NASEHAT LELUHUR.

NASEHAT DARI PARA LELUHUR
Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung.
Adat istiadat, budaya dan agama, adalah sebuah rangkaian yang tak terpisahkan. Timbulnya adat istiadat, karena adanya budaya yang mengakar dalam masyarakat dan Tuntunan Keagamaan yang kuat dan dijalankan oleh masyarakat. Adat istiadat adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat secara rutin dan berkala, dilakukan secara turun temurun. Adat istiadat biasanya dilakukan secara bersama oleh masyarakat, dalam suatu rangkaian kegiatan untuk tujuan-tujuan tertentu. Budaya berasal dari kata ‘BUDI’ dan ‘DAYA’. Secara umum, pengertian budaya adalah suatu usaha (daya) melalui olah ‘budi’, olah rasa, olah spiritual, untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih baik dari sebelumnya.
Masyarakat jawa (dalam ilmu Antropologi) mempunyai sikap permisif, namun mampu menyaring (filtering) pengaruh dari kebudayaan asing. Sehingga akan timbul proses Akulturasi Budaya. Hasilnya sudah pasti bisa dibayangkan, akan timbul suatu bentuk kebudayaan baru yang bersumber dari dua kebudayaan yang berbeda. Masyarakat jawa selalu mempertahankan sesuatu yang bersifat local genius, atau keunggulan-keunggulan budaya local yang bersifat baik. Kebudayaan dengan bentuk baru inilah yang akhirnya berkembang dalam kehidupan masyarakat secara umum, dan dilakukan secara rutin dan turun temurun. Pada akhirnya diakui sebagai suatu adat istiadat atau tradisi pada kehidupan dalam masyarakat.
Masyarakat jawa sejak zaman dahulu selalu suka menggunakan symbol-symbol (jw.:sanepan) dalam menjelaskan sesuatu. Begitu juga didalam Kitab Suci Alqur’an, Allah SWT juga telah mengajarkan symbol-symbol alam, contohnya dalam surat Al Fajr : Demi fajar, demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil, dan apa bila malam berlalu.
Hal itu dilakukan dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam kehidupan secara fisik maupun kehidupan secara spiritual. System berfikir semacam ini adalah merupakan local genius dari masyarakat jawa. Dalam ilmu modern hal demikian dikenal dengan istilah abstraction. Pola berfikir abstract, adalah pola berfikir menggunakan otak kiri secara simultan. Sebagai contoh kalau kita berhitung secara abstrak (jw.: awangan) kita membanyangkan symbol-symbol bilangan di pikiran kita. Setelah symbol-symbol bilangan tersebut mampu kita bayangkan, maka otak kiri kita perintahkan untuk menjalankan operasi yang kita butuhkan, misal: operasi penjumlahan, operasi perkalian dsb. Sebagai bukti fisik yang nyata, memberi angka (nilai) pada hari dan pasaran (jw. : pancawara), hanya dikenal pada masyarakat jawa, dan tidak dikenal dalam kebudayaan di belahan bumi manapun. Akankah kita mengingkari ke-genius-an nenek moyang kita? Namun banyak diantara anggota masyarakat kita banyak yang alergi dengan hal-hal yang demikian. Mereka menganggap hal-hal seperti itu sebagai klenik, musyrik dan sebangsanya. Jawaban yang paling pasti, hanya bisa dijawab jika pertanyaan itu kita kembalikan pada hati nurani kita masing-masing.
Masyarakat jawa juga dikenal dengan type masyarakat socio cultural. Seperti yang telah disebutkan pada bagian awal uraian ini. Terutama masih dapat kita rasakan pada masyarakat kita yang hidup di pedesaan. Rasa kebersamaan, se-nasib dan sepenanggungan, merupakan faktor yang sangat penting dalam pertumbuhan sikap ini dalam kehidupan bermasyarakat. Ungkapan-ungkapan yang dibuat oleh nenek moyang kita, sering kali mengunakan symbol-symbol atau perlambang yang mudah dipahami. Namun sulit untuk dijelaskan, apalagi untuk dilakukan. Setidaknya dalam kehidupan pada masyarakat kita saat ini. Hal ini disebabkan karena kita tidak mau memahaminya. Sebagai contoh, makna dari ‘SEGO GOLONG’, yang bentuknya ‘golong-gilig’ atau menyerupai sebuah bola yang terbuat dari nasi. Bentuk yang sedemikian masive, adalah merupakan sebuah ungkapan kebulatan tekad yang se-iya se-kata, sak yeg sak eka kapti. Bisa kita bayangkan jika seluruh lapisan masyarakat memahami falsafah ini, kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat akan tumbuh berkembang dengan sangat subur. Tidak akan terjadi perpecahan (symbol:masive) maupun pertengkaran (symbol: ngglinding). Sehingga kerukunan dalam kehidupan masyarakat akan selalu terjaga dan langgeng. Tidak akan mudah terprovokasi.

Bumi Jawa yang dipijak, namun tetap bernafaskan islam.

Kita terlahir sebagai orang jawa, di tanah jawa. Makanan yang kita makan tumbuh dari tanah yang kita pijak, yaitu tanah jawa. Kita harus berfikir dengan pola pikir jawa. Sampai kapan pun, tidak akan bisa kita pungkiri kalau diri pribadi kita adalah “Orang Jawa”. Meskipun kita mempelajari ilmu-ilmu modern, (modern = barat : eropa) tidak akan mampu menghilangkan trade mark kita “JAWA”. Begitu pula dengan agama yang kita peluk, agama Islam. Kita tidak akan mampu menerapkan seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa arab dalam kehidupan kita sehari-hari. Seluruh ajaran islam bisa saja kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun adat istiadat, tabiat, tingkah laku, cara berpakaian dari bangsa arab tidak mungkin kita tiru. Kondisi geografis dan iklim, maupun struktur kehidupan masyarakat kita sangat jauh berbeda. Kita harus bersyukur, dikaruniai Allah lingkungan alam yang sangat subur, dan kehidupan kita yang makmur. Juga kita telah diberi hidayah Allah, sehingga kita dapat mengenal ajaran-ajaran Islam. Apalagi kita juga terlahir dalam keadaan islam. Subhanallah, Allah hu Akbar! Meskipun kita terlahir sebagai orang Jawa, namun Allah memberikan karunia kepada kita nafas islam. Amien!

Foto: NASEHAT DARI PARA LELUHUR
Dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung.
Adat istiadat, budaya dan agama, adalah sebuah rangkaian yang tak terpisahkan. Timbulnya adat istiadat, karena adanya budaya yang mengakar dalam masyarakat dan Tuntunan Keagamaan yang kuat dan dijalankan oleh masyarakat. Adat istiadat adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat secara rutin dan berkala, dilakukan secara turun temurun. Adat istiadat biasanya dilakukan secara bersama oleh masyarakat, dalam suatu rangkaian kegiatan untuk tujuan-tujuan tertentu. Budaya berasal dari kata ‘BUDI’ dan ‘DAYA’. Secara umum, pengertian budaya adalah suatu usaha (daya) melalui olah ‘budi’, olah rasa, olah spiritual, untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih baik dari sebelumnya.
Masyarakat jawa (dalam ilmu Antropologi) mempunyai sikap permisif, namun mampu menyaring (filtering) pengaruh dari kebudayaan asing. Sehingga akan timbul proses Akulturasi Budaya. Hasilnya sudah pasti bisa dibayangkan, akan timbul suatu bentuk kebudayaan baru yang bersumber dari dua kebudayaan yang berbeda. Masyarakat jawa selalu mempertahankan sesuatu yang bersifat local genius, atau keunggulan-keunggulan budaya local yang bersifat baik. Kebudayaan dengan bentuk baru inilah yang akhirnya berkembang dalam kehidupan masyarakat secara umum, dan dilakukan secara rutin dan turun temurun. Pada akhirnya diakui sebagai suatu adat istiadat atau tradisi pada kehidupan dalam masyarakat.
Masyarakat jawa sejak zaman dahulu selalu suka menggunakan symbol-symbol (jw.:sanepan) dalam menjelaskan sesuatu. Begitu juga didalam Kitab Suci Alqur’an, Allah SWT juga telah mengajarkan symbol-symbol alam, contohnya dalam surat Al Fajr : Demi fajar, demi malam yang sepuluh, demi yang genap dan yang ganjil, dan apa bila malam berlalu. 
Hal itu dilakukan dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam kehidupan secara fisik maupun kehidupan secara spiritual. System berfikir semacam ini adalah merupakan local genius dari masyarakat jawa. Dalam ilmu modern hal demikian dikenal dengan istilah abstraction. Pola berfikir abstract, adalah pola berfikir menggunakan otak kiri secara simultan. Sebagai contoh kalau kita berhitung secara abstrak (jw.: awangan) kita membanyangkan symbol-symbol bilangan di pikiran kita. Setelah symbol-symbol bilangan tersebut mampu kita bayangkan, maka otak kiri kita perintahkan untuk menjalankan operasi yang kita butuhkan, misal: operasi penjumlahan, operasi perkalian dsb. Sebagai bukti fisik yang nyata, memberi angka (nilai) pada hari dan pasaran (jw. : pancawara), hanya dikenal pada masyarakat jawa, dan tidak dikenal dalam kebudayaan di belahan bumi manapun. Akankah kita mengingkari ke-genius-an nenek moyang kita? Namun banyak diantara  anggota masyarakat kita banyak yang alergi dengan hal-hal yang demikian. Mereka menganggap hal-hal seperti itu sebagai klenik, musyrik dan sebangsanya. Jawaban yang paling pasti, hanya bisa dijawab jika pertanyaan itu kita kembalikan pada hati nurani kita masing-masing.
Masyarakat jawa juga dikenal dengan type masyarakat socio cultural. Seperti yang telah disebutkan pada bagian awal uraian ini. Terutama masih dapat kita rasakan pada masyarakat kita yang hidup di pedesaan. Rasa kebersamaan, se-nasib dan sepenanggungan, merupakan faktor yang sangat penting dalam pertumbuhan sikap ini dalam kehidupan bermasyarakat. Ungkapan-ungkapan yang dibuat oleh nenek moyang kita, sering kali mengunakan symbol-symbol atau perlambang yang mudah dipahami. Namun sulit untuk dijelaskan, apalagi untuk dilakukan. Setidaknya dalam kehidupan pada masyarakat kita saat ini. Hal ini disebabkan karena kita tidak mau memahaminya. Sebagai contoh, makna dari ‘SEGO GOLONG’, yang bentuknya ‘golong-gilig’ atau menyerupai sebuah bola yang terbuat dari nasi. Bentuk yang sedemikian masive, adalah merupakan sebuah ungkapan kebulatan tekad yang se-iya se-kata, sak yeg sak eka kapti. Bisa kita bayangkan jika seluruh lapisan masyarakat memahami falsafah ini, kebersamaan dalam kehidupan bermasyarakat akan tumbuh berkembang dengan sangat subur. Tidak akan terjadi perpecahan (symbol:masive) maupun pertengkaran (symbol: ngglinding). Sehingga kerukunan dalam kehidupan masyarakat akan selalu terjaga dan langgeng. Tidak akan mudah terprovokasi.

Bumi Jawa yang dipijak, namun tetap bernafaskan islam.

Kita terlahir sebagai orang jawa, di tanah jawa. Makanan yang kita makan tumbuh dari tanah yang kita pijak, yaitu tanah jawa. Kita harus berfikir dengan pola pikir jawa. Sampai kapan pun, tidak akan bisa kita pungkiri kalau diri pribadi kita adalah “Orang Jawa”. Meskipun kita mempelajari ilmu-ilmu modern, (modern = barat : eropa) tidak akan mampu menghilangkan trade mark kita “JAWA”. Begitu pula dengan agama yang kita peluk, agama Islam. Kita tidak akan mampu menerapkan seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa arab dalam kehidupan kita sehari-hari. Seluruh ajaran islam bisa saja kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Namun adat istiadat, tabiat, tingkah laku, cara berpakaian dari bangsa arab tidak mungkin kita tiru. Kondisi geografis dan iklim, maupun struktur kehidupan masyarakat kita sangat jauh berbeda. Kita harus bersyukur, dikaruniai Allah lingkungan alam yang sangat subur, dan kehidupan kita yang makmur. Juga kita telah diberi hidayah Allah, sehingga kita dapat mengenal ajaran-ajaran Islam. Apalagi kita juga terlahir dalam keadaan islam. Subhanallah, Allah hu Akbar! Meskipun kita terlahir sebagai orang Jawa, namun Allah memberikan karunia kepada kita nafas islam. Amien!

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: