Ujung Pena Tak Lagi Tajam Dan Ujung Kuas Tak Lagi Lembut

Ujung Pena Tak Lagi Tajam Dan Ujung Kuas Tak Lagi Lembut
oleh Bunda Lia 

Ujung Pena Tak Lagi Tajam 

Dan Ujung Kuas Tak Lagi Lembut

 

Bagi orang-orang seusia kita, sebenarnya membicarakan kata “cinta” sudah tidak layak lagi, sudah bukan waktunya. Definisi tentang cinta yang njlimet dan rumit, hanya akan membebani pikiran saja.

Ujung-ujungnya hanya akan melemahkan semangat hidup. Orang-orang yang mendewakan “Cinta” kebanyakan hanya akan menuai penderitaan yang membelenggu akal sehatnya.

 

Menurut saya, hidup ini indah, bagaikan air yang mengalir. Pada saatnya akan sampai juga pada titik akhir kedamaian dan ketentraman, di lautan kasih. Mungkin saya memahami kata “cinta” berbeda dengan orang kebanyakan. Sebenarnya cinta hanyalah sebuah “bualan” dan isapan jempol belaka.

 

Egois, yang maunya menang sendiri. Namun pada akhirnya, hanyalah penderitaan yang didapat.

Lain halnya dengan “kasih” dan “sayang”. Cinta lebih bersifat fisik, sehingga bisa rusak ataupun hilang. Namun sebuah kasih sayang lebih bersifat batin atau rasa yang tulus. Sesuatu yang nyata namun abstrak. Kasih sayang lebih menyejukkan, menumbuhkan rasa damai di hati, dan bersifat langgeng. Karena bukan bersifat ragawi, sehingga tidak mungkin hilang ataupun musnah. ( Aku tetap akan menjaga dan selalu member kasih dan sayang )

 

 

Satu lagi…

Cinta tidak mengenal logika, bahkan efeknya lebih sering membelenggu logika kita.Egois, sering memaksakan kehendak, lebih mementingkan diri sendiri, bahkan tidak menghiraukan perasaan orang yang dicintainya. Cinta lebih dekat dengan sifat cemburu yang tidak beralasan (buta / membabi buta tanpa ada alas an yang tepat). Sering orang menjadi bodoh karena cinta. Sikap dan tingkah lakunya tidak logis. Pada akhirnya hanya akan menghancurkan orang yang ia cintai. ( Tentu pada diri sendiri juga tentunya )

 

Rasa kasih dan sayangku padamu juga sesama bukanlah tanpa alasan…..

Bukan proses sesaat yang instant. Namun penuh dengan ujian mental yang “menurut saya” berat. Banyak dilema yang saya hadapi, dilema dan pertentangan antara logika dan rasa.

Kuikuti dan kutapaki hari demi hari….

Bahkan, meskipun harus tidur pada dinginnya lantai dan berbantalkan lengan pun….  aku jalani dengan suka hati. (Tempat dimana saya sering merenung dan tidur, sekarang menjadi tempat tidurmu). Banyak kenangan yang tak mungkin kuhapus dalam ingatanku.

Kadang aku sampai menangis bila mengingatnya… Aku hanya ingin menunjukkan padamu, betapa dalamnya rasa kasih dan sayangku padamu…

 

Namun seiring perjalanan waktu….

Sesuatu terjadi… Kejadian itu sangat menoreh batinku demikian dalam, namun tidak sampai merusak sisi lain dimana aku simpan rasa kasih dan sayang itu..

Kalau saat itu, yang ada dalam kepalaku hanyalah kata “cinta”, kemungkinan akan lain efeknya. Mungkin akan timbul perasaan dendam dan kebencian.

Rasa kasih dan sayang itu mampu menyembuhkan dan mengobati torehan luka yang sangat pedih menyakitkan itu.

 

Meskipun saat ini aku berada di tempat yang sangat jauh….

Aku selalu mengingatmu… Kusimpan kenangan-kenangan indah dalam bilik lubuk hatiku yang paling dalam, ku tutup dan ku kunci rapat-rapat hatiku untuk yang lain. Agar tidak hilang, dengan harapan kan tetap abadi selamanya, dalam hatiku…. Aku percaya engkaupun tak akan mungkin dengan mudah melupakan kenangan kita…. Biarlah sang waktu yang akan menjawab semua itu… biarlah kita memapakki jalan masing-masing yang penting hatiku ini hanyalah untukmu…. Tak mungkin orang lain dapat menempati ruang bilik yang telah kau isi…..

 

Namun diriku hanyalah seorang gembala (cah angon) yang mencari rumput di pinggir kali.

 

Yang tidur beratapkan langit, berselimut mega, dan berbantalkan derita. Tiada harta dan tiada saudara… aku disini sebagai pengembara bersama lantunan waktu yang harus kupaku untuk mencari “arti hidup “ dan “jati diri” kini yang kualami dank u jalani engkaupun tak mengerti…. Yang ada di kepalaku hanyalah “kerja” dan berkarya…

Rasa kasih dan sayangku padamu, telah membuat engkau sebagai sumber inspirasi dalam segenap hidupku.

 

Dalam pengembaraan yang panjang, kutelusuri setiap jalan, tanpa kawan. Hanya bayanganmulah yang setia mendampingiku. Bayangan itulah yang aku ajak bercanda tawa, hingga tumbuh rasa bahagia…. Walau selama ini aku bergelut dalam bayangan dan impian… sekian lama kucari dan kucari ….. kini engkaupun telah kudapati… tetapi jarak memisahkan kita … aku tak tau … mesti berkata apa… marahkah aku… menagiskah aku…. Atau menjeritkah aku… tidak… itu tak mungkin terjadi padaku … karena aku telah terbiasa menggayuh sampan ditengah samodra….

 

Aku mengakui betapa sepinya hidup ini tanpa kasih dan sayang… betapa beratnya beban prau kecil yang kudayung ini saat badai menghantam lajunya perauku… dengan sisa tenaga dengan segenggam harapan … dalam kelunya lidahku…. Gemetarnya bibirku…. aku hanya mampu bergumam… Ya Allah… Innalilillahi Wa’inalillahi Raji’un….  Hanya pada-Mu aku berserah Ya Allah… dengan suatu sisa-sisa kekuatan tenagaku …. aku yakin dengan kebesaran nama Allah… dengan perbuatanku selama ini aku yakin pertolongan dari Allah….. disaat aku ter- obang-ambing badai… kulihat baying-bayangmu… namun engkau pergi tanpa menghiraukanku…. Begitu sombongkah… begitu angkuhkah….

 

Tuhan inikah “anugrah” yang Engkau berikan padaku atas kebaikanku selama ini….???? Tuhan kini aroma wangi  itu telah hadir dalam hidupku… walau kini aroma itu jauh dan semua tinggal bayangan… malam ini tidak seperti malam sebulan yang lalu… sebulan yang lalu bayangan itu sombong dan angkuh… namun beberapa hari ini bayangan itu hadir….

Kadang bayangan itu terasa nyata, membelaiku, menghiburku disaat duka. Memberi semangat untuk selalu berkarya… dan menuliskan sesuatu sampai pena ini terasa tumpul….. seiring diperjalanan hening… kugoreskan kuas diatas kanfas namun kuas itu tak selembut dulu lagi… kini keras bagaikan tak ingin meneruskan karyaku…. Tuhan bimbinglah aku… Tuhan tolonglah aku… Tuhan berilah aku petunjuk…. agar aku tau jalan mana yang harus kutempuh… karena kulihat didepan sana banyak jalan kelokan…. maka ijinkanlah ku tetap berpegang erat tongkat ayat-ayat-Mu….

 

_______________________  Ya Allah __________________

 

Terima kasih bayangmu, telah menyertaiku… namun aku berpesan tetaplah berdoa agar kita bisa bersama bukan hanya bayangan…. dan berdoalah agar hatiku tak sekokoh batu karang…..

Walaupun hanya dalam angan dalam hatiku… bayangan dalam hidupku…

Entahlah … apakah kita akan dipertemukan…???? Semua kita serahkan pada Allah…

Batal Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Promosikan · Bagikan
Iklan

Posted on Juni 11, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: