan kuasa dan kehendak tuhan…… rahayu….. rahayu…. rahayu….
  • Bunda Lia SINOM (Sembah Cipta/Kalbu/Tarekat)
    15.Nulada laku utama
    Tumrape wong Tanah jawi,
    Wong agung ing Ngeksiganda,
    Panembahan Senopati,
    …Kepati amarsudi,
    Sudane hawa lan nepsu,
    Pinepsu tapa brata,
    Tanapi ing siyang ratri,
    Amamangun karyenak tyasing sesama. Contohlah perilaku utama,
    bagi kalangan orang Jawa (Nusantara),
    orang besar dari Ngeksiganda (Mataram),
    Panembahan Senopati,
    yang tekun, mengurangi hawa nafsu, dengan jalan prihatin (bertapa),
    serta siang malam
    selalu berkarya membuat hati tenteram bagi sesama (kasih sayang)
    16.Samangsane pasamuan, mamangun marta martani,
    Sinambi ing saben mangsa,
    Kala kalaning asepi,
    Lelana teki-teki,
    Nggayuh geyonganing kayun,
    Kayungyun eninging tyas,
    Sanityasa pinrihatin,
    Puguh panggah cegah dhahar lawan nendra. Dalam setiap pergaulan,
    membangun sikap tahu diri.
    Setiap ada kesempatan,
    Di saat waktu longgar,
    mengembara untuk bertapa,
    menggapai cita-cita hati,
    hanyut dalam keheningan kalbu.
    Senantiasa menjaga hati untuk prihatin (menahan hawa nafsu),
    dengan tekad kuat, membatasi makan dan tidur.
  • Bunda Lia 17.Saben mendra saking wisma,
    Lelana lalading sepi,
    Ngingsep sepuhing supana,
    Mrih pana pranaweng kapti,
    Tis tising tyas marsudi,
    Mardawaning budya tulus,
    Mesu reh kasudarman,
    Neng tepining jalanidhi,
    Sruning brata kataman wahyu dyatmika. Setiap mengembara meninggalkan rumah (istana),
    berkelana ke tempat yang sunyi (dari hawa nafsu),
    menghirup tingginya ilmu,
    agar jelas apa yang menjadi tujuan (hidup) sejati.
    Hati bertekad selalu berusaha dengan tekun,
    memperdayakan akal budi
    menghayati cinta kasih,
    ditepinya samudra.
    Kuatnya bertapa diterimalah wahyu dyatmika (hidup yang sejati).
    18.Wikan wengkoning samodra,
    Kederan wus den ideri,
    Kinemat kamot hing driya,
    Rinegan segegem dadi,
    Dumadya angratoni,
    Nenggih Kangjeng Ratu Kidul,
    Ndedel nggayuh nggegana,
    Umara marak maripih,
    Sor prabawa lan wong agung Ngeksiganda Memahami kekuasaan di dalam samodra seluruhnya sudah dijelajahi,
    “kesaktian” melimputi indera
    Ibaratnya cukup satu genggaman saja sudah jadi, berhasil berkuasa,
    Kangjeng Ratu Kidul,
    Naik menggapai awang-awang,
    (kemudian) datang menghadap dengan penuh hormat,
    kepada Wong Agung Ngeksigondo.
  • Bunda Lia 19.Dahat denira aminta,
    Sinupeket pangkat kanthi,
    Jroning alam palimunan, ing pasaban saben sepi,
    Sumanggem anyanggemi,
    Ing karsa kang wus tinamtu,
    Pamrihe mung aminta,
    Supangate teki-teki,
    Nora ketang teken janggut suku jaja. Memohon dengan sangat lah beliau,
    agar diakui sebagai sahabat setia, di dalam alam gaib,
    tempatnya berkelana setiap sepi.
    Bersedialah menyanggupi,
    kehendak yang sudah digariskan.
    Harapannya hanyalah meminta
    restu dalam bertapa,
    Meski dengan susah payah.
    20.Prajanjine abipraya,
    Saturun-turuning wuri,
    Mangkono trahing ngawirya,
    Yen amasah mesu budi,
    Dumadya glis dumugi,
    Iya ing sakarsanipun,
    Wong agung Ngeksiganda,
    Nugrahane prapteng mangkin,
    Trah tumerah dharahe padha wibawa. Perjanjian sangat mulia,
    untuk seluruh keturunannya di kelak kemudian hari.
    Begitulah seluruh keturunan orang luhur,
    bila mau mengasah akal budi
    akan cepat berhasil,
    apa yang diharapkan orang besar Mataram, anugerahnya hingga kelak dapat mengalir di seluruh darah keturunannya, dapat memiliki wibawa.
  • Bunda Lia 21. Ambawani tanah Jawa,
    Kang padha jumeneng aji,
    Satriya dibya sumbaga,
    Tan lyan trahing Senopati,
    Pan iku pantes ugi,
    Tinelad labetipun,
    Ing sakuwasanira,
    Enake lan jaman mangkin,
    Sayektine tan bisa ngepleki kuna. Menguasai tanah Jawa (Nusantara),
    yang menjadi raja (pemimpin),
    satria sakti tertermasyhur,
    tak lain keturunan Senopati,
    hal ini pantas pula
    sebagai tauladan budi pekertinya,
    Sebisamu, terapkan di zaman nanti,
    Walaupun tidak bisa
    persis sama seperti di masa silam.
    22. Lowung kalamun tinimbang,
    Ngaurip tanpa prihatin,
    Nanging ta ing jaman mangkya,
    Pra mudha kang den karemi,
    Manulad nelad nabi,
    Nayakengrat gusti rasul,
    Anggung ginawe umbag,
    Saben seba mampir masjid,
    Ngajab-ajab tibaning mukjijat drajat. Mending bila dibanding orang hidup tanpa prihatin,
    namun di masa yang akan datang (masa kini),
    yang digemari anak muda,
    meniru-niru nabi, rasul utusan Tuhan,
    yang hanya dipakai untuk menyombongkan diri,
    setiap akan bekerja singgah dulu di masjid,
    Mengharap mukjizat agar mendapat derajat (naik pangkat).
  • Subagyo Ucok Sorot pandangan tajam bagai elang focus pada titik sasaran,langkah srikandi memimpin pandawa membedah benteng kebuntuan,pataka dikibarkan menembus belantara sifat kedunian menuju satu tekat menyangga jati diri pribadi manusia sejati.ingin ku seperti menemukan diriku sendiri dalam kekosongan jiwa menggapai tangan saudara, oh…angin rungokeno,arep kulo kirim gondo sing wangi,arep kulo kirim gending, nawita biso,ademeno ati isun kulo.
  • Bunda Lia Serat Wedhatama (asal kata dalam bahasa Jawa; Wredhatama) merupakan salah satu karya agung pujangga sekaligus seniman besar pencipta berbagai macam seni tari (beksa) dan tembang. Wayang orang, wayang madya, pencipta jas Langendriyan (sering digunakan sebagai pakaian pengantin adat Jawa/Solo). Beliau adalah enterpreneur sejati yang sangat sukses memakmurkan rakyat pada masanya dengan membangun pabrik bungkil, pabrik gula Tasikmadu dan Colomadu di Jateng (1861-1863) dengan melibatkan masyarakat, serta perkebunan kopi, kina, pala, dan kayu jati di Jatim dan Jateng. Masih banyak lagi, termasuk merintis pembangunan Stasiun Balapan di kota Solo. Beliau juga terkenal gigih dalam melawan penjajahan Belanda. Hebatnya, perlawanan dilakukan cukup melalui tulisan pena, sudah cukup membuat penjajah mundur teratur. Cara inilah menjadi contoh sikap perilaku utama, dalam menjunjung tinggi etika berperang (jihad a la Kejawen); “nglurug tanpa bala” dan “menang tanpa ngasorake”. Kemenangan diraih secara kesatria, tanpa melibatkan banyak orang, tanpa makan korban pertumpahan darah dan nyawa, dan tidak pernah mempermalukan lawan. Begitulah kesatria sejati’
  • Prima Selindo sugeng sumunaring condro ..ing wayah ratri ..ingkang tansah hamadhangi jagad gumelar sagung dumadi…salam ugi katur dumateng poro sepuh lan pinisepuh ,kakung wiwah putri ..poro wasis kang sidiq ing paningal ..ingkang sami lenggah ing paseban ….diajeng ayu…salam katresnan,,…rahayu sagung dumadi……
  • Bunda Lia Selain terkenal kepandaiannya akan ilmu pengetahuan, juga terkenal karena beliau tokoh yang amat sakti mandraguna. Beliau terkenal adil, arif dan bijaksana selama dalam kepemimpinannya. Beliau adalah Ngarsa Dalem Ingkang Wicaksana Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Sri Mangkunegoro IV. Raja di keraton Mangkunegaran Solo. Berkat “laku” spiritual yang tinggi beliau diketahui wafat dengan meraih kesempurnaan hidup sejati dalam menghadap Tuhan Yang Mahawisesa; yakni “warangka manjing curiga” atau meraih kamuksan; menghadap Gusti (Tuhan) bersama raganya lenyap tanpa bekas.
    Wedhatama merupakan ajaran luhur untuk membangun budi pekerti dan olah spiritual bagi kalangan raja-raja Mataram, tetapi diajarkan pula bagi siapapun yang berkehendak menghayatinya….
    Baik saya teruskan lagi bait sinom Ke 23 .
  • Kozink Saputra injih bunda..kulo tk nderek nyimak njeh bun…
  • Prima Selindo Sinom

    Ateges kanoman, minangka kalodhangan sing paling penting kanggone won anom supaya bisa ngangsu kawruh sak akeh-akehe…
  • Subagyo Ucok Letih sepanjang hari tadi menyisir lembar pantai senggigi,berujung di rinjani,tidak ada laba yang di dapat,hanya aku merasa,betapa rapuhnya fisikku menjelajah luas bumi yang kuasa.yang akhirnya saudarakulah yang menghantar luasnya hati tanpa aku berinjak dari kursi.salam rahayu bunda Lia salam mituhu raos sangking Adi Subagyo taman=madiun.ugi poro sedulur sedoyo sugeng ndalu ,…..
  • Bunda Lia MAS KOZINK nyimaknya dari awal njih mas… pas ada waktu buat bacaan njih…. siapa tau pas dihati… dipakai…OK….

    23. Anggung anggubel sarengat,
    Saringane tan den wruhi,
    Dalil dalaning ijemak,
    Kiyase nora mikani,
    Ketungkul mungkul sami,
    Bengkrakan mring masjid agung,
    Kalamun maca kutbah,
    Lelagone Dandanggendis,
    Swara arum ngumandhang cengkok palaran Hanya memahami sariat (kulitnya) saja, sedangkan hakekatnya tidak dikuasai,
    Pengetahuan untuk memahami makna dan suri tauladan tidaklah mumpuni
    Mereka lupa diri, (tidak sadar)
    bersikap berlebih-lebihan di masjid besar,
    Bila membaca khotbah
    berirama gaya dandanggula (menghanyutkan hati),
    suara merdu bergema gaya palaran (lantang bertubi-tubi).
    24. Lamun sira paksa nulad,
    Tuladhaning Kangjeng Nabi,
    O, ngger kadohan panjangkah,
    Wateke tan betah kaki,
    Rehne ta sira Jawi,
    Sathithik bae wus cukup,
    Aywa guru aleman,
    Nelad kas ngepleki pekih,
    Lamun pangkuh pangangkah yekti karahmat. Jika kamu memaksa meniru,
    tingkah laku `Kanjeng Nabi,
    Oh, nak terlalu naif,
    Biasanya tak akan betah nak,
    Karena kamu itu orang Jawa,
    sedikit saja sudah cukup.
    Janganlah sekedar mencari sanjungan,
    Mencontoh-contoh mengikuti fiqih,
    apabila mampu,
    memang ada harapan mendapat rahmat.
  • Prima Selindo Mumpung anom marsudiya,
    Alandhesan budi suci,
    Denya manembah Hyang Suksma,
    Yekti yuwana sakalir,
    Asih tresna sasami,
    Pan iku dadi wotipun,
    Adoh marang kanisthan,
    Ing janji tan mbalenjani,
    Tatag tangguh, saguh ing sabarang karya…
  • Bunda Lia 25. Naging enak ngupa boga,
    Reh ne ta tinitah langip,
    Apata suweting Nata,
    Tani tanapi agrami,
    Mangkono mungguh mami,
    Padune wong dahat cubluk,
    Durung wruh cara arab,
    Jawaku wae tan ngenting,
    Parandene paripaksa mulang putra. Tetapi seyogyanya mencari nafkah,
    Karena diciptakan sebagai makhluk lemah,
    Apakah mau mengabdi kepada raja,
    Bercocok tanam atau berdagang,
    Begitulah menurut pemahamanku,
    Sebagai orang yang sangat bodoh,
    Belum paham cara Arab,
    Tata cara Jawa saja tidak mengerti,
    Namun memaksa diri mendidik anak.
    26. Saking duk maksih taruna,
    Sadhela wus anglakoni,
    Aberag marang agama,
    Maguru anggering kaji,
    Sawadine tyas mami,
    Banget wedine ing mbesuk,
    Pranatan ngakir jaman,
    Tan tutug kaselak ngabdi,
    Nora kober sembahyang gya tinimbalan. Dikarenakan waktu masih muda,
    Keburu menempuh belajar pada agama,
    Berguru menimba ilmu pada yang haji, maka yang terpendam dalam hatiku, menjadi
    sangat takut akan hari kemudian,
    Keadaan di akhir zaman,
    Tidak tuntas keburu “mengabdi”
    Tidak sempat sembahyang terlanjur dipanggil.
  • Kozink Saputra injih bunda..semuanya..emng sdh terjadi..d zmn sekarang ini..byk yg niru gy.dn karakter orang asing..tanpa d sadrinya..sdh kehilangan akn jati diri..[jowo ilang jawane]..sumonggo dipun lajengakeng buda.@kang agung..kulo nyimak mawon jih…
    • Ana jejering narendra,
      satuhu luhuring budi,
      Puspa rengga prajanira,
      Maha Prabu Darmajati,
      Berbudi tresna asih,
      Kang sarta dhemen tetulung,
      Maring sasameng titah,
      Kang gumelar aneng bumi,
      Tresnanira, dikaya badan priyangga..
      Suwawi samya nyurasa,
      Dununging ala lan becik,
      Nenggih wau Sri Narendra,
      Ri soma nedheng tinangkil,
      Kebegan kang sumiwi,
      Marak ngarsane sang prabu,
      Sidhem tanpa sabawa,
      Tan pantara Sri Bupati,
      Kagyat umiat tumenga ing antariksa..
    • Dununging ala lan becik,
      Nenggih wau Sri Narendra,
      Ri soma nedheng tinangkil,
      Kebegan kang sumiwi,
      Marak ngarsane sang prabu,
      Sidhem tanpa sabawa,
      Tan pantara Sri Bupati,
      Kagyat umiat tumenga ing antariksa…
      Mangkana ingkang kacrita,

      Peksi dara ules putih,
      Lumayang amruk ing ngarsa,
      Sarwi sambat minta urip,
      “Mugi gusti paring sih,
      Kawula binujung-bujung,
      Dening si Alap-alap,
      Tan wurung jinuwing-juwing,
      Jasat kula, sumangga karsa paduka…

      Samana dupi miyarsa,
      Sang nata ngandika aris,
      Haywa sira kasamaran,
      Ingsun kang mesa ngayomi,
      Mara ge sira nuli,
      Umpetan mring mburi ningsun,
      Sigra si alap-alap,
      Tan pantara gya nututi,
      Prapteng ngarsa, dinangu dening sang nata..
    • Sang nata ngandika aris,
      Haywa sira kasamaran,
      Ingsun kang mesa ngayomi,
      Mara ge sira nuli,
      Umpetan mring mburi ningsun,
      Sigra si alap-alap,
      Tan pantara gya nututi,
      Prapteng ngarsa, dinangu dening sang nata..
      Sumengka pangawak bajra,
      Boya apa kang wigati,
      Sun sawang mangiwat gita,
      Lap-alap matura nuli,
      Sowan kula ing garsi,
      Sayekti wigatosipun,
      Ngupadi buron kula,
      Peksi dara ules putih,
      Kaparenga samangke arsa sun mangsa…
      Ingsun tan nedya pepalang,
      Marang sapa wae nanging,
      Kawruhana alap-alap,
      Sira iku sak bangsaning,
      Ber-iberan sayekti,
      Tunggal jinis aranipun,
      Opa sira mentala,
      ngolu daginging merpati,
      Karo dene, sira tinitah sentosa….
      Wit sampun watawis lama,
      Kula sakit ngintir-intir,
      Datan pikantuk memangsan,
      Kang sarta anyesep getih,
      Dados sampun sang aji,
      Ngregoni papancinipun,
      Nika kang antuk pangan,
      Daging peksi mung sacuwil,
      Parandene paduka karya rubeda…
      Katimbang si manuk dara,
      Kang sayekti sarwa ringkih,
      Sarta maneh tumrap sira,
      Apa rasa den rigoni,
      Ing salakunireki,
      Iku titah ing Hyang Agung,
      Anom utawa tuwa,
      Wiramba kalawan ringkih,
      Yogya pada migunakna tepa slira…
      Kadi paran karsa nira,
      Lap-alap matura nuli,
      Apa sira maksih cuwa,
      Dene tan sidyantuk daging,
      Mara ge sun lironi,
      Iya daging pupuningsun,
      Sun pagasing samangkya,
      Pada bobote Merpati,
      Ingsun lila legawa trusing wardaya..
      Aduh-aduh gusti kula,
      Tuhu jimat ing sabumi,
      Kang sanyata wus winenang,
      Ngrata jagat nglebur bumi,
      Mung paduka sayekti,
      Mangka dutaning Hyang Agung,
      Kang ngisas sakehing dosa,
      Nenuntun mring tindak becik,
      Duh pukulun, kawula sampun mertobat….
      Sampun mboten kirang cetha,
      Kawula gya minta pamit,
      Mugi tansah pinayungan,
      Salampah kula ing margi,
      Iya ingsun sangoni,
      Mrih raharja salakumu,
      Mangkono sri narendra,
      Sigra manjing ngendra puri,
      Pari purna kanthi tamating carita…
    27. Marang ingkang asung pangan,
    Yen kesuwen den dukani,
    Abubrah kawur tyas ingwang,
    Lir kiyamat saben ari,
    Bot Allah apa Gusti,
    Tambuh tambuh solahingsun,
    Lawas lawas nggraita,
    Rehne ta suta priyayi,
    Yen mamriha dadi kaum temah nistha. Kepada yang memberi makan,
    Jika kelamaan dimarahi,
    Menjadi kacau balau perasaanku,
    Seperti kiyamat saban hari,
    Berat “Allah” atau “Gusti”,
    Bimbanglah sikapku,
    Lama-lama berfikir,
    Karena anak turun priyayi,
    Bila ingin jadi juru doa (kaum) dapatlah nista,
    28. Tuwin ketip suragama,
    Pan ingsun nora winaris,
    Angur baya ngantepana,
    Pranatan wajibing urip,
    Lampahan angluluri,
    Kuna kumunanira,
    Kongsi tumekeng samangkin,
    Kikisane tan lyan amung ngupa boga. begitu pula jika aku menjadi pengurus dan juru dakwah agama.
    Karena aku bukanlah keturunannya,
    Lebih baik memegang teguh
    aturan dan kewajiban hidup,
    Menjalankan pedoman hidup
    warisan leluhur dari zaman dahulu kala hingga kelak kemudian hari.
    Ujungnya tidak lain hanyalah mencari nafkah’


  • Bunda Lia 29.Bonggan kan tan merlok-na,
    Mungguh ugering ngaurip,
    Uripe lan tri prakara,
    Wirya arta tri winasis,
    Kalamun kongsi sepi,
    Saka wilangan tetelu,
    Telas tilasing janma,
    Aji godhong jati aking,
    Temah papa papariman ngulandara. Salahnya sendiri yang tidak mengerti,
    Paugeran orang hidup itu demikian seyogyanya,
    hidup dengan tiga perkara;
    Keluhuran (kekuasaan), harta (kemakmuran), ketiga ilmu pengetahuan.
    Bila tak satu pun dapat diraih dari ketiga perkara itu,
    habis lah harga diri manusia.
    Lebih berharga daun jati kering, akhirnya mendapatlah derita, jadi pengemis dan terlunta.
    30.Kang wus waspadha ing patrap,
    Manganyut ayat winasis,
    Wasana wosing jiwangga,
    Melok tanpa aling-aling,
    Kang ngalingi kalingling,
    Wenganing rasa tumlawung,
    Keksi saliring jaman,
    Angelangut tanpa tepi,
    Yeku ingaran tapa tapaking Hyang Suksma. Yang sudah paham tata caranya,
    Menghayati ajaran utama,
    Jika berhasil merasuk ke dalam jiwa,
    akan melihat tanpa penghalang,
    Yang menghalangi tersingkir,
    Terbukalah rasa sayup menggema.
    Tampaklah seluruh cakrawala,
    Sepi tiada bertepi,
    Yakni disebut “tapa tapaking Hyang Sukma”.
  • Bunda Lia 31. Mangkono janma utama,
    Tuman tumanem ing sepi,
    Ing saben rikala mangsa,
    Masah amemasuh budi,
    Laire anetepi,
    Ing reh kasatriyanipun,
    Susilo anor raga,
    Wignya met tyasing sesami,
    Yeku aran wong barek berag agama. Demikianlah manusia utama,
    Gemar terbenam dalam sepi (meredam nafsu),
    Di saat-saat tertentu,
    Mempertajam dan membersihkan budi,
    Bermaksud memenuhi tugasnya sebagai satria,
    berbuat susila rendah hati,
    pandai menyejukkan hati pada sesama,
    itulah sebenarnya yang disebut menghayati agama.
    32. Ing jaman mengko pan ora,
    Arahe para taruni,
    Yen antuk tuduh kang nyata,
    Nora pisan den lakoni,
    Banjur njujurken kapti,
    Kakekne arsa winuruk,
    Ngandelken gurunira,
    Panditane praja sidik,
    Tur wus manggon pamucunge
    Mring makripat Di zaman kelak tiada demikian,
    sikap anak muda bila mendapat petunjuk nyata,
    tidak pernah dijalani,
    Lalu hanya menuruti kehendaknya,
    Kakeknya akan diajari,
    dengan mengandalkan gurunya,
    yang dianggap pandita negara yang pandai,
    serta sudah menguasai makrifat.

    Ceritanya yang jadi burung merpati itu Bathara Indra, dan yang jadi burung Alap-alap Bethara Bayu. Dua orang Dewa tersebut diperintah untuk menguji Prabu Damarjati yang sebetulnya merupakan titisan dari Barthara Darma yaitu Dewa kebijaksaan dan kesabaran.

    Tidak tahunya bahwa yang namanya Bethara Guru yaitu Ratunya para dewa yang mengusai Suralaya termasuk Dewa yang tidak mudah percaya pada manusia wayang. Lha yang namanya dewa saja susah percaya, apalagi manusia??? Wah terus piye iki… he..

  • Wisang Geni Dandang wiring senjoto,
    Den sworoku ono ing awang uwung,
    senjotoku hyo kidung,
    kidung tan biso tentrem ing pangroso,
    hamengko roso,
    hamengku karso,
    hamengku cipto,
    dalem pasrahaken jiwo rogo kawulo….
    supados kawulo mboten keterak bebendune gusti kang moho kuwoso.
  • Wisang Geni Abdullah Ali setuju kang….. sae… sae… sae…..
  • Bunda Lia Pocung Yen wis dadi layon / mayit banjur dibungkus mori putih utawa dipocong sak durungé dikubur. Tapi iku terusane PUCUNG kok.

    PUCUNG (Sembah Jiwa/Hakekat)
    33. Ngelmu iku
    Kalakone kanthi laku
    Lekase lawan kas
    Tegese kas nyantosani
    Setya budaya pangekese dur angkara Ilmu (hakekat) itu
    diraih dengan cara menghayati dalam setiap perbuatan,
    dimulai dengan kemauan.
    Artinya, kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama,
    Teguh membudi daya
    Menaklukkan semua angkara
    34 Angkara gung
    Neng angga anggung gumulung
    Gegolonganira
    Triloka lekeri kongsi
    Yen den umbar ambabar dadi rubeda. Nafsu angkara yang besar
    ada di dalam diri, kuat menggumpal, menjangkau hingga tiga zaman, jika dibiarkan berkembang akan
    berubah menjadi gangguan.
    35 Beda lamun kang wus sengsem
    Reh ngasamun
    Semune ngaksama
    Sasamane bangsa sisip
    Sarwa sareh saking mardi martatama Berbeda dengan yang sudah menyukai dan menjiwai,
    Watak dan perilaku memaafkan
    pada sesama
    selalu sabar berusaha
    menyejukkan suasana,
    36 Taman limut
    Durgameng tyas kang weh limput
    Karem ing karamat
    Karana karoban ing sih
    Sihing sukma ngrebda saardi pengira Dalam kegelapan.
    Angkara dalam hati yang menghalangi,
    Larut dalam kesakralan hidup,
    Karena temggelam dalam samodra kasih sayang, kasih sayang sukma (sejati) tumbuh berkembang sebesar gunung
    37 Yeku patut tinulat tulat tinurut
    Sapituduhira,
    Aja kaya jaman mangkin
    Keh pra mudha mundhi diri
    Rapal makna Itulah yang pantas ditiru, contoh yang patut diikuti
    seperti semua nasehatku.
    Jangan seperti zaman nanti
    Banyak anak muda yang menyombongkan diri dengan hafalan ayat
    38 Durung becus kesusu selak besus
    Amaknani rapal
    Kaya sayid weton mesir
    Pendhak pendhak angendhak
    Gunaning jalma Belum mumpuni sudah berlagak pintar.
    Menerangkan ayat
    seperti sayid dari Mesir
    Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain.
  • Bunda Lia 39.Kang kadyeku
    Kalebu wong ngaku aku
    akale alangka
    Elok Jawane denmohi
    Paksa langkah ngangkah met
    Kawruh ing Mekah Yang seperti itu
    termasuk orang mengaku-aku
    Kemampuan akalnya dangkal
    Keindahan ilmu Jawa malah ditolak.
    Sebaliknya, memaksa diri mengejar ilmu di Mekah,
    40.Nora weruh
    rosing rasa kang rinuruh
    lumeketing angga
    anggere padha marsudi
    kana kene kaanane nora beda tidak memahami
    hakekat ilmu yang dicari,
    sebenarnya ada di dalam diri.
    Asal mau berusaha
    sana sini (ilmunya) tidak berbeda,
    41.Uger lugu
    Den ta mrih pralebdeng kalbu
    Yen kabul kabuka
    Ing drajat kajating urip
    Kaya kang wus winahya sekar srinata Asal tidak banyak tingkah,
    agar supaya merasuk ke dalam sanubari.
    Bila berhasil, terbuka derajat kemuliaan hidup yang sebenarnya.
    Seperti yang telah tersirat dalam tembang sinom (di atas).
    42.Basa ngelmu
    Mupakate lan panemune
    Pasahe lan tapa
    Yen satriya tanah Jawi
    Kuna kuna kang ginilut tripakara Yang namanya ilmu, dapat berjalan bila sesuai dengan cara pandang kita.
    Dapat dicapai dengan usaha yang gigih.
    Bagi satria tanah Jawa,
    dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni;
  • Bunda Lia 43.Lila lamun kelangan nora gegetun
    Trima yen ketaman
    Sakserik sameng dumadi
    Tri legawa nalangsa srah ing Bathara Ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal,
    Sabar jika hati disakiti sesama,
    Ketiga ; lapang dada sambil
    berserah diri pada Tuhan.
    44. Bathara gung
    Inguger graning jajantung
    Jenek Hyang wisesa
    Sana pasenedan suci
    Nora kaya si mudha mudhar angkara Tuhan Maha Agung
    diletakkan dalam setiap hela nafas
    Menyatu dengan Yang Mahakuasa
    Teguh mensucikan diri
    Tidak seperti yang muda,
    mengumbar nafsu angkara.
    45. Nora uwus
    Kareme anguwus uwus
    Uwose tan ana
    Mung janjine muring muring
    Kaya buta buteng betah anganiaya Tidak henti hentinya
    gemar mencaci maki.
    Tanpa ada isinya
    kerjaannya marah-marah
    seperti raksasa; bodoh, mudah marah dan menganiaya sesama.
    46. Sakeh luput
    Ing angga tansah linimput
    Linimpet ing sabda
    Narka tan ana udani
    Lumuh ala ardane ginawa gada Semua kesalahan
    dalam diri selalu ditutupi,
    ditutup dengan kata-kata
    mengira tak ada yang mengetahui,
    bilangnya enggan berbuat jahat
    padahal tabiat buruknya membawa kehancuran.
  • Bunda Lia 47. Durung punjul
    Ing kawruh kaselak jujul
    Kaseselan hawa
    Cupet kapepetan pamrih
    tangeh nedya anggambuh
    mring Hyang Wisesa Belum cakap ilmu
    Buru-buru ingin dianggap pandai.
    Tercemar nafsu selalu merasa kurang,
    dan tertutup oleh pamrih,
    sulit untuk manunggal pada Yang Mahakuasa.

    Setelah Pucung ….Lalu kita meneruskan ke GAMBUH
    Saka tembung jumbuh / sarujuk kang ateges yèn wis jumbuh / sarujuk njur digathukaké antarane priya lan wanita sing padha nduwèni rasa tresna mau, ing pangangkah supaya bisaa urip bebrayan…….
  • Bunda Lia GAMBUH (Langkah Catur Sembah)
    48. Samengko ingsun tutur
    Sembah catur supaya lumuntur
    Dhihin raga, cipta, jiwa, rasa, kaki
    Ing kono lamun tinemu
    Tandha nugrahaning Manon Kelak saya bertutur,
    Empat macam sembah supaya dilestarikan;
    Pertama; sembah raga, kedua; sembah cipta, ketiga; sembah jiwa, dan keempat; sembah rasa, anakku !
    Di situlah akan bertemu dengan
    pertanda anugrah Tuhan.
    49.Sembah raga punika
    Pakartine wong amagang laku
    Susucine asarana saking warih
    Kang wus lumrah limang wektu
    Wantu wataking weweton Sembah raga adalah
    Perbuatan orang yang lagi magang “olah batin”
    Menyucikan diri dengan sarana air,
    Yang sudah lumrah misalnya lima waktu
    Sebagai rasa menghormat waktu
    50. Inguni uni durung
    Sinarawung wulang kang sinerung
    Lagi iki bangsa kas ngetokken anggit
    Mintokken kawignyanipun
    Sarengate elok elok Zaman dahulu belum
    pernah dikenal ajaran yang penuh tabir,
    Baru kali ini ada orang menunjukkan hasil rekaan,
    memamerkan ke-bisa-an nya
    amalannya aneh aneh….
    Sekar gambuh ping catur
    Kang cinatur
    Polah kang kalantur
    Tanpo tutur katulo-tulo katali
    Kadaluwarso katutur
    Katutuh pan dadi awon

    Tembang Gambuh mbok menawa pancèn kebak ing pitutur. Pitutur kang nggiring manungsa supaya éling marang tumindak-tumindaké. Manungsa dielingaké yènta kabèh tingkah polah manungsa iku ana akibaté. Adigang, adigung, adiguna, bakal nyilakaké urip manungsa sing duwé patrap kaya mangkono iku…
  • Bunda Lia 51.Thithik kaya santri Dul
    Gajeg kaya santri brai kidul
    Saurute Pacitan pinggir pasisir
    Ewon wong kang padha nggugu
    Anggere padha nyalemong Kadang seperti santri “Dul” (gundul)
    Bila tak salah, seperti santri wilayah selatan
    Sepanjang Pacitan tepi pantai
    Ribuan orang yang percaya.
    Asal-asalan dalam berucap
    52. Kasusu arsa weruh
    Cahyaning Hyang kinira yen karuh
    Ngarep arep urub arsa den kurebi
    Tan wruh kang mangkono iku
    Akale kaliru enggon Keburu ingin tahu,
    cahaya Tuhan dikira dapat ditemukan,
    Menanti-nanti besar keinginan (mendapatkan anugrah) namun gelap mata
    Orang tidak paham yang demikian itu
    Nalarnya sudah salah kaprah
    53. Yen ta jaman rumuhun
    Tata titi tumrah tumaruntun
    Bangsa srengat tan winor lan laku batin
    Dadi nora gawe bingung
    Kang padha nembah Hyang Manon Bila zaman dahulu,
    Tertib teratur runtut harmonis
    sariat tidak dicampur aduk dengan olah batin,
    jadi tidak membuat bingung
    bagi yang menyembah Tuhan.
    GAMBUH
    Kakang Gambuh yen purun,
    aku nyuwun urun-urunipun,
    wurukana ajar maca lawan nulis,
    dimen aku bisa maju,
    ora pijer plonga-plongo.
    Yen tansah buta huruf,
    aku ora bisa ngerti rembug,
    apa jane koran mlebu desa kuwi,
    dadi uwong kok le cubluk,
    lir kodhok kurungan bathok.
    Kepengin maca kidung,
    ngidungake bocah arep turu,
    ana koran isine kok sajak wasis,
    kaya sing kok waca seru,
    aku seneng lamun enjoh.
    Yen manut rumangsaku,
    kaya sing kok wacakke mring aku,
    seserepan warna-warna migunani,
    marang kabeh pra sedulur,
    apik tenan ora goroh.
    Lagi iki kepencut,
    aku pancen wiwit krasa getun,
    kena apa ora ajar wiwit cilik,
    mula mumpung duwe kayun,
    warahana saka ngisor.
    Najan aku wong dhusun,
    gaweyanku tandur karo matun,
    nanging aku ora gelem dikon keri,
    kaya dhawuhe Bu Dhukuh,
    ngajak maju mring wong wadon.
    Pak Dhukuh uga tau,
    dadi guru aparing sesuluh,
    apa-apa jare kena dicatheti,
    wiwit iku aku bingung,
    kapiadreng emoh bodho.
    Saiki pancen perlu,
    uwong wadon kudu ngudi ngelmu,
    ora kaya wong wadon dhek jaman wingi,
    akeh kang tansah pun kurung,
    aneng pawon nguleg lombok…
  • Kozink Saputra nyuwun injih bunda..kok sami liyep,..punopo sampun paripurno..wedaran heng ndalu puniko…bun?,….
  • Bunda Lia Mas Agung…. he he he he seneng banget mas pas Sinom sama Gambuh he he he Ada apa mas Agung….????

    54.Lire sarengat iku
    Kena uga ingaran laku
    Dhingin ajeg kapindone ataberi
    Pakolehe putraningsun
    Nyenyeger badan mrih kaot Sesungguhnya sariat itu
    dapat disebut olah, yang bersifat ajeg dan tekun.
    Anakku, hasil sariat adalah dapat menyegarkan badan
    agar lebih baik,
    55.Wong seger badanipun
    Otot daging kulit balung sungsum
    Tumrah ing rah memarah
    Antenging ati
    Antenging ati nunungku
    Angruwat ruweding batos badan, otot, daging, kulit dan tulang sungsumnya menjadi segar,
    Mempengaruhi darah, membuat tenang di hati.
    Ketenangan hati membantu
    Membersihkan kekusutan batin
    56.Mangkono mungguh ingsun
    Ananging ta sarehne asnafun
    Beda beda panduk pandhuming dumadi
    Sayektine nora jumbuh
    Tekad kang padha linakon Begitulah menurut ku !
    Tetapi karena orang itu berbeda-beda,
    Beda pula garis nasib dari Tuhan.
    Sebenarnya tidak cocok
    tekad yang pada dijalankan itu….
  • Lah ta iki pitutur mring èstri, sira iki jumenenging priya, pitutur marang rabiné, kang sareh dipun elus, gwa kaworen nepdu yen angling, dadi nek klèru tampa, kang winuruk iku, wus kocap ing dalem surat, ujar bengis puniku kaworan eblis, ana ngekaké napas.
    Inilah nasehat untuk seorang putri, engkau itu sebagai seorang laki-laki, memberi nasehat kepada pasangamu, dengan penuh kesabaran, jangan pernah dengan nada tinggi, dan membuat salah sangka, bagi yang diberi nasehat, telah disebutkan dalam surat (kitab), kata-kata bengis itu dipenuhi iblis, pada setiap tarikan nafas…
  • Bunda Lia 57.Nanging ta paksa tutur
    Rehne tuwa tuwase mung catur
    Bok lumuntur lantaraning reh utami
    Sing sapa temen tinemu
    Nugraha geming kaprabon Namun terpaksa memberi nasehat
    Karena sudah tua kewajibannya hanya memberi petuah.
    Siapa tahu dapat lestari menjadi pedoman tingkah laku utama.
    Barang siapa bersungguh-sungguh akan
    mendapatkan anugrah kemuliaan dan kehormatan.
    58.Samengko sembah kalbu
    Yen lumintu uga dadi laku
    Laku agung kang kagungan Narapati
    Patitis tetesing kawruh
    Meruhi marang kang momong Nantinya, sembah kalbu itu
    jika berkesinambungan juga menjadi olah spiritual.
    Olah (spiritual) tingkat tinggi yang dimiliki Raja.
    Tujuan ajaran ilmu ini;
    untuk memahami yang mengasuh diri (guru sejati/pancer)
    59.Sucine tanpa banyu
    Mung nyunyuda mring hardaning kalbu
    Pambukane tata titi ngati ati
    Atetep telaten atul
    Tuladan marang waspaos Bersucinya tidak menggunakan air
    Hanya menahan nafsu di hati
    Dimulai dari perilaku yang tertata, teliti dan hati-hati (eling dan waspada)
    Teguh, sabar dan tekun,
    semua menjadi watak dasar,
    Teladan bagi sikap waspada.
    60.Mring jatining pandulu
    Panduk ing ndon dedalan satuhu
    Lamun lugu legutaning reh maligi
    Lageane tumalawung
    Wenganing alam kinaot Dalam penglihatan yang sejati,
    Menggapai sasaran dengan tata cara yang benar.
    Biarpun sederhana tatalakunya dibutuhkan konsentrasi
    Sampai terbiasa mendengar suara sayup-sayup dalam keheningan
    Itulah, terbukanya “alam lain”.
  • Prima Selindo Ajak kéré adiku wong kuning, menèk ilang ginawa jajaka, kang kélangan aku dhéwé, ari mas aja guyu, akèh jaka nagara iki, jakané pirang-pirang, ari mas wong ayu, nganggowa guru kang ngarang, esemira predenen.3 ingkang awingit, ywa guyu cukakaan.
    Mengajak susah adik ku, kalau sampai sipinang pria, aku sendiri yang merasa kehilangan, adiku yang cantik jangan tertawa, banyak pria di negri ini, yang perjaka banyak sekali, senyummu itu apakah yang disembunyikan, jangan tertawa terbahak-bahak…
    Lawan yayi ywa sok metu bengi, lamun rinaha jaluk ngalunga, mungup ati lawang baé, ywa metu dalu-dalu, menèh ilang gina belis, belisé pirang-pirang, ari mas wong ayu, yen surup aja sok dolan, candhuk ala akèh ula lan memedi, gendruwo sawan weliwo.
    Dan adikku jangan engkau suka keluar malam, kalaupun siang ingin sekali pergi, sekedar hanya keinginan saja, biar sirna pengaruh iblis, iblisnya banyak sekali, adikku yang cantik, kalau petang jangan suka bermain, tidak baik banyak ular dan memedi, genderuwo dan keburukan.
    Ujar ingsun gugunen sayekti, yen tan ngandel takona wong tuwa, yen kokira goroh baé, sayekti ujar ingsun, nguni ana ginawa belis, ujaré wong kang liwat, ginawa mangidul, becik kalamun dèn nutta, sayektiné yèn sira nora nitèni, angrusak raganira.
    Kata-kataku didengarkan benar, kalau tidak percaya tanyalah orang tua, kalau engkau mengira aku bohong, sesungguhnya benar kata-kataku, dahulu ada yang dibawa iblis, cerita orang-orang, dibawa ke selatan, (maka) lebih baik jika engkau menurut, sesungguhnya jika engkau tidak teliti, sama dengan merusak tbuhmu sendiri…
  • Panuwunku mring Hyang Maha Suci, sira iku aja dhemen nongga, gawé camah mring awaké, temahan dadi kumprung, pengung bingung wekasan ngaling, temah ginuya tongga, lamun sira gugu, ujaré wong liwat dalan, saluguné kang darbé catur puniki, mung ngarah bubrahé.
    Permohonanku pada Tuhan, engkau itu jangan suka main ke tempat tetangga, itu bikin rendah untukmu, akhirnya nanti jadi bodoh, bodoh bingung akhirnya linglung, menjadi tertawaan tetangga, kalau engkau mau mengikuti, apa nasehat orang banyak, sebenarnya yang punya omongan ini, hanya akan membuat berantakan.
    Malah-malah sun kanthi benjing, lamun sira bisa darbé putra, kalamun kakung putrané, sun jenengké semangun, lamun èstri ingsun arani, khatijah jenengira, kaya uga patut, sun tutoken kalung dinar, kinanthilan intené loro sasisih, iku kaul manira.
    Malah aku ikuti sampai besuk, jikalau engkau bisa mempunyai putra, kalau putramu laki-laki, aku namakan semangun, kalau putri aku namakan, khatijah namanya, sepertinya juga pantas, aku berikan kalung dinar, dengan inten pada setiap pasangnya, itu janjiku,..
  • Bunda Lia 61. Yen wus kambah kadyeku
    Sarat sareh saniskareng laku
    Kalakone saka eneng ening eling
    Ilanging rasa tumlawung
    Kono adiling Hyang Manon Bila telah mencapai seperti itu,
    Saratnya sabar segala tingkah laku.
    Berhasilnya dengan cara;
    Membangun kesadaran, mengheningkan cipta, pusatkan fikiran kepada energi Tuhan.
    Dengan hilangnya rasa sayup-sayup, di situlah keadilan Tuhan terjadi. (jiwa memasuki alam gaib rahasia Tuhan)
    62. Gagare ngunggar kayun
    Tan kayungyun mring ayuning kayun
    Bangsa anggit yen ginigit nora dadi
    Marma den awas den emut
    Mring pamurunging kalakon Gugurnya jika menuruti kemauan jasad (nafsu)
    Tidak suka dengan indahnya kehendak rasa sejati,
    Jika merasakan keinginan yang tidak-tidak akan gagal.
    Maka awas dan ingat lah
    dengan yang membuat gagal tujuan.
    Lan maningé pan nedheng sun yayi, lamun sira lulus trisnanira, gung gawé remen saleder, dedalan metu nglurung, asasanjan rahina wengi, lan aywa remen dolan, iku nora patut, temahan dadi kapiran, yèn wong wadon remené sok saba bengi, yekti dadi wong ala.
    Dan lagi karena sedang senang aku dinda, kalau cintamu lulus, gemar membuat masalah, senang bermain belakang, bermain ke tetangga siang malam, dan jangan suka main, itu tidaklah pantas, akhirnya bisa tidak terurus, kalau ada wanita suka pergi keluar malam, selayaknya jadi orang nista.
    Ing désa kéné ana wong siji, aremen sasanjan mring tangga, ngluruh dalan saben dina, lunga suk mulih surup, mung puniku karyané yayi, lah yayi tinggalana, apa becik iku yèn becik sira tituwa, lamun ora becik aja anglakoni, satemah dadi ala.
    Di desa sini ada satu orang, senanngnya main ke tempat tetangga, main belakang setiap hari, pergi pagi pulang petang, hanya itu kerjaannya dinda, makanya dinda jauhilah, kalau memang baik silahkan diikuti, tapi kalo jelek jangan melakukannya, karena akan berakibat buruk..
  • Wekasané wong kang remen main, kang mlarat tan lawan sugih utang, dèn sengiti mring tanggané, suda piyandelipun, wasanané tan dadi weri, tansah kasurang surang, ngadadadé puniku, sanak kadangé sadaya, samiya éwa andulu yèn demen main, yayi mas yektènana.
    Ujung-ujungnya orang yang suka main, yang melarat tidak lain banyak hutang, dibenci oleh tetangga-tetangganya, berkurang wibawanya, akhirnya menjadi pembuat onar, selalu terlunta-lunta, seperti itu keadaannya, anak kerabatnya semua, semua kecewa jika senang main, dinda perhatikanlah.
    Ana maneh yayi kang nyanyangit, wong karem marang memadatan, iku dadi cacat gedhé, nèng ulat dadi payus, wekasané katon nyanyengit, yèn nuju sabagiyan, lir wong kenèng ngukum, ing dunya tekèng ngakérat, wekasané wong madat tan dadi sugih, mung seneng sugih utang.
    Ada lagi dinda yang membuat benci, orang yang senang dengan madat, itu musibah besar, di muka terlihat pucat, akhirnya membuat orang sebel, jika sedang butuh, ibarat seorang tahanan, di dunia sampai dengan akhirat, pada akhirnya orang yang suka madat tidak pernah kaya, hanya senang berhutang….
  • Bunda Lia 63. Samengko kang tinutur
    Sembah katri kang sayekti katur
    Mring Hyang Sukma sukmanen saari ari
    Arahen dipun kacakup
    Sembaling jiwa sutengong Nanti yang diajarkan
    Sembah ketiga yang sebenarnya diperuntukkan kepada Hyang sukma (jiwa).
    Hayatilah dalam kehidupan sehari-hari
    Usahakan agar mencapai sembah jiwa ini anakku !
    64.Sayekti luwih perlu
    Ingaranan pepuntoning laku
    Kalakuwan tumrap kang bangsaning batin
    Sucine lan awas emut
    Mring alaming lama maot Sungguh lebih penting, yang
    disebut sebagai ujung jalan spiritual,
    Tingkah laku olah batin, yakni
    menjaga kesucian dengan awas dan selalu ingat akan alam nan abadi kelak.
    65. Ruktine ngangkah ngukut
    Ngiket ngruket triloka kakukut
    Jagad agung ginulung lan jagad alit
    Den kandel kumadel kulup
    Mring kelaping alam kono Cara menjaganya dengan menguasai, mengambil, mengikat, merangkul erat tiga jagad yang dikuasai.
    Jagad besar tergulung oleh jagad kecil,
    Pertebal keyakinanmu anakku !
    Akan kilaunya alam tersebut.
  • Kozink Saputra njih..selamt mlm juga ms mister.jeans..selamat bertemu.serta bergabung kembali d warung bunda..yb penuh barokah ini…
  • Prima Selindo mpun kesupe lho njih..sinambi nyruput wedhang kopi…hehhe monggo dilajengaken..seratanipun ..diajengg ayu..
  • Bunda Lia 66. Kaleme mawi limut
    Kalamatan jroning alam kanyut
    Sanyatane iku kanyatan kaki
    Sejatine yen tan emut
    Sayekti tan bisa awor Tenggelamnya rasa melalui suasana “remang berkabut”,
    Mendapat firasat dalam alam yang menghanyutkan,
    Sebenarnya hal itu kenyataan, anakku !
    Sejatinya jika tidak ingat
    Sungguh tak bisa “larut”
    67. Pamete saka luyut
    Sarwa sareh saliring panganyut
    Lamun yitna kayitnan kang mitayani
    Tarlen mung pribadinipun
    Kang katon tinonton kono Jalan keluarnya dari luyut (batas antara lahir dan batin)
    Tetap sabar mengikuti “alam yang menghanyutkan”
    Asal hati-hati dan waspada yang menuntaskan tidak lain hanyalah diri pribadinya
    yang tampak terlihat di situ
    68. Nging away salah surup
    Kono ana sajatining urub
    Yeku urub pangareb uriping budi
    Sumirat sirat narawung
    Kadya kartika katonton Tetapi jangan salah mengerti
    Di situ ada cahaya sejati
    Ialah cahaya pembimbing,
    energi penghidup akal budi.
    Bersinar lebih terang dan cemerlang,
    tampak bagaikan bintang.
  • Wisang Geni mohon maaf….. nyuwun sewu…… WEJANGAN dan WEDARAN jangan di campurkan adukan…. karena saya yang masih awam biar tdk kesulitan untuk mencernanya… nyuwun ngapunten lho NDA…. karena saya masih awam…..
    karena menurut saya apa yg disampaikan BUNDA merupakan WEDARAN…… yg sangat mudah DICERNA dari pada WEJANGAN…. matur nuwun nderek nyimak…. rahayu… rahayu… rahayu…
  • Bunda Lia 69.Yeku wenganing kalbu
    Kabukane kang wengku winengku
    Wewengkone wis kawengku neng sireki
    Nging sira uga kawengku
    Mring kang pindha kartika byor Yaitu membukanya pintu hati
    Terbukanya yang kuasa-menguasai (antara cahaya/nur dengan jiwa/roh).
    Cahaya itu sudah kau (roh) kuasai
    Tapi kau (roh) juga dikuasai
    oleh cahaya yang seperti bintang cemerlang.
    70.Samengko ingsun tutur
    Gantya sembah ingkang kaping catur
    Sembah rasa karasa wosing dumadi
    Dadine wis tanpa tuduh
    Mung kalawan kasing batos Nanti ingsun ajarkan,
    Beralih sembah yang ke empat.
    Sembah rasa terasalah hakekat kehidupan.
    Terjadinya sudah tanpa petunjuk,
    hanya dengan kesentosaan batin
    71.Kalamun durung lugu
    Aja pisan wani ngaku aku
    Antuk siku kang mangkono iku kaki
    Kena uga wenang muluk
    Kalamun wus padha melok Apabila belum bisa membawa diri,
    Jangan sekali-kali berani mengaku-aku,
    mendapat laknat yang demikian itu anakku !
    Artinya, seseorang berhak berkata apabila sudah mengetahui dengan nyata.
  • Bunda Lia 72.Meloke ujar iku
    Yen wus ilang sumelanging kalbu
    Amung kandel kumandel
    Amarang ing takdir
    Iku den awas den emut
    Den memet yen arsa momot Menghayati pelajaran ini
    Bila sudah hilang keragu-raguan hati.
    Hanya percaya dengan sungguh-sungguh kepada takdir
    itu harap diwaspadai, diingat,
    dicermati bila ingin menguasai seluruhnya.
    73.Pamoting ujar iku
    Kudu santosa ing budi teguh sarta sabar tawekal legaweng ati
    Trima lila ambeg sadu
    Weruh wekasing dumados Melaksanakan petuah itu
    Harus kokoh budipekertinya
    Teguh serta sabar
    tawakal lapang dada
    Menerima dan ikhlas apa adanya sikapnya dapat dipercaya
    Mengerti “sangkan paraning dumadi”.
    74.Sabarang tindak tanduk
    Tumindake lan sakadaripun,
    Den ngaksama kasisipaning sesami,
    Sumimpanga ing laku dur,
    Hardaning budi kang ngrodon. Segala tindak tanduk
    dilakukan ala kadarnya,
    memberi maaf atas kesalahan sesama,
    menghindari perbuatan tercela,
    (dan) watak angkara yang besar.
    75.Dadya weruh iya dudu,
    Yeku minangka pandaming kalbu,
    Ingkang buka ing kijab bullah agaib,
    Sesengkeran kang sinerung,
    Dumunung telenging batos. Sehingga tahu baik dan buruk,
    Demikian itu sebagai ketetapan hati,
    Yang membuka penghalang/tabir antara insan dan Tuhan,
    Tersimpan dalam rahasia,
    Terletak di dalam batin.
  • Bunda Lia 76.Rasaning urip iku,
    Krana momor pamoring sawujud,
    Wujudollah sumrambah ngalam sakalir,
    Lir manis kalawan madu,
    Endi arane ing kono. Rasa hidup itu
    dengan cara manunggal dalam satu wujud,
    Wujud Tuhan meliputi alam semesta,
    bagaikan rasa manis dengan madu. Begitulah ungkapannya.
    77.Endi manis endi madu,
    Yen wis bisa nuksmeng pasang semu,
    Pasamoaning hebing kang Mahasuci,
    Kasikep ing tyas kacakup,
    Kasat mata lair batos. Mana manis mana madu,
    apabila sudah bisa menghayati gambaran itu,
    Bagaimana pengertian sabda Tuhan,
    Hendaklah digenggam di dalam hati, sudah jelas dipahami secara lahir dan batin.
    78.Ing batin tan kaliru
    Kedhap kilap liniling ing kalbu,
    Kang minangka colok celaking Hyang Widhi,
    Widadaning budi sadu,
    Pandak panduking liru nggon. Dalam batin tak keliru,
    Segala cahaya indah dicermati dalam hati,
    Yang menjadi petunjuk dalam memahami hakekat Tuhan,
    Selamatnya karena budi (bebuden) yang jujur (hilang nafsu),
    Agar dapat merasuk beralih “tempat”.
    79.Nggonira mrih tulus,
    Kalaksitaning reh kang rinuruh,
    Nggyanira mrih wiwal warananing gaib,
    Paranta lamun tan weruh,
    Sasmita jatining endhog. Agar usahamu berhasil,
    Dapat menemukan apa yang dicari,
    upayamu agar dapat melepas penghalang kegaiban,
    Apabila kamu tidak paham ; lihatlah tentang bagaimana terjadinya telur.
  • Bunda Lia Kita beralih ke tembang Kinanti ; Kinanthi berarti bergandengan, teman, nama zat atau benda , nam bunga. Sesuai arti itu, tembang Kinanthi berwatak atau biasa digunakan dalam suasana mesra dan senang.

    TEMBANG KINANTHI

    83. Mangka kanthining tumuwuh,
    Salami mung awas eling,
    Eling lukitaning alam,
    Dadi wiryaning dumadi,
    Supadi nir ing sangsaya,
    Yeku pangreksaning urip. Padahal bekal hidup,
    selamanya waspada dan ingat,
    Ingat akan pertanda yang ada
    di alam ini,
    Menjadi kekuatannya asal-usul, supaya lepas dari sengsara.
    Begitulah memelihara hidup.
    84. Marma den taberi kulup,
    Anglung lantiping ati,
    Rina wengi den anedya,
    Pandak panduking pambudi,
    Bengkas kahardaning driya,
    Supaya dadya utami.` Maka rajinlah anak-anakku,
    Belajar menajamkan hati,
    Siang malam berusaha,
    merasuk ke dalam sanubari,
    melenyapkan nafsu pribadi,
    Agar menjadi (manusia) utama.
  • Prima Selindo Kinanthi iku salah sijine tembang macapat kang umume dienggo nggambarake rasa seneng, katresnan, lan kawicaksanan. Kinanthi bisa nduwe arti gegandhengan tangan lan bisa uga jeneng sawijining kembang. Ana uga kang nggandhengake kinanthi klawan Maskumambang. Yen maskumambang kanggo wong lanang kang lagi dewasa, kinanthi kanggo wanita…
  • Bunda Lia 85.Pangasahe sepi samun,
    Aywa esah ing salami,
    Samangsa wis kawistara,
    Lalandhepe mingis mingis,
    Pasah wukir reksamuka,
    Kekes srabedaning budi. Mengasahnya di alam sepi (semedi),
    Jangan berhenti selamanya,
    Apabila sudah kelihatan,
    tajamnya luar biasa,
    mampu mengiris gunung penghalang,
    Lenyap semua penghalang budi.
    86.Dene awas tegesipun,
    Weruh warananing urip,
    Miwah wisesaning tunggal,
    Kang atunggil rina wengi,
    Kang mukitan ing sakarsa,
    Gumelar ngalam sakalir. Awas itu artinya,
    tahu penghalang kehidupan,
    serta kekuasaan yang tunggal,
    yang bersatu siang malam,
    Yang mengabulkan segala kehendak,
    terhampar alam semesta.
    87.Aywa sembrana ing kalbu,
    Wawasen wuwus sireki,
    Ing kono yekti karasa,
    Dudu ucape pribadi,
    Marma den sembadeng sedya,
    Wewesen praptaning uwis. Hati jangan lengah,
    Waspadailah kata-katamu,
    Di situ tentu terasa,
    bukan ucapan pribadi,
    Maka tanggungjawablah, perhatikan semuanya sampai tuntas.
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ selamat malam BundaLia dan semua yg sdh hadir di FORUM FAJARKU HARAPANKU, monggo dipun lajengaken, sy sdng Khinanthi,,
  • Bunda Lia 88. Sirnakna semanging kalbu,
    Den waspada ing pangeksi,
    Yeku dalaning kasidan,
    Sinuda saka sethithik,
    Pamothahing nafsu hawa,
    Linalantih mamrih titih. Sirnakan keraguan hati,
    waspadalah terhadap pandanganmu,
    Itulah caranya berhasil,
    Kurangilah sedikit demi sedikit godaan hawa nafsu,
    Latihlah agar terlatih.
    89. Aywa mematuh nalutuh,
    Tanpa tuwas tanpa kasil,
    Kasalibuk ing srabeda,
    Marma dipun ngati-ati,
    Urip keh rencananira,
    Sambekala den kaliling. Jangan terbiasa berbuat aib,
    Tiada guna tiada hasil,
    terjerat oleh aral,
    Maka berhati-hatilah,
    Hidup ini banyak rintangan,
    Godaan harus dicermati.
    90. Umpamane wong lumaku,
    Marga gawat den liwati,
    Lamun kurang ing pangarah,
    Sayekti karendhet ing ri.
    Apese kasandhung padhas,
    Babak bundhas anemahi. Seumpama orang berjalan,
    Jalan berbahaya dilalui,
    Apabila kurang perhitungan,
    Tentulah tertusuk duri,
    celakanya terantuk batu,
    Akhirnya penuh luka.
  • Bunda Lia 91. Lumrah bae yen kadyeku,
    Atetamba yen wus bucik,
    Duweya kawruh sabodhag,
    Yen tan nartani ing kapti,
    Dadi kawruhe kinarya,…Lihat Selengkapnya
  • Ayu Dewi Lestari Selamat malam Mama,,,mas agung,,,mas wisang,,,om abdullah,,,om mukhtar,,salam kasihku selalu,,semoga kita senantiasa dalam LindunganNya,,,,
  • Bunda Lia 94.Mangka ta kang aran laku,
    Lakune ngelmu sejati,
    Tan dahwen pati openan,
    Tan panasten nora jail,
    Tan njurungi ing kahardan,
    Amung eneng mamrih ening. Padahal yang disebut “laku”,
    sarat menjalankan ilmu sejati tidak suka omong kosong dan tidak suka memanfaatkan hal-hal sepele yang bukan haknya,
    Tidak iri hati dan jail,
    Tidak melampiaskan hawa nafsu. Sebaliknya, bersikap tenang agar menggapai keheningan jiwa.
    95.Kaunanging budi luhung,
    Bangkit ajur ajer kaki,
    Yen mangkono bakal cikal,
    Thukul wijining utami,
    Nadyan bener kawruhira,
    Yen ana kang nyulayani. Luhurnya budipekerti,
    pandai beradaptasi, anakku !
    Demikian itulah awal mula,
    tumbuhnya benih keutamaan,
    Walaupun benar ilmumu,
    bila ada yang mempersoalkan..
    96.Tur kang nyulayani iku,
    Wus wruh yen kawruhe nempil,
    Nanging laire angalah,
    Katingala angemori,
    Mung ngenaki tyasing liyan,
    Aywa esak aywa serik. Walau orang yang mempersoalkan itu, sudah diketahui ilmunya dangkal,
    tetapi secara lahir kita mengalah,
    berkesanlah persuasif,
    sekedar menggembirakan hati orang lain.
    Jangan sakit hati dan dendam.
    97.Yeku ilapating wahyu,
    Yen yuwana ing salami,
    Marga wimbuh ing nugraha,
    Saking heb Kang mahasuci,
    Cinancang pucuking cipta,
    Nora ucul ucul kaki. Begitulah sarat turunnya wahyu,
    Bila teguh selamanya,
    dapat bertambah anugrahnya,
    dari sabda Tuhan Mahasuci,
    terikat di ujung cipta,
    tiada terlepas-lepas anakku.
    98.Mangkono ingkang tinamtu,
    Tampa nugrahaning Widhi,
    Marma ta kulup den bisa,
    Mbusuki ujaring janmi,
    Pakoleh lair batinnya,
    Iyeku budi premati. Begitulah yang digariskan,
    Untuk mendapat anugrah Tuhan.
    Maka dari itu anakku,
    sebisanya, kalian pura-pura menjadi orang bodoh terhadap perkataan orang lain,
    nyaman lahir batinnya,
    yakni budi yang baik.
    99.Pantes tinulat tinurut,
    Laladane mrih utami,
    Utama kembanging mulya,
    Kamulyan jiwa dhiri,
    Ora ta yen ngeplekana,
    Lir leluhur nguni-uni. Pantas menjadi suri tauladan yang ditiru,
    Wahana agar hidup mulia,
    kemuliaan jiwa raga.
    Walaupun tidak persis, seperti nenek moyang dahulu.
    100.Ananging ta kudu kudu,
    Sakadarira pribadi,
    Aywa tinggal tutuladan,
    Lamun tan mangkono kaki,
    Yekti tuna ing tumitah,
    Poma kaestokna kaki. Tetapi harus giat berupaya, sesuai kemampuan diri,
    Jangan melupakan suri tauladan,
    Bila tak berbuat demikian itu anakku,
    pasti merugi sebagai manusia.
    Maka lakukanlah anakku !

    CUKUP DULU YA KITA TERUSKAN BESOK LAGI AKU CAPEK …. WASS.
  • Prima Selindo Malam Gadis Exsprit .salam rahayu.
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ DEN WASPADA ING PANGEKSI (PANYAKSI): WASPADALAH TERHADAP PANDANGANMU (YG KAU LIHAT), ini pesan yg absolut. rahayu.
  • Ayu Dewi Lestari Alaikum salam Mamaku,,,,
  • Prima Selindo kinanthi tulodho liyo.. Pitik tulak pitik tukung…
    Tetulake Jabang bayi

    Ngedohaken cacing racak
    Sarap sawane sumingkir
    Si tulak manggung ing ngarso
    Si Tukung ngadhangi margi ..
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ istirahatlah klo memang rasamu memintanya Diajeng,,,DEN WASPADA ING RASANIRA
  • Wisang Geni nyuwun sewu mas Agung Pambudi ….. kinanthi banyak wersi…..
    WALUNGERAH, ASTABRATA,WIRAWIYATA,WEDHARAGA dll…..
    mohon maaf mas… agar mengrucut dan tdk terlalu melabar… saya yang masih awam biar tdk terlalu bingung mencernanya…..
  • Ayu Dewi Lestari Selamat malam jg mas agung,,,,salam kasih,,,,
  • Prima Selindo hm ya ya mas wisang..nembah nuwun..salam rahayu.
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ kenapa absolut? mungkin pertanyaan ini layak kita pecahkan bersama, singkatnya, BANYAK KESALAHAN DI MULAI DARI MATA,,,
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ selamat malam dan salam kasih buat semua yg sdh hadir,,,MAAF TADI SY LENCANG MENYELA, monggo dipun lajeng KHINANTINYA,
  • Kozink Saputra wa allaikum slm warohmatullahi wabarokahtu..matur sembah nuwun dumateng bunda//atas wedaran nya td .semua mejadikan sebuah ilmu ug bermanfa’at..barokah.amin…buat gadis sprit..kang agung.kang dullah pak muhtar.kang jeans..dan semua yg ada di warung..kulo mhn dri..bade mandap…salam rahayu utk kita semua…….
  • Prima Selindo sugeng lumengser kakang mas Kozink Saputra ..mugi tansah pinaringan rahayu..
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ monggo Gusagung, monggo dipun lajengaken,,kulo nyimak,,,
  • Prima Selindo hm kakang mas Muhamad Mukhtar Zaedin..benarkah kesalahan itu dari MATA….(KINANTHI ).turun ke -HATI,,,? hehehhe monggo
  • Bunda Lia Wisssss po… ya wissss…
  • Kakang Prabu Anom selamat malam bunda & seluruh keluarga besar… minum kopi sambil menyimak..
  • Prima Selindo aku ..(KINANTHI)..dirimu..lho….heheehe
  • Bunda Lia Kalau dah sepi aku mau tidur ahhhh…
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ bukankah semua sdng berlangsung Diajeng, wissss iku satitik, sing akeh iku ning arep to?
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ jika itu kehendak rasamu Diajeng, maka tidulah dan tinggalkan (aku) kami (semua) di sini,,,
  • Prima Selindo Padha gulangen ing kalbu
    Ing sasmita amrih lantip
    Aja pijer mangan nendra
    Kaprawiran den kaesthi
    Pesunen sariranira
    Sudanen dhahar lan guling…
  • Bunda Lia Monggo mas Agung kalajeng….
  • Kozink Saputra njih kang..bade mandap koq mireng suatenipun kang agung..jd balik lg..padahl td tersa cape lho….
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ sahabatku semua yg terkasih, BundaLia capek dan pngn istirahat, marilah kita tutup forum Fajarku ini dgn shalawat nabi
  • Prima Selindo masih didalam nuansa KINANTHI ..diajeng ayu..
  • Muhamad Mukhtar Zaedin @ sahabatku semua yg terkasih, BundaLia capek dan pngn istirahat, marilah kita tutup forum Fajarku ini dgn shalawat nabi
  • Kozink Saputra menawi kanti singiran pripun pak…jd kangen ibu ku yg tercita ni klo ada kata singiran..semasa masih sugeng ibu sukanya singiran,,…
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Mas Saputra dah pamit kok blk lg.. Pa hbsin kopinya dulu.. Hahahaha..
  • Prima Selindo sumonggo kakang mas.kito lajeng aken ..mbenjang..bilih wonten klenta klentune atur nyuwun agung e samudro pangaksami..karono meniko sarono reraketipun sesrawungan kawulo lan panjenengan sami……RAHAYU SAGUNG DUMADI..DJOJO ING BOJO ,DJOJO DJOJO NUSWANTORO…..nuwun..
  • Kozink Saputra inggih kang..malah padang maneh mripat iki…
  • Kozink Saputra njih s=sami2 njih kang..menawi kang agung ugi mandap..kulo tak nyrutup kopi rumiyen lankung nderek mandap…mudak d tegur kang jeans..wes pamit .bali maneh eleng kopine ..hehehehe..swun sugeng ndalu..sugeng istirahat..sedoyo..suwun….
  • Misterr Jeans Sang Kinasih Mas Saputro@ wis tego tnan tah Mas.. Hehehehe..
  • Sang Iblis Wedaran yg sungguh luar biasa… Hmmm, mantab dech… Selamat Malam… Salam Kasihku.
  • Sang Iblis Selamat malam Mas Agung, Mas Jeans, Kang Dullah… Salam Hormat & Jabat Erat. Rahayu.
  • Sang Iblis Selamat malam Mas Mukhtar… Salam Hormatku.

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: