PUCUNG.

Selamat Pagi Saudaralu…Salam sejahtera bagi kita semua dan doaku semoga dipagi ini kita mendapat kemudahan dan medapat Ridho Allah SWT menyelesaikan segala urusan. Pagi ini biarkan dan ijinkanlah hati ini Jiwa inibicara dan maaf terlalu panjang anggap saja pengganti koran pagi.
Saudaraku seluruh rakyat Indonesia…aku ingin bertanya…betulkah kita bisa makmur dan
sejahtera sesuai kinerja serta Visi Misi yang telah disampaikan, bukan hanya
mimpi dan sekedar janji yang kami dapat tapi kami butuh BUKTI.
Waktu mengalir setiap saat, bahkan setiap detik.

Keadaan zaman berubah seiring dengan perubahan waktu.
Segalanya berubah, tanpa bisa dibendung. Keadaan keindahan alam sudah bergeser.
Ungkapan lama tentang kemakmuran dari sebuah negara pada zaman dahulu, saat ini
jangan hanya merupakan suatu cerita belaka.

Gambaran tentang negara yang “Tata titi
tentrem, kerta raharja, loh jinawi” sangat jauh dari kenyataan kehidupan saat
ini.

Damai dan sejahtera sangat jauh dari benak kita, hanya ada di angan-angan kita.
Yang kita hadapi sekarang adalah sebuah kenyataan, alam dan kehidupan yang
kejam yang mengintai diri kita setiap saat. Dan kita harus waspada dengan
keadaan alam sekitar kita yang mana akan terjadi dengan berbagai bencana
terutama kecelakaan udara laut dan darat.

Rakyat harus kita ajak bangkit. Apa arti MERDEKA dari penjajahan bangsa asing
secara fisik, tapi belum terbebas dari penjajahan secara ekonomi.
Dan sekarang sedang memasuki fase penjajahan dan pembodohan oleh bangsa sendiri
yang disebut pejabat/aparat (mungkin lebih tepat kalau disebut PENJAHAT DAN
KEPARAT), apa kita masih bisa bilang MERDEKA bila negara kini memeras rakyat
dengan berbagai macam pajak dan pungutan yang tidak jelas buat apa uangnya?
Apakah rakyat menikmatinya bila kemiskinan dan kebodohan masih berserakan dimana-mana.
Masih pantaskah kita merasa merdeka bila masih terjajah oleh bangsa sendiri,
masih pantaskah kita disebut bangsa apabila sesama anak negeri saling tusuk
karena suku, ras, agama. Apakah ini yang telah diwariskan oleh nenek moyang
kita. Mari kita bertanya pada hati nurani kita, sudahkah kita MERDEKA?

Sebuah negara, tidak syah jika beberapa unsurnya tidak terpenuhi, yaitu harus
memiliki Wilayah, Rakyat dan Tata Aturan yang mengatur kehidupan masyarakatnya.
Rakyat dan Wilayah merupakan hal yang
terpenting dalam terbentuknya sebuah negara. Kedua unsur negara ini tidak dapat
dipisahkan. Pengelolaan wilayah dan tata aturan hubungan kemasyarakatan, tidak
lepas dengan kemakmuran negara dan kebebasan individu. Tata aturan yang dibuat
harus disepakati oleh seluruh lapisan masyarakat yang berada dalam wilayah
sebuah negara, hal ini yang disebut hukum positif. Dalam skala kecil sebuah
negara, katakanlah sebuah Desa, setiap anggota masyarakat harus memiliki sikap
“golong-gilig, ajur-ajer” sehingga akan mengkoloid menjadi sebuah sikap yang
“labuh-labet”. Sikap-sikap seperti ini harus dimiliki oleh seluruh lapisan
masyarakat, tanpa kecuali. Baik rakyat
maupun pamong (pimpinan) sekalipun. Sikap-sikap tersebut dibutuhkan untuk dapat
diciptakan suatu kondisi lingkungan yang aman dan makmur.

Tidak akan terjadi gangguan dan gejolak
yang disebabkan gesekan-gesekan diantara warga masyarakat maupun pihak luar.

Kondisi yang stabil semacam ini bisa
tercapai jika ada sebuah pimpinan yang diakui oleh seluruh lapisan masyarakat.
Presiden terpilih SBY – Budiono telah dipercaya Rakyat untuk meneruskan
kepemimpinannya 2009-20014 harus mampu mewujutkan impian rakyat. Hidupkan
kembali Dasar Pancasila dan UUD 45 Negara ini. TAPI MANA…???? MANA BUKTINYA…??? Pemimpin kita dan Pemerintahan apa akrab dengan rakyat ingat akan kultur Budaya sendiri
dan mereka telah lupa pada Moyang sendiri , meninggalkan Tradisi Bangsa sendiri.

Pemimpin yang lahir dari rakyat harus
berpihak kepada rakyat jelata. Nenek moyang kita sejak lama sudah memiliki
konsep kepemimpinan, yang dituangkan dalam bentuk dan simbol-simbol alam, yaitu
konsep Astha Brata. Dimana konsep tersebut mengisyaratkan bagaimana seharusnya
sikap seorang pemimpin yang ideal. Harus memiliki sifat-sifat yang digambarkan
dengan simbol-simbol alam. Kita harus mencari seorang pemimpin yang benar-benar
pemimpin, melalui doa dan petunjuk. Karena Indonesia benar-benar membutuhkan
pemimpin.
Yang mana kita jangan sampai salah pilih.

Manusia yang seutuhnya adalah manusia yang
selalu dalam CONCIOUSNESS – KESADARAN SUKMO – JIWA, sehingga hidupnya selalu
dalam bimbingan dan tuntunan.

Hidup yang demikian adalah hidup yang
membiarkan SUKMO-JIWA menjadi NAKHODA TUBUH FISIK.

Dimana otak kanan menerangi otak kiri,
bukan sebaliknya.
Inilah yang disebut keseimbangan sejati.

Melalui cara hidup demikian, jaminan
keselamatan pasti ditangan.
Manusia satrio sejati seperti inilah yang dipilih untuk jadi pemimpin dan
pejabat-pejabat negara yang akan mampu membawa Nusantara jadi Oboring Jagad.

Kondisi negara kita saat ini sangatlah
terpuruk.

Upaya-upaya perbaikan hanyalah celotehan
para politikus belaka. Realisasinya hanyalah merupakan dongeng pengantar tidur
saja. Janji-janji para pemimpin (legislatif dan eksekutif) tidak pernah
terwujud seutuhnya. Lalu rakyat yang mana yang dibela?

Saya teringat tembang pasemon berupa
tembang pocung :

Bapak pocung
Cangkem mu madhep mandhuwur
Sabamu ing sendhang
Pencokanmu ing lambung kèring
Ulap-ulap si pocung mutahku aya

Kita
mudah menebak apa yang dimaksud oleh tembang pocung tadi, yaitu sebuah
klenthing atau jun, yang digunakan untuk mengambil air oleh masyarakat kita
pada zaman dahulu.

Namun makna yang tersirat dari tembang
pocung itu masih sulit untuk ditangkap. Itulah gambaran para politikus kita
saat ini. Saya teringat kembali pada ungkapan lama yang tertulis pada kitab
kuno “Niti Sruti” yang bunyinya :

“Jun iku yên lokak kocak
Bisané mênêng lan antêng, yèn kêbak”

Ungkapan pada bait pertama inilah yang
harus kita kikis, jangan sampai para politikus berperilaku seperti ungkapan
tersebut. Tetapi hendaknya mengikuti apa yang diisyaratkan seperti pada bait
kedua. Jika tidak mampu memenuhi sikap-sikap seperti bait kedua, maka akan
timbul ekses yang sangat menghancurkan, yaitu malah akan memiliki watak yang
“Adigang adigung adiguna adimumpung”. Adigang adalah Wigang, disimbolkan
sebagai “KIDANG” atau kijang, seekor binatang yang sangat molek, lincah, gesit
dan memikat hati, namun pandai mengelabui, seolah-olah jinak. Adigung adalah
Wigung, disimbolkan sebagai binatang “GAJAH”, seekor binatang yang sangat besar
dan kuat. Namun dengan kekuatannya yang besar kadang-kadang menginjak-injak dan
menindas yang lemah. Adiguna adalah kepandaian, kecerdasan. Namun berkonotasi
negatif.

Bisa diartikan sebagai kelicikan, karena kepandaian yang dimiliki selalu
digunakan untuk membodohi orang lain, sehingga akan muncul sifat yang
sewenang-wenang. Adimumpung, dapat diartikan mumpung menjadi orang penting
sehingga sewenang-wenang dan menghalalkan segala cara.

Kita tidak pernah berharap mempunyai pemimpin yang memiliki sifat seperti ini.
Kemerdekaan individu, dibatasi oleh kemerdekan individu lainnya. Setiap orang
memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Setiap orang memiliki fungsi
yang berbeda-beda.

Sehingga hak-hak individu harus saling
dihormati. Dan yang jelas kita harus mempertahankan keutuhan NKRI apapun
resikonya, kami percayakan Nusantara tetap Jaya dengan dasar Pancasila dan UUD
45. kalau benar-benar kita laksanakan dengan murni dan konsekuen niscaya tidak
ada bangsa kita yang durhaka terhadap bangsa dan mengingat nenek moyang kita.
Mungkin keadaan yang carut marut saat ini adalah bagian dari cobaan dari Yang
Maha Kuasa. Mungkin kita lupa bersyukur dan lupa berterima kasih kepada alam
dimana kita tinggal. Bumi yang sudah menghidupi kita, alam yang telah
menyediakan segalanya untuk keperluan hidup kita. Sedekah Bumi, Ruwat Bumi
Pertiwi. Disini letak kunci negara republik indonesia yang kita cintai pasti
sekali merdeka tetap merdeka.

Hayu hayu hayu… Niskala.

Kami sangat ingin dan sangat gandrung
kemerdekaan lahir batin, kita kangen akan keutuhan Budaya Nusantara Bersatu tanpa ada perbedaan Ras, Suku, Golongan, Agama, Adat dan Budaya…mari kita sambung benang merak yang hampir putus ini…semoga terwujud cita-cita bangsa Indonesia dan
mendapatkan pemimpin yang benar-benar lahir sesuai dengan harapan Anak Bangsa Indonesia.
Terbasuhnya kala bumi dan kita tajamkan budi pekerti kita, pemimpin dan
rakyatnya. MERDEKA!!! SALAM JIWA BUDAYA!!!!

Foto: Selamat Pagi Saudaralu...Salam sejahtera bagi kita semua dan doaku semoga dipagi ini kita mendapat kemudahan dan medapat Ridho Allah SWT menyelesaikan segala urusan. Pagi ini biarkan dan ijinkanlah hati ini Jiwa inibicara dan maaf terlalu panjang anggap saja pengganti koran pagi.
Saudaraku seluruh rakyat Indonesia...aku ingin bertanya...betulkah kita bisa makmur dan
sejahtera sesuai kinerja serta Visi Misi yang telah disampaikan, bukan hanya
mimpi dan sekedar janji yang kami dapat tapi kami butuh BUKTI.
Waktu mengalir setiap saat, bahkan setiap detik. 

Keadaan zaman berubah seiring dengan perubahan waktu. 
Segalanya berubah, tanpa bisa dibendung. Keadaan keindahan alam sudah bergeser.
Ungkapan lama tentang kemakmuran dari sebuah negara pada zaman dahulu, saat ini
jangan hanya merupakan suatu cerita belaka. 

Gambaran tentang negara yang “Tata titi
tentrem, kerta raharja, loh jinawi” sangat jauh dari kenyataan kehidupan saat
ini. 

Damai dan sejahtera sangat jauh dari benak kita, hanya ada di angan-angan kita.
Yang kita hadapi sekarang adalah sebuah kenyataan, alam dan kehidupan yang
kejam yang mengintai diri kita setiap saat. Dan kita harus waspada dengan
keadaan alam sekitar kita yang mana akan terjadi dengan berbagai bencana
terutama kecelakaan udara laut dan darat.

Rakyat harus kita ajak bangkit. Apa arti MERDEKA dari penjajahan bangsa asing
secara fisik, tapi belum terbebas dari penjajahan secara ekonomi. 
Dan sekarang sedang memasuki fase penjajahan dan pembodohan oleh bangsa sendiri
yang disebut pejabat/aparat (mungkin lebih tepat kalau disebut PENJAHAT DAN
KEPARAT), apa kita masih bisa bilang MERDEKA bila negara kini memeras rakyat
dengan berbagai macam pajak dan pungutan yang tidak jelas buat apa uangnya?
Apakah rakyat menikmatinya bila kemiskinan dan kebodohan masih berserakan dimana-mana.
Masih pantaskah kita merasa merdeka bila masih terjajah oleh bangsa sendiri,
masih pantaskah kita disebut bangsa apabila sesama anak negeri saling tusuk
karena suku, ras, agama. Apakah ini yang telah diwariskan oleh nenek moyang
kita. Mari kita bertanya pada hati nurani kita, sudahkah kita MERDEKA?

Sebuah negara, tidak syah jika beberapa unsurnya tidak terpenuhi, yaitu harus
memiliki Wilayah, Rakyat dan Tata Aturan yang mengatur kehidupan masyarakatnya.
 Rakyat dan Wilayah merupakan hal yang
terpenting dalam terbentuknya sebuah negara. Kedua unsur negara ini tidak dapat
dipisahkan. Pengelolaan wilayah dan tata aturan hubungan kemasyarakatan, tidak
lepas dengan kemakmuran negara dan kebebasan individu. Tata aturan yang dibuat
harus disepakati oleh seluruh lapisan masyarakat yang berada dalam wilayah
sebuah negara, hal ini yang disebut hukum positif. Dalam skala kecil sebuah
negara, katakanlah sebuah Desa, setiap anggota masyarakat harus memiliki sikap
“golong-gilig, ajur-ajer” sehingga akan mengkoloid menjadi sebuah sikap yang
“labuh-labet”. Sikap-sikap seperti ini harus dimiliki oleh seluruh lapisan
masyarakat, tanpa kecuali.  Baik rakyat
maupun pamong (pimpinan) sekalipun. Sikap-sikap tersebut dibutuhkan untuk dapat
diciptakan suatu kondisi lingkungan yang aman dan makmur. 

Tidak akan terjadi gangguan dan gejolak
yang disebabkan gesekan-gesekan diantara warga masyarakat maupun pihak luar. 

Kondisi yang stabil semacam ini bisa
tercapai jika ada sebuah pimpinan yang diakui oleh seluruh lapisan masyarakat.
Presiden terpilih SBY – Budiono telah dipercaya Rakyat untuk meneruskan
kepemimpinannya 2009-20014 harus mampu mewujutkan impian rakyat. Hidupkan
kembali Dasar Pancasila dan UUD 45 Negara ini. TAPI MANA...???? MANA BUKTINYA...??? Pemimpin kita dan Pemerintahan apa akrab dengan rakyat ingat akan kultur Budaya sendiri
dan mereka telah lupa pada Moyang sendiri , meninggalkan Tradisi Bangsa sendiri.

Pemimpin yang lahir dari rakyat harus
berpihak kepada rakyat jelata. Nenek moyang kita sejak lama sudah memiliki
konsep kepemimpinan, yang dituangkan dalam bentuk dan simbol-simbol alam, yaitu
konsep Astha Brata. Dimana konsep tersebut mengisyaratkan bagaimana seharusnya
sikap seorang pemimpin yang ideal. Harus memiliki sifat-sifat yang digambarkan
dengan simbol-simbol alam. Kita harus mencari seorang pemimpin yang benar-benar
pemimpin, melalui doa dan petunjuk. Karena Indonesia benar-benar membutuhkan
pemimpin. 
Yang mana kita jangan sampai salah pilih. 

Manusia yang seutuhnya adalah manusia yang
selalu dalam CONCIOUSNESS – KESADARAN SUKMO – JIWA, sehingga hidupnya selalu
dalam bimbingan dan tuntunan. 

Hidup yang demikian adalah hidup yang
membiarkan SUKMO-JIWA menjadi NAKHODA TUBUH FISIK. 

Dimana otak kanan menerangi otak kiri,
bukan sebaliknya. 
Inilah yang disebut keseimbangan sejati. 

Melalui cara hidup demikian, jaminan
keselamatan pasti ditangan. 
Manusia satrio sejati seperti inilah yang dipilih untuk jadi pemimpin dan
pejabat-pejabat negara yang akan mampu membawa Nusantara jadi Oboring Jagad.

Kondisi negara kita saat ini sangatlah
terpuruk. 

Upaya-upaya perbaikan hanyalah celotehan
para politikus belaka. Realisasinya hanyalah merupakan dongeng pengantar tidur
saja. Janji-janji para pemimpin (legislatif dan eksekutif) tidak pernah
terwujud seutuhnya. Lalu rakyat yang mana yang dibela? 

Saya teringat tembang pasemon berupa
tembang pocung :

Bapak pocung
Cangkem mu madhep mandhuwur
Sabamu ing sendhang
Pencokanmu ing lambung kèring
Ulap-ulap si pocung mutahku aya

Kita
mudah menebak apa yang dimaksud oleh tembang pocung tadi, yaitu sebuah
klenthing atau jun, yang digunakan untuk mengambil air oleh masyarakat kita
pada zaman dahulu. 

Namun makna yang tersirat dari tembang
pocung itu masih sulit untuk ditangkap. Itulah gambaran para politikus kita
saat ini. Saya teringat kembali pada ungkapan lama yang tertulis pada kitab
kuno “Niti Sruti” yang bunyinya :

“Jun iku yên lokak kocak
Bisané mênêng lan antêng, yèn kêbak”

Ungkapan pada bait pertama inilah yang
harus kita kikis, jangan sampai para politikus berperilaku seperti ungkapan
tersebut. Tetapi hendaknya mengikuti apa yang diisyaratkan seperti pada bait
kedua. Jika tidak mampu memenuhi sikap-sikap seperti bait kedua, maka akan
timbul ekses yang sangat menghancurkan, yaitu malah akan memiliki watak yang
“Adigang adigung adiguna adimumpung”. Adigang adalah Wigang, disimbolkan
sebagai “KIDANG” atau kijang, seekor binatang yang sangat molek, lincah, gesit
dan memikat hati, namun pandai mengelabui, seolah-olah jinak. Adigung adalah
Wigung, disimbolkan sebagai binatang “GAJAH”, seekor binatang yang sangat besar
dan kuat. Namun dengan kekuatannya yang besar kadang-kadang menginjak-injak dan
menindas yang lemah. Adiguna adalah kepandaian, kecerdasan. Namun berkonotasi
negatif. 

Bisa diartikan sebagai kelicikan, karena kepandaian yang dimiliki selalu
digunakan untuk membodohi orang lain, sehingga akan muncul sifat yang
sewenang-wenang. Adimumpung, dapat diartikan mumpung menjadi orang penting
sehingga sewenang-wenang dan menghalalkan segala cara. 

Kita tidak pernah berharap mempunyai pemimpin yang memiliki sifat seperti ini.
Kemerdekaan individu, dibatasi oleh kemerdekan individu lainnya. Setiap orang
memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Setiap orang memiliki fungsi
yang berbeda-beda.

Sehingga hak-hak individu harus saling
dihormati. Dan yang jelas kita harus mempertahankan keutuhan NKRI apapun
resikonya, kami percayakan Nusantara tetap Jaya dengan dasar Pancasila dan UUD
45. kalau benar-benar kita laksanakan dengan murni dan konsekuen niscaya tidak
ada bangsa kita yang durhaka terhadap bangsa dan mengingat nenek moyang kita.
Mungkin keadaan yang carut marut saat ini adalah bagian dari cobaan dari Yang
Maha Kuasa. Mungkin kita lupa bersyukur dan lupa berterima kasih kepada alam
dimana kita tinggal. Bumi yang sudah menghidupi kita, alam yang telah
menyediakan segalanya untuk keperluan hidup kita. Sedekah Bumi, Ruwat Bumi
Pertiwi. Disini letak kunci negara republik indonesia yang kita cintai pasti
sekali merdeka tetap merdeka. 

Hayu hayu hayu... Niskala.

Kami sangat ingin dan sangat gandrung
kemerdekaan lahir batin, kita kangen akan keutuhan Budaya Nusantara Bersatu tanpa ada perbedaan Ras, Suku, Golongan, Agama, Adat dan Budaya...mari kita sambung benang merak yang hampir putus ini...semoga terwujud cita-cita bangsa Indonesia dan
mendapatkan pemimpin yang benar-benar lahir sesuai dengan harapan Anak Bangsa Indonesia.
Terbasuhnya kala bumi dan kita tajamkan budi pekerti kita, pemimpin dan
rakyatnya. MERDEKA!!! SALAM JIWA BUDAYA!!!!
Iklan

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: