SUWUNG ORA ONO OPO-OPO

SUWUNG ORA ONO OPO-OPO

Dalam perjalanan mengikuti aliran air, saya duduk termangu dalam kepenatan. Dengan kaki kuluruskan merata dengan tanah menyentuh rerumputan. Saat wajahku diterpa angin sepoi, meskipun di bawah terik sinar matahari, sangat terasa kehidupan yang damai. Bunyi air yang gemericik, sangat menghibur hati yang gundah. Sebagai obat penyembuh dahaga.Hati ini tertegun, ketika mata menatap tumbuhan kangkung yang tumbuh di pinggiran sungai. Meliuk-liuk diterpa air arus kecil yang beriak. Pepatah mengatakan “Air beriak, tanda tak dalam”. Justru karena kangkung tumbuh di air yang dangkal, itu yang membuat saya tercengang, ketika saya mencabut salah satu batang kangkung. Ternyata batang kangkung itu kosong, tidak ada isinya. Tapi mengapa batang itu mampu menopang dedaunan yang tumbuh di atasnya. Subhanallah, Maha Besar Allah ..! Yang telah memberikan ilmu kehidupan lewat tumbuhan kangkung. Tapi hati saya kembali tergelitik, mengapa Tuhan selalu menyembunyikan makna ajaran-ajarannya di alam dan di lingkungan sekitar kita. Tuhan adalah ‘Causa Prima’, dzat yang ‘Murba ing dumadi’ adalah awal dari segalanya. Memang sudah menjadi tugas kita untuk menggali dan mencari kajian makna yang tersembunyi di baliknya. Tanpa hati yang bersih dan pikiran jernih, sangat tidak mungkin kita dapat memahami makna-makna yang tersembunyi di balik kehidupan kita ini.

Sesaat kemudian, saya dikejutkan oleh teriakan burung-burung bangau yang sedang mencari makan di persawahan. Bagaikan penari yang meliuk-liuk dengan indah, mereka berpesta pora sambil bersendau gurau, mencari mangsa. Katak-katak kecil berlarian menghindari sergapan burung bangau yang kelaparan. Tetapi apalah daya, takdir mereka, hidup mereka memang sudah ditakdirkan untuk menjadi santapan sang bangau. Kehidupan yang mereka jalani, mereka sumbangkan bagi kelangsungan kehidupan makhluk lain. Subhanallah, Maha Besar Allah. Banyak diantara kita yang mengeluh karena hanya harus berkorban harta untuk orang lain. Seekor katak akan lebih berharga di mata Allah, jika hidup kita tidak kita hiasi dengan amal perbuatan yang terpuji.

Setelah puas bersantap dan merasa kenyang, kawanan bangau pun mulai beterbangan memenuhi angkasa. Mereka terbang dengan ritmis. Sesuai dengan hitungan algoritma yang sangat pasti. Mungkin karena mereka sudah melakukannya selama bertahun-tahun. Tetapi hati saya terkesima melihat bagaimana mereka menerapkan hitungan-hitungan tersebut dengan sangat tepat. Dan yang lebih mencengangkan lagi, mereka mampu pergi meninggalkan tempat tanpa meninggalkan jejak. Kita tidak akan mampu melihat jejak seekor burung bangau yang terbang di udara. Sungguh rahasia Allah sangat banyak. Dan Allah Maha Mengetahui. Mereka terbang beriringan dengan menggunakan formasi yang menyerupai anak panah. Satu di depan sebagai leader, dan diikuti dua ekor bangau dibelakangnya, dan tiga, empat dan seterusnya sambung menyambung di belakangnya. Saya ingat “Pascal” seorang ahli matematika. Apakah hukum yang diciptakan juga terinspirasi oleh sekawanan bangau yang terbang di langit? Allah Maha Adil, Binatang pun dikaruniai sebuah instink yang sangat tajam. Kadang kita sebagai manusia kalah dalam survive menjalani kehidupan di alam yang kejam ini. Tuhan memberikan manusia akal, itu yang membedakan manusia lebih dibandingkan makhluk lain. Akal kita harus diasah setajam mungkin, rasa kita harus ditumbuk sehalus mungkin. Tuhan mengajari kita ilmu dan hukum-hukum Allah, melalui binatang, tumbuhan dan lingkungan alam dimana kita hidup. Alam kehidupan mereka tersembunyi hukum-hukum Allah yang Maha Benar. Tergantung kita dapat melihat dan dapat memaknai atau tidak. Itu semua bergantung pada kemampuan kita sendiri. Semakin dekat kita dengan Tuhan, semakin besar pula cobaan yang akan kita terima.

Kembali saya merenungkan keberadaan tumbuhan kangkung dan burung bangau. Kangkung yang tumbuh di tempat kotor, berlumpur dan hina, namun kangkung mengajari kita pada kehidupan yang hakiki. Batang kangkung tidak berisi (tidak berkambium), (jw. tanpa galih). Disitulah letak hakekat kehidupan, seperti galih kangkung. Dalam ilmu hakekat, kehidupan ini harus kita kosongkan, kita harus meniadakan segala macam bentuk hawa nafsu dan berbagai keinginan yang menguasai jiwa kita. Begitu juga dengan tapak burung bangau yang terbang di angkasa. “Sejatine ora ono, Ora ono opo-opo”. Jika kita bisa mengetahui rahasia galih kangkung dan tapak burung bangau, saat itu pula kita akan mengetahui rahasia hakekat kehidupan yang sebenarnya.

 

 

Batal Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Promosikan · Bagikan
Iklan

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: