Ujung Padma akan menjadikan obat bagi laraku…

Ujung Padma akan menjadikan obat bagi laraku

Kabut tebal menghampar menutupi jalan yang akan aku lalui,

Angin bertiup kencang, namun tak juga mampu mengusir halimun di depan wajahku….

Udara semakin dingin, menusuk-nusuk sampai ke dalam tulang,

Kurasakan sekujur tubuhku basah tersiram tetesan embun pagi itu…

Lengkap sudah deritaku….

Ku angkat kakiku, setapak demi setapak untuk membuat langkah..

Langkahku semakain gontai, aku semakin tak berdaya….

Aku kehilangan arah…..

Cahaya suci sang Raditya, terhalang halimun yang begitu tebal….

Indera penglihatanku tak mampu menembus hamparan kabut yang begitu dingin mencekam…

Tubuhku  semakin dingin, ketika kusadari air di sekitarku sudah setinggi lutut.

Kuhentikan langkah….

Aku kumpulkan segenap kesadaranku yang masih tersisa…..

Kutarik nafas dalam-dalam……

Kebelalakkan pelupuk mataku lebar-lebar…..

Perlahan kabut mulai menipis….

Kesadaranku mulai tumbuh…

Tercium harum semerbak wangi

Dihadapanku terlihat sekuntum bunga padma yang sangat anggun…

Ternyata diriku berada di tepi telaga…

Hatiku terhenyak, ketika kudengar suara hardikan….

Namun tak kulihat seorangpun disekelilingku…

Kutoleh ke kanan dan ke kiri, tak seorangpun ada disekitarku…

Suara itu menghardik lagi dengan lebih keras

Seekor katak dengan wajah ditekuk menatapku garang…..

Aku semakin bingung, apa salahku…  kenapa sang  katak memaki diriku?

Kuberanikan diri utuk menyapanya…

“Maaf ki sanak, apa salahku..? kenapa ki sanak memarahiku? Saya tidak tahu kenapa saya berada ditempat ini… Halimun yang tebal telah menutupi pandanganku, dan desiran angin yang telah menuntunku hingga aku sampai di tempat ini…!” begitu sapaku kepada katak itu “Maaf ki sanak, siapakah sebenarnya diri ki sanak ini…? Tanpa berkedip diapun kembali menyahut, “Jangan kesini menjauhlah dari Bungaku..!”  dengan mata yang bertambah garang iapun mengayun-ayunkan tombaknya untuk mengusirku dari telaga itu. “tidak boleh ada yang mengganggu Pangeranku, dia milikku, aku yang berhak menjaganya..” serunya. Sang katak itu pun kembali melompat-lompat untuk  mengekspresikan kemarahannya.  Dia mengusirku dan melarangku untuk memetik kuntum bunga padma itu, bahkan untuk memandangnya pun aku tidak boleh…! Dalam hati aku berfikir, begitu setianya sang katak pada bunga padma yang dijaganya, setiap waktu. Selagi aku memuji kesetiaan sang katak dalam hati, terdengar suara tertawa ejekan padanya….. “Hai Katak bodoh, kamu tidak boleh melarang orang lain untuk melihat kuntum bunga indah itu.. ha..ha..ha…

Rupanya ada seekor lebah yang selama ini memperhatikan percakapan kami, dan rupanya sang lebah tahu apa yang aku pikirkan. “Hai, Lia.., jangan dengarkan dia, dia hanyalah seekor katak yang bodoh, tidak tahu apa arti kesetiaan. Dia hanya menuruti kata hatinya, tanpa tahu arti tugas yang dia lakukan. Perhatikanlah dengan saksama, seluruh bagian dari tumbuhan itu..! begitu pintanya padaku. Tanpa membuang waktu, kutatap seluruh bagian dari tumbuhan itu. Begitu indah bunganya, semerbak wanginya memenuhi seisi telaga. Daunya mengambang dipermukaan air, melambai-lambai mengikuti ayunan air telaga, seolah menari mengikuti ritmik irama alunan tembang kedamaian yang abadi. Begitu kulihat bagian bawahnya, akarnya tertancap pada lumpur kotor yang hitam. Saya sungguh kagum pada bunga itu, bagaimana mungkin di tempat seperti itu dia mampu menciptakan sebuah kuntum bunga yang indah merona, bak Maha Dewa….” Sang katak terlihat semakin marah padaku. Dia melompat ke atas daun yang mengambang diatas permukaan air. Aku semakin kagum pada tumbuhan itu, dengan daun yang sangat tipis, ia mampu menahan tubuh sang katak yang tambun itu. Kulihat sang lebah terbang ke pucuk bunga padma, dan sang katak hanya melongo melihatnya. Dia tidak mampu menakuti dan menaklukkan sang lebah. Setelah mengambil sari madunya sang Lebah pun terbang meninggalkan kami, sambil tertawa riang, “Carilah intinya…, jangan hanya geluti batang dan daunya…! ha..ha..ha..”. Sang lebah pun terbang menghilang.

Sinar matahari bersinar menerpa keningku, kehangatan mulai kurasakan disekujur tubuhku. Aku segera beranjak dari tempat itu. Kulihat tubuhku kotor,  kakiku berlepotan lumpur telaga, rambutku basah oleh hembusan embun. Kuayunkan langkahku ke tepi telaga dengan perasaan yang lebih bahagia. Dalam hati aku ucapkan terima kasih pada sang lebah yang telah menyingkap tabir hakekat hidup.

————————–

Dengan linangan air mata, kutulis kisah (kias metafora) ini untuk kupersembahkan pada semua sahabatku /saudaraku  / anak2ku dan seseorang disana, seorang yang sangat berarti bagi hidupku, Dia yang selama ini menjadi sumber inspirasi hidupku. Meskipun jarak memisahkan kami, namun Dia selalu hidup dalam relung jiwaku…. yang paling dalam…. Saudaraku/sahabatku/ anakku/ Engkau yang selalu dihatiku…. hingga nanti aku akan berada di pangkuan-Mu…. Catatan ini jadikanlah ingatan kalian yang sayang padaku…. mungkin hanya ini yang mampu ku tinggalkan… dan ingat kalian boleh melupakan wajahku namun jangan lupakan suaraku / tulisanku …… tulisan ini tulisan yang paling berharga bagiku…..

  • Katak merupakan kiasan bagi orang yang terlalu memegang syari’at, namun ia tidak memahami hakekat sejatinya.
  • Lebah adalah kiasan untuk kebebasan berimajinasi dalam menelusuri takekat, sehingga akan menemukan hakekat.
  • Bunga Padma adalah dirimu, ibarat cita-cita hidup yang harus digapai. Keindahan, kedamaian yang harus kita raih, meskipun kita hidup dalam lumpur yang kotor. Disana masih tersisa nurani yang suci, diujung Bunga Padma….

—————————

Bunda Lia Songgo Buwono.

 

Batal Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Promosikan · Bagikan

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: