Myth (mitos).

MYTH

Myth (mitos), sangat erat hubungannya dengan kehidupan orang Jawa. Orang yang tidak mau memahami mitos, sering kali terjebak dalam kehidupan yang bersifat normatif saja, segalanya akan dilakukan sesuai takaran. Tanpa mau berfikir lebih jauh untuk mendalami maksud dan tujuannya. Ibaratnya orang menggambar tanpa warna, semuanya serba datar. Tujuan MITOS sebenarnya adalah untuk menciptakan paradoks-paradoks dan aporia (jalan buntu) yang menghantam dan membelenggu pikiran kita, dengan memahami mitos akan mendesak kita untuk berpikir lebih dalam, dan giat  mencari penjelasan (logis = masuk akal) untuk memuaskan pikiran kita.

Misalnya begini…

Nenek moyang kita ingin mengajarkan sesuatu pengetahuan, namun mereka terbentur dengan aturan yang diciptakan oleh para penguasa di jaman itu, akhirnya terbentuklah suatu kisah dengan gaya Metafora, serba simbolik. Mitosnya begini : Bumi sebagai ibu, langit sebagai bapak dan fungsiair adalah sebagai penghubung diantara keduanya. Jika kedua unsur ini bergabung (dlm diri kita) maka akan ada unsur tambahan yang ikut bergabung yaitu api (panas). Metafora inilah yang sering kita jumpai dalam pandangan orang jawa tentang Jagat Gede dan Jagat Cilik. Masuknya Jagat Gede ke dalam Jagat cilik (bukan sebaliknya..!) melambangkan proses penemuan jati diri. Dalam filsafat jawa sering disebut Manunggaling Kawula Gusti. Tentu saja penalaran ini tidak hanya sebatas kulitnya saja, tentunya tugas kita untuk mengupas dan mendalami ilmu-ilmu yang dilambangkan dalam metafora yang bersifat  aporia itu. Sungguh saya sangat bangga dilahirkan sebagai orang Jawa, dan memiliki nenek moyang yang sangat cerdas….. mereka selalu menyelimuti pengetahuannya yang tinggi dengan kisah-kisah metafora, yang tujuannya mengajak kita untuk selalu berfikir lebih dalam. Tidak hanya belajar dengan cara normatif, yang hanya melekat di akal saja…! Namun nenek moyang kita mengajari kita untuk belajar tidak hanya dari sisi akal saja, tetapi harus sampai ke ujung rasa. Wow… sangat luar biasa. Inilah bedanya sisi keilmuan di dunia barat dan dan paradigma berfikir orang-orang Jawa masa lampau.

Sebagai contoh yang lebih konkrit.

Pemberian nama untuk bagian-bagian dari pohon kelapa (jw. Klapa=kambil=krambil è jawata ing ngarsa pada = inti dari ilmu tentang kehidupan = sangkan paraning dumadi).

Batang kelapa disebut dengan Glugu, kata glugu (dlm semantik mempunyai akar kata LUGU). Dalam belajar ilmu, orang harus lugu, seperti wujud dari batang kelapa yang lurus tanpa bercabang. Begitulah sebaiknya sikap orang dalam belajar. Harus dengan hati yang mantap, tidak mudah tergoda.

Yang kedua, Manggar. Manggar adalah bunga kelapa, (semantik : akar kata manggar adalah sanggar), sanggar adalah suatu tempat dimana kita bisa mengolah ilmu, bertukar-pikiran (brain stromming) kepada kawan dan guru yang ada. Tanpa mau (belajar) ke sanggar (sekolah di jaman sekarang), sangat mustahil orang akan mendapatkan ilmu (logika) yang benar.

Ketiga, Bluluk. Setelah bunga kelapa mengalami penyerbukan, akan tumbuh menjadi bluluk, (semantik : akar kata bul dan muluk) bluluk adalah metafora simbolik dari “berdoa kepada Tuhan”.  Orang yang belajar dan menjadi pandai (cerdas otaknya) harus diimbangi dengan ilmu rasa, nurani yang suci. Apa jadinya, kalau ada orang yang cerdas otaknya namun berwatak jahat…? Dia hanya akan membuka pintu neraka lebar-lebar…!

Keempat, Cengkir. Adalah bakal kelapa yang masih kecil, kira-kira sebesar kepalan tangan orang dewasa. (semantik : ceng = kenceng dan kir = pikir). Keseimbangan antara logika dan nurani harus diikuti dengan diasahnya pikiran kita, “kenceng ing pikir”. Meskipun ini semua masih sebatas dalam tataran teori saja.

Kelima : Degan, adalah kelapa yang masih muda. Dagingnya lunak, sangat enak dimakan, karena semuanya masih dalam kondisi yang serba baru. Memang demikian halnya dalam kehidupan kita, semuanya yang serba baru, masih muda, semuanya terasa sangat menyenangkan. Namun kita tidak boleh lupa, sewaktu kita masih muda, kita harus dengan segala kemampuan kita menjangkau segala keinginan yang ada dalam pikiran kita. (semantik : Adegan) kita harus berdiri (jw. Jumeneng) menunjukkan segala eksistensi yang ada dalam diri kita, namun dengan meninggalkan sifat arogansi. Kebanyakan orang sudah puas, setelah dia mampu berdiri dengan eksistensi yang diakui oleh orang lain dan masyarakat luas. Dia lupa, karena masih ada bagian lain dalam dirinya yang harus diingat, yaitu daun kelapa, karena daun (untuk semua tumbuhan) adalah dapur dari tanaman, disana terjadi proses fotosintesis, yang merubah energi (panas matahari) menjadi zat-zat makanan.

Keenam : Sada dan Janur. Daun kelapa terdiri dari dua bagian, bilah daun dan tulang daun. Bilah daun disebut janur, terdapat dua bilah daun dalam janur yang mengapit  sada (lidi), simbolik bagi dua sisi yang harus disatukan untuk mencapai kesempurnaan. Misalnya Pria – Wanita, Siang – Malam, Logika – Rasa. Sada berarti satu, Eka, Esa. Sebagai individu, kita harus mengakui ke-Esaan Hyang Pencipta, Dia yang memberi hidup, lewat pancaran cahaya sucinya. Sada atau lidi, bentuknya bulat gilig, meruncing hingga keujungnya. Sada, juga berarti berjumlah sebelas, yaitu angka satu yang berjajar dua (11), welas, adalah kasih. Kawelasan dari hyang Pencipta, “Causa Prima”. Memohon belas kasihnya agar kita selalu mendapatkan rahmat dan hidayah-Nya.  Sedangkan janur (semantik : Nur = cahaya, Jnana = pikiran) namun para ulama nengartikan sebagai Nur Jannah, cahaya suci sorga. Banyak diantara kita menggunakan janur, misalnya dalam Pahargyan Penganten (pesta pernikahan), namun banyak diantara kita tidak mengerti makna mitologi dari apa yang kita gunakan. Sungguh sayang sekali…

Ketujuh : kelapa. Orang yang melihat buah kelapa akan tertipu dan mendapatkan banyak hambatan. Dengan kulit yang halu, gilap dan licin, namun keras, akan terbayang buah yang sangat lezat. Orang akan ingin sekali memakannya, karena keelokan dan kecantikannya. Namun apa yang terjadi. Begitu dikupas, dalamnya sangat mengerikan, terdapat sabut yang sangat kasar. Orang yang tidak tahan ujian, akan segera meninggalkan buah itu, karena isinya hanyalah sabut yang kasar saja. Tidak bagi orang orang yang sudah memahami makna-makna hidup, sabut adalah ujian dan halangan kecil yang tidak berarti apa-apa, mereka meneruskan mengupas sabut itu. Disini juga terjadi ujian yang berat berikutnya. Orang-orang yang mudah putus asa, akan membuang buah yang sangat berharga itu, karena yang ditemuai hanyalah sebuah tempurung kelapa yang sangat keras, dan tidak enak di makan. Namun, inti sebenarnya ada di dalam tempurung yang sangat keras itu. Tempurung itu menjaga dan melindungi inti dari buah kelapa itu, berturut-turut : daging buah kelapa, air dan ruang hampa. Daging kelapa yang putih bersih dengan air suci yang melindungi ruang hampa di tengahnya. Sebuah ruang yang secara metafisis adalah sebuah kesucian, awang uwung. Sunyi dan kedap suara, bahkan kedap cahaya. Perlindungan yang berlapis-lapis. Rahasia besar yang tidak boleh diungkap sembarangan.

Begitulah Allah SWT, mengajari kita dengan kalamnya yang tidak tertulis, namun kita harus pandai mencernanya. Subhanallah…. Allah Maha Besar…

 

Daging buah kelapa adalah bahan dasar untuk dijadikan minyak goreng. Minyak goreng dalam bahasa jawa disebut dengan “lênga”. Untuk menulis lênga dengan aksara jawa tidak boleh menggunakan la di pêpêt, namun harus menggunakan Nga Lêlêt. La adalah simbul dari laku, adegan manusia, jangan halangi laku kita. Sebuah makna filosofis dari salah satu aksara yang diajarkan oleh moyang kita dalam bersikap untuk menjalani hidup. Mencari dan menggapai cita-cita tanpa meninggalkan tata krama.

Batal Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Promosikan · Bagikan

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: