TUTUP MATA, TUTUP TELINGA, TUTUP MULUT.

Kesalahan dalam muamalah (hubungan antar manusia), dimana sebenarnya ini adalah perbuatan dosa, namun dianggap remeh oleh banyak pihak. Kita memohon petunjuk dan penjagaan kepada Allah Ta’ala dari perbuatan hina ini, yang diantaranya adalah, Tutuplah Mata bilamelihat sesuatu yg kurang baik. Tutup Telinga bila mendengar sesuatu pembicaraan yg kurang baik, Tutup Mulut jangan bicara kalau tak perlu karena lidah ibarat pedang dan suka mengunjing atau ngomongin orang…  untuk itu marilah kita kenali diantaranya…..

AboutMe

GHIBAH (MENGGUNJING)

Dalam banyak pertemuan, sering kali yang dijadikan hidangannya adalah menggunjing (membicarakan orang lain). Padahal Allah Ta’ala melarang hal tersebut, & menyeru agar segenap hamba menjahuinya. Allah Ta’ala menggambarkan & mengidentikkan ghibah dgn sesuatu yang amat kotor & menjijikkan. Allah Ta’ala berfirman, “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik dengannya.” (Al Hujurat : 12)

Nabi menerangkan makna ghibah (menggunjing) dgn sabdanya, “Tahukah kalian apakah ghibah itu?” Mereka menjawab: “Allah & Rasul-Nya yang mengetahui”. Beliau bersabda: “Yaitu engkau menyebut saudaramu dgn sesuatu yang dibencinya”, ditanyakan: “Bagaimana halnya jika apa yang aku katakan itu (memang) terdapat pada saudaraku?” Nabi b menjawab: “Jika apa yang kamu katakan terdapat pada saudaramu maka engkau telah menggunjingnya (melakukan ghibah) & jika ia tak terdapat padanya maka engkau telah berdusta padanya.”

Jika ghibah adalah menyebutkan sesuatu yang terdapat pada diri seorang muslim, sedang ia tak suka (jika hal itu disebutkan), baik terkait permasalahan keadaan jasmaninya, agamanya, kekayaannya, hatinya, akhlaknya, bentuk lahiriyahnya & sebagainya. Caranyapun bermacam-macam. Diantara bentuk ghibah adalah dgn membeberkan ‘aib, menirukan tingkah laku atau gerak tertentu dari orang yang dipergunjingkan dgn maksud mengolok-olok.

Banyak orang meremehkan masalah ghibah. Padahal dlm pandangan Allah Ta’ala, hal itu adalah sesuatu yang keji & kotor. Ini dijelaskan dlm sabda Rasulullah , “Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dgn seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri) & yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya.”

Wajib bagi orang yang hadir dlm suatu pertemuan yang sedangmenggunjingkan orang lain, utk mencegah kemungkaran & membela saudaranya yang dipergunjingkan. Nabi  amat menganjurkan hal demikian, sebagaimana dlm sabdanya, “Barangsiapa menolak (ghibah atas) kehormatan saudaranya, niscaya pada Hari Kiamat Allah akan menolak api Neraka dari wajahnya.”

NAMIMAH (MENGADU DOMBA)

Namimah adalah mengadukan (mempertentangkan) ucapan seseorang kepada orang lain dgn tujuan merusak hubungan, memutus ikatan, serta  menyulut api kebencian & permusuhan antar sesama manusia.

Allah Ta’ala mencela pelaku perbuatan tersebut dlm firmanNya, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina yang banyak mencela, yang kian kemari menebar fitnah.” (QS. Al-Qalam : 10-11)

Dalam sebuah hadits marfu’ yang diriwayatkan Hudzaifah d disebutkan, “Tidak akan masuk surga bagi Al Qattat (tukang adu domba].”

“Al-Qattat adalah orang yang menguping (mencuri dengar pembicaraan) tanpa sepengetahuan mereka, lalu ia membawa pembicaraan tersebut kepada orang lain dgn tujuan mengadu domba”.

Ibnu Abbas  meriwayatkan, “Suatu hari Rasulullah  melewati sebuah kebun di antara kebun-kebun Madinah, tiba-tiba beliau mendengar dua orang yang disiksa dlm kuburnya, lalu Nabi  bersabda, ”Keduanya disiksa, padahal tak karena masalah yang besar dlm anggapan keduanya, (dan dlm riwayat lain disebutkan: padahal sesungguhnya ia adalah persoalan besar). Kemudian Nabi  bersabda, “Seorang diantaranya tak meletakkan sesuatu utk melindungi diri dari percikan kencingnya; & seorang lagi (disiksa karena) suka mengadu domba.”

Di antara bentuk namimah yang paling buruk adalah hasutan yang dilakukan terhadap seorang lelaki tentang istrinya atau sebaliknya, dgn maksud utk merusak hubungan suami istri tersebut. Demikian juga adu domba yang dilakukan sebagian karyawan kepada teman karyawannya yang lain. Misalnya dgn mengadukan ucapan-ucapan kawan tersebut kepada direktur atau atasan dgn maksud utk menfitnah & merugikan karyawan tersebut. Semua hal ini hukumnya haram.

MELONGOK (MENGINTIP) RUMAH ORANG TANPA IZIN

Allah Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin & memberi salam kepada penghuninya.” (QS. An-Nur: 27)

Rasulullah  menegaskan, alasan diharuskannya meminta izin adalah karena dikhawatirkan orang yang masuk akan melihat aurat tuan rumah. Nabi  bersabda, “Sesungguhnya diberlakukannya meminta izin (ketika masuk rumah orang lain) adalah untuk (menjaga) penglihatan.”

Pada saat ini, dgn berdesakannya bangunan & saling berdempetnya gedung-gedung serta saling berhadap-hadapannya antara pintu dgn pintu & jendela dgn jendela, menjadikan kemungkinan saling mengetahui isi rumah tetangga kian besar. Ironisnya, banyak yang tak mau menundukkan pandangannya, malah yang terjadi terkadang dgn sengaja, mereka yang tinggal di gedung yang lebih tinggi, dgn leluasa memandangi lewat jendela mereka ke rumah-rumah tetangganya yang lebih rendah (mengintip). Ini adalah salah satu pengkhianatan & pemerkosaan terhadap hak-hak tetangga, sekaligus sarana menuju yang diharamkan, karena perbuatan tersebut banyak kemudian menjadi bencana & fitnah.

Dan disebabkan oleh bahayanya akibat tindakan ini, sehingga syariat Isla membolehkan mencongkel mata orang yang suka melongok & melihat isi rumah orang lain. Rasulullah  bersabda, “Barangsiapa melongok rumah suatu kaum dgn tanpa izin mereka, maka halal bagi mereka mencongkel mata orang tersebut.”

Dalam riwayat lain dikatakan, “… kemudian mereka mencongkel matanya, maka tak ada diat (ganti rugi) untuknya juga tak ada qishash baginya.”

BERBISIK EMPAT MATA DAN MEMBIARKAN KAWAN KETIGA

Dalam sebuah majlis & pergaulan, sikap & tindakan ini sungguh amat tak terpuji, bahkan sikap & tindakan seperti ini sebenarnya merupakan langkah syaitan utk memecah belah umat Islam & menebarkan kecemburuan, kecurigaan & kebencian di antara mereka. Rasulullah  menerangkan hukum & akibat perbuatan ini dlm sabdanya, “Jika kalian sedang bertiga, maka janganlah dua orang berbisik tanpa seorang yang lain, sehingga kalian membaur dlm pergaulan dgn manusia, sebab yang demikian itu akan membuatnya sedih.”

Termasuk di dalamnya berbisik dgn tiga orang & meninggalkan orang keempat & demikian seterusnya. Demikian pula, jika kedua orang tersebut berbicara dgn bahasa yang tak dimengerti oleh orang ketiga.

Tidak diragukan lagi, berbisik hanya berdua dgn tak menghiraukan orang ketiga adalah salah satu bentuk penghinaan kepadanya. Atau memberikan asumsi bahwa keduanya menginginkan suatu kejahatan terhadap dirinya. Atau mungkin menimbulkan asumsi-asumsi lain yang tak menguntungkan bagi kehidupan pergaulan mereka di kemudian hari.

DUDUK BERSAMA ORANG-ORANG MUNAFIK ATAU FASIK UNTUK BERAMAH TAMAH

Banyak orang lemah iman bergaul dgn sebagian orang fasik & ahli maksiat, bahkan mungkin bergaul pula dgn sebagian orang yang menghina syariat Islam, melecehkan Islam & para penganutnya.

Tidak diragukan lagi, perbuatan semacam itu adalah haram & membuat cacat akidah. Allah Ta’ala berfirman, “Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain, & jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (QS. Al-An’am : 68)

Dalam kehidupan sehari-hari, yang sering kita dapati adalah pergaulan antara seorang muslim dgn pemabuk, pezina, penjudi, atau orang-orang yang dikenal meremehkan agamanya, dgn niatan hanya sekedar ngobrol, nongkrong tanpa niatan menasehati. Jika hal itu senantiasa dilestarikan, dikhawatirkan dia akan terpengaruh dgn kawan jeleknya itu. Atau minimalnya merasa bahwa kesalahan yang dilakukan kawan-kawannya itu sebagai perbuatan “biasa & sah-sah saja”. Maka dari itu, utk meminimalkan pengaruh buruk dari kawan jelek seperti ini, seharusnya kita memilih lingkungan yang baik & Islami, guna menyelamatkan agama kita.

Saudara-saudariku yg terkasih, oleh sebab itu jika keadaan mereka sebagaimana yang disebutkan oleh ayat di muka, betapapun hubungan kekerabatan, keramahan & manisnya mulut mereka, kita dilarang duduk bersama mereka, kecuali bagi orang yang ingin berdakwah kepada mereka, membantah  kebatilan atau mengingkari mereka, maka hal itu dibolehkan. Adapun bila hanya dgn diam, atau malah rela dgn keadaan mereka maka hukumnya haram. Allah Ta’ala berfirman, “Jika sekiranya kamu ridha kepada mereka maka sesungguhnya Allah tak ridha kepada orang-orang yang fasik.” (QS. At-Taubah : 96)

Mohon Ampunan

{وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ} [الأنفال: 25]

 

Artinya: “Dan peliharalah dirimu dari pada fitnah yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya”. QS. 8:25.

 

Berlindunglah Kepada Allah Ta’ala dari fitnah, karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallamsering sekali berdoa meminta perlindungan dari Allah agar tidak terkena fitnah….

 

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَتَقَارَبُ الزَّمَانُ وَيُقْبَضُ الْعِلْمُ وَتَظْهَرُ الْفِتَنُ وَيُلْقَى الشُّحُّ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ ». قَالُوا وَمَا الْهَرْجُ قَالَ « الْقَتْلُ »

 

Artinya: Zaman akan semakin dekat, dicabutnya ilmu, akan timbul fitnah-fitnah, dimasukkan (ke dalam hati) sifat kikir dan akan banyak al harj”, mereka (para shahabat) bertanya: “Apakah al harj,wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Pembunuhan”.

 

Lalu bagaimana sikap kita sebagai seorang muslim dalam menghadapi fitnah:

Jika timbul fitnah, maka hendaklah hadapi dengan sikap hati-hati, tidak gegabah dan penuh kesabaran.

 

Hadapi dengan lemah lembut dan ramah tamah, karena Sabda Nabi Muhammad SAW bunyinya:

 

« إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُونُ فِى شَىْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَعُ مِنْ شَىْءٍ إِلاَّ شَانَهُ ».

 

Artinya: “Sesungguhnya kelemah lembutan (keramah tamahan) tidaklah ada di dalam sebuah perkara kecuali menghiasinya dan tidak dicabut (kelemah lembutan) dari sesuatu kecuali memburukkannya“.

 

Hadapi dengan sikap hati-hati (tidak gegabah) dan kesabaran, berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW. kepada Asyajj Abdul Qais radhiayallahu ‘anhu:

 

إِنَّ فِيكَ خَصْلَتَيْنِ يُحِبُّهُمَا اللَّهُ الْحِلْمُ وَالأَنَاةُ

 

Artinya: “Sesungguhnya di dalam dirimu ada dua sifat yang dicintai oleh Allah, yaitu; kesabaran dan pelan-pelan (tidak gegabah)”.

 

Tidak menghukumi sesuatu kecuali sesudah mengetahui kejadian sebenarnya, sesuai dengan kaedah fiqih:

 

الحكم على الشيء فرع عن تصوره

 

Artinya: “Menghukumi sesuatu itu adalah termasuk bagian tentang gambaran sesuatu tersebut.”

 

Dan perlu diingat, suatu perkara tidak bisa diketahui kecuali dengan dua yaitu dari kabar kaum muslim yang terpercaya dan dari berita orang yang meminta fatwa akan perkara tersebut meskipun orang yang minta fatwa tersebut adalah orang fasik.

 

Hendaklah selalu memegang sikap adil dan pertengahan (tidak berlebih-lebihan).

Karena firman Allah Ta’ala:

 

{وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَى} [الأنعام: 152]

 

Artinya: “…Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu…,” (QS. 6:152).

 

Juga firman Allah Ta’ala:

 

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ } [المائدة: 8]

 

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang akamu kerjakan.” (QS. 5:8).

 

Dan arti sikap adil dan sikap pertengahan bukanlah berarti membenarkan yang salah dan menyalahkan yang batil tetapi menempatkan standar kesalahan dan standar kebenaran sesuai dengan syari’at Islam bukan dengan hawa nafsu, harap diperhatikan point ini.

 

Selalu bersatu dalam kesatuan kaum muslim di bawah kepemimpinan yang sah.

 

Karena hal inilah yang ditunjukkan Allah dalam firman-Nya:

 

{وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ} [آل عمران: 103]

 

Artinya: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. 3:103).

 

Dan berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

 

عَلَيْكُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُرْقَةَ

 

Artinya: “Hendaklah kalian berjama’ah (di dalam kesatuan kaum muslimin) dan jauhilah dari perpecahan”. HR. Tirmidzi dan dishahihkan oleh Al Albani.

 

Dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berpecah belah ketika sudah jelas keterangan dan dalil bagi dia, firman Allah Ta’ala:

 

{وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (104) وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ (105)} [آل عمران: 104، 105]

 

Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (QS. 3:104) Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (QS. 3:105).

 

Slogan, bendera, visi dan yang semisalnya yang dibawa ketika fitnah harus ditimbang oleh seorang muslim dengan timbangan syari’at agama Islam, timbangannya Ahlu Sunnah wal Jama’ah.

 

Dan timbangan yang digunakan ada dua macam: pertama, timbangan yang digunakan untuk mengukur apakah bendera, visi, misi, slogan merupakan agama Islam, kalau tidak, berarti kebalikan Islam yaitu kekufuran. Dan kedua, timbangan yang digunakan untuk mengukur apakah bendera, visi, misi dan yang semisalnya sesuai dengan islam yang benar, kalau tidak, berarti kebalikan Islam yang benar adalah Islam yang tidak sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Allah Ta’ala berfirman:

 

{وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ} [الأنبياء: 47]

 

Artinya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tidaklah dirugikan seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun pasti kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai Pembuat perhitungan”. (QS. 21:47).

 

Setiap perkataan dan perbuatan di dalam setiap fitnah harus ada dhawabith (ukuran yang tepat).

 

Karena tidak semua perkataan yang anda anggap baik itu cocok untuk dikatakan dalam fitnah tertentu, begitu pula tidak semua perbuatan yang anda anggap baik itu cocok untuk diperbuat di dalam fitnahtertentu.

 

Karena setiap perkatan ataupun perbuatan akan mendatangkan beberapa perkara yang lain.

Oleh sebab itu ada riwayat dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

 

 

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لاَ تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ إِلاَّ كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً.

 

 

Artinya: “Tidak anda berbicara dengan suatu kaum sebuah pembicaraan yang tidak bisa dipahami oleh akal mereka kecuali akan menjadi fitnah bagi sebagian dari mereka”. HR.Muslim.

 

Jika terjadi fitnah, maka bersatulah dengan kaum muslimin apalagi para ulama.

 

Dan para ulama yang merupakan referensi (tempat kembali kaum muslimin) adalah mereka yang mempunyai dua sifat: pertama, dari ulama Ahlus sunnah yang mengerti tentang tauhid, sunnah dan yang lainnya yang berdasarkan pemahaman para shahabat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan kedua, yang benar-benar paham akan hukum-hukum islam secara menyeluruh, paham akan kaedah-kaedah dasar, akar-akar permasalahan, sehingga mereka tidak mempunyai kesamaran dalam menghadapi permasalahan.

 

Seorang muslim tidak boleh menurunkan hadits-hadits tentang fitnah yang disebutkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada fitnah yang lagi berlangsung, misalkan dengan mengatakan : “Inilah fitnah yang disebutkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, atau dengan mengatakan: “Inilah orang yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, padahal fitnah tersebut masih berlangsung belum selesai, boleh kita mengatakan seperti itu ketika fitnah tersebut sudah selesai sebagai pernyataan seorang muslim akan berita yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

 

Mencari-cari kesalahan, berprasangka, membuka aib, melakukan fitnah dan ghibah, itulah di antara tuduhan yang sering dialamatkan kepada saya karena aktivitas, keberhasilan saya, kritik saya disetiap tulisan saya yg sebenarnya hanya sekedar mengajak dan mengingatkan( itupun kalau mau kalau nggak mau saya nggak maksa… )

Fitnah, menurut Ensiklopedi Islam Indonesia, berasal dari akar kata fa-ta-na, memiliki banyak arti, bisa positif dan bisa juga negatif. Di dalam Al Quran ada 60 kata dalam berbagai bentuk yang diturunkan dari fa-ta-na. Fitnah dalam arti positif, misalnya sesuatu yang dimiliki seperti harta dan anak-anak. Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar salah seorang sahabat berdoa, sbb: “Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari segala fitnah”. Amirul Mukminin menegurnya, “Apakah kamu minta kepada Allah untuk tidak diberi rizki?, Tidakkah kau baca dalam Quran, sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah fitnah (Al Anfaal:28)”.

 

Fitnah dalam arti negatif bisa berupa siksaan Allah, penzaliman orang kafir terhadap kaum muslimin, menyerang, menyesatkan, kufur, merusak atau mencelakakan pihak lain seperti membuka aib. Fitnah bisa datang dari Allah, bisa juga datang dari makhluk. Jika datang dari Allah, maka harus diambil hikmahnya, dijadikan perenungan. Jika datangnya jelas-jelas dari manusia, maka ini sebuah perbuatan zalim. Senjata fitnah yang dipergunakan mungkin berupa propaganda (ghibah, namimah), siksaan mental berupa pengucilan, atau siksaan fisik. Fitnah sangat berbahaya, di dalam Quran Allah berfirman dalam surah Al Baqarah ayat 191, sbb (penggalan): “dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan”.

 

Posted on Juni 13, 2013, in Tulisan Bunda Lia. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: