“Persahabatan Api dan Air”

“Persahabatan Api dan Air”.

 

Filsafat hidup orang Jawa, yang diajarkan oleh nenek moyang kita sering kali memiliki makna yang sangat dalam. Dalam penuturan kisah sering dibumbui romantisme demi menciptakan hidupnya jalan cerita. Dalam kisah Mahabarata, sangat syarat dengan makna simbolisme. Dan tidak jarang, banyak karya-karya dari para pujangga jawa yang mengembangkan cerita dari pakem Mahabarata yang  asli.  Dalam tulisan ini, saya tidak mengajak untuk menjelajahi mitologi Hindu. Namun saya mengajak untuk memahami dan mengukur betapa cerdasnya nenek moyang kita dalam memahami alam sekitar dimana kita tinggal.Unsur-unsur alam dan sifat-sifatnya.  Seperti tulisan terdahulu, bahwa mitos berfungsi sebagai pendobrak jalan buntu yang menghadang logika kita.

Sebagai contoh, persahabatan antara Bambang Wisanggeni dan Antasena. Sebenarnya lebih merupakan derivative (turunan) dari kekuatan yang lebih besar, yaitu Hyang Brahma (Wisanggeni) dan Hyang Anantaboga (Antasena). Hyang Brahma adalah penguasa Api, sedangkan Hyang Anantaboga adalah penguasa Bumi dan Air, dan Hyang Anantaboga diwujudkan dalam bentuk Ular Raksasa yang menyangga Bumi. Kedua ksatria ini tidak terdapat dalam kisah Mahabarata versi aslinya. Bambang Wisanggeni adalah putra Arjuna dari Bathari Dresanala, putri Hyang Brahma. Sedangkan Raden Antasena adalah putra Bima dari Bathari Urangayu (penguasa lautan).  Kisah diatas kita abaikan dulu, dan kita bahas tentang makna simbolik dari bertemunya api dan air. Api bersifat panas, membakar dan menghancurkan apa saja yang dilalapnya. Sedangkan air bersifat dingin menyejukkan, bahkan bisa menghentikan kobaran api. Esensi dari air sebenarnya terdapat zat-zat yang sangat dibutuhkan oleh api. Disinilah letak kepiawaian para pujangga Jawa jaman dulu. Mereka mengetahui sesuatu (teori fusi nuklir), namun mereka menyembunyikan dalam sebuah kisah romantisme.  Sehingga teori mereka tidak mudah dipahami ataupun dijipak, tanpa mempunyai landasan berfikir yang kuat. (baca tulisan sebelumnya ttg air dan valensi).

Dikisahkan, kedua ksatria ini tidak memiliki tata krama, namun lurus hatinya. Karena keduanya adalah cucu-cucu dewa, mereka memiliki kesaktian yang  tiada tanding. Bahkan, dalam perang Barata Yudha, kedua ksatria ini disingkirkan dengan tipu muslihat. Namun karena keluhuran budinya, mereka berdua kembali ke asalnya, ke pangkuan para dewa.

Sifat panas (api) akan membumbung tinggi, mencari tempat-tempat  puncak. Tidak akan ada yang bisa menghalanginya. Apapun akan diterjang, dilalap dan dihanguskan. Sedangkan sifat air berkebalikan dari api. Air akan mencari tempat-tempat yang terendah, berkumpul dan menyejukkan sekitarnya, memberi kehidupan kepada siapa saja. Dalam tataran normatif logis, sangat tidak mungkin kedua unsur ini bercampur, karena akan saling meniadakan. Namun dalam perspektif berfikir yang lebih dalam, kondisi ini adalah suatu kondisi yang sangat luar biasa. Dimana peleburan sifat asli dari unsur-unsur itu akan membentuk suatu sifat-sifat yang baru secara fisika. Disinilah letak kepiawaian para Pujangga Jawa di masa lampau. Menyelimuti teori Fisika dengan pendekatan Metafisika. Dan memang sangat masuk akal.

——–

Saya sangat mengagumi tokoh Bambang Wisanggeni dan Raden Antasena. Kisah dari kedua figur  ini sering saya renungkan dan cermati, hingga saya menemukan makna-makna ajaran yang terkandung di dalamnya. Sampaikan salam saya kepada Bambang Wisanggeni dan Raden Antasena, saya sangat mengaguminya… Kang Petruk Tralala…. samapaikan salamku padanya ya… He he he.

Batal Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Promosikan · Bagikan
Iklan

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: